Selasa, 24 Juli 2012

Menghargai “Perbedaan”, Sulitkah ?


Seperti yang kita ketahui bersama, negara Indonesia tercinta ini memiliki beragam perbedaan. Dari mulai perbedaan suku, agama sampai ke perbedaan status sosial. Tentunya tak ada seorangpun yang menginginkan perbedaan itu menjadi perusak kebersamaan kita sehari-hari. Namun acap kali saya mendengar dan melihat bahwa ada segelintir orang yang mengagungkan kebudayaannya sendiri dan menjelekkan kebudayaan orang lain.
Seperti biasa di sore hari saya menikmati secangkir kopi sambil berselancar di dunia maya dengan memanfaatkan fasilitas wifi di salah satu warung kopi Aceh langganan saya di Medan. Secara tak sengaja saya terlibat pembicaraan dengan seorang pelayanan di warung kopi tersebut yang baru sekitar sebulan tinggal di Medan.
***
Dia berujar, “cewek-cewek di Medan ini kalau pakai baju itu seksi kali ya kak, rok dan celananya pendek. Ngapain tanggung-tanggung gitu, sekalian aja pake’ bikini. Saya menjawab, “loh,, kok kamu yang ribut sih? Terkejut ya karena kamu baru tinggal di Medan? Mereka aja biasa aja tuh, mungkin pun orang lain pun berpandangan biasa aja.
“gak bisa gitu dong kak, maunya kan mereka menghormati orang lain”, tambahnya. “hei,, ini kota mereka, sebagai pendatang Kamu yang mesti menghormati mereka. Jangan egois dong”, lanjut saya. “di tempatku, mereka yang non muslim aja pake’ jilbab tuh, masa’ yang disini buka-bukaan gitu”, tambahnya lagi.
“di Aceh, kalau mereka pake’ jilbab itu karena mereka menghormati dan menghargai agama mayoritas masyarakat Aceh. Kalau disini, kita yang muslim harus menghormati mereka”, jawab saya lagi. “ah,, Kalau aku jadi Gubernur SUMUT atau Walikota Medan, ku buat peraturan dan denda untuk cewek-cewek yang pake’ rok mini gitu kak, aku ’gak suka, katanya lagi.
“berarti iman islammu ‘gak cukup kuat untuk kamu tinggal di Medan dan ‘gak akan ada masyarakat SUMUT atau Medan yang pilih kamu“, kata saya. “kenapa kak?” tanyanya. “udah sana, ganggu aku ngenet aja ah.. Lagi pula kalau kamu bisa ngomong seperti omonganmu tadi, pasti kamu mengerti. udah, pikirin aja jawabanku tadi”.
***
Saya pribadi merasa heran dengan opini orang tersebut yang katanya baru sebulan tinggal di kota ini tapi sudah bisa mengatakan yang tidak-tidak. Padahal seingat saya, sedari saya masih duduk di bangku SD kelas 1, guru saya selalu mengajarkan tentang toleransi lewat pelajaran PPKN dimana kita harus saling menghormati antar umat beragama dan tidak saling menghujat kepercayaan orang lain. Apalagi menghina penampilan orang lain.

Masih untung dia menyampaikan ketidaksukaannya itu kepada saya, bayangkan jika ia sampaikan kepada orang yang berbeda suku atau agama lainnya? Apa ‘gak langsung ditampar orang dia tuh??

Untuk kasus diatas, peribahasa dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, rasanya perlu ditambahkan. Mengapa? Sebab, orang tersebut sepatutnya menghargai perbedaan yang terdapat di kota ini dan tak perlu berlebihan dalam berbicara mengenai ketidaksukaannya terhadap orang lain padahal dia sendiri mencari “sesuap nasi” disini.
Pernah saya bertanya kepada teman-teman saya yang berdomisili di Aceh yang sering menyuruh saya untuk kembali kesana, mengapa mereka tak mau ke Medan? Jawaban dari beberapa mereka adalah iman kami belum cukup kuat untuk masuk dan “melihat” Medan. Bahkan pernah juga saya mengajak adik sepupu saya yang datang kesini untuk jalan-jalan, apa katanya? “kak, kita pulang aja yuk ke rumah, aku ngeri liat Medan ini”.

Kenapa harus takut “melihat” Medan? Toh ini baru kota besar ketiga. Bandingkan dengan Jakarta dan Surabaya.

Kalau boleh saya sarankan buat teman-teman yang berdomisili di Aceh dan belum pernah keluar dari Aceh, jika belum sanggup untuk “melihat” Medan, jangan datang ke Medan. Mengapa? Sebab saya jengah juga kalau mendengar orang yang berujar seperti diatas tadi. Tantangan untuk berada di kota ini begitu besar namun saya yang hampir 8 tahun di Medan sudah bisa beradaptasi disini dari sejak lebih kurang 3 bulan pasca Tsunami 2004.
Sejauh ini, teman-teman saya disini menghargai perbedaan agama dan budaya yang kami miliki. Mereka menghargai waktu shalat saya, waktu puasa di bulan Ramadhan ini. Mereka juga tidak pernah terganggu dengan busana saya, begitu pula saya terhadap mereka. Suatu hari, saya di undang pada pesta perkawinan seorang teman yang beragama kristen di salah satu gedung. mengapa tidak di rumah? Karena dia menghormati para tamu undangan yang datang, karena dia tahu juga semua agama akan datang. kemudian tempat jamuan makannya pun di pisah.

Yang namanya toleransi itu menghargai antar sesama manusia tanpa harus memandang suku, agama dan status sosial. Nah, dari pengertian itu saja rasanya sudah jelas bahwasanya kita yang tinggal di tempat orang harus pandai-pandai membawa diri dan menjaga omongan agar yang mendengarkan tidak merasa tersinggung.

Cara yang efektif lain yaitu meningkatkan rasa nasionalisme agar kita merasa “memiliki” bangsa ini tanpa harus merasa terkotak-kotakkan dengan perbedaan itu.
Mari kedepankan sikap toleransi antar sesama manusia demi terciptanya keharmonisan hidup ditengah perbedaan yang sudah ada. Bukankah perbedaan menjadikan segalanya lebih indah?

Tidak ada komentar:

Peran Industri Kreatif Anak Muda Indonesia di Era Milenial

Sungguh beruntung, Kota Medan mendapat kesempatan dalam rangkaian sosialisasi 4 Tahun pemerintahan Kabinet Kerja yang diselenggarakan ol...