Rabu, 29 Agustus 2012

[CFBD] Boneka dari Almarhum Ayah


Saya terlahir ke dunia pada tahun 1988 dari kedua orang tua yang sederhana. Dahulu, almarhum ayah adalah seorang Pegawai biasa dan ibu adalah seorang ibu rumah tangga yang kini telah semakin tua.
***
Saya mempunyai seorang kakak laki-laki yang berselisih usia 15 tahun dengan saya. Ketika saya dilahirkan, kakak laki-laki saya itu sekitar kelas 1 SMA. Tentunya kehadiran saya begitu diharapkan oleh orang tua saya. Mereka amat senang terlebih telah mendapatkan sepasang anak.
Namun, mereka harus menelan kesedihan sebab saya mengalami kelainan ketika lahir. Dari kecil, saya sudah akrab dengan jarum suntik, infus bahkan operasi kolostomi dan laparatomi telah saya lalui sampai saya dapat pulih normal seperti anak lainnya. Semua itu berkat do’a dari kedua orang tua saya.
Semasa kecil, saya sangat dekat dengan ayah. Jika beliau akan keluar rumah atau ke mesjid, saya selalu mengingatkan beliau untuk membaca do’a. Pernah suatu hari ayah membawakan saya tas boneka beruang. Sebagai bocah perempuan saya amat menyukainya. Namun sayang, boneka beruang itu harus dilahap si jago merah ketika kami mengalami musibah di tahun 1994.
Setelah musibah itu, beberapa bulan kami menumpang di rumah kerabat sebelum mendapatkan rumah baru, Saya pun masuk sekolah (SD) saat itu.
Setiba di rumah baru, ayah pun jatuh sakit, mungkin akibat kepikiran terhadap kejadian kebakaran itu. Beberapa minggu setelah di rumah baru, ada seorang nenek penjual boneka yang menawarkan boneka kepada ibu saya.
Ibu saya telah menolaknya, namun ayah saya menyuruh ibu untuk membelinya, “kasihan kalau tidak dibeli, ibu itu sudah datang dari jauh untuk berjualan kemari”, begitu kata ayah. Boneka itu pun dibeli untuk saya.
Jadilah saat itu saya memiliki 3 boneka, yaitu Kucing, Singa dan Anjing. Ketiga boneka itu diletakkan ibu di ruang tamu. Tak lama setelah ayah membeli boneka itu, ayah pun jatuh sakit dan harus segera dilarikan ke rumah sakit. Beberapa hari dirumah sakit, akhirnya ayah meninggal dunia pada tanggal 7 September 1994 ketika saya masih kelas 1 SD. Boneka itu menjadi hadiah terakhir dari ayah untuk saya.
Boneka itu tidak pernah berpindah dari tempatnya seperti ketika ayah masih hidup. Saya mengambil boneka-boneka itu untuk berfoto saja. Namun sejak musibah tsunami 2004, boneka-boneka itu sudah tak ada lagi.
1345640586468800367
ini foto kesukaan ibu saya,hihihihi
13456402431027602954
ini saya waktu SD. item ya? hahaha emang :D
1345640355117376975
ini juga saya,,
Sedari kecil sampai sekarang, saya memang tidak pernah bermain dengan boneka. Namun, saya masih teringat akan boneka itu sampai sekarang sebab mereka adalah hadiah terakhir dari ayah sebelum beliau pergi untuk selama-lamanya. 7 September 2012 nanti, tepat 18 tahun ayah meninggalkan saya. Saya amat merindukan sosok ayah yang tak mungkin saya dapatkan dari kakak laki-laki saya mengingat ia pun telah berkeluarga.
Ayah,
Ketika engkau menghadapNya dulu
Aku belum tahu
Bahkan saat itu, tak sebutir air mata menetes di pipiku
-
Seiring waktu berjalan
Aku pun mengerti
Bahwa kepergianmu tak kan pernah kembali
-
Tak terasa,
kini sudah 18 tahun kita tak bersama
Hanya untaian do’a yang dapat kukirimkan
Sebagai pelita untukmu
-
Ya Rabb…
Ampunilah dosa ayahku
Maafkanlah segala khilafnya
Amin

Tidak ada komentar:

Peran Industri Kreatif Anak Muda Indonesia di Era Milenial

Sungguh beruntung, Kota Medan mendapat kesempatan dalam rangkaian sosialisasi 4 Tahun pemerintahan Kabinet Kerja yang diselenggarakan ol...