Rabu, 29 Agustus 2012

Selalu Utamakan Mudik Untuk Orang Tua


Bagi yang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, pastinya berbahagia dalam menyambut datangnya hari raya Idul Fitri tanggal 1 Syawal setiap tahunnya setelah sebulan penuh melawan hawa nafsu di bulan yang penuh berkah.

Biasanya, demi menyambut lebaran ini banyak hal yang telah dipersiapkan dari membeli baju baru, membuat kue kering (cookies), mengganti gorden rumah sampai menyapu sarang laba-laba yang dengan manisnya bergelantungan di dinding rumah.

Aktivitas itu selalu saya lakukan sewaktu saya tinggal di Banda Aceh ketika saya masih tinggal bersama ibu. Saat itu saya tak pernah ikut mudik sebab bagi saya, esensi dari mudik itu sendiri adalah untuk bertemu dengan orang tua dan memohon maaf kepada beliau, kalau bisa juga sekalian bertemu sanak saudara. Pun kebetulan, banyak dari saudara saya yang tinggal di Banda Aceh.

Namun setelah bencana tsunami 26 Desember 2004 yang lalu, mau tidak mau saya pun harus merasakan mudik karena setelah tsunami saya tinggal bersama kakak laki-laki saya yang telah berkeluarga di Medan. Sementara ibu tinggal bersama kakaknya di Bireun, Aceh Jeumpa.

Setiap tahunnya (2005-2008, minus 2006), saya rutin pulang kampung untuk berlebaran Idul Fitri bersama ibu. Terkadang sebelum saya mudik, ibu menitipkan berbagai macam bahan kue yang dapat dengan mudah di dapat di Medan daripada di Bireun.

Kebetulan, hobi ibu saya yang satu ini sudah menjadi keharusan tersendiri bagi beliau. Pun setelah tinggal di Medan selama tiga tahun terakhir, hobi beliau itu tidak berkurang. Malah, hari raya Idul Adha yang jarang ada yang buat kue disini, tapi bagi ibu saya, membuat kue setiap lebaran idul fitri dan idul adha merupakan suatu keharusan. Sudah tradisi kata ibu.

Diatas, saya sempat menyinggung minus tahun 2006 bukan? Saat lebaran idul fitri di tahun 2006 itu, saya memutuskan tidak mudik karena ada kesibukan di kampus pasca libur lebaran. Jadinya saya tinggal sendirian di rumah abang dan berlebaran bersama keluarga sahabat saya yang ada di Medan.

Selebihnya, saya selalu mudik ke Bireun. Pulang kampung itu biasanya saya lakukan sendiri ketika seminggu sebelum lebaran tiba dengan menumpang travel. Sesampai disana saya membantu ibu membuat kue lebaran dan berbagai penganan khas lebaran semisal lontong yang lengkap dengan lauk dan sayurnya.

Lebaran pun tiba, waktunya bersilaturahmi bersama ibu dan keluarga lain yang tinggal di Bireun. Biasanya, Hari ketiga lebaran, saya sendiri ke Banda Aceh untuk bersilaturahmi dengan teman-teman seperjuangan saya semasa SD,SMP dan SMA. Dan yang paling penting, saya juga bersilaturahmi dengan saudara-saudara lain yang ada di Banda Aceh. Di Banda Aceh, saya nginapnya di rumah saudara, tentunya tidak enak berlama-lama (baca : canggung) apalagi tidak bersama ibu.

Sekitar 3-4 hari di Banda Aceh, saya kembali ke Bireun dan bertemu kembali dengan ibunda. Disini saya benar-benar memanfaatkan waktu yang tersisa untuk lebih erat bercengkrama bersama beliau sebelum saya kembali ke Medan, terkadang sendiri atau bersama abang dan keluarganya. Kegiatan mudik itu terus saya lakukan dan teman-teman disini pun selalu menitipkan oleh-oleh, semisal pisang sale.

Namun, pada lebaran Idul Fitri pada tahun 2009, saya tidak mudik lagi karena ibu saya telah memutuskan untuk tinggal bersama saya. Kami tinggal secara terpisah dari abang dan menyewa rumah berdua. Karena mau lebaran, Kebiasaan ibu membuat kue dan penganan khusus lebaran pastinya tak ketinggalan. Setiap tahun, kegiatan ini pasti rutin kami lakukan dan untuk di tahun 2012 ini, kue kering lebaran sudah selesai 6 macam dan tersedia rapi di toples.
1345197703681975127
3 dari 6 jenis kue yang sudah siap kami buat. dok. pribadi
Karena saya berasal dari Aceh, banyak teman-teman di Medan dan beberapa Kompasianer yang menanyakan, “kampungmu kan di Aceh, udah mudik, da?” atau “gak pulang kampung,da?”

Saya katakan, saya tidak kemana-mana karena ibu saya yang paling saya hormati sudah tinggal bersama saya di Medan. Kadang, saya merindukan juga tradisi mudik ini. ingin merasakan lagi yang namanya mudik supaya sekalian dapat bertemu dengan keluarga lainnya.

Pernah saya mengatakan kepada ibu, “ma, tinggal di Aceh ajalah, biar ami bisa mudik lagi”. Lalu ibu saya mengatakan, “mama mau tinggal di Medan supaya dekat sama anak-anak mama (saya dan abang)”. Terus terang, saat saya mendengar ini saya sedih.

Kemudian saya berfikir ulang, saya tak boleh egois dengan meninggalkan ibu cuma untuk mudik, karena ibu saya adalah satu-satunya lagi orang tua yang saya miliki berada dekat dengan saya. Kalau untuk pulang kampung, dapat dilakukan kapan saja jika ada kesempatan.
Memang benar, mudik adalah waktunya untuk saling bersilaturahmi bersama saudara di kampung halaman, namun alangkah baiknya jika momen mudik ini dipergunakan sebaik-baiknya, yang diawali dengan bertemu dan meminta maaf kepada orang tua kita, mengingat kita yang mengikuti kegiatan mudik ini tidak tinggal bersama orang tua. Selanjutnya bersama orang tua, kita dapat mengunjungi saudara lainnya.

Akhir kata,selamat mudik dan selamat hari raya idul fitri bagi seluruh kompasianer yang merayakannya. Mohon maaf lahir dan batin. Teriring salam dari saya untuk anda sekeluarga. Salam sayang juga untuk orang tua anda.

Tidak ada komentar:

Peran Industri Kreatif Anak Muda Indonesia di Era Milenial

Sungguh beruntung, Kota Medan mendapat kesempatan dalam rangkaian sosialisasi 4 Tahun pemerintahan Kabinet Kerja yang diselenggarakan ol...