Minggu, 24 Februari 2013

Bolehkah Kekasihmu Untukku, Sahabat?


Melihatmu bersamanya adalah sebuah kebahagiaan tersendiri untukku sebab kau telah mampu tinggalkan kekasih lamamu yang sering menyakiti dan membuatmu menjadi perempuan terbodoh di dunia, ya… setidaknya menurutku. Seharusnya kau mampu bersikap dewasa di umurmu yang sudah seperempat abad ini, namun kebiasaanmu berpetualang, sesungguhnya menyakiti hati lelaki barumu itu. Aku tak tega melihat lelakimu. Dia yang begitu tulus mencintaimu, ingin menjadikanmu pendamping hidupnya bahkan rela didepak dari perusahaan itu jika menikahimu. Tapi kau? Apa yang kau lakukan padanya sungguh berbalik 180 derajat dengan ketulusannya.
***
Sabtu siang, tanpa sengaja kita bertemu di suatu cafe. Kau tampak cantik dan sedang tertawa renyah dengan seorang lelaki. Aku bingung, lalu mendekati tempat dudukmu. Mimik muka tanpa dosamu mengurku, “hai Ra. Ngapain kau disini. Sama siapa?”
“Aku sendiri, mau ke toko buku, aku sendirian. Kau sama siapa?” tanyaku ingin tahu.
“Sebentar ya, Ko. Aku bicara sama sahabatku dulu”. Kau berpamitan dengannya dan mengajakku ke toilet, mencegahku menanykan sesuatu pada lelaki yang bernama Niko itu.
“Dia temanku. Bulan ini dia menanamkan depositonya di kantorku, Ra. Aku berhasil mengajaknya.” Jelasmu berbangga padaku.
“Ya aku tahu kelihaianmu dalam hal rayu-merayu. Tapi apakah harus kau makan siang bersamanya tanpa didampingi kekasihmu yang notabenenya sekantor denganmu? Tanyaku.
“Kulakukan ini demi kelancaran prospect lanjutanku.” Kalimatmu segera kusanggah, “prospect apa? Walaupun aku belum bekerja, tapi setahuku Prospect itu hanya dilakukan pada jam kantor.”
Setelah 15 menit berbicara di toilet itu, aku melanjutkan langkahku ke toko buku. Dan kau? Kau kembali ke mejamu tadi.
***
Ada suatu hal yang tak kusuka darimu, sikap yang tak pernah berubah dari sejak 10 tahun perkenalan kita. Bahkan di umurmu yang seperempat abad ini, kau masih saja merasa dirimu masih muda sehingga tak pernah serius menjalani hubungan dengan seorang laki-laki. Saat tengah menjalani hubungan dengan seeorang, ada saja kenalanmu, entah lelaki dari mana saja. Aku tahu sifatmu yang royal serta kecantikanmu yang mungkin luluhkan mereka, namun sadarlah sahabatku sayang. Ada Diki yang mencintaimu, rela sakiti dirinya demi kau yang tak pernah menghargainya.
***
Lelaki yang tak pernah kau hargai itu bernama Diki. Seorang karyawan pada perusahaan yang sama denganmu. Lima bulan lalu, dengan bangga kau mengenalkan Diki sebagai kekasihmu padaku. Semakin kesini, aku semakin mengenalnya. Dia tampak tulus padamu, sangat memanjakanmu karena ia telah menetapkan hatinya untuk mempersuntingmu. Lelaki ini tak pernah marah terhadapmu sehingga makin lama kau makin menginjak-injak harga dirinya. Ia juga tak pernah mengadukan masalahnya denganmu kepadaku, sehingga aku merasa tak perlu mengkhawatirkan apapun. Kesalahanmu selalu dimaafkannya bahkan hingga tadi malam saat kalian di rumahku, tanpa sengaja ia membentakmu di hadapanku. Aku terkejut mendengar suaranya, bantingan helm dan  bantingan ponselnya ke lantai, serta pukulan dirinya yang mendarat di wajahnya sendiri, bukan memukulmu seperti kekasih terdahulumu.
Ia menyesal telah membentakmu dan segera menyiapkan sepeda motornya untuk pulang. Lalu dimana kau? Egomu masih kau pertahankan, malah kau berlari ke kamar ibuku dan menagis disana. Aku yang mengejarnya demi kau, demi hubunganmu dengan dia. Ia menceritakan bahwa kau tak pernah bisa menghargainya. Dalam hubungan kalian selalu diwarnai oleh perang mulut, penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah karena mantan kekasihmu yang kasar itu yang belum mampu kau lupakan.
“Aku sudah sering bertanya, kenapa mantan kekasihnya masih sering menghubunginya. Namun ia tak pernah menjawab pertanyaanku, ketika aku meminta nomor ponsel mantannya itu, ia tak memberikannya kepadaku, malah terkesan melindungi lelaki itu. Aku cemburu.” Cerita Diki padaku.
Setelah aku memohon, ia pun masuk kembali ke dalam rumah. Ia memohon maaf padamu hingga kau pun memutuskan untuk pulang diantar olehnya.
***
Melihat ketulusan dan pengorbanannya adalah suatu hal yang membuat hatiku menangis. Ingin rasanya kubentak kau di hadapannya namun rasa sayangku terhadapmu amatlah besar. Sepuluh tahun mengenalmu, bukanlah hal yang mudah. Sifat keras kepalamu itu yang sanggup kuimbangi dengan sifatku mampu menyelaraskan kita. Kau selalu menuruti nasehatku yang terkadang tak menyukai tindakan bodohmu. Aku selalu ada menjadi pendampingmu bahkan juga kadang aku melakukan tindakan bodoh bersamamu. Namun, setelah melihatmu menyia-nyiakan cinta lelaki itu padamu, perasaanku bermain disini. Semoga ini bukan cinta. Kebaikan Diki yang rela menhancurkan dirinya hanya karena mencintaimu sesungguhnya membuat aku meradang. Disamping amarahku, tangisan sesunggukanku juga mewarnai perang kalian semalam. Saat itu tak sengaja aku ingin menanykan kepadamu, “bolehkah kekasihmu untukku, sahabat?” namun secepat kilat, ku tepis pertanyaan bodoh itu. Tidak ! itu hanya emosi sesaatku.
Kau tahu bagaimana aku, bukan? Sejujurnya, aku tak tega jika Diki terus kau sakiti, bahkan kau selalu membandingkan Diki dengan si kasar Budi. Jika aku menjadi kau, aku akan menjaga hatiku untuk Diki dan menutup aksesku dengan banyak lelaki yang mungkin mengharapkanku. Diki terlalu baik untukmu. Ia tak pantas mencintai orang yang tak menghargai dia sepertimu, sahabatku. Perbaikilah sikapmu, jangan sia-siakan lelaki seperti dia dan jangan hancurkan hidupnya karenamu. Kembalilah ke pelukannya dan segera matangkan rencana pernikahmu dengan dia. Sebagai sahabatmu, Mira akan selalu ada untukmu, Tasya.
TAMAT

Tidak ada komentar:

Peran Industri Kreatif Anak Muda Indonesia di Era Milenial

Sungguh beruntung, Kota Medan mendapat kesempatan dalam rangkaian sosialisasi 4 Tahun pemerintahan Kabinet Kerja yang diselenggarakan ol...