Rabu, 13 Maret 2013

Aku Memang Orang Kampung, Tapi Aku Punya Harga Diri


Menurutnya diriku kampungan hanya karena sikapku yang ingin dekat dengan setiap orang. Kini, mantan kekasihku masih terpuruk sebab kesalahan yang ia perbuat padaku, dan ia masih memohon untuk dapat kembali menikmati cinta bersamaku seperti dulu.

***

“Hei, kau cuma perempuan kampung yang bisa kuliah di kampus ini, itu pun hanya karena beasiswa. Jika tidak, kau hanya menjadi buruh tani di kampungmu atau sedang mengembala sapi,” cercanya diiringi tawa lantang yang menggema di ruang kelasku
“Aku memang orang kampung. Memang kenapa, masalah buatmu?” tanyaku padanya sambil menantang tatapannya yang seolah ingin memangsaku. Mimik wajahnya terlihat puas setelah mempermalukanku di hadapan teman-teman. Sambil mencoba untuk tetap tegar, kulanjutkan kalimatku, “Jadi, kau mau apalagi? Kalau tak ada yang mau kau katakan lagi, sebaiknya kau pergi saja.”
Mendengar ucapanku, seketika ia pun marah dan ingin melayangkan tamparannya ke pipiku. “Tampar aku jika itu mampu puaskan hatimu.” Tantangku padanya. Mukanya merah padam, seketika melayanglah kelima jari Ari di tempat dimana dia sering mencubitku gemas sejak setahun lalu, ketika ia masih amat menyayangiku.

***

Ari namanya. Ketika itu, ia sedang melayang-layang akibat terkena virus cinta Fani, sang perayu maya yang hanya memanfaatkannya. Bagaikan pungguk merindukan bulan, ia terus menanti kabar dari Fani. Ketika itu, ia telah benar-benar jatuh cinta pada Fani dan memutuskan pertunangan dengan anak relasi papanya, Vira. Mungkin sebab rasa penasaran dan sifatnya yang terlalu buru-buru, sehingga membuat Fani seperti di teror. Tak pelak, Fani benar-benar menghilangkan jejak di setiap akun pribadinya.
Ketika ia sedang terpuruk dan membutuhkan pendengar, aku menyimak setiap gundahnya, aku memberikan waktuku hampir setiap malam lewat chatting di YM, hingga suatu hari ia pun mengajakku untuk bertemu.

“Ni, selama ini kita hanya saling bertegur sapa di YM, kepikiran ‘gak sih kamu tuh ketemu sama aku?” tanyanya suatu malam di telepon.
“Kepikiran sih mungkin ada ya, tapi gak mungkinlah aku yang ngajakin kamu. Aku Cuma orang kampung yang beruntung bisa kuliah di Kota ini.” Jawabku sembari harap-harap cemas menunggu tanggapannya.
Mungkin ia masih berpikir, adakah manfaatnya jika kami bertemu? Atau mungkin ia sedang... Ah, aku tak ingin memikirkan jika tiba-tiba ia menarik kembali ucapannya. Namun pikiran buruk itu pun terjawab.
“Ok, kita ketemuan besok ya. Kamu tahu sendiri bahwa aku sangat penasaran, so what are you waiting for?”
“Baiklah, temui aku di Cafe Pelangi jam 4 sore.” Ucapku mengakhiri percakapan telepon itu.
Setelah telepon itu berakhir, aku belum mampu memejamkan mata, masih setia mendengarkan  lagu favoritku yang liriknya hampir mirip seperti yang kurasa saat ini.

Aku berhayal di malam ini, aku bertemu dengan kekasihku. Dia menyapa, ooo sayangku... seolah nyata adanya. Inginku memelukmu dengan sejuta rasa. Cinta kasihku yang dulu hilang (Power Slave – Impian)

***

Memang aku pernah merasakan kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupku, seseorang yang hanya menjadikanku sebagai perempuan keduanya. Saat itu aku harus merelakannya kembali kepada kekasihnya akibat perempuan itu mengidap penyakit jantung. Kuakui memang saat itu aku telah membuat kesalahan sebab telah menyakiti kaumku sendiri, apalagi perempuan itu tak bisa menerima kejutan yang serius. Sungguh aku sangat menyesal jika kematian itu terjadi, sebab cinta terlarangku dahulu hampir membunuhnya.

Tak lama setelah mengingat masa lalu itu, aku menagis dan tanpa tahu pukul berapa aku tertidur. Seperti biasa, aku pergi ke kampus di pagi – siang hari. Pukul 2 siang, aku pun menerima SMS dari Ari yang mengingatkan janji kami semalam. Sms itu segera kubalas dengan hanya mengatakan  OK.
Pukul 16.00 wib aku telah sampai di Cafe itu dan melihat ke seluruh ruangan, mencari sesosok tubuh yang sejujurnya juga membuatku penasaran. Tak lama aku mendengar suaranya, “Afni.. aku di belakangmu.” Sesaat aku menoleh ke belakang, memperhatikannya yang tampak rapi walaupun tak serapi pria metroseksual di kota ini.

***

Tak lepas pandangannya dari menatapku hingga membuatku salah tingkah. Selang beberapa waktu setelah obrolan hangat itu, tiba-tiba ia mengatakan, “kamu cantik”.
“Ah, gak kok. Aku Cuma orang kampung biasa.” Jawabku. Kami terus bercerita hingga ia mengatakan bahwa ia kakak kelasku di kampus tetapi beda jurusan. Sungguh aku tak menyangka pertemuan ini begitu banyak memberikanku kejutan. Ia begitu menghargaiku dan tak memandangku rendah. Aku merasakan kenyamanan yang telah lama kuimpikan ketika berbicara dengannya hingga terbesit dalam pikiranku, “diakah yang kucari?”
Tanpa terasa waktu menunjukkan pukul 20.00 wib, aku pun harus segera pulang sebab pagar kostku ditutup pukul 21.00 wib.
Setelah pertemuan itu, intensitas pertemuanku dengannya pun menjadi semakin intim. Kami sering menghabiskan waktu di Kampus, Cafe, dan Toko Buku.
Interaksi kami yang semakin hari semakin hangat ini sejujurnya memberikan kenyamanan tersendiri bagiku, mampu membuatku melupakan kesedihanku akibat lelaki lalu. Harapku, semoga Ari pun merasakan rasaku. Sembari menghayal tentangnya, tiba-tiba ponselku berdering. Di layar ponsel, tertera nama Ari, namun aku tak segera mengangkatnya. Aku masih sibuk menetralkan rasaku dan masih bingung harus berkata apa. “Hei, dia menghubungi. Bukankah ini yang kau harapkan?” ronta hatiku.
Aku mengangkat ponselku dengan gugup pada hitungan ketiga deringnya, “Assalamu’alaikum Ri. Ada apa?”
“Ah, pertanyaanku salah. Masa’ aku bertanya ada apa. Oh Tuhan... Ada apa denganku? Aku gugup. Semoga Ari memaklumi setelah mendengar suaraku yang terbata-bata tadi.” Pikirku lagi.
“gak ada apa-apa kok, cu.. cu Cuma pengen ngobrol-ngobrol aja sama kamu.” Jawabnya tak kalah gugup. “kamu kenapa Ri, kok suaranya gitu?”
“Eh, kayaknya kita lanjutin ngobrol di chatting aja ya. Assalamu’alaikum cantik.” Dan teleponpun berakhir setelah aku menjawab Wa’alaikumsalam.
Malam itu kami melanjutkan obrolan di chatting hingga tiba-tiba ia bertanya, “mau gak kamu jadi pacarku?”
“waduh... nembaknya masa’ sekarang sih? Di chatting pula itu. Gak romantis amat.” Tanyaku dalam hati.
“emang mesti dijawab ya? Sekarang gitu?” tanyaku padanya. “eh, hehehe. Besok aja deh jawabnya di kampus. Ya udah, kamu tidur gih. Udah malam.” Lanjutnya dan chatting pun berakhir.

***

Setahun lalu, aku menerimanya menjadi kekasihku. Perlakuannya begitu lembut, jangankan memukul atau menamparku, membentakku saja ia tak pernah. Ia begitu menjaga perasaanku, begitu memahami seluruh keluh kesahku, dan yang pasti ia tak pernah menyebutkan aku sebagai orang kampung yang beruntung dapat menempuh pendidikan di kota.
Bahkan ia telah mengenalkanku kepada kedua orang tuanya saat di rumahnya tengah berlangsung acara ulang tahun perkawinan perak kedua orang tuanya. Sesungguhnya aku sangat minder saat itu, aku merasa sangat rendah, apalagi aku harus mendampinginya diantara kerumunan keluarga besarnya. Oh Tuhan... Aku sangat gugup. Untunglah Ari sangat mengerti akan ketidaknyamananku, ia pun mengajakku pergi.
“Kamu kenapa? Kok mukamu ditekuk terus?” tanyanya sesampainya kami di kostku.
“Aku gugup, malu, dan merasa tak pantas berada di tengah keluargamu. Mereka orang kaya, sementara aku hanya orang biasa.” Jelasku.
“Ah, jangan merasa begitu. Orang tuaku sangat welcome lho sama kamu. Ayo.. buang pikiran itu. Kami menerimamu” Jawabnya sembari tersenyum.
Senyuman itu. Senyuman termanis. Senyuman yang telah mampu luluhkan hati kerasku hingga mampu membuatku mau melupakan hal buruk dan mau mengenal laki-laki lagi. Ya... Senyuman itu milik Ari kekasihku, saat ini. Kebaikan Ari yang begitu tulus telah mampu luluhkan kerasnya hatiku  akibat sakit hati yang teramat dalam, dahulu.
Ari sangat tahu dengan siapa aku bergaul. Seluruh temanku telah kukenalkan padanya agar ia tak curiga sehingga aku tak merasa khawatir lagi. Apalagi aku telah berjanji bahwa aku hanya mencintainya.
Namun, kedekatanku dengan Rio membuatnya cemburu. Berkali-kali telah kukatakan bahwa Rio hanyalah sahabatku dari kampung yang juga menempuh pendidikan di sini, tetap tak dipercayainya. Sejak kedatangan Rio bulan lalu, ia mulai sering memarahi dan berkata kasar padaku. Perlakuannya yang semakin hari semakin kasar, sesungguhnya telah membuatku tak nyaman hingga aku berpikir bahwa mungkin aku harus merelakan diri bila patah hati lagi.

***

“Kamu gak usah berteman lagi sama si Rio itu, aku gak suka!” bentaknya suatu hari di kostku. Suaranya yang keras itu tentunya mengejutkan para temanku hingga mereka semua keluar dari kamarnya masing-masing.
“Maaf sayang, Rio itu sahabatku sejak kecil. Kami selalu bersama, dan sejujurnya aku senang dengan kepindahannya ke sini. Aku punya teman senasib sepenanggungan. Gak mungkinlah kalau aku gak berteman lagi sama dia. Tolong, jangan batasi hubungan persahabatanku sama Rio, ya.” Jawabku.
“gak ada cerita, aku gak suka kamu berteman sama dia. Kedekatan kalian itu buatku cemburu, tau!” lanjutnya.
“Cintaku itu sama kamu, bukan sama Rio.” Jawabku.
“Sudahlah, sekarang kamu pilih aja. Dia atau aku?” tantangnya lagi.
“Aku gak bisa memilih sayang, kalian itu orang-orang terdekatku.” Jawabku sembari tersenyum.
“Ya sudah, lupakan tentang kita. Kita putus” Ari pun berlalu dan meninggalkanku dalam tangis.
Semudah itu ia bisa memutuskanku, membuang cerita cinta kami setahun ini hanya karena ia tak bisa menerima sahabatku. Aku patah hati lagi. Ya... sakit yang kurasakan kali ini lebih sakit ketimbang dulu.

***

Beberapa minggu kemudian, aku melihatnya tengah berjalan dengan perempuan lain. perempuan itu cantik, tampak dari dandananya yang glamour, sepertinya ia memang orang kaya. “Semudah itu kau melupakanku, Ri” tanyaku dalam hati.
Ya... dia memang telah melupakanku. Itu terbukti saat ia dengan bangganya memperkenalkan perempuan barunya itu padaku ketika kami tak sengaja bertemu. Sheila namanya. “Sheila ini lebih baik darimu dan ia akan bertunangan denganku bulan depan.” Saat itu Sheila pun tersenyum. “Selamat ya. Semoga bahagia.” Ucapku singkat dan mereka pun pergi dari hadapanku.
Bagai disambar petir di siang bolong, seketika tubuhku terhuyung hingga hampir jatuh ke belakang. Sakit sekali rasanya, setelah ia memberi cinta padaku, melambungkan harapku, sekarang ia membuangku, mencabik-cabik hatiku seperti seekor singa tengah mencabik mangsanya.

***

Dunia serasa hancur. Semakin hancur saat di kampus kemarin, ia mempermalukanku. Ia boleh mengatakan apa saja, tapi tak perlu meneriakiku perempuan kampung. Bagiku, ucapannya itu telah menjatuhkan harga diriku. Ia telah menjadi mantan kekasihku. Sesosok sopan yang sebelumnya hanya bersahabat denganku di dunia maya. Namun entah setan apa yang merasuki tubuh kekar yang dahulu sering memelukku hingga menjadikannya begitu buas.
Aku benar-benar marah karena penghinaannya. Saat ini juga, telah kucampakkan rasa cintaku padanya ke got yang paling jorok sekalipun. Yang tertinggal saat ini hanya rasa benci dan aku berjanji pada diriku, suatu hari nanti ia yang akan memohon-mohon untuk kembali padaku. Kini yang harus kulakukan adalah membuatnya menyesal.

***

Suatu malam ia menghubungiku, mencurahkan lagi masalah yang tengah ia hadapi. “Aku baru putus dari Sheila, kamu memang yang terbaik Ni.” Ucapan sesalnya di telepon yang membuatku menyunggingkan senyum. “Akhirnya!” batinku. Namun aku tetap menempatkan diri sebagai tong sampahnya.
Ia berkata bahwa menyesal mengakhiri kisah kami 6 bulan lalu. Ia kembali menyanjungku, membuaiku dengan kalimat-kalimat manisnya, seperti saat kami masih bersama.
Setelah hampir 2 jam menghabiskan waktu mengobrol yang kurasa tak penting itu, ia pun kembali memintaku menjadi pacarnya.
“Ni, aku minta maaf sama kamu, aku masih sayang sama kamu. Aku sadar, kamu yang terbaik buatku. Makasih banyak udah tetap mau peduli sama aku. Ni, Aku mau balikan sama kamu.” Lagi-lagi kalimatnya tak pernah romantis.
Aku terdiam. Benar, di sudut hatiku masih terpatri namanya, Ari. Namun aku tak mau kembali padanya. Ah... paling tidak, bukan untuk saat ini.
“gimana Ni? Kamu maukan CLBK sama aku? Kamu masih sayang, kan sama aku? Tanyanya tak sabar.
“Hmmm.. ya, maafmu kuterima. Aku memang masih sayang sama kamu. Tapi maaf, aku tak bisa kembali padamu.” Jelasku.
Malam itu, aku telah mengecewakannya sekaligus menyakiti dan membohongi perasaanku.

***

Aku tahu, aku telah bodoh menolak tawarannya yang mungkin tak akan diulanginya lagi. Namun bagiku, harga diri yang telah diinjak-injaknya 6 bulan lalu masih begitu membekas dalam ingatanku. Bagi orang kampung sepertiku yang tak punya harta melimpah seperti mereka, aku masih punya harga diri. Harga diri itu harus kupertahankan. Harga diri itu harus kujunjung setinggi-tingginya.  Biar mereka tahu, jangan pernah meremehkan orang kampung apalagi menghinanya. Harga diri adalah harga mati bagiku.

- TAMAT -





















6 komentar:

Aang Dhanie Suherman mengatakan...

Mudah2an ini hanya cerita fiksi ya Da..

permisi mampir dan menyimak,selamat sore Auda!

Auda Zaschkya mengatakan...

iya kang aang,, ini hanya fiksi ciptaan auda heheee
malam kang :D

Anonim mengatakan...

ini kisah patut jempol, harga diri memang tidak bisa dibeli dengan harga tinggi karena manusia kota atau kampung hanya beda tempat saja, jauh dari itu semua harus di hargai :)

Auda Zaschkya mengatakan...

Tepat sekalii kk aulia. Semua orang patut menghargai orang lain :)
Terima kasih sudah hadir kk

Anggara mengatakan...

cerita fiksinya menarik nih, senang membacanya :)

Auda Zaschkya mengatakan...

terima kasih telah berkenan membaca fiksi saya :)

Review Pure Papaya Ointment: Salap dengan Jutaan Manfaat

Kulit kering bagi kita, terutama perempuan, merupakan sebuah masalah. Pastinya, ini akan membuat kita malu, karena kulit kering terseb...