Sabtu, 07 September 2013

[FS] Monolog Sunyi : Betapa "Sensual"nya Negeri Ini

Semakin hari, semakin heran ketika kutatap langit di kotaku. Entah oleh sebab Global warming yang efeknya sepintas masih terasa, cuacapun menjadi tak menentu. Seperti pagi tadi, akibat hujan semalam, mampu melumpuhkan hampir semua aktifitas, dari pagi sampai sore tadi. Seketika, cuacapun cerah sampai malam ini. Seperti itulah perubahan yang siap mematuk kita, kapan saja, bahkan oleh negeri melati ini. Negeri yang  terkenal dengan keramahan individunya ketika berinteraksi. Namun, terdapat ribuan, bahkan jutaan klausul yang siang telanjangi negeri yang tengah berkembang ini.

***

Dimulai dari para mahasiswa. Kaum terpelajar yang melakukan demonstrasi menolak ini dan itu yang ingin diberlakukan oleh pemerintah. Kalau demonstrasinya dengan aksi damai, akupun setuju. Tapi kalau sudah merusak infrastruktur suatu tempat, bagaimana? Mesti didiamkan? Terkadang kebingungan menghampiri pikiranku akan mereka yang diam saja dengan perlakuan para mahasiswa, kaum intelek yang kelakuannya sangat jauh dan tak mengagungkan intelektualitasnya. Mengapa tak sedikit orang yang menyetujui hal bodoh yang mereka lakukan? Mereka yang setuju, selalu mengajariku untuk berkaca pada kasus 1998. Mereka selalu berbangga, oleh karena demonstrasi mahasiswa yang mengorbankan temannya, mampu menumbangkan rezim 32 tahun itu. Dapat dikatakan hal itu wajar, mengingat rakyatpun bosan dengan rezim KKN itu. Hm...

***

Selanjutnya, institusi yang kerap kali melakukan kecurangan. Membela yang salah, juga menyalahkan yang benar, hanya demi mendapat rupiah. Seperti yang kualami beberapa waktu lalu. Aku yang hampir meregang nyawa di usia ke 22, masih juga dituduh bersalah. Tanpa mengintrogasiku, mereka langsung meminta rupiah dari kakakku demi menutup kasus yang hampir menewaskanku. Padahal, tanah merah itu belum menguburku.  Aku masih mampu memberi keterangan, bahwa bukan aku yang bersalah. Namun tetap saja, aku yang harus menderita. Sudah jasadku hampir mati, namun ternyata, naluri mereka sudah terlebih dahulu mati. Juga kasus tilang, yang kali pertama dibebani 21 ribu, tiba-tiba kemarin, pecahan biru, ungu dan oranye terang meluncur dengan gemulai ke tangan petugas pengadilan. 

Oleh sebab kecewa dan sakit hatiku akibat perlakuan mereka, ketika ditanya, maka aku pun balik bertanya, warga mana yang pernah benar bila membela diri di hadapan mereka? Ah... aparat negeriku! Kasusku saja tak bisa diselesaikan dengan adil, masihkah kau meminta anak negeri ini untuk mempercayaimu? Lalu kasus sang model cantik, bagaimana? Aku tak percaya, sang model yang juga manajer itu meregang nyawa akibat terseret oleh sepeda motor. Sedangkan para saksi melihat, tangan sang model dipegang oleh pelaku.

***

Lalu mereka. Mereka yang tengah berkedudukan tinggi. Adakah mereka melihat kami, rakyat kecil yang dengan terpaksa merelakan rupiah kami demi biaya liburan mereka ke luar negeri. Katanya sih, demi mempelajari tata letak dan klausul negara lain yang bagus-bagus tentunya, agar digunakan di negeri ini. Untuk apa itu, tuan? Benarkah kunjungan Anda sekalian, memang murni demi memperjuangkan hak kami, rakyat kecil yang terlanjur berharap pada kursi empuk kepemimpinan kalian?

Jika memang benar, mengapa masih banyak anak sekolahan yang mesti berenang di sungai demi sampai ke sekolahnya? Lalu, mengapa sekolah mereka mudah rontok? Mengapa Tuan? 

Anda pasti menjawab, dananya sudah diberikan pada dinas setempat. Lalu saya bertanya, ke mana rupiah itu mengalir? Adakah sepenuhnya demi anak bangsa, generasi muda, penerus kalian semua yang sebentar lagi akan meringkuk di liang lahat? Apa malah telah disunat ke sana ke mari dan tinggal persenan kecil untuk mereka, bocah tak berdosa yang harus merelakan dana yang demi mereka, kalian gunakan untuk korupsi. Korupsi berjamaah!

Setiap menjelang pemilu, wajah-wajah tak berdosa kalian menghiasi kota, bahkan sampai ke pelosok desa. Kalian minta dipilih dan mengiming-imingi kami yang tak mengerti kejamnya perpolitikan negeri akan stabilitas regional yang terjamin. Sekarang mana??? Kedelai saja mesti diimpor!

Ah... Lelah kulihat kalian. Lagak kalian bagai peri, malaikat pelindung kami. padahal, kalian menggerogoti tubuh kami. Kalau sudah begini, adakah gunanya kalian duduk di dewan terhormat itu? Sudahkah kalian menjadi sosok Superman bagi kami? Di mana nurani kalian saat memandang kami yang tak bermewah-mewahan seperti kalian? Adakah kalian peduli? 
Namun, bagaimanapun juga, gunanya institusi yang dipimpin oleh Sang Ayam Jantan dari Timur itu, makin menunjukkan kredibilitasnya. Terbukti dengan semakin banyaknya koruptor, dari segala institusi, duduk di kursi pesakitan.

***

Belum lagi ormas itu. Ormas yang entah bagaimana, miliki banyak pendukung. Kalau aku protes, pasti dengan sigap, pendukung kalian mengata-ngatai aku, "ah... kau tak tahu diri. Negeri ini telah banyak dibantu oleh mereka. Dana yang tak sedikit mereka berikan demi memperbaiki kampungmu yang telah digagahi oleh Tsunami."

Oh, Ok... Aku sadar, aku tak buta. Mata telanjangku melihat bahwa mereka telah banyak membantu. Lalu, dengan memandang hal itu, aku tak boleh protes akan segala tindak tanduk mereka yang katanya menegakkan 'amar ma'ruf nahi mungkar' tapi dilakukan dengan kemungkaran. di mana nurani mereka yang menghalalkan segala cara, merusak sana-merusak sini hanya demi kebaikan dan syurganya. Memangnya Tuhan tak melihat tindakan mereka? Memangnya Tuhan merestui kerusakan yang mereka sebabkan? Dan kalian, betapa sempitnya pikiran kalian, jika kalian merestui perbuatan sia-sia mereka!

***

Aku bukanlah orang  pintar dan suci, tentunya aku tak pantas berbicara tentang kalian semua. Aku hanya si bodoh dan lugu, yang selalu setia menjadi penonton sekaligus korban kalian, baik korban materi, fisik juga psikis. Aku hanya satu, dari penduduk negeri berdaulat ini, yang mungkin mudah terenyuh melihat ketidakadilan bahkan kebengisan membunuh mental anak negeri, penerus kalian yang sebentar lagi mati.

Ah... Betapa sensualnya negeri ini. Seluruh dunia akan memandang negeri ini, negeri para dermawan yang rela dibodoh-bodohi oleh kalian, pelaku kebobrokan negeri ini.

Aku kejam? Ya... Katakanlah tulisanku ini kejam. Lalu, apa bedanya dengan kalian? Kurasa, kekejamanku tak ada apa-apanya dibandingkan perlakuan kalian pada republik ini. 




Tidak ada komentar:

Review Pure Papaya Ointment: Salap dengan Jutaan Manfaat

Kulit kering bagi kita, terutama perempuan, merupakan sebuah masalah. Pastinya, ini akan membuat kita malu, karena kulit kering terseb...