Sabtu, 07 September 2013

Hati-hati Membawa SARA dan Memaknai Sebuah Tulisan!

Dalam interaksi yang telah kita bangun sedari masa kanak-kanak, adalah tak dapat dinafikan jika kita sering melihat beragam individu dan pandangan yang berbeda-beda di sekeliling kita. Hal tersebut tentu saja adalah pemberian Tuhan yang tak mungkin dapat kita elakkan. Namun, sering kali perbedaan ini terlalu dibesar-besarkan oleh individu yang merasa bahwa segala kelakuan dirinya itu sudah yang paling benar. Dalam tulisan ini, penulis akan membahas dua perilaku sia-sia yang sering penulis amati.

1. SARA
Adanya perbedaan agama, suku, ras dan antar golongan (SARA) ini adalah anugerahNya yang sepatutnya kita syukuri, dan BUKAN merupakaan bahan olokan, celaan (ada yang terjadi di Kompasiana) dan demonstrasi seperti yang tengah dihadapi oleh Lurah Susan Jasmine Zulkifli yang memerintah di kawasan Lenteng Agung.Demonstrasi yang mengatasnamakan Agama ini, menurut hemat penulis adalah suatu kesia-siaan yang memalukan agama islam sendiri, padahal agama islam ini Rahmatan Lil ‘Alamin, kan? Dan Ibu Lurah sangat mengetahui posisinya yang terpojok itu sehingga enggan berkomentar banyak mengenai penolakan ini. Sebagaimana yang beliau katakan di kantornya (29/8), “Biarkan mengalir. Kalau kataGus Dur gitu aja kok repot. Pokoknya saya kerja saja. Apapun itu, saya diam saja. Saya kan cuma bawahan, apa kata atasan kita turutin.”
Tanggapan beliau itu sangat rasional. Mengapa penulis katakan demikian? Lurah Susan tersebut berada di tempat itu sesuai dengan SK Gubernur yang memiliki tugas pokok adalah untuk bekerja dan melayani warga, tentunya bukan mau mengajari penduduk sekitar dengan agama yang dianutnya.

Alasan lucu lain yang ada dalam demo ini adalah ketakutan si orator demo tentang kegiatan keagamaan yang rutin diadakan di kelurahan itu, tak dapat dihadiri oleh sang lurah. Kenapa penulis katakan lucu? Yang bekerja di kantor lurah, tak semua beragama Kristen. Nah, mereka ini dapat mewakili sang lurah, kan? Apalagi demo yang berlangsung itu disuruh oleh seseorang, seperti yang diungkapkan oleh Santi yang tertawa bingung tak mengerti akan keikutsertaanya dalam demo itu. Padahal, menurutnya tak ada yang salah dengan kepemimpinan Lurah Susan.

—> Sejatinya, kita sebagai manusia biasa, bukanlah sosok yang berhak mengatur-atur kehidupan orang lain. Apalagi kita berdomisili di suatu negara yang memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tetap satu jua. Adanya semboyan itu merupakan jalan untuk saling bertoleransi demi mewujudkan pribadi yang tepat guna. Bukannya malah menjunjung tinggi Intoleransi yang dapat menimbulkan perpecahan di antara kita. Ingat bung! Ini Indonesia, bukan Arab Saudi atau negara lainnya yang masih memberlakukan Pancasila dan UUD 1945 sebagai landasan negaranya. Seharusnya, kita yang mengaku sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) lebih menjunjung tinggi arti dari Pancasila dan UUD 1945 ini di mana pun kita berdomisili.

2. Makna Tulisan
Selanjutnya, saya ingin membahas tentang pemaknaan seseorang terhadap sebuah tulisan. Baik di berbagai portal media dan di Kompasiana sendiri, sering penulis dapati komentar-komentar miring terhadap apapun yang dibacanya.  Tak jarang, tulisan itu menjadi bahan olokan dari beberapa individu/Kompasianer yang gagal memahami tulisan tersebut. Ada pula yang membantah komentar dari orang yang telah lebih dahulu mengomentari tulisa/artikel itu.

Dan tadi pagi, ada satu tulisan yang sebenarnya membuat saya tak habis pikir membacanya. OK, silahkan katakan bahwa saya juga gagal paham akan tulisan itu. Yang jelas, saya mengetahui maksud yang tertuang dalam tulisan itu, toh himbauannya untuk kebaikan. Namun, sungguh lucu kalau menganggap tulisan yang judulnya berkonotasi negatif selalu identik dengan isinya yang juga negatif, padahal tak sepenuhnya demikian.

—> Mungkin penulis tersebut saja yang langsung terangsang sehingga onani berkali-kali ketika membaca judul tulisan, misalnya yang ini, tanpa mampu menjalankan pikirannya sendiri untuk memahami tulisan itu. Padahal kalau mau dipahami, tulisan tersebut sangat bermanfaat, apalagi tulisan itu berada di kanal filsafat. Tentunya kita mengerti apa maksud dari filsafat itu sendiri, bukan? Benar, adalah hak penulis sendiri mengeksplorasi pikirannya sendiri dan juga benar tulisannya yang sangat bermanfaat itu sangat berguna untuk setiap kompasianer. Namun, alangkah lebih baiknya jikalau penulis yang saya maksudkan berkaca. Berkaca bagaimana? Penulis mestinya menyadari bahwa ia juga pernah mengomentari sebuah tulisan dengan kata-kata yang tidak pantas! Tidak pantas bagaiman? silahkan pembaca baca sendiri komentar yang fenomenal tersebut. Sungguh ini memalukan bagi saya pribadi yang seorang perempuan.

*

Sebagai makhluk sosial, tentunya kita tak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain,  walaupun berbeda dari segi kearifan lokal budaya maupun agama masing-masing individu. Lalu, hidup kita ini juga diharapkan dapat berguna bagi orang lain, minimal bagi keluarga kita sendiri. Tentunya kedua hal singkat yang penulis bahas di atas adalah asa yang menunggu perwujudan yang konsekuen. Namun, terkadang kebanyakan dari kita merasa bahwa diri kita  telah sempurna dibandingkan orang lain, padahal ungkapan nobody’s perfecttelah kita gaungkan sedari kita mengetahui artinya. Lalu apakah cukup jika hanya mengetahui arti kata perkata?

Bagi pribadi yang malas berpikir, mungkin itu cukup. Namun sebaliknya bagi pribadi yang kritis serta tepat guna dan mampu menempatkan dirinya dalam berbagai lingkup, adalah hal yang bodoh jika tak mau memikirkan orang lain alias egois dan terlalu percaya diri sehingga menjelek-jelekkan orang lain dianggap sebagai hal yang ringan, bahkan ke tingkat keyakinan.
Hal yang demikian ini, sering sekali penulis dan kita temui, Padahal sejatinya, keyakinan adalah urusan yang paling prinsipil yang merupakan ranah kekuasaan seorang pemeluk suatu agama dengan Tuhannya, tentunya tak seorangpun boleh menjadikan bahan pergunjingan bahkan sampai olokan.

Menurut hemat penulis, adalah suatu kerugian yang teramat besar (kalau tidak ingin dikatakan kebodohan) ketika merasa diri ini sempurna, jika masih memiliki kekuatan untuk menghina orang lain, apapun bentuknya.

Perlu masing-masing kita ketahui, bahwa kita belum pantas disebut ustad, pastor, pendeta dsb jika masih melakukan hal itu. Dan jika ada yang terlalu menghormati kita  hingga terlanjur menyebut predikat tersebut pada diri kita, seharusnya kita berkaca dan bertanya pada diri kita sendiri, masihkah kita pantas dipanggil seperti pemuka agama manapun jika kita masih suka menggunjing, bahkan mengolok-olok orang lain?

Penulis bukan orang baik, bahkan sangat  jauh dari kata sempurna. Penulis tidak bermaksud menjelek-jelekkan orang melalui tulisan singkat ini, tapi sedang mengingatkan dirinya sendiri maupun pembaca sekalian agar hati-hati dalam menghakimi seseorang dan sebuah tulisan. Alangkah baiknya jika kita gunakan cermin itu untuk melihat dan mengukur kualitas diri kita masing-masing, bukan hanya untuk sisiran layaknya keseharian kita di rumah. []

Tidak ada komentar:

Peran Industri Kreatif Anak Muda Indonesia di Era Milenial

Sungguh beruntung, Kota Medan mendapat kesempatan dalam rangkaian sosialisasi 4 Tahun pemerintahan Kabinet Kerja yang diselenggarakan ol...