Senin, 30 September 2013

Opini Hilda @hammer City Adalah “Cambuk” Bagi Fiksianer!

Sebelumnya, saya ingin mengatakan bahwa, pada tulisan ini, saya tak akan membahas tentang sastra, kritik sastra,dsb karena ini bukan bidang saya. Yang saya tekankan di sini adalah interaksi kita sesama kompasianer. Bila ada yang merasa tak nyambung dan merasa tulisan saya ini berbeda dengan yang diinginkan, mohon dimaafkan. Saya memang buta sastra, namun bukan berarti tak mau belajar.
***
Kemarin lusa (25/9), saya dikejutkan oleh tulisan seorang senior, yang isinya bila dibaca seolah membunuh karakter teman-teman sekalian yang bercokol dibawah bendera fiksi. Banyak diantara komentar yang masuk pada tulisan itu yang mengatakan bahwa tulisan itu bukanlah sebuah kritikan, melainkan kegalauan penulis artikel berbahasa sombong itu. Katakanlah artikel itu adalah sampah, lalu bagaimana? Memangnya kita harus marah-marah, menuliskan caci maki, sampai kepikiran sendiri, ah.. galau sendiri dan menilai orang lain sampai sejelek itu di dalam kolom komentar, Sampai begitu, kah?
*
Sebetulnya, saya sudah melihat tulisan itu jauh dari sebelum teman-teman merasa terbunuh, lho! Lha wong saya bacanya 5 menit setelah dia posting tengah malam (kebiasaaan saya kalau ‘gak tidur, ya gini selain ngerjain skripsi). Tante Hilda yang tinggal di Palu ini, menayangkan tulisan tersebut pada pukul 02.11 wib. Saat itu, saya sudah membaca tulisan itu, cuma saya tak meninggalkan jejak apa-apa.
Kenapa tulisan itu bisa ada? Ya… mungkin karena tante ini agak risih bin galau waktu banyak menemukan link fiksi yang bertebar di home facebooknya. Saya pikir, tulisan itu tak ada apa-apanya dibandingkan dengan kita yang belajar di sini.
Komentar pertama pun masuk pukul 03.52 dan tetap, saya juga belum tidur. Saya rasa, berkomentar juga tak ada gunanya, karena saya tahu bagaimana maksud tulisan tante ini. Karena dari pukul 14.00-21.30 malam setelah nonton Insidious 2 baru ada di rumah, baru saya tinggalkan komentar setelah melihat hujatan orang di sana.
Tanggapan saya, “hehehe,,, makasih sepakannya tante.” Simple. Namun ada yang masih marah-marah juga atas tanggapan saya.
Kenapa saya komen begitu? Karena saya tahu kebiasaan tante itu. Beliau memang begitu sejak awal saya ber”karir” di sini (18/8/11). Saat itu ada tulisan tante itu yang mengatasnamakan Sastra Instan. Ingat?
*
Pada tulisan kemarin, tante ini meletakkan opininya di kanal fiksi. Nah, ini letak kekeliruannya. Lalu ada banyak pertanyaan komentator pada tulisannya tentang penyair Ketengan itu. Yang membuat orang tambah marah adalah karena setelah melemparkan opini nyinyir (ada yang bilang opini sampah), beliau tak menanggapi komentar teman-teman saat itu juga.
Ini saja jadi bahan keributan, ckckck.. dimaklumi saja, bro/sist. Mungkin karena keterbatasan signal internet di Palu sendiri. Atau mungkin, beliau malah tertawa melihat opini “sombong”nya diapresiasi secara “tinggi”. Saya rasa, tante Hilda juga akan menanggapi komentar dari kompasianer, setelah koneksi internetnya stabil, ya… seperti jawaban beliau di artike-artikel sebelumnya.
Mungkin tulisan ini akan dirasakan bahwa, Saya membela si tante. Come on, guys!. Jangan berpikiran picik seperti itu tentang saya. Saya bukan pembela siapapun seperti para  pemuja Arab Saudi yang bergentayangan di sini.
Lagipula, kenapa juga harus saya bela si tante itu? Toh, fiksi ketengan saya juga tak ada apa-apanya. Berarti, opini si tante itu juga kena saya dong! Terus kenapa saya gak marah? Saya sudah bilang, saya sudah kenal tabia’at tante tersebut.
Pengalaman saya di “sepak” selama di sini!
Sebelum kita merasa terhakimi dengan tulisan tante Hilda, saya juga pernah dilecehkan orang sampai dikatain bodoh, opini gila, pekok, dongo, dll. Bahkan sampai profil picture saya juga dikomentari.
Apa bisa Anda bayangkan bagaimana perasaan saya yang alhamdulillah sampai saat ini masih menjadi seorang perempuan. Tahu sendiri kan kalau perempuan itu sedikit-sedikit, mainnya diranah perasaan?
Bila boleh saya bandingkan, saat itu yang saya rasakan jauh dari yang teman-teman rasakan. Mengapa? Opini pengkerdilan itu ditujukan untuk saya sendiri, sampai-sampai,  dimanapun saya berkomentar, hantu itu selalu bergentayangan, mengebiri komentar saya dan memaki juga melecehkan saya. Lalu, bisa ditebak toh apa yg saya rasakan?
Saat itu, saya tak mau menulis lagi, sedih akibat mental saya down karena disepak terus sama orang itu (J). Saya ketakutan. Ini saya sendiri yg diserang walaupun dia menyerang orang lain juga. Tapi tidak berjamaah seperti yang dilakukan tante Hilda kemarin. Akhirnya dengan mendapat banyak sokongan semangat dari beberapa kompasianer termasuk keluarga saya di cengengesan family (CF), sayapun bangkit lagi.
Masalahnya sekarang :
1. Mengapa harus merasa salah dan kalah kalau kita tak seperti yang diungkapkan tante Hilda?
2. Sekarang, rasa kesetiakawanan kita muncul tiba-tiba begitu saat dihina pakai tulisan tante Hilda?
3. Dulu waktu saya dihina J,  yang ribut karena merasa dilecehkan tante Hilda, pada ke mana?
4. Di mana teman-teman ketika martabat pribadi perempuan saya dilecehkan oleh Kompasianer seperti M, J, dan N?
5.Sekarang N. Pasti berkomentar dilapaknya dengan menyebut2 si belok untuk saya, atau si kanin kumal untuk Anindya. Lalu, marahkah saya?
6. Di mana teman-teman yang seolah bahu membahu sekarang dalam menghadapi opini tante Hilda?
Simple jawabannya, karena kita yang meributkan tulisan tante itu, tak pernah mau peduli sama penulis lain. Sombong mana, coba? Atau karena teman-teman ada yang tidak tahu apa-apa?
*
Buka mata kita lebar-lebar, kita semua ditampar berjamaah sama opini tante Hilda. Kenapa kita harus marah? Ya, karena kita dilecehkan dong. Toh bila dibandingkan dengan J,M dan N yang mengejar-ngejar opini saya, lebih parah lagi. Mereka mengejar perorangan. Terlebih J yang selalu mengejar saya dan bu Ira.
Dulu memang saya marah, sakit hati, kecewa, juga tak mau menulis lagi. Sekarang saya malah harus berterima kasih sama si J, M, dan N ini. Jika tak ada mereka yang menampar saya, saya tak akan tertempa dan menyadari Passion saya.
Kalau boleh jujur, saya belajar sama tetangga bagaimana caranya dia bertahan setelah dihujat sana-sini. Setelah melihat apresiasi teman-teman dan kegigihan si tetangga itu, akhirnya saya mulai lagi dr nol, padahal untuk bangkit itu susah. Tapi saya sadar, ini dunia saya dan tak ada seorangpun yang dapat menghentikan langkah saya!
*
Saya tak ambil pusing dengan tulisan sepert punya tante Hilda. Sudah biasa bagi saya. Justru yang mengecewakan adalah tanggapan teman-teman terhadap saya yang seolah mengatakan, “saya tak punya hati.”
Baik, katakanlah saya memang tak punya hati. Karena si hati ini paling mudah  sakit bahkan anti kritik. Kalau selalu dipakai si hati ini, kapan kita mau maju, bro/sist? cara amannya adalah menyeimbangkan antara penggunaan logika dan etika, agar tercipta suatu estetika. Begitu kata dosen saya.
Maaf, untuk tulisan tante Hilda, saya memilih menggunakan logika saya. Mohon maaf sekali lagi, bukan ingin menggurui teman-teman sekalian pegiat sastra. Bagi saya,opini tante Hilda (walaupun bahasanya salah) adalah cambukan bagi kita semua agar kita yang tengah berproses bersama-sama di sini agar tak merasa pongah akibat keseringan dipuji. Bagi yang belum menemukan cambukan itu, coba lagi. Silahkan Logikanya diputar-putar, dibolak-balik, dibanting-banting sampai cambukan itu kita dapatkan.
*
Hujatan dan justifikasi yang saya terima dari orang-orang yang mengatakan saya syiahwati, liberalwati dsb, juga tak saya pedulikan, toh saya ‘tak mengenal mereka.Yang perlu kita tahu, sebelum anda di”makan” oleh hilda, saya yang perempuan ini telah di”makan” terlebih dahulu oleh J, M, dan N.
Satu lagi, ini yang disampaikan salah seorang pegiat sastra ketika chat dengan saya kemarin “dia emang sengaja mancing emosi orang.. tujuannya buat lihat seberapa jauh seseorang itu mampu berpikir tanpa hasutan emosi negatifnya.. cantik cara mainnya.. kita lihat aja nanti cara dia membalas komen.”
Sadar ‘gak sih, tante Hilda ini memang pandai mem”bodoh”i kita dengan lemparan bomnya sehingga kita kelimpungan, buang-buang energi dan menghujat orang. Duh, rugi bro/sist. Udah nulis di sini dak dapat apa-apa kalau gak masuk freez, masa’ mau sih buang-buang pikiran untuk sesuatu yang “gak banget”?
Setiap orang/kompasianer memiliki style dalam menulis, silahkan. Jadikanlah cambukan tante Hilda agar kita mampu bercermin diri. Hidupmu di tanganmu, bukan di tangan siapapun, apalagi tangan tante Hilda! []

Tidak ada komentar:

Peran Industri Kreatif Anak Muda Indonesia di Era Milenial

Sungguh beruntung, Kota Medan mendapat kesempatan dalam rangkaian sosialisasi 4 Tahun pemerintahan Kabinet Kerja yang diselenggarakan ol...