Senin, 16 Desember 2013

Kumatikan Rasaku, Sebabmu!

Hanya ingin menjadi penopangmu, kala letih kuasai langkahmu
Hanya ingin merawatmu, kala lelah itu menyakitimu
Hanya ingin berarti bagimu, lalu :
Bolehkahku berikan separuh jiwaku untuk melengkapi harimu?
*
Ah… Sudahlah 
Lagi-lagi pertanyaan bodoh 
Menyeruak tanpa lelah 
Oleh hampa hatiku yang gundah

*
Hatiku memang pernah berharap, akan kenyataan manis. .amun semuanya semu. semuanya hanya nafsu bodoh uang berbalik seratus delapan puluh derajat, ketika kaummu pergi dari hadapanku. Saat itu, bagaikan tengah diterjang badai Katarina, aku terombang-ambing tanpa mau mengenal sekelilingku. Kubiarkan waktu berlalu, dan Gotcha, aku memang mampu melupakan mereka. Mudah memang, dan aku bahagia saat melepaskan jeratan itu. Dan aku? Perlahan mulai melupakan kaummu, hingga tiba saatnya mengenalmu.Awalnya memang mampu kutahan. Sempat terpikir bahwa aku harus membuang rasaku lagi. Semua telah kucoba, namun nihil hasilnya.. Sebab melupakanmu, adalah suatu yang tak mudah, menyakiti hatiku sendiri.Sebab rasa ini, semuanya buyar. Entah apa yang merasuki jiwaku, ketika kehilanganmu, membuatku lupa akan diriku sendiri, seolah melupakan cita-citaku.

Aku membencimu!!!
Kau dengar?
Aku membencimu!!!
*
Benar, aku membencimu. Membenci tiap hangatmu padaku. Membenci mengapa begitu bodohnya aku, menyerahkan hatiku padamu. Ya… walau kau tak tahu, hatiku telah kutitipkan padamu. Padamu yang tanpa resah dan tak pernah mengetahui akan rasaku padamu, hingga seenaknya, pertahananku goyah, sebab hatiku terlanjur mendambamu.
Oleh lemahku, kuterima kucuran hangatmu, saat itu. Dan pada-Nya, kumohonkan jutaan pintaku, agar Dia menjagamu selalu. Aku menyerah, mungkin kekalahan menginjakku. Namun tak meengapa, daripada harus kutanggung rasa malu oleh emansipasi yang kebablasan.
Baik,, sudah cukup…Aku menyerah, telah kucukupkan hatiku padamu, walau sakitnya kurasakan kembali. Aku lelah, Ya… aku menyerah. Tanpa mau berharap lagi pada siapapun kaummu. Sebab sakitnya telah kurasakan berulang kali, hingga tak ada yang mampu melemahkan egoku yang kutanam, kekal pada angkuhnya diriku. Aku kembali pada sikapku sebelum mengenalmu.
Kau tahu… Kubuka semuanya demi membiarkanmu masuk. Namun, kaupun tak kunjung menjemputku. Dan kini, telah kupagari hatiku lagi sekuat-kuatnya, agar dendamku terbalaskan pada kaummu yang memiliki asa padaku. Kembali, rapat kukunci. Lalu, Kau kasihan padaku? Tak perlu. Ketika pergi, kau bebas melenggang tanpa dosa, bukan? Jika kau ingin melihatku bahagia, yang mampu membukanya adalah kau.
***
Skeptisku selalu menggelegak, ketika ada saja kaummu yang menginginkan hatiku. Awalnya memang kubuat mereka menikmati waktunya bersamaku. Lalu, secara perlahan, kubuat mereka berhenti, apapun caranya agar mereka tak menggangguku lagi, hingga satu persatu dari mereka memutuskan untuk pergi.Aku menang saat itu. Menang dan tetap pada diriku yang telah mati rasa akan kaummu. Namun, aku tak mampu memenangkan hatiku sebabmu. Sebab pesonamu.
Pesonamu yang bahkan membuat sikap skeptisku hilang seketika, melebur bersama asaku terhadapmu. Saat itu memang kubiarkan saja, tak berharap dirimu mengetahui. Namun, semakin lama rasa ini semakin menggerogoti batinku. Aku lelah tersiksa. Hingga kuberpikir, “mungkin ada baiknya jika aku menyerah saja.” Sebab, kau hanyalah Aurora. Juga Fatamorgana, bagi dahaga dan rinduku akan kaummu.
*

Kau hanyalah angan semu 
sulit menjelma seru 
Sebab kau membatu 
Tanpa mau tahu akanku

*

Pernahkah kau tahu tentang rasaku?
Tidak!
Pernahkah kau berpikir tentang kaumku?
Mungkin pernah, namun tak sekarang
*
Atau, benarkah kau sudah mati rasa? Lalu menghambakan diri pada diri dan hampamu sendiri. Ah… Mungkin kau lupa, egoismu membuatmu buta. Kau terlalu mencintai dirimu sendiri, hingga mampu lupakan kodratmu. Sadarkah kau akan laku mutlakmu?
Kau adalah egoisnya lelaki. Pintar mengubah realita, seolah nasibmu berada di tanganmu. Kau, menakdirkan dirimu untukmu sendiri. Tanpa biarkan seseorang menemani dan mengisi kosongnya jiwamu.
*
Jika dengan jancukpun tak sanggup aku menemui, lalu dengan airmata mana lagi dapat kuketuk pintu hati hatimu? - Djiwo J#ncuk : Sudjiwo Tedjo.
Perkataan si mbahpun rasanya sia-sia bila harus kuucapkan padamu. Aku menyerah sebab diammu, maka akupun akan kembali mengubur asaku padamu, juga pada kaummu.
Aku lelah. Terlalu jengah pada geliat realita rasa yang hanya mampu melemahkanku.
Baiknya, Aku menyerah saja. Sebab lidah dan jemariku telah terkunci, tak mampu lagi kubertanya, pantaskah aku untukmu?

Walaupun demikian, do’aku masih dan akan selalu untukmu.

Tidak ada komentar:

Peran Industri Kreatif Anak Muda Indonesia di Era Milenial

Sungguh beruntung, Kota Medan mendapat kesempatan dalam rangkaian sosialisasi 4 Tahun pemerintahan Kabinet Kerja yang diselenggarakan ol...