Sabtu, 01 Februari 2014

Jadi Penulis, Jangan Sombong!

Beberapa hari yang lalu, saya sempat membahas sebuah fenomena yang kerap menghampir kita sebagai makhluk tuhan, yang terkesan manja. Kali ini, izinkan penulis membahas tentang penyakit lainnya yang menjangkiti hampir tiap individu, termasuk penulis.

*

Pernah kenal atau bertemu dengan orang sombong? Tentunya pernah, bukan? Nah, itu pula yang saya alami selama beberapa bulan belakangan. 

Ceritanya, di kampus itu, ada seorang perempuan (adik kelas) yang pada awalnya pendiam karena anak baru. Tadinya, saya pun cukup sering berbicara dengannya. Namun lama-lama, keluar aslinya. Sok kecakepan, sombong, suka bergosip, caper (cari perhatian), dan terlalu heboh (sok ramai). Akhirnya, sayapun jadinya tak simpati lagi dong. Apalagi saat suatu hari dia membentak saya  dan menyebutkan langsung nama saya (tanpa Kak). Seketika, luruhlah pandangan positif saya kepadanya. 

Ya… tadinya memang saya tahu kalau dia itu memiliki sifat yang saya sebutkan di atas, cuma karena tak dekat dan tak pernah bersinggungan, saya pun tak ambil pusing. Setelah saya unrespect dan memang makin jelas sifat dan sikapnya, saya memilih untuk diam sembari melihat polahnya yg gak banget itu. 

Kemarin siang waktu dia seminar proposal, saya yg berkesempatan hadir di kampus, dan bersama teman-teman lain, masuk menjadi mahasiswa pembanding.

Guest what? Jangankan kami, dosen pembimbingnya sendiri malah senyum-senyum dengan hasil proposalnya serta jawabannya yang gak nyambung, seperti Angel Lelga waktu ditanyai Najwa Shihab. Saya cuma membatin, makanya jadi orang itu jangan sombong dan sok heboh.

Nah, yang tadi itu kesombongan orang yang secara nyata saya lihat dan akhirnya dia kena batunya. Di dunia maya dan kompasiana ini, ada yang sombong? Jawabannya, ada.

Jadi penulis, jangan sombong!

Banyak seminar ataupun workshop yang saya hadiri secara GRATIS, yang ke semuanya itu menghadirkan penulis yang tak segan memberi ilmu dan berbagi pengalamannya dengan pemula seperti saya. Mereka berbicara cukup menyenangkan sehingga penonton/pendengar pun nyaman. Belum lagi, jika mendengar pengalamannya (baca: jam terbang) nya sudah tinggi. Kagum dong ya. Pasti. Apalagi saya sendiri masih amatir.

Lalu, apa hubungannya dengan judul di atas?

Mereka, yang penulis di dunia nyata saja tak sombong. Lha, kita yang menulis di dunia maya, kenapa harus sombong?

Adalah suatu KEBODOHAN dan KESALAHAN MUTLAK jika kita yang menuliskan beragam edukasi penting di sini, mengharapkan imbalan dari pembaca. Padahal, jikapun tak berkomentar semacam, kata terima kasih, pembaca sendiri bukannya bisa diartikan tak tahu diri dan tak berterima kasih, lho! Ada berbagai jenis orang, jadi ya harap maklumi saja dong. Jangan malah langsung dihakimi tak tahu berterima kasih. Bisa saja, dalam hatinya ia sangat berteima kasih kepada kita dan berusaha menulis yang baik seperti penulis yang sudah susah payah mentransfer ilmunya lewat blog gratisan ini.

Who knows, kan?

Anggap saja kalau kita sedang mencari pahala. Jadi, tak perlucompain jika tak diucapkan atau diberikan penghargaan apa-apa. Insya Allah, Dia yang akan membalas kebaikan yang kita lakukan. Tak perlulah mengatakan ini dan itu. Percaya Tuhan, toh? Kecuali si tukang complain yang sombong itu memang tak percaya akan kekuatan Tuhan yang maha segalanya.

Saya pribadi, sangat banyak melihat juga membaca beragam tulisan di sini, apalagi penulis di kompasiana ini banyak orang-orang hebat yang terbilang sangat jauh berpengalaman dibandingkan yang lain, Tapi mereka tak sombong apalagi marah kika tak diucapkan kata terima kasih. Terlebih di portal media lain, maupun buku-buku yang saya beli atau cuma dibaca di tempat, misalnya yang ilmunya cukup banyak dan patut dihargai. Nah, dari situ, saya belajar dan sangat berterima kasih kepada sharingilmunya. Untuk itu, bagi penulis di sini atau di manapun, saya ucapkan beribu ucapan terima kasih atas sharingnya.

Alangkah bijaksananya, jika kita telah memutuskan untuk menulis dan berbagi di sini agar tak menuntut pamrih yang berlebihan. Karena sesungguhnya, berbagi di mana saja sudah termasuk pahala, apalagi di Kompasiana ini yang memang blog gratisan. Rasanya, teramat lucu jika kita penulis meminta “disembah-sembah” oleh pembaca. Yang saya tahu, keikhlasan untuk berbagi, lebih penting dari pada sekedar ucapan terima kasih.

*

Kehidupan memang mengajarkan kita untuk memiliki banyak sikap, termasuk sombong. Dan saya tahu, ini adalah pilihan dari setiap orang. Namun, jika boleh saya sarankan, alangkah lebih bijak jika kita mampu berpikir, di atas langit masih ada langit dan di atas kita yang merasa pintar, masih banyak orang lain yang lebih pintar. Jadi, bagi yang royal dan loyal memberi, rasanya perlu diingat, tangan kanan memberi, tangan kiri tak usah tahu apa-apa. Dengan demikian, kita terhindar dari sifat sombong dan membangga-banggakan diri. []

Tidak ada komentar:

Peran Industri Kreatif Anak Muda Indonesia di Era Milenial

Sungguh beruntung, Kota Medan mendapat kesempatan dalam rangkaian sosialisasi 4 Tahun pemerintahan Kabinet Kerja yang diselenggarakan ol...