Selasa, 28 Januari 2014

Caleg Artis Perempuan, Jangan Cuma Mengandalkan Popularitas!

Pada tulisan lalu, penulis telah sedikit mengulas  rekam jejak Angel Lelga, ketidakcakapannya dalam menjawab “gempuran”  Najwa Shihab di acara Mata Najwa 15 Januari 2014 lalu, dan motivasinya sebelum mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dari PPP  yang akan menuju DPR-RI dari dapil V Jawa Tengah. Kemudian, penulis juga muliskan sedikit tentang keterkejutan penulis pribadi akan majunya caleg dari PKPI yang diketuai oleh mantan gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso. Caleg yang dimaksud adalah Destiara Talita (25) yang sudah dua tahun belakangan ini menjadi model majalah pria dewasa. Tata sendiri telah dipersiapkan untuk bertarung di dapil VIII Jawa Barat.

Menjelang pileg 2014 ini, tentunya caleg dari kalangan selebritas juga bukan mereka  (AL dan Tata) saja. Sebut saja Jane Shalimar dari NasDem, Desi Ratnasary dari PAN dll. Namun, mereka tidak berpenampilan layaknya Tata sang Model Majalah Pria Dewasa. Masih dari PKPI, telah dipersiapkan seorang pedangdut yang kerap berpakaian seksi yang memiliki nama panggung, Camel Petir. Keduanya (Tata dan Camel) hadir sebagai Narasumber di acara Metro Malam, Minggu 26 Januari 2014 pada episode Kontroversi Caleg Seksi.

Model Majalah Pria Dewasa, Caleg dari PKPI

Ketika diwawancarai oleh Widya Saputra (presenter acara), menurut pengamatan penulis, Tata terlihat gugup dan kurang tanggap dalam menghadapi pertanyaan. Tata yang mungkin belum terbiasa “digempur” presenter, menjawab pertanyaan juga tidak nyambung,  padahal pertanyaannya itu sendiri sesuai untuk kegiatannya sendiri di dapilnya, lho! . Hemat penulis, ia yang merupakan mahasiswi  Fakulltas Hukum sebuah Universitas Swasta ini, seharusnya dapat tanggap. Melihat Tata, penulis teringat pada Angel Lelga yang juga tak jauh berbeda.
Satu kalimat yang sangat penulis ingat sekaligus mencengangkan dari penuturan Tata ketika ditanyai seputar mengapa bisa ia terjun ke dunia politik adalah, “Saya menjadi caleg HANYA untuk menutupi kuota 30% caleg perempuan”.Kata menutupi itu mungkin memang diawalnya, lalu ketika ia telah berkoordinasi dengan Sutiyoso, ia pun mantap untuk mengajukan diri menjadi caleg untuk di dapil VIII Jawa Barat.

Pedangdut Seksi, Caleg dari PKPI

Sejalan dengan Tata, Pedangdut bernama Camel Petir ini juga mantap menjadi caleg untuk dapil II DKI Jakarta, sebab ia juga merasa nyambung dengan Bang Yos (panggilan akrab Sutiyoso). Namun, sedikit berbeda dengan Tata, pedangdut yang memiliki nama asli camelia Panduwinata Lubis ini, cukup lumayan tanggap dalam menghadapi pertanyaan.
Dikatakan oleh lulusan Fakultas Ekonomi di salah satu Universitas Swasta di Medan ini, bahwa bila ia terpilih sebagai anggota DPR-RI, ia berkeinginan masuk di komisi X yang mewadahi seni dan olahraga. Ditambahkan olehnya, ”Dengan bekal pendidikan cukup dan aktif berorganisasi, mudah-mudahan saya bisa diberi kesempatan. Dari hati nurani yang paling dalam, saya tergerak ingin memberikan kontribusi untuk kemajuan daerah dengan jadi wakil rakyat.”
Selain itu, alasannya masuk ke DPR-RI  tentunya “pasaran”,  layaknya caleg kebanyakan yang selalu mengumbar janji dengan mengatakan ingin menjadi penyambung lidah rakyat dalam upaya mensejahterakan kehidupan rakyat. Lebih lanjut menurut Camel, ia tak memiliki bekal apa-apa untuk maju di dapil yang akan mempertemukannya dengan orang-orang hebat dan berpengalaman di dunia politik.Dikatakan olehnya,  “Aku nggak punya budget, nggak punya uang banyak, aku cuma punya cinta dan niat yang tulus."

Belum terpenuhinya 30% Kuota Perempuan
Para perempuan, baik masyarakat biasa maupun artis yang memilih untuk berkecimpung di dunia politik, sebenarnya memiliki keistimewaan tersendiri, lho! Kita perempuan, telah dianugerahkan oleh Tuhan kelebihan yaitu kepekaan yang luar biasa. Untuk itu, kita harus menggunakan kepekaan (baca: rasa kasihan) itu untuk menolong sesama. Tentunya, para anggota dewan yang laki-laki juga wajib memiliki ini. Namun pasti, untuk masalah perempuan yang cukup banyak dan kompleks, ini merupakan tanggung jawab anggota DPR yang perempuan juga.

Mungkin kita perempuan, boleh sedikit berbangga. Walaupun belum mencapai 30%, tahun 2009 yang lalu, kuota perempuan di DPR mencapai 18%. Angka ini menunjukkan bahwa banyak orang yang masih percaya kepada caleg/anggota DPR yang perempuan.
Edriana Noerdin, MA, Panel Ahli Woman Resarch Institute (WRI) mengatakan bahwa masyarakat yang terlibat FDG dengannya, lebih mempercayai anggota DPR yang perempuan karena jarang yang terlibat korupsi, walaupun tak sedikit masyarakat yang pesimis akan kualitas caleg, apalagi banyak yang dari kaum selebritas.

Hal tersebut rasanya wajar ditakutkan oleh masyarakat karena banyak caleg yang masih didapati foto seksinya di internet. Untuk partainya sendiri, dikatakan oleh Wasekjen PKB, Abdul Malik Haramain, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan KPU untuk harus turun tangan mengatasi persoalan tersebut.

Caleg Artis Perempuan, Jangan Cuma Mengandalkan Popularitas!
Tentunya, ranah politik ini bukan “lahan garapan” para caleg artis  ini sebelumnya. Namun, ia berharap pada kemampuan yang memang ada di dirinya agar dapat menghadapi kemustahilan politik itu sendiri. Alasannya, lebih karena ia adalah public figure. Jadi, dapat dikatakan, mereka terpilih dulu karena popularitasnya, lalu masuk ke DPR, baru setelah masuk, mereka belajar berpolitik. Bukan karena memang kecakapan mereka di dunia politik.

Memang, idealnya adalah caleg ini seharusnya memiliki basic skill politik yang menunjang. Namun, karena tak sedikit yang nekat atau bahkan ikut-ikutan, bagi caleg non-political skill, apa salahnya dicoba. Mungkin, dengan berpolitik ini dapat mengantarkannya ke tujuan pribadi. Jika mereka, para pekerja seni tulen yang tak memiliki skill politik, sebenarnya mereka dapat menyuarakan aspirasi masyarakat melalui sikap oposisi yang tegas. Teguh berpihak kepada rakyat, bukan ke arah drama politik.

Melihat fenomena banyaknya selebritas yang akan mengadu peruntungan di dunia politik, tentunya memberikan satu warna tersendiri bagi pemilih. Mereka, para caleg yang maju di pileg kali ini, memang tak melewati uji kompetensi caleg yang signifikan. Namun, kepada mereka diharapkan benar-benar mengerti akan carut marutnya dunia politik republik ini. Tak sampai di situ, mereka harus benar-benar mengetahui berbagai masalah yang mengelilingi tanah air dan memiliki kecerdasan serta intelektualitas tersendiri dalam memahami situasi. Tentunya tak hanya bermodalkan popularitas belaka. Namun mereka harus berkontribusi bagi negara. []

Tidak ada komentar:

Review Pure Papaya Ointment: Salap dengan Jutaan Manfaat

Kulit kering bagi kita, terutama perempuan, merupakan sebuah masalah. Pastinya, ini akan membuat kita malu, karena kulit kering terseb...