Jumat, 16 Mei 2014

Kasus Perzinahan di Aceh, Pelajaran untuk Netizen “Malas”


13996384251926592801
Ilustrasi/ Kompasiana (shutterstock)
Saat online tengah malam (7/5/14), seperti biasa, selain facebook dan kompasiana, saya juga bermain di twitter. Saat tengah saling berbalas mention, tanpa sengaja, saya melihat salah satu berita dari kompas.com yang berjudul awal, Diperkosa 8 Orang, Wanita Ini Akan Dicambuk Polisi Syariah.

Jujur saja, melihat judul yang saya yakini akan menjadikan Aceh menjadi sorotan lagi itu, saya terkejut dan me-retweetnya sbb:

1399631316911684930
twitter saya @perempuankopi
Kenapa saya spontan berkomentar demikian di retweet-an saya itu? Sebab saya sudah tahu dan merasa bahwa nanti akan ada kekeliruan (baca: salah tafsir) disebabkan pemilihan judul awalnya itu yang menurut hemat saya akan memancing konflik sosial kedaerahan dari banyak pembaca yang MALAS membaca keseluruhan isi berita.

Sebagaimana yang kita ketahui, kebanyakan masyarakat kita, seolah-olah dukun/peramal, yang merasa sudah tahu isi berita dari HANYA membaca judul, belum lagi yang memang sengaja tendensius. Padahal, terkadang, judul yang dipilih hanya agar menarik. Dan untuk berita diatas, dijelaskan apa yang tejadi.

Mungkin, karena hanya demi mengejar rating sehingga penulis, bahkan editornya kurang cermat dalam menyajikannya. Untuk lebih jelas, silahkan baca tulisan Kakanda Zulfikar Akbar, kemarin.

*

Tak hanya orang biasa, bahkan seorang Ulil Abshar @ulil dan sang sutradara @jokoanwar juga bisa terseret ke “keramaian” ini akibat tak teliti tadi. Namun, tak lama kemudian, @ulil pun menuliskan sbb:

13996302511000067919
twitter @ulil

Namun, sejauh pantauan saya dan beberapa pengguna twitter dari Aceh, sampai pukul 03.00 pagi, @jokoanwar belum mengkonfirmasi tweet menyesatkannya itu, sampai ada yang seperti ini:

1399630312846184600
http://pbs.twimg.com/media/Bm9_sZiCUAEe3Vy.jpg

Dan akhirnya, keesokan paginya @jokoanwar pun meminta maaf atas kesalahannya.

1399630591850955749
twitter @jokoanwar

Hemat saya,  ini adalah keterlambatan. Namun, karena kebanyakan orang tak mau memperpanjang, maka masalah itu selesai. Seperti yang dikatakan @IndieGem :

13996307381272435563
twitter @IndieGem
*

Saya kira, selesai saat itu dan cukup melegakan saya. Ternyata, ketika saya buka berita dari tempo.co dengan judul Hukum Syariah Aceh Disorot Media Internasional.

Pada tulisan di Sidney Morning Herald (SMH) tersebut, saya rasa, ada sedikit kekeliruan dan berdampak bagi opini masyarakat luas baik dalam-luar negeri terhadap Aceh lagi. Silahkan disimak kalimat berikut, “Perempuan juga diharapkan untuk menutup rambut mereka dan pasangan muda yang belum menikah tidak diperbolehkan duduk bersama di depan umum, takut perasaan seksual akan muncul.”

Tulisan yang saya cetak tebal itu, selayaknya dapat saya komentari bahwa Pasangan muda (baca:pacar) itu, jangankan di Aceh, diluar Aceh pun tidak akan melakukan apa-apa bila di depan umum. Yang namanya di depan umum, hemat saya, perasaan seksual apalagi sampai bermesum ria, tidak akan mungkin dilakukan, namanya juga di depan umum. Yang ada, bila mereka melakukan macam-macam (aktifitas seksual), mereka akan menghadapi sanksi sosial. Yaiyalah…. siapa juga yang mau “ngapa-ngapain” di depan umum/publik/orang banyak.

See? Kalimat itu begitu rancu. Kembali lagi, masyarakat kita yang tidak mau banyak berpikir, pasti langsung IYA begitu disodorkan berita itu, apalagi orang-orang yang mendewakan luar negeri. Lalu dampaknya? Lagi-lagi, aceh yang disorot tajam.

*

Mengenai kasus tersebut, sampai hari ini (9/5/14) ada pertanyaan yang saya baca di facebook, “kenapa nggak diberlakukan qanun juga kepada pemerkosa, sebab pemerkosa adalah merampas harga diri wanita tersebut sedangkan zinah adalah mau sama mau… atau jangan-jangan hukum qanun itu hanya untuk perzinahan saja dan khususnya untuk kaum perempuan saja?”

Di sini saya coba jelaskan, tidak ada perbedaan perlakuan hukum hanya karena jenis kelamin. Seingat saya, semua manusia adalah sama haknya di mata hukum dan pemerintahan. Jadi, jangan khawatir. Karena Aceh ada di dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan kasus pemekosaan itu merupakaan delik pidana, maka  hukuman bagi pemerkosa, pasti ada dan menjadi hak dan tanggung jawab polisi setempat.

Sementara Perempuan itu, dihukum dengan Qanun yang berlaku di Aceh (jangan lupakan otonomi daerah) karena alasan perzinahan. Hukuman tentang perkara mesum ini diatur dalam Qanun Aceh Nomor 14 Tahun 2003 tentang Khalwat/Mesum.

*

Sedikit kembali ke twit “panas” @ulil dan @jokoanwar, saya hanya ingin mengatakan, di zaman yang serba canggih ini, pemikiran kita TIDAK boleh sempit. Kalau pikiran kita sempit, apalagi sampai menyampaikan informasi yang salah kepada orang lain, kita malah akan menerima boomerang, lho!

Walaupun kasus pencemaran nama baik tersebut sudah selesai, namun tolong, jadikan kasus itu sebagai pelajaran bagi netizen yang MALAS membaca. Jangan hanya pasrah dan terpancing dengan judul dari media yang sengaja dibuat bombastis.

Tulisan ini bukan disebabkan hanya karena saya bersuku Aceh, namun lebih kepada agar kita tidak sembarangan mendiskreditkan juga berpikiran negatif kepada orang/tempat/ suku bahkan agama lain jika mendapati sebuah berita. Karena sejatinya kita tak tahu apa-apa tentang daerah lain.

Jadi, dari pada salah omong dan tambah dosa akibat MALAS tadi, baiknya langsung observasi langsung, seperti yang saya lakukan saat saya pulang kampung ke Aceh, beberapa minggu yang lalu, mungkin akan saya ceritakan lain waktu. [AZ]

*

Beberapa SS gambar dari sini

Kamis, 01 Mei 2014

Bermodal Selebritas, Caleg Seksi Tak Cukup Menuju Senayan!

Tiga minggu yang lalu, rakyat republik ini telah menggunakan salah satu hak politiknya dalam memilih anggota dewan/parlemen. Selanjutnya, mereka yang telah terpilih (baca: legislator),  diharapkan dapat mengemban amanah yang diinginkan rakyat, termasuk para legislator perempuan yang sudah sepatutnya memahami benar juga terjun langsung dalam penyelesaian isu-isu seksi yang kerap “menemani” perempuan, seperti yang pernah penulis utarakan di sini
Menyinggung caleg perempuan, dari penjual kopi hingga pengusaha dan selebritaspun terkesan nekat mengadu peruntungannya di Pileg 9 April lalu, walaupun mungkin, mereka  tak memiliki skill politik yang cukup mumpuni. Pada tulisan kali ini, penulis tak akan membahas tukang kopi maupun pengusaha. Penulis hanya akan mengangkat mereka para caleg dari ranah hiburan.

Fenomena selebritas perempuan pada Pileg 2014 adalah bukan merupakan suatu hal baru. Sebut saja Nurul Arifin (tak terpilih lagi di Pileg 2014), Rachel Maryam Sayyidina, dan Rieke Dyah Pitaloka yang terlebih dahulu berjaya di DPR-RI berkat Pileg 2009 yang lalu. “Lahan garapan” ini, tentunya menjadi tempat baru bagi selebritas lainnya. Berbagai latar belakang caleg dari pemain film horror  semi sensual, penyanyi dangdut hingga model majalah pria dewasa yang akrab disebut caleg seksi, bermain di ranah dewan ini. Lalu, muluskah mereka melenggang ke Senayan?

Bermodal Selebritas, Caleg Seksi Tak Cukup Menuju Senayan!

Yang pertama menjadi sorotan masyarakat, tentu saja seorang Angel Lelga. Tadinya, mungkin kita tak begitu peduli dengan pencalegannya, mengingat ia juga nihil prestasi di bidang hiburan. Namun, sejak janda dari Capres Rhoma Irama ini hadir di program Mata Najwa, cibiran dan komentar miring tersemat padanya, akibat jawaban ngawurnya ketika menghadapi “gempuran” pertanyaan Najwa Shihab yang terkenal mampu mematikan jawaban lawan bicaranya. Setelah itu, Angel Lelga yang diusung dari PPP ini mendapat pembelaan dari Sang Ketum yang tengah bermasalah itu (baca:SDA). Pembelaan SDA yang dapat penulis tangkap yaitu, jawabannya AL ngawur wajar saja, apalagi kan dia masih baru.

Saat itu, AL sangat yakin lolos ke Senayan bermodal visi dan misinya yang katanya pro lahan pertanian. Namun, berbeda 180 derajat dengan keyakinannya itu, ternyata Angel Lelga tak lolos ke Senayan. Diakui oleh Arif Sahudi, Ketua DPC PAN Surakarta, mantan istri Rhoma Irama tersebut gagal menjadi legislator karena masyarakat pemilih makin cerdas saat ini.
Sebentar, bagi penulis pribadi, pengakuan beliau tersebut adalah sebuah hal yang menggelikan. Bagaimana tidak? PPP sendiri yang mengusulkan (baca: Merekrut) AL guna menjadi caleg, padahal PPP sangat mengetahui kredibilitas AL yang belum tentu mengerti akan dunia politik. Tapi, PPP sendiri melalui Arif yang menjatuhkan image AL di hadapan publik, dengan alasan karena masyarakat pemilih makin cerdas saat ini.

Hemat penulis, seharusnya, sedari awal, AL tak dipersiapkan untuk pencalegan di 2014 ini. Akan lebih baik, jika AL dibina sehingga lebih matang di dunia perpolitikan untuk masa 2019 mendatang. Apalagi mengingat AL ini adalah muallaf dan PPP sendiri berbasis partai islam, AL lebih baik mendapatkan pendidikan agama islam terlebih dahulu.

Mengenai kegagalannya ini, ia mengatakan, “Kalau ditanyakan sekarang, masih terlalu prematur. Saya masih tunggu penetapan.” Seperti yang dikatakan di sini, ketetapan resmi perolehan suara dari KPU pusat, 9 Mei 2014 mendatang.

AL tentunya tak sendiri. Masih banyak caleg selebritas yang gagal menjadi legislator. Namun, yang kerap mendapat sorotan dan juga mengalami kegagalan seperti AL adalah kedua caleg dari PKPI besutan Mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, Destiara Talitha dan Camel Petir.

*

Destiara Talitha (Tata,25) yang juga sebelumnya berprofesi sebagai model majalah pria dewasa juga gagal mendapat kursi ke Senayan. Menurut penuturannya, ia mengaku pasrah dengan hasil tersebut. “Santai saja, enggak stres. Namanya juga persaingan, harus siap kalah. Ini pertama kalinya, anggap saja sebagai pengalaman dan pelajaran politik.”

Bagi Tata, pengalaman kali ini belum membuatnya kapok untuk mencoba peruntungan di ranah politik ini, walaupun dana dari kocek pribadinya hampir mencapai 50 juta demi kepentingan alat kampanye. ”Lima tahun lagi baru nyaleg lagi. Hehehehe,” pungkasnya. Ia juga mengatakan, untuk sekarang mau melanjutkan kuliah.

Hemat penulis, memang lebih bagus ia menyelesaikan pendidikannya terlebih dahulu supaya tak asal masuk ke Senayan. Walaupun kuliahnya tak berasal dari sosial politik, namun dari ranah hukum pun sangat diperlukan bagi memakmurkan negeri, apalagi pembela kaum perempuan. Jadi, mengingat si Tata ini masih terlalu hijau untuk berada di dunia politik, memang sepantasnya ia menambah wawasan seluas-luasnya. Belajar lagi bagaimana caranya mengatur jalannya negara, menindak pelaku kejahatan, melindungi kaum perempuan, dsb.

*

Lain Angel Lelga dan Tata, lain pula dengan Camel Petir. Walaupun menghabiskan dana keseluruhan hampir Rp 600 juta ditambah untuk pulang pergi Jakarta-HongKong (Dapil III DKI), Ia yang memutuskan bergabung dengan PKPI setelah merasakannyambung dengan Bang Yos (Sutiyoso), ternyata juga terancam tak lolos ke Senayan. Namun, ia tetap optimis. Menurutnya, suara untuknya juga ada.

Melalui wawancaranya di pada Metro TV, penulis perhatikan, mimik muka – tingkat keseriusan seorang Camel Petir cukup teruji. Ia yang merupakan lulusan dari sebuah Universitas di Medan ini, telihat mampu juga tanggap dalam menjawab pertanyaan sang presenter di acara Metro Malam, Minggu 26 Januari 2014 pada episode Kontroversi Caleg Seksi. Walaupun ia mengaku tak mengerti politik, namun, berbekal pendidikan dan pengalaman seorang Camelia Panduwinata Lubis dalam beberapa organisasi di kampusnya, menjadikannya dapat cepat mengerti akan permasalahan rakyat republik ini, terutama kaum perempuan. Camel juga mengatakan, jika memang benar ia tak terpilih jadi anggota dewan, ia tak akan kembali ke panggung hiburan. Ia lebih memilih menjadi politikus wanita.

Langkah Camel ini, sejujurnya sangat penulis apresiasi. Melihat kecakapan dan latar belakang pendidikannya, sangat disayangkan jika memang keputusan KPU Pusat mengatakan ia tak terpilih. Jika benar ia memilih menjadi politikus wanita yang memperhatikan rakyat dan tentunya tak korupsi, ini juga merupakan tugas mulia.

*

Mungkin, tadinya mereka menganggap modal terkenal dan sering masuk media karena selebritas, sudah menjamin mereka lulus ke Senayan. Tarnyata? Harapannya sia-sia. Bermodal selebritas maupun caleg seksi saja, tak cukup menuju Senayan. Jadi, bagi Angel Lelga, Tata, dan Camel Petir serta sejumlah selebritas/yang tak terpilih, maupun incumbent yang gagal menuju DPR-RI kembali, belajarlah lagi tentang kebutuhan-kebutuhan masyarakat.

Memberi kesejahteraan kepada seluruh rakyat Indonesia, khususnya bagi masyarakat dapilnya, memang adalah sebuah tugas yang sudah sepatutnya diemban oleh masing-masing wakil rakyat, hingga penulis sendiri merasakan, bila hal-hal semacam ini yang terus diangkat (baca: digembar-gemborkan) di setiap kampanye adalah sebuah hal klise. Masyarakat sudah jengah dengan info dan janji muluk sejenis. Mereka membutuhkan suatu inovasi yang beda serta terkhusus bagi penyelesaian suatu masalah. Apalagi untuk permasalahan perempuan yang cukup kompleks.

Di sinilah peran legislator perempuan yang telah mencapai 37% itu sangat dituntut kepintarannya dalam berkomunikasi politik. Bukannya malah berlomba-lomba berkampanye semenarik mungkin bak finalis ratu kecantikan yang berlenggak-lenggok di Cat Walk, Lho! Jangan buat malu perempuan lainnya jika melihat ketidak cakapan para caleg ini, apalagi legislator yang tersangkut kasus korupsi. Kalau memang tak memiliki bekal apa-apa, tak usahlah memasuki Senayan! [AZ]

Caleg Perempuan, Mutlak Paham Isu Perempuan!

Ilustrasi /Admin (kompas.com)
Ilustrasi caleg perempuan /kompasiana (kompas.com)
Perhelatan “pesta” demokrasi akan segera diselenggarakan di seluruh Indonesia. Di awali dengan pemilihan legislatif pada 9 April 2014 mendatang, tentunya ke-15 Partai Politik di Negeri ini (3 ParLok untuk Caleg di Aceh) telah mempersiapkan para kader terbaiknya, baik laki-laki atau perempuan, untuk berlaga di “medan perang” menjadi legislator. Mereka – para caleg – telah dibekali dengan pemahaman yang benar, minimal tentang apa yang harus mereka lakukan demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Dapil (Daerah Pemilihan) nya. Cukupkah itu saja?
Pada tulisan kali ini, penulis tak akan menyinggung kuoto caleg laki-laki yang berada di kisaran angka 70%. Namun, penulis lebih menitikberatkan akan fungsi Perempuan.Bagi para caleg laki-laki, diharapkan jangan takut bila perempuan juga ikut dalam pileg ini. Tugas perempuan bukannya ingin menggeser kedudukan lelaki. Mereka, perempuan hanya ingin berguna bagi bangsa dan negaranya.
Tugas Utama Caleg Perempuan
Sebagaimana yang dikatakan oleh Nurul Arifin pada acara Lawan Bicara 24 Februari 2014 yang lalu, dengan adanya  hasil godokan mereka (Ang. DPR 2009) di komisi II, maka untuk pemilu tahun 2014 ini, keterwakilan perempuan meningkat dari sebelumnya yang hanya 18% menjadi 30%.  Apalagi di 2014 ini, dari 744 calon legislatif di tingkat provinsi, 279 diantaranya perempuan atau 37,5 persen.
Hal ini membuka peluang bagi kaum perempuan yang sebelumnya kerap diremehkan, untuk lebih dapat mengaktualisasikan dirinya dalam hal berkontribusi bagi kepentingan negara.  Namun, janji-janji politik klise semisal meningkatkan kesejahteraan rakyat saja, dirasakan belum cukup. Mereka - terlebih caleg perempuan – mesti benar-benar memperhatikan dan paham isu perempuan yang cukup marak belakangan ini, semisal pelecehan seksual di angkutan umum.
Apakah hanya caleg perempuan yang berhak atas kasus seperti ini? Tentunya tidak. Tanpa terkecuali, semua caleg – yang kemudian menjadi legislator – wajib memperhatikan isu dan peristiwa semacam ini. Namun, prioritas utamanya adalah menjadi wilayah legislator perempuan.
Baik, mungkin ada yang menganggap hal ini sepele. Namun tidak begitu lebih tepatnya. Hal seperti ini, perlu dicegah agar tak bertambahnya korban dari kaum perempuan itu sendiri. Mengapa perempuan harus berada di garda terdepan?Jelas memang harus perempuan. Hal ini disebabkan oleh kepekaan yang luar biasa yang ada pada diri perempuan – terlebih untuk kaumnya – yang kerap mendapat ketidakadilan.
Banyaknya pelecehan di dunia maya, yang berawal chatting di facebook dan berakhir perkosaan. Nah, hal-hal spesifik seperti ini yang merupakan ranah – katakan – yang utama yang harus dimasuki para legislator perempuan, selain isu Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) maupun perkosaan dari seorang bapak – baik tiri maupun tidak – terhadap putrinya, yang juga masih kerap terjadi.
Baru-baru ini, ada Aisyah yang sebelumnya menjadi perawat bapaknya di atas becak. Juga kasus panti asuhan Samuel. Dan yang baru-baru ini terjadi, kasus penculikan bayi. Memang, menurut si penculik, perbuatannya hanya karena ia ingin punya anak, dan bayi Valencya pun telah kembali kepada orang tuanya. Namun, tak jarang juga, adanya kasus bayi yang diculik dan menjadi kasus Human Trafficking. Mundur ke belakang sedikit,  tentunya kita masih belum melupakan kasus perbudakan pabrik kuali di Tangerang.
Untuk kasus Human Trafficking sendiri, Indonesia menjadi surganya. Menurut International Organization for Migration, Indonesia menempati peringkat teratas perdagangan manusia di dunia, sebesar 3.943 orang.
Mengertikan Caleg Perempuan Tentang Isu Perempuan?
Memang,  Seharusnya pembekalan dari Partai Politik yang mengusung si caleg yang memang diharapkan telah dilakukan semaksimal mungkin, agar tak mempermalukan parpolnya sendiri jika si caleg perempuan – bila terpilih – menjadi legislator, tak cakap akan masalah perempuan. Pembekalannya kapan? Seharusnya sebelum diterjunkan langsung ke lapangan menjadi caleg. Apalagi para caleg yang tak memiliki basic pendidikan sosial dan politik, hal-hal yang berkenaan dengan sospol sendiri, tentunya selama ini luput dari perhatian mereka.
Jadi, tolonglah parpol YTH, adakanlah uji kompetensi caleg, supaya caleg ini belajar bagaimana dan apa fungsinya memiliki kuasa nanti. Jangan sampai ada kesan asal comot demi memenuhi kuota. Pada pemilu yang akan datang, ini mutlak dilakukan, agar mereka – caleg perempuan tak mempermalukan perempuan lainnya juga.
Seperti yang dikatakan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar, Misalnya berupa pemahaman tentang isu tumbuh kembang anak atau kesehatan bagi ibu dan anak. “Tantangan bagi mereka, bagaimana setelah terpilih, kalau tidak memenuhi janji saat kampanye, bersedia mundur.”
Isu-isu publik seputar perempuan sendiri yang harus – patut menjadi prioritas si caleg perempuan. Dikatakan oleh Fahira Idris, “Kewajiban kita, para caleg perempuan adalah paham isu-isu publik. Ini mutlak dikuasai. Tanpa paham isu-isu publik, pemilih tidak akan melirik apalagi memilih kita.”
Contoh-contoh yang telah penulis sebutkan tadi, menurut hemat penulis, tak boleh luput dari perhatian perempuan.  Di sinilah, peran para caleg –  legislator perempuan dituntut kontribusinya. Mereka harus terjun langsung menyelesaikankan persoalan tersebut. Tak perlu dengan berteriak lantang ke hadapan pemerintah dan juga tak perlu banyak bicara, melainkan langsung peka dan bekerja. Jangan sampai menang pileg lantas hanya berleha-leha dan bepergian ke luar negeri seenak hati tanpa mengetahui fungsinya terpilih menjadi legislator.
*
Memang benar, banyak tugas yang harus cakap dan sigap diemban oleh para caleg perempuan. Jangan sampai, jatah kuota 30% – bahkan 37% di Pemilihan Legislatif 2014 ini, dirasakan sia-sia oleh masyarakat yang telah memilihnya, apalagi jika sampai terlibat kasus Korupsi.
Bila selama 5 tahun mendatang, keterwakilan perempuan di pemerintahan ini berhasil dan sukses mengemban amanah serta menjadi pelayan masyarakat - khususnya perempuan dan anak - penulis optimis, jangankan 40%, kuota 50% di pemerintahan akan berada di tangan perempuan. Dengan demikian, akan jelas terasa pemerataan fungsi perempuan di parlemen Indonesia.
Untuk itu, caleg perempuan yang akan menjadi legislator di Indonesia nanti, diharapkan akan dapat mengangkat harkat dan martabat perempuan indonesia yang berada di kawasan timur ini, tentunya yang ramah, sopan, beretika, dan tahu menempatkan diri serta menjunjung tinggi norma agama. [AZ]

Harapanku Untuk Negeri Penuh Ironi Ini

Banyak kejutan dari para pelaku negeri yang kerap terbaca oleh mata telanjangku. Mereka, berlagak manis dan bertingkah bak seorang kacung bagi rajanya. Padahal, tak jarang mereka menguliti kami, yang awalnya merasa bangga karena dilayani oleh para petinggi. Namun, benarkah itu?
Mereka bermain cantik
Dari yang berdasi hingga berlipstik
Pergi ke luar negeri
Katanya demi ibu pertiwi
Sesungguhnya ini adalah penganan yang mau tak mau harus ditelan mentah oleh anak bangsa ini, terlebih mereka yang selama ini memang tak miliki perhatian khusus pada tanah airnya. Mereka yang hanya berteriak-teriak jika jatah uang makannya kurang. Selebihnya, apakah mereka peduli dengan bangsa ini?
*
Sebentar, jangan hukum aku oleh sebab ucapku yang terkesan kasar. Namun, ini juga akibat tekanan rumah tanggaku.
Jakarta, sebelum Mei 1998
Suamiku yang pengangguran, adalah satu dari sekian banyak karyawan dari kantornya yang di PHK. Sebelumnya, Mas Arya adalah seorang karyawan dengan gaji besar, yang berkantor di salah satu gedung pencakar langit di republik ini. Berkat kerja kerasnya yang hampir tak mengenal waktu demi mengumpulkan rupiah, keluarga kami terpaksa sering hidup terpisah. Bersama bocahku yang berumur setahun, aku tinggal di kampung halamanku sebagai nyonya dengan seorang pembantu dan supir.
Biarpun jarang bertemu suamiku, namun beras masih ada untuk makan kami sehari-hari. Hari-hariku juga kerap diisi dengan rutinitas yang membosankan. Bagai hidup di sangkar emas, segala rutinitasku dipantau oleh suamiku. Ah… walaupun tampak luar aku bahagia, didalamnya, sebongkah hati ingin meledak rasanya.
Ah… itu dulu. Seiring rupiah semakin melambung, demonstrasi mahasiswa yang sempat menimbulkan korban jiwa dan runtuhnya rezim yang telah 32 tahun berkuasa, kehidupan rumah tangga kamipun ikut terkena dampak. Awalnya memang hanya riak-riak kecil. Namun, lama-kelamaan, suamiku yang stres akibat di PHK, mulai ringan tangan kepadaku. Namun, demi keutuhan rumah tangga dan harapan kedua orangtua kami, aku hanya mengalah.
Semarang, September 2006
“Sudah… kejadian ini sudah lama dan memang harus dilupakan, Arini.” Bisikku dalam hati. Namun, aku tak kuasa menolak, ketika buliran airmata tiba-tiba membasahi pipiku saat bayang masa lalu setelah PHK itu terjadi. Kesakitan ini muncul saat tengah kuoperasikan komputer di hadapanku. Ya… setelah suamiku di PHK dan kehidupan kami kembali ke tanah di tahun 1998,  Mas Arya pun akhirnya menyusul sahabatnya dengan menjadi TKI di Arab. Awalnya, memang ia begitu intens mengirim kabar juga uang. Namun, kepulangannya di tahun 2001 adalah sebuah pukulan berat dalam hidupku. Dan setelah palu diketuk, resmi juga aku menjanda hingga saat ini.
Hari-hariku setelah perceraian itu sungguh begitu berat saat. Aku bingung, bagaimana caranya menafkahi si Jelita. Umurku yang saat itu masih 21 tahun, dirasakan belum matang karena tak ada pengalaman. Walau hanya berbekal ijazah diploma, demi menyambung hidup, semestinya aku masih dan harus bisa mencari pekerjaan. Akhirnya, pekerjaanpun kudapatkan hingga di tahun 2005, sebuah rumah mungil dapat kubeli.
*
Semarang, Maret 2014
Kini, aku telah menjadi pimpinan di sebuah Kantor cabang Bank di kotaku. Berkat sambungan internet, aku bisa menjelajah dunia, termasuk situasi politik dalam negeri.
Terpukau mungkin adalah suatu hal biasa bagi mereka yang terlanjur mencecap kelakuan para badut politik di negara yang kaya akan sumber daya alam ini. Namun tetap saja, petinggi negeri ini tak miliki kuasa atas negerinya hingga tak bisa melakukan apa-apa dan membiarkan satu persatu kebanggaan negeri dapat dikuasai oleh pemerintahan asing. Sungguh miris bila kita mau menatap negeri dan bila mereka mau memberikan kesempatan kepada kita agar menjadi penguasa di negeri sendiri.
Mereka yang katanya mengutamakan kepentingan rakyat, hampir semua mewarisi praktek KKN. Yang dekat dengan mereka saja yang diberikan pekerjaan. Sementara lainnya? Seperti mantan suamiku yang terakhir kudengar kabar telah menjalani hukum Qishas, Sepintar apapun dia, harus puas menjadi kuli di negeri orang. Bukankah kekayaan bangsa ini amat banyak? Namun, mengapa masih membiarkan rakyatnya mengadu nyawa di negeri orang? Hanya demi devisa hingga merelakan nyawa orang lain?
*
“Kau tak tahu apa-apa? Kau hanya seorang perempuan!” Katanya.
“Benarkah aku tak tahu apa-apa? Hanya karena seorang perempuan, maka aku tak boleh berbicara? Undang-Undang negara ini tak pernah melarang perempuan berbicara, bukan?”
Ah… aku bukan perempuan lugu yang bisa kalian bodoh-bodohi, kok. Aku tahu, ada jutaan clausal yang penuhi perut ibu pertiwi.
Dimulai dari ketika mereka tak pedulikan hukum negara demi mengais rupiah, hukum Tuhanpun seakan hanya menjadi saksi. Sungguh kejam perlakuan mereka pada ibu pertiwi, hingga hukumpun mampu dikelabui. Ini adalah pertanda, bahwa moral bangsa ini bobrok oleh mereka yang katanya paling mengerti rakyatnya. Lalu katanya, rakyat ini yang salah?
Katakanlah rakyat ini bersalah. Namun, mengapa rakyat berontak? Sebab kalian, wahai petinggi negeri.
“Apa salah kami? Kami ini pahlawan dan menjadi pelayan rakyat.” Ujar mereka.
*
“Apa? Benarkah mereka adalah sosok superman bagi rakyatnya?” kataku sembari tersenyum sinis, masih di depan komputer di mejaku.
Hm… I don’t think so. Mereka tak lebih dari pengeruk kuburan massal bagi dirinya sendiri tatkala mengangap perlakuan bodohnya, legal demi hukum. Sebab mereka beralasan, semua yang mereka lakukan demi masyarakat yang mereka cintai, dan demi memperbaiki infrastruktur negeri ini hingga pelesiran ke luar negeripun tak ayal mereka lakukan.
“Ah… Masa iya sih demi rakyat? Kok tak berdampak apa-apa ya?” masih sinisku tatap komputer. Entah demi apa yang mereka lakukan. Yang pasti, tetap saja banyak masyarakat berada dalam garis kemiskinan.
Seharusnya mereka tak hanya menggunakan logikanya saja, namun juga memadukannya dengan etika agar mereka dapat menjadi wakil rakyat yang berguna untuk negeri. Jika mereka memakai keduanya, maka mereka akan tebal muka bila setiap hari harus masuk ke layar kaca, entah dengan bangga mempertontonkan keberhasilannya atau hal positif apapun yang mereka lakukan di kursi dewan yang empuk itu, sementara masih banyak generasi penerus yang harus menyebrangi sungai atau berjalan berpuluh-puluh kilometer hanya untuk mendapatkan pendidikan.
Seharusnya mereka yang terbiasa menggunakan urat syarafnya ketika sidang isbat itu berpikir, bahwa mereka masih belum berhasil mensejahterakan rakyat republik yang berdaulat ini, bila masih saja membiarkan pengrusakan atas nama agama dan kepercayaan masyarakat yang berbhinneka ini masih kerap terjadi.
*
Semarang, April 2014
Beberapa hari lagi, anak bangsa ini dituntut untuk memberikan hak suaranya untuk memilih mereka calon penguasa yang telah memberikan janji-janji manis untuk lebih membangun negeri. Menuju Indonesia Hebat-lah, menuju Restorasi Indonesia-lah dan janji lainnya yang menggugah rasa anak negeri untuk kembali mempercayai mereka.
Namun, bukan janji-janji semacam ini yang kami butuhkan. Kami hanya butuh makan di negeri sendiri hingga tak perlu mengais rupiah dan menjadi korban dari mafia Diyat yang selanjutnya.
Kami juga butuh adanya jaminan dan hak untuk menjalani agama dan kepercayaan kami masing-masing, tanpa ada campur tangan negara yang mendukung satu pihak yang merasa paling benar untuk mendiskreditkan kami. Kami ingin bertuhan dengan tenang sesuai dengan keyakinan kami. Ini adalah hak yang tak boleh diganggu gugat oleh siapapun.
Kami juga lelah dengan semua yang serba mahal. Kasihan teman-teman yang susah payah berteriak di luar sana, rela berpanas-panasan demi perut mereka. Dan yang paling penting, biarkan anak bangsa ini mengelola sendiri kekayaan bangsanya, agar terciptanya kemakmuran. Semoga calon pemimpin nanti, dapat bekerja tanpa pamrih demi rakyatnya. Dan semoga, para wakil rakyat nanti, tak menyia-nyiakan kepercayaan dari rakyat dan tak hanya sekedar beretorika sesaat. By the way, kalau sudah jadi, Jangan tidur saat sidang,ya!
*
“Mama… kok belum pulang dari kantor?” Mati lampu nih di rumah, Ma”. Sebuah chat masuk ke ponselku dari Jelita.
Ah… iya, ini sudah malam. Sehabis jam kantor, memang dari tadi aku hanya berkutat dengan komputer ini hingga tak menyadari sudah hampir pukul 9 malam. Huff… Lelah. Baiknya aku segera pulang dan menemani putri semata wayangku di rumah. “Iya, Nak. Mama segera pulang sekarang.”
-Selesai-

[Review] Natu Savon Kose Cosmeport, Refresh Your Day with Apple & Jasmine

Hai Beauties. Kembali lagi ke blog saya yang kali ini masih akan membahas skin care. Namun, sedikit berbeda dari biasanya. Kalau...