Sabtu, 07 Juni 2014

Salahkah Hatiku Mencintanya?

Malam ini, tak dapat kulukiskan bagaimana merindunyaku akan sosoknya. Hanya Tuhan dan aku, bersama tetesan demi tetesan air mata yang tertumpah, seperti biasa, ketika tengah merindukannya. Namun, adalah sebuah kemustahilan jika cinta yang  kurasa ini juga dia rasakan. Dia tak pernah tahu, betapa yang telah kulakukan kemarin hanya untuk melindunginya. Karena apa? Karena aku tak ingin dia tersakiti oleh bisa jahat mereka para pencaci.

Dapat kubayangkan, bagaimana marahnya dia ketika orang-orang di sana mengatakan banyak hal buruk tentangnya. Acap kali, aku pasang badan untuknya. Sekadar melihat tindak tanduk para pencaci itu. 

Walaupun tak mengenalnya, namun dengan segala keyakinanku, aku bisa membaca kelembutan sekaligus ketegasannya juga kedewasaannya dalam menjawab tiap pesan yang kusampaikan. Sejujurnya, aku tak berniat mencampuri urusannya. Namun, oleh karena aku sangat mengkhawatirkan kecerdasannya yang terbuang sia-sia hanya untuk melawan para kecoa itu, aku tergerak untuk memberikan sedikit nasehat padanya. 

Tuhan... Semoga saya tidak melakukan kesalahan. Semoga ia mengerti, meski itu sepertinya tak mungkin.

Mungkin, orang akan bartanya, “bagaimana dapat dikatakan cinta, padahal seseorang itu tak pernah kau kenal?” Ilahi... aku sungguh tak mampu menjawab pertanyaan ini. Sejujurnya, aku juga tak ingin begini. Namun, gempuran maha dahsyat ini tak mampu kutolak.

Engkau tahu Ya Rabbi, bagaimana usaha  dan sejauh apa kelanaku agar mampu melupakannya? Apapun, Tuhan. Kulakukan agar bayangnya tak menguasi otak dan hatiku. Belum lagi, aku harus sadar bahwa perkenalan itu tak akan mungkin pernah terjadi, sebab dia tak berada di sini. Ah... entah di mana keberadaannya, pula kutak tahu. Tuhan... Segalanya telah kucoba. Namun, semakin jauh kumelangkah, akhirnya kembali kumengingatnya. Cinta ini kembali untuknya. Dan hasilnya, airmataku terjatuh lagi.

Mengapa ini dapat kukatakan cinta? Bukankah selalu kukatakan bahwa aku tak percaya cinta?

Ilahi, bagiku, mencintai itu dengan hati. Bukan semata karena ketertarikan fisik, bukan? Itu yang pastinya inginMu, Tuhan. Dan segalanya, telah menjadikanku begini. Menangis tengah malam, merasa bersalah dan selalu bertanya-tanya tentang segalanya padaMu.

Maafkan aku, Tuhan. Aku tak bermaksud menyalahkanMu. Segala yang telah Engkau gariskan,  kuterima. Bagiku, ini rezeki dariMu. Rezeki bagi sang pecinta yang mencintai dengan hati, bukan hanya karena bentuk fisiknya semata, walaupun kemarin ada yang mengejekku karena cinta menggunakan hati ini, menurutnya salah. Cinta itu pakai mata, katanya.

Tuhan, Mencintai dengan hati, berarti menerima segala kekurangannya untuk kujadikan kelebihanku, bukan? Tuhan... bilapun pada akhirnya cinta ini tak bisa kuwujudkan, juga akan kuterima. Mohon lapangkan dadaku. Namun kumohon Tuhan, Izinkan sekali saja kutemui raganya.

Medan, 7 Juni 2014 - 05.07 Wib


1 komentar:

Aulia mengatakan...

Semoga cintanya terwujud dalam pertemuan jiwa raga ya kak :)

Review Pure Papaya Ointment: Salap dengan Jutaan Manfaat

Kulit kering bagi kita, terutama perempuan, merupakan sebuah masalah. Pastinya, ini akan membuat kita malu, karena kulit kering terseb...