Jumat, 13 Juni 2014

Silahkan Caci Aceh Sesukamu!

1402600191338620363
Rencong Aceh dan Lambang Bintang Bulan (pribadi)
***
“Apakah belum cukup Tsunami yang menghancurkan daerah mereka? Apakah harus ada Tsunami kedua terjadi di sana supaya pemimpinnya itu sadar kalau daerahnya itu miskin?”
“Dhuaarr!!!” Amarahku seketika sampai diubun-ubun ketika membaca komentar demikian di salah satu Group Facebook. Aku sakit, tak sanggup menahannya sendiri. Lalu, kuminta bunda untuk membacanya. Bundaku terkejut, dan hanya bisa bersedih.
Aku bingung, mengapa bisa sampai ada kalimat bak samurai itu? Memangnya, musibah apapun adalah suatu hal yang wajar diminta oleh hamba kepada Tuhannya? Aku tahu, kampung halamanku termasuk provinsi miskin di Indonesia. Namun, kalau si tukang komentar itu bisa memaksimalkan penggunaan otaknya, pasti tak akan menuliskan hal sedemikian perih.
Komentar tak sedap itu, memaksaku untuk menangis saat itu juga. Padahal, aku tak ingin mengingatnya lagi. Saat beberapa saudaraku, juga karib sekolahku menghilang di sapu Tsunami. 26 Desember 2004, musibah besar meluluhlantakkan sebagian kampung halamanku. Juga mengingatkanku, bagaimana aku menahan sakitku sendiri saat itu, membawa serta bundaku.
Aku tahu, Tuhan sedang menguji kami dan bangsa ini untuk saling bahu-membahu, demi membantu sesama. Apakah kita sadar, bahwa Tsunami itu bukan milik kampungku pribadi? Apakah kita mengerti, itu adalah beban berat untuk bangsa ini? Itu, si pemilik komentar samurai, apa yang bisa dia lakukan selain mengutuki kampungku? Terluka sekali hatiku, perih.
Tentang pemerintahnya juga tak ketinggalan disebutkan. Duh… Mengapa orang lain ikut campur ya? Dilihat dari info di profile facebooknya, dia bukan siapa-siapa. Hanya awam sepertiku, kau, dan kalian semua.
Mungkin juga ada yang berkata demikian untukku. Aku bukan orang bodoh. Hanya karena aku perempuan, jangan langsung memberikan stempel lugu kepadaku. Semisal, “tahu apa kau tentang korupsi yang ada di daerahmu? Namanya Serambi Mekkah, tapi korupsi juga.” Cibiran demikian, cukup banyak juga sering mampir ke telingaku.
Kami tahu, pemerintah daerah setempat telah bersalah sebab telah menelantarkan masyarakatnya. Kami juga berontak, lho! Hanya saja, kami tak menggunakan cacian di facebook. Kami, langsung mengunjungi dinas terkait. Jadi, bila masih ada pahlawan kesiangan yang ingin menuntut, silahkan ke pemangku jabatan di daerah itu. Tak perlu berlagak bak Spiderman sang penyelamat. Si pengomentar, hanya berdalih dengan, “kasihan provinsinya miskin.” Namun sembari meminta kejadian sepuluh tahun lalu itu terulang lagi. Sudahkah kita berpikir?
Sebagai manusia biasa, seharusnya kita sadar dan saling mendo’akan. Bukan malah mengutuki kampung halamanku. Sekaligus, kita juga berkaca sembari mengingat, “ Bagaimana jika musibah itu berbalik di daerahku, atau bahkan di rumahku saja, atau saat ini juga Tuhan mencabut nyawaku?” Coba dibanting-banting logikanya, biar tahu mengukur batas diri kita sendiri.
*
Belum lagi yang memandang sebelah mata tentang berita-berita seputar Aceh, yang tersaji di media massa, yang terkadang sengaja judulnya dibuat Bombastis, padahal tak sesuai dengan isi beritanya hanya demi menaikkan oplah dan rating media tersebut.
Aku tahu, media tersebut telah berbuat kesalahan. Namun, sebagai pembaca yang tinggal terima bersih, jangan hanya mau disuap. Seperti bayi saja kelakuannya. Sungguh mengenaskan, sekaligus membuat saya berpikir keras penyebabnya.
“Eh… saya sudah besar. Sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk.” Pasti ada yang berucap demikian. “Hahahaha,” Izinkan saya tertawa melihat orang yang merasa pintar itu. Bagamana tidak, seorang politisi juga sutradara handal negeri ini, bisa dijebak oleh judul sebuah media. Konon lagi masyarakat awan yang memang buta akan situasi di sana. Kata-kata apa lagi yang pantas saya sematkan, ha?
Aku hanya dapat mengatakan, betapa kecewanya aku dengan penilaian kalian. Jangan malas! Katanya, manusia modern, manusia pintar, tapi nyatanya? Ah… sudahlah. Tak sanggup saya menuliskannya, mengingat, masyarakat biasa kekinian, berlagak seperti polisi. Polisi moral, tepatnya.
*
Yang tak pernah dilupakan rakyat republik ini tentang kampung halamanku, adalah ganja. Ganja digunakan dalam berbagai masakan, asalkan takarannya tepat, tak akan membuat ketergantungan, apalagi membahayakan nyawa. Lalu, dengan angkuh dan sok tahunya, mungkin ada yang pernah mengatakan bahwa keracunan akibat memakan makanan yang dicampur ganja. “Hello… bila makananannya dalam kemasan, sudah dicek tanggal kadaluarsanya?” Atau bila makanan basah, seperti biasanya, sudah tak enak lagi bahkan sudah basi bila dibiarkan, apalagi semalaman. Lalu, masih menyalahkan ganja? Matanya dibuka lebar-lebar, lihat tekstur makanannya, masih layak konsumsi tidak?
Bilapun suatu makanan dibubuhi ganja, si pembuat sudah mengerti takarannya. Jadi, bila ada yang mengatakan makanan berganja dan menyebabkan keracunan, apalagi pakai mengatakan, hampir mati, itu adalah mustahil dan pembohongan publik. Ganja yang digunakan sesuai prosedur dalam makanan, tidak akan menyebabkan kematian. Yang berakibat fatal adalah pengguna aktif dari lintingan ganja itu sendiri, yang mengkonsumsinya bak permen saja.
*
Negeri sejuta warung kopi, demikian biasa disebut. Ya, aku juga tak mampu menyangkal akan hal ini. Lagipula, bagaimana dapat kunafikan surga dunia ini, bila menyesap harumnya, serta meneguknya perlahan, adalah kenikmatan terindah dalam bagian hidupku.
Kopi adalah minuman mutlak bagi kami, masyarakat Aceh. Biasanya, kami meneguknya di warung kopi. Begitu juga yang saya lakukan, ketika saya tengah berada di kampung halaman saya. Tiada hari tanpa ke warung kopi. Di sana, saya bertemu dengan banyak teman. Dari teman ke teman, dan itu menambah relasi.
Ah iya… Seingat saya, beberapa waktu yang lalu, ada yang dengan mengandalkan logika jongkoknya berkata, “perempuan di warung kopi itu sedang menjajakan diri.”
“Astaghfirullahal ‘adhim. Demi Tuhan, aku sendiri tak pernah melihat perempuan seperti yang dimaksud, konon lagi diriku sendiri. Aku mengunjungi tempat tersebut, hanya untuk bertemu teman-teman, juga memakai fasilitas Hot Spot Internet. Ya… tahu sendirilah, modem ini walau tidak termasuk barang langka, tapi pulsanya ini mahal juga. Belum lagi, terkadang signalnya yang parah. Makanya, kami di sana suka menggunakan Wifi.
Hahahhaha… pasti semua tertipu dengan jargon free wifi, ya? Siapa bilang Free? Masuk ke warung kopi saja, kita mutlak harus minum. Minimal, kopi hitam, kebiasaanku.
Oiya, Aku sedikit bingung dengan sebutan warung kopi. Padahal, tempatnya itu layaknya cafe yang biasanya diisi oleh orang kaya.
*
Apalagi yang dapat orang banyak deskripsikan tentang kampung halamanku? Silahkan saja dikeluarkan semua yang mengganjal. Aku juga harus maklum dengan pendapat orang-orang yang tak pernah melakukan observasi, tapi sudah berani mencibir kampungku.
Ah, iya… Demikianlah memang adanya opini dari publik. Rasanya, aku ingin berteriak sekencang-kencangnya, menjelaskan secara detail juga terstruktur, bila ada orang yang tak tahu apa-apa, mengungkit, sembari mengolok-olok juga dengan berlagak pongah seperti ingin mencabut syariat islam di kampung halamanku.
Bila ada yang belum puas dengan ceritaku, kuundang ke Aceh. Akan kusuguhkan ke hadapan kalian, kopi aceh yang menjadi kebanggaan kami. Tak lupa dengan kue Timphan serta penganan dan masakan khas Aceh lainnya.
Setelah kalian berbincang-bincang dengan penduduk sekitar, maka, kalian akan mendapati keramah tamahan mereka. Sungguh berbeda dengan pikiran kotor kalian yang selalu mengidentikkan Aceh dengan kekerasan.
Kalian yang gemar mencaci daerah kami, dijamin akan menyesal atau bahkan segera melaksanakan shalat taubat di Mesjid Raya Baiturrahman yang terdapat di jantung kota Banda Aceh. Bagi kaum kristiani, Aceh juga memiliki Gereja, juga Wihara bagi Umat Buddha. Masyarakat keturunan hindia yang beragama hindu juga ada di sana.
Kalian juga akan disuguhkan pemandangan Lautan lepas Samudera Hindia di Sabang, pantai barat dan selatan Aceh. Lalu, silahkan berkunjung ke Aceh Tengah, nikmatilah Danau Laut Tawar serta kesejukan kotanya. Hanya di situ saja? Tentunya tidak. Masih banyak kekayaan alam kampung halaman kami yang dapat kita semua nikmati.
Akhir kata, Selamat Datang di Kampung Halamanku, Provinsi Aceh. Nikmati dan rasakanlah pesonanya.
***

Tidak ada komentar:

Peran Industri Kreatif Anak Muda Indonesia di Era Milenial

Sungguh beruntung, Kota Medan mendapat kesempatan dalam rangkaian sosialisasi 4 Tahun pemerintahan Kabinet Kerja yang diselenggarakan ol...