Selasa, 08 Juli 2014

Selamat Ulang Tahun, Sahabat

Kau menari-nari dalam imagiku. Ketika ia semakin liar, tanpa mampu kuenyahkan, ia semakin menjadi-jadi. Ia memaksaku untuk mengatakan sesuatu yang, “ah... ini salah,” pikirku cepat saat itu. Namun entah disebabkan oleh kebutuhan, tanpa sengaja, kuizinkan segalanya rusak.

Ada kau yang seharusnya menjadi salah seorang sahabat lelakiku, seperti mereka. Namun, liarnya hasrat, seketika menghancurkan segalanya. Kita saling diam, bertegur sapa seperlunya, dan ini menyiksaku, walau memang hanya beberapa saat.

Beberapa saat yang hingga kini masih kusesali, mengapa harus kunyatakan kebutuhanku padamu. Padahal, aku tahu, kita tak pernah saling mengenal sebelumnya. Baiklah, aku sudah merelakannya. Kusadari, saat itu adalah kealpaanku. Kesalahan yang patut menjadi cambuk buatku agar tak sembarangan meletakkan hatiku. Nah, untuk kesalahan yang bodoh itu, aku ingin memohon maaf.

*

Hatiku yang nyatanya masih merindukan sesosok bayang yang tanpa pernah kutahui wujudnya. Hanya lewat interaksi intens kami saat kita belum seakrab kemarin. Komunikasi kami, kurasakan tingkat kenyamanan yang memang selama ini kucari. Bukankah pernah kukatakan padamu, aku membutuhkan kenyamanan.

Kenyamanan darinya yang hilang, kutemukan pada sosokmu. Namun, ternyata lagi-lagi aku salah menempatkan hati. Kalian sama saja, sama-sama menoreh luka yang cukup dalam di hatiku, hingga membuatku melupakan bahwa kebutuhan akan cinta adalah mutlak dalam hidup setiap Hamba-Nya, setidaknya hingga saat ini.

*
Saat ini, aku tak bisa mencintai lagi. Bukan, bukan disebabkan orientasi seksualku yang telah berubah. Percayalah, aku masih seutuhnya perempuan. Aku masih membutuhkan kaummu. Namun, tengah kupagari hatiku agar rasa sakitnya tak meninggalkan bekas mendalam lagi. Aku sudah terlalu jera bahkan jengah dengan munafiknya kaummu. Semuanya sudah kulupakan, dan aku memasrahkan diriku seutuhnya pada-Nya. Segala rencana-Nya, adalah rahasia-Nya. Kau dan dia, mungkin hanya bagian dari hidupku yang telah kupasrahkan.

Terima kasih karena kau tak pernah berubah padaku. Terima kasih masih peduli padaku, walaupun mungkin hanya sepintas lalu. Namun, yang membuatku tersenyum sendiri adalah kau masih mengetahui kesukaan dan hobiku menulis, bahkan ketertarikanku akan situasi dan kondisi perpolitikan negeri ini. Terima kasih masih sedikit mengikuti gerakku, hahaha... Maaf, mungkin aku saja yang ke-Gr-an.

*

Last but not least, izinkan kuucapkan selamat ulang tahun untukmu, Sahabat. Ucapannya segala yang terbaik, semoga tercurah dari-Nya untukmu. Sama, seperti ucapan biasa yang pernah kau dengar, entah dari keluarga, teman, atau bahkan kekasihmu. Ya, kekasihmu. Mana dia? Apa kabar dia? Semoga kalian baik-baik saja.

“Apa, kau katakan aku tak romantis karena tak mendo’akanmu?” Aku tak bisa mengungkapkan sisi romantisku sembarangan. Kan sudah kukatakan sedari awal, dan kurasa, sudah kau ketahui. Aku hanya orang luar yang kebetulan mengenalmu dan ingin berbuat baik padamu.

Yang pasti, aku tak ingin kauberubah padaku. Tetap manis dan sopan seperti biasanya. Bila  kau sukses, tetap pergunakan ilmu padi. Kau tahu ilmu padi, bukan?


Untuk seorang sahabat, penyuka Sheila On7



Tidak ada komentar:

Peran Industri Kreatif Anak Muda Indonesia di Era Milenial

Sungguh beruntung, Kota Medan mendapat kesempatan dalam rangkaian sosialisasi 4 Tahun pemerintahan Kabinet Kerja yang diselenggarakan ol...