Kamis, 08 Juni 2017

Merawat Indonesia dengan Toleransi

Menuliskan tentang Toleransi dan Kerukunan, cukup banyak yang ingin saya bagikan. Kenyataannya, memang semua sudah saya lewat, dari dulu hingga kini.  Ada baiknya, sedikit saya tuliskan, pengalaman saya bertoleransi dengan teman saya yang pertama, Frengky Harmito namanya, seorang laki-laki warga keturunan Tionghoa dan beragama Buddha, yang menghabiskan waktunya sebelum Tsunami tahun 2004 di Banda Aceh.Ya, saya mengalami musibah Tsunami.

Sebagai negara yang didominasi muslim, Indonesia tentu saja wajib memberikan pemahaman nilai-nilai agama islam, apalagi Aceh yang terkenal dengan julukan Serambi Mekkah.Saat itu saya bersekolah di sebuah SMA Negeri di Banda Aceh.




www.kompasiana.com

Saat pelajaran agama Islam, Frengky memang keluar dari kelas. Namun guru saya tak pernah menjelekkan agama Buddha yang dianutnya, sehingga hubungan kami di sekolah tetap baik. Di sekolah  saat itu, Frengky tak sendiri. Di kelas lain, ada William dan Nesia yang juga warga keturunan TIonghoa. Apa kami bermain dengan mereka? Apa kami ngobrol laiknya teman dengan mereka? Ya semua kami lakukan. Kami hanya anak-anak yang mencintai persahabatan. 

Kalau di Banda Aceh sedikit yang berbeda dengan saya, di Medan cukup banyak. Saat kelas dua SMA, ketika pelajaran agama, kelasnya dipisah, Islam dan Kristen. Guru agama islam saya juga tidak pernah menjelek-jelekkan agama lain. Beliau mengajak muridnya untuk bertenggang rasa, begitupun sebaliknya. Malah teman-teman saya semasa SMA yang kristen, sangat menghormati saya. 

Kebetulan saat itu saya adalah anak baru, saya belum tahu jalan di Kota Medan. Jadinya saya mengikuti mereka ke manapun mereka pergi. Saat ingin makan siang sepulang sekolah, karena saya sendiri yang muslim, teman-teman yang kristen tadi, ikut makan di warung nasi padang bersama saya, padahal tak jauh ada yang jual Mie Pangsit Babi.

Hal demikian juga terjadi saat saya kuliah. Saat mereka ingin makan Mie Pangsit Babi saat sedang bersama saya, saya yang mengerti. Saya berjalan-jalan sendiri sembari menunggu. Atau saya makan di warung lain. Begitu saja. Damai dan tak ada perbedaan yang menjadikan kami bermusuhan. 

Saat itu, kami tak menyangka, perbedaan agama sangat mudah digoreng sehingga kini semakin berkembang jadi isu nasional. Kami tahunya bermain, jalan, makan bersama, tapi saling menghormati. 

Menjawab tantangan diri saya sendiri, suatu hari bersama seorang adik yang juga memakai jilbab, kami masuk ke pekarangan sebuah kui hindul. Penjaganya bingung pada awalnya. Setelah saya jelaskan maksud kedatangan saya hanya untuk melihat-lihat, saya malah dipersilakan masuk ke dalam. Begitu juga saat saya masuk ke Vihara. Sama, tak ada masalah. Dipersilakan mengambil beberapa foto juga. 

Berhubung saya ini orangnya penasaran, ketika saya bekerja, demi menjawab penasaran diri saya, beberapa kali saya masuk ke gereja Katolik dan Kristen Protestan baik saat Paskah, Natal, dan Tahun Baru. Saya sendiri di lokasi tersebut yang memakai jilbab. Saya dengarkan khotbah para Pastor-Pendeta. Namun tetap, tak saya temukan penghinaan terhadap agama yang saya anut. 

Pernah suatu kali, berhubung saya ingin mewawancarai Bapa Uskup, dari awal hingga akhir misa pertama saya ikuti. Dari sekira pukul 18.00 Wib saya di Gereja. Saya bertemu beberapa jemaat dan juga tersenyum kepada mereka. Begitupun sebaliknya. Mungkin bagi orang lain adalah hal biasa. Namun bagi saya, ini akan menjadi cambuk bagi saya agar mendidik anak cucu saya untuk menghargai sesama. 

Mereka yang Natal, dengan penuh suka cita, mereka menyalami saya. Mungkin kalau tidak ramai orang, saya akan menangis terharu. Setelah Bapa Uskup selesai membawakan misa pertama, saya mewawancarainya tentang pesan damai Natal.  Banyak yang beliau sampaikan. Namun yang paling membekas dalam ingatan saya yaitu, “Sampaikan kepada khalayak ya Putriku, kita semua bersaudara. Jangan mau diadudomba. Kita semua harus kuat agar kita tak gampang dipecah belah. Kita boleh berbeda dalam beribadah, tapi sesama manusia, kita wajib bertoleransi. Sampai detik ini, saya sangat menghormati Almarhum Gusdur. Tak lupa para alim ulama yang masih hidup seperti Gusmus, Bapak Quraisy Shihab, para Nahdliyin dan kaum Muhammadiyah. Saya juga tak percaya ISIS itu membela islam. Saya percaya bahwa islam maupun agama lainnya, mengajarkan kasih. Kalau tidak, kamu tak mungkin di hadapan saya, mewawancarai saya. Saya percaya, kamu ke sini bukan hanya tugasmu sebagai wartawati, tapi memang tulus ingin bersahabat dengan saya dan jemaat dari agama lain.” 

Karena Bapa Uskup sendiri, kali ini saya nangis saja. Saya benar-benar terharu. “Terima Kasih Bapa sudah percaya.” “Pasti putriku. Saya percaya islam agama yang damai. Apa istilahnya itu?” tanyanya. “Rahmatan lil ‘alamin,” senyum saya.  Sama halnya juga yang disampaikan oleh Bang Pendeta (saya memanggil beliau begitu) dari GKI. Cengeng sih saya kalau hal-hal beginian. 

Lain lagi ketika menjelang waisak. Oleh seorang penjaga salah satu vihara, saya disarankan mengunjungi Vihara Buddha Tamil yang didominasi warga buddha keturunan India. Sesampai di sana, kebetulan pemuka agamanya sedang tidak ada. Saya ngobrol saja dengan pengurus. Ketika saya minta diajak berkeliling, sampai pintu vihara, saya minta masuk. 

“Wah, Mbak yakin mau masuk Vihara?” tanyanya.

“Yakin dong. Ayo pak, saya mau masuk. Mau lihat-lihat. Kalau boleh ambil foto,” kata saya

 Entah dia bingung atau mau ngetest saya, dia bilang, “Mbak pakai jilbab lho. Gak takut?” 

Mantap saya jawab, “Pak, masuk ke rumah ibadah agama lain selain islam, bukan masalah bagi diri saya pribadi. Kuil, gereja, vihara lain sudah saya masuki. Toh saya Cuma ingin tahu apa yang ada di dalamnya. Iman saya ya tetap islam.”

Dia senyum, dan mempersilakan saya masuk. “Wah, baru kali ini saya ketemu orang yang berani seperti Mbak. Saya doakan, semoga mbak tetap jadi muslim yang menghargai sesama.” Kalau itu sih do’anya, sudah pasti. Maunya kan dido’ain semoga nemu jodoh pas jalan pulang. Pasti langsung saya aminkan. 

***

Dominasi tema toleransi, tengah hangat diperbincangkan belakangan ini. Namun bukanlah suatu hal yang baru. Sejak sekolah dasar, kita sudah dicekoki pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Artinya saya dan kita semua, sudah paham apa itu toleransi dan kerukunan. Tinggal mengaplikasikannya saja dalam merawat Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila. Negara menjamin hak-hak berkehidupan anak bangsa dalam hal beragama. Jadi, mengapa harus ragu bertoleransi demi kerukunan antar anak bangsa? Biarkan mereka dengan agamanya, demikian pula kita menjalani saja agama kita. Saya sangat bersyukur dan bangga dikelilingi oleh orang-orang baik walaupun berbeda agama dengan saya. (auda)

Tidak ada komentar:

Peran Industri Kreatif Anak Muda Indonesia di Era Milenial

Sungguh beruntung, Kota Medan mendapat kesempatan dalam rangkaian sosialisasi 4 Tahun pemerintahan Kabinet Kerja yang diselenggarakan ol...