Rabu, 27 Februari 2019

Dapatkan Hasil Make Up Terbaik dengan Skin Care Routine


ilustrasi dari https://s3-ap-southeast-1.amazonaws.com

Menggunakan riasan (make up) di era kekinian bagi para perempuan, bukanlah sesuatu yang aneh lagi. Make – up sangat penting untuk menunjang penampilan, minimal memakai bedak dan lipstik. Tentu saja, kedua barang tersebut, akan memberikan efek positif kepada lawan bicara.

Seperti yang sudah sering kita lihat pada berbagai blog, vlog dan akun youtube dalam dan luar negeri, berbagai perlengkapan untuk ber-make up, sudah banyak digunakan oleh para remaja puteri, maupun perempuan dewasa lainnya. Riasan (make up) yang mereka gunakan tampak sangat bagus dan menarik (flawless), seakan-akan, wajah mereka sangat mulus, tanpa jerawat, tanpa komedo, masalah kulit lainnya, maupun ketidaksempurnaan pada wajahnya.

Namun tahukah kita jika para beauty blogger, vlogger dan youtuber ini, laiknya perempuan lainnya, mereka memiliki berbagai permasalahan kulit? Tentu saja ini karena tak ada manusia yang sempurna, kan? Jangankan kita yang awam, mereka yang sudah ahli (expert) dalam bertata rias saja, pasti memiliki masalah, apalagi bagi yang sering terkena paparan sinar matahari langsung.

Demi mencegah dampak buruk tersebut, jangankan mereka, kita juga haris  rajin menggunakan perawatan kulit (skin care) khususnya wajah. Mengapa demikian? Berikut alasannya:

1.   Make up untuk menutup, bukan merawat kulit

    Demi mendapatkan kulit wajah yang mulus, banyak perempuan yang masih salah kaprah dengan penggunaan make up. Mereka membubuhkan make up terlalu banyak ke wajahnya. Padahal, make up yang terdiri dari primer, foundation, maupun bedak, hanya dapat menutupi kekurangan pada wajah, yang bersifat sementara. Maka dari itu, kita butuh berbagai tahapan penggunaan skin care, demi mendapatkan kulit wajah yang sehat secara permanen.

2. Karena pemilihan dan penggunaan (skin care) wajah yang baik dan cocok, akan menyelesaikan berbagai masalah yang dialami kulit.

Seperti obat yang kita konsumsi jika sedang sakit, dengan produk perawatan kulit (skin care) wajah yang sesuai dengan kebutuhan kulit, masalah kulit akan terselesaikan. Kita dapat memperbaiki keadaan kulit. Maka dari itu, sebelum kita membeli secara online, kita harus benar-benar banyak membaca review dari para blogger, menonton vlogger dan youtuber, yang sudah mencobanya terlebih dahulu. Selain itu, jika kita ingin langsung membelinya ke toko kecantikan atau  drugstore, kita bisa bertanya tentang produk yang ingin kita beli, kepada Konsultan Kecantikan (BA – Beauty Consultant) produk tersebut. Jika masih ragu, berkonsultasilah dengan dokter kulit dan ahli kecantikan lainnya. Intinya, jangan malas membaca dan bertanya.

Setelah kita mendapat saran yang terbaik, pastikan kita membeli produk yang aman, sudah terdapat Nomor dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dan Halal, serta ramah lingkungan.

1.    Skin care yang tepat, bantu kita berhemat

Dengan membeli perawatan (skin care) wajah yang tepat dan sesuai jenis kulit wajah kita, kita dapat melakukan aksi penghematan dalam hal membeli make up. Kita dapat mengalihkan penggunaan uang kita untuk membeli skin care, mau pun melakukan perawat di salon. Kalau kita lebih suka melakukan perawatan kulit di salon, kita harus memilih salon yang berpengalaman dengan tenaga ahli yang berkompeten.

2.    Lakukan perawatan wajah secara rutin

Jika tak ingin ke salon, kita dapat melakukan perawatan wajah ini sendiri secara rutin. Inilah tahapan yang masih malas dilakukan para perempuan. Padahal, skincare routine ini, sangat penting. Skincare routine ini terdiri dari dua tahapan, yaitu untuk penggunaan pagi dan malam hari.

Untuk di pagi hari, setelah bangun tidur, kita dapat membersihkan wajah dengan Micellar Water yang dilanjutkan dengan air dan sabun wajah (facial foam/facial wash) yang sesuai dengan jenis kulit. Setelah itu, gunakan toner sebagai penyegar dan pembuka jalan bagi produk perawatan kulit lainnya.

Setelah beberapa saat, gunakan serum yang dapat mengenyalkan wajah. Tunggu sampai meresap, lalu lanjutkan dengan moisturizer dan krim siang yang dapat melembabkan wajah. Setelah diangin-anginkan, jangan lupa gunakan tabir surya (sunscreen) yang dapat melindungi wajah dari pengaruh buruk paparan sinar matahari. Jika ingin dilanjutkan dengan menggunakan make – up, sudah boleh dilakukan. Skin care di sini, selain melindungi kulit wajah, juga dapat membantu berbagai produk make – up menempel dengan baik dan lebih lama.

Setelah beraktivitas di luar rumah, sesampainya di rumah, segera bersihkan make up dengan susu pembersih (cleansing milk) dan micellar water, yang dilanjutkan dengan Facial foam/facial wash tadi. Langkah ini dapat menjadi lebih sempurna jika dua atau tiga kali seminggu, dilakukan proses scrubbing guna mengangkat sel-sel kulit mati yang menumpuk.
Jika tahapan tersebut sudah dilakukan, gunakan kembali toner, serum, moisturizer, kirm mata dan krim malam, demi menjaga elastisitas kulit wajah. Yang tak kalah penting, tentu saja, kita harus mengeksfoliasi kulit wajah dengan scrub khusus dan membubuhkan masker yang wajib kita gunakan 2-3 kali seminggu.

3.    Air Putih dan (bila perlu) Suplemen Kesehatan Kulit

Jika sudah melakukan skincare routine, jangan lupakan air putih yang wajib kita konsumsi minimal 8 gelas per hari. Bila diperlukan, misalnya kulit kita terlalu kering, kita bisa meminum suplemen kesehatan kulit yang bisa didapatkan di apotik. Jangan lupa, konsultasikan terlebih dahulu ke ahlinya.

*

Setelah kita merawat kulit dengan baik, produk tata rias (make up) yang kita gunakan, barulah akan memberikan ketahanan yang maksimal. Selain itu, riasan akan terlihat gowing seperti para beauty vlogger dan youtuber yang sering kita tonton.

Ada yang sudah pernah mencobanya? Atau punya tips skin care rutin lainnya? Yuk saling berbagi. 

Salam,



Email: zaschkya25@gmail.com

[Review] Fanbo Ultra Satin Lips, Lipstik Murah dengan Finish Mewah


Hi Beautiful.

Kembali lagi di blog saya yang membahas segala macam produk perawatan kulit dan kecantikan (skin care and make up). Kali ini, saya mau membahas tentang item terpenting bagi kita para perempuan yang tidak boleh tinggal dalam keseharian kita. Apa itu? Tentu saja lipstik. Lipstik yang mau saya bahas kali ini adalah Fanbo Ultra Satin Lip.

Terima kasih buat Fanbo Cosmetics dan Beautiesquad yang telah mengirimi saya, semua warna (shade) lipstik terbaru Fanbo ini. Beberapa hari yang lalu, memang sudah sedikit saya review di instagram. Namun rasanya, kurang lengkap kalau tak dibahas panjang lebar.

So here is my honest review after i used these couple of weeks.

Kemasan



Fanbo Ultra Satin Lip ini, dikemas dalam tempat (tabung) yang bisa diputar, berwarna silver.  Kemasan (tutupnya) berwarna dasar putih dengan ada beberapa garis abstrak warna pink muda. Mungkin ini sebagai hiasan supaya kemasan tutupnya tidak tampak kosong. Tanpa kotak, badan kemasan lipstik hanya dibungkus plastik transparan yang agak keras. Pada plastik inilah terdapat keterangan mengenai ingredients, produksi serta barcode-nya.

Fanbo Ultra Satin Lips
Netto 4 gr
Manufactured by:
PT. Fabindo Sejahtera
Kp Waru – Ds Pasir Jaya
Cikupa Tangerang
Indonesia
www.fanbo.co.id

Pada puncaknya, hanya berwarna putih tanpa hiasan apa-apa. Namun di bagian bawahnya, terdapat warna (shade) lipstiknya, berikut nomor shade, kode produksi dan tanggal kadaluarsa. Buat yang tidak suka sesuatu yang berlebihan dan ribet seperti saya, tampilan seperti ini, malah lebih bagus. Buat yang feminim, juga akan suka karena tampak girly. Yang pasti, kemasannya sederhana sekali, namun jelas tampak shade yang akan kita pilih. Dan yang pasti, dengan ukuran 4 gram laiknya lipstik pada umumnnya, cukup ringan untuk dibawa bepergian.

Tekstur, Aroma, Hasil



Tampak sekilas ketika dibuka, teksturnya padat namun agak basah. Tapi tetap tegak seperti lipstik pada umumnya. Ini menandakan bahwa hasil akhir dari lipstik ini seperti namanya yaitu Satin. Ketika dibuka maupun dipakai, harap berhati-hati akan patah, karena sangking lembutnya ketika sudah kena bibir, kita (barangkali saya saja), yang keenakan mengulasnya. Tentang aroma, saya tak mencium aroma yang aneh-aneh dan menyengat dari ke delapan lipstik ini. Yang ada hanyalah wangi permen karet.

Cara Pakai dan Hasil

Tentu saja seperti memakai lipstik pada umumnya, cukup diulaskan dengan merata sesuai ukuran bibir. Mau diombre atau full lips, apalagi over, tetap tak jadi masalah. Kenapa? Karena pigmentasinya ini benar-benar bagus. Sekali oles, warna-warnanya yang agak heavy, langsung menutup pinggir bibir. Kalau yang soft, memang kurang sih.

Kalau saya sendiri lebih suka full warnanya dan menutup segala sudut bibir, mau double atau triple, yang pasti full. Biar tampilan bibir tampak lebih tebal. Saya tak suka bikin ombre lips ala Korea untuk sendiri. Lebih prefer ke style Amerika atau India kalau saya yang pakai lipstik.

Ketahanan dan Pigmentasi




Ke delapan lipstik ini, shadenya cukup mampu diajak ke segala suasana dan dengan warna pakaian apa saja. Demikian pula dengan ketahanannya yang mumpuni dengan hasil akhir yang satin finish tadi. Bibir tampak mengkilat (bukan glossy), sehat dan segar karena efek satinnya itu.

Kalau tanpa makan dan minum, bisa tahan beberapa jam lipstiknya, efek satinnya tetap bertahan itu yang sangat saya sukai. Yang pasti, tak membuat bibir kering dan lipstinya juga tak mengelupas. Tapi kalau setelah dipakai minum, tentu saja akan menempel di gelas, khususnya untuk warna-warna terangnya. Dipakai makan, apalagi makanannya berminyak, si warna terang tadi, langsung bubar, hilang tak berbekas. Sedikit berbeda, warna-warnanya yang agak lebih berani seperti Prom Queen, Nerd, Adventurous, dan Possesive, setelah dipakai makan, masih bersisa di pinggiran bibir.



Diantara ke delapan warnanya, saya sangat menyukai Si Possesive 07 karena terkesan merah gelap keunguan which is warna yang saya sukai. Dan memang seperti yang saya ungkapkan di atas, walaupun lipstiknya transfer ke gelas dan hilang saat dibawa makan berminyak, tapi hilangnya gak langsung hilang tanpa jejak.

Harga?

Untuk ukuran lipstik dalam negeri, lipstik ini sangat terjangkau yaitu sekira Rp 40.000 - Rp 41.300 per batang. Saran saya sih, kalau mau beli, beli warna yang kalem dan agak berani. Kenapa? Biar terasa keunggulannya masing-masing.


Jadi kesimpulan saya untuk Fanbo Ultra Satin Lips ini adalah:

1.    Buatan lokal asli Indonesia
2.    Kemasan yang tidak berisik (sederhana)
3.    Terdiri dari warna-warna segar dan cantik
4.    Travel friendly
5.    Harga yang terjangkau.
6.    Satin Finish, non transferproof
7.    Mudah di re-apply
8. Tak menjadikan bibir kering.

Nah itu dia yang dapat saya sampaikan mengenai pengalaman saya menggunakan Fanbo Ultra Satin Lips ini. Buat yang sudah pakai atau belum pernah coba, sukanya shade yang mana?

Salam,

Email: zaschkya25@gmail.com

Senin, 18 Februari 2019

[Ibu dan Anak] Bunda, Setop Berikan Gadget Pada Anak

gambar dari http://keluarga-terkini.blogspot.com

Semakin hari, zaman semakin canggih. Berikut penggunaan gadget, khususnya  telepon selular (ponsel) pintar, terus meningkat. Tak hanya menjangkiti orang dewasa, para anak dibawah 14 tahun termasuk  balita, sudah lancar menggunakan gadget canggih tersebut. Rasanya, sudah semakin sulit kebiasaan bermain gadget itu berpisah dari anak kita.

Pada anak di bawah 14 tahun misalnya. Mereka sering membawa telepon selular (ponsel) pintar  yang harganya jutaan rupiah itu. Mereka juga cenderung memiliki keinginan pamer dengan teman-temannya. Di saat itu misalnya, ada orang yang tak dikenal, lalu menjadikan sang anak sebagai incaran untuk dia melakukan tindakan kriminal (perampokan) misalnya, tentu ini berbahaya. Faktor keamanan ini menjadi alasan utama kita harus berpikir dua kali untuk memberikan barang mewah kepada sanga anak.

Alasan selanjutnya yaitu, para remaja ini tentu menggunakan ponsel, khusus untuk bermedia sosial. Di usia ini, para anak begitu menikmati ponsel pintar karena lebih ringkas untuk mengakses media sosial, seperti instagram dan facebook. Kedua media sosial ini menjadi yang tersering digunakan mereka, untuk saling berinteraksi, termasuk dengan orang baru. Dengan orang baru misalnya, kalau perkenalannya biasa saja, tak menjadi masalah. Namun yang membahayakan, bila bertemu dengan orang baru dengan maksud dan isi percakapan (chat) yang tak baik, tentu saja ini bahaya. Tentu kita pernah membaca atau menonton di berbagai media, terkait kasus pemerkosaan bahkan pembunuhan terhadap remaja, yang  berawal dari media sosial.

Selain para remaja, para balita juga tak boleh dibiasakan dengan diberi telepon selular (ponsel) pintar, lho Bun. Pada usia segini, seharusnya kita memantau tumbuh kembangnya dengan teliti dan lebih sering mengajaknya bermain.

Sebagai contoh misalnya, seorang teman yang telah memiliki anak dan kini usianya masih balita, sering memberikan ponselnya kepada anaknya. Ini dilakukan agar anaknya tak menangis. DI ponsel tersebut, si anak bermain game yang diinstal oleh si anak sendiri tanpa sepengetahuan ibunya. Si ibu malah dengan bangga menceritakan bahwa anaknya sudah pintar teknologi di usia dini.

Terus terang, saya miris mendengar pengakuan si ibu. Betapa tidak. Beberapa kali saya menegurnya untuk tak memberikan ponsel kepada anaknya, namun masih diberikan. Kembali dikatakannya, alasan dia memberikan ponsel tersebut karena kasihan, takut si anak menangis, ingin selalu menuruti permintaan si anak atau tak bisa keras dengan si anak.

Saya rasa, hal-hal seperti itu bukanlah cara untuk memanjakan si kecil dengan bijak. Cara tersebut malah akan menjadi boomerang untuk kita sendiri. Mengapa?

1.    Anak semakin susah diatur dan lupa waktu

Tak salah, Bunda. Dengan memberikan ponsel pintar, si kecil jadi semakin susah diatur. Dia menjadi sibuk dengan dunianya sendiri. Misalnya dengan bermain game, si kecil jadi tak bisa diajak makan, maupun mandi. Malah ada kecenderungan malas.

2.    Anak Menjadi Keras Kepala

Jika kita terus menuruti keinginannya, si kecil jadi semakin keras kepala. Apa yang dia minta, tak boleh menunggu apalagi tidak, semua harus kita turuti. Tentu ini boomerang untuk kita. Sungguh, kita akan kebingungan sendiri dengan si kecil yang semakin keras kepala.

Selain yang saya sebutkan di atas yang memang sering dihadapi orang tua, menurut seorang Dokter Anak asal Amerika, Cris Rowan, seperti dikutip astaga.com mengatakan, perlu adanya larangan untuk penggunaan gadget pada usia anak yang terlalu dini (dibawah 12 tahun). Mengapa?

1.    Kekurangan Perhatian dan Menurunnya konsentrasi

Si Kecil pada usia 0-2 tahun ini, pertumbuhan otaknya memasuki masa yang tercepat dalam berkembang hingga usia 21 tahun. Lingkungan memberikan efek yang banyak untuk memaksimalkan pertumbuhan otaknya, termasuk ponsel pintar tadi. Cuma, si gadget tadi mengambil peran yang memang seharusnya dia dapatkan dari lingkungan sekitar. Ini akan berdampak pada kurangnya perhatian, gangguan kognitif, kesulitan belajar, impulsif, dan kurangnya kemampuan mengendalikan diri.

2.    Perkembangan Tubuh yang Ikut Terhambat dan Obesitas

Normalnya, seseorang yang menggunakan ponsel pintar tadi, dalam keadaan duduk. Padahal, anak dengan masa pertumbuhan, harus lebih aktif bergerak. Tentu dapat dibayangkan, bagaimana dengan kecakapannya yang menurun karena dia tak aktif. Misalnya, kesulitan berbicara dan bergerak. Selain itu, tak hanya orang dewasa, obesitas juga mendekati seorang anak dengan intensitas penggunaan ponsel pintar yang tinggi.

3.    Gangguan Tidur

Bukan rahasia, penggunaa ponsel pintar bagi orang dewasa saja, sudah mengurangi intensitas tidur, apalagi pada anak-anak. Pada sebuah studi ditemukan, 75% penggunaan ponsel pintar yang berusia 9-10 tahun, mengalami gangguan tidur yang memiliki dampak yang cukup besar terhadap prestasi belajarnya.

4.    Gangguan Mental

Ini merupakan dampak buruk dari penggunaan gadget, khususnya ponsel pintar, Lho Bunda. Si kecil yang terus menerus bermain ponsel, lama kelamaan akan meningkatkan kecemasan pada dirinya, yang diikuti dengan depresi dan gangguan perilaku hingga gangguan bipolar. Waspada ya, Bun.

5.    Agresif

Sudah menjadi rahasia umum bahwa media sosial yang diakses dengan mudah lewat ponsel pintar, terdapat banyak tayangan kekerasan. Bila si kecil melihat tayangan ini terus, dikhawatirkan, dia akan menjadi sosok yang agresif.

6.    Adiksi (kecanduan)

Jika sudah terbiasa, biasanya kita akan semakin menyukai hal tersebut dan akan sulit untuk melepaskan kebiasaan tersebut, bukan? Nah, demikian juga yang akan terjadi bagi si kecil yang sudah kecanduan dengan gadget. Ini dia yang saya maksudkan di atas, bahwa kebiasaan ini pula yang akan menjadi boomerang bagi para orang tua yang terbiasa menuruti keinginan anaknya.

7.    Radiasi

Jangankan pada orang dewasa, si kecil juga mendapati larangan menggunakan ponsel terlalu lama. Ini disebabkan, World Health Organization (WHO) / Badan Kesehatan Dunia, mengkategorikan ponsel tersebut dalam resiko 2B karena radiasi yang dikeluarkannya. Radiasi ini lebih sensitif kepada anak-anak karena otak dan sistem imun (kekebalan tubuh) mereka, masih berkembang.

8.    Tak efektif mendidik

Usia si kecil memerlukan asupan edukasi yang bermanfaat. Namun, dengan kebiasaannya tersebut, edukasi ini tak akan bertahan lama diingatannya. Makanya, penggunaan gadget ini tak bisa untuk mendidik si kecil.

Memberikan gadget (ponsel pintar) kepada si kecil atau anak di bawah 14 tahun, belum bermanfaat. Karena toh, dengan ponsel pintar itu, mereka hanya bermain-main. Padahal, usia mereka adalah usia emas bagi tumbuh kembang otaknya, berikut kepribadiannya yang harus kita arahkan sesuai norma yang berlaku dalam tatanan hidup bermasyarakat. So, bagi Bunda yang masih memberikan ponsel pintarnya kepada buah hatinya, dapat mempertimbangkan kerugian yang lebih banyak ini ya, Bun.

Tulisan ini pernah diposting di sini. Semoga masih bisa dibuka.

Salam.

Fb: Auda Zaschkya
Ig: @perempuankopi
Twitter: @perempuankopi
email: zaschkya25@gmail.com

JNE Masih dicari Konsumen karena Pengalamannya

  
gambar milik pribadi
Di zaman yang serba canggih ini, sudah sangat banyak e-commerce di Indonesia seperti Lazada, Shopee, Buka Lapak, Tokopedia, dll. Tak ketinggalan, orang - orang yang berbisnis online di Instagram dan facebook, seperti usaha kerajinan tangan dan makanan, juga tak lagi terhitung banyak jumlahnya. Tingginya minat masyarakat dalam berbisnis online seperti ini, tentu saja berbanding lurus dengan produk ekspedisi jasa pengiriman barang di Indonesia yang bermunculan, sebut saja J & T Ekspres, SiCepat, Ninja Express, Wahana Ekspres, Indah Logistic, bahkan Gojek dan Grab yang walaupun tergolong masih sangat baru, tapi sudah mampu mencuri hati konsumen.  

Tentu saja, dari banyaknya jasa ekspedisi tersebut, menjadi perbandingan dan pertimbangan tersendiri bagi konsumen (bisnis online dan e-commerce), yang akan menggunakan jasa ekspedisi, agar bisnis onlinenya terus dipercaya oleh para pelanggan. Hal-hal yang diperhatikan biasanya meliputi tarif harga, lamanya masa pengiriman, maupun jaminan kehilangan barang.

Ekspedisi ini biasanya, dapat mengirimkan barang ke dalam kota (Gojek dan Grab), luar kota, maupun luar negeri. Dengan kata lain dapat dikatakan, bisnis online merupakan salah satu lahan basah bagi bisnis ekspedisi tersebut. Lahan basah tersebut, tak ketinggalan, juga turut dinikmati oleh ekspedisi lama saperti PT. Pos Indonesia dan PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE). Semua ekspedisi tersebut, kini semakin semangat berbenah dalam memberikan pelayanan pengiriman barang, menyusul semakin bermunculannya jasa ekspedisi baru, seperti JNE misalnya.

Profil PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE)

PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) sendiri, usianya kini akan bertambah menjadi 28 tahun pada 26 November 2018 mendatang. Sejak didirikan oleh H. Soeprapto Suparno, awalnya JNE merupakan salah satu divisi dari PT. Citra van Titipan Kilat (TiKi). Divisi ini tugasnya adalah untuk mengurus jaringan kurir internasional yang kegiatan usahanya terpusat pada penanganan kegiatan kepabeanan / impor kiriman barang / dokumen serta pengantarannya dari luar negeri ke Indonesia.

Selama itu pula, didukung dengan persaingan pasar domestik yang sangat menjanjikan, JNE juga memperluas jaringan pasar domestiknya. Ternyata, JNE memiliki keuntungan dari jalur ini dan kemudian memperluas pelayanannya dengan logistik dan distribusi. TiKi dan JNE yang masih bersama, ternyata memiliki jalur masing-masing dan menjadi saingan bisnis. Akhirnya JNE menjadi perusahaan dengan manajemen dan logonya sendiri, yang tentunya berbeda dengan TiKi.

JNE Dukung Pebisnis Lokal Kembangkan Bisnis Online

Semakin bertambahnya tahun, PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE), juga semakin besar dan pesat perkembangannya. JNE memiliki keunggulan tersendiri yang terdiri dari sistem pemasaran dan distribusi yang cukup baik. Faktor itulah yang menjadikan JNE masih bertahan dan dicari konsumen di usianya yang sukup matang ini, sehingga tidak sulit bagi JNE untuk tetap berdiri di era kecanggihan (bisnis online) seperti sekarang.

Dalam Kopiwriting bersama Kompasiana dan JNE di Medan beberapa waktu lalu, Kepala Cabang JNE Medan, Fikri Al Haq mengatakan, sebagai perusahaan distribusi dan logistik yang sudah bertahan selam 28 tahun dan usahanya yang sudah tersebar di berbagai kecamatan di seluruh Indonesia, JNE mendukung pebisnis lokal (Usaha Kecil Menengah – UKM), untuk mengembangkan usahanya hingga ke luar daerah.

Dia mengatakan, masyarakat harus memiliki bisnis sendiri yang cukup dapat bersaing dan dipromosikan lewat media sosial dan JNE selalu siap mengirimkan pesanan tersebut. JNE katanya, ingin melihat barang dari daerah yang dikirim ke pusat (Jakarta), karena katanya, selama kurun waktu hingga Sepetember 2018, lebih banyak barang dari pusat yang masuk ke daerah-daerah, tak hanya di Medan dan Sumatera Utara, tapi juga seluruh Indonesia.

Dia menyebutkan hal tersebut, karena melihat dari sisi kapabilitas JNE sebagai perusahaan pengiriman ekspres dan logistik, yang mana JNE berupaya untuk terus mewujudkan dukungan terhadap UKM, serta program JNE Loyalty Card (JLC), yang dapat memberikan peluang untuk mendapatkan benefit (keuntungan) bagi pelanggan dari tiap aktifitas pengiriman. Fikri menyebutkan, setiap daerah di Indonesia, tentu memiliki oleh-oleh khas. Untuk itu, JNE juga menyediakan Pesona untuk produsen makanan khas tiap daerah, dan lain sebagainya.

Pesona merupakan layanan pengiriman makanan kuliner khas Indonesia tanpa harus pergi ke daerah asalnya. Untuk mengetahui tentang Pesona,  pelanggan dapat membuka website http://pesonanusantara.co.id/ tersebut.

Pelayanan yang dilakukan JNE, sudah cukup banyak manfaatnya dirasakan konsumen. 

JNE masih dipercaya konsumen Indonesia karena:

1.    Cabangnya tersebar di seluruh Indonesia, termasuk di berbagai kecamatan.

2.    Costumer Service yang cepat dan tanggap dalam menangani masalah pengiriman barang konsumen.

3.    Bisa mengirimkan dokumen dan berbagai surat berharga lainnya.

4.    Mempunyai sistem tracking yang baik. Jadi konsumen dapat dengan mudah melacak keberadaan dan proses pengiriman barang kiriman.

5.    Mempunyai layanan yang bisa disesuaikan dengan budget (uang) yang dimiliki konsumen.

6.    Memiliki garansi uang kembali, jika ditemukan kiriman barang yang melampaui batas pengiriman yang ditentukan (khusus paket tertentu).

7.    Websitenya di www.jne.co.id dan applikasi my JNE di playstore smartphone android, dapat dengan mudah diakses.

Namun disamping kemudahan yang dimiliki oleh JNE tersebut, terdapat beberapa hal yang kadang masih menyulitkan konsumen. Hal tersebut yaitu:

1.    Pengiriman yang terlambat. Jadi maksudnya, waktu pengiriman barang, berbeda dengan yang telah diperkirakan sedari awal.

2.    Selain itu, pelanggan juga kerap kesulitan melacak nomor resi pengiriman barang.

Pada setiap layanan ekspedisi, tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangannya tersendiri. Namun, bagi Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) yang sudah berpengalaman dan dipercaya masyarakat Indonesia selama 28 tahun, sebaiknya, memaksimalkan kekurangan yang kerap dikeluhkan konsumen tersebut. Hal itu sangat penting dilakukan, mengingat, pertumbuhan jasa ekspedisi semakin cepat dan tentu saja, JNE sebagai layanan publik yang masih bernafas, tak mau kehilangan pelanggannya, bukan?

Selasa, 12 Februari 2019

[Ibu dan Anak] Bunda, Jangan Upload Foto Wajah Si Kecil ke Media Sosial

gambar dari prokal.co


Sejak zaman semakin canggih dengan era pengguna internet, masing-masing orang tua, khususnya para ibu muda, semakin larut sebagai pengguna aktif dari media sosial. Kalau sebelumnya hanya mengandalkan komputer rumah atau laptop, seiring dengan perkembangan zaman, hampir 5 tahun belakangan tepatnya, para ibu muda ini,  mulai menggunakan telepon selular (ponsel) pintar. Semakin bertambahnya tahun, ponsel pintar, fiturnya semakin canggih. Dari siang hingga malam (kecuali para ibu yang berjualan secara online maupun para blogger dan vlogger yang aktifitasnya 70% berkutat dengan media sosial), biasanya para ibu muda, pasti terus bersosial media, baik dari Facebook, Twitter, dan Instagram. Barangkali, para ibu ini berpendapat, sehari tak eksis di media sosial, hidup rasanya tak lengkap.

Apakah ada yang salah? Tentu saja tidak ada. Bermain media sosial ini memang berguna bagi para ibu. Manfaatnya sudah pasti untuk melepaskan penat sehari-hari, menuliskan pemikiran-pemikirannya yang bagus. Selain memang berguna untuk mengaktualisasikan diri, yang ditunjukkan oleh para ibu di media sosial itu, mencakup segala hal mulai dari foto masakan, foto keluarga, termasuk foto dan video wajah serta tingkah lucu si kecil, secara jelas.

Untuk yang saya sebutkan terakhir di mana para ibu acap kali menunjukkan wajah si kecil, alangkah baiknya, dihindari. Ini semata – mata hanya untuk keselamatan si kecil. Tentu kita sudah mengetahui, media sosial ini adalah sarangnya para predator. Jangankan pelecehan yang dilakukan kepada para remaja atau bahkan orang dewasa, anak kecil juga menjadi incaran. Mereka yang mengincar anak  kecil ini, biasanya kita kenal sebagai pedofilia.

Menurut wikipedia bahasa Indonesia, sebagai diagnosa medis, pedofilia didefinisakan sebagai gangguan kejiwaan pada orang dewasa atau remaja yang telah mulai dewasa (pribadi dengan usia 18 tahun atau lebih tua) biasanya ditandai dengan suatu kepentingan seksual primer atau ekslusif pada anak prapuber (umumnya usia 16 tahun atau lebih muda, walaupun pubertas dapat bervariasi). Sejurus dengan itu, Klarifikasi Penyakit Internasional mendefiniskan pedofilia sebagai gangguan kepribadian dewasa dan perilaku, di mana ada pilihan seksual untuk anak-anak pada usia pubertas atau pada masa prapubertas awal.

Jadi jelas sekali ya Bunda, para pedofil tersebut mengincar anak-anak. Makanya kita mesti benar-benar waspada terhadap konten yang menyangkut wajah anak kita yang kita bagikan ke media sosial.

Sebagai orang tua yang ingin selalu eksis di media sosial, jika kita masih tetap ingin menunjukkan anak, boleh saja. Namun hendaknya memikirkan keselamatan sang anak. Sebagai gantinya, yang dapat kita lakukan yaitu :

1.    Jika si kecil sedang bermain, foto dan video yang kita ambil, fokuskan ke mainan dan permainannya. Misalnya, jika si kecil sedang bermain boneka, kita bisa ambil gambar sebagian tangan si kecil dan bonekanya. Jadi kita tak memunculkan wajah si kecil.

2.    Jika si kecil sedang menggambar, foto dan video yang seharusnya kita fokuskan yaitu hanya ke gambarnya saja. Ini saja dapat menunjukkan juga kepada pemirsa facebook, twitter dan instagram, bahwasanya, anak kita sangat kreatif sesuai usianya.

3.    Bila kita masih tetap ingin mengenalkan wajah sang anak ke khalayak media sosial, yang tak kalah penting yang harus benar-benar perhatikan yaitu pakaian yang akan dikenakan sang anak. Maksudnya yang pantas ditunjukkan ke khalayak ramai, tidak terlalu terbuka. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, pedofil memiliki kelainan seksual. Bagian tubuh si kecil yang terbuka, jadi incaran mereka. Jadi mereka akan gampang terangsang oleh bagian tubuh si kecil yang terbuka. Waspada, Ya Bunda.

Bunda, jika tetap ingin eksis di media sosial, tentu boleh saja. Namun kita wajib waspada terhadap efek negatif media sosial terhadap si kecil. Waspada, Ya Bun. Predator anak semakin merajalela.


Artikel ini pernah tayang di sini. Semoga masih bisa terbuka websitenya.

[Review] Vaseline Super Food Skin Serum, bukan Hand & Body Lotion Biasa

Memiliki kulit wajah dan tubuh yang terawat dan sehat, tentu impian kita. Selain itu, anugerah Tuhan yang ada di diri kita, sepatunya mema...