Ketika Buku Tak Lagi Menjadi Prioritas Negara
6/recent/ticker-posts

Ketika Buku Tak Lagi Menjadi Prioritas Negara

https://www.gramedia.com/blog/manfaat-besar-membaca-buku-bagi-anak-anak-penerus-bangsa/
*

Dari sejak kita SD, ungkapan "Buku adalah jendela dunia", terus dikumandangkan oleh guru-guru kita. Ungkapan itu bukanlah ungkapan/simbol biasa, melainkan untuk menunjukkan betapa pentingnya literasi dalam membangun peradaban manusia. Dengan kerap membaca buku, seseorang dapat mengenal sejarah, memahami ilmu pengetahuan, mengembangkan imajinasi, hingga membangun kemampuan berpikir kritis, agar tak mudah percaya akan berita bohong yang beredar, apalagi di era internet sekarang. Namun, bagi banyak anak Indonesia, terutama mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu dan tinggal di daerah dengan akses pendidikan yang terbatas, jendela (buku) itu, masih kurang malah berpotensi semakin menyempit.

Pada akhir Juli 2026, pagu anggaran Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR RI, Perpusnas menyampaikan bahwa keterbatasan anggaran tersebut berpotensi memengaruhi sejumlah program strategis, mulai dari pembinaan perpustakaan, penguatan budaya baca, hingga bantuan penyediaan 1.000 buku untuk Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang tidak dapat dilaksanakan sesuai rencana.

Kebijakan anggaran tentu merupakan hak pemerintah dan DPR sebagai bagian dari proses penyusunan APBN. Setiap tahun, berbagai sektor harus bersaing memperoleh alokasi dana yang terbatas. Namun, ketika anggaran untuk penguatan literasi ikut menyusut, publik wajar bertanya: sejauh mana pembangunan sumber daya manusia masih menempatkan literasi sebagai prioritas?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan mengingat Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam bidang literasi. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang diselenggarakan OECD menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata OECD dan menempati peringkat ke-63 dari 81 negara/ekonomi peserta. Data tersebut bukan sekadar angka, melainkan pengingat bahwa pekerjaan rumah di bidang pendidikan masih sangat besar.

Picture by Chat GPT 


Perpustakaan sering kali dipersepsikan hanya sebagai bangunan yang dipenuhi rak-rak buku. Padahal, perannya jauh lebih luas. Sangat disayangkan jika anggarannya dikurangi. Perpustakaan merupakan ruang belajar yang terbuka bagi semua kalangan tanpa memandang kondisi ekonomi. Di sanalah anak-anak dapat menemukan bacaan di luar buku pelajaran, mahasiswa memperoleh referensi ilmiah, guru memperkaya materi pembelajaran, dan masyarakat mengakses informasi yang dapat meningkatkan kualitas hidup mereka. Bukankah cita-cita kita menuju Indonesia emas?

Bagi masyarakat perkotaan dengan kondisi ekonomi yang relatif baik, berkurangnya layanan perpustakaan mungkin tidak terlalu terasa. Buku dapat dibeli secara langsung, perpustakaan digital semakin berkembang, dan internet menyediakan berbagai sumber belajar. Namun, situasinya berbeda bagi banyak keluarga di pedesaan maupun daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).  Perpustakaan sering kali menjadi satu-satunya tempat memperoleh bahan bacaan secara gratis. Ketika program literasi mengalami keterbatasan akibat pengurangan anggaran, kelompok inilah yang paling berpotensi merasakan dampaknya.

Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi adalah kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, menganalisis persoalan, serta mengambil keputusan berdasarkan fakta. Di tengah derasnya arus informasi dan maraknya penyebaran hoaks di era digital, kemampuan tersebut menjadi semakin penting. Masyarakat yang memiliki tingkat literasi baik cenderung lebih mampu memilah informasi, menghargai perbedaan pendapat, serta berpartisipasi secara lebih cerdas dalam kehidupan sosial dan demokrasi.

Perpustakaan Nasional sendiri terus mendorong peningkatan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) sebagai indikator pembangunan literasi nasional. Hal ini menunjukkan bahwa budaya membaca di Indonesia masih memerlukan penguatan yang berkelanjutan melalui dukungan kebijakan, program, dan anggaran yang memadai.

Tidak ada yang memungkiri bahwa negara memiliki banyak kebutuhan yang harus dipenuhi secara bersamaan. Infrastruktur, kesehatan, ketahanan pangan, perlindungan sosial, dan pendidikan sama-sama penting. Namun, investasi pada literasi merupakan investasi jangka panjang yang hasilnya mungkin tidak langsung terlihat dalam satu periode anggaran, tetapi akan menentukan kualitas bangsa selama puluhan tahun ke depan.

Anak-anak membutuhkan makanan bergizi agar tubuh mereka tumbuh sehat. Namun, mereka juga membutuhkan buku agar cara berpikir mereka berkembang. Hematnya, keduanya bukanlah kebutuhan yang saling menggantikan, melainkan saling melengkapi. Membangun manusia Indonesia yang unggul tidak cukup hanya dengan memastikan mereka sehat secara fisik, tetapi juga harus memberi mereka kesempatan untuk belajar, membaca, bertanya, dan terus mengembangkan rasa ingin tahu.

Sejarah menunjukkan bahwa bangsa-bangsa maju tidak dibangun semata-mata oleh kekayaan sumber daya alam atau pembangunan fisik. Mereka tumbuh karena masyarakatnya memiliki akses yang luas terhadap pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya membaca. Perpustakaan menjadi salah satu institusi yang menjaga agar akses tersebut tetap terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.

Pada akhirnya, pembahasan mengenai anggaran Perpustakaan Nasional bukan sekadar membicarakan besarnya angka dalam APBN. Yang dipertaruhkan adalah kesempatan jutaan anak Indonesia untuk mengenal dunia melalui buku. Dampaknya mungkin tidak langsung terasa hari ini, tetapi dapat memengaruhi kualitas generasi yang akan memimpin Indonesia pada masa mendatang.

Jika buku adalah jendela dunia, maka menjaga agar jendela itu tetap terbuka bagi seluruh anak Indonesia, seharusnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari cita-cita pembangunan nasional, bukan?


Referensi:

Perpusnas , OECD , Peraturan BPK , Unesco

Posting Komentar

0 Komentar