Kamis, 26 April 2012

Seorang Bocah Bekerja Di Malam Hari

Beberapa minggu yang lalu tepatnya sebelum UN SMA sepulang kuliah malam, seperti biasa saya berjalan-jalan sebelum pulang ke rumah. Saya memasuki sebuah komplek perumahan yang dihuni oleh masyarakat dengan perekonomian menengah ke atas (baca : komplek elite). Tujuan saya kesini adalah mini market yang terdapat di dalamnya. Sebelum ke mini market, pandangan saya tertuju kembali kepada seorang anak kecil dan saya pun menghampirinya lagi. Kembali bagaimana? 

Awal perkenalan saya dengan Reza sekitar 5 bulan yang lalu. Apa yang ia lakukan di komplek ini di malam hari? Ia berjualan tape disana. Tape yang ia jajakan berjumlah 40-60 bungkus. Perbungkusnya seharga Rp 2000,00. Tape ini bukan milik orang tua Reza, melainkan titipan orang yang Reza jualkan.
Reza berada di dalam komplek ini dari pukul 6 sore atau sehabis magrib dan baru pulang ke rumah pada pukul 10-11 malam. Menurut penuturan Reza, ia mendapatkan bagian (baca:upah) setengah dari harga keseluruhan tape yang berhasil terjual. Misalnya jika tape ini terjual 40 bungkus, maka Reza mendapatkan upah Rp 40.000,00

1335335119489845714
Reza menunggui tapenya, maret 2012 dok. pribadi

Keseharian Reza

Reza adalah anak sulung dari 3 bersaudara. Ia tinggal bersama adik-adik dan kedua orang tuanya di sebuah rumah sederhana yang lokasinya tak jauh dari Sekolahnya. Sekolah tersebut adalah sebuah SD Inpres yang terletak di pasar empat Tj. Sari, Medan. Di sekolah ini Reza duduk di bangku kelas 6 SD. Rutinitasnya sehari-hari yaitu berangkat ke sekolah pada jam 7 pagi. Kemudian sepulang sekolah pukul 1 siang, Reza belajar atau membuat PR di Rumah. Lalu pukul 3 sore, ia pun pergi mengaji. Pulang ke Rumah untuk beristirahat sebentar dan pukul 6 sore ia berangkat ke komplek tersebut.

Menurut cerita Reza, ia melakukan pekerjaan tersebut demi membantu meringankan beban keuangan orang tuanya, “dapat uang berapa aja, ku kasihlah sama mamak”.
Pulang ke rumah, Reza langsung beristirahat. Keesokan harinya, rutinitas tersebut ia lakukan kembali. “udah setahun lah aku jualan disini, kak”, kata Reza. Saya pun bertanya, “kau senang dengan yang kau lakukan?”. Dengan wajah polos Reza menjawab, “uangnya untuk biaya sehari-hari kak”.

Letih memang tampak di wajah polos Reza. Pekerjaan yang dilakukan Reza tentunya beresiko tinggi misalnya tubuhnya rawan diserang penyakit akibat sering terkena angin malam mengingat ia masih berusia 12 tahun, apalagi pekerjaan tersebut dilakukannya di malam hari. Fenomena anak-anak bekerja di Indonesia memang masih sangat mengundang keprihatinan walaupun memang niatnya sangat mulia.

Layaknya anak-anak lain seusianya, sebaiknya ia dapat memiliki waktu untuk dirinya sendiri, entah itu bermain bersama teman sebayanya atau belajar. Namun demi membantu meringankan keluarganya, mau tidak mau ia harus merelakan waktu anak-anaknya. Barulah pada hari minggu ia dapat sedikit beristirahat.
Memang sejak UN SMA kemarin, Reza tak tampak berjualan di komplek tersebut. Mungkin sedang konsentrasi untuk UN SD minggu depan. Semoga berhasil Reza. Kalau Reza masih berjualan di komplek itu, saya pasti datang lagi membeli tape yang ia jualkan. Pembaca mau ikut?


Tidak ada komentar: