Senin, 29 Oktober 2012

Bertekuk Lutut pada Perempuan Maya


Dunia maya adalah sebuah dunia yang tak asing lagi bagiku. Dari sejak berkembangnyafriendster, aku sudah sangat akrab dengan warnet yang berlokasi di dekat sekolahku. Duniaku tak pernah lepas dari internet, bahkan aku meminta orang tuaku untuk berlangganan internet setiap bulan. Jadilah aku semakin ketergantungan internet. Kegiatanku disana selain nge-game tapi tetap eksis di friendster. Apa yang kulakukan difriendster?

Namaku Ari, seorang playboy maya. Di akun friendsterku, banyak perempuan yang menjadi pacar mayaku. Dunia maya memang mengganggu kegiatan sekolah. Nilai-nilai pelajaranku anjlok, tidurku pun jadi kurang. Beruntung aku dapat menamatkan diri dari SMA walaupun dengan merogoh kantong sebesar Rp 300.000,00 demi kunci jawaban yang kudapatkan dari seorang Joki ketika Ujian Nasional (UN). Aku bodoh ya? Kurasa tidak, Cuma sedikit malas sejak mencintai internet.

***

Lulus SMA, aku masuk ke sebuah universitas swasta yang cukup terkenal di kotaku. Sebagai playboy maya tentunya aku masih saja merayu gadis-gadis di friendster. Pertemanan maya di friendster, segera kualihkan ke facebook yang selalu berlanjut ke chatting di Yahoo Messanger (YM !), tentunya aku tak lupa mencari tugas kampus yang banyak dari internet. Prinsipku, walaupun aku “rajin” menebar rayuan di dunia maya namun kuliahku pun arus tetap berjalan.

***

Dari dunia maya ini, tak hanya pacar maya yang kumiliki tapi juga sahabat maya yang juga perempuan, Afni namanya. Afni ini berdomisili di kota yang sama denganku, karena itulah aku tak mau menjadikannya pacar.
Ah tidak, bukan karena itu, Afni ini tong sampahku. Tong sampah? Itu julukanku buat dia karena afni lah yang dari sejak SMAku dulu yang selalu menyambut keluh kesahku dengan pacar nyataku Vira, seorang gadis yang condong bergaya kebarat-baratan.
Namun aku tak kuasa menyudahi hubunganku dengan Vira, sebab ia adalah anak dari rekanan bisnis papaku yang dijodohkan denganku. Karena jenuh dengan perjodohan itulah, aku iseng menebar rayuan di dunia maya.
Afni selalu memberikan berbagai nasehat untukku, entah itu tentang kuliahku, tentang kelanjutan hubunganku dengan Vira atau pun tentang hobi isengku menebar virus-virus merah jambu di friendster.
Suatu hari ketika sedang ngobrol dengan Afni di chatting YM, ia berkata “udah cukup petualangan cinta mayamu dengan banyak gadis itu Ri. Jangan memberikan harapan kepada mereka. Apalagi kamu kan gak pernah ketemu sama mereka. Aku takut mereka sakit hati padamu”.
“gak pa-pa kok Ni, mereka sih santai-santai aja. Kan ini iseng gitu Ni, aku suntuk sama Vira. Kamu kan tau tentang dia? Aku bingung harus gimana lagi untuk buang suntuk sama perjodohan ini Ni”, jawabku pada Afni.
“bukan begitu Ri, aku takutnya hobi menebar Virusmu itu nanti berbalik padamu”, katanya yang membuatku penasaran dan menjawab, “maksudmu gimana Ni? Toh mereka itu kan Cuma pacar maya, aku pun gak mungkin datang ke kota mereka”.
Afni pun menjawab, “jangan lagi deh Ri, aku takut hobimu ini berdampak gak baik untukmu, pikirin deh kata-kataku tadi. Udah ya, aku mau tidur, udah jam 10 malam, besok aku ada kuliah pagi”, dan chatting YM pun terhenti.
Ketika hendak tidur, aku memikirkan perkataan Afni tadi. Apa maksudnya ya? Dampak gimana ke aku?. Lelah berfikir tentang itu, aku pun tertidur.

***

Keesokan malamnya, aku bertemu lagi dengan Afni di YM. Kembali aku menanyakan tentang kata-kata afni semalam yang sangat tak kumengerti. Afni hanya memberikan pernyataan mengambang dan berbagai pertanyaan yang kesusahan untuk kujawab. Dengan rasa penasaranku yang tetap masih bertanya padanya, akhirnya Afni pun menjawab, “aku takut, suatu saat kamu yang akan mencintai perempuan di dunia maya Ri. Aku takut kamu yang akan sakit hati”.
“tidak Ni, ini hanya permainan untuk mengisi kesuntukanku. Aku menikmati suara manja mereka di telepon. Kamu tau kan bahwa nomor teleponku yang kuberikan kepada mereka bukan nomorku yang sebenarnya. Kalau aku suntuk sama mereka, dengan gampang aku bisa buang nomor itu dan mereka gak akan nemuin aku lagi. Mereka pun akan ku-block dari facebookku. Aman kok Ni, tenang aja”, alasanku pada Afni.
“ya sudah, lakukan sesukamu. Semoga yang kutakutkan tadi tak terjadi, aku tidur ya”, lagi-lagi Afni mengakhiri chatting kami malam itu.

***

Bulan berganti tahun, persahabatanku dengan Afni tetap terjalin baik di dunia maya ini tanpa pernah bertemu di tahun ketiga ini. Hubunganku dengan Vira pun berjalan seperti biasa. Beberapa pacar mayaku pun telah ku-block dari facebookku, nomor ponselku pun tak pernah kugonta-ganti lagi.
Aku mulai menjalani hari-hariku seperti biasa namun tetap mencari mangsa di facebook. Mangsaku kali ini adalah seorang gadis yang baru saja tamat SMA. Seperti biasa, dari facebook ke YM ke nomor ponsel. Namun kali ini agak meningkat, ke twitter. Fani namanya.
Semakin hari semakin intens rayuanku padanya hingga aku menemukan kenyamanan dengan gadis itu. Hari-hariku kulewati dengan memandang fotonya dan mendengar suaranya. Aku mulai rajin menghubungi ponselnya. Aku mulai merasa tak bisa menjalani hariku tanpanya. Aku mulai teringat akan perkataan Afni. Mungkin ini maksudnya.
Sepertinya ini adalah karma yang kutuai dari hasil menabur benih merah jambu. Namun aku tak berani mengatakan perihal rasa bodoh ini padanya. Ya, setidaknya Afni akan mengatakan rasa cinta ini ada berkat kebodohanku. Bodohkah aku?

***

Ari namaku, predikat playboy maya yang kusandang seketika menohokku. Tak kuasa kubendung rasa ini, mungkinkah ini yang namanya Cinta? Cinta? Ya.. mungkin ini rasanya dari akibat terlalu banyak menabur cinta di dunia maya.
Karena tak sanggup lagi menyimpan rasaku, kuberanikan diri menyakan perasaanku pada Fani, “fan,, aku tuh sebenarnya orangnya gak suka suatu hal yang bertele-tele, aku mau bilang aku suka sama kamu”. “aku juga suka sama kamu jadi kita jalani aja dengan santai ya bang”, kata Fani.
Aku tak mengerti akan ucapan Fani, namun kurasa ia menerima pernyataanku. Malam itu juga aku memutuskan hubunganku dengan Vira demi Fani, kekasih mayaku.
Mulailah cerita cinta mayaku dimulai. selain saling mengumbar kata cinta, Fani pun jadi sering memintaku untuk mengisi pulsa ponsel dan modemnya. Tanpa menolak, akupun menyanggupi permintaanya. Bagiku, yang penting aku tetap bisa Sharing and Connectingdengan cinta mayaku. Bahkan ketika Fani mendapati tugas-tugas yang sulit, aku pun rela mengerjakannya, bahkan aku sering tak tidur dimalam hari demi tugas-tugasnya yang sulit itu.
Segala keluh kesah Fani pun dengan setia kudengarkan lewat percakapan maya kami, hingga aku harus mendengarkan cerita tentang banyak lelaki yang mendekatinya. Cemburukah aku? Ya,, aku memang cemburu dan memang kukatakan hal itu kepadanya. Menurut pengakuannya, ia juga menyukaiku namun karena kita jauh jadi Fani mungkin membuthkan pacar yang dekat dengannya. Namun aku tetap menjalani hubunganku dengannya. layaknya orang lain yang berpacaran, hubungan kami juga sering dilanda pertengkaran dan ia juga sering menangis karena kemarahanku karena banyak lelaki yang mendekatinya di kotanya.

***

Cemburukah aku? Kurasa benar, aku cemburu. Karena tak dapat membendung rasa cemburuku, akhirnya aku menceritakan semua hal itu pada Afni dan Afni mengatakan, “boleh jadi kalau kamu memang mencintainya Ri, namun tanpa sadar kamu udah dimanfaatkan olehnya”. Sebuah pernyataan yang cukup telak dari seorang Afni.
“maaf ya Ri, sepertinya kamu terlalu bodoh bahkan kamu telah dibutakan oleh cinta mayamu. Sepertinya ia memang tak mencintaimu, ia hanya memanfaatkan uangmu. Ia juga pintar memanfaatkan rasa cintamu demi tugas-tugas kampusnya yang sulit yang harus kau kerjakan. Kalau ia memang mencintaimu, seharusnya ia tak menceritakan padamu tentang banyak pria yang mendekatinya”, lanjut Afni.
“Fani cinta kok sama aku Ni, buktinya ia selalu berkeluh kesah padaku”, kataku lagi.
“jika ia mencintaimu, maka ia akan menjaga perasaanmu. Sepertinya kau memang sudah buta Ri. Renungkan tiap kata dariku baru kau boleh menghubungi YMku lagi dan selamat malam”, dan afni pun mematikan YMnya.

***

Hari demi hari aku tetap menjalani hubungan mayaku dengan Fani dan semakin lama sepertinya perkataan Afni memang benar adanya. Sepertinya aku dimanfaatkan oleh Fani sampai suatu ketika ia menghubungiku. Sambil menangis ia memintaku untuk mengirimkan sejumlah uang ke rekeningnya. Menurut pengakuan Fani, uang kuliahnya baru saja dirampok. Aku yang memang mudah iba pada seseorang, dengan tanpa pikir panjang meluluskan permintaannya. Untuk keperluan lain, ia juga sering meminta uang dariku.

***

Lama kelamaan aku merasakan sesuatu yang beda dari Fani. Ia mulai jarang menghubungiku, bahkan suatu hari nomor ponselnya sudah tak aktif lagi. Facebooknya pun sudah dead active. Twitternya pun tak berkicau lagi.

Dimana Fani? Apakah memang benar ia telah memanfaatkanku?

Saat itu pula aku teringat pada Afni, afni yang berusaha membangunkanku. Perkataan Afni yang tak kuindahkan kini perlahan membunuhku.

***

Malam itu juga untuk pertama kalinya aku menghubungi ponselnya. Aku menceritakan segalanya pada Afni kalau ternyata Fani telah memanfaatkanku.
Afni mendengarkan keluhanku, Suaranya terdengar begitu lembut, tak sekeras pernyataan-pernyataannya di chatting. Ia memberi nasehat padaku agar aku melupakan cinta mayaku dan menemukkan cinta nyataku setelah Vira yang telah kuputuskan demi Fani dulu.

“Kembalilah ke dunia nyatamu Ri, carilah gadis yang kamu kenal dengan baik. Kalaupun kamu mengalami cinta maya lagi, kamu harus menyelami dulu kepribadiannya jangan hanya terkesima dengan fotonya”, ujar Afni.
Banyak dari perkataan Afni yang cukup membangunkanku dari angan-anganku terhadap Fani, Kehadiran Afni menyadarkanku akan berartinya sahabat mayaku ini, namun aku tak berani mengajaknya bertemu.

Sekarang aku baru mengerti bahwa Mencintai seseorang tanpa tahu mengapa harus mencintai orang itu, hingga dirinya tak sadar bahwa sedang dimanfaatkan oleh orang yang ia cintai memang benar adanya sebab kenyataan itu telah kualami.

***

Malam ini, aku akan mengajaknya keluar bersamaku esok hari. Semoga ia mau bertemu denganku di dunia nyata.
O,, bukan,, sedari dulu ia memang mau menemuiku, aku saja yang begitu bodoh karena hanya menganggapnya sebagai tong sampah andalanku. padahal ia selalu hadir ditengah kegalauanku.  Ah, semoga saja ajakanku nanti malam membuahkan hasil.
Harapanku, semoga keisenganku bermain di dunia maya tak lagi  mempertemukanku dengan gadis semacam Fani. Aku ingin bertemu gadis baik dan tegas seperti Afni yang cukup sering menyadarkanku.

Sabtu, 27 Oktober 2012

Penasaran Pada Sosokmu

memandang sosokmu
ingatkanku pada seseorang
gelagatmu persis pria itu
dalam diam kuperhatikan kemiripan kalian
ah, kalian bagai pinang dibelah parang

kau persis pria itu
pria misterius yang tak sempat kukenal
sebab ia seketika pergi
padahal memang tak seharusnya

kini kau hadir
menggantikan sosok dia
ya.. dia yang mirip denganmu

birahiku seketika meninggi
ketika semakin hari kusaksikan kau
hilir mudik menikmati tiap goresan
berserak santai di layarmu

kau bagai kupu-kupu
oh tidak !! 
itu sebutan untuk kaumku.
kau bagaikan elang,
penglihatanmu tajam

izinkan kukatakan bahwa :
aku kagum padamu
pada kepintaranmu
dan sangat menghargai kejujuranmu

mungkin aku tak berarti bagimu
sebab memang kau tak sempat melihatku
namun biarkanlah aku 
menyimpan rasa penasaranku
sendiri tanpa harus kau tahu

Harapan terbesarku adalah
semoga rasa penasaran ini 
tak menghanyutkanku dalam mimpi bodoh 
untuk mengenalmu 
sebab kau memang tak mungkin kuraih

Kamis, 04 Oktober 2012

Pasangan Pria Berusia Lebih Tua. Kenapa Tidak ?


Adalah suatu kebiasaan bagi setiap manusia yang sudah memasuki usia remaja, saling mengenal lawan jenis. Setelah melalui proses pendekatan a.k.a PDKT dan disertai dengan nembak, kemudian biasanya mereka akan memutuskan untuk menjalin hubungan yang lazim disebut pacaran.

Bagi remaja perempuan usia SMP atau SMA atau berumur dibawah 20 tahunan, mereka biasanya cenderung menyukai laki-laki yang sebaya dengan mereka. Mereka cenderung memilih remaja yang terkesan badboy, anak band, anak basket atau cowok-cowok yang aktif diberbagai ekstrakurikuler di sekolahnya. Sekalian biar kelihatan ikut ngetop sih. Bukankah ini biasa bagi remaja?

Seiring berjalannya waktu, remaja perempuan ini akan memikirkan suatu hubungan. Dengan demikian, mereka baru akan memikirkan pernikahan. Pada usia diatas 22 tahunan atau setelah tamat kuliah, mereka akan cenderung mencari sosok pria dewasa. Pria dewasa yang dimaksud adalah pria yang berumur lebih tua beberapa tahun dari mereka. Dan hal ini telah dibuktikan oleh teman saya yang akan menikah pagi ini.

***

Sebutlah namanya Via (24). Via adalah teman saya semasa SMA yang dulunya dia memiliki hubungan dengan kakak kelas. Namun karena adanya perbedaan, mereka pun berpisah. Setahu saya, pacar-pacar Via sebelumnya adalah pria yang sebaya atau sekitar 3 tahun lebih tua dari umurnya. Dengan mereka, ada saja ketidakcookan yang dihadapi Via sampai akhirnya iba-tiba awal bulan september ini, via mengajak saya bertemu.

Ia mengatakan agar saya hadir dipernikahannya. Otomatis saya pun terkejut. Lama tak bertemu, tiba-tiba saja mendapat berita itu.

Via menceritakan bahwa calon suaminya adalah sesosok pria dewasa yang terpaut 15 tahun dengannya. WOW, 15 tahun ini berarti seperti selisih usia saya dan abang kandung saya. Saya bertanya, mengapa ia berani mengambil keputusan menikah dengan pria yang berumur lebih tua?

Menurut pengakuan Via dan beberapa orang teman wanita yang saya wawancarai, sosok pria yang berumur lebih tua itu :

1. Ngemong.
Sebagai calon kepala rumah tangga, seorang pria hendaklah menjadi pembimbing si wanita.

2. Pengertian
Yang namanya orang normal, pasti mendambakan pendamping yang pengertian.

Misalnya : Ketika Via sedang menangani pasien, calon suaminya sangat mengerti akan aktivitas Via, dan begitu pula sebaliknya.

3. Tidak Suka Memaksa
Setiap orang yang punya pacar, kadang suka menuntut pasangannya untuk melakukan yang ia sukai. Dan itu tidak ditemukan Via di calon suaminya. Calon suaminya membebaskan Via bila ingin melakukan apapun. Toh Via sudah cukup dewasa, ia pasti mengetahui apa yang dilakukannya jadi tidak perlu dipaksa. Paling Cuma diarahkan.

4. Teman Yang Asyik untuk Bertukar Pikiran
Yang namanya perempuan, pasti kebiasaannya curhat, kan? Pastinya perempuan suka cerita apa saja sama sahabatnya dan si sahabat pun mendukung apa yang ia katakan. Apalagi kalau ceritanya itu sama pacar yang sebaya. Emosi pun akan meledak-ledak. Nah, pria yang lebih dewasa, cenderung memberikan masukan berupa nasehat dan pandangan positif lainnya. Bukan langsung mengamini apa yang kita (PR) lakukan. Dengan pertukaran pikiran itu, solusi untuk suatu permasalahan pun akan mudah ditemukan.

5. Tidak Gampang Cemburu
Laki-laki yang lebih muda, cenderung gampang cemburuan. Sedangkan yang berusia lebih tua, tidak gampang terprovokasi karena dapat lebih berpikir dengan kepala dingin.

6. Kenyamanan
Dalam setiap hubungan, setiap manusia pasti mendambakan kenyamanan dalam hubungannya. Bila dengan pacar yang sebaya, ada saja masalah yang sering dihadapi dan tentunya itu tidak membuat nyaman, bukan? pria yang berusia lebih tua, akan sangat menghormati anda sebagai kekasihnya dan berusaha memperlakukan anda senyaman mungkin.

***

Ada beberapa faktor yang dapat memberikan kenyaman kepada para perempuan untuk menjalani hubungan dengan pria lebih tua, misalnya :

1. Perbedaan usia memang sudah jelas, namun disamping itu dapat disiasati dengan mencari beberapa kesamaan. Misalnya kesamaan hobi. Tapi jangan terlalu giat mencari persamaan, nanti bikin pusing diri sendiri. Kalau memang tetap berbeda ya dihormati saja. Toh perbedaan itu akan menjadikan segalanya indah, bukan?

2. Usia memang sudah jelas berbeda. Terus apakah anda selamanya akan hidup dalam perbedaan usia itu? Apakah perbedaan usia itu akan menjadi biang keributan? Pasti tidak. Adakalanya malah anda yang wanita dan lebih muda akan lebih mampu bersikap dewasa daripada umur si dia yang lebih tua. Ya selama tak ada perbedaan lain yang mendasari, kenapa tidak berusaha memperbaiki yang sudah ada?

3. Anda memilihnya tentu karena berbagai alasa, bukan? pasti anda telah melalui proses PDKT yang panjang sampai anda akhirnya memilihnya. Jadi jangan ada cerita aku begini dan dia begitu lagi. Kan tadi PDKTnya panjang.

4. Jangan pernah membandingkan hubungan anda yang telah berakhir dengan mantan pacar anda dengan si pria dewasa. Hubungan yang sedang anda jalani dengan si pria dewasa ini adalah hubungan anda yang insya allah akan selamanya, bukan? nah.. jalani dengan penuh toleransi karena mengingat perbedaan usia tadi.

5. Menjalani hubungan dengan pria yang berumur lebih tua memang bukan hal yang mudah. Maka dari itu anda juga membutuhkan nasehat dari keluarga anda, sembari anda meyakinkan diri dari omongan orang yang banyak mempermasalahkan tentang itu. Yakinkan diri anda bahwa anda telah memilih si pria tersebut dan berusaha menjaga hubungan dengannya.

Kalau bagi yang akan menikah seperti teman saya itu, maka ada baiknya menyimak hal berikut ini :

1. Yakinkan diri anda bahwa perbedaan usia bukanlah masalah. Buatlah perbedaan itu menjadi tolak ukur untuk kebahagiaan rumah tangga yang akan anda jalani.

2. Walaupun si pria berusia lebih tua, ia masih bisa memberikan keturunan. Sedangkan wanita yang telah berusai diatas 35 tahunan, akan susah jika diharuskan untuk hamil walaupun ada juga.

3. Orang lain kadang akan sulit menerima keputusan anda menikah dengan pria lebih tua. Jadi, berusahalah untuk menciptakan citra positif dihadapan orang banyak walaupun masalah di dalam rumah tangga pasti ada, baik dengan pasangan sebaya, lebih muda maupun lebih tua.

4. Tak bisa dipungkiri bahwa kebanyakan wanita  memilih pria lebih tua untuk menikah dengannya karena alasan kemapanan. Jadi, supaya anda perempuan tak disebut sebagai cewek matre, anda kerja juga dong. Kalau suami anda tak mengizinkan anda bekerja diluar rumah, didalam rumah pun anda bisa menghasilkan uang. Misalnya membuat kue.

5. Pasti suami anda bangga karena telah memperistri anda yang masih muda dan tentunya cantik, apalagi anda perempuan muda yang juga pintar dapat dibanggakan dihadapan teman-temannya.

6. Menikah bukanlah untuk sehari atau dua hari. Menikah itu memerlukan kesiapan untuk berkomitmen selamanya. Pria lebih tua apalagi mapan, bisa menjadi alternatif yang OK,bukan?

7. Tuhan telah menghadirkan rasa cinta itu diantara anda berdua lewat berbagai macam persamaan dan perbedaan cara pandang terhadap sesuatu. Maka anggaplah itu sebagai anugerah yang tak dapat digantikan oleh apapun. Dengan demikian anda akan menikmati cinta itu sendiri tanpa terus mengingat bahwa anda perempuan telah menikah dengan pria yang lebih tua.

***

Terlepas dari usia pria yang lebih tua, setiap wanita pasti mendambakan kehidupan rumah tangga yang harmonis. Jadi rumah tangga yang telah dibina itu, dijalankan sebaik-baiknya. Jangan jadikan perbedaan usia itu menjadi penyebab jika dikemudian hari anda menemukan masalah.

Di dalam umumnya rumah tangga yang dibangun, kerikil-kerikil tajam adalah hal yang biasanya yang masih bisa dibicarakan. Maka diperlukan komunikasi yang intens agar tidak terjadi perbedaan pendapat antara anda dan pasangan anda. Jika pun nanti anda menemukan masalah, maka segera ingat hal-hal yang membuat anda memutuskan menikah dengannya.

Jadi, menikah dengan pria yang berusia lebih tua bukanlah sebuah masalah dalam menyatukan visi dan misi untuk berumah tangga. Bagaimana menurut anda?

Fenomena “Pembunuhan” di Kompasiana, Membudaya?


13485239101735029204
gambar dari http://klikunic.net
Tanggal 18 Agustus 2011 adalah awal saya memulai “karir” saya di blog keroyokan ini. Saat itu saya tertarik pada salah satu tulisan dari salah seorang kompasianer yang juga berteman dengan saya di facebook.

Jujur saja, tulisan saya saat itu masih berisi curhatan pribadi yang mungkin menurut pembaca tak ada manfaatnya. Sebagai new comer yang tulisannya aneh-aneh, maka saya rajin nongkrongin kompasiana ini. Gunanya apa? Gunanya tak lain dan tak bukan adalah untuk belajar bagaimana cara menulis hingga pada akhirnya saya menemukan “jiwa” saya disini.

Ketika saya mulai menemukan jiwa saya, ada kompasianer yang berkomentar yang selalu menyudutkan tulisan saya dengan kata-kata kasar, tak ketinggalan juga ada yang menghina saya secara fisik (pribadi), bahkan komentar saya selalu diikuti kemanapun, isi komentarnya juga kadang untuk menghina saya, padahal jelas pada TOC kompasiana terdapat kalimat Kompasianer dilarang menyerang, menghina, dan atau menjatuhkan karakter atau pribadi Kompasainer lain dengan cara dan tujuan apapun.

Entah apa tujuan komentarnya saat itu, yang jelas saat itu keinginan untuk menulis saya sempat hilang. Dan terima kasih untuk kompasianer yang telah memberikan dukungan moril kepada saya hingga saya tetap ada di lingkaran kompasiana ini.

Ibarat bangku sekolah, Kompasiana yang selalu mengusung slogan Sharing & Connecting ini memberikan manfaat tersendiri bagi setiap kompasianer. Manfaatnya yaitu belajar berinteraksi dengan orang-orang baru di sekolah maya ini.

Jenis tulisan dari masing-masing kompasianer tentunya berbeda-beda. Ada kompasianer yang berkonsentrasi dengan tulisan bernada politik, fiksi, muda, budaya bahkan sampai tulisan berbau humor (humor bernada miring sangat tidak saya sukai). Melalui berbagai kanal, tiap tulisan dari seorang kompasianer pasti diapresiasikan oleh kompasianer lain entah itu melalui vote yang disertai komentar maupun vote saja. Kalau anda tidak suka dengan tulisannya, segera tinggalkan. Jangan dilihat-lihat lagi.
Apresiasi dalam berkomentar itu sendiri memang tidak selalu berkaitan dengan isi tulisan, namun ada juga yang cuma saling bertegur sapa, bahkan katanya komentar cenderung OOT (out of topic).

Walaupun ada yang mengatakan bahwa komentar OOT itu tidak ada manfaatnya buat si penulis namun menurut anak kecil ini, apresiasi itu sangat berguna bagi psikologis si penulis itu sendiri. Mengapa? Karena Dia akan merasa dihargai diantara sesama kompasianer, bahkan dalam satu tulisan yang tak jarang juga terjadi perdebatan, ia mampu berinteraksi. Dengan kata lain, berikan kesempatan untuknya berada ditengah di tengah kita.

1. Bukankah itu juga perbuatan baik?
2. Bukankah setiap perbuatan baik akan mendapat pahala?

Namun sangat disayangkan, pada pagi hari ini ada seorang kompasianer yang mengatakan terpukul akibat satu tulisan yang dipublish kemarin. Melalui chat di facebook tadi, ia mengatakan bahwa ia mundur dari kompasiana. Baginya kompasiana bukan tempatnya lagi.

Pasti ada yang berkata dan menyepelekannya dengan berkata, “ah.. baru segitu aja udah kabur, lemahlah”.

Ia menyerah??  atau ia sedang galau?? Tidak. Jangan katakan ia tak mampu berdiri disini. Kemarin  memang Ia masih berdiri dan ia mampu menahan apapun yang ia rasakan sendiri. Sudah sering ia melihat bahwa banyak tulisan sejenis yang bertujuan sebagai pembunuhan karakter semacam itu berseliweran di kompasiana ini hingga ia sampai ke titik  jengahnya dan menyatakan untuk stop menulis.

Sadarkah anda kompasianer yang terhormat bahwa melalui tulisan dan komentar anda yang nyelekit dan nyakitin itu telah menghunuskan pedang kepada seorang kompasianer dan membunuh kreatifitasnya? Sungguh amat disayangkan sekali jikapembunuhan karakter ini dijadikan budaya di kompasiana ini. Ini forum sharing and connecting, bukannya tempat saling jatuh menjatuhkan !

Harapan terbesar saya setelah ini, tolonglah.. jangan ada lagi yang menyinggung perasaan orang lain melalui tulisan (apalagi menyebutkan nama) karena biasanya dampak dari menyinggung dan menghina orang lain melalui tulisan lebih menyakitkan dari pada perang mulut ataupun menusuknya dengan pisau. Dan semoga pembaca dapat mencerna tulisan dari anak kecil ini dengan baik.

Bagaikan Kopi, Kau Adalah Canduku

Auda Zaschkya & Lilih Wilda

1349274743785507060
image from http://ririsuchan.blogspot.com
Awal oktober 2012 ini, aku ditugaskan oleh kantor televisi tempatku bernaung untuk menjadi kontributor berita di daerah ujung barat pulau sumatera. Aku menyewa rumah di kawasan pusat kota, dekat dengan mesjid besar yang selamat dari bencana Tsunami 2004 lalu.
Sebagai orang baru di kota ini, tentu aku ingin mengetahui bagaimana caranya berinteraksi dengan masyarakat disini. Tak lain dan tak bukan, aku harus belajar untuk bersosialisasi. Sebagai pribadi yang sederhana, sejujurnya aku tak begitu menyukai cafe-cafe mahal yang biasanya dipenuhi kaum jetzet dan sosialita, setidaknya di kotaku dulu. Mungkin aku akan mengunjungi tempat itu jika sedang bertugas saja, bukan seperti niatku sekarang.
“Hmm,, ya.. mungkin kedai kopi. Bukan, lebih tepatnya warung kopi. Disana bisa menjadi tempat awal bagiku untuk mengenal orang-orang di kota ini, mungkin juga bisa menjadi bahan tulisan”, batinku.
Jam menunjukkan pukul setengah lima sore. Setelah mandi dan menunaikan shalat ashar, aku mulai beranjak keluar dari rumah. Sepanjang perjalanan yang aku lalui banyak berjejer warung kopi di kota ini. Bersama kuda hitamku, aku menuju ke sebuah warung kopi yang berada diujung pertigaan jalan yang setiap hari aku lalui. Tempatnya tidak terlalu besar, hanya saja terlihat warna warni lampu yang sangat menawan.
Ketika pertama aku memasuki kedai, aku sudah disuguhi aroma yang menusuk penciumanku. Pasti rasa kopi di sini enak pikirku. Lalu aku memutar mataku untuk memperhatikan semua sudut ruangan. Pelanggan kopi sedang bercanda, terlihat akrab satu sama lain. Memang, warung kopi identik dengan laki – laki sepertiku. Sampai akhirnya mataku berhenti pada satu meja yang ditempati oleh seorang  gadis berjilbab biru.
Aku berjalan menghampirinya, kemudian aku tersenyum. Ternyata sang gadis membalas senyumku. Kemudian aku bertanya, “Boleh aku duduk di sini”. “Silahkan bang”, jawabnya sambil tetap tersenyum.
Tak lama, pelayan datang membawakan dua cangkir kopi. Setelah meneguk kedua kopinya, tak lama sang gadis bangkit dan tersenyum sembari berkata, “saya duluan ya bang”, lalu membayar pesanannya di kasir kemudian meninggalkan aku yang masih terpaku melihat kepergiannya. “hai ,, aku belum tahu namamu”, seruku. Namun ia tetap saja pergi tanpa menoleh kebelakang. Penasaran? Pasti.. aku sangat penasaran melihatnya.
***
Sejak kejadian itu, aku semakin sering mengunjungi warung kopi tersebut sepulang mencari berita. Seperti biasa, aku akan mengirim berita melalui fasilitas Wifi disini.
Dengan ditemani sebungkus rokok serta beberapa potong camilan, aku berharap bertemu lagi dengan gadis hitam manis yang tempo hari aku temui disini. Namun ia tak kunjung berkunjung kemari sudah seminggu ini.
Pernah ia datang kesini, namun ketika aku duduk, ia seperti sedang terburu-buru dan Cuma tersenyum padaku. Seperti biasa, ia langsung pergi dengan sedikit terburu-buru. Tentu saja aku tak bisa menghubunginya, namanya saja aku tak tahu apalagi nomor ponselnya. Cuma wajah dan senyumannya yang masih lekat dalam ingatanku. Wah.. kalau begini, benar-benar ia membuatku penasaran. Inikah namanya cinta? Mungkin ini belum pantas disebut cinta. Sebutlah ini sebagai harga dari sebuah kekagumanku melihat sosoknya
Gadis peminum kopi itu selalu berada dikursi yang sama. Duduk sebentar, memesan secangkir kopi setelah itu membayar pesanannya di kasir lalu bergegas pergi tanpa menoleh kebelakang. Melihat sosok misteriusnya, salahkah aku kagum padanya?
***
Betapa bahagianya hatiku saat sore ini aku memasuki warung kopi yang sama dan melihat sang gadis sedang bermain bersama netbook hitam miliknya. Aku duduk persis di sebelah meja gadis itu. Sedikit terlihat aneh, dimana semua pengunjung seperti sudah mengetahui kalau pada jam tersebut sang gadis akan datang dan tempat di pojokan ini seperti diperuntukan bagi sang gadis sehingga tak ada yang menempati.
Sumringah senyumku ketika melihat gadis itu. Buru-buru aku menatap wajahnya yang tampak kelelahan. “sepertinya ia baru datang”, pikirku. Setelah memesan kopinya, aku memberanikan diri untuk mendekatinya. Kemudian aku mengulurkan tanganku berharap sang gadis membalas uluranku. Ternyata ia sudah tidak canggung, karena hampir tiap sore  kami bertemu di tempat ini walau kadang tak pernah bertegur sapa.
“Hai mbak, nama saya Zaki. Saya adalah warga baru di kota ini”, ucapku cepat karena takut keburu datang pelayan untuk memberikan pesanan kopi gadis ini.
“saya Mutia”, ucapnya pelan. “Nama yang indah seperti nama pahlawan wanita dari daerah ini. Hmm,, Boleh aku bertanya mengapa kamu selalu membeli dua cangkir kopi setiap harinya?”, tanyaku lagi.
“Aku biasa bekerja di malam hari bang. Kopi itu untuk menjaga mataku agar tidak kantuk”,  ucapnya lembut.
“Lalu kenapa harus selalu dua cangkir?”, lanjutku ingin tahu.
“Biasanya saya meminum dua cangkir kopi. Minum yang pahit dahulu lalu meminum yang manis. Minum kopi dengan cara begini, sama seperti hidup. Bukankah dalam kehidupan manusia  juga begitu? Kita harus berusaha keras dulu, pahit dulu, baru bisa menikmati hasilnya, baru manisnya. Itu ajaran dari kakekku”, ungkapnya sambil menerima dua cup kopi yang sudah diantarkan pelayan. “iya, benar juga sih, tapi kopi yang kamu minum dua gelas itu rutin setiap harinya, apa ‘gak bahaya?”.
“wah,, tidak bang, biasanya saya meminum kopi dua gelas itu ketika saya sedang dikejardeadline”, tanggapnya santai. “deadline apa?”, tanyaku ingin tahu dan dijawab dengan ringan olehnya, “ada deh”. Jawabannya memang singkat, namun senyumnya.. sungguh buat hatiku ingin mengatakan sesuatu.
***
Keesokan harinya, aku telah standby di warung kopi itu dari sekitar pukul dua siang. Aku ingin menyambutnya hari ini, sekaligus mengatakan rasaku padanya. Ya, Love at the first sight tepatnya. Sayangnya sampai malam hari, sang gadis tak kunjung datang.  Dalam kebingunganku, datang seorang tua yang masih gagah dan duduk di hadapanku.
“Kenalkan, saya Pak Cik. Jika anda sudah melihat plang di luar tertulis “Kedai Pak Cik”, nah pak cik itulah saya”, ucapnya sambil tersenyum.
Aku terdiam sambil berpikir, “oh ini yang namanya pak cik sang pemilik warung kopi ini”. Warung kopi sederhana namun memiliki cita rasa kopi yang sangat nikmat. Perpaduan kopi hitam dan rasa gula yang di sajikan begitu pas di lidah.
“Nama saya Zaki, pak. Saya pendatang baru di kota ini. Saya bekerja sebagai kontributor peliputan berita di salah satu televisi untuk daerah ini”, ucapku ramah.
“oia,, saya lihat kamu sering memperhatikan seorang gadis yang selalu duduk di pojokan situ, kan?”, tanyanya.
“benar pak, namun hari ini dia kok ‘gak ada ya?”, selidikku.
“Dia adalah cucu saya. Saya yang menyuruh ia untuk sering-sering datang kesini. Saya ingin dia belajar menjadi wanita yang mandiri dan tidak sombong, makanya selalu saya suruh datang ke warung ini. Dia harus melihat bagaimana susahnya mencari uang dan harus pandai bergaul dengan orang banyak”, kata sang kakek.
Lebih lanjut beliau berkata, “Saya mengajarinya agar selalu datang sebagai pelanggan, supaya dia bisa belajar dan melihat bagaimana ia diperlakukan oleh karyawan yang lain, sehingga nanti dia bisa memperlakukan pelanggan dengan baik. Sebab, dia ingin kembali ke kota ini untuk meneruskan usaha saya ketika ia selesai kuliah nanti”.
“Jadi, kenapa dia tak kelihatan disini hari ini?”, tanyaku. “Maaf sekali anak muda, cucu saya telah kembali ke kotanya untuk melanjutkan kuliah,  tapi ia akan kembali kesini tahun depan”, ucapan sang kakek tentu saja melemahkan pikirku.
***
Gadis peminum kopi telah kembali ke kotanya. Sekarang meja ini menjadi kosong. Meja ini akan menjadi tempatku menyeruput kopi sambil menunggu, berharap ia datang dengan sejuta senyuman. Aku akan menunggu gadis peminum kopi itu, sampai dia benar-benar kembali kesini walau tak lagi sebagai pelanggan, tapi sebagai pemilik warung kopi ini.
Demi untuk bertemu dengannya lagi, aku akan meminta perpanjangan tugasku di kota ini, kalau perlu aku akan minta ditugaskan selamanya di kota ini. Aku masih ingin menikmati kopi khas daerah ini, dan juga aku ingin menunggu ia kembali. Dan saat ia kembali nanti, akan kunyatakan perasaanku padanya.
Mutia, nama yang indah. Bahkan terlalu mudah untuk diucapkan namun begitu sulit untuk kudapatkan. Bertambah sulit sebab kau tak disini sekarang. Benar, aku memang kecanduan dengan kopi khas daerah ini. Dan kau Mutia, bagiku kau adalah canduku.
***
Bertemu dengannya adalah suatu anugerah dari Tuhan yang tak pernah dapat kubendung rasa nikmatnya. Seperti kopi yang sering kuteguk, perempuan hitam manis itu adalah canduku. Aku mencintainya, seperti aku mencintai minuman favoritku ini. Bahkan, ia adalah wanita teristimewa yang pernah kutemui di hampir seperempat abad hidupku. Semoga waktu masih berpihak padaku untuk pertemukan kita. Amin.

Tak Hanya Cinta, Aku Juga Butuh Imam di Dalam Hidupku


Rinda adalah nama yang kusandang hingga di usiaku yang kini beranjak 25 tahun. Cukup indah, bukan? Ya,, namaku adalah pemberian dari seorang pria yang telah menantikan kehadiranku ke dunia ini selama 16 tahun pernikahannya dengan seorang wanita tegar yang kini tengah beranjak tua. Mereka adalah orang tuaku yang juga telah memiliki seorang jagoan yang berselisih 15 tahun denganku. Ketika umurku 3 tahun, kakak laki-lakiku itu pun pergi ke luar kota untuk melanjutkan kuliah. Tinggallah aku bersama kedua orang tuaku di kota kelahiranku sampai akhirnya, pria terhebat itu harus meninggalkanku untuk menghadapNya ketika usiaku 6 tahun. Sejak saat itu aku dibesarkan oleh ibu yang selalu memperlihatkan ketegarannya dihadapku.
Tamat SD, aku melanjutkan ke SMP. Disitulah aku baru sadar kalau ada lawan jenis yang menyukai tampilan tomboyku. Riza namanya. Temanku Awan mengharuskan sekaligus memaksaku untuk menerima Riza untuk menjadi pacarku. Demi persahabatan, aku pun terpaksa menerimanya. “Ah,, anak SMP ngapain sih pacaran?”, pikirku saat itu sampai akhirnya aku mengajaknya berteman saja, walaupun dengan berat hati ia harus menerima keputusanku. Selanjutnya aku hanya membiarkan perasaanku begitu saja walaupun kenyataannya aku juga pernah menyukai seseorang setelah itu.
Tamat SMP, aku melanjutkan ke SMA. Di SMA juga tak ada seorang pun yang menarik perhatianku sampai pada akhirnya ada seseorang yang menelepon ke rumahku. ia mengatakan bahwa dia menyukaiku. Setelah kubertanya, ia mengatakan bahwa umurnya 6 tahun lebih tua daripada aku. Keesokan harinya ia datang ke sekolahku dan menunggui jam sekolahku usai. Sejujurnya saat itu aku tak menyukainya apalagi melihat rentang usia kami yang cukup jauh. Namun ia terus mendesakku sampai akhirnya aku diharuskan untuk menerimanya. Seminggu kemudian, aku pun mengikuti abangku untuk tinggal di rumahnya di kota domisiku sekarang. Karena sudah tak memungkinkan lagi bersama, maka aku menghubunginya untuk menyudahi hubungan kami. Dia tetap tidak mau. Ia juga mengatakan akan pindah ke kota ini dan sempat berkata, “dek, kamu itu pokonya harus 5 tahun pacaran sama abang ya, setelah itu kita akan menikah”.
What??? Aku pun semakin ketakutan karena perkataannya dan sempat berkata, “Masa’ sama anak SMA sempat-sempatnya berbicara tentang pernikahan?”. Ia hanya mengatakan wajar, toh 5 tahun lagi usianya akan menginjak 28 tahun. Apapun alasannya, aku tetap ketakutan. Setelah ia mengatakan itu, aku pun benar-benar memutuskan hubunganku dengannya.
***
Rinda namaku. Menurutku aku bukanlah seorang perempuan cantik dan selalu tampil apa adanya bahkan cenderung tomboy, sampai akhirnya di tahun 2006 aku masuk kelas khusus perempuan dimana aku diharuskan bermake-up dan memakai high heels. “Hey,, what the hell it is !!!“. Tapi, berkat kelas neraka itulah aku mampu menjadi perempuan sesuai kodratku. Saat itu aku menjalin hubungan dengan beberapa laki-laki yang usianya tak berbeda jauh denganku. Semuanya berakhir karena keegoisan kami masing-masing.
Tamat kuliah, aku berlibur ke kota kelahiranku. Tanpa diduga, aku pun mengalami kecelakaan yang menyebabkan comma dan mengalami penyempitan syaraf. Setelah itu aku kembali ke kota ini. Aku memulai beberapa pengobatan. Setelah 80 % sembuh, atas permintaan kakak laki-lakiku, aku pun melanjutkan kuliah. Untuk yang ingin melanjutkan kuliah, dapat mengambil kelas sore hari.
***
Di kampus ini aku berinteraksi dengan banyak orang yang telah berumur diatas 26 tahun. Ada juga yang seumuran denganku bahkan lebih muda dariku. Berinteraksi dengan mereka bukanlah suatu hal yang sulit bagiku, mengingat aku yang kadang banyak bicara dan cukup nyambung dengan pembicaraan mereka. Seiring dengan berjalannya waktu  perkuliahan ini, aku jadi semakin tahu bahwa yang aku butuhkan adalah sesosok pria dewasa yang cukup pintar dan dapat mengajariku banyak hal. Saat itu juga aku tak mau lagi menjalani hubungan dengan laki-laki yang sebaya denganku. Makanya setelah putus dari mantan pacarku dulu, aku lebih memilih untuk menjalani hari-hariku dengan berinteraksi dan bertukar pikiran bersama mereka, teman-teman kuliahku.
Sebagai seorang gadis biasa yang pernah patah hati, aku pun tak mau mengalami itu lagi. Makanya, aku cenderung menutup diri dan tak mau ambil pusing dengan urusan hati. Dari pada mikirin hati, mending aku mikirin harga beras, harga tarif listrik atau bagaimana caranya menyelesaikan kuliahku. Aku sempat mengeraskan hatiku, bahwa sementara ini aku tak mau berpikir soal cinta. Mengapa?  Salah satunya ya karena itu tadi, aku tak mau patah hati lagi. Sakitnya benar-benar terasa. Menangis pun sudah cukup sering, namun syukurlah tak pernah ada pikiran untuk mengakhiri hidupku hanya karena patah hati,  seperti yang pernah dilakukan temanku yang menegak racun pembasmi serangga.
Sahabatku bernama Putri pernah berkata ditelepon, “Nda, ada baiknya kamu membuka hatimu untuk mengenal seorang pria”.
“iya nantilah”, jawabku sekenanya.
“kamu gak mungkin hidup sendiri, kamu harus berbagi bersama seseorang. Dan yang pasti mamamu perlu cucu juga darimu”, jelasnya lagi.
“sudahlah, nanti saja itu. Kamu tahu kan gimana rasanya sakit hati, gimana tangisanku ?”. Aku ‘gak mau ngalamin itu lagi Put, aku punya hati yang terlalu perih kalau harus dilukai lagi, lagi pula aku masih kuliah”, kilahku.
“Owalah Nda.. aku tahu rasanya sakit hati, toh aku kan pernah juga nyamperin cowok sialan yang selingkuhin kamu dulu. Belum lagi, kamu pernah pacaran serius sama cowok tapi putus karena ‘gak disetujui sama keluarganya akibat beda suku, tapi Nda kamu butuh separuh hati yang baru untuk menutup luka hatimu yang dulu”, cerocosnya.
Ok, fine ya Put, tapi itu nanti. Untuk sekarang, aku ‘gak mau bermain lagi sama yang namanya cinta. Cinta buatku itu njelimet, bahkan sangat rumit”, tegasku.
“aku tahu Nda, tapi kapan lagi kamu mau mencari salah satu dari mereka? Usiamu udah mau 25, kan?”, carilah sesosok pria dewasa sebagai pengganti ayah dan kakak lelakimu. Aku tahu itu yang kamu buthkan Nda.  Di rumah menulismu apa ‘gak ada yang bisa kamu dekati Nda”, sambungnya.
“dulu sempat ada, ya.. cinta maya kan? sekarang gak ada lagi. Kamu tahu kan gimana hancurnya hatiku karena kaum adam itu?”, sedihku.
“cari Nda, dimana pun itu. Aku tahu kamu butuh pria yang bisa membimbingmu, mengerti keadaanmu, bukan hanya mementingkan fisikmu”, gemasnya padaku.
“sudahlah, aku mau kuliah”, dan terputuslah telepon kami saat itu.
***
Keesokan harinya, aku melaksanakan hobiku. Seperti biasa, aku bergumul dengan wifi di cafe langgananku. Saat itu melalui fitur chatting di facebook, teman Sdku yang telah menikah memanggilku, Tasya namanya. Ia juga bertanya, “ Nda, kapan merid?. “apaan sih, negur aku bukannya nanya kabarku malah nanya merid?”, seruku di chat.
“kalau kamu OL, berarti kamu sehat-sehat aja, ngapain nanyain kabar. Yang aku tanya, kapan merid?”, tanyanya.
“nantilah, aku kan masih kuliah”, kataku. “pacar, mana pacarmu? Jadi kapan nih rencana nikahnya?”, tanyanya lagi.
“gak ada, aku kan sedang melajang. Menikmati kesendirianku”, kataku lagi. “lha, yang hari itu mana, cowok itu yang kamu ceritain ke aku?”, tanyanya. “putus, keluarganya ‘gak mau sama aku karena kita beda suku”, lanjutku.
Sama seperti Putri, Tasya juga menyarankan aku untuk memiliki seorang kekasih yang benar-benar serius. Tanggapanku tetap hangat kepadanya dengan berkata, “iya nantilah ya, mungkin belum sekarang saatnya, tunggu anakmu lahir dulu, kamu lagi hamil, kan? Ya sudah, tunggu calon keponakanku lahir ya”.
“Bener loh, jangan lama-lama lagi, temen-temen kita juga udah banyak yang nikah”,jawabnya. “Insya Allah, jika Dia menghendaki, maka aku pun tak mungkin menolak”,jawabku lagi.
***
Suatu hari ibuku bertanya, “sekarang lagi dekat sama siapa nak?”. “gak ada, ada apa ma”,jawabku. “kapan mau kenalin calonmu sama mama dan abang?”, pertanyaan beliau yang sulit untuk kujawab. “iya nantilah”.
“Saudara sepupumu udah banyak yang nikah, kamu jangan keasyikan sendiri, tamat kuliah kamu harus sudah punya calon dan ingat harus sama yang seiman”, pesan mama.
What?? Tamat kuliah?? Owalah ma,, hatiku yang terluka ini belum ada yang mampu menyembuhkannya, ah.. seandainya mama tahu sudah berapa kali aku patah hati, batinku saat itu.
***
Sejujurnya aku juga tak mau kelamaan berstatus lajang atau jomblo, atau apapun namanya. Hatiku terlalu sakit untuk disakiti lagi, maka biarkanlah aku menikmati kesendirianku sampai Dia memberikan seorang pria yang mampu meluluhkan hatiku dan mampu menerima segala kekuranganku. Aku ingin memiliki sesosok tubuh yang memiliki perangai seperti ayah dan abangku yang menurutku cukup dewasa.
Aku tak mau terpaku pada usia mereka yang harus lebih tua, namun menurutku pria dewasa itu adalah pria yang mapan. Tidak hanya mapan secara materi, tapi juga harus mapan secara emosional serta dapat membimbingku dan menjadi imam dalam keluarga kecilku nanti.
Dan selama aku menjalani hari-hariku, belum ada yang benar-benar menarik perhatianku. Mungkin aku harus bersabar dan menunggu saat indah yang aku impikan. Aku tak ingin gegabah dalam menentukan pilihan, karena bagiku pernikahan itu hanyalah terjadi seumur hidup bagiku. Semoga keinginan hatiku yang satu itu segera terwujud. Amin.