Kamis, 04 Oktober 2012

Bagaikan Kopi, Kau Adalah Canduku

Auda Zaschkya & Lilih Wilda

1349274743785507060
image from http://ririsuchan.blogspot.com
Awal oktober 2012 ini, aku ditugaskan oleh kantor televisi tempatku bernaung untuk menjadi kontributor berita di daerah ujung barat pulau sumatera. Aku menyewa rumah di kawasan pusat kota, dekat dengan mesjid besar yang selamat dari bencana Tsunami 2004 lalu.
Sebagai orang baru di kota ini, tentu aku ingin mengetahui bagaimana caranya berinteraksi dengan masyarakat disini. Tak lain dan tak bukan, aku harus belajar untuk bersosialisasi. Sebagai pribadi yang sederhana, sejujurnya aku tak begitu menyukai cafe-cafe mahal yang biasanya dipenuhi kaum jetzet dan sosialita, setidaknya di kotaku dulu. Mungkin aku akan mengunjungi tempat itu jika sedang bertugas saja, bukan seperti niatku sekarang.
“Hmm,, ya.. mungkin kedai kopi. Bukan, lebih tepatnya warung kopi. Disana bisa menjadi tempat awal bagiku untuk mengenal orang-orang di kota ini, mungkin juga bisa menjadi bahan tulisan”, batinku.
Jam menunjukkan pukul setengah lima sore. Setelah mandi dan menunaikan shalat ashar, aku mulai beranjak keluar dari rumah. Sepanjang perjalanan yang aku lalui banyak berjejer warung kopi di kota ini. Bersama kuda hitamku, aku menuju ke sebuah warung kopi yang berada diujung pertigaan jalan yang setiap hari aku lalui. Tempatnya tidak terlalu besar, hanya saja terlihat warna warni lampu yang sangat menawan.
Ketika pertama aku memasuki kedai, aku sudah disuguhi aroma yang menusuk penciumanku. Pasti rasa kopi di sini enak pikirku. Lalu aku memutar mataku untuk memperhatikan semua sudut ruangan. Pelanggan kopi sedang bercanda, terlihat akrab satu sama lain. Memang, warung kopi identik dengan laki – laki sepertiku. Sampai akhirnya mataku berhenti pada satu meja yang ditempati oleh seorang  gadis berjilbab biru.
Aku berjalan menghampirinya, kemudian aku tersenyum. Ternyata sang gadis membalas senyumku. Kemudian aku bertanya, “Boleh aku duduk di sini”. “Silahkan bang”, jawabnya sambil tetap tersenyum.
Tak lama, pelayan datang membawakan dua cangkir kopi. Setelah meneguk kedua kopinya, tak lama sang gadis bangkit dan tersenyum sembari berkata, “saya duluan ya bang”, lalu membayar pesanannya di kasir kemudian meninggalkan aku yang masih terpaku melihat kepergiannya. “hai ,, aku belum tahu namamu”, seruku. Namun ia tetap saja pergi tanpa menoleh kebelakang. Penasaran? Pasti.. aku sangat penasaran melihatnya.
***
Sejak kejadian itu, aku semakin sering mengunjungi warung kopi tersebut sepulang mencari berita. Seperti biasa, aku akan mengirim berita melalui fasilitas Wifi disini.
Dengan ditemani sebungkus rokok serta beberapa potong camilan, aku berharap bertemu lagi dengan gadis hitam manis yang tempo hari aku temui disini. Namun ia tak kunjung berkunjung kemari sudah seminggu ini.
Pernah ia datang kesini, namun ketika aku duduk, ia seperti sedang terburu-buru dan Cuma tersenyum padaku. Seperti biasa, ia langsung pergi dengan sedikit terburu-buru. Tentu saja aku tak bisa menghubunginya, namanya saja aku tak tahu apalagi nomor ponselnya. Cuma wajah dan senyumannya yang masih lekat dalam ingatanku. Wah.. kalau begini, benar-benar ia membuatku penasaran. Inikah namanya cinta? Mungkin ini belum pantas disebut cinta. Sebutlah ini sebagai harga dari sebuah kekagumanku melihat sosoknya
Gadis peminum kopi itu selalu berada dikursi yang sama. Duduk sebentar, memesan secangkir kopi setelah itu membayar pesanannya di kasir lalu bergegas pergi tanpa menoleh kebelakang. Melihat sosok misteriusnya, salahkah aku kagum padanya?
***
Betapa bahagianya hatiku saat sore ini aku memasuki warung kopi yang sama dan melihat sang gadis sedang bermain bersama netbook hitam miliknya. Aku duduk persis di sebelah meja gadis itu. Sedikit terlihat aneh, dimana semua pengunjung seperti sudah mengetahui kalau pada jam tersebut sang gadis akan datang dan tempat di pojokan ini seperti diperuntukan bagi sang gadis sehingga tak ada yang menempati.
Sumringah senyumku ketika melihat gadis itu. Buru-buru aku menatap wajahnya yang tampak kelelahan. “sepertinya ia baru datang”, pikirku. Setelah memesan kopinya, aku memberanikan diri untuk mendekatinya. Kemudian aku mengulurkan tanganku berharap sang gadis membalas uluranku. Ternyata ia sudah tidak canggung, karena hampir tiap sore  kami bertemu di tempat ini walau kadang tak pernah bertegur sapa.
“Hai mbak, nama saya Zaki. Saya adalah warga baru di kota ini”, ucapku cepat karena takut keburu datang pelayan untuk memberikan pesanan kopi gadis ini.
“saya Mutia”, ucapnya pelan. “Nama yang indah seperti nama pahlawan wanita dari daerah ini. Hmm,, Boleh aku bertanya mengapa kamu selalu membeli dua cangkir kopi setiap harinya?”, tanyaku lagi.
“Aku biasa bekerja di malam hari bang. Kopi itu untuk menjaga mataku agar tidak kantuk”,  ucapnya lembut.
“Lalu kenapa harus selalu dua cangkir?”, lanjutku ingin tahu.
“Biasanya saya meminum dua cangkir kopi. Minum yang pahit dahulu lalu meminum yang manis. Minum kopi dengan cara begini, sama seperti hidup. Bukankah dalam kehidupan manusia  juga begitu? Kita harus berusaha keras dulu, pahit dulu, baru bisa menikmati hasilnya, baru manisnya. Itu ajaran dari kakekku”, ungkapnya sambil menerima dua cup kopi yang sudah diantarkan pelayan. “iya, benar juga sih, tapi kopi yang kamu minum dua gelas itu rutin setiap harinya, apa ‘gak bahaya?”.
“wah,, tidak bang, biasanya saya meminum kopi dua gelas itu ketika saya sedang dikejardeadline”, tanggapnya santai. “deadline apa?”, tanyaku ingin tahu dan dijawab dengan ringan olehnya, “ada deh”. Jawabannya memang singkat, namun senyumnya.. sungguh buat hatiku ingin mengatakan sesuatu.
***
Keesokan harinya, aku telah standby di warung kopi itu dari sekitar pukul dua siang. Aku ingin menyambutnya hari ini, sekaligus mengatakan rasaku padanya. Ya, Love at the first sight tepatnya. Sayangnya sampai malam hari, sang gadis tak kunjung datang.  Dalam kebingunganku, datang seorang tua yang masih gagah dan duduk di hadapanku.
“Kenalkan, saya Pak Cik. Jika anda sudah melihat plang di luar tertulis “Kedai Pak Cik”, nah pak cik itulah saya”, ucapnya sambil tersenyum.
Aku terdiam sambil berpikir, “oh ini yang namanya pak cik sang pemilik warung kopi ini”. Warung kopi sederhana namun memiliki cita rasa kopi yang sangat nikmat. Perpaduan kopi hitam dan rasa gula yang di sajikan begitu pas di lidah.
“Nama saya Zaki, pak. Saya pendatang baru di kota ini. Saya bekerja sebagai kontributor peliputan berita di salah satu televisi untuk daerah ini”, ucapku ramah.
“oia,, saya lihat kamu sering memperhatikan seorang gadis yang selalu duduk di pojokan situ, kan?”, tanyanya.
“benar pak, namun hari ini dia kok ‘gak ada ya?”, selidikku.
“Dia adalah cucu saya. Saya yang menyuruh ia untuk sering-sering datang kesini. Saya ingin dia belajar menjadi wanita yang mandiri dan tidak sombong, makanya selalu saya suruh datang ke warung ini. Dia harus melihat bagaimana susahnya mencari uang dan harus pandai bergaul dengan orang banyak”, kata sang kakek.
Lebih lanjut beliau berkata, “Saya mengajarinya agar selalu datang sebagai pelanggan, supaya dia bisa belajar dan melihat bagaimana ia diperlakukan oleh karyawan yang lain, sehingga nanti dia bisa memperlakukan pelanggan dengan baik. Sebab, dia ingin kembali ke kota ini untuk meneruskan usaha saya ketika ia selesai kuliah nanti”.
“Jadi, kenapa dia tak kelihatan disini hari ini?”, tanyaku. “Maaf sekali anak muda, cucu saya telah kembali ke kotanya untuk melanjutkan kuliah,  tapi ia akan kembali kesini tahun depan”, ucapan sang kakek tentu saja melemahkan pikirku.
***
Gadis peminum kopi telah kembali ke kotanya. Sekarang meja ini menjadi kosong. Meja ini akan menjadi tempatku menyeruput kopi sambil menunggu, berharap ia datang dengan sejuta senyuman. Aku akan menunggu gadis peminum kopi itu, sampai dia benar-benar kembali kesini walau tak lagi sebagai pelanggan, tapi sebagai pemilik warung kopi ini.
Demi untuk bertemu dengannya lagi, aku akan meminta perpanjangan tugasku di kota ini, kalau perlu aku akan minta ditugaskan selamanya di kota ini. Aku masih ingin menikmati kopi khas daerah ini, dan juga aku ingin menunggu ia kembali. Dan saat ia kembali nanti, akan kunyatakan perasaanku padanya.
Mutia, nama yang indah. Bahkan terlalu mudah untuk diucapkan namun begitu sulit untuk kudapatkan. Bertambah sulit sebab kau tak disini sekarang. Benar, aku memang kecanduan dengan kopi khas daerah ini. Dan kau Mutia, bagiku kau adalah canduku.
***
Bertemu dengannya adalah suatu anugerah dari Tuhan yang tak pernah dapat kubendung rasa nikmatnya. Seperti kopi yang sering kuteguk, perempuan hitam manis itu adalah canduku. Aku mencintainya, seperti aku mencintai minuman favoritku ini. Bahkan, ia adalah wanita teristimewa yang pernah kutemui di hampir seperempat abad hidupku. Semoga waktu masih berpihak padaku untuk pertemukan kita. Amin.

Tidak ada komentar: