Jumat, 02 Agustus 2013

[FDR] Do'a Untuk Kampungku di Ramadhan Ini

Auda Zaschkya - 17
*
Semakin hari, aku semakin tak mengerti dengan pemimpin kampung halamanku. Bukannya memfokuskan diri untuk mensejahterakan masyarakat yang telah memilih mereka, yang ada mereka terus berupaya memperjuangkan simbol kedaerahan yang menurut dangkal pikirku, bukanlah prioritas utama.
***
(Pukul 08.00 pagi, aku menuju kampus. Di jalan, ku sempatkan diri membeli koran lokal yang juga membubuhkan reportase tentang kampungku.Sampai di kampus, membolak balik halaman koran, sembari mengingat suara tembakan dan riuhnya ledakan bom sebelum musibah 2004 lalu).
Aku menggerutu, kesal!
Ah… lagi-lagi soal ini. Permohonan untuk legalitas bendera yang akan di Launchingbeberapa minggu ke depan. Katanya, demi identitas kedaerahan, ya… untuk menunjukkan jati diri bangsa.
Hm… Yakin untuk itu? Bukannya kasus bendera itu hanya sebagai pengalihan isu kesejahteraan rakyat yang belum dirasakan, merata oleh keseluruhan?
Lalu, katanya demi bangsa.Bangsa yang mana? Bukankah republik ini telah memiliki bendera dan lambang negara? Seharusnya, itu yang dijaga. Bukannya malah meninggikan egoisitas diri sendiri dengan daerahnya dengan mengorbankan rakyatnya
(Sembari duduk di sudut ruang kelas yang ternyata dosenpun tak jadi masuk, kembali aku mengingat kenangan lalu, sembari sedikit menitikkan air mata).
Aku teringat, sekitar tahun 2002.
Dikala kami harus berhenti dalam perjalanan. Di bawah AK 47, kami harus mengikuti mau mereka dari pada kami harus meregang nyawa hanya demi sebuah perlawanan.
Bagaimana saat itu, kami harus menginap di masjid terdekat. Dengan mengandalkan bantuan warga sekitar, terpaksa memakan nasi. Ya… hanya nasi, yang belum tanak demi mengejar waktu dari pada harus melihat pembawa AK 47 itu melintas di hadapan kami. Sudah, ini tak boleh ku ingat lagi.
(Menghapus air mata, melanjutkan membaca koran).
Mengingat luasnya daerah itu, pikiranku semakin berkecamuk dan menimbulkan pertanyaan baru, Bukankah cuma sekelompok orang yang menginginkan bendera itu?
(termenung, lalu entah mengapa aku berbicara sendiri).
Sesungguhnya aku merasa kasihan dengan loyalitas mereka sebagai pemilih. Alih-alih dipilih untuk mensejahterakan rakyat, mereka malah meninggikan egoisitas diri. Apa tak lelah mereka ya?
*
(tersadar berbicara sendiri).
Ups, keceplosan! Baiklah, lebih baik aku berpikir saja dari pada kedengaran orang dan disangka aku tak waras.
(Melanjutkan berpikir).
Bahwa simbol kedaerahan ini bukan prioritas utama bagi masyarakat di sana. Mereka membutuhkan kesejahteraan. Kesejahteraan yang mahal, bahkan harganya lebih mahal dari selembar bendera semasa kerusuhan itu.
Bukan maksudku membenturkan antara simbol yang katanya jati diri bangsa dengan kesejahteraan. Tapi menurutku, skala prioritasnya adalah dari segi perekonomian rakyat dulu yang harus dibenahi, baru kemudian bisa memperjuangkan hak simbol itu.
Lalu, pemerintah negara ini pula telah mengalah, demi keutuhan negara ini. Pemerintah mengatakan, silahkan miliki bendera, asal coraknya diganti. Pilihlah corak yang diterima oleh seluruh masyarakat, bukan hanya sekelompok saja.
(Aku menggurutu lagi, bahkan kali ini semakin meluap-luap amarahku. Berdiri, mengambil ponsel di dalam tas dan menghubungi temanku yang berdomisili di sana).
Tanpa basa-basi, seusai mengucap salam, aku langsung bertanya
Aku         :  (kening berkerut) apa dan gimana situasi di sana hari ini?
Teman  :  (sedikit tertawa) hahaha… tenang donk Ta, kayak lagi dikejar setan aja kau. Masih saja kau seperti dulu kalau terkait dengan daerah ini. Eh, tapi wajar sih. Kan kau asli dari sini. hahaha…
Aku         : (sedikit kesal, lalu bertanya singkat) terus gimana pertanyaanku? Jawab dong.
Teman : (menarik nafas, lalu menjawab) Di sini situasinya ya sama seperti yang kau lihat di berbagai media. Masih runyam dan realisasi janji pemerintah daerah, belum dirasakan manfaatnya.  Beberapa bulan yang lalu kan demo tuh di kantor gubernur.
Aku     : (menjawabnya sembari berusaha tenang) Ok, berarti ada demo ya? Siapa aja yang ikutan?
Teman :   (balas menjawabku sembari tertawa) hahaha.. Ya semua orang yang ‘gak puas sama pemerintahan sekarang yang kebanyakan janji.
Aku      :  (mengakhiri pembicaraan) Ok, ya udah, terima kasih infonya. Kalau ada apa- apa, aku hubungi  lagi. Assalamu’alaikum.
*
Terduduk, sembari mengingatmu. Saat seperti ini, Cuma kamu yang mengerti aku. Seperti biasa, kamu yang tahu bagaimana harus meredam emosiku yang meledak-ledak ini.
(Mengambil fotomu dari dompetku).
Hey Kamu, pulang dong! Aku butuh teman “berantam”!
Butuh pendengar yang bisa mengendalikan emosiku yang suka menyalak oleh sebab pengalihan isu di sana. Ah… kau tahu aku. Jika menyangkut kampung halamanku, dangkal pikirku mau tak mau terus berkecamuk.
(Tiba-tiba diam, lalu beranjak ke mushalla. Melaksanakan shalat dhuha, lalu Berdo’a).
Tuhan… Aku bingung. Namun, Tuhan… Jika boleh ku selipkan do’a untuknya. Jagalah ia, sempatkan kami bertemu lagi. Biar kami bisa “berantam” lagi, menyatukan pemikirannya serta analogi “ringan”ku.
Tuhan… Aku lelah menggerutu. Jagalah aku supaya tak sampai ke kedai yang di luar kampus untuk membeli sebotol air mineral akibat panasnya cuaca dan hatiku.
Tuhan… Aku takut. Di ramadhan ini, isu itu semakin menjadi. Seharusnya mereka mengkhususkan diri untuk meraih ridhaMu, dari pada mementingkan urusan pribadinya yang sesungguhnya bukan keinginan seluruh masyarakat di sana.
Tuhan… Hanya Engkaulah yang maha mengetahui apa yang terbaik untuk bangsa ini. Aku lelah menanti. Aku tak tahu harus berbuat apa untuk meredam egoisitas mereka.
Tuhan… Aku tahu, bagi para tetua itu, aku hanya anak kecil yang katanya tak mengerti apa-apa. Tapi mereka tak mengenalku, bahwa aku mengenal mereka. Aku tahu ada apa dibalik kasus yang berlarut itu.
Tuhan… Lupakah mereka pada azab pedihmu?
Tuhan… tolonglah kami. Engkau pasti tahu apa yang terbaik dan tak hambaMu ketahui, bukan?
(melipat mukena, bersiap kembali ke rumah).
*

Tidak ada komentar: