Minggu, 17 September 2017

Kritikus Film Tak Sekedar Pecandu Film (1)

Pusbang Film Kemendikbud mengadakan workshop penulisan kritik film dan artikel film non-kritik di Four Season Hotel by Sheraton, Medan, 7-9 September 2017.

Acara yang diikuti oleh berbagai komunitas film dan para jurnalis di Medan ini dikatakan moderator kegiatan, Daniel Irawan, diharapkan, lewat acara ini dapat melahirkan kritikus-kritikus film yang baik, terutama dari kalangan jurnalis, demi kemajuan film indonesia mendatang. Apalagi, dalam waktu dekat, diharapkan, para peserta yang mengikuti kegiatan tersebut, sudah dapat mengikuti lomba ajang Apresiasi Film Indonesia 2017.



Acara tersebut diisi oleh berbagai nama yang tak asing lagi dalam bidang kritik film, misalnya Wina Armada Sukardi. Dalam materinya, Wina mengatakan, Sejarah Kritik Film di Indonesia usianya hampir sama dengan sejarah Industri perfilman Indonesia sendiri. Segera setelah ditayangkan karya  film pertama di Indonesia, tahun 1928 wartawan Saerun  langsung membuat “kritik” terhadap film tersebut yang berisi anjuran-anjuran perbaikan. “Kritik” Saerun itu dapat dipandang sebagai kritik film pertama di Indonesia.  

Apa itu Kritik Film?
1. Sama seperti hampir semua bidang lain, sebuah definisi baku tidak akan cukup menjawab makna sebuah istilah secara lengkap dan tepat. Contoh: Apakah kursi?
2. Tidak ada definisi kritik film yang  sedemikian lengkap dan tepat, tetapi definisi dapat mewakili gambaran umum yang mendekati kenyataan.
3. Kritik film ialah (1) sebuah telaah cukup mendalam terhadap (2) sebuah karya film (3) baik secara menyeluruh dan atau hanya bagian tertentu (4)  berdasarkan tanggapan dari gabungan pengetahuan  yang memadai,  serta “rasa ” yang sudah terasah atau terlatih (5)  dalam bentuk tulisan atau siaran.  

Resep Kritik Film
1.    Tidak ada resep tunggal yang baku bagaimana menulis kritik film yang baik.
2.    Ada seperangkat parameter yang dapat dipakai sebagai pedoman pembuatan kritik film yang lebih terukur.
3.    Pengkatagorian jenis atau bentuk kritik film biasanya cenderung dilakukan oleh para ahli atau pengamat bukan oleh kritikus filmnya sendiri.

Mengapa?
1.    Pada dasarnya secara naluriah setiap orang adalah kitikus, baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain. 
2. Tak ada syarat formal untuk menjadi seorang kritikus film, tetapi secara subtansial selayaknya kritikus memiliki karakteristik tertentu.
3.  Kritikus film dapat menjaga keseimbangan antara reaksi-reaksi emosionalnya dari film yang ditontonnya dan uraian jalan pikirannya terhadap analisis yang dibuatnya. 
4.   Seorang kritikus film, uraian, argumentasi dan pemikirannya "dihargai" dan "diapresiasi" khalayak, walaupun belum tentu disetujui.

Syarat Kritikus Film
1. Seorang yang sering, senang dan berminat menonton film. Memiliki perbadingan banyak film. Tetapi kritikus film berbeda dengan sekedar pencandu film. 
2. Memiliki pengetahuan yang luas terhadap  dunia perfilman, baik estetik, etika, teknikal dan sosial budaya.
3. Kritikus film pemikir yang jeli tetapi sekaligus juga memiliki kepekaan  dan intink  kuat  terhada unsur –unsur filmis. 
4. Memiliki kemampuan mengutara analisisnya dengan menarik dan sesuai dengan bidang komunikasinya.

 Jadi kesimpulannya:
1. Kritik  film tidak sama dengan berita film.
2. Kritik film bukan repotase, features dan wawancara film.
3. Kritik film bukan promosi film dan juga bukan antipromosi film.
4. Kritik film ialah daya upaya maksimal dari seorang pengamat/peneliti film  untuk mencari hakekat dan makna suatu karya film secara sistematik dengan menyimak, menimbang, menilai  dan menafsirkan baik dari relevansi estetika, etika, maupun  sosial budaya   .

 


 bersambung...
 
Terima Kasih atas kiriman materinya, teman-teman KOFI SUMUT.

Tidak ada komentar: