Kamis, 14 September 2017

Aku Rindu (8)

Setelah semua yang kulakukan untukmu, kau hanya menganggapku sampah dan aku tak berarti lagi untukmu. 
Serupa rindu, dendamku berkarat. Serupa cinta, kebencianku mendekapmu erat.

*

Tadinya, kumiliki kuatnya keyakinan tentang kita. Aku sudah berecana walau kutahu jalanku salah. Kukuatkan hatiku, segala resiko, termasuk dibenci oleh orang-orang yang mengenal kita, siap kuhadapi demimu. Kuyakin kata hatiku tak pernah mampu berdusta, kau akan bahagia denganku dan kau tahu itu. Namunlagi-lagi, kau menafikan anganku.
 
Tak seorangpun mampu mendeskripsikan rasanya, kekasih. Bahkan terlalu amat perih, hingga kembali kututup rapat-rapat pintu hatiku bagi kaummu. Jangan salahkan aku mengapa ini terpikirkan lagi walau kau pernah mengatakan bahwa aku harus menemukan penggantimu. Kau kira menemukan penggantimu, semudah kau mencampakkanku? Kau tak tahu. Yang pasti, ini semua sebabmu. Kau melukaiku terlalu dalam.
 
Kau kira, cuma kau saja yang mengisi hari-hariku? Tidak, kekasih. Meski tak sesempurna perempuanmu, beberapa lelaki masih mencoba meraih hatiku. Berupaya menempatkan diri mereka sebagai bagian terindah di hidupku. Mereka menawarkan pesona yang mungkin akan membuat perempuan-perempuan lain luluh. 
 
Berbeda denganku. Jangankan luluh, mereka kuanggap serupa angin lalu. Persis seperti apa yang kau lakukan, memungutku sesaat, lalu seringan mungkin melepas semua tentangku tanpa mau berusaha melengkapiku, bahkan secuil pun. Itu pula yang kulakukan kepada mereka. Kunikmati mereka sesaat, lalu dengan keahlianku memutar balikkan realita sepertimu, kulepaskan mereka.
 
Bagimu, dengan melepasku, bebanmu telah ringan. Sementara aku? Masih berkutat dengan racun di depanku. Mencari cara, agar kumangsa kaummu yang lain tanpa ampun. Tepat seperti caramu. Akan kuporak-porandakan hati mereka tanpa ampun.
 
Tepat serupa yang kau lakukan demi menghindariku dan menenagkan hati perempuanmu, kau tak mengabarik. Aku tahu, kau lakukan itu bukan berarti kau tuli atau mati. Aku tahu, kau mengamatiku, meski dalam diam yang merongrong jiwamu.
 
Kau sengaja, bergeming melihatku, bahkan ketika aku marah, Kau  membiarkanku dalam rindu mendalam. Aku tahu kau sengaja, namun kau tahu aku bukan barbie atau gadis penyuka warna merah jambu yang lemah.

*
 
Kekasih, kau juga tak bodoh dalam menganalisa hasratku. Kau sangat mengenalku. Kau tahu bahwa telah kulukiskan bayangmu pada dinding-dinding malam. Bibirku memang masih merapal namamu. Investasi rasa yang kupunya sejak beberapa tahun terakhir, memang belum dan tak tahu kapan berganti. Meski pesona lain fluktuatif, namamu kadung terpatri, walau kini hanya sisakan dendam.

Bibir tebal, kulit legam, tubuh cungkring berambut keriting itu memang sudah kembali ke habitatnya, namun sesekali kau masih mengawasiku. Kekasih, meski kau sengaja melupakanku, keringatmu masih terendusku.

Tidak ada komentar:

Review Pure Papaya Ointment: Salap dengan Jutaan Manfaat

Kulit kering bagi kita, terutama perempuan, merupakan sebuah masalah. Pastinya, ini akan membuat kita malu, karena kulit kering terseb...