Jumat, 06 Juli 2012

Anak dari Keluarga Mampu Rentan Terhadap Bahaya Internet

Di zaman yang serba modern sekarang ini, Internet bukan barang asing lagi untuk semua orang. Dari orang dewasa, remaja sampai anak-anak usia sekolah khususnya SD telah mengenalnya bahkan sering mongkonsumsinya. Tentu ini tak mengherankan lagi bagi kita, bukan?

Pernah suatu ketika di siang hari sekitar pukul 13.00, saat itu saya ingin memakai komputer untuk mengakses internet di salah satu restoran cepat saji, namun saya harus mengantri terlebih dahulu karena komputer – komputer itu sedang digunakan oleh anak – anak berseragam SD lengkap dengan tas sekolahnya. Saya pun bertanya kepada salah satu anak, “kalian satu sekolahan ya, jam segini udah pulang sekolah?”. “iya, kami kawan-kawan sekelas, jam segini udah pulang sekolah lah kami, makanya main-main dulu kesini sekalian makan”, jawabnya.

Anak yang lain (Doni) bertanya kepada saya, “kakak punya facebook, gak?, apa alamatnya kak?, biar aku add. Tentu saya tak memberi alamat facebook saya, saya Cuma mengatakan, “sini deh alamat facebookmu, biar kakak yang add kamu”. Lalu ia memberikan nama facebooknya lengkap bersama emailnya.

Seketika ada seorang temannya yang selesai memakai komputer itu dan saya pun menggantikannya. Lalu saya pun mencari alamat facebook anak tadi dan mendapati nama facebooknya yang juga dibenarkan olehnya.

Doni ini juga menceritakan bahwa mereka sering juga bermain Game Online di warung internet (warnet). sekalian buka facebook, google, you tube dsb. Dirumah juga mereka punya komputer pun kebetulan mereka anak-anak dari keluarga mampu.

Anak-anak dari keluarga mampu memang rentan dipengaruhi oleh lingkungannya, terutama oleh internet. Apalagi untuk jaman sekarang terkadang saya mendengar, hari gini ‘gak punya facebook? ‘gak gaul! Atau hari gini ‘gak kenal internet? Dari mana aja kau?

Cukup miris saya mendengar ungkapan tersebut bila terlontar dari mulut anak SD yang berasal dari keluarga mampu. Mengapa saya katakan anak – anak dari keluarga mampu?

Seperti yang dilansir oleh www.metrotvnews.com , seorang Profesor di Sekolah Ekonomi London bernama Sonia Livingstone mengatakan bahwa anak-anak dari keluarga mampu lebih rentan terhadap gambar-gambar porno, menerima pesan seksual, dan terlibat perilaku beresiko. Mengapa demikian? Karena mereka punya waktu dan komputer di kamar pribadinya untuk mengakses internet daripada anak dari keluarga kurang mampu.

Mereka tak sadar sedikit demi sedikit telah memasuki salah satu gerbang kejahatan di dalam dunia maya yang mana nantinya mereka akan ketagihan dan melupakan kewajiban utama mereka yaitu belajar.
Menurut survey yang dilakukan terhadap lebih dari 1.000 anak, Livingstone juga menemukan 51 persen anak-anak mengaku mengabaikan pekerjaan rumah, keluarga dan teman-teman karena asyik berselancar di internet. Mereka bebas karena orang tua cenderung abai.



Disini peran orang tua dituntut untuk lebih agresif dalam memantau tingkah laku anak dalam berinternet. Seperti yang kita ketahui, Anak-anak dibentuk di rumah, maka Orang tua harus terlebih dahulu paham akan begitu banyak kejahatan dari dunia Online ini. Seperti banyak kejadian yang kita tonton di televisi tentang hilangnya seorang anak setelah berkenalan dengan teman mayanya.

Sebenarnya dalam menjaga anak dari perilaku kejahatan internet ini susah-susah gampang karena anak-anak sekarang sudah semakin ingin tahu dan banyak bertanya. Untuk itu ada baiknya :
1. Komputer itu di letakkan di ruang keluarga saja, supaya orang tua dapat mengawasi anak.
2. Jangan malas untuk ikut online bersama anak. Buatlah suasana senyaman mungkin antara anda dan anak seakan-akan anda tertarik dengan teman online si anak, dari situ anda bisa memantau si anak juga.
3. Sebagai orang tua, anda harus cakap terhadap situs-situs di internet. Anda harus mengetahui situs yang sering dibuka oleh anak anda dan mintalah ia memperlihatkannya, jika anak tak mau maka batasi kegiatan internetnya.
4. Katakan dengan tegas kepada anak supaya jangan pernah memberikan informasi pribadi mengenai dirinya kepada siapapun teman mayanya.
5. Jangan izinkan anak untuk bertemu teman mayanya, jikapun ia memaksa, pastikan anda ikut serta. Walaupun anda tak bisa bersama si anak, maka aturlah jarak duduk tidak jauh dari si anak dan teman barunya itu. Yang ditakutkan adalah seperti banyak kejadian di televisi akhir-akhir ini.
6. Jikalau pun fasilitas internet digunakan untuk mencari tugas dari gurunya, maka orang tua harus mengawasi tingkah lakunya. Bila perlu orang tua yang mencarikan. Bukannya memanjakan si anak, tapi usaha ini dilakukan demi mencegah si anak membuka situs-situs yang tak layak.
7. Berikan sedikit ketegasan kepada anak, katakan bahwa anda akan mengecek kelakuannya di internet setiap harinya. Katakan juga anda melakukan ini demi keselamatannya, bukan untuk memata-matainya.
8. Silahkan berikan perintah menutup suatu situs kepada anak jika si anak tak sengaja sesuatu yang mengerikan/berbahaya di internet.
9. Perdalamlah ilmu agama kepada anak supaya anak tidak hanya menghabiskan waktu di dunia internet. Lagi pula Ilmu agama dapat membentengi diri si anak dari perilaku kejahatan.

Sebagai orang tua, tak ada salahnya anda lebih memfokuskan diri dalam mengawasi buah hati anda dalam menggunakan internet mengingat di jaman yang serba internet ini kejahatan akibat dunia maya sedang marak-maraknya. 

Ingatlah selalu bahwa orang tua dan keluarga di rumah adalah ujung tombak pembentukan moral dan etika seorang anak.
Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua. Salam sayang dari saya untuk anda sekeluarga.

Tidak ada komentar:

Peran Industri Kreatif Anak Muda Indonesia di Era Milenial

Sungguh beruntung, Kota Medan mendapat kesempatan dalam rangkaian sosialisasi 4 Tahun pemerintahan Kabinet Kerja yang diselenggarakan ol...