Selasa, 25 September 2012

Mereka Adalah Lelaki (2)


Oleh : Su He dan Auda Zaschkya

Pembicaraan yang seharusnya menjadi media sharing and connecting diantara kami, seketika mulai berubah seraya wajah Riski yang tampak tegang dan penuh keseriusan. Aku melihat sorot matanya yang tajam seperti tengah memikul beban, beban suatu rahasia besar. Suaranya pun mendadak menjadi lebih berat.
Saat itu, aku tak berani menatapnya ditengah keresahan hatiku yang sedang menahan setumpuk rindu. Rindu yang kupendam selama delapan tahun, seketika berubah menjadi kecemasan besar, dimana ketika Riski yang sebelumnya banyak berbicara, tiba-tiba diam seribu bahasa dan menjawab beberapa pertanyaanku sekenanya.
Hatiku terus bertanya, ada apa dengan Riski? Apakah ada kesalahanku yang tak kusengaja ketika obrolan ringan tadi berlangsung?
Jika aku boleh jujur kepada Riski, aku akan mengatakan bahwa selama delapan tahun ini, aku masih sering merindukannya. Namun ketika aku harus menyaksikan gelagat Riski yang mencurigakan dan tiba-tiba menjadi pendiam, ingin pula kukatakan bahwa aku mulai bosan dengan obrolan ini.
Setelah hampir tiga jam Riski berada di rumahku. Kemudian ia berkata dengan suaranya yang masih berat, “Nda, ada yang ingin kukatakan padamu yang selama ini kupendam”. “ya katakanlah. Dari tadi juga aku lagi nunggu kamu ngomong lho !! Tapi jangan bilang cinta ke aku ya, aku udah jadi istri orang”, sambil berusaha tersenyum guna mencairkan suasana tegang ini, dan ah.. dia memang masih lelaki yang dulu, yang selalu tertawa mendengar obrolan ringanku. Tolong, jangan hentikan tawa itu, aku sangat merindukan riuh tawamu, bisikku dalam hati.
Namun, dibalik tawa khasnya yang selalu kuingat, Ia makin terlihat gugup. Keringat membanjiri kemeja casualnya, tak lupa buliran peluh itu pun membasahi wajahnya. Minuman yang kusediakan di meja tamu juga telah habis diteguknya, namun Riski masih belum mau mengatakan hal yang dipendamnya.
Jam menunjukkan pukul 12.30 wib dimana beberapa menit lagi suamiku pulang ke rumah untuk makan siang.
“Ki, sebentar lagi suamiku pulang untuk makan siang di rumah. Kamu mau ikutan makan bareng kami?”, tanyaku padanya. “oh gitu, ‘nggak usah deh. Sebaiknya aku pulang saja. Nanti kehadiranku malah akan mengganggu kalian”, kata Riski masih dengan tampang gugup.
Kemudian ia berdiri dan hendak berjalan keluar. Sesampainya di depan pintu, suamiku pun sampai di rumah. Aku memandangi mereka, keduanya kelihatan gugup. Sejujurnya, aku kebingungan melihat tingkah mereka, seperti orang yang sedang berhutang saja. Namun segera kuhalau pikiran itu dengan mengajak mereka berdua menuju meja makan untuk makan siang bersama. Selama di meja makan, mereka tak banyak bicara. Mereka berbicara seperlunya jika aku yang memulainya.
Pukul 15.00 wib setelah aku mandi, suamiku pun kembali ke kantor. Tak lama Riski pun berpamitan untuk kembali ke rumahnya. Ia berkata bahwa sore nanti ia akan kembali ke kotanya dan mungkin bulan depan baru kembali kesini. Menurut ceritanya ia akan sering-sering kesini karena ia adalah pimpinan proyek pembangunan sebuah Mall baru di kotaku.
Berat bagiku untuk menyaksikan kepergian Riski dari rumahku. Apalagi tadi Riski mengatakan bahwa bulan depan dia kembali kesini. Itu berarti, rindu ini harus kutahan sampai bulan depan lagi. Oh,, aku ingin memeluknya saat itu.
Bersambung ….

Tidak ada komentar:

Peran Industri Kreatif Anak Muda Indonesia di Era Milenial

Sungguh beruntung, Kota Medan mendapat kesempatan dalam rangkaian sosialisasi 4 Tahun pemerintahan Kabinet Kerja yang diselenggarakan ol...