Kamis, 13 September 2012

Mereka Adalah Lelaki [ Bag. 1 ]


Oleh : Lilih Wilda dan Auda Zaschkya



Tak pernah terlintas dalam pikirku untuk menjadi isteri dari seorang pengusaha muda yang tampan dan sukses. Sungguh, hidup serba berkecukupan bersama seorang yang sangat romantis dan mengerti segala kebutuhan isterinya juga tak pernah kubayangkan. Pukul 04.30 pagi, ia membangunkanku untuk menunaikan shalat subuh setelah itu, aku selalu melanjutkan tidurku dan suamiku? Kemana ia? Sebelum ia berangkat mencari berlian untukku, ia menyiapkan sarapan pagi. Setelah selesai memasak, ia membangunkanku seraya mengecup keningku walaupun saat itu aku belum mandi. Ia juga selalu menuliskan kata-kata mutiara yang indah dalam selembar kertas dan diletakan di samping ranjang kami. Ah,, Aku diperlakukan bagai ratu di kerajaannya.

Pagi ini aku bangun, seperti biasa aku menemukan hal indah di kamarku. Aku tersenyum lalu meraih sarapan yang telah disediakan suamiku, tanganku juga meraih selembar kertas yang bertuliskan “sayangku, lihatlah ke luar, mentari sedang menyambutmu dengan suka cita”.
Aku tersenyum sambil mengunyah roti selai yang telah dia siapkan. Setelah sarapan, apa yang harus aku lakukan? Sejujurnya, situasi seperti ini sering membingungkanku. Mengapa? Ya.. sebab, aku terlahir sebagai perempuan rumahan. Aku tak suka menghabiskan waktuku untuk bersantai dan menghabiskan waktu serta uang suamiku di mall. Aku juga tak suka berlaku layaknya sosialita kebanyakan, padahal dengan uang dari suamiku, jalan menjadi sosialita sudah terpampang di depan mata. Bila alasannya ingin bersosialisasi, banyak jalan yang bisa kutempuh, mungkin aku bisa menjadi donatur di sebuah panti asuhan. Kebahagiaanku makin sempurna bersamanya. Dan jika aku ingin pergi kemana saja, aku tinggal menelepon suamiku. Suamiku langsung mengantarkan aku kemanapun kemauanku sebab lelakiku tak pernah sanggup membiarkanku sendiri.

Teman-temanku selalu berkata, “kau adalah perempuan yang sangat beruntung, Winda”. Sahabatku Fani juga berkata, “ah, Winda. Siapa yang tak mau mendapatkan semua ini. Sejujurnya terkadang kau membuatku dan teman-teman lain merasa iri”. Tanpa bisa berucap apapun, aku hanya bisa tersenyum.

Keberuntunganku pun lengkap saat suami dan teman-temanku berada dalam deretan kursi di dalam bioskop. Bukan bermaksud untuk membuntutiku, Cuma ia ingin selalu berada disamping isteri cantiknya yaitu aku. Teman-temanku sangat mengerti, mereka hanya bisa tesenyum melihat polah suamiku bahkan tak jarang juga mereka mengajak suami-suami mereka.

***

Pukul 07.00 pagi, seperti biasanya suamiku Willy telah berangkat ke kantor. Seusai mengantarnya ke depan pintu dan melihatnya pergi, aku kembali ke kamarku. Sambil berbaring di ranjang, pikiranku menerawang jauh ke masa lalu, dimana saat itu aku masih menjadi seorang pegawai di perusahaan percetakan kertas di kota ini.

Saat itu, aku memiliki seorang penguasa hati bernama Riski. Menjalin cinta dengan Riski adalah kebahagiaanku sebab Riski adalah pacar pertamaku sekaligus cinta pertamanku. Kami berpacaran sedari SMA. Mungkin laki-laki seperti Riski ini adalah yang paling digilai banyak perempuan. Dia itu termasuk type bad boy dimana ia cukup cuek, bahkan ia tak pernah memberiku setangkai mawar atau sebatang coklat tapi prestasinya di sekolah patut diacungi jempol. Entahlah, aku juga tak tahu mengapa aku sangat mencintai Riski. Segalanya tentang Riski telah kuketahui dan aku dapat memakluminya, namun 5 tahun usia kebersamaan kami, ia tak kunjung melamarku. Riski selalu berkata bahwa tabungannya belum cukup. Ataupun karena ia berasal dari keluarga yang sangat sederhana makanya ia belum berani melamarku sampai akhirnya aku menikah dengan suamiku, Willy.

***

Berkenalan dengan Willy adalah suatu ketidaksengajaan yang awalnya tak kusukai. Namun seiring berjalannya waktu akhirnya aku tertarik untuk menikah dengan anak pengusaha terkenal di kota kami. Orang tuanya yang kebetulan adalah teman lama papaku menjodohkan kami. Willy adalah sesosok lelaki pintar dan juga lembut. Wajah tampannya adalah perpaduan Sunda dan Arab. Setelah ia melamarku dan diterima oleh papaku, akhirnya aku memutuskan menikah dengan Willy dan meninggalkan Riski si bad boy yang tak pernah memberikan kejelasan untuk masa depan hubungan kami.

Setelah ijab qabul, pesta pernikahan kami diselenggarakan dengan mewah. Layaknya seorang putri, aku sangat berbahagia bersanding dengan Willy yang berwajah tampan ini. Selesai pesta pernikahan, keesokan harinya kami langsung pergi berbulan madu ke Bali. Disana sudah dipersiapkan sebuah kamar yang pemandangannya langsung berhadapan dengan pantai. Sangat indah, bukan? Ah.. lelaki disampingku sangat tahu memperlakukan wanita. Dan malam ini adalah malam yang indah dimana aku diharuskan mempersembahkan kesucianku pada laki-laki perkasa ini.

Setelah aku melaksanakan kewajibanku, aku terbangun di pagi hari. Pagi yang sangat cerah bersama suami yang baru aku kenal sebulan yang lalu. Sambil memelukku, ia mengatakan sesuatu, “sayang maafkan aku. Mungkin aku tak bisa memenuhi kewajibanku sebagai suami. Aku tahu bahwa aku telah mengecewakanmu. Tapi aku akan berusaha, kita berdua akan berusaha untuk kebahagiaan kita”. Mendengar lirihnya, aku hanya mampu terdiam. Aku tak tahu harus berkata apa.

***

Ucapan itu telah terngiang ditelingaku sejak 8 tahun yang lalu, namun sebagai perempuan normal yang ingin memiliki anak, aku masih saja memikirkannya.
Tak terasa, dua jam juga aku telah kembali ke masa lalu. Sekarang Sudah jam 9 pagi. Terdengar olehku suara bel rumah yang tak kunjung dibuka oleh pembantuku. Sebenarnya cukup malas jika harus kuangkat tubuhku menuju pintu depan, namun suara bel yang tak kunjung berhenti itu benar-benar mengganggu, akhirnya aku bangun dari tempat tidur. Dengan masih berpiyama, aku membuka pintu dan melihat sesosok tubuh sedang membelekangiku. “Siapa ini?”, pikirku sejenak sebelum ia berbalik ke arahku.

Sungguh tak kusangka dan tak kuduga, ternyata imajinasiku di ranjang tadi menjadi kenyataan, dimana lelaki masa laluku tengah menyunggingkan senyum termanisnya di hadapku. Dia Riski, mantan kekasihku, si badboy itu. Menyambut kedatangannya yang tak terduga itu adalah kebahagiaan tersendiri untukku. Bagaimana tidak? Aku sedang bertatapan dengan seseorang yang selama ini aku cintai selain suamiku.

Lalu aku mempersilahkan Riski untuk memasuki rumahku. Setelah menyuguhkannya air dan beberapa cemilan, kami pun saling berbicara tentang kehidupan kami sekarang. Akhirnya kami Sampai pada satu titik pembicaraan.

Bersambung ….

Tidak ada komentar:

Peran Industri Kreatif Anak Muda Indonesia di Era Milenial

Sungguh beruntung, Kota Medan mendapat kesempatan dalam rangkaian sosialisasi 4 Tahun pemerintahan Kabinet Kerja yang diselenggarakan ol...