Rabu, 26 Desember 2012

Refleksi Sewindu Tsunami : Tetap Tegar Menghadapi Tahun 2013


Medan, 26 Desember 2012

Hari ini, saya kembali terkenang pada musibah besar yang terjadi 8 tahun silam. Musibah yang telah merenggut ribuan korban dimana diantara korban tersebut adalah teman dan saudara saya. Musibah besar yang telah meluluh lantakkan pantai barat aceh sampai ke beberapa negara lainnya. Untuk memperingati mereka yang telah mendahului kita, maka telah dibangun museum Tsunami yang terletak di kota Banda Aceh.
Kini saya berdomisili di kota Medan. Tentunya banyak yang bertanya, marga saya apa ? Tidak, saya tidak memiliki marga karena saya bukan asli Sumatera Utara. Sekarang saya berdomisili di kota ini karena saya tidak memiliki rumah lagi di kampung halaman saya. Mengapa saya bisa pindah dan melanjutkan pendidikan disini?

*

Tanggal 25 Desember adalah tanggal yang menegangkan bagi saya di delapan tahun silam. Betapa tidak, pada hari senin tanggal 27 Desember 2004 rencananya saya akan di hadapkan pada kenyataan yang mana saya harus menjalani operasi. Dokter telah menjadwalkan saya untuk dioperasi. Kalimat yang sebenarnya teramat menakutkan bagi saya setelah mendengarkan vonis dokter. Apalagi sejak beberapa hari sebelumnya, saya telah menjalani tes darah dan tes urine. Sejujurnya saya menganggap ini adalah malapetaka baru bagi saya. Namun, ternyata Dia berkehendak lain. Saya harus dihadapkan terlebih dahulu dengan satu peristiwa yang maha dahsyat yaitu Tsunami.

13564574781668016613
http://katakpintar.blogspot.com/2011/07/tsunami-aceh-2004-ternyata-terjadi-600.html

Minggu pagi, 26 Desember 2004. Seperti biasa saya menonton film kartun di televisi sembari menahan sakit dan sarapan pagi. Entah karena sedang pusing, saya merasakan gempa yang awalnya ringan namun lama-kelamaan menjadi berat. Saya dan ibu langsung berlarian ke luar rumah dan duduk di tengah jalan beraspal bersama warga asrama lainnya sambil berdo’a. Beberapa menit kemudian gempa yang kencang tadi pun berhenti dan kami masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah kami mendapati tumpahan air bak yang membajiri dapur, berarti gempa yang tadi kami alami cukup dahsyat. Tak lama para warga yang tinggal di lokasi di belakang asrama kami telah berlarian dan berkata “air laut naik, tinggi sekali”. Saya dan ibu pun panik dan bersama warga lainnya berlarian mencari tempat untuk berlindung. Yang anehnya, entah kekuatan dari mana saya sanggup berlari padahal seperti yang telah saya katakan, saya sedang sakit dan bersiap untuk di operasi.

Sekitar 10 menit, akhirnya kami sampai di sebuah gedung sekolah dan langsung naik ke kelas-kelas yang berada di lantai dua. Tak lama berselang, air pun sampai dan telah membanjiri lantai satu. Saya memandang ke arah jendela bahwa ada beberapa manusia yang telah mrnjadi mayat yang terbawa derasnya arus air laut ini. Gempa susulan pun masih dapat saya rasakan walau tak seberat gempa 8.9 SR itu. Malam harinya, saya tidur di atas meja kelas tersebut.

Keesokan harinya sekitar pukul 09.00 Wib setelah air laut tersebut surut, saya dan ibu kembali ke rumah untuk mengambil surat-surat penting yang diletakkan oleh ibu di dalam satu koper. Di dalam rumah kami yang telah porak poranda itu, terdapat beberapa mayat yang masuk dari berbagai lubang besar di dinding. Sekitar pukul 12.00 Wib, tibalah abang sepupu saya ke sekolah itu. Kemudian saya dan ibu dibawa pulang ke rumahnya. Malam itu kami menginap di rumahnya. Karena situasi dan kondisi transportasi yang parah, abang kandung saya baru tiba di Banda Aceh hari Rabu 29 Desember 2004. Pukul 12.00 siang kami pun menuju bandara Sultan Iskandar Muda hendak bertolak ke Medan. Sesampai disana, kami tak langsung memperoleh tiket dan baru berangkat ke Medan pada hari Kamis, 30 Desember 2004 sekitar pukul 04.30 wib.

Setelah tahun baru 2005 saya dibawa ke salah satu klinik. Dan dokter pun mengatakan bahwa saya tidak boleh menjalani operasi dulu karena umur saya saat itu masih dibawah 17 tahun. Saya hanya diberi obat dan suntikan 3x selama 3 bulan. Masing-masing perbotol harganya saat itu Rp 1.005.000,00. Setelah menjalani injeksi itu, saya belum sembuh total.

Sembari tetap melanjutkan sekolah SMA sampai kuliah dulu, saya menjalani berbagai pengobatan dengan medis yang dilanjutkan lagi pada tahun 2006 saya mengunjungi dokter di Rumah Sakit yang berlokasi dekat rumah. Berobat disana setiap bulan dengan diberi obat dan suntikan sampai pada akhirnya dokter tersebut berkata bahwa sudah cukup untuk disuntik yang ada badanmu makin besar saja. Suntikan itu pun saya jalani hampir 3 tahun. Dan akhirnya saya pun bosan dengan obat dan suntikan, saya hanya mengunjungi dokter jika sakit saja.

Mei 2012, saya sendirian pergi ke rumah sakit. Setelah dilakukan cek ulang, betapa terkejutnya saya karena kembali dokter menyarankan bahwa saya harus di operasi. Saat itu dokter menyuntik saya dan memberi obat lagi. Pulang ke rumah, saya mengatakan juga kepada mama dan abang. Abang tak memberi izin saya untuk melakukan operasi. Katanya, kemungkinan kambuh masih bisa. Jadinya, saya sekarang menjalani pengobatan alternatif saja. Harapan saya, semoga saya dapat pulih tanpa menjalani operasi.

*

Yang ingin saya katakan sebagai refleksi disini adalah mau tidak mau saya harus mengakui bahwa penyakit ini adalah salah satu sumber kekuatan saya dalam menjalani hidup sampai hari ini.

Dan harapan saya untuk tahun 2013 yang akan datang  adalah tetap tegar dan jangan mudah menyerah dalam menjalani hidup. Jalani hidupmu apa adanya. Bila sedang melanjutkan pendidikan, jalani sebaik-baiknya. Bila telah bekerja, jalani pekerjaanmu. Tetap jadi dirimu sendiri.

Menjalani hari seperti ini tak menutup kemungkinan saya pun bisa galau. Namun sebisa mungkin tradisi menggalau itu saya hindari, karena menurut saya pribadi galau itu tak berguna karena hanya menghambat proses berpikirmu dan membuatmu malas serta menutup diri.

Selasa, 18 Desember 2012

Para Lelakiku

Memasuki hidupku adalah suatu kemudahan bila kau mau mengerti akan duniaku. Namun, ini akan menjadi sebaliknya. Sebaliknya dimana akan mudah pula menjadi sulit bila kau tak menyukai dan menghargai seorang aku. mungkin kau melupakan bahwa aku perempuan biasa yang memiliki andil untuk hidupku.
Katakanlah aku liar. Hm.. atau jika kau mau lebih lembut maka cukup kau katakan bahwa seorang aku sangat keras kepala. Ah,, kurasa di situ pun kau keliru.
Aku memang keras kepala, namun bagaimana dengan hatiku. Kau tak tahu, bukan? Kau hanya melihat penampilan luarku. Kau hanya mengetahui kecintaanku dengan si hitam pekat bernama kopi. Dan kau pun sempat menyangka bahwa pasangan kopiku adalah rokok.
Tidak !!! Aku tak mau membuang uang ibuku dengan melakukan kebodohan yang dapat mengganggu kandunganku nanti. Bibir merahku tak pernah ingin bersentuhan dengan rokok dan hidung bangirku tak mau menghirup kepulan asapnya.
Terserah apa katamu. Namun, jangan pernah berharap jabatanmu di hatiku akan naik lebih dari seorang teman jika kau hanya bisa melarang-larang aku dan inginku. Dan jika kau sanggup berkata aku egois, maka perkataanmu kucampakkan lagi ke mukamu. Kau tahu, betapa egoisnya kau. Kau egois!!!
Kau hanya menginginkan aku sebagai budak yang menggarap lahanmu. Kau beralasan agar aku tak lelah jika harus memandang dunia luar. Ah, alasanmu sudah basi. Cukup memuakkan.
Kau tahu, aku bukan anak kecil yang harus mencium aroma ketiakmu. Aku adalah wanita dewasa yang telah mampu berpikir akan kebaikan, setidaknya untuk diriku sendiri. Aku tak sanggup menurutimu sebab kau tak hargai arti hadirku di dunia ini.
Jika kau menginginkanku, maka terimalah aku sepaket dengan duniaku. Jika tidak, silahkan pergi. Temukanlah bunga baru yang bisa kau hisap madunya sepuasmu siang dan malam.
Memang benar, aku membutuhkanmu. Bahkan aku ingin mengecap lagi manisnya madu cinta bersamamu. Namun aku lebih merelakan kepergianmu daripada adamu hanya mampu melemahkan akal dan pikirku.
Menyesalkah aku? Ya.. mungkin dapat dikatakan begitu. Mencintaimu adalah hal terberat yang pernah kulalui di hidupku. Literan air mataku pun tak sanggup ubah keputusanmu agar kau tak mengekangku. Dan ini sudah klimaks, sebaiknya aku pergi darimu.
***
Di saat seperti ini, aku merindukan sosok dia. Dia yang pernah ada di hidupku. Dia yang tak pernah mengekangku. Dia yang tak pernah mengguruiku. Dia yang selalu mendukung lakuku. Dia tak mengkhawatirkanku secara berlebihan sepertimu, karena ia tahu, karena ia percaya bahwa aku tahu mana yang terbaik untuk kulakukan.
Mengapa aku begitu menghargainya bahkan cenderung menghormatinya? kau tahu, aku belajar darinya. Karena dia yang memberikan kebebasan mutlak atas aku dan duniaku. Ya.. namun ia telah pergi dariku. Kau memang benar. Jauh sebelum aku mengenalmu memang aku telah berpisah dengannya.
Saat itu, aku benar-benar hancur. Bagai dilanda tsunami, hatiku porak poranda. Bahkan tangisanku pun tak pernah digubris olehnya. Aku marah. Sangat marah !!! dan dalam hatiku tertanam kata JAHAT. Ya,, aku menganggapnya penjahat. Pencuri yang telah merampok separuh hatiku.
Dia tak sepertimu, ia menyukaiku dan duniaku. Dia benar-benar memberiku kenyamanan hingga aku lupa ia pun punya hati dan pikiran yang mampu berseteru karena tingkah kekanak-kanakanku.
Di saat itu pula, aku yang mutlak mengagungkan logika seketika menjadi perempuan bodoh yang tak dapat berpikir akan suatu kenyataan. Logika kebanggaanku runtuh dihantam kesedihan sebab perihnya batinku sebab ulahnya. Dia telah menghancurkan hatiku. Namun di hatiku masih tersimpan semua kenangan tentangnya.
Namun lama-kelamaan, aku pun menyadari. Dan kini aku mengerti alasannya meninggalkanku. Dia pergi demi kebaikanku, demi terciptanya seorang wanita tegar yang mandiri dan dewasa yang selalu ia dambakan.
Dan yang kau kenal ini adalah aku, aku yang mampu melakukan apapun semampu dan sewajarnya menurut norma agama, kesusilaan, dan kodratku sebagai perempuan serta keinginanku, ya wajar saja menurutku.
Padanya ingin kuucapkan jutaan terima kasih sebab perlakuannya yang hampir membunuhku telah mampu mendewasakan akal dan pikirku. Terima kasih telah menempaku menjadi perempuan dewasa yang tidak selalu melegalkan air mata untuk urusan hati.
Darinya aku belajar bersabar, tak terburu-buru dan lebih santai dalam menyikapi hidup serta berjalan pada porosku sendiri tanpa membebani siapapun di sekelilingku. Terima kasih untukmu karena telah ajarkanku menjadi wanita dewasa yang tak hanya mengandalkan air mata untuk menyelesaikan masalah yang tengah kuhadapi. Kini, Ingin ku katakan padanya, “Kau tahu, walaupun aku telah mampu lepaskanmu namun hati kecilku masih merinduimu.”
Cintanya padaku memang masih ada, masih sebesar dahulu. Semakin menyadarkanku ketika beberapa malam ini aku dihantui olehnya. Namun di mimpi itu, setelah ia berjalan mendekatiku, seketika ia pergi. Pergi entah kemana dan aku pun menangis.
Hey… itu hanya mimpi !!! Mimpi itu bunga tidur, bukan?
Baiklah, sebaiknya aku tak usah berharap padamu atau pun padanya lagi, sebab mengharapkan kalian hanya menyakitiku. Ah, sudahlah.. mungkin ia pun telah melupakanku namun ketulusannya tak dapat kulupakan begitu saja. Karenanya, aku masih bertahan hingga hari ini.

Minggu, 09 Desember 2012

[Gombal] Sang Pecinta Pun Harus Skeptis


Pertama berkenalan denganmu, disini. Saat itu, kau menitipkan akun twittermu di postinganku. Niatku saat itu hanya ingin berteman denganmu. Tak lebih. Setelah sekian lama kita berhubungan di twitter, namun kau seperti tak berinisiatif untuk memberikan nomor ponselmu padaku.

Kau kira, lewat Direct Message (DM) dan saling mention di twitter, cukup? Tidak bang. Itu tak cukup.
Kau kira semudah itu menjalani pertemanan? Tidak !!!
Sampai akhirnya aku yang meminta nomor ponselmu dan kau pun memberikannya.

***

Mengapa aku yang meminta? Mengapa kau tak punya inisiatif? Saat itu memang sedikit perasaan kecewa menghampiriku namun terobati ketika kita sudah mulai mendengarkan suara kita masing-masing.

Hampir setiap malam, kita saling bersenda gurau. Di saat itu pula kau selipkan kata cinta. Aku memang tak begitu menanggapinya, namun aku juga memikirkannya. Dalam hati aku berkata : Oh My God, mengapa kata yang terdiri dari 5 huruf keramat itu terucap olehmu?

***

Bukan, bukan karena aku tak bahagia mendengarnya. Logikanya begini, perempuan mana yang tak berbunga-bunga hatinya bila mendapatkan kata cinta diikuti kata rindu dari seorang pejantan yang sering berinteraksi dengannya?

***

Kau tahu, aku mengagumimu, lewat puisi-puisi manismu yang bertemakan tentang aku.
Aku tak menolakmu, namun aku juga tak menerimamu cintamu untuk saat ini.
Karena apa? Karena kau tak di dekatku, karena kau tak berdomisli di kotaku.
Kau mau kita menjalin cinta maya? Tidak !!!
Aku tak mau lagi membuang-buang energiku hanya untuk mencintai orang yang tak nyata, orang yang tak ada di hadapanku.

***

Kau tahu sayang,, Layaknya seorang wartawan, seorang pecinta pun wajib mempunyai sikap skeptis.

***

Lewat tulisan ini, aku tak ingin menggombalimu
Aku Cuma ingin katakan : Jelas, Aku membutuhkanmu  kini walau tanpa status !
So, kalau mau jelas.. aku mengundangmu, datanglah ke kotaku dan temui aku.

Tentang Rindu


Kekasih…
Kesedihan bertahta rindu mendalam disaat menantimu
Seketika rasa rindu itu semakin membuncah ketika mentari berganti bulan
*
Aku tahu, Ini saatnya
Waktu yang telah kita khususkan untuk bersama
Tuntaskan hasrat rindu dalam kalbu
Yang selalu bergemuruh dalam ragaku
*
Dapatkah kau bayangkan bagaimana rasa di hatiku?
Tahukah kau bahagianya hatiku,
Ketika mendengar merdunya desahan nafasmu
Apalagi jika dapat kurengkuh kau dalam pelukku
***
Entah musabab apa jantung ini pun degupnya melemah di setiap gelap bertingkah
Ada semacam kagalauan menusuk pori, hingga diriku menggigil nyeri
*
Aku bertanya pada kunang-kunang, “mengapa degup jantungku tak tenang?”
“Kau hanya butuh pelukan kenang-kenang,  sebab kau tengah merindukan seseorang”, jawab kunang-kunang lantang.
*
Dan gelap pun semakin bertingkah
Ingin menutup mataku yang tak henti menatap langit malam
*
Aku berharap rengkuhan rindumu, benar-benar bersatu dengan ragaku saat ini
Dalam gelapnya malam, hingga pagi menjelang
*

Ada Cinta Di Warung Kopi


***
Adalah Agoes dan Auda yang bersahabat sedari kecil. Kemana-mana mereka selalu bersama. Kedekatan mereka cukup kental, layaknya kopi pekat yang selalu diteguk Auda.
Bagi orang yang tidak tahu akan persahabatan mereka, pasti akan mengira mereka adalah pasangan kekasih. Namun tidak dengan mereka. Bagi Auda, persahabatan mereka lebih indah. Tetapi bagaimana dengan Agoes?

***

Suatu hari mereka sedang on line bersama di warkop favorite mereka. Seperti biasa, pesanan mereka selalu berbeda. Agoes tetap setia dengan Mandi (teh manis dingin)nya sedangkan Auda lebih mencintai Kopi hitam.

Ditengah keasyikan berselancar di dunia maya itu, tiba-tiba Agoes nyeletuk.
Agoes : da,, kenapa sih suka sekali sama kopi hitam?
Auda   : hmm,, karena da mencintainya bang. Kenapa ya?
Agoes : o.. gitu ya. Gak ada apa-apa kok. Cuma cobalah belajar mencintai lawan jenismu da. Masa’ udah segini umurmu, cowok pun belum punya.
Auda : pengen sih, tapi ya nanti deh bang. Gak tau mau mencintai siapa, toh kebanyakan cowok ‘gak suka kalau seorang cewek itu doyan ngopi. Mungkin bagi cowok-cowok itu, da ini terlalu kasar jadi seorang cewek. terussssssss.. pacarmu sendiri mana bang?

Mendengar jawaban sekaligus pertanyaan Auda, Agoes diam sejenak lalu berkata,
Agoes : Aku ‘gak gitu kok da. Biar pun yang lain berkata begitu, tapi buatku Auda tetap yang termanis kok. Aku ‘gak punya pacar tuh. Aku kan sukanya sama kamu, Da.

Mendengar jawaban Agoes, auda pun tertawa.
Auda : hahahaa.. udah ah bang, gak usah gombal. sadar bang.
Abang kan tau, da ‘gak suka di gombali cowok.
Agoes : aku ‘gak gombal kok da, heheehe.. itu kan kata hati terdalamku.
Auda : terus, maksudnya gimana ya bang?

Agoes yang bingung mau jawab apa, Cuma bisa mengernyitkan dahi.
Agoes : da… kamu itu bego’ atau bodoh sih. Masa’ gak ngerti sih sama yang aku bilang.
Auda : hadohhhhhhhhh,, ‘gak tau sekalian ‘gak ngerti bang. Emang apaan sih?

Agoes yang ternyata menyimpan rasa selama ini, tiba-tiba mengatakan perasaannya.
Agoes : biarin aja orang mau bilang apa. Sebagaimana teh yang menjadi teman setiaku,kamu itu selalu di hatiku. Hatiku menyimpan namamu, Da.
Auda : hahahaa.. emangnya hatimu bisa ngukir nama ya bang? kayak ukiran nama yang dikuburan itu 
Agoes : please deh Da.. jangan ketawa terus. lagian emang bisa kok.  Nih buktinya, aku selalu mengukir namamu di hatiku. Aku maunya kamu selamanya sama aku, Da.
Auda : hmmm..hahahaa,, mana bang??? Cobalah da tengok..
Agoes : Belah dadaku Da.
Auda : hahahaa.. horror gitu kedengarannya ya bang..

Auda yang masih ingin mengalihkan pembicaraan, bilang
Auda : kok aku rada deg-degan gitu ya bang. Kayak baru dikagetin sama kasus Andi Malaranggeng.
Agoes : eh iya tuh, bentar lagi Anas Urbaningrum pun keseret ya Da. Hahahaaa…
eh, kok jadi cerita politik sih? Aku kan mau ngomong serius da.
Auda : apa sih yang lebih serius dari politik dan korupsi bang?

Agoes pun kebingungan mau ngomong apalagi. Lalu auda pun mengatakan,
Auda : Da bukannya ‘gak ngerti abang ngomong apa dari tadi, Cuma ada yang da takutin bang.
Agoes : Apaan sih Da?
Auda : kita banyak perbedaan bang.
Agoes : perbedaan bukan halangan untuk saling mencintai, kan Da?
Auda : emang bukan sih bang. Tapi……………… ?
Agoes : tapi apa Da? Apa aku ‘gak pantas ya untuk jadi pacarmu?
Auda : iya,, Maaf ya bang. emang ‘gak pantes bang.
Agoes : eman kenapa da?
Auda : Aku ‘gak mau pacaran ah, capek aja. Makan hati.

Tiba-tiba muka agoes menampakkan kesedihan. Seketika teh yang ada di depannya segera diteguk sampai habis. Rasanya gelasnya pun mau dimakannya
Agoes : o.. gitu ya da.

Sambil tersenyum, auda pun mengatakan
Auda : iya bang. Da gak mau ah pacaran. Capek bener deh. Da maunya langsung merid aja J

Seketika agoes sumringah dan berkata
Agoes : besok aku langsung ngelamar kamu ya Da.
Auda : hahaaaha,,,, iyaa, Da tunggu janjimu bang.

Namun tiba-tiba dari muka agoes, memperlihatkan kesedihan. Dia bingung ngelamar pakai apa.
Agoes : aku gak punya apa- apa untuk ngelamar kamu da. Aku Cuma punya semangka dan melon. Masa’ aku harus ngelamar kamu sama mereka sih?
Auda : gak pa-pa kok bang. Gak usah terburu-buru. Buatku, semangka dan melon itu semanis cintamu bang.
Agoes : hahaha iya sih. Baiklah, besok aku akan lebih giat bekerja biar bisa ngabisin semangka dan melon buat beli cincin lamaran.

***

Malam itu, menjadi malam mereka jadian. Ah,, ini benar-benar warkop keramat bagi Agoes.

Kamis, 06 Desember 2012

Budaya Ngopi : Kopi Menjangkau Semua Kalangan !



Sebagai negara penghasil kopi ketiga di dunia (setelah Brazil dan Vietnam), tentunya Indonesia memiliki berbagai tempat penghasil kopi. Di setiap daerah penghasil kopi tersebut seperti Aceh, Sidikalang (Sumatera Utara), Bengkulu, Lampung, Jember, Pontianak, Toraja, maupun Wamena (Papua), sudah pasti memiliki rasa khas yang menggugah selera bagi penikmat kopi itu sendiri, sehingga dengan sendirinya ngopi itu pun menjadi budaya yang kental dalam menjalin silaturahmi dengan kerabat.

Untuk daerah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), budaya ngopi itu sendiri berdampak positif. Wali Kota Banda Aceh, Bapak Mawardy Nurdin mengatakan bahwa acara Aceh Food and Coffee Festival 2012 merupakan wujud dari budaya orang Aceh yang suka minum kopi seperti yang dilansir oleh www.atjehpost.com. Acara tersebut dimulai dari tanggal 31 Oktober 2012 - 4 November 2012 yang sayangnya tidak dapat saya hadiri karena sekarang saya tinggal di Medan.

***

Kopi Menjangkau Semua Kalangan

Banyak orang berkata bahwa kopi adalah minuman yang identik dengan kaum adam yang biasanya dinikmati bersama rokok dan berbagai cemilan. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi saya, walaupun saya pecinta kopi namun saya tidak merokok.
Kecintaan saya terhadap kopi pun semakin meningkat dengan sendirinya hingga kini karena banyak warung kopi yang menyediakan fasilitas free wifi di tempatnya. Bagi yang baru pertama mendengar kata warung kopi (warkop), pasti berpikiran warung kopi edisi lama dimana dikunjungi oleh bapak-bapak. Namun, warung kopi yang sering saya kunjungi didekorasi semenarik mungkin sehingga tampak seperti cafe pada umumnya, sehingga menampilkan kesan sebagai tempat yang tepat untuk bersantai bersama teman.

Para pengunjung warung kopi tersebut bukan hanya bapak-bapak, tapi juga diramaikan dengan para eksekutif muda dan tak ketinggalan para mahasiwa/i. Sejauh yang saya perhatikan, kedatangan mereka ke warung kopi bukan hanya untuk ngopi atau bersenda gurau atau sekedar berhaha-hihi dengan teman, tapi juga untuk menyelesaikan berbagai tugas dari kantor maupun kampus yang harus dicari di internet.

Tentunya fasilitas free wifi ini sangat membantu mereka mengingat kartu/paket berlangganan modem sendiri sudah sangat mahal. Jadi dengan adanya free wifi di warung kopi itu, mereka dapat berhemat khususnya mahasiswa/i yang kondisi keuangannya masih cukup riskan untuk mengisi pulsa modem. Tak hanya itu, di dalam warung kopi disediakan layar besar yang digunakan untuk menonton pertandingan bola, seperti yang saya lihat di salah satu warung kopi langganan saya ketika kejuaraan Piala AFF pada tahun 2010 lalu. Lalu, kapan sholatnya?
Ya. Ini adalah pertanyaan yang sering saya jumpai ketika saya berbicara kepada teman disini maupun teman chatting. Kapan sholatnya? Pasti ‘gak ingat sholat deh kalau sudah asyik wifian.Tenang saja, warung kopi juga menyediakan mushalla sebagai tempat peribadatan bagi umat muslim. Jadi, selain nongkrong di warung kopi, kewajiban menghadap Allah Swt tidak kami lupakan.

Perempuan dan Kopi

Seperti yang telah saya sebutkan diatas dimana kopi menjangkau setiap kalangan, kopi juga banyak diminati oleh kaum hawa. Tentunya diantara kompasianer perempuan ada yang menyukai kopi, bukan? Begitu juga saya.

Sebagai putri kelahiran Aceh, tentunya si hitam manis ini bukan barang baru lagi untuk saya. Sedari saya masih SD, saya sering melihat ibu membuat kopi. Awalnya memang saya coba-coba meminumnya, namun lama kelamaan saya seakan tak bisa hidup bila tak ada kopi. Bila diberi pilihan antara kopi dan teh, sudah pasti saya memilih kopi sebagai teman penganan cemilan saya.

Ketika berkunjung ke warung kopi baik di Medan ataupun Banda Aceh, yang menjadi pilihan saya bukanlah kopi susu atau kopi campuran lainnya, melainkan si hitam manis yang khas dari Aceh yaitu kopi Aceh dan kopi Gayo, yang entah itu ditempatkan di cangkir, gelas kecil, maupun gelas besar (lebih sering yang besar). Hal tersebut saya lakukan karena kecintaan saya yang teramat besar terhadap kopi, sehingga bila kopi di gelas kecil akan cepat habis dan rasanya tak mampu memuaskan hobi ngopi saya.

1353619072646897310
segelas besar kopi bersama pisang goreng (dok. pribadi)
Aktifitas yang saya lakukan pun tidak pernah jauh dari kopi, karena bagi saya pribadi ide itu akan mudah keluar bersamaan dengan tiap tegukan kopi yang saya minum. Jadi kalau saya berkunjung ke warung kopi yang selalu ada fasilitas wifinya, saya selalu berusaha menghasilkan tulisan skripsi, tugas kampus lainnya ataupun bahan postingan di Kompasiana ini.

Kecintaan saya sebagai perempuan terhadap kopi itu sendiri semakin bertambah ketika saya mendengar ucapan dari mantan pimpinan saya (perempuan) yang setiap pagi meminum kopi. Beliau berujar bahwa, perempuan penyuka kopi biasanya sangat mandiri dimana memiliki totalitas dan loyalitas dalam melakukan suatu pekerjaan.

1353619374226897096
segelas besar kopi mampu beri saya inspirasi (dok. pribadi)
***

Nongkrong di warung kopi adalah kegiatan saya sehari-hari bila sedang tidak memiliki kegiatan lain. Kalau di Medan biasanya saya mengunjungi warung kopi bersama seorang perempuan, itu pun ia tidak bertahan lama dan untuk saya pribadi, saya lebih memilih untuk menghabiskan waktu di dalam warung kopi dari pada saya harus berputar-putar di dalam mall. Karena di dalam mall itu kan kita tak mungkin hanya berjalan-jalan, pastinya kita akan duduk-duduk ataupun sekedar window shopping. Nah, window shopping ini adalah kegiatan yang membosankan bagi saya, karena selain “lapar” mata kegiatan ini juga cukup melelahkan.

Untuk saya pribagi, saya lebih senang dan merasa nyaman bila berdiam diri seorang diri di warung kopi bersama kopi Ulee Kareng (kopi Aceh) maupun kopi Gayo sembari menikmati berselancar di dunia maya dan menyelesaikan tugas-tugas saya.

Masa Depanku Direnggut oleh HIV/AIDS


1354384403393636744

http://empowerednews.net

“Hei, kau sudah bangun?”, tanyaku seketika saat melihatnya meringkuk di dalam selimut hotel mewah ini di  sisiku. Namun ia tak menjawab. Mungkin karena kelelahan akibat menggagahiku sebelum ia tertidur. Pengaruh inex pun membuainya dalam tidur sembari menyunggingkan senyum.
Ya.. Senyum itu yang membuatku terpikat padanya hingga menyerahkan diriku untuk bersamanya walaupun aku hanya menjadi pacar gelap dari seorang dosen di kampusku, di tempatku mencari ilmu guna masa depanku.
Tak lama ia terbangun, menarikku kembali dalam dekapan kekarnya dan aku pun tertidur bersamanya. Hubungan terlarang ini terus kujalani sampai ia meninggal akibat terjangkit penyakit HIV/AIDS.

***

Namaku Putri, seorang bunga desa di kampung halamamanku. Menuju ibu kota adalah impian terbesarku selepas menamatkan pendidikan di bangku SMA. Awalnya orang tuaku tak setuju akan hal itu, namun berkat beasiswa serta bujukan dari wali kelasku yang mengatakan aku memiliki potensi dalam berbagai pelajaran, akhirnya aku pun menginjakkan kaki di ibu kota.
Dengan membawa uang dalam jumlah yang tidak begitu banyak, tibalah aku di kota yang terkenal dengan banyak pendatangnya. Di kota ini, aku berharap dapat kuliah dengan baik, seperti harapan orang tua dan wali kelasku di kampung.
Namun itu hanya keinginan, harapan yang tak akan bisa aku wujudkan sejak aku bertemu dengan Bram.

***

Secara fisik Bram adalah seorang pria yang tak begitu menarik bahkan cenderung biasa saja,  namun ia termasuk dalam jajaran pria kaya di kampusku. Hal itu terlihat dari kendaraan yang sehari-hari dipakainya adalah mobil keluaran terbaru. Perempuan mana yang tak terpikat padanya? apalagi ditambah wibawanya sebagai putra rektor di kampusku yang dapat membuat semua orang menghormatinya.

Ya.. sebagai putra rektor dia memiliki hak untuk mengajar disini. Selain sebagai pengusaha, ia adalah salah seorang dosen. Dosen yang gemar mengencani gadis-gadis muda di kampusku, begitulah kalimat dari salah seorang kakak kelas yang tak lama menjadi pacarku, Andre.

***

Andre adalah sesosok pria romantis dan baik yang pernah kukenal. Selama aku masih kebingungan di kota ini, dialah yang selalu membantuku hingga tanpa sengaja, intensitas pertemuan kami menimbulkan rasa cinta. Aku menjadi kekasih Andre di awal semester keduaku di kampus ini. Sementara Andre akan segera lulus. Andre selalu memperingatiku agar tak terlalu dekat dengan Bram.
“Jangan pernah ngobrol sama dia ya kalau tidak perlu. Aku tak lama lagi akan meninggalkan kampus ini dan tak bisa selalu menjagamu”, ujar Andre suatu saat. “tenang saja bang, aku bisa menjaga diriku”, sambil tersenyum aku menjawab pernyataan Andre.
Seperti pesan Andre, tentunya aku berharap tak pernah bertemu dengannya di dalam kelas. Namun, ternyata dia juga mengajar salah satu mata kuliahku untuk semester ini. Dan disinilah awal kekelaman hidupku dimulai.

***

Di sebuah senin pagi, Bram mulai mengajar di kelasku. Walaupun fisiknya terlihat biasa saja namun gayanya yang bak pria metroseksual menarik perhatian banyak gadis di kelasku hingga mereka berebut untuk duduk di depan.

Sembari mengajar, Bram sering melemparkan pertanyaan kepadaku dan sering melirikku. Tatapan matanya terkadang sangat dalam seolah sedang menelanjangiku. Sedari awal, aku memang tak memperdulikannya namun tatapannya bagaikan kutub positif magnet yang menarik kutub negatif. Entah apa yang terdapat di matanya hingga tatapannya begitu kuat menggodaku. Tak ayal, aku pun sering mengobrol dengannya di luar kelas bahkan di luar kampus. Bram begitu perhatian padaku hingga membuatku sejenak melupakan Andre, malaikat pelindungku.

Kedekatan kami akhirnya tercium juga oleh Andre namun dengan sabarnya yang tak pernah lekang, ia masih mau menasehatiku untuk tak dekat dengan Bram, namun keesokan harinya aku kembali dekat dengan Bram. Hubunganku dengan Andre memang tak pernah berakhir karena ia memang pria terbaik diantara banyak pria yang pernah singgah dihidupku. Setiap kesalahanku, pasti dengan lapang dada dimaafkan olehnya. Intensitas pertemuanku dengan Andre tak sesering dulu karena sekarang Andre telah bekerja. Dan di saat aku kesepian inilah Bram hadir dengan sejuta pesonanya.

Beginilah siklus hidupku terus sampai pada suatu hari aku pun menjalani hubungan dengan Bram. Kepintaran kami menyembunyikan hubungan ini tak pernah diketahui oleh siapapun termasuk Andre kekasihku.

***

6 bulan kami telah berhubungan, sampai suatu hari Bram mengajakku untuk merayakan ulang tahunnya di salah satu club malam. Sebagai orang kampung, aku tak pernah masuk ke tempat seperti ini, apalagi bersama Andre.
Suasana ruangan yang remang-remang, membuai banyak orang untuk berjoged riang sembari diiringi oleh dentuman musik yang dimainkan oleh DJ. Rasanya aku ingin keluar dari tempat ini namun karena tak tahu jalan pulang, aku tetap diam disini berusaha mengikuti alunan DJ tersebut bersama Bram.

Tak lam Bram memberiku segelas minuman yang aku kira tadinya itu hanya teh manis. Dasar orang kampung, aku tak tau apa-apa hingga aku menerimanya hingga aku pun merasa pusing. Minuman ini begitu mencanduku, belum lagi aku sempat diberi sebuah pil oleh Bram yang tadinya dia katakan sebagai obat sakit kepala.

Setelah menelan pil setan tersebut, seketika tubuhku terasa panas hingga aku bersemangat untuk terus berjoged. Minuman yang memabukkan itu pun terus kureguk. Seketika aku melupakan cita-cita utamaku di kota ini, melupakan orang tuaku dan juga Andre.

***

Pukul 03.00 pagi, aku tersadar dari tidurku, mendapati tubuh telanjangku disebuah kamar yang redup. Sembari menangis, aku mendapati Bram yang tertidur di sisiku. Tangisanku membangunkannya. Ia memohon maaf padaku dan berjanji tak akan mengulangi perbuatannya.

Seperti janji-janji yang dilontarkan banyak pejabat di negeri ini, janji yang diucapkan oleh Bram pun hanya sebatas malam itu dan kami pun melakukannya lagi bila ada kesempatan hingga aku pun kecanduan. Tak sampai disitu, pemakaian inex pun meningkat sampai ke narkoba jenis suntikan sampai-sampai aku benar-benar ketergantungan pada Bram dan narkoba itu.

Akibat perbuatan dosa kami, memang aku tak pernah sampai hamil padahal Bram tidak memakai kondom. Bram selalu memberiku obat sebagai pencegah kehamilan dan ia pun berjanji menikahiku jika aku sampai hamil. Ini rahasia kami.

***

Sampai suatu pagi, aku merasakan ada yang aneh di tubuhku. Perutku terasa benar-benar mual, padahal sebelumnya bila masuk angin pun aku tak pernah merasakan ini. Kemudian aku berpikir, selama berpetualang dengan Bram dia tak pernah memakai kondom. Seketika aku menangis karena aku tahu, ini adalah pertanda wanita hamil. Tak perlu test pack, aku pun segera pergi ke rumah sakit.

Setelah dilakukan Pemeriksaan Ultra Sonografi (USG), dokter kandungan pun mengucapkan selamat padaku bahwa aku hamil namun aku menangis. Dokter bertanya, “kenapa kamu menangis, bukannya senang ya kalau hamil?”. Aku tak sanggup berterus terang. Dokter pun menangkap gelagatku dan menyuruhku untuk melakukan serangkaian tes darah saat itu juga.

Setelah istirahat siang, aku kembali ke dokter itu dan dokter pun mengatakan bahwa dari hasil tes menyatakan bahwa aku mengidap penyakit AIDS. Dokter menanyakan padaku, apakah aku pemakai narkoba? Dengan berat hati, aku pun menjawab pertanyaan dokter dengan anggukan sembari terus menangis.

Sembari menenangkan diri, aku menghubungi ponsel Bram dan mengajaknya bertemu. Setelah bertemu aku menceritakan padanya tentang kehamilan dan penyakit AIDSku. Masih dengan senyum, Bram berkata, “laki-laki mana yang telah tidur denganmu hingga menularkanmu penyakit itu”.

Dengan marah aku pun berkata, “aku hanya tidur dengan seorang pria dan itu kau, dosenku yang genit dan bertampang biasa saja!!! Dan penyakit ini menjangkitiku karenamu. Jangan kau salahkan aku. Kau menghancurkan hidupku”.

Bram pun marah dan ia ingin melayangkan tamparannya ke wajahku. Aku berkata, “silahkan tampar dan pukul aku jika mampu menghilangkan penyakit ini”.

Seketika Bram diam dan mengakui memang ia mengidap AIDS dan ia ingin terus bersenang-senang sampai ajal menjemputnya. “kau tahu, hidupku juga tak lama lagi, makanya aku ingin senang-senang dan maafkan aku karena telah mengorbankanmu Put”.

Setelah pertengkaran hebat itu, selama 3 bulan ini aku terus mencarinya. Di kampus tak ada, di hotel-hotel tempat kencan kami pun tak ada. Aku tak pernah bisa menghubungi Bram lagi. Kabar terakhir yang kudengar adalah Bram telah meninggal dunia. Teman akrab Bram yang mengatakan hal itu. Ia mengatakan bahwa Bram meninggal karena penyakit AIDS.

Kini, bagaimana denganku? Cita-cita dan harapan orang tuaku harus kukubur sedalam-dalamnya. Bagaimana dengan Andre? Bila ia mengetahui keadaanku, masihkah ia menerimaku?

***

Aku tahu, aku dan masa depanku telah hancur. Ditengah kekosongan jiwaku, aku memutuskan untuk pergi ke suatu tempat. Dengan uang pemberian sang dosen kaya yang telah meninggal itu, aku ingin berobat di tempat lain, mengingat di Indonesia telah ada pengobatan untuk mencegah HIV berkembang yaitu dengan Antiretroviral Theraphy (ART). Dan bila aku harus menghadapNya, aku ingin mati tanpa seorang pun dari keluargaku yang tahu. Sebelum aku pergi, aku menuliskan surat untuk Andre.

***

Aku pergi dulu ya. Jangan mencariku. Suatu saat jikalau aku masih dapat bertahan hidup, biar aku yang mencarimu dan memohon maaf langsung di hadapanmu. Maafkan aku telah mengkhianati cintamu. Maafkan aku telah menyakiti hatimu. Maafkan aku harus pergi.
Carilah penggantiku, nikahilah seorang wanita shalehah yang tak pernah mengenal Seks bebas, Narkoba dan AIDS. Kau adalah lelaki terbaik yang pernah kukenal. Do’aku untukmu selalu, Ndre.

Salam sayangku
Putri

***

Aku tahu, hari ini Andre akan mengunjungiku seperti biasanya. Maka dari itu, surat itu kutitipkan kepada ibu kostku untuk disampaikan kepadanya. Semoga Andre memaafkan dan merelakan kepergianku.

Aku tahu, aku telah kotor. Hidupku bergelimangan dosa. Semoga kepergian dan penyakitku ini adalah petunjuk yang diberikan Allah Swt agar aku kembali menuju jalan-Nya. Pintaku padamu Ya Allah, tolong jaga keluargaku. Berikanlah kesempatanku suatu hari nanti untuk bertemu dengan mereka. Amin.

Sabtu, 01 Desember 2012

Topengmu Adalah Dirimu


Hari ini ada yang mau kuceritakan padamu
Tentang suatu kejutan untukku
Terjadi pada rabu lalu
Biasanya  ada kesialan menimpaku pada hari rabu
-
Kuharap itu tak terjadi selalu
Namun peristiwa itu syukur bagiku
Hadiah terindah dari Tuhan untuk mataku
Yang selama ini tak mau tahu tentang sesuatu
-
Kuucapkan terima kasih pada si cantik itu
Sahabatku yang selalu berusaha membuka buta mataku
Si cantik yang memiliki tatapan tajam lebih dariku
Dia sadarkanku dari tipu muslihat orang bertampang lugu
-
Aku punya kenalan baru
Namun dia orang lama dekat rumahku
Walaupun tak pernah bertemu
Karena kami sibuk akan sesuatu
-
Tadinya kupikir dia akan diam saja melihat masalah lalu
Namun Rabu lalu dia tega menghardikku
Dia tunjukkan kukunya ke mukaku
Sungguh diluar sangkaku
-
Aku tahu
Sebenarnya dia memang punya mutu
Berkat kepintarannya akan ilmu
Dia pun dihormati banyak tamu
-
Aku pun menghormatinya karena kuanggap guru
Namun sayang, mutunya telah tampak biasa saja saja di mataku
Sebab kemarin ia menelanjangi dirinya  di hadapku
Ia membuka kartunya sebagai pahlawan baru
-
Terima kasih telah menelanjangi dirimu
Terima kasih telah tunjukkan topengmu
Membuka mataku untuk melihat adanya dirimu
Kini aku tahu bagaimana harus bersikap padamu
-

[Review] Natu Savon Kose Cosmeport, Refresh Your Day with Apple & Jasmine

Hai Beauties. Kembali lagi ke blog saya yang kali ini masih akan membahas skin care. Namun, sedikit berbeda dari biasanya. Kalau...