Selasa, 25 Juni 2013

Akibat Salahku Maknai Emansipasi Perempuan


“Ini kesalahan, Afni. Kesalahan terbesar yang pernah kau lakukan di hidupmu.” Sekelebat bayanganku berbicara.
“Sepertinya benar. Ini adalah uatu kebodohan yang benar-benar tak pantas kulakukan sebagai seorang perempuan timur yang seharusnya menerima cinta, BUKAN malah menyatakan cinta kepada seorang laki-laki. Walaupun aku tak memintanya, tapi tetap saja, ini memalukan karena aku telah mengungkapkan rasaku. Memandang diriku saja, enggan kulakoni apalagi memandangnya. Aku malu.” Hardikku di depan cermin kamar.

***

Tekad seorang Afni untuk benar-benar melupakan Ari sudah bulat sebulat pikirannya untuk meraih gelas master manajemen akhir tahun ini. “Harusnya tak ada lagi yang mengganggu pikiranku.” kataku dalam hati. Si duda PHP juga cuma sepintas lewat dan juga sudah kubuang ke tong sampah busuk bayangnya. Apalagi beberapa bulan ke depan aku akan meninggalkan kota ini setelah menyelesaikan program pascasarjana manajemenku.
Namun karena ingin bersosialisasi dengan komunitas yang baru kumasuki di kota ini, aku sedikit rajin berkumpul bersama mereka. Semakin sering bersama mereka, aku berhasil melupakan Ari. Ya… bagiku Ari hanya bagian dari cerita cinta di bangku kuliah yang harus kulupakan. Ingatan tentangnya harus kumusnahkan, agar aku bisa membuka hati bagi lelaki baru yang memang kubutuhkan. Dari sekumpulan para lelaki itu, tak dinyana ada yang menarik perhatianku.

***

Namanya Riski. Sosok sempurna yang telah menempuh 30 tahun hidupnya. Dalam pandanganku, ia adalah sesosok pintar dan amat berwibawa, tentunya hidupnya lurus, tepat seperti yang sangat ingin kudapatkan.
Bagaimana tidak? Dari perspektif agama, ia mumpuni sekali, ia mengetahui dengan jelas mengenai hukum dalam keyakinan kami, hingga sedikit banyak, diriku yang kuyakini penuh dosa ini sangat tak cocok dengannya.  Benar, Agama memang terpenting dalam hidupku, terlebih bagi ibuku yang sangat menginginkan orang seperti itu.

***

Layaknya acara gosip di televisi, komunikasi diantara kami terjadi setiap hari. Hampa rasanya hariku tanpa mengetahui kabar atau sekedar ledekan garingnya. Ledekan yang sebenarnya tak penting, dan mungkin bila orang lain berujar tak penting begitu, aku akan marah-marah, namun entah mengapa tiap dia mencoba bergurau, aku pun tertawa. Sekali lagi, gurauannya sungguh tak mengocok perut. Lagi-lagi aku berfikir, mengapa aku merasa terhibur? Benarkah ini karena rasa sukaku padanya?

Lantaran komunikasi dan bertukar pikiran yang intens, akhirnya sampailah aku pada satu titik, ya… orang seperti inilah yang kucari. Lelaki yang sangat mengerti agama dan pintar secara psikologis serta tahu menempatkan diri seperti inilah yang kubutuhkan. Sempat terbesit bahwa, sudahlah.. ini hanya sementara. Sepertinya, ia jauh berbeda denganku. Dari segi agama saja, ia sepertinya lelaki sempurna. “Ah… aku tak pantas mendapatkannya.” Batinku. Namun entah mengapa, aku membutuhkan sosok pendengar dan pemberi solusi seperti dia.

Di sinilah kebimbanganku makin berat, haruskah kunyatakan cinta padanya? Padahal intensitas pertemuan kami baru beberapa kali. Atau aku harus diam saja, tetap memendam rasa? Ya… sepertinya memang ini yang layak kulakukan sebagai perempuan timur. Namun, temanku mengatakan, “ungkapkan saja. Toh ‘gak ada salahnya kalau Riski tahu akan perasaanmu. Tak perlu malu dalam hal mengungkapkan rasa.” Tambahnya lagi.
Aku sebagai penjunjung kebudayaan timur yang masih malu untuk mengungkapkan rasa, malah di hadapkan pada pilihan yang sulit. “Ungkapkan, dengan begitu kau akan lega. Urusan diterima atau tidaknya, itu belakangan. Yang penting kau sudah meluapkan pikiranmu. lagian, sekarang kan zamannya emansipasi” Kata temanku lagi. “Tidak!”  Kataku. Perang batin ini pun terjadi. Di satu sisi, aku menginginkannya, di sisi lain, aku tak mau menjual harga diriku di hadapan laki-laki.

***

Namun rasaku tak bisa berbohong. Semakin hari aku semakin membutuhkannya hingga kukatakan rasaku.
Suatu hari, aku bertemu dengannya. Singkat cerita, setelah kukatakan hal bodoh itu, aku menyambung ucapanku, “aku ‘gak nembak ya. Aku Cuma bilang apa yang kurasa. Terserahmu mau mikir apa. Yang jelas, aku tak memintamu untuk jadi pacarku. Kalau kau memang mau, aku tak keberatan.”
“Aku sudah tahu, banyak yang telah mengatakan padaku. Cuma yang aku heran, kenapa baru sekarang kamu bilangnya? Kenapa saat perasaanmu menggunung baru kamu utarakan?” introgasinya.
“Bagiku, tak baik kalau seorang perempuan nembak laki-laki. Kuakui, barusan aku telah melakukan kesalahan. Maka, lupakan saja yang pernah aku bilang.” Tambahku.
“Kamu mau dilupakan? Bagaimana bisa? Toh baru saja kamu ungkapkan rasamu ka?” senyumnya. “Sudah… lupakan. Anggap aku tak pernah mengatakan hal memalukan itu.” bentakku.
“Masih banyak yang sedang aku pikirkan dan memang aku belum memiliki rasa itu padamu atau siapapun yang mendekatiku. Sesungguhnya, ada beberapa hal yang belum diketahui olehmu dan orang-orang tentangku. Rahasia ini sangat rapat kusimpan.” Sebelum kamu bertanya, baiklah… akan kuceritakan.” Katanya. Dan ia pun menceritakan panjang lebar tentang hidupnya.

***

Ssedikit banyak, aku memang lega telah mengatakan rasaku. Namun di sisi lain, aku seperti kehilangan harga diriku sebagai perempuan timur oleh sebab rasaku. Rasa kagum yang tadinya kukira cinta. Rasa kagum akibat sosok religiusnya yang sanat aku dambakan.
Ya… rasa kagumku itu telah membuatku bodoh dan melupakan marwahku sebagai perempuan timur. Walaupun emansipasi telah dilantangkan, namun bagiku, kesalahanku tetap saja hal bodoh. Tak layak bila emansipasi wanita disejajarkan dalam urusan hati. Selayaknya aku berpikir sebebnar-benarnya pikir sekaligus menimbang tentang rasa ini, benarkah ini cinta atau hanya rasa kagum akan sosok religius seorang Riski? Sekarang baru aku tahu, ini hanya kagum dan bukan cinta. “Malu-maluin saja, kenapa juga aku mesti menyatakan dan bilang cinta, padahal kan aku Cuma kagum?” rutukku lagi.
Sekarang, bercermin saja aku enggan. Aku malu terhadap kebodohan yang talah kulakukan. Ah… semoga saja ini tak lama, atau paling tidak setelah wisuda pascasarjanaku selesai, aku pun bisa terbebas dari penyesalan ini dengan pergi ke kota lain.

Semoga kesalahan dan penyesalanku kali ini bisa menjadi cermin bagi perempuan lainnya agar tak salah kaprah dalam memaknai kedekatan, rasa cinta, dan emansipasi perempuan.

Tidak ada komentar:

Review Pure Papaya Ointment: Salap dengan Jutaan Manfaat

Kulit kering bagi kita, terutama perempuan, merupakan sebuah masalah. Pastinya, ini akan membuat kita malu, karena kulit kering terseb...