Sabtu, 01 Juni 2013

Impian Seorang Isteri dalam Rumah Tangga

Sebagaimana mestinya, manusia terdiri dari 2 jenis kelamin yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Dari kedua perbedaan jenis kelamin itu, masing-masing memiliki impian yang relatif  sama. Misalnya anak laki-laki kecil, “kalau besar mau jadi apa?” Jawabannya pasti seputar dokter, polisi, tentara dsb. Kalau anak perempuan juga mengatakan ingin menjadi dokter, guru dsb. Semakin dewasa seorang anak, jawaban atas pertanyaan tersebut pun akan berubah, baik laki-laki maupun perempuan. Dan pada tulisan yang bertemakan impian kali ini, saya tak menyinggung impian laki-laki, namun saya akan mencoba sedikit menuliskan tentang impian dari seorang perempuan.
1368558607462132099
kaka and family. image from http://agensbobetcasino.net/
Impian standar dari seorang perempuan adalah memiliki keluarga yang bahagia melalui jalan pernikahan. Di dalam pernikahan itu, diharapkan mereka memiliki anak, dimana hanya seorang perempuan yang memiliki fase menstruasi, mengandung hingga melahirkan.
Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju, banyak diantara perempuan yang ingin memiliki karir yang bagus (wanita karir), terutama perempuan yang menempuh pendidikan tinggi maupun yang berdomisili di perkotaan.
Seperti yang tengah dilakoni Putri yang sedang bekerja di sebuah Bank, ia menuturkan akan tetap bekerja jika pun sudah menikah nanti. Namun tak jarang juga, ada perempuan yang menginginkan untuk menjadi pengusaha, entah di bidang kuliner atau apapun yang tak meninggalkan rumah. Jika pun harus meninggalkan rumah, masih memiliki waktu mengurus anak dan suaminya, sebagaimana yang dituturkan teman saya, Nisa yang sempat saya wawancarai beberapa waktu lalu. Tentu saja kedua contoh di tersebut berdasarkan sudut pandang perempuan.
*
Pertanyaannya adalah mengapa perempuan ingin tetap bekerja atau pun berbaur dengan banyak orang ?
1. Finansial.
Ini adalah alasan yang paling mendasar bagi setiap orang. Jangankan yang matre, yang tidak matre saja pasti mebutuhkan uang. Di zaman yang serba canggih ini, semua barang itu mahal bukan?
Misalnya : Setiap saya mengunjungi supermarket, saya selalu melihat susu bayi yang saya bandingkan dengan susu bagi kita yang dewasa dimana harga susu bayi bisa berlipat-lipat mahalnya dari harga susu dewasa.
–> Perempuan yang memiliki penghasilan sudah pasti tak akan memberatkan suami. Katakanlah susu dan segala perlengkapan anak serta berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya ditanggung oleh suami. Sedangkan untuk membeli keperluan sendiri semisal alat make-up dan pembalut, si istri bisa menanggungnya sendiri tanpa perlu memberatkan suami.
Untuk alasan ekonomi ini, hendaklah Anda sebagai suami yang melarang istri Anda bekerja, mampu berpikir secara realita. Zaman semakin maju, harga barang apapun semakin mahal, bukan? Jika Anda tetap tak mengizinkan sang Istri untuk berpenghasilan, berkaca dan bertanyalah pada diri Anda, apakah Anda cukup mampu memenuhi kebutuhan keluarga Anda?
2. Aktualisasi Diri
Di dalam Hirarki kebutuhan Maslow, ada tingkatan yang mengatakan bahwa setiap manusia membutuhkan aktualisasi diri yang mana ini adalah suatu hal mendasar yang harus terpenuhi dalam diri seseorang. Begitu juga dengan seorang perempuan, aktualisasi yang saya maksudkan di sini adalah kebutuhan diri untuk berbaur dengan lingkungan, hobi, maupun ketertarikan si perempuan tersebut akan sesuatu. Bukan malah menjadi sosialita. Sosialita adalah tuntutuan dari gaya hidup berlebihan dari seorang perempuan.
Misalnya : seorang perempuan yang memiliki ketertarikan pada dunia politik.
–> Suami yang baik, tak akan menghalang-halangi minat isterinya tersebut. Kalau perlu si suami pun ikut terjun ke dunia politik mendampingi isterinya. Jikalau pun sang suami tak tertarik, maka sediakan waktu untuk berbicara dari hati ke hati bersama sang istri.  Bicarakan keresahan Anda. Jika Anda tak menyetujui keinginan istri Anda, utarakan saja dengan menjaga artikulasi/nada bicara Anda. Kalau Anda menyampaikan secara lemah lembut, saya yakin si istri akan lebih menjaga sikap atau kalau perlu istri Anda tak jadi ikut berpolitik.
*
Terkait masalah anak, bukan hanya kewajiban seorang isteri dalam mengurus anak. Ada baiknya, Anda sebagai suami juga berperan aktif dalam menjaga tumbuh kembang seorang anak kecil  mengingat sosialisasi seorang anak dimulai dari lingkup keluarganya sendiri.
Jika Anda memiliki baby sitter atau pramuwisma, jangan hanya membiarkan serta menyerahkan tanggung jawab anak Anda pada pramuwisma, Anda berdua adalah orang tuanya, sudah merupakan kewajiban Anda mendidik anak Anda sendiri. Jangan biarkan pula si anak bergantung pada baby sitternya, karena saat Anda tak menggunakan jasanya lagi, Anak anda yang akan menderita karena ada anak yang hanya mau apapun dengan baby sitternya.
Sama halnya dengan Anda kaum lelaki, seorang perempuan juga memiliki kebutuhan akan interaksi dan menyalurkankan hobinya. Jangan batasi isteri Anda untuk berpenghasilan. Selain karena untuk kebutuhan ekonomi, isteri Anda juga butuh untuk menerapkan ilmu yang telah di dapat di bangku sekolah ke dalam dunia kerja. Apalagi perempuan yang telah menempuh pendidikan tinggi, pasti ada rasa bersalah pada orang tuanya yang telah membiayai biaya pendidikannya. Bukankah pendidikan yang Anda tempuh merupakan investasi bagi diri Anda sendiri di masa depan? Dan bagi Anda para isteri, dengarlah selalu nasehat suami Anda. Jika ada ucapannya yang tak berkenan di hati Anda, juga silahkan utarakan. Jadi jangan langsung membantah perkataan suami Anda, ingatlah  juga bahwa surga seorang isteri ada pada suaminya.
Di dalam suatu rumah tangga, pasti tak selalu berjalan mulus, bukan? Banyak hal yang menjadi pemicu konflik. Sebagai pasangan yang mengawali rumah tangga tersebut dengan dasar cinta dan pengertian, sudah sepantasnya segala permasalahan dapat Anda bicarakan dengan pasangan untuk mencari penyelesaiannya. Bagi masing-masing, jangan mengedepankan egoisitas Anda. Silahkan berdiplomasi demi menjaga kenyamanan hubungan Anda bedua.  Saling menjaga komunikasi merupakan kunci keberhasilan dalam berumah tangga, bukan?

Tidak ada komentar:

Peran Industri Kreatif Anak Muda Indonesia di Era Milenial

Sungguh beruntung, Kota Medan mendapat kesempatan dalam rangkaian sosialisasi 4 Tahun pemerintahan Kabinet Kerja yang diselenggarakan ol...