Jumat, 18 Oktober 2013

Temanku Pengkhianat!

Sakitku mungkin tak separah yang kau rasakan, ketika kau korbankan perasaanmu demi sahabatmu yang jatuh cinta pada lelaki yang sama. Namun, rasa kecewaku terlanjur membuatku membenci kebohonganmu, hingga kini tak mampu kutempatkan ceritaku pada siapapun lagi.
*
Setelah mendengar kejujuranmu kemarin, amarahku menggelegak. Sempat terlintas di pikiranku untuk membencimu, namun adalah suatu kewajaran jika saat itu amarah yang menguasai seluruh tubuh tiga puluhan ini, berupa raungan yang membanjiri bantal.
Ah... rasanya itu wajar saja bila kurealisasikan marah ini, menamparmu hingga membunuhmu, mungkin. Toh semua ini berawal dari salahmu sendiri yang awalnya berpura tak butuh pada sang lelaki, membohongi dirimu sendiri padahal lelaki itu yang menghiasi dan menerangi hatimu. Kau berkata pada hatimu bahwa kau akan pasrah demi kebahagiaanku saat itu, namun kau menyimpan harapan yang mendalam untuk dapat bersama sang dia.
Berbahagialah kau sebab pilihannya jatuh padamu, kini. Dengan bebas, kau dapat merengkuhnya dalam pelukan sucimu. Perempuan bersih sepertimu yang diinginkannya.
Kau memang tak sekotor aku, tak sebinal aku, juga bukan perempuan durjana seperti hidupku. Kau adalah yang terbaik untuknya. Dan ya... kalian sama, sama-sama lurus. Dunianya memang sungguh kontras denganku. Kalian sama, sama-sama putih. Beda dengan si kelam sepertiku.
Pengakuanmu kemarin sangat mengejutkan. Salutku padamu bahwa memang kau tak pernah mampu berbohong pada siapapun, termasuk kepadanya tentang perasaanmu yang dibalas olehnya. Dan karena itu, aku akan benar-benar pergi dari kalian. Jikapun kita terpaksa bertemu di suatu waktu, maaf... Aku tak mampu berbicara banyak padamu. Sebab kebohonganmu terlanjur menyiramkan luka di atas perih yang hampir mengering. Juga karena itu, luka lama itu kembali menganga, setelah nyaris terlupa.
Kau menyesal? Lalu maaf katamu? Tak mampukah terbayangkan olehmu akan siraman cuka ini? Kau egois! Memakan daging saudaramu sendiri. Ya... Untuk penyesalan terlambatmu, segala kemunafikanmu, ulutku mungkin mampu memaafkanmu, namun tidak untuk hatiku. Hatiku terlanjur sakit, perihnya dalam. Kalaupun belenggu kecewa ini mampu terobati, bukan kini saatnya. Aku marah!
Bukan. Bukan sebab cemburuku. Toh setelah kusadari, dia juga bukan inginku. Dia sangat jauh dari yang kuharapkan, tahu? Cukup mampu kukatakan bahwa dia hanya pelampiasanku untuk melupakan raja di hatiku yang sesungguhnya. Aku marah!
Marah sebab sikap curangmu, terlanjur membakarku dalam bara amarah juga benci yang belum mampu untuk terhenti.
Seandainya jujur kau katakan bahwa kau juga mengharapkannya saat itu, sebagai kakak, aku yang akan mundur. Toh bila melihatmu bahagia, aku juga bahagia. Namun, karena pengakuanmu kemarin yang sangat mengecewakan menurutku, adalah telah memberikan sebuah batas bagi kita.
Ini sakit, teramat perih bagiku yang tak pernah menyangka, akan hujaman dalam darimu. Sungguh, tak pernah terpikir olehku, bahwa kau mampu menusuk kakakmu sendiri.

Nembak Cowok: Gadaikan Harga Diri Demi Emansipasi!

Akhir bulan lalu, saya menuliskan pandangan saya tentang cewek nembak cowok yang saya kaitkan dengan emansipasi , yang mana pernah juga sebelumnya saya bahas di sini. Kedua tulisan saya itu, ternyata cukup kontroversial, lho! Itu terlihat dari beberapa komentar yang nadanya marah-marah. Untuk itu, pada tulisan kali ini, saya akan mencoba membahasnya lagi. #penasaran :D

Pikiran dari seorang perempuan yang menganggap emansipasi itu penting adalah bahwa ia (pr) dapat melakukan segalanya, sendiri. Dari berkesempatan untuk sekolah tinggi, pekerjaan yang layak hingga tentang cinta, yang mana kata emansipasi mendoktrin seorang perempuan untuk berani menyatakan cintanya kepada laki-laki.
Dari komentar yang saya dapatkan pada tulisan saya tersebut, banyak yang mengatakan, perempuan juga memiliki hak untuk mendapatkan cintanya yaitu lewat nembak cowok. Ok, untuk alasan ini, mungkin akhirnya dapat saya amini, namun tentunya harus melalui tahapan yang tak mempermalukan dirinya sendiri.

*

Terkait tulisan saya itu, ada yang menanyakan:
Bagaimana caranya mengetahui perasaan seorang laki-laki yang sebelumnya pernah menyukai dia, apakah masih merasakan hal itu? Soalnya, dia (pr) yang sekarang malah suka sm si laki-laki. Untuk itu, ia ingin memastikan. Namun, ia amat malu untuk langsung menanyakannya. Teman-temannya juga telah menanyakan, tapi si laki-laki ini malah cengengesan.”So, what should i do, Sist?
*

Sebelum nembak cowok, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan. Misalnya :

1. Keakraban
Keakraban ini memiliki “daya jual” yang menarik bagi sniper perempuan. Mengapa demikian? Karena yang namanya kita (pr), harus memiliki suatu hubungan intim (bukan hub. Seksual) dengan si laki-laki. Jika hubungan ini selalu baik-baik saja dan cukup dekat, tak ada salahnya jika kita (pr) menyatakan cinta kepada dia.

2. 3 S
Nah, ini juga harus diterapkan bagi kita (pr) yang sudah terlanjur cinta sama seorang laki-laki. 3 S (Senyum, sapa, salam) adalah yang harus dilakukan. Namun dengan berbagai variasi, jangan hanya monoton seperti teller/CS di Bank, ini kata om Kaka. Nah, kalau setiap 3S dari kita disikapi dengan hangat oleh si laki-laki, mau nembak juga? Kita juga mesti berpikir lagi, sudah efektif atau belum 3S tadi? Bisa saja balasan dari si laki-laki karena untuk membalas kebaikan kita. Dogh!!! Kok jadi makin ribet ya?

3. Mak comblang
Buat kita (pr) yang rasanya sudah tak sabar ingin mengetahui, apakah rasa yang kita miliki ini berbalas, sepertinya perlu jasa mak comblang. Ia bisa mengatakan sebebas-bebasnya kepada si laki-laki incaran tentang perasaan kita. Tapi, kalau sudah jadi mak comblang, jangan malah nekong teman. Maksudnya, ngambil cowok incaran itu buat dia.
Sebenarnya, untuk mak comblang ini, lebih enak mengandalkan teman laki-laki yang normal (bukan maho) untuk menyampaikan perasaan kita ke si cowok. Atau bisa juga, minta tolong sama orang yang juga dihormati oleh si cowok. Om, tante, ayah, bunda… tolongin aku donk.hahaha.. mungkin gitu.

*

Sepertinya cara-cara di atas dapat dengan mudah kita lakukan buat kita. Cuma ya,,, mesti siap sama resiko terburuk yaitu ditolak. Nah, bagi perempuan timur yang konvensional, ditolak ini adalah satu hal memalukan. Rasanya mau masuk tanah aja, hahhaha.. tapi, kalau gak disampaikan, berkarat cintanya ini, kan? Mau suka/jadian sama cowok lain, juga susah. Soalnya semua perhatian dan cinta (omaigat :D) sudah tercurah buat si incaran. Buat kita (pr) yang tak punya niat selingkuh, ini merupakan suatu yang berat. Tapi, buat mereka (pr) yang memang mau punya pacar berserak di mana-mana, ini bukan suatu pikiran.

Last but not least, ada cara dari kakak saya untuk menyatakan cinta kita (pr) ke si cowok incaran, tapi tetap elegant dan gak norak. Gini :
Kita (pr) : eh, kalau ada cowok yang naksir sama aku, normal gak?
Cowok : normal lah.
Kita (pr) : terus, kamu naksir sama aku, gak?
Cowok : gak
Kita (pr) : ooo.. berarti, kamu gak normal donk terus ketawa ngakak, tapi dalam hati perihnya setengah mati. Rasanya mau makan si cowok. Hahaha…
Tapi, kalau si cowok bilang, “iya, aku naksir sama kamu.” Ekspresi si cewek pasti langsung mesem-mesem dan senyum-senyum, terus bilang, “bagus, berarti kamu masih normal.” Dalam hatinya, girang.

Nah, kalau sudah begini, kita (pr) tak usah melakukan penembakan. Kalau dia laki-laki normal yang punya hati dan bisa berpikir, biarkan dia memikirkan hal itu sendiri dan jangan diganggu. Nantikan saja reaksi sari si laki ini selanjutnya, jangan terburu-buru ingin tahu. Calm, cool and confidence aja hehehe… (pinjam tag-line iklan obat ketek) :P

*

Yang dipunyai perempuan selain fisiknya yang menggugah selera semua laki-laki normal, apalagi? Harga diri, bukan? Nah, nembak cowok ini bagi perempuan timur yang kebanyakan masih konvensional, adalah menggadaikan harga dirinya sendiri hanya untuk mendapatkan sepotong cinta. Bimbang adalah hal yang wajar dirasakan seorang perempuan dalam menyikapi hal ini.

Menggadaikan harga diri demi satu rasa cinta yang harus diluapkan atau menahan diri agar tak melakukan praktek yang kebablasan?

Mungkin akan banyak yang mengatakan, ditolak adalah hal yang biasa. Yang penting berani saja, dari pada galau terus. Tapi, Harus siap dengan resiko ditolak tadi. Gak lucu aja, kalau tiba-tiba jadi Headline di sebuah surat kabar/media onlineSeorang perempuan, ditemukan meninggal karena malu setelah nembak cowok, kan?

Katakanlah untuk nembak cowok di zaman smartphone ini, bukan halangan lagi bagi para perempuan. Apalagi, yang namanya memendam perasaan itu sebenarnya Cuma akan memberikan efek galau berhari-hari a.k.a rasa sakit yang berkepanjangan, tak jarang ini juga bisa buat nangis. Tapi, kita juga harus  memikirkan, membuka dan membanting-banting logika kita dalam menyikapi pertanyaan, “apakah kita (pr) siap mengambil resiko patah hati bila nanti setelah menggadaikan harga diri tadi?” []

Berkata Tegakkan Konstitusi, Nyatanya Legalkan Korupsi


***
Jutaan clausal sesaki perut ibu pertiwi
akibat perbuatan seksi dari para anak negeri
Mereka adalah sang pemangku jabatan tinggi
Kerap berdandan cantik bak peragawati

Firman Tuhan tak lupa mereka jual beli
demi melenggang mulus menuju uang kami
Lewat pencitraan mereka yang tadinya suci
akhirnya kami terbuai mimpi
***

Tadinya, kami berpikir lurus, tak apalah pencitraannya, yang penting infrastruktur daerah kami menjadi lebih rapi. Amanah kamipun tergadai kepada mereka, makhluk Tuhan yang nyatanya sok suci. Mereka selalu bernyanyi, stop korupsi. Duh… sungguh manis. Kamipun jadi berharap kepada mereka, demi tegaknya konstitusi dan kesejahteraan kami. Namun, tanpa kami sadari, padahal mereka menggerogoti kami. Tanpa membenci kami, mereka mengambil jatah kami.

Jutaan tanya juga, kadang menelusup dalam pikiranku, walau mereka yang menganggapku bodoh karena melontarkan pertanyaan ini. Ya… ini semata-mata hanyalah pertanyaan dariku, si bodoh yang selalu diremehkan oleh sekelilingku yang kelewat pintar itu. Mereka tak mau bertanya lagi pada kalian. Namun, daripada kebodohan kami memuncak dan membunuh kalian, maka izinkanlah sedikit kuberetorika akibat seringnya kulihat masih banyak diantara kami yang tak pernah bolak-balik ke luar negeri, mengencangkan bokong, menaikkan alis, apalagi suntik botox!

- Ke mana logika dan etika kalian hingga tega memiskinkan kami dan memperkaya diri dan keluarga kalian sendiri?
- Ketika Tuhan menganugerahkan otak kepada kalian, apa pembagiannya tak merata hingga perbuatan nista itu bisa kalian lakukan?
- Di mana rimbanya hati kalian hingga sanggup melihat kami, kepayahan hanya untuk ke sekolah saja? Padahal, kami dan anak-anak kami, tengah menuntut ilmu, demi melanjutkan amana konstitusi yang sekarang kalian pikul.

Toh, beberapa tahun lagi, kalian para tetua akan kami antarkan dengan do’a yang sempurna lagi baik ke pemakaman terakhir kalian, jika perlakuan hina itu tak kalian legalkan!
Kalian tak sadar, harta yang kalian permainkan itu adalah hak kami, anak yatim-piatu dan para jompo, juga pengemis jalanan yang tak pernah tahu akan kinerja hina kalian. Kalian memang hina, teramat hina hingga tak sadar, perbuatan bodoh kalian adalah cerminan bagi kami, sang penerus bangsa yang benci dengan korupsi.

- Apa tak cukup gaji kalian dari pemerintah, sehingga kalian mengemis , ah… bukan. Kalian merampok uang kami?
Terakhir, izinkan kubertanya, kapan runtuhnya dinasti kalian itu? Tak suka kusebut dinasti? Tapi memang itulah realitanya. Warisan orde baru masih saja berlangsung di negeri ini, hingga republik ini sekarat akibat ulah nista kalian.

***

Aku heran, kalian itu katanya pernah makan bangku sekolah. Bahkan sekolah tinggi hingga tinggal di luar negeri, namun mengapa masih saja tak bisa menjalankan amanah konstitusi?  Kalian itu sudah tua, bau tanah, tapi masih saja berulah seolah orang pintar.
Kalau kalian memang orang pintar, pernah hidup di Eropa yang pendidikannya maju pesat, tak akan kalian biarkan arsitektur bangunan bergaya yahudi di daerah yang katanya sangat islami.

***

Permainan kalian cantik, kalian tak menyakiti fisik kami. Berpura tunduk pada hukum negara dan berpura mendanai ini dan itu di tiap daerah. Mana buktinya??? Ah… Tak terlihat. Jikalau pun ada, yang terlihat hanyalah sedikit. Sisanya mana??? Bukankah APBD dari pusat itu sangat banyak. Ke mana uangnya??? Kemana?

Retorika yang kalian legalkan, nyatanya hanya gertak sambal. Kalian yang selalu mendendangkan Anti korupsi, nyatanya hanya mengemis uang dari kami, yang tadinya percaya pada kalian. Ketika melihat spanduk berwajah rupawan kalian, tampuk kepemimpinanpun kami berikan lewat pemilihan. Namun, kalian? Apa yang dapat  kalian lakukan selain menggerogoti republik ini, demi memperkaya dinasti kalian sendiri?

Kalian tahu para penguasa, secara perlahan, kalian memperkosa ibu pertiwi hingga ibu pertiwi ini telanjang. Tak mampu tutupi hutangnya di IMF sana. Memalukan! Perekonomian negara yang telah merdeka dan berdaulat ini, masih saja melarat, seiring penduduk miskin yang terus bertambah.
Sungguh kejam perlakuan kalian pada ibu pertiwi hingga konstitusipun mampu kalian kelabui, dan kami yang telah terlanjur memilih kalian. Seharusnya, mereka yang di atas itu menyeimbangkan penggunaan logika dan etikanya dalam memangku jabatan tinggi.

Sungguh miris menatap nasib anak negeri ini ke depan, bila kalian dan kroninya tak tertangkap oleh KPK. Apresiasi kami demi tegaknya konstitusi telah kami sampaikan lewat do’a kami pada Om Abraham, om Johan Budi dan lainnya, kami do’akan agar Anda sekalian tetap dilindungi Tuhan, agar sanggup menanggulangi “warisan orde” baru ini.

Warung Kopi - 09/10/13

Rabu, 09 Oktober 2013

Do'aku Masih Tentangmu

Saat aku diam, bukan berarti aku telah mampu melupakan sosokmu. Hanya saja, aku ingin membiasakan diri dan menerima kenyataan bahwa adalah sempurnamu bukan untuk kukagumi lagi. Sebab, kau mungkin bukan untukku. Ya… kau terlalu sempurna hingga rasa seganku membesar dan nyaliku pun menciut ketika semakin ke sini, aku menyimak tamparan orang tentangmu. Bahkan, ada pula yang mengharamkanku jika denganmu.

Strata, status sosial, dan pekerjaan itu yang kembali membunuh asaku. Kembaliku teringat akan hal itu yang pernah membuatku mundur dari orang yang pernah mendekatiku. Suatu keterkejutan lain kudengar dari sayup-sayup mereka, adalah tak pantas jika kau untukku. Inilah yang membuatku perlahan mundur darimu, walau tetap saja, tak mudah melupakan sosokmu.

Persepsi mereka kadang berkaya bahwa kau lelaki bajingan sekaligus penjahat ketika ia melihatmu mengiris mental orang lain. Lalu ada pula yang berusaha sadarkanku dari gelimangan canduku akanmu. Ya… memang, Aku ingin melupakanmu. Namun, banyaknya yang mengulitimu, semakin membuatku ingin ada di dekatmu. Retorika tentangmu, tak ingin kugubris. Sebab, kata hatiku tak mampu berdusta, tentangmu.

Aku mengenalmu lewat perasaan yang berkalang logika. Etikamu memuntahkan sosok lembutmu. Walaupun yang lain meludahimu dan mengejekmu, setidaknya aku mampu melihat tulusmu. Mengapa? Mudah saja jawabannya… Sebab hati tak pernah dapat berdusta.

Ditengah tangisku akan siksaan rindu ini, seketika vonis dokter mengingatkanku bahwa ada indikasi untuk menjadikanku makruh untukmu. Ah… ini adalah suatu keraguan yang semakin menyadarkanku untuk selalu siap jika kau seketika menghilang.

Aku juga bukan perempuan pintar, bukan dari keluarga berada dan bahkan juga bukan muslimah yang baik jika disandingkan denganmu. Masa lalu telah menenggelamkanku, bahkan menguburku pada nikmat dunia. Oh.. iya. Aku hampir lupa, ternyata pelajaran ini yang seharusnya kugunakan agar aku dapat menyadari diriku.

Kembali hujan mengingatkanku padamu, dan lewatnya pula, do’a ini kusampaikan lagi padaNya untukmu. Semoga kau selalu dilindungi olehNya.

- 9/10/13

Terkait Kesejahteraan Aceh, Menanti Gebrakan KPK Untuk Kasus Korupsi di Aceh!

Tak dapat dipungkiri, “warisan” korupsi sejak zaman orde baru benar-benar telah mencoreng nama Indonesia di mata dunia internasional. Tentunya hal ini amat mengecewakan negeri yang tengah berkembang ini, dimana Indonesia sendiri menjadi negara peminjam dana kepada IMF (International Monetary Fund).
Atas praktek kasus korupsi yang telah mendarah daging di negeri ini, tentunya membuat kita semua kesal. Publik Indonesia sedang menanti-nanti kabar selanjutnya dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas penetapan status tersangka yang telah diberikan kepada Anas Urbaningrum, yang saat ini mengetuai ormas PPI dan Andi Alfian Malaranggeng yang telah melepaskan jabatan Menporanya dan telah digantikan oleh Roy Suryo. Kembali publik dikejutkan dengan penangkapan Rudi Rubiandini yang menjabat Kepala SKK Migas. Beberapa hari lalu, publik kembali dikejutkan dengan tertangkap tangannya sang (mantan) ketua MK, Mohammad Akil Muchtar di kediamannya bersama politisi partai Golkar, Chairun Nisa dan temannya.
Selanjutnya, penangkapan terhadap adik kandung gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah yang memiliki 11 mobil mewah di garasi rumahnya. Setelah ditangkapnya TCW, rakyat Banten mengadakan syukuran cukur rambut. Dan menanti langkah KPK selanjtunya untuk melakukan penangkapan atas Gubernur Banten yang disinyalir memiliki kekuatan dinasti penguasa atas provinsi yang kemarin baru saja berulang tahun. Terungkapnya kasus korupsi yang mengaitkan adik Ratut Atut ini, seolah memberikan angin segar demi terciptanya transparansi di Banten sendiri.
Nah, yang penulis sebutkan di atas hanya sekilas mengenai kasus di daerah yang dekat jangkauannya dengan tim Abraham Samad. Lalu, bagaimana dengan Aceh sendiri?
*
Menanti Sentuhan Lanjutan KPK Atas Kasus Korupsi di Aceh!
Sebagai daerah yang masih berada di tingkat ketujuh sebagai provinsi termiskin seindonesia, publik provinsi serambi mekkah kembali dikejutkan dengan adanya “perkosaan” terhadap daerahnya. Pemerintah Aceh – gubernur Zaini Abdullah telah  menyetujui usulan Tgk. Adnan Beuransyah untuk mengalokasikan dana sebesar Rp 50 miliar demi pengukuhan seorang wali nanggroe, Mahmud Malek Al-Haytar.
Setelah adanya perdamaian antara NKRI-Aceh sewindu lalu, seakan tak memberikah kesejahteraan apa-apa demi rakyat sendiri. Ada apa ini? Kabarnya, para pejabat di sana yang katanya tengah membangun aceh, bagian mana yang dibangun? Mengapa hanya untuk pengukuhan seorang wali nanggroe yang menurut penulis adalah suatu yang tak mendesak (baca: kesia-siaan), mesti berpesta pora?
Inilah suatu ironi di bumi Aceh sekarang.
Seperti yang telah penulis sajikan tanggal (02/10/13) yang lalu, berbagai elemen mesyarakat – LSM telah mengkritisi hal tersebut yang seakan berpesta di atas kemiskinan masyarakat Aceh sendiri.
Mungkin akan ada yang mengatakan, “kalau saya lihat, tak ada warga miskin di Aceh.”
Sekarang penulis bertanya, “datanya dari mana? Bisa ditunjukkan buktinya?”
Kalau hanya sepintas, anak kecil juga akan berkata demikian, dah bahkan mungkin penulis juga akan berkata, “Di Banten atau daerah lain yang ada dalan NKRI, kok sepertinya baik-baik saja ya? Rumah-rumahnya bagus, lalu mana yang katanya penduduknya tak sejahtera?”
Ucapan demikian sesungguhnya adalah suatu ungkapan sekilas lalu karena tak melihat seluruhnya. Seperti yang kebanyakan disajikan oleh acara Orang pinggiran di Trans 7 adalah fakta di lapangan yang tak dapat dinafikan kebenaranya, walaupun ada yang mengatakan bahwa acara tersebut hanya menjual air mata, namun acara tersebut membuka mata kita semua lebar-lebar, bahwa masih banyak rakyat republik ini yang berada pada garis kemiskinan.
Lalu bila dikatakan masyarakat aceh sudah sejahtera, penulis hanya dapat mengatakan, “silahkan telusuri ke kampung-kampung, lihat dan observasi secara langsung,  sudahkah masyarakat Aceh ini sejahtera?” datanya saja, provinsi ketujuh termiskin se-indonesia!
*
Pada tulisan lalu juga, penulis mempertanyakan kaitan antara keinginan rakyat (baca: tak semua) yang getol meminta pemerintah RI untuk menyetujui bendera eks. GAM sebagai bendera Aceh untuk mengalihkan  praktek korupsi di Aceh.  Bagaimana tidak? keinginan itu (bendera) bukan merupakan keinginan seluruh masyarakat aceh yang masih banyak tidak sejahtera. Penulis dapat mengatakan, justru ini erat kaitannya demi menutupi isu kasus korupsi – selanjutnya praktek korupsi -  di sana. Bagaimana tidak?
*
Masih segar dalam ingatan, dimana bencana pada akhir 2004 lalu kembali menyadarkan kita untuk saling membantu dan menjadi momen kembali bersatunya GAM ke dalam NKRI. Saat gempa dan Tsunami itu, banyaknya bantuan dari dalam dan luar negeri berdatangan ke Aceh. Lalu, kemana uang-uang itu?
Menurut salah seorang saudara penulis yang pernah bekerja di bawah Badan Rehabilitas dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias, bantuan berupa uang yang datang ke Aceh, bisa menutup segala kerusakan infrastruktur Aceh. Kata beliau yang melihat langsung dana tersebut, “kalau uang seratus ribuan itu ditumpuk-tumpuk sejajar di atas tanah Aceh, Aceh akan sejahtera.”
BRR boleh pergi dari tanah Aceh, tapi tetap saja, masih ada korban tsunami yang belum mendapatkan kehidupan (baca: rumah) yang layak. Salah satu yang membuat Aceh sampai saat ini tidak sejahtera adalah kasus korupsi di zaman BRR ini yang belum “tersentuh” hukum sampai saat ini.
Kasus ini melibatkan Kepala BRR itu sendiri, Kuntoro M dan Deputi Keuangan Amin S. Banyaknya kejanggalan yang belum diungkap secara hukum ini yaitu pada pemberian gaji ke-13 dan Tunjangan Hari Raya (THR) sebesar 20 miliar lebih kepada kroninya.
Menurut Askalani, Koordinator GeRaK (Gerakan Anti Korupsi) Aceh, Jangankan suara aktivis, aparat penegak huku saja gemetar bila berhadapan dengan BRR NAD-Nias.” Bukan hanya Askalani yang mampu berkata demikian, mantan anggota DPRA dari fraksi PDIP, Said Ikhsan juga menyindir, “ yang salah bukan lembaganya tapi oknum-oknummya. Institusi boleh di tutup, tapi orangnya kan masih beredar, seperti Pak Kun, misalnya. Apalagi kasus Gaji 13 dan THR di BRR NAD Nias setahu saya tidak ada dasar hukumnya, karena mereka bukan lembaga negara, lagi pula di bentuk BRR agar korban tsunami dapat di tolong bukan lomba-lomba nyolong.”
Menurut data GeRak (Gerakan Anti Korupsi) Aceh, dalam kurun 2009 hingga 2010 sedikitnya 16 terdakwa korupsi divonis bebas oleh Pengadilan umum di Aceh.Padahal dari serangkaian kasus itu negara dirugikan hingga Rp 79,8 milyar.Koordinator GeRAK Aceh, Askalani mendesak penegak hukum untuk segera menuntaskan kasus korupsi yang masih mengambang itu. “Penegak hukum harus lebih proaktif menggali lagi bukti-bukti terkait kasus-kasus ini walaupun kasusnya sudah lama berlalu.”
Berhenti di situ? Tidak! Berdasarkan hasil temuan BPK tahun 2010, Provinsi Aceh masuk kategori wilayah merah dan rawan praktik korupsi. ” Ini ditunjukan dengan potensi yang masih sangat tinggi, terutama potensi kerugian negara dengan jumlah anggaran yang sangat besar,” masih kata Askhalani, Koordinator GeRak Aceh.
Seiring dengan makin maraknya praktek korupsi di tiap daerah di Indonesia, kita semua yang mampu berpikir secara sehat, tentunya sangat mengapresiasi kinerja KPK untuk tahun ini, dimana satu persatu kasus korupsi yang membelit Indonesia sejak lama, sudah mampu terungkap seperti kasus di Sabang, Aceh.
PT Nindya Karya yang berpusat di Cawang, Jakarta Timur juga diduga turut terlibat dengan proyek dermaga bongkar Sabang yang berlangsung sejak tahun 2006-2010 lalu. Korupsi yang terjadi pada kasus tersebut telah merugika negera sebanyak Rp 249 miliar. Mencengangkan!
Atas penemuan tersebut, Johan Budi, selaku juru bicara KPK mengatakan pada konfrensi pers (20/8/13), “Penyidik KPK menemukan minimal dua alat bukti yang cukup untuk meningkatkan status kasus tersebut ke penyidikan dengan menetapkan dua orang sebagai tersangka, yakni RI dan HS.”
Oknum Pejabat di Aceh sendiri yang telah melakukan korupsi, hendaknya menyadari bahwa KPK dibawah pimpinan Abraham Samad akan segera memasuki Aceh terkait banyaknya pelimpahan kasus korupsi dari berbagai kabupaten/kota se-Aceh kepada pengadilan Tipikor di Banda Aceh. Walaupun banyaknya kasus tersebut dan membuat Hakim Adhoc yang Cuma 3 orang di sana kewalahan, dan ini patut menjadi perhatian Abraham Samad selaku ketua KPK, tapi ini saja sudah mampu merealisasikan bahwa benar, di Aceh juga ada korupsi. Ini yang penulis katakan tadi patut diapresiasi.
Last but not Least. Menurut Bongkarnews.com Di tahun 2013 ini juga, KPK juga telah melakukan pemantauan atas banyaknya pejabat Aceh yang “main mata” dalam upaya perekrutan CPNS. Salah seorang sumber dari Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Provinsi Aceh, menyebutkan bahwa“Ini langkah yang tepat untuk antisipasi peluang terjadinya suap-menyuap antara pejabat dengan calon pelamar (CPNS) itu sendiri. Sehingga, mereka yang lulus murni dengan sumberdaya manusia yang ada.”
*
Kembali ke judul tulisan yang membawa nama KPK. Penulis sangat mengapresiasi kinerja KPK dibawah Abraham Samad yang berhasil menunjukkan kredibilitas lembaganya dan membuka mata publik atas praktek warisan “leluhur” zaman orba itu, semakin banyak dan merajalela. Penulis yang mungkin(?) buta politik, hukum dan birokrasi ini, tentunya hanya dapat berharap agar kasus korupsi di Aceh pasca Gempa dan Tsunami 2004  juga terungkap disamping kasus korupsi lainnya, terkait provinsi Aceh sendiri yang masih ada di peringkat ketujuh termiskin seindonesia. []

Rabu, 02 Oktober 2013

Kesejahteraan Seluruh Masyarakat Aceh Lebih Penting Ketimbang Seorang Wali Nanggroe!

13807239471808201312
Ilustrasi/Admin (Ajie Nugroho)
Sebagaimana yang telah tersiar di banyak media di awal oktober ini, Provinsi Aceh akan mengukuhkan wali nanggroe, Malek Mahmud Al-Haytar untuk jabatan “seumur hidup”. Sebenarnya, pengukuhan itu bukan kabar baru bagi penulis. Karena kabar yang beredar masih belum jelas (baca: sebatas wacana), makanya belum penulis sajikan. Menurut berita yang penulis ketahui, awalnya beliau akan dikukuhkan pada tanggal 20 Sepetember 2013 yang lalu bersamaan dengan kedatangan Presiden SBY ke Provinsi Aceh yang akan membuka Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VI seperti yang dikatakan oleh Ketua Badan Legislasi DPR Aceh, Selasa (13/8/13) di Banda Aceh, “Jadwal pengukuhan Wali Nanggroe masih tentatif. Namun, dalam rapat Badan Musyawarah DPR Aceh dijadwalkan pada 20 September mendatang.”

Ternyata hari ini, berita tersebut tersiar kembali . Dengan akan menelan biaya sebesar  Rp 50 Miliar yang juga telah disetujui oleh Gubernur Provinsi Aceh, Dr. Zaini Abdullah, pengukuhan yang disebutkan akan dilaksanakan pada bulan Desember 2013 ini. Tentunya hal “menggembirakan” ini menuai pro dan kontra dari sejumlah kalangan. Mengapa?

Seperti telah disebutkan pada tulisan sebelumnya, pengukuhan Jokowi dan Ganjar Pranowo saja , tidak lebih dari Rp 500 juta, padahal jelas bahwa jabatan beliau adalah pemangku jabatan tertinggi di tiap daerahnya. Banyak pertanyaan yang harus dipertanyakan kepada Gubernur Aceh sendiri, misalnya seperti:

1. Wali Nanggroe ini siapa?
2. Fungsinya apa?
3. Mengapa dananya harus Rp 50 Miliar?
4. Setujukah semua masyarakat provinsi Aceh?

Sebelum lebih jauh menelusuri lebih banyak tentang wali nanggroe dan kontroversi Rp 50 Miliar ini, ada baiknya jika kita mengetahui, siapa Malek Mahmud Al-Haytar.

Malek Mahmud Al-Haytar adalah Mantan Perdana Mentri GAM yang diangkat menjadi wali nanggroe sejak terpilihnya Zaini Abdullah dan Muzakkir Manaf sebagai orang nomor satu dan dua yang berhak memerintah provinsi Aceh. Bukan rahasia lagi, beliau berdua adalah mantan gerakan seperatis GAM yang telah berjanji setia kepada NKRI lewat MoU (Memorandum of Understanding) 15 Agustus 2005, di Vinna, Helsinki, Finlandia. Bersama Marthi Atthisari, diplomasi yang dibangun oleh delegasi Indonesia - Provinsi Aceh ini telah memberikan harapan baru bagi kedamaian provinsi Aceh.

*

Wali nanggroe sebenarnya dipilih untuk menyatukan seluruh masyarakat provinsi serambi mekkah ini. Namun, kekeliruanpun menyeruak dikarenakan, Wali Nanggroe yang dikatakan mewakili seluruh rakyat Aceh, nyatanya tidak menjawab aspirasi seluruh rakyat.
Mengapa saya katakan tidak? Alasannya cukup sederhana. Provinsi aceh itu jelas memiliki perbedaan di tiap suku di dalam provinsinya. Tak hanya satu suku dan bahasa yang ada di sana, tapi banyak. Mungkin pembaca pernah mendengar, suku dan bahasa Gayo atau Alas misalnya?

Keduanya, dari segi adat dan budaya, tidak sama dengan provinsi Aceh dari pantai timur. Mereka yang ada di Aceh Tengah, dan Pantai barat hingga selatan juga tenggara Aceh, tidak setuju dengan adanya bendera bulan bintang seperti yang dimiliki GAM sebelumnya.
Dari segi pemikiran saja, mereka tak sama dengan wali nanggroe. Lalu, bagaimana bisa dikatakan bahwa wali nanggroe adalah wakil masyarakat Aceh? Untuk rekan-rekannya sesama eks. GAM, mungkin benar. Namun tidak, bagi mereka yang menuntut adanya pemekaran provinsi ABAS-ALA.

Tuntutan pemekaran ini yang sebenarnya patut dikhawatirkan. Mengapa demikian? Karena dari dahulu, walaupun kita/kami berbeda-beda suku, agama, budaya, dan adat istiadat, tak pernah ada tuntutan seperti ini. Kalaupun ada, mungkin sekedar wacana yang tak perlu dibesar-besarkan.

Namun, sejak adanya kasus bendera dan lambang Aceh ini, provinsi Aceh Tengah, Barat, selatan dan Tenggara pun ikut bergolak karena terus terang saja, mereka sangat setia pada NKRI dan tak menyetujui bendera itu. Seputar ini, banyak di media cetak, elektronik maupun internet.

Dengan kata lain, mereka yang menolak berkata bahwa, lebih baik menjadi provinsi dari pada berada dibawah kepemimpinan eks. GAM. Ini yang harus dipikirkan dan dicerna oleh pemangku jabatan wali nanggroe.

*

Dana menggembirakan (baca: tak wajar) ini sebenarnya adalah usulan dari Ketua Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Tgk Adnan Beuranyah yang meminta persiapan alokasi dana kepada pemerintah Aceh, mengingat wali nanggroe ini akan dikukuhkan pada Desember mendatang. Menurutnya, dana itu adalah dana maksimal untuk kesuksesan acara itu karena acara itu akan mengundang dan menjamu seluruh rakyat aceh, perwakilan pemerintah pusat dan raja-raja serta duta besar negara asing, baik yang ada di Jakarta maupun kota lain, juga perwakilan negara sahabat.

Sebelumnya, seperti yang telah disebutkan, Gubernur Aceh sendiri telah menyetujui pengalokasian dana itu. Dan sore tadi (02/10/13) , Jawaban itu dibacakan oleh Asisten III Setda Aceh, Muzakkar A Gani, dalam sidang paripurna perubahan anggaran pendapatan dan belanja Aceh tahun 2013, di gedung DPR Aceh. “Terhadap pendapat, saran dan usul anggota dewan yang terhormat, pada prinsipnya kami sepakat. Namun demikian, alokasi anggaran pengukuhan Wali Nanggroe harus sesuai dengan kegiatan yang akan dilaksanakan. Untuk kegiatan pengukuhan Wali Nanggroe yang direncanakan pada bulan Desember 2013 telah tersedia anggarannya pada Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh tahun 2013,” kata Muzakkar saat membacakan jawaban atas pandangan fraksi yang ditantangani oleh Gubernur Zaini Abdullah.

Seusai pembacaan jawaban dari Gubernur Aceh itu, beliau juga mengatakan kepada wartawan yang bertanya lebih lanjut, “ini bukan menolak dan menerima ya, kita melihat aspek kebutuhan dan mamfaat. Secara sebisa mungkin ada pertimbangan-pertimbangannya. Ya kita lihat dan sesuaikan dengan kegiatannya.”

Seharusnya, sebagai orang yang telah mengusulkan dana tak wajar ini, Tgk. Adnan Beuransyah yang merupakan politisi dari partai Aceh dengan jabatan Ketua Komisi A DPR Aceh juga wajib hadir dalam pembacaan jawaban Gubernur tadi. Lalu, ke manakah beliau? Seperti yang terlihat di sini, kursi beliau kosong.

*

Alokasi dana itu sejatinya tak disetujui oleh masyarakat Aceh mengingat masih banyak masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan ketujuh se-indonesia dengan tingkat kemiskinan 20.98%. Seperti yang dikatakan oleh masyarakat bahwa mereka tak akan membayar pajak apapun jika hal tersebut masih mau dilanjutkan, toh Dana ini nantinya akan memakai dana rakyat. Menurut mereka ini adalah pemborosan yang kalaupun harus dilakukan hanya sebatas kanduri rakyat. Biaya pelantikan presiden saja hanya Rp 1.2 Miliar.

Tak hanya masyarakat, dari @UnsyiahHAba yang juga menyertakan berita yang mengatakan bahwa Wali Nanggroe Kuras Anggaran Acehbit.ly/16fUJZp#buang duit, padahal masih banyak orang miskin, mau bukti.. byk pengemis waktu PKA.”

Selanjutnya dari @desinometri: Pak Gubernur, 50 M untuk pelantikan wali nanggroe? Itu.. janji 1 Juta per KK waktu kampanye dulu kapan realisasinya Pak?

Nah lho… janji 1 juta/KK bagi seluruh rakyat aceh kembali menjadi pertanyaan. Janji itu kan terucapkan dari Gubernur-Wakil  gubernur ketika masa kampanye sebelum mereka terpilih di 9 April 2012 yang lalu. Masih banyak rakyat yang hidup dibawah garis kemiskinan di Aceh sendiri.

Tak hanya rakyat yang menganggap Rp 50 Miliar itu adalah pemborosan, Kepala divisi Kebijakan Publik GeRak Aceh, Isra Safril mengatakan, “Saat ini pengusulan anggaran Rp. 50 miliar tersebut, tidak rasional dan tidak masuk akal. Angka Rp 50 miliar sangat besar apalagi event seperti itu hanya seremonial yang tidak menimbulkan dampak untuk pembangunan bagi masyarakat secara langsung.” Dalam hal ini, peran Gamawan Fauzi selaku Mentri Dalam Negeri tentunya tak tinggal diam dan mengurusi Lurah Susan. Ini masalah antar provinsi. Lurah Susan, biarkan diurus oleh Jokowi-Ahok.

Ditambahkan oleh Askalani, Koordinator GeRak Aceh, “biaya untuk pengukuhan Wali Nangroe, menurut Askhalani, silakan dialokasikan tapi yang rasional, yang tidak menciderai atau melukai rasa keadilan rakyat.”

Tak hanya GeRak (Gerakan Anti Korupsi) Aceh, masih ada LSM lain yang menolak “uang panas” ini. MaTa (Masyarakat Transparansi Aceh) melalui Koordinator Badan Pekerja Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA), Alfian menilai usulan dana Rp 50 miliar untuk pengukuhanWali Nanggroe sangat tidak rasional. Ini mengesankan pengusulnya kurang peka dengan nasib masyarakat Aceh saat ini yang hidup dalam kesusahan, termasuk korban gempa di Aceh Tengah dan Bener Meriah yang masih perlu bantuan lebih maksimal. Selain itu, KAMMI (Komunitas Mahasiswa Muslim) Aceh juga menolak uang panas ini untuk dihambur-hamburkan hanya berupa seremonial yang tak ada untungnya bagi kelangsungan hidup rakyat aceh sendiri.

Masalah bendera dan lambang Aceh saja belum selesai, sekarang malah ada lagi masalah baru yang cukup mengejutkan masyarakat. Seharusnya, mereka yang duduk di DPR Aceh, lebih mengetahui dan memperhatikan kesejahteraan nasib masyarakatnya dan bersedih atas predikat provinsi termiskin ketujuh seindonesia yang disandang oleh provinsi ini. Sebaiknya, mereka mengkaji ulang pemakaian dana ini, sebab sesungguhnya, dana sebesar ini tak ada manfaatnya. Bagi orang yang mampu mencernanya dengan baik, malah dana ini akan semakin banyak menimbulkan konflik intern di provinsi Aceh sendiri. []

Elektabilitas ARB Tak Meningkat Pasca-Rapimnas, Golkar Akan Konvensi?

1380618978542088624
Ilustrasi/Admin (KOMPAS.com)
Sekitar enam bulan lagi, pesta demokrasi terbesar di republik ini akan kita jelang. Masing-masing partai calon pemenang pemilu, telah mempersiapkan calon yang akan menduduki  jabatan RI-1.
Partai Golkar misalnya. Nama Abu Rizal Bakrie (ARB) disebut-sebut sebagai kandidat kuat sebagai calon presiden menggantikan Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang hampir sepuluh tahun berkuasa. Tak ketinggalan, konvensi yang dilakukan oleh Partai Demokrat yang dirasakan penulis merupakan suatu kesia-siaan, mengingat banyaknya cacat partai ini sendiri, Konvensi ini memang harus dilakukan guna ikut maju di pilpres 2014 mendatang. Episode konvensi itupun telah menjaring beberapa nama, walaupun tak sedikit yang menolaknya dengan alasan setia pada partai sebelumnya. Sebut saja, Rustriningsih yang merupakan kader PDIP dan Jusuf Kalla dari Partai Golkar.
Seiring dengan semakin dekatnya pilpres, bulan lalu juga diadakan Rakernas PDIP yang berlangsung pada tanggal 6-8 September 2013. Dalam rakernas tersebut, nama Jokowi sebagai kandidat Capres dari PDIP pun menyeruak seiring tingkat elektabilitasnya yang semakin meroket. Namun, Jokowi masih harus menunggu persetujuan Megawati Soekarno Putri jika ingin melenggang mulus menjadi capres dari PDIP, padahal hampir seluruh rakyat Indonesia menginginkan mantan walikota Solo itu untuk menjadi Presiden RI periode 2014-2019.

Rapimnas Golkar Bicara Tentang Elektabilitas ARB

Setelah rakernas PDIP, Partai Golkarpun akan mengadakan Rapimnas yang mana akan membicarakan langkah selanjutnya untuk mampu menembus pemilu. Bukan rahasia lagi, ARB yang diusung dari partai Golkar, semakin gencar saja memproklamirkan dirinya sebagai calon penguasa RI. Tentunya lewat iklan politik di salah satu televisi yang beliau miliki. Salahkah? Tentu tidak. Jelas ini adalah haknya dalam memperlihatkan kebaikannya (baca: pencitraan) kepada masyarakat. Boleh saja melakukan pencitraan, toh dalam komunikasi politik, hal ini juga lumrah dilakukan dalam menarik simpati para calon pemilih.
Namun demikian, Partai Golkar yang mengusung ARB ini tampaknya kewalahan dalam menyikapi banyaknya lembaga survey yang menyebutkan bahwa rendahnya elektabilitas dari ARB sendiri. Hal ini juga dibenarkan oleh wakil DPP Partai Golkar, Agung Laksono yang mengakui bahwa elektabilitas Ical sendiri jauh berada dibawah Jokowi, sang gubernur DKI Jakarta yang populer dengan aksi blusukannya dan Prabowo Subianto dari Partai Gerindra. Hal ini sudah disadari betul oleh Ical seperti yang dikatakan Agung laksono, “Ini kan sudah diputuskan Pak ARB (Ical). Meskipunelektabilitasnya belum setinggi Pak Prabowo maupun Jokowi.”
Rapimnas Partai Golkar sendiri akan terlaksana pada bulan Oktober 2013 ini, dimana tentang elektabilitas Ical ini akan menjadi agenda acara,  disamping pembahasan mengenai Pileg 2014. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Akbar Tanjung, selaku Ketua Dewan Pertimbangan Agung Partai Golkar, “Sejauh mana capres kita juga punya peluang cukup menjadi pemenang. Elektabilitasnya, apa yang harus kita lakukan untuk mendongkrak itu. Saya melihat elektabilitas capres kita harus diperhatikan, kalau tak ada kenaikan, cari evaluasi, penyebabnya, dan evaluasi tim kita.”
Meskipun elektabilitas Ical sendiri masih jalan ditempat sampai saat ini, bukan berarti akan ada penggantian capres. Ical tetap menjadi capres, tetapi segala hal termasuk adanya usaha penggoyangan di dalam tubuh partai Golkar sendiri, harus dievaluasi. Ketidaksolidan  tersebut yang seharusnya diperbaiki oleh partai yang berlogo pohon beringin ini, guna memperoleh  20 persen kursi di pemilu yang dikatakan Agung Laksono secara opitmis, “Partai Golkar sudah memasang target meraih suara minimal 20 persen dalam Pemilu 2014. “Kita harap di atas 20 persen. Kita di tiga besar, bahkan kita ada di antara satu dan dua.”

Elektabilitas ARB Masih Rendah dibawah Jokowi dan Prabowo

Seperti yang telah penulis singgung di atas, elektabilitas Jokowi yang semakin meroket ini akan memberikan dampak yang cukup signifikan dalam pencapresan Abu Rizal Bakrie. Semakin terkenalnya Jokowi, tentunya mempengaruhi elektabilitas Ical. Jokowi bak primadona di negeri ini, semua begitu menginginkannya. Tentunya ini menguntungkan PDIP, bukan?
Terang saja, elektabilitas PDIP juga akan naik jika mau mengusung Jokowi sebagai capres, tentunya seizin Megawati Soekarno Putri terlebih dahulu. Jokowi juga masih ingin mengurus Jakarta dulu, mengingat kemacetan dan banjir di Jakarta yang belum teratasi.
Tak hanya di Indonesia, masyarakat duniapun mengenalnya. Pencapresan Jokowi pun diulas oleh media luar negeri seperti News.com.au yang mewawancarai beliau saat menonton konser Metallica di area festival. Disebutkan oleh media tersebut, sosok Jokowi yang gemar blusukan itu tak menampakkan kekuasaannya.
Tak ketinggalan, News.com.au juga menyebutkan ARB sebagai pengusaha dengan banyak kontroversi dan Prabowo Subianto yang terlibat pelanggaran HAM diberbagai daerah sewaktu masih menjabat sebagai Komandan Jendral Kopassus.
Katakanlah Prabowo sudah bertaubat dan sudah menjadi nasionalis dan karena alasan nasionalis ini pulalah, Prabowo sendiri telah melakukan diplomasi dengan pihak Malaysia atas hukuman yang menimpa Wilfrida, padahal sebenarnya ini lebih layak dilakukan oleh Mentri Tenaga Kerja.
*
Kembali lagi ke elektabilitas ARB yang jauh di bawah Jokowi dan Prabowo, diharapkan tak ada perpecahan di dalam kubu Partai Golkar sendiri, agar 20 persen kursi nanti diperoleh partai ini. Seiring dengan itu, elektabilitas ARB pun akan naik. Jika tidak naik juga, sepertinya nasib Partai Golkar tak jauh berbeda juga dengan Partai Demokrat, dimana harus melakukan konvensi juga guna meraih suara pada pilpres mendatang. []

Nembak Cowok, Praktek Emansipasi yang Kebablasan!

Memiliki perasaan suka (baca: cinta) terhadap lawan jenis adalah hal yang sangat wajar yang dimiliki oleh seorang manusia. Di mana biasanya dimulai setelah beberapa kali perkenalan langsung yang diikuti dengan intensnya komunikasi diantara keduanya. Apalagi untuk di zaman yang teknologinya sudah canggih seperti sekarang, di mana keakraban itu bisa dilewati dengan mudah. Seiring banyaknya media sosial maupun fitur chatting di berbagai smartphone, kemudahan itu seakan memberi peluang lebar untuk merasakan sekaligus menikmati si virus merah jambu ini. Setelah dirasakan cukup dekat, barulah seorang laki-laki menyatakan cintanya kepada perempuan yang disukainya. Ya, hal ini wajar dong, toh sudah kodratnya cowok nembak cewek. Lalu, jika hal sebaliknya terjadi, bagaimana?
***
Tentang cewek nembak cowok ini yang kembali mengusik perhatian saya sejak dua hari yang lalu  dan jujur saja ini membuat saya tersenyum sendiri sampai saat ini. Pasalnya, seorang adik perempuan menghubungi saya via whatssapp dan mengatakan bahwa dirinya tengah galau akibat mencintai seorang lelaki yang ternyata telah memiliki seorang kekasih.
Awalnya, saya hanya mengatakan bahwa untuk dilupakan saja. Setelah sang adik berkata sulit, lalu sayapun menyarankan untuk pelan-pelan saja. Kemudian sang adikpun akhirnya mengatakan bahwa, “pas aku bilang suka, baru dia jujur kalau dia udah punya pacar, kak.”
Betapa terkejutnya saya membaca pesannya yang mengatakan bahwa dia “nembak” lelaki itu. Setelah saya tanyakan alasannya, ia berkata bahwa tak sanggup lama-lama memendam cintanya ke si lelaki. Karena menyimak pengakuan si lelaki yang mengatakan bahwa telah menganggap adik saya ini sebagai saudara, iapun hanya bisa menangis. Menangis karena malu, “udah aku yang nembak, ditolak pula. Gimana cara lupainnya, kak?” tanyanya.
Saya juga bingung jawabnya harus bagaimana. Kebetulan saya teringat akan cerita seorang kakak bahwa, jangan dilupakan. Mengapa? sebab semakin berusaha untuk dilupakan, maka akan semakin sakit rasanya. Ya sudah, daripada bingung, ya saya bilang gitu saja ke si adik. Dia bilang sih, akan dicoba.
Adalah hal yang menggembirakan bila pernyataan cinta tadi diterima oleh sang target (laki-laki), jika ditolak? Hasilnya tak jauh beda dengan yang dialami oleh adik saya tadi, lho! Di mana dia malu sendiri akan “kebodohan” yang ia lakukan. Lalu ia juga menangis dan kata move on pun sampai ia lupakan. Malah ia sempat berujar, “biarin ajalah dia sama pacarnya, tunggu aja sampai putus.” Duh,,, iya kalau putus, kalau ‘gak, gimana? Bukannya tambah galau nanti kamunya dik?” balas saya. intinya sih seperti yang kakak bilang tadi, jangan berusaha dilupakan, karena kau yang akan merasakan sakitnya sendiri. Santai saja. Kalau jodoh juga ‘gak kemana, toh?” kata si kakak yang sok kuat ini ke adiknya.
*
Banyak yang mengatakan, untuk zaman maju seperti sekarang ini, jangankan laki-laki, perempuanpun bisa menyatakan cintanya kepada laki-laki yang disukainya. Terlebih, dengan perangkat smartphone dan social media yang ada. Apalagi, sekarang zamannya emansipasi di mana, perempuan berhak menyuarakan suaranya. Emansipasi? Emansipasi ini yang kerap menjadi alasan bagi kebanyakan perempuan timur, seperti kita yang berdomisili di Indonesia memilih untuk “nembak” cowok. Adanya kalimat, “bilang aja, dari pada hatimu sekarat sendiri”, agaknya menjadikan nembak cowok ini menjadi “legal” untuk dilakukan.
Memang benar, tak ada hukum negara yang mengatakan bahwa seorang perempuan akan dipenjara karena menyatakan cintanya terlebih dahulu kepada lawan jenis. Jangankan hukum negara, saya rasa, hukum agamapun rasanya tak ada yang akan mengatakan perbuatan ini salah. Bahkan ada juga yang mengatakan bahwa dahulu, ibunda Siti Khadijah yang melamar Rasulullah Saw. Dengan adanya alasan-alasan di atas, perempuan tadi berani mengungkapkan perasaannya kepada lawan jenis.
Memang tidak ada yang salah dengan ungkapan cinta ini, toh juga tak ada salahnya membicarakan fakta/kejujuran. Namun, di mana rasa malu bila sebagai perempuan yang biasanya menunggu didatangi, malah mendatangi laki-laki?
Menurut hemat saya sebagai perempuan timur, rasa malu kerap menjadi halangan untuk saya memproklamirkan apa yang saya rasakan kepada lawan jenis. Ya… seperti perempuan kebanyakanlah, yang masih menggunakan cara-cara konvensional di mana ia lebih sanggup memendam perasaannya ketimbang harus menanggung malu akibat pernyataan cintanya itu ditolak oleh sang target.
Banyaknya persentase kelahiran perempuan dibandingkan laki-laki, terkadang menjadikan alasan lain untuk si perempuan ini “unjuk gigi”. Unjuk gigi. Hm… Untuk perpolitikan negeri ini, saya juga amat mendukung semangat emansipasi ini, dimana untuk zaman sekarang, peran perempuan untuk menjadi politikus semakin diperhitungkan. Toh faktanya, banyak perempuan yang melenggang ke senayan atau menjadi pejabat di daerahnya masing-masing.
Perempuan yang menjalankan semangat emansipasi ini akan lebih tampak elegant jika kita sendiri sebagai perempuan lebih mampu menyeimbangkan antara penggunaan logika dan etika kita bila akan berkreasi untuk memajuankan kepentingan diri, lingkungan, dan sosialisasi menjadi pribadi yang mampu menyetarakan diri si perempuan ini dengan laki-laki, bahkan ke kancah dunia politik. Namun kalau untuk masalah hati? Rasanya, tak layak jika menempatkan masalah hati ke dalam suatu tatanan emansipasi.[]

[Review] Vaseline Super Food Skin Serum, bukan Hand & Body Lotion Biasa

Memiliki kulit wajah dan tubuh yang terawat dan sehat, tentu impian kita. Selain itu, anugerah Tuhan yang ada di diri kita, sepatunya mema...