Jumat, 11 Desember 2015

Perupa Muda Karo Adakan Gerakan Save Your Local Artist

#Kurangnya Perhatian Pemkab & Masyarakat
Perupa Muda Karo Adakan Gerakan Save Your Local Artist
 dok. salomo fedricho purba

Berangkat dari kegelisahan para pekarya dan seniman lokal karena kurangnya perhatian Pemerintah Kabupaten Tanah Karo, maupun masyarakat sekitar untuk tetap berkaya guna mempertahankan eksistensi kebudayaan Karo melalui karya seni khususnya seni rupa, Gerakan Save Your Local Artist digelar Senin (7/12) mulai dini hari di sekitaran jalan Berastagi.

Dikatakannya Humas gerakan ini Salomo Fedricho Purba, bersama timnya yang terdiri dari Deepi Tarigan, Bayu Bazrah, Lukman Syahputra, Lili Ardi, Dimastio, dan lain-lain, memajang beberapa karya seni rupa/seni lukis di pinggir jalan.

“Dalam mempertahankan seni karo, tim kami dapat dikatakan sudah susah payah. Namun karena masih banyak yang mengabaikan, maka gerakan ini pun kami lakukan demi menggugah perhatian mereka yang abai,” katanya di Taman Budaya Sumatera Utara Medan Jalan Perintis Kemerdekaan Medan, Senin (7/12) siang.

Para pekarya tersebut yang notabenenya masih muda  ujarnya, ingin mempertahankan kebudayaan lokal di umur mereka yang semuda itu agar tak semakin tergerus dengan perubaan zaman dimana anak muda Karo sendiri sudah banyak yang demam musik, konon lagi karya seni negara luar.

Prosesnya sendiri diceritakannya, dimulai dari pengerjaan masing-masing pekarya. Selain itu, mereka juga membuat poster dan karya lainnya lalu turun ke jalan dan menempel serta melukiskan langsung di lokasi. Poster bertulisakan lukisan "Save Your Local Artist" & Mar Pal Terus Berkarya, Ula Arapken Negara" yang artinya Selamatkan Seniman Lokal  & Mari Terus Berkarya, Jangan Berharap kepada Negara.

Ternyata, yang dilakukan mereka mendapat tanggapan positif dari para pengguna jalan seperti yang diungkapkan Maria. Maria mengatakan, masyarakat kurang mengapresiasi seni karena masing-masing sibuk dengan pekerjaannya. Selain itu, musibah gunung Sinabung masih menjadi perhatian masyarakat luas.

Namun kata Salomo, hal itu bukan menjadi alasan mutlak bagi pengabaian lokalitas kebudayaan. Terbesit harapan dari kegiatan ini katanya, yang dapat diartikan sebagai aksi protes/ kritikan kepada pemerintahan Kabupaten Karo, agar melihat atau mengapresiasi karya seni lokal khususnya seni rupa di Tanah Karo.

“Kami berharap, pemerintah sendiri mampu mengapresiasi seniman lokal. Ini juga karena tidak ada pemerhati seni yang betul-betul mengerti tentang kesenian lokal,” katanya.

Selain itu, ditambahkan Deepi Tarigan, timnya juga berharap adanya sinergi antara pemerintah dan seniman lokal dalam pengelanan karya seni tersebut kepada publik. Dari situ katanya, dapat berdampak kepada kesadaran dan pengakuan masyarakat Karo akan identitas suku dan kesnian lokalnya.

Menurutnya, dengan  mengetahui indentitas kesenian lokal juga merupakan salah satu contoh pelestarian budaya. Apalagi, karya seni ini juga dapat dijual dengan harga yang relatif mahal di pasar-pasar wilayah Berastagi. Belum lagi kalau ada bule yang singgah, pasti membeli hasil karya seni ini. Ini karena menurutnya, banyak bule yang menyukai karya seni Indonesia.

“Karya seni asli ini sejatinya dapat mendongkrak pariwisata di Berastagi. Jadi saya rasa, ini harus ditonjolkan,” ujarnya.

Tidak ada komentar:

Peran Industri Kreatif Anak Muda Indonesia di Era Milenial

Sungguh beruntung, Kota Medan mendapat kesempatan dalam rangkaian sosialisasi 4 Tahun pemerintahan Kabinet Kerja yang diselenggarakan ol...