Jumat, 15 Januari 2016

Perpaduan Thriller dan Horror Lewat Film Midnight Show

Boleh jadi, film dengan suasana menegangkan bergenre Thriller, masih asing di jagad perfilman tanah air. Ya, keberadaannya masih bisa dihitung jari, sebut saja diantaranya Kala (2007), Pintu Terlarang (2009), Modus Anomali (2012), dan Killers (2014). Keberadaanya yang jarang, mungkin diakibat permintaan pasar masa kini yang lebih menyukai film bergenre drama romantis atau drama komedi. Yayaya... saya cukup maklum,  mungkin diakibatkan oleh status perpolitikan dalam negeri yang menyebabkan kebanyakan orang stres memikirkan sesuatu yang berat.

Namun di awal 2016 ini, kesukaan saya dengan film Thriller, cukup terobati oleh hadirnya film dari negeri sendiri berjudul Midnight Show, sebuah film garapan Renee Pictures dengan sutradara asal Aceh Ginanti Rona, yang tayang secara nasional mulai Kamis, 14 Januari 2016 kemarin. Suka cita saya semakin bertambah karena Kota Medan yang saya tinggali ini, termasuk kota yang beruntung karena terpilih sebagai kota pemutaran Gala Premiernya, selain Jakarta dan Bandung, pada Senin, 11 Januari 2016.
Gandhi Fernando seusai menyaksikan film yang dimainkannya di Hermes XXI, Senin (11/1) malam.

Walaupun Thriller, film ini dikatakan Ginanti, bersifat misteri yang menyayat (slasher mysteri). Makanya dalam tiap scenenya yang ada hanya ketegangan. Tak sampai di situ,walaupun ada hawa horrornya, film ini juga berbeda dengan film horror biasa, konon lagi horror esek-esek karena tidak ada satu tubuh wanita bahkan hantu sekalipun yang muncul. Ginanti maupun Gandhi Fernando salah satu produser yang juga sebagai pemeran menambahkan, meski jenis film thriller bukanlah genre yang tergolong populer di Indonesia, namun lewat film berdurasi 95 menit tersebut, bagi para penonton dewasa bisa mendapatkan atmosfer atau sensasi yang berbeda dari film-film Indonesia pada umumnya.

“Film ini berbeda karena memiliki keunikan genre tersendiri yaitu Thriller. Sehingga membuat penonton akan merasa rugi jika tak melihat keseluruhan scene,” kata Gandhi kepada wartawan saat konferensi pers di Kiss FM Jalan Cut Nyak Dien Medan, Senin (11/1).

Selain Gandhi sendiri, dalam film ini juga menampilkan Acha Septriasa, yang baru kali ini memerankan film Thriller. Kata Gandhi, ketika awalnya ditawarkan, Acha belum menyetujuinya. Pasalnya Acha sendiri spesialis film bergenre Drama Romantis, keluarga, komedi, dan Drama Religi. Tak menyerah, karena dia ingin beradu acting dengan idolanya, Gandhi menyodorkan naskah filmnya ke Acha. Tak lama, Achapun menyetujui bermain di film ini. Namun kata Gandhi, bagi pemirsa televisi malah Ratu Felisha yang bisa dikatakan banyak menyedot perhatian karena Ratu kerap bermain sinetron. Ada juga Ganindra Bimo yang diketahui publik karena dia juga presenter di Televisi.

“Bila dikatakan Acha merupakan magnet penonton, mungkin benar. Tapi saya memilihnya karena suka dengan peran-peran Acha di film drama. Sebuah tantangan besar sekaligus karunia juga saat Acha memutuskan untuk menyetujui ambil peran di film ini, selain ada Ratu Felisha dan Ganindra Bimo yang lebih sering dilihat pemirsa televisi,” tuturnya.

Ditambahkan Gandhi, sebelum diputar di Indonesia, film ini diputar di Puerto Rico (2015) dengan mendapat respon positif dari sekira 800 penonton. Respon positif itu kata Gandhi, berguna bagi peningkatan citra positif Indonesia, supaya orang luar negeri tahu Indonesia memiliki kebanggan lewat filmnya.

Film yang menceritakan sebuah misteri di bioskop ini, tak pelak mengundang jeritan penonton. Ya, mungkin mereka yang menjerit itu cuma mereka yang kaget dengan darah. Kalau yang diam, tanpa reaksi berarti, bisa dikatakan mereka yang tak mengerti jalan ceritanya, cuma ikut-ikutan nonton. Ya, tak mengapa juga sih, hitung-hitung latihan mengapresiasi jenis film seperti ini.

Seusai menonton gala premier film ini, salah seorang pembuat film (movie maker) di Medan Immanuel Ginting mengatakan, film yang hanya berlokasi di dalam bioskop ini, memiliki materi yang matang, terlebih bagi penonton maupun penikmat berbagai genre film. Dia dapat berkata demikian didasari dengan situasi menegangkan filmnya, dari awal hingga akhir. Aura thriller/slasher mysteri sungguh bisa dirasakan, walaupun bagi sebagian penikmat film thriller, ceritanya belum begitu menohok. Makanya menurut pria yang akrab disapa Manu ini, dibutuhkan logika berpikir cepat bagi penonton agar mengerti film ini. Untuk penonton pemula saran Manu, mungkin masih harus lebih sering menonton film genre Thriller biar bisa menangkap maksud filmnya.

“Dari sisi movie maker maupun penikmat film, menurutku film ini cukup sukses membuat penasaran. Tapi buat mereka yang awam, filmnya masih agak berat dicerna,” tutur Manu.

Selain Acha, Gandhi, Bimo, dan Ratu, film berbahasa Indonesia dan berteks Inggris (indonesian with english subtitle) ini ternyata menjadi film pilihan pada ajang Korea Indonesia Film Festival 2015 (Official Selection Korea Indonesia Film Festival 2015), yang juga menghadirkan beberapa aktor tanah air lainnya, termasuk Zack Lee, yang sering bermain sinetron laga.

Tidak ada komentar:

Peran Industri Kreatif Anak Muda Indonesia di Era Milenial

Sungguh beruntung, Kota Medan mendapat kesempatan dalam rangkaian sosialisasi 4 Tahun pemerintahan Kabinet Kerja yang diselenggarakan ol...