Rabu, 14 Juni 2017

Aku Rindu (4)

Jangan kira aku menyerah. Aku telah mendapatkan hatimu tiga tahun terakhir, walau memang tak dapat merengkuh bebas ragamu. Itu semua tak menyurutkan langkahku untuk mencintaimu. Malah semakin hari, rasa ini semakin kuat. Seumpama nisan, namamu terpatri semakin nyata di hatiku.

*
 
Aku tiba di rumah, lebih cepat dari biasanya. Beberapa janji dengan narasumber, mungkin akan kulanjutkan esok hari. Aku tengah bersiap-siap menerima teleponmu saat tiba-tiba, terdengar suara ibu memanggilku. Ya, beliau ada di sini. Baru tiba. Mama sengaja melangkahkan kakinya di kontrakanku bukan hanya sebatas rindu, namun ingin menanyakan calon suamiku. 

"Ada kabar dari Ryan? Kau masih dekat dengannya?" Mama hanya tahu kita dekat, namun mama tak tahu rindu kita semakin berat, serupa cinta yang semakin melekat.

"Hm... Ya begitulah, Ma. Kita dekat, tetap berhubungan baik dan profesional di kantor," jawabku

Mama memperhatikan raut wajahku. Mama tahu aku menyembunyikan sesuatu. Namun itulah mamaku. Mama tak suka mendesak orang. "Mama tahu yang kauhadapi. Jalani saja selama nyaman bagimu."

*

Sejurus mama meninggalkan kamarku, ponselku berbunyi. "Hai, kamu sedang menunggu telepon dariku, kan? Maaf aku sedikit terlambat karena harus mengantar si nona pulang dan sempat makan malam di rumahnya. Kau tahu rumah keluarganya di luar kota."

Mendengar penjelasanmu, aku berusaha tenang. Padahal, mataku bagaikan lubang di tengah jalan yang digenangi air hujan. Perih menahan rindu karena kita tak bisa secara nyata mengaktualisasikan kebutuhan kita. "Ya, aku paham. Aku selalu memahamimu bahkan ketika kau menginap di rumahnya. Malam ini tidak?"

"Tidak. Aku menolak tawaran mereka dengan alasan banyak kerjaan. Namun sejujurnya, aku menolaknya sebab janjiku tadi siang lebih penting, Sayang," katanya berusaha menenangkanku. Dia mengerti apa yang tengah kurakan.

"Aku baik-baik saja. Kau sudah makan? Mamaku datang ke sini dan membuat beberapa makanan. kau mau ikut?" Lagi, aku berusaha setegar mungkin.

"Kau tak perlu menutupi kegundahan hatimu dengan berkata seolah-olah kau baik-baik saja. Aku mengenalmu, Sayang. Aku tahu, kaulah satu-satu perempuan yang mencintaiku, Bahkan cintamu lebih dari dia."

"Ah sudahlah. Tak usah menghiburku. Ngomong-ngomong, tadi sore kaubilang ingin berbicara denganku malam ini, kan? Bicaralah, aku pendengar yang baik," kataku.

"Aku tak bisa melihat mejamu kosong seperti tadi siang. Hatiku dilanda rindu yang dalam. Cukup melihatmu, itu sudah membuatku sedikit lebih tenang. Walaupun si Nona tengah bersamaku,  pandanganku ke arahmu. Aku mengamatimu. Seketika kaupergi, Kekasih, hatiku hampa. Kumohon, lain kali jangan menghilang tiba-tiba," ucapnya.

Sekelebat, rindu ingin bertemu menderu kencang. "Aku sangat merindukanmu. Besok ke rumah. Sarapan bersama Mama. Beliau tadi menanyakanmu."

"Aku sudah tahu. Mama pasti menanyakanku. Baikalh, buku apa yang kau temukan tadi?

"Hanya beberapa buku tentang Filsafat dan Jurnalistik. Sepertinya, aku harus semakin sering membaca pemikiran-pemikiran Plato, Socrates, Ibnu Sina dan lain-lain demi semakin mengasah pikiran dan kepekaan sosialku. Bukankah sebaik-baiknya manusia diciptakanNya untuk bermanfaat bagi orang lain," perlahan, kami hanya membahas masalah pekerjaan, narsumberku dan dia yang lucu-lucu. Sedapat mungkin kami menghilangkan Nona dalam obrolan kami.

Hanya obrolan tentang cinta dan ketertarikan kami satu sama lain dengan Filsafat dan Jurnalistik, lebih menarik ketimbang tentang Nona, bahkan dia tak lagi mau menyelipkan nama Nona ketika kami sedang berbicara. Baginya, kualitas pembicaraan dan pembahasan kami, lebih penting dari apapun. 

"Kau jangan khawatir Zoya. Cuma kau yang mampu membuat hariku penuh warna. Kau jangan sering menangis lagi. Kantung matamu sudah cukup parah. Selain memangis, kau juga kurang tidur. Ketika kau tidak tidur, kau terus menyesali keadaan kita."

"Aku cuma memupuk rindu ini, Ryan. Setiap hari kusirami, dan jangan salahkan aku jika tak mampu kutatap bola mata lelaki lain. Karena aku dan hatiku, sepenuhnya milikmu."

Di ujung telepon, kutahu senyummu tersungging. "Ya, aku tahu kau tak menggubris lelaki lain, bahkan beberapa lelaki muda yang boleh jadi masih segar," tawamu.

"Hahaha.. Dasar kampret. Tak ada yang sanggup menggantikanmu, Sayang. Bahkan beberapa berondong, baik yang berwajah Arab maupun lokal, sepertimu. Selamat malam, Kekasihku. Aku ingin memimpikanmu, lewat rindu yang masih kaunyatakan untukku."

Malam ini, aku sedikit lega setelah mendengar kecupannya. Aku juga senang ketika dia berjanji akan ke rumahku esok hari, entah untuk sarapan, makan siang, ataupun makan malam.


Tidak ada komentar:

Peran Industri Kreatif Anak Muda Indonesia di Era Milenial

Sungguh beruntung, Kota Medan mendapat kesempatan dalam rangkaian sosialisasi 4 Tahun pemerintahan Kabinet Kerja yang diselenggarakan ol...