Minggu, 18 Juni 2017

Aku Rindu (5)

Ketika cinta memanggil, maka mendekatlah, perlahan. Sebab tak seorangpun yang mampu hidup tanpa cinta, konon lagi menolak hadirnya cinta Demikian pula aku. Walaupun aku tetap hidup, aku bernapas, dan bahkan aku tetap tertawa seperti biasa, namun aku tetap tak mampu bila tanpanya. Rasanya aku kehilangan arah jika tanpanya. Walaupun dia bukan malaikat ataupun makhlukNya yang sempurna, dia cukup bagiku. Cintanya menguatkanku.

*

Kemarin, dia menepati janjinya untuk makan malam di rumahku bersama mama. Mama tak banyak bertanya tentang hubungan kami. Bagi mama, kecakapan dia dan senyum kami sudah cukup menenangkannya sebagai orangtua. Dia mengenalku, jadi dia menyerahkan keputusan hatiku kepadaku, termasuk kemauanku mencintai Ryan.

Pukul dua siang hari ini, aku sampai di kantor dengan senyum mengembang. Semua orang yang kutemui, hari ini semakin merasakan keramahanku. Kantor juga sudah lumayan ramai di lantai dua. Menuju ke meja, aku akan membereskan sedikit sisa tulisanku. Ryan juga di ruangannya, tak tampak Nona, sebab Nona masih sibuk di meja Resepsionis. 

Aku tersenyum ke arahnya yang tengah memandangku. Tiba-tiba masuk pesan darinya, "Seandainya aku mampu, aku akan membawamu ke ruangan ini, Kekasih. Aku ingin menunjukkanmu di hadapan yang lain."

"Kau merindukanku?" sambil senyum pesanku sampai padanya.

"Apalagi yang mesti kuungkapkan, Zoya. Serupa cinta, rinduku semakin menguat padamu. Aku berharap, suatu hari, kita bebas saling menatap," balasannya sedikit menyunggingkan senyumku.

"Kita akan bertemu, Sayang. Rindu kita semerbak ketika kebisingan kota mulai meredup, ketika matahari berganti bulan. Meski aku tak mampu memastikan itu kapan bisa terjadi," kutatap ruangannya sembari memberi tanda.

"Malam ini kita akan merayakan tiga tahun cinta kita terjalin. Kita bertemu di Kafe biasa. Frapuccino menunggumu," balasnya dengan emotikon senyum.

*

Setelah menyelesaikan pekerjaanku, menghadiri rapat proyeksi harian, dan membereskan barang-barang, ternyata waktu menunjukkan saatku untuk bertemu dengan kekasihku. Dia juga tampak bersiap-siap.

Sejurus kemudian, Nona masuk ke ruangannya, meletakkan tas dan menuju kamar mandi. Seketika masuk chat darinya ke ponselku, "Maafkan aku, Kekasih. Aku tak dapat menghirup aroma parfum dan memandang Lipsik warna Plum milikmu malam ini. Semoga rindumu masih menggema untukku jika pertemuan kita malam ini harus tertunda."

Membaca pesannya, walaupun terasa perih dan sedikit mengeluarkan airmata, aku masih menyunggingkan senyum ke ruangannya pertanda kerelaanku. Aku memahami posisiku yang sungguh tak dapat kuingkari lagi. Demikian pula, dia di hatiku tak mampu terganti. Meski janji kami malam ini, tak terealisasi. Aku ingat apa yang pernah dia katakan, jika dia tengah bersama perempuan itu, jangan mengirimi dia pesan.

Untuk membunuh sakit hati, aku menghubungi beberapa narasumber yang mungkin bisa kuangkat profilnya. Aku tak peduli walau hari sudah gelap. Selain demi menghemat waktu esok, ini kulakukan demi menentramkan hatiku. Aku harus bertemu orang lain agar sedikit melupakan kesedihanku. 

Tak lama, aku meninggalkan kantor tanpa melihat ke ruangannya. Aku tahu dia menatapku. Namun sedikitpun aku tak menoleh padanya lagi. Ini demi mendongkrak hatiku yang sempat ditubruk rindu sedari siang. Demi menguatkan hatiku sebab janji kami yang batal. Juga demi menjaga penampilanku di hadapan khalayak, terlebih narasumber yang akan kutemui.

*

Malampun semakin larut. Pertemuanku dengan si narasumber juga sudah selesai. Namun aku masih enggan beranjak dari Kafe ini. Sebab aku kembali sendiri, aku kembali mengingatnya. Aku juga tak tahu mengapa, sulit menolaknya, padahal aku paham posisiku. Entah mengapa, sulit untukku melupakannya. Padahal dia bukan lelaki pertamaku. Namun bagiku, dia adalah cintaku.

Aku menjadi lebih emosional, sebab mencintainya tiga tahun terakhir. Segala perasaan emosional seperti sedih, marah, bahagia, kulewati untuknya. Berkali-kali dia memporak-porandakan hatiku, berbanding lurus dengan maafku. 

Mungkin kata orang, aku adalah perempuan bodoh sebab membiarkan diri semakin larut dalam cinta, dengan posisi perempuan kedua. Namun siapa yang mampu menolak pemberianNya? 

Kadang, aku ingin menyelesaikan kisah kami. Namun sungguh, aku tak mampu. Bukan sekali dua kali dia menyuruhku mencari penggantinya. Namun aku bisa apa saat hadirnya tak bisa terganti, meski oleh lelaki yang lebih kaya. 

Ketika lamunanku semakin menjadi-jadi sebab alunan lagu Sephia milik Sheila On 7 semakin riuh, tiba-tiba datang pesan darinya. "Engkau sedang di mana, Kasih? Aku merindukanmu. Dapatkah aku menghubungimu sekarang?"

"Aku masih di luar. Jangan hubungi aku sekarang," balasku

"Sudah hampir tengah malam. Tak baik perempuan sepertimu masih berada di luar jam segini. Pulanglah. Kamu di Kafe biasa, kan? Aku datang sekarang," balasnya.

"Perempuan sepertiku apa? Perempuan kedua untukmu, kan? Sudah, aku ingin sendiri. Kamu tak usah ke sini, Aku ingin sendiri," jawabku. Tak lama dia menghubungiku lewat telepon, berkali-kali. Namun tak kuangkat. "Pick up the phone. I'm worry about U," pesannya.

Aku bergeming. Sedikit menyesal, namun aku juga tak tahu mengapa aku membalas pesannya demikian. Yang pasti, aku benar-benar tak ingin berbicara dengannya sekarang. Bukannya tak sadar posisi, namun walaupun aku perempuan kedua, aku juga bisa sakit hati, bisa juga menangis, juga memiliki cinta yang tak terkira untuknya.



Tidak ada komentar:

Peran Industri Kreatif Anak Muda Indonesia di Era Milenial

Sungguh beruntung, Kota Medan mendapat kesempatan dalam rangkaian sosialisasi 4 Tahun pemerintahan Kabinet Kerja yang diselenggarakan ol...