Kamis, 22 Juni 2017

Jangan Malas Membaca!



Semalam, saya menonton salah satu sinetron spesial Ramadan di salah satu stasiun televisi. Saya hanya bisa mengernyitkan dahi ketika salah satu pemain menyebut saudaranya yang baru datang ke Jakarta ini, sempat tinggal di New Zealand karena ayahnya merupakan Duta Besar Indonesia untuk New Zealand. Lalu si saudara ini juga menyebutkan dia pernah bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) New Zealand. Ok, sampai di sini bisa saya terima kalau sinetron itu memang fiksi. Lalu kenapa saya katakan saya sempat mengernyitkan dahi? Karena kata New Zealand tadi. Kata New Zealand menurut hemat saya, merujuk pada keseluruhan negara tersebut. Yang mengganggu saya, memangnya dia tinggal di seluruh New Zealand

New Zealand itu kan termasuk negara persemakmuran Inggris, yang letaknya di sebelah selatan Australia, persisnya di Samudera Pasifik. Negara ini adalah sebuah negara monarki konstitusional berazas demokrasi parlementer, di mana Ratu Inggris, Elizabeth II adalah kepala negaranya sejak tahun 1952 dan Bill English, Perdana Mentri sejak 2016. (wikipedia). 

Kembali ke sinetron tersebut, jadi jelas, New Zealand bukan kota. Ibu kota negara ini yaitu Wellington. Sedangkan kota terbesar di negara itu ialah Auckland. Lalu di mana KBRI New Zealand? Adanya di Wellington menurut http://www.kemlu.go.id/wellington/id/default.aspx. Kalau si tokoh bekerja di KBRI New Zealand, otomatis dia tinggal di Wellington, toh?
Saya tahu, film dan sinetron memang sebagian merupakan fiksi. Bumbu cinta dan mungkin ada misterinya, merupakan daya tarik. Tapi jangan lupa, logikanya juga penting. Jangan terus menerus mengatakan nama negaranya, Tapi sebutkan saja nama tempat, misalnya Wellington, New Zealand. Atau Auckland, New Zealand.

*

Hey, yang namanya negara-negara di dunia ini, punya daerah atau kotanya. Jadi jangan cuma tahu sebut Amerika-nya. Amerika itu nama benua. Amerika Serikat baru nama negaranya, itupun memiliki 51 negara bagian semisal New York, Iowa dan Texas. Jadi kalau mau ditulis atau disebutkan, bilangnya Texas, Amerika Serikat (United States of America-USA). Tak berbeda dengan Arab Saudi. Asal dibilang Arab Saudi, sebagian bayangan kita jangan cuma Mekkah-Madinah. Di sana ada Dammam, Jeddah juga Riyadh, toh.
Buat penonton film Korea, tolong lebih spesifik, Korea Selatan yang ibukotanya Seoul yang banyak memproduksi film ataupun serial televisi yang masuk ke Indonesia. Ini mesti dibedakan, karena Korea Utara juga Korea, juga ada dan ibukotanya yaitu Pyongyang, dan filmnya sejauh ini belum saya temukan.
India juga, industri filmnya juga gak cuma Bollywood yang terkenal dengan Trio Khan (Shah Rukh Khan, Salman Khan, dan Aamir Khan) nya itu. Bahubali-nya Prabhas dan Rana Daggubati yang tersohor dan menggelontorkan dana terbesar di perfilman India tahun ini, bukan film Bollywood, tapi film Telugu-Tamil. Ternyata bisa dikatakan, selain Dangal-nya Aamir Khan, Film Bahubali juga memperoleh peringkat IMDb yang tinggi. Meski kedua episode Bahubali dari Tamil-Telugu, dalam dialognya, beberapa kali juga ada berbahasa Hindi. Ngomong-ngomong, apakah sebagian kita mengetahui apa dan di mana Tamil? Tamil Nadu adalah negara bagian di India. Kalau dulu terkenal dengan Madras. Sekarang Chennai. Apakah kita tahu Chennai? Silakan nonton Chennai Express, Film Bollywood, Shah Rukh Khan juga yang main. Oia, bahasa dan tulisannya juga beda antara Hindi dan Tamil. Indrusti perfilman India ada Tollywood untuk film berbahasa Telugu dan Kollywood untuk yang berbahasa Tamil.

*

Yang mengganggu pikiran saya lagi yaitu, ada iklan yang bilang, mau liburan ke Jepang. Lha, memangnya seluruh Jepang dikunjungi? Kan enggak sampai ke kampung-kampungnya toh. Emangnya kita Ninja Hatori, lewati gunung dan lembah? Lebih elok lagi jika langsung disebut Tokyo, Jepang, atau Hokkaido, Jepang. Untuk iklan juga, saya paham masalah durasi. Tapi paling tidak, walaupun iklan itu menawarkan hiburan pagi penonton, lebih bijak lagi kalau memberikan informasi.

*

Dari pembahasan saya yang lumayan panjang di atas, intinya, saya cuma mau bilang, biasakan memperhatikan hal-hal lebih rinci. Misalnya, hal-hal yang dianggap kecil dan sepele, dengan banyak membaca. Entah itu membaca di internet atau buku. Jangan malas membaca. Sudah tahun 2017 toh. Era telepon selular yang pintar atau akrab disebut gawai (gadget) itu sudah semakin canggih. Dibuka mesin pencarinya. Diketik maunya cari tentang apa. Dimaksimalkan juga penggunaan aplikasinya. Apalagi yang paling malas ke toko buku. Ya ampun... ini gawat. Sudahlah malas membaca di internet, ke toko buku juga malas, kono lagi membeli buku. Jangan tauhunya gawai itu buat chatting dan game aja.

*

Bila berbicara tentang negara-negara di dunia, sebagian anak negeri masih kurang mengenalnya. Mulai dari memang tidak tahu, atau bahkan malas mencari tahu. Tulisan ini saya buat, bukan untuk mengajari kita agar gemar membaca. Saya hanya ingin kita lebih membuka pikiran kita dengan banyak membaca. Apalagi bagi orang-orang seperti saya yang belum berkemampuan keuangan berlebih, kiranya kita bisa menjelajahi dunia dengan membaca. Jadi kita tak malu bila tiba-tiba ditanyai orang yang agak cerewet (mau tahu) seperti saya. Minimal kamu tahu bilang liburanmu mau ke Ankara atau Istanbul, bukan cuma Turki. Atau bilang Ibiza, bukan cuma Spanyol :))

Tidak ada komentar:

Review Pure Papaya Ointment: Salap dengan Jutaan Manfaat

Kulit kering bagi kita, terutama perempuan, merupakan sebuah masalah. Pastinya, ini akan membuat kita malu, karena kulit kering terseb...