Kamis, 10 Agustus 2017

Pentingnya Make-up untuk Sehari-hari




saya dengan make-up yang mulai agak berani :D
*


Berbicara tentang ber-make-up atau berdandan, tentunya bukan hal baru bagi saya. Saya mulai terhubung dengan berbagai alat make-up, sejak selepas SMA, tepatnya saat itu saya mengambil jurusan sekretaris waktu kuliah.

Awal kuliah, saat itu saya cuma pakai sepatu balet, tanpa make-up. Yang ada hanya bedak remaja, itupun kalau sedang ingin dipakai. Suatu hari, saya ditegur oleh seorang dosen, “Kamu gak salah jurusan? Ini kelas sekretaris. Penampilanmu kok biasa aja? Mesti pakai make-up dan sepatu hak tinggi (High Heels) minimal 5 cm, ya. Kamu harus belajar menjadi calon sekretaris.”

Setelah beberapa waktu, saya mulai mencari berbagai alat make-up, mulai dari foundation, mascara, eyeliner, eyeshadow, lipbalm, lipgloss, dan blush on. Saya cuma berpikir, asal kelihatan saja sehingga saya pun beli make-up dengan harga terjangkau. Saya sama sekali tak tergoda dengan katalog berbagai produk kosmetik yang dibawa oleh beberapa kawan.

Ketika saya sudah berani memakai eyeshadow warna coklat walaupun dengan intensitas minimalis, dosen lain lagi dengan ringannya bilang, "Kamu gak pakai eyeshadow, ya? Matamu kok ngantuk gitu? Kalau pakai eyeshadow, harus mencerahkan mata. Bukannya bikin ngantuk. Tebalin lagi ya."

Akhirnya saya mulai memberanikan diri pakai eyeliner jenis pensil untuk membingkai mata agar tampak lebih besar dan tak dikira sedang mengantuk dan pemadat. Dan voila, ternyata bisa. Mulailah saya tak bisa hidup tanpa eyeliner hitam. Dan praktis, sejak saat itu, berbekal alat make-up sederhana, tak hanya ketika kuliah, tengah malam pun saya belajar bermake-up. Sedikit salah, bikin lagi sampai rapi. Akhirnya saat wisuda D3 Sekretaris itu, saya gak perlu mengantri di salon sejak subuh hanya untuk merias wajah. Hahaha... Bangganya saya :D

Setamat D3, sepatu high-heels 5-7 cm, saya tinggalkan. Setahun berikutnya, saya mulai kuliah lagi di jurusan Ilmu Komunikasi. Dandanan saya khususnya bagian mata, mulai meningkat ketebalannya. Saya mulai mencari eyeshadow hitam yang pekat. Eyeliner yang saya pakai juga tak jarang jadi eyeshadow. Hasilnya, ketika saya wisuda s1, saya juga berdandan sendiri.

Selama saya kerja juga, make-up saya tak pernah berubah lagi. Malah hingga kini saat saya di rumah saja, kadang saya suka iseng ber-make up hanya untuk berfoto, entah sendiri atau bersama teman. Tak hanya mulai merapikan alis dengan menggunakan eyebrow pensil, saya juga mulai berani dengan lipstik yang terang. Ya lumayanlah. Pastinya dandanan yang saya gunakan, sesuai umur. Dan ya, bagian mata juga harus semakin stunning, biar gak dituduh lagi seperti mata pemakai. 

Dengan kenyataan sekira sepuluh tahun bergelut dengan alat make-up, melihat vlog make up dari vlogger dalam dan luar negeri, semakin mempertebal keinginan saya untuk terus menguasai teknik dan tata cara ber-make-up

Karena jujur saja, saya merasakan manfaat dari hobi dandan itu. Dengan kita dandan, lawan bicara bisa lebih menghargai kita dengan kerapian tadi. Mereka tidak tahu keadaan kita yang sebenarnya, toh privasi bagi setiap orang itu penting. ^_^

Memiliki alat make-up itu memang penting bagi seorang perempuan. tentu untuk menunjang penampilannya. Tapi tak perlu mahal dan lengkap segala seperti para vlogger dan make-up junkie lainnya. Dipakai seadanya, dengan didukung kerapian, pasti khalayak bisa lebih menghargai kita. Yang penting, berdandanlah para perempuan. Supaya penampilanmu gak kumuh, kucel, persis seperti orang yang baru bangun tidur dan belum mandi.

Rabu, 09 Agustus 2017

Aku RIndu (7)

Adalah aku yang semakin sukar melupakan ceriamu, penatmu, dan segala tentangmu, Kekasih. Bagiku, entah sampai kapan, engkau akan kuanggap sebagai kekasihku. Manusia yang dipilih Tuhan untuk kucintai hingga sedalam ini,
*
Saat tengah tergolek di sofa sembari membuka isi telepon selularku, tanpa sengaja, potretmu kembali terlihat. Meskipun kita sudah beberapa bulan tak bertemu seiring kepindahanku ke kampung halamanku, namun engkau masih memiliki tempat di hatiku. Oh Tuhan, mata itu, senyum itu.
Bagi mereka yang tak paham akanku, aku pasti dianggap perempuan bodoh, mencintai kekasih yang telah memiliki kekasih. Khalayak juga mungkin akan menganggapku perebut kekasih orang. Berlebihankah anggapan mereka?
Mereka tak tahu akan kita. Kita memiliki hati yang terlanjur diserang virus merah jambu. Sang Dewi Cinta, setidaknya tak salah sasaran kali ini. Tak hanya Zoya saja yang menyukai Ryan. Demikian pula sebaliknya, walau tentu saja, situasinya kurang tepat.
*
Aku berbicara sendiri ketika tengah menatap potret kebersamaan kita. Aku teringat lagi ketika suatu malam, kau menginap di sini, di rumahku. Kau meringkuk dalam selimut di sofa yang tengah kududuki sekarang.
Saat itu, entah sebab deskripsiku yang terlalu panjang, kau tiba-tiba tertidur.
Kekasih, Wajahmu lucu ketika mengucap rindu beberapa jam sebelumnya. Namun tak hanya sampai di situ, apa pun bisa menjadi pembicaraan kita. Walau saling mencintai, kita tak melulu hanya mengucap rindu dan cinta. Dari mulai filsafat dan hubungannya dengan politik dan tokoh publik, ekonomi, dan sosial, keinginanmu untuk melanjutkan sekolah lagi, rencana-rencana gemilangmu, demikian pula ceritaku, selalu menjadi bumbu-bumbu rindu, pengawet adamu untukku.
***

Menatapmu yang tengah pulas, rasanya ingin kujamah lagi jemarimu. Namun tak tega bila kau terbangun. Aku menghormatimu.  Pun sebelumnya beberapa kali kau berkata lelah dan menguap. Namun sebab tak ingin melepaskan celotehku, kau mendengarku. Kekasih, aku mengerti akanmu. Bagiku, pedulimu masih selalu kubutuhkan. Bahkan sejujurnya, aku masih inginkanmu hingga esok malam.

Dengkuranmu nyaring saat itu, mungkin karena kau sangat lelah namun masih mau meladeni obrolanku. Bagi sang pecinta sepertiku, dengkuranmu semerdu suara penyanyi dari timur, yang serupamu. Atau mungkin kita harus membuat nada baru, aku ingin rebah di sampingmu. 
Namun aku tak ingin terlelap saat itu, Kekasih. Kau tahu, menatapmu ketika sedang tak beretorika, aku semakin jatuh hati hingga tak mau berpikir banyak-banyak. Dalam hati aku berujar, "Hei kau yang sulit menahan kantuk. Aku mengamatimu lama, namun kau diam saja. Entah tengah menikmati mimpi."
Tanpa ada dorongan dari manapun, tiba-tiba, kukecup bibirmu saat itu. Lembut, sedikit kering, mungkin sebab kau kebanyakan  tertawa sebelumnya. Mati aku, untung saja tak membangunkanmu. Kalau tidak, aku ingin segera bersembunyi di kolong tubuhmu, menahan dekapmu.

***

Kekasih, hari ini aku kembali merapal namamu yang mungkin sudah harus kulupa. Namun apalah dayaku sebagai seorang pecinta biasa. Aku teringat, Sang filsuf Plato pernah berkata, "Love is serious mental dieseas." Kukira, dia tak salah. Setidaknya, itu yang kurasakan sejak kembali percaya cinta, sebab hadirmu. Kau membutakan mataku hingga kini. Kata-katamu memang benar, tak ada yang mampu mengulitiku hingga sedalam ini, selain kau. Dan oleh sebab itupula, melupakanmu adalah dukaku.

[Cerpen] Brownies untuk Anakku

Sekira lima tahun lalu, aku pernah melakukan kesalahan. Namun betapa berat dosa yang harus kupikul, jika saat itu, permataku terpaksa kehilangan masa depannya, hanya akibat dendam pada laki-laki yang menanam benihnya di rahimku, persis setelah aku melahirkan anakku, Rio.

*

"Ma, kue. Abang mau kue coklat. Nanti mama belikan, ya," suara bocah lelaki dalam gendonganku, perlahan semakin jelas. Dia sudah mahir memangilku dengan sebutan Mama.

"Iya. Nanti pulang kerja pasti Mama belikan. Abang di rumah jadi anak baik. Jangan merepotkan nenek dan tante Nita," ujarku sembari mencium pipinya.

"Sembari memelukku, dia berujar, "Abang selalu jadi anak baik dan akan jaga nenek dan tante."

Melangkah dengan semangat, aku sampai di tempat kerjaku, sebuah Showroom mobil mewah keluaran Eropa. Jika aku belum memiliki seorang putera, bisa saja saat ini aku akan dekat atau mungkin menjalin hubungan dengan beberapa pelanggan Showroom ini, tentu mereka bukan dari kalangan biasa. Terlepas dari sudah memiliki pasangan, mereka terlihat cukup tampan, rapi, dan bersih. Memang, mereka kebanyakan adalah eksekutif muda.

Beberapa dari mereka, bukan tak ada yang mendekatiku. Dari mulai rajin mengirimiku pesan, sampai ada yang terus terang mengajakku kencan. Apalagi dengan status perempuan single, bukan tak mungkin aku menjerat mereka. Namun, setiap kali didekati oleh seorang laki-laki, aku kembali teringan dengan Rizki. Lelaki yang menikmati besarnya cintaku padanya, lalu membuangku ketika mengetahui aku melahirkan anaknya.

*

Maret 2012.

Rizki namanya. Pertama berkenalan, kami cukup dekat. Walaupun aku telah memiliki seorang kekasih, tak gentar, Rizki mendekatiku. Segala upaya dilancarkannya demi mendapat perhatianku. Didukung oleh tabiat pacar pertamaku yang temperamental, lambat laun aku menjadi semakin dekat dengan Rizki. 

Ternyata, apa yang kulakukan diketahui juga oleh sang pacar. Dia marah besar. Sungguh berbeda dengan Rizki. Setelah menumpahkan amarahnya yang menurutku sudah menjurus pada kekerasan Psikis, akhirnya kami berpisah.

Tak lama berselang, Rizki menjadi kekasihku. Dari situ pula kuketahui, Rizki penggemar kue coklat jenis Brownies. Beberapa bulan, kami menjadi semakin dekat, termasuk keluarga. Saat itu pula aku yakin, pencarianku berakhir pada Rizki, hingga kami menikmati hubungan yang belum semestinya. Ya, bersamanya, surga dunia --kata orang--, kuraih, lagi dan lagi. 

Namun setahun belakangan, tubuhku rasanya tak nyaman. Makanan yang kutelan, kebanyakan kumuntahkan, persis seperti perempuan yang tengah mengandung. Seketika aku khawatir, mengingat hubunganku dengan Rizki sudah cukup jauh. Dengan alasan tak bisa menikmatinya, Rizki menolak memakai kondom. Aku kebingungan dan terus menangis. Ditambah, ketika kuhubungi, telepon selularnya sedang tak aktif. Tak membuang waktu, aku bergegas ke apotik.

Tak percaya dengan hasil testpack yang bergaris dua berwarna merah, sendiri, aku menemui dokter kandungan. Perasaan marah dan ketakutan, menghantuiku akan hasil yang akan diucapkan dokter. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa aku tengah hamil empat minggu. Dengan masih menyisakan sedikit keramahan, aku tersenyum. Setelah berterima kasih, aku segera meninggalkan rumah sakit itu. Tanpa memberitahunya lagi lewat sambungan selular, aku langsung menuju rumah Rizki.

Sesampainya di rumahnya. Setelah menyalami asisten rumah tangganya, aku menemui Rizki. Tanpa menunggu diciumnya, aku langsung berujar, "Ki, aku hamil."

Kalimatku terlontar begitu saja saat aku berhadapan dengannya. Dia memelukku yang tengah menangis. Namun sialnya, dia masih menanyakan kehamilanku ini atas perbuatan siapa. "Kok bisa, Sayang? Siapa yang menghamilimu?"

"Tolol, Kau! Ini anakmu, baru berusia empat minggu. Selama setahun lebih kita pacaran, aku hanya melakukannya denganmu sebab aku bodoh, mencintaimu terlalu dalam. Kupikir kau adalah masa depanku. Tak kusangka kau masih menanyakan ini anak siapa," sembari masih menangis, kuucapkan dengan jelas kepadanya.

"Tapi?" ucapannya segera kusergah, "Tapi apa? Kau mau lari dari tanggung jawab?"

"Sudah sudah. Kau tak perlu gusar. Kecemasanmu tak seketika menghilangkan kenyataan kehamilanmu, kan? Duduklah. Aku punya solusi," katanya berusaha menenagkanku. "Demi kenyamanan kita, digugurkan saja," katanya kemudian.

Aku terkejut dengan ucapannya. Walau tak menamparnya seperti di sejumlah sinetron tanah air, namun peralatan Band di kamarnya, menjadi sasaran murkaku. Perempuan yang sedang marah, tentu bisa melakukan apa saja. Tanpa mampu dicegah, kamarnya seketika menjadi neraka baginya. Gitarnya patah, berikut bas, stik dan drum yang rusak. Aku benar-benar marah sebab ucapannya.

Setelah puas, akupun beranjak pergi walau dalam hati, aku benar-benar kecewa padanya. Dia yang kuanggap adalah lelaki terakhir dalam pengembaraan cintaku, ternyata memandang rendah diriku yang pernah ditidurinya, dari hotel hingga kamarnya. "Bangsat! Kapanlah kau tak membutuhkanku," Rutukku sendiri.

Setiap hari dia ingin menemuiku sebab aku sempat mengancam akan memperkarakan ini ke pihak yang berwajib dengan tuduhan pemerkosaan. Memang urung kulakukan sebab aku masih mengharapkan kemurahannya untuk bertanggungjawab. Namun hingga kehamilanku berumur empat bulan dan telah diketahui keluargaku, dia masih saja menawarkan solusi untuk menggugurkan kandunganku ke ahli medis, maupun memberiku buah Nenas dan Timun.

Keluargaku marah dan mendesaknya untuk menikahiku. Dia memang sempat berucap akan menikahiku, namun perlu waktu untuk berbicara dengan keluarganya. Namun kukatakan kepada keluargaku agar tak usah mempercayainya lagi. Aku salah sebab sempat berangan-angan memiliki pernikahan indah dengannya. Ternyata, aku cuma perempuan bodoh.

Solusi darinya, tak pernah ingin kulakukan. Menurutku, aku memang sudah salah. Namun aku tak ingin menambah murkaNya dengan menghilangkan nyawa seseorang. Jangankan membunuh seseorang, membunuh semut yang mengerubungi sarapanku, aku tak tega.

Aku selalu ketakutan ketika membaca atau menonton berita bahwa ditemukan bayi di pinggir jalan. Belum lagi berita yang menyatakan bahwa ditemukan mayat bayi di selokan, di tempat sampah atau di mana saja. Bayangan-bayangan demikian semakin menambah ketakutanku akan dikejar dosa. Makanya demi berharap akan dosaku terampuni, aku ingin melahirkan anak ini. Walau tanpa ayah kandungnya, aku berjanji pada diriku untuk merawatnya.

Hari berganti bulan. Memasuki usia lima bulan, sebab tak ingin pengakuan apapun lagi darinya ditambah ponselnya semakin sulit dihubungi, bersama keluargaku yang juga sudah pasrah, aku pindah ke rumah lain, semata-mata demi menghindari omongan tetangga. Wajar saja, kita tinggal di belahan bumi timur, jadi tetangga masih banyak yang mau tahu akan urusan orang lain. Syukurlah, keluargaku menerima calon anakku. Penerimaan mereka, sudah cukup menguatkan langkahku bertahan demi calon buah hatiku.

*

Beberapa hari sebelum waktu melahirkan tiba, tiba-tiba dia menghubungiku. Sebab dia menunjukkan itikad baik, keluargaku mengijinkannya untuk menungguiku di rumah sakit. Setelah melewati proses panjang dan kesakitan luar biasa, akhirnya bayi laki-laki itu lahir. Setelah mengazankan, dia memberikan nama anak kami, Rio sebagai singkatan nama kami, Rizki dan Olla. Dia tampak begitu senang menjadi seorang ayah. Setelah aku cukup sadar, bersama ayah dan ibuku, kami kembali berbicara tentang pernikahan.

Setelah kembali melewati proses penjang, akhirnya dia bersedia menikahiku bulan depan setelah kondisiku kembali pulih. Di rumah sakit, kunikmati perhatiannya untukku dan anak kami. Beberapa perlengkapan bayi, juga sudah disiapkannya sebelum ke Rumah Sakit. Dia mulai banyak tersenyum dengan keluargaku. Tanpa berpikiran macam-macam, keluargaku sudah kembali menerimanya. 

Namun kenyataannya, segalanya berubah. Bagai petir di siang bolong, aku kembali merasa tak berarti. Setelah dia tiba di rumahnya, tak sampai 24 jam, dia tiba-tiba mengirimkan pesan, "Maaf, aku tak bisa menikahimu. Aku masih sangat muda dan tak siap menikah sekarang. Aku masih ingin berkarya. Lagipula, aku tak yakin Rio adalah anak kita."

Ditambah baru melahirkan, aku menangis sejadi-jadinya. Keluargaku pun terkejut, tak menyangka Rizki bisa berubah dalam hitungan beberapa jam saja. Keluargaku yang mendukungku, mereka menguatkanku, siap mengurus bayiku hingga mereka mengubur keinginan mereka untuk memiliki suami untuk putrinya, paling tidak sementara ini.

*

Juni 2017

Kini, anakku sudah empat tahun. Serupa mencari sesuap nasi, bagiku, Rio adalah prioritas. Aku tahu diri, aku bukan remaja, konon lagi seorang bocah perempuan. Ditambah telah memiliki anak, aku bertekad agar semakin giat mencari uang demi meringankan beban keluargaku. 

Walau banyak lelaki yang mendekatiku, namun pikiranku masih terpusat pada anakku. Pun demikian, aku masih trauma dengan laki-laki. Setiap lelaki yang mendekatiku, aku teringat pada Rizki yang memiliki kegemaran serupa anaknya, kue coklat.

Bukan, bukan karena aku masih mencintainya. Aku malah telah sangat membencinya. Aku terpaksa mengingatnya karena Rio. Anak yang tanpa dosa, bocah sekira empat tahunan yang tak mendapat pengakuan dari ayah kandungnya, yang ternyata telah menikah dan menanti kelahiran anak keduanya. Ya, anak itu adalah anak keduanya setelah Rio.


*




Medan, Juni 2017



Peran Industri Kreatif Anak Muda Indonesia di Era Milenial

Sungguh beruntung, Kota Medan mendapat kesempatan dalam rangkaian sosialisasi 4 Tahun pemerintahan Kabinet Kerja yang diselenggarakan ol...