Senin, 05 November 2018

Bangun Rumah hanya 5 Hari dengan Domus Huntara


Sungguh gembira tak dapat diprediksi, demikian pula dengan malang tak dapat ditebak. Kejadian demi kejadian maha dahsyat, korban di mana-mana, berikut harta benda yang juga ikut raib, belakangan menimpa ibu pertiwi kita. Sudah pasti, musibah - musibah tersebut, meninggalkan duka mendalam bagi kita semua. 

Selain kekurangannya terletak pada konsumsi, para korban gempa bumi di Lombok, gempa bumi dan tsunami di Palu, Siji, dan Donggala baru – baru ini, juga kehilangan rumahnya. 


Kejadian demi kejadian tersebut, selain menggugah hati nurani masyarakat Indonesia, ternyata juga memanggil PT. Tatalogam Lestari, perusahaan genteng metal dan rangka baja ringan terbesar di Indonesia, untuk memberikan inovasi berupa solusi praktis bagi korban gempa tersebut, lewat teknologi domus huntara.


Teknologi DOMUS untuk Hunian Sementara (Huntara) adalah teknologi/sistem pembangunan rumah yang cepat, kuat, indah dan tahan gempa. Maka dari itu, pada Pameran Konstruksi Indonesia pada 31 Oktober 2018 – 2 November 2018 di Jiexpo, Kemayoran Jakarta, PT. Tatalogam Lestari memperkenalkannya dengan konsep “Membangun Rumah Hanya 5 Hari”.


Teknologi Domus bisa diaplikasikan untuk bangunan rumah tinggal, pasar, ruko, pabrik dan gudang dll. Dengan komponen struktur dinding memakai kanal U dan rangka atap baja ringan, menjadikan DOMUS sebagai bangunan permanen yang kuat, indah, dan tahan gempa. 

Teknologi DOMUS bukan hanya bisa diaplikasikan untuk bangunan permanen, teknologi ini ternyata sangat tepat diterapkan bagi hunian sementara (Huntara) bagi korban bencana alam. Dikatakan Vice President PT Tatalogam Lestari, Stephanus Koeswandi, untuk Huntara dengan teknologi DOMUS, material dinding yang awalnya memakai bata ringan tinggal diganti material lain yang tersedia dan sesuai kemampuan, semisal : bilik bambu, panel gypsum, triplek, spandek atau bahkan bisa memakai terpal.






Jadi dapat dikatakan, Domus itu adalah merk rumah instan dari PT. Tatalogam Lestari yang terdiri dari rangkaian baja ringan. Konsepnya itu adalah baja ringan disambung dengan beberapa baut khusus yang akhirnya jadi kerangka rumah, dengan dinding batako dan detail rumah lainnya, tergantung kebutuhan. Jadi konsepnya, domus itu adalah kumpulan baja ringan dengan baut yang ketika dirangkai / dipasang oleh tenaga ahli konstruksi, domus langsung akan berubah menjadi sebuah rumah tinggal (rumah tetap) yang harus dilengkapi batako, lalu disemen, lalu dikeramik dengan atap yang bersumber dari PT Tatalogam Lestari juga. Jadi bisa ditarik kesimpulan bahwa Domus Huntara diperuntukkkan untuk para korban gempa.


Ide tersebut dikatakan Stephanus, bermula dari Bapak Basuki Hadimuljono, Menteri PUPR, yang disampaikan kepada Tatalogam dalam sebuah even pameran, yang menginginkan bahwa rumah hunian sementara (Huntara) harus siap untuk difungsikan dan dikembangkan menjadi hunian tetap (Huntap). Dan belajar dari pembangunan rumah pasca gempa di Lombok, bahwa masyarakat memerlukan waktu guna memulihkan trauma akibat gempa. Maka dibutuhkan huntara yang siap dialih fungsikan menjadi huntap dalam waktu singkat dan memiliki konsep berkelanjutan, sehingga tidak ada huntara yang mubazir dalam pembangunannya.

“Karenanya kami coba kembangkan produk huntara dengan memadukan smart technology dan efisiensi untuk menghasilkan huntara yang bisa dikembangkan/dilanjutkan menjadi hunian tetap,” ujarnya.

Huntara Domus standar dengan luas bangunan 36 M2, dapat dibangun dalam waktu 2 (dua) hari saja. Apabila masyarakat yang akan menempati bersedia, maka desain huntara pada lahan terbatas bisa dibuat menjadi bentuk kopel, yaitu rumah yang berpasangan (berhimpitan), satu atap terdiri dari lebih dari satu unit rumah. Huntara dengan teknologi Domus ini, jika sudah tidak terpakai bisa dibongkar lalu disimpan dan bisa digunakan lagi jika terjadi bencana. Atau bahkan bisa dikembangkan mejadi hunian tetap, dengan hanya mengganti material dinding sebelumnya dengan bata ringan.




Pada kesempatan itu, hadir pula Presiden Joko Widodo yang memberikan sertifikasi kelulusan kepada 10.000 Tenaga Ahli Konsrtuksi Indonesia, diantaranya Adriansyah, seorang operator alat berat dari Jawa Barat, Nurul Andriani yang merupakan seorang juru gambar SMKN 2 Makassar, Rudiansyah tenaga terampil gambar dari Sumatera Utara, Julianus sebagai pelaksana bangunan irigasi dari Sulawesi Barat, Endi Ahli teknik dari Kalimantan Barat, dan Karin Maria dari Nusa Tenggara Timur.


Dalam sambutannya, Presiden mengatakan, dalam 4 tahun ini, kita berkonsentrsi penuh pada infrastruktur, baik dalam pembangunan jalan tol, bandar udara (Bandara), waduk, pelabuhan, jaringan irigasi, dan pembangkit listrik, serta pembangunan pos batas negara, dll. Hal ini kata Presiden, demi memudahkan biaya transportasi, mengurangi biaya logistik, membuka keterisoliran, sekaligus mempersatukan Indonesia dan juga menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.



Sertifikasi yang dibagikan tersebut kata Presiden, masih sedikit dalam persaingan global yang meliputi berbagai pertanyaan, misalnya apakah ahli dalam memasang baja ringan dan apakah ahli dalam konstruksi. Semua yang ada di sertifikat ini yang bisa kita tunjukkan bahwa kita memang terampil, tak kalah dari negara lain.

Salah satu sertifikasi yang dibagikan oleh Presiden Joko Widodo pada acara Kontruksi Indonesia, Jumat (31/10) dok. blomil
Presiden mengatakan juga, pekerjaan yang ada di lapangan itu sangat berat, membawa aspal dengan helikopter misalnya. Untuk itu presiden mengapresiasi seluruh pekerja dalam bidang konstruksi ini, atas kontribusinya dalam pembangunan agar tercapainya Indonesia maju.

*

Bila ada yang ingin mengetahu lebih lanjut tentang Domus dan segala yang berkaitan dengan usaha membangun sebuah rumah (hunian), dapat mendownload  SIMANTAP yang ada di applikasi playstore. Kalau sudah, nanti bisa dihitung berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk membangun rumah, sesuai dengan paket yang diambil, berikut luas lahannya dengan aplikasi Roof Calculator. Jadi, pesan dan ketahui harga domus tersebut, melalui aplikasi SIMANTAP. Sedangkan untuk mengukur kebutuhan material bangunan, gunakan aplikasi Roof Calculator. Cukup jelas dan mudah, bukan?


Dokumen foto semua dari Blomil

Salam,

Auda Zaschkya

Tidak ada komentar:

Review Pure Papaya Ointment: Salap dengan Jutaan Manfaat

Kulit kering bagi kita, terutama perempuan, merupakan sebuah masalah. Pastinya, ini akan membuat kita malu, karena kulit kering terseb...