Minggu, 29 April 2012

Surat Cinta Untuk Kekasih


Hai kekasih, Bagaimana kabarmu hari ini? Semoga kau senantiasa dalam lindungan-Nya ya.. Kau tahu, rinduku teramat dalam padamu hingga aku memajang potretmu pada layar notebookku dan aku bahagia melihatnya, walaupun pada akhirnya buliran air mata serasa deras mengalir di pipi chubbyku yang sering kau lihat.


Hingga menjelang tidurpun, aku masih menangis, menahan rindu yang teramat dalam padamu. Sakitku yang ku yakin kau tahu, makin berkepanjangan. Darahnya tak berhenti tatkala pikirku tertuju padamu.


Kembali kutatap potretmu di layar ponsel..

Oh Tuhan, andai Ia tahu rasa hatiku. Rasa diabaikan berminggu-minggu, rasa tak dianggap padahal ia tahu adaku untuknya.

Tidurku pun terganggu, ketika sakitku tak kunjung sembuh. Aku memikirkanmu, mengkhawatirkanmu, adakah kau tahu rasaku? Kau tahu aku, kau tahu apa yang terjadi padaku bila kau tak ada, kan???


Oia sayang,
Begitu banyak pria yang mendekatiku, namun semua kutolak. Mengapa? Karena aku telah menetapkan hatiku padamu. Salah satu dari mereka ada yang mengusik hubungan kita, mengatakan kau tak baik untukku dan aku tetap membelamu. Aku menjawab SMSnya dengan kasar dan baru saja aku mem-block facebooknya. Mengapa? Itu semua hanya karenamu sayang. Hanya karena aku menjaga hatiku padamu. Masih belum cukup ya..


Aku tak mau seorangpun menganggu kita, sebab aku mencintaimu. Masa depanku telah kutumpukan padamu sayang. Semoga kau mengerti.
Segera temui aku ya,, aku masih menunggumu sebelum aku benar-benar tak ada lagi untukmu atau mungkin aku tak ada lagi di dunia ini.

Jumat, 27 April 2012

Belajar Tentang Kehidupan Dari Satpam

Kemarin malam sepulang kuliah seperti biasa saya berjalan-jalan sebelum pulang kerumah. Namun kali ini bukan jalan-jalan biasa. Tujuan saya yaitu menemui satpam di restoran yang sering saya kunjungi cuma untuk membeli eskrim.
Saya sempat bertanya bagaimana pandangan beliau tentang perlakuan rekannya yang pernah saya adukan kepada managernya (Lihat Tulisan saya sebelumnya “Kecewa Terhadap Pelayanan Satpam Restoran”)
Dan jawabannya yaitu Sangat tidak setuju dengan perlakuan rekannya tersebut terhadap saya dan menurut beliau, sangat pantas bila hal tersebut saya adukan kepada managernya.

Mengapa Saya Menemui Sang Satpam?
Entah mengapa, saya tertarik menelusuri kehidupan beliau, bukan bermaksud ikut campur namun sepertinya saya merasa nyambung ngobrol sama beliau Karena beliau pun Welcome dan telah berjanji (kamis minggu lalu) akan mengobrol lebih panjang lagi dengan saya sebagaimana beliau pernah berkata sebelumnya, “datanglah lagi kapan-kapan, nanti kita ngobrol”. Pada Rabu, 25 April 2012 saya berhasil bertemu beliau. Kedatangan saya tentunya disambut ramah bahkan beliaupun bercerita bahwa memang hari ini beliau dapat jatah shift sore (pukul 15.00-23.00 wib)

Sekilas Tentang Beliau
Bang Fahmi namanya, Beliau Lahir di Medan, tepatnya tahun 1979. Menamatkan pendidikan di STM pada tahun 1999. Kemudian pada tahun 2000 Ia bekerja di truk pengangkutan. Tahun 2005 beliau kembali ke Medan. Tahun 2006 bang Fahmipun ke Pekan Baru bekerja di salah satu pabrik pengeboran minyak. Tahun 2010 beliau dapat telepon dari Medan yang menawarkan pekerjaan untuk ke Jakarta (Pengangkutan). Lalu beliau dapat telepon dari temannya yang di Bogor yang menyuruhnya kembali ke Medan, “udah, balik aja kau ke Medan, ada kerjaan tuh di restoran”. Waktu beliau mendatangi kantor restoran tersebut, beliau di Interview. Lalu ditanyakan, “mau kerja jadi apa dan gajinya mau berapa? Bang fahmi mengatakan, “yang sesuai aja”. Lalu bang fahmi bekerja di restoran ini sebagai satpam sudah hampir setahun.

Bang fahmi dekat dengan seorang wanita kelahiran 1987 yang dikenalkan oleh temannya. Dari segi usia, mereka terpaut 8 tahun, namun itu tak menjadi masalah. Merasa cocok, mereka menikah pada tahun 2011. 

Pelajaran Hidup dari Bang Fahmi (Satpam)
Berbicara panjang lebar dengannya, sedikit membuka pandangan saya tentang realita kehidupan. Memang dari tampangnya, bang fahmi belum terlihat tua, dalam pekerjaannya pun bang fahmi kelihatan bersemangat seperti anak muda. Dalam hidupnya bang fahmi berprinsip bahwa :
1. Hidup itu dijalani dengan santai
2. Jangan terlalu menekan batin
3. Jangan terlalu royal, lebih baik loyal
4. Berfikirlah yang positif terhadap orang lain
5. Jangan mudah terpancing emosi, apalagi dengan sesama pekerja
6. Jangan banyak menuntut, apalagi kalau memang tidak memiliki skill/kemampuan. Kalau orang bekerja hanya mengandalkan otot, selamanya bisa diperbudak oleh orang lain.
7. Berapapun gaji yang diterima, tetaplah bersyukur
8. Kerja dimanapun yang penting adalah KEJUJURAN
9. Dalam hidup itu harus memiliki visi dan misi yang jelas, biar hidup itu punya tujuan. 

Seperti yang telah saya utarakan di atas, bang fahmi tidak menyetujui sikap rekannya yang meminta uang kepada saya dan para pemarkir sepeda motor yang keluapaan mengambil kunci motornya.
“mungkin dia belum pernah merasa kehilangan, mungkin pikirannnya belum terbuka, jadi suka-sukanya aja berbuat begitu. Maunya dia kan mikir, kalau dia berbuat kebaikan dengan menolong orang lain, suatu saat dia pun akan ditolong oleh orang lain”.
Kalau saya mau berbuat jahat, pasti akan banyak uang yang saya dapatkan. Kunci ketinggalan di sepeda motor cukup banyak disini dek, Cuma gak pernah tuh saya mintain uang sama mereka”, cukup saya peringati jangan sampai kejadian itu terulang lagi”, ujarnya.

Walaupun ia tidak mengenyam pendidikan tinggi, namun tuntutan hidup mengajarkannya menjadi pribadi yang sangat istimewa dan mandiri. Ini terlihat jelas dari penuturannya yang mana Orang – orang seperti bang fahmi inilah yang juga layak diajak berdiskusi. Keramahannya menambah kekaguman saya sebagai pelanggan restoran tersebut.

Dari penuturan bang fahmi diatas, maka dapat ditarik kesimpulan dalam hidup ini jangan terlalu banyak menyusahkan orang lain, apalagi merugikan. Pandanglah suatu hal secara positif, jikapun ada seseorang yang berniat baik kepada kita yakinlah bahwa Tuhan akan membalas perlakuannya dengan baik, begitu pula sebaliknya. Kemudian jangan suka mengambil kesempatan diatas kesulitan orang lain, kalau memang mau menolong ya menolong saja, tak perlu lah pakai pamrih. Selanjutnya, jangan suka pamer kehebatan kita kepada orang lain, ini jelas-jelas tidak perlu, biasanya seseorang yang suka pamer itu sedang menutupi kekurangannya. Harapan saya, semoga kita dapat bercermin dari kemandirian dan keramahan bang fahmi.

Kamis, 26 April 2012

For my baby, My sweetheart.

Aku sadar diri, aku bukan apa-apa.Mungkin Aku hanyalah kelingking di jari kakimu, namun aku lah wanita yang dengan tulus mencintaimu walau kau belum bisa melihat ketulusanku dan belum mau mengganggap ku ada. 

Semakin hari, entah mengapa rasa cintaku padamu semakin besar, bang. Aku rela berkali-kali menangis jika kau tak bersamaku. Pasti kau tahu aku, kan? aku tak bisa bila tanpamu. Banyaknya isi kepalaku tak mampu kutuliskan jika tak melihatmu. Inspirasiku seakan terbuang sia-sia bila kau tak bersamaku. 

Entah mengapa air mataku seolah tak mau mengering bila sedang mengingatmu. Apalagi dissaat aku ingin tidur. Tak peduli itu siang ataupun tengah malam setelah aku menunggumu online juga. kau tahu sayang? selain memang hobbyku, untukmu aku bertahan menulis, karena motivasimu aku sanggup menghadapi cercaan orang itu, namun seolah kau lepas tangan setelah membuat satu postingan tentangku. Kau kira cercaan sudah dihentikan olehnya? Tidak sayang.. dia tak pernah berhentit menguntitku.Aku membutuhkanmu sebagai pembelaku, sebagai cinta dalam hidupku. Tunjukkan fungsimu sayang.. 


Bang, kenapa tak menemuiku?. Aku tahu kau selalu online, namu kau tak membalas pesanku, konon lagi memanggilku di chatting. Aku sangat merindukanmu, hari ini tepat seminggu kita tak bertemu, apa selamanya kita akan begini, bang? apakah tak ada niat darimu untuk berubah untuk lebih memperhatikan aku?

Tolong, berhentilah melakukan ini padaku. Bila kau benar-benar mencintaiku, tunjukkan, sayang. Jikalau kau sungguh-sungguh mencintaiku, sesulit apapun kau pasti berusaha menemuiku. Dimana letak kesalahanku hingga berkali-kali kau menyakiti hatiku dengan hukumanmu ini?. Berbulan-bulan aku bertahan mencintaimu, namun perlakuanmu padaku tetap sama. Tak pernah kau indakan permohonanku untuk memiliki telepon. Aku tak tahu, mungkinpun kau punya telepon namun tak kau berikan nomornnya padaku karena kau takut aku mengganggu aktifitasmu. Aku mengerti kekhawatiranmu, namun aku juga mengerti dan tahu diri, tak mungkin aku menghubungimu disaat-saat kau sedang bekerja.

Kau tahu sayang? Haidku sudah 3 minggu menjelang sebulan tak kering-kering juga. Sumpah, aku takut.. Belum lagi banyak saran dari dokter Rumah Sakit, dokter Puskesmas dan penjual obat di apotik yang menyarankanku untuk menikah dan segera hamil supaya aku sembuh.

Langsung aku teringat padamu karena aku hanya ingin menikah denganmu, sayang. Aku ingin melahirkan anak-anak kita. Karena bagiku, aku baru merasa sempurna jika kistaku sembuh.
Aku ingin berbicara dari hati ke hati denganmu, namun itu berat.. Berat sekali memang sebab kau sering tak ada. Aku tidak minta untuk dinikahi sekarang sayang, aku hanya ingin mempwerjelas hubungan kita.

Pundakku rasanya saudah tak mampu memikul beban ini sendiri. Makanya aku membutuhkanmu. belum lagi ada seseorang yang mengatakan kita tak mungkin menikah karena kau memiliki banyak wanita, sayang,, 

Jelas, situasi memang tak berpihak padaku. Memang aku tak melihat apa yang kau lakukan. Aku sanggup bertahan mencintaimu bermodal cinta dan berusaha berpikir positif untukmu bang. Namun terkadang perlakuanmu menggiringku untuk berpikir yang bukan-bukan.

Aku mohon sayang,, perhatikan aku. Berkali-kali sudah permohonanku tak kau pedulikan, Tolonglah bang,, apa perlu aku mencium kakimu..? Berubahlah sayang,, aku mohon. Demi cinta kita. Demi harapan-harapan indah yang ingin kita wujudkan.





Seorang Bocah Bekerja Di Malam Hari

Beberapa minggu yang lalu tepatnya sebelum UN SMA sepulang kuliah malam, seperti biasa saya berjalan-jalan sebelum pulang ke rumah. Saya memasuki sebuah komplek perumahan yang dihuni oleh masyarakat dengan perekonomian menengah ke atas (baca : komplek elite). Tujuan saya kesini adalah mini market yang terdapat di dalamnya. Sebelum ke mini market, pandangan saya tertuju kembali kepada seorang anak kecil dan saya pun menghampirinya lagi. Kembali bagaimana? 

Awal perkenalan saya dengan Reza sekitar 5 bulan yang lalu. Apa yang ia lakukan di komplek ini di malam hari? Ia berjualan tape disana. Tape yang ia jajakan berjumlah 40-60 bungkus. Perbungkusnya seharga Rp 2000,00. Tape ini bukan milik orang tua Reza, melainkan titipan orang yang Reza jualkan.
Reza berada di dalam komplek ini dari pukul 6 sore atau sehabis magrib dan baru pulang ke rumah pada pukul 10-11 malam. Menurut penuturan Reza, ia mendapatkan bagian (baca:upah) setengah dari harga keseluruhan tape yang berhasil terjual. Misalnya jika tape ini terjual 40 bungkus, maka Reza mendapatkan upah Rp 40.000,00

1335335119489845714
Reza menunggui tapenya, maret 2012 dok. pribadi

Keseharian Reza

Reza adalah anak sulung dari 3 bersaudara. Ia tinggal bersama adik-adik dan kedua orang tuanya di sebuah rumah sederhana yang lokasinya tak jauh dari Sekolahnya. Sekolah tersebut adalah sebuah SD Inpres yang terletak di pasar empat Tj. Sari, Medan. Di sekolah ini Reza duduk di bangku kelas 6 SD. Rutinitasnya sehari-hari yaitu berangkat ke sekolah pada jam 7 pagi. Kemudian sepulang sekolah pukul 1 siang, Reza belajar atau membuat PR di Rumah. Lalu pukul 3 sore, ia pun pergi mengaji. Pulang ke Rumah untuk beristirahat sebentar dan pukul 6 sore ia berangkat ke komplek tersebut.

Menurut cerita Reza, ia melakukan pekerjaan tersebut demi membantu meringankan beban keuangan orang tuanya, “dapat uang berapa aja, ku kasihlah sama mamak”.
Pulang ke rumah, Reza langsung beristirahat. Keesokan harinya, rutinitas tersebut ia lakukan kembali. “udah setahun lah aku jualan disini, kak”, kata Reza. Saya pun bertanya, “kau senang dengan yang kau lakukan?”. Dengan wajah polos Reza menjawab, “uangnya untuk biaya sehari-hari kak”.

Letih memang tampak di wajah polos Reza. Pekerjaan yang dilakukan Reza tentunya beresiko tinggi misalnya tubuhnya rawan diserang penyakit akibat sering terkena angin malam mengingat ia masih berusia 12 tahun, apalagi pekerjaan tersebut dilakukannya di malam hari. Fenomena anak-anak bekerja di Indonesia memang masih sangat mengundang keprihatinan walaupun memang niatnya sangat mulia.

Layaknya anak-anak lain seusianya, sebaiknya ia dapat memiliki waktu untuk dirinya sendiri, entah itu bermain bersama teman sebayanya atau belajar. Namun demi membantu meringankan keluarganya, mau tidak mau ia harus merelakan waktu anak-anaknya. Barulah pada hari minggu ia dapat sedikit beristirahat.
Memang sejak UN SMA kemarin, Reza tak tampak berjualan di komplek tersebut. Mungkin sedang konsentrasi untuk UN SD minggu depan. Semoga berhasil Reza. Kalau Reza masih berjualan di komplek itu, saya pasti datang lagi membeli tape yang ia jualkan. Pembaca mau ikut?


Perlukah Memberikan Password Facebook Kepada Pasangan?

13351121091547513082
www.berita.manadotoday.com

Di zaman serba internet sekarang ini, pasti setiap orang mempunyai email walaupun Cuma satu. Konon lagi dengan facebook. Didalam facebook itu, sudah pasti kita berinteraksi dengan banyak orang, baik teman nyata dalam kehidupan kita, maupun teman di dunia maya. Interaksi yang kita lakukan pasti bermacam-macam bentuknya, kan? Selain kehidupan nyata, pastinya kita juga berteman atau bahkan berteman dekat dengan para facebooker lain. 

Lalu, Bagaimana dengan hubungan para facebooker dengan pasangan anda di dunia nyata? Berjalan muluskah? Atau malah pasangan anda meminta password facebook anda? Dan lantas langsung anda berikan? Terus terang, permasalahan ini menggelitik saya untuk menuliskannya.

Saya mempunyai seorang adik angkat, sebutlah namanya Yani. Saat itu saya menegur yani di chat facebook, namun tidak dibalas. Keesokan harinya, Yani baru membalas chat saya dan mengatakan, “kak, maaf ya semalam pacarku yang pake facebookku. Dia main game disitu sekalian ngecek teman-taman facebookku. Ada beberapa temanku yang dihapusnya. Alasannya sih sepele kali kak, dia gak percaya sama teman-teman facebookku”. Sontak saya terkejut, dan kembali mengingat pengalaman saya sendiri.

Saat itu pacar saya meminta password facebook saya juga, namun tidak saya berikan. Ia pun marah dan mengatakan, “kalau di facebookmu itu ‘nggak ada apa-apanya, pasti kau langsung kasih passwordnya sama aku”. Aku curiga, pasti ada selingkuhanmu di facebook itu, kan? Atau kau lagi dekat sama cowok lain?
Berbagai alasan saya berikan namun bentakan darinya terus saya dengar akibat saya bersikukuh dengan password facebook saya. Namun lagi-lagi ia pun marah dan mendiami saya, lalu saya pun akhirnya memberikan password facebook tersebut. Ia berkata “udah, ‘gak perlu lagi, kan aku mintanya tadi? Saya berkata, banyak kali ceritamu, tadi minta dan marah-marah, pas udah ku kasih kekgitu kau ya? Banyak cingcongmu, bentar lagi pasti kau buka juga-nya facebookku. Toh udah samamu itu password”.

“ah,, ‘gak perlu aku, malas udah”, katanya. Namun ketika saya buka facebook saya, ternyata isi facebook saya banyak yang berubah, termasuk list friend ada yang dihapus. Bererti sempat dibuka juga kan? Ya sudahlah… Sejak saat itulah saya tak pernah memberikan password facebook saya kepada siapapun lagi,termasuk pacar saya selanjutnya atau yang sekarang. Banyak teman-teman yang saya survey juga mengatakan bahwa mereka tidak suka hal-hal yang mengandung privasi itu dibagi-bagikan ke siapapun, temasuk ke pacar. Toh si pacar belum tentu jadi suami atau istri kita, kan? ‘gak perlu lah.. 

Beberapa minggu yang lalu dosen saya pernah berkata bahwa beliau dan suaminya tidak pernah saling add di facebook, apalagi berbagi password. Menurut beliau itu tidak perlu. Alhamdulillah pernikahan beliau dan suaminya tetap harmonis.

Apa sih tujuan kita mengetahui password facebook pasangan? Untuk ngecek aktifitasnya di dunia maya karena anda takut bahwa pasangan anda berselingkuh dengan teman mayanya? Saya bisa mengatakan kegiatan cek mericek ini adalah suatu kegiatan yang sia-sia alias ‘gak guna. Lho.. kok ‘gak guna pula? Penting kali lah itu, biar kita tahu gerak-gerik dia. Silahkan disimak alasan berikut :

Dapat menimbulkan kesalahpahaman dan keraguan

Nah,,, sedikit ada yang komen foto, atau jawab status facebbok kita, si pacar ini langsung ngambek, terus marah. Akibat salahpaham sama komen dari orang-orang. Kemudian si pacar itu bakal mencurigai kita terus. ‘gak enak banget rasanya menjalani suatu hubungan dengan seseorang yang meragukan kita.

2. Dapat menimbulkan perkelahian

Waduh,, kok berkelahi? Tenang.. Berkelahi disini bukan kontak fisik alias pemukulan (walaupun teman saya ada juga yang mengalaminya, hiks..). Berkelahi ini maksudnya perang mulut. Kayak saya tadi dibentak-bentak. Gila… belum kadi suami aja udah temperamen gitu.

3. Ruang privasi kita serta merta tidak ada

Bukan bermaksud untuk tidak mempercayai pacar atau pasangan memegang facebook kita, namun kita berhak memiliki ruang privasi. Apalagi bila sedang ada masalah dengan pasangan, kita bisa menghilangkan penat dengan bermain facebbok ini sekalian cahtting dengan beberapa teman.

Facebook ini kalau ditelusuri lebih jauh, jahat juga ya! Hubungan percintaan anda yang tadinya adem ayam saja bisa tiba-tiba berubah gara-gara facebook ini lho! Asal ada yang ‘gak disukai pasangan, pasti langsung dia hapus, setelah itu pasti langsung marah-marah. Terus berantem.. 

Namun, marilah kita berfikir secara realita. Masa’ hubungan cintamu mau dikalahkan sama facebook sih??? Pakai logika dong…
Dalam suatu hubungan percintaan diperlukan rasa saling percaya. Biarkan saja pasangan anda dengan facebooknya, dan biarkan pula ia berekspresi disitu. Toh anda juga bisa kan?

Bila ia tak memberikan password facebooknya, anda jangan marah. Ingatlah bahwa setiap orang memiliki hal-hal yang bersifat privasi yang tidak bisa kita bagikan ke pacar atau pasangan. Tidak menutup kemungkinan, anda dan pasangan dapat saling menceritakan hal-hal lucu selama bermain dengan facebook.

Jumat, 20 April 2012

I Love You, Darling

when we almost dropped out of love
God brought us together
allow us to live this love  
even while only in cyberspace

distance, time and space that limit our love
sorry that we?
of course not
we strive to live this love as it should

I know, so many women who adored him
I definitely feel jealous
but the presence of the more serious 
 strengthen me to love him

he knows
  other man that bothers me a little
but he always believed in me
and certainly at a very great love for him, my man

Our hope is the same with you
want to get married, right?
of course
when the time comes
we want to get married
we hope to realize

Sabtu, 14 April 2012

Menunggu Hadirmu


Selamat malam sayang..
aku menunggumu dari malam hingga siang
Setia menantimu hingga pagi menjelang
walau kau tak melihatku

aku mencarimu berhari-hari
rinduku semakin menjadi-jadi
tangisku tak ingin pergi
saat tak kutemukan kau, wahai kekasih hati

berkali-kali ku ucapkan cinta itu
namun tak kau gubris juga hadirku 
beribu tanya lain menggerogoti hatiku
masihkah kau mengingatku ?
akankah kau dengar jerit hatiku ?

kau mengenalku sayang
kau tahu apa yang terjadi padaku jika kau tak ada


***



Wanita Menikah Karena “Target” Usia, Haruskah?

Memiliki keluarga dan bisa bersikap mandiri adalah kenyataan yang pasti diinginkan oleh setiap manusia. Jalan yang ditempuh untuk mendapatkan “Hak” itu sepenuhnya adalah dengan menikah. Mengapa saya katakan Hak? Karena disinilah saatnya kita mengatur keluarga kita sendiri dan lepas dari beban orang tua. Namun bukan berarti orang tua menjadi tidak penting, lho. Orang tua tetap memiliki peranan penting sebagai penasehat.

Siapa yang tak ingin menikah? Setiap manusia yang sudah cukup dewasa pasti ingin menikah. Bagi para wanita, pikiran untuk menikah biasanya timbul diatas usia 20 tahun sehingga sang wanita memiliki target usia. Target tersebut berkisar antara usia 25 – 30 tahun. Keinginan ini menjadi semakin menggebu-gebu sekaligus menambah kecemasan tersendiri ketika melihat kenyataan bahwa diantara teman-temannya ada yang sudah menikah terlebih dahulu. Kondisi tersebut tak jarang memberi kesan seperti mendoktrin si wanita untuk terburu-buru menikah, lalu target baru pun bermunculan yaitu harus menikah sebelum berusia 25 tahun.



Terkait dengan target usia dalam menikah ini, saya memiliki pengalaman pribadi yang saya rasa cukup layak saya tuliskan disini.
Suatu hari saya diundang oleh seorang teman untuk menghadiri pesta perkawinannya. Ia berkata “bawa pacarmu ya, da”. Kemudian pada hari H, saya datang sendiri ke acara tersebut. Terlihat tamu – tamu lain yang juga mengenal saya dengan bangga membawa pasangannya (ada juga yang bawa pacar) menanyakan kepada saya, “sama siapa,da? Mana pacarmu? Kok sendiri aja datangnya?”.

Saya tahu, mereka ingin melihat saya membawa pacar. Namun, Bagi saya pribadi, kalau baru pacar saja belum pantas rasanya bila dibawa ke tengah-tengah acara sakral seperti pesta perkawinan tesebut. Syukur-syukur kalau nanti menikahnya sama sang pacar, kalau tidak?? Pastinya akan timbul lagi pertanyaan baru, semisal “lho,, ini toh suamimu, yang dulu kau bawa pesta si Nani siapa?”. Malu, kan? Tentu. Nah, pertanyaan lanjutan semacam inilah yang sangat saya hindari.

Beberapa bulan setelah pestanya tersebut, lalu sang teman menayakan kepada saya, “kapan kau mau nikah da?“. Saya menjawab, “nantilah, kuliahku pun belum siap”. “Alah.. ngapain mikir-mikir kuliah, targetmu mana? merid aja terus, malulah sama umur”, katanya.

Pernah juga teman yang lain menanyakan resolusi saya di tahun 2012 ini. Jawaban saya tetap sama yaitu menyelesaikan kuliah. Lalu ia pun mengatakan, “resolusi 2012 ku adalah menikah, ini saat yang tepat da, mengingat umurku udah mau 24 tahun, targetku yaitu sebelum umur 25 tahun aku udah harus menikah. Aku ‘gak mau sampai lewat 25 tahun. Kau nunggu apalagi da? Merid ajalah, ngapain kau kuliah tinggi-tinggi, toh istri itu tugasnya udah jelas harus mengatur rumah tangga”, paparnya.

Memang benar, bagi wanita usia ini merupakan suatu hal yang biasanya menjadi pertimbangan untuk seseorang menikah. Apalagi bila menyaksikan teman-taman sebaya yang telah menikah terlebih dahulu. Situasi ini makin jelas menstimuli pikiran seorang wanita untuk menikah sebelum menginjak usia 25 tahun. Keinginan tersebut semakin tinggi sebab adanya sebutan perawan tua jika belum juga menikah diatas usia 30 tahun.

Sebelum melaksanakan suatu pernikahan, sebaiknya seorang wanita harus benar-benar mapan. Pertanyaannya Lho, kok mapan? Mapan kan harus dari pihak suami. Suamilah yang harus memiliki penghasilan demi menghidupi keluarganya. Benar, itu memang tugas suami. Namun jika anda memiliki keahlian lebih, kenapa anda tidak membantu suami dengan mencari uang? Mengingat semakin mahalnya kebutuhan hidup zaman sekarang. Kemapanan finansial memang tidak terlalu penting bagi wanita. Banyak juga wanita yang berhasil mengatur keluarga dan mendidik anak-anaknya walaupun hanya menjadi ibu rumah tangga. 
 
Mapan bagi wanita ini lebih ditekankan kepada mapan secara emosional, dimana bila telah menikah nanti pasti banyak dihadapkan pada masalah-masalah kecil yang tak jarang bisa menjadi “momok” dalam rumah tangga. 

Usia yang terlalu muda cenderung emosinya masih meledak-ledak. Disinilah diperlukan adanya kestabilan emosi antar pasangan dan wanita dituntut untuk menjadi lebih sabar. Tak mudah mengendalikan emosi bila sudah menikah, maka dari itu dibutuhkan waktu terlebih dahulu untuk belajar mengendalikan emosi diri sendiri mengingat menikah itu pastinya menyatukan dua manusia yang jelas-jelas berbeda.

Bagi para wanita yang belum menikah tetapi berkeinginan untuk segera menikah, ada baiknya pintar-pintar mengatur emosi diri sendiri terlebih dahulu. Tak perlu rasanya mengejar target umur karena ketakutan disebut “perawan tua”, apalagi ingin cepat-cepat menikah karena melihat teman sudah menikah. Toh nantinya yang akan menjalani kehidupan pernikahan adalah kita dan pasangan kita, bukan orang lain.


Wahai Orang Bertubuh “Subur", Sadar Diri Itu Penting Lho!

Pembaca terkejut dengan judul tulisan saya? Sebagai orang yang bertubuh besar, anda tersinggung? Marah? Tenang saja, mungkin anda juga akan mengatakan hal serupa jika melihat orang gemuk yang berpakaian dan berlaku “tak pantas” seperti yang sering saya saksikan.


Kemarin siang saya mengunjungi salah satu mall di Kota Medan. Niatnya Cuma mau nginstall laptop, Cuma karena toko yang saya maksud sedang tutup, maka saya memasuki sebuah restoran cepat saji sambil menunggu hujan reda. Setelah memesan makanan, saya duduk di kursi yang terletak di sudut. Tak lama datanglah seorang wanita bertubuh “subur” bersama temannya yang bertubuh kurus (bukan langsing), mereka duduk di sebelah saya. Sebenarnya saya melihatnya biasa saja, namun setelah saya perhatikan lebih seksama , sang perempuan “subur” ini memakai kemeja dan jeans yang cukup ketat dan mencetak pada setiap tubuhnya. 




Atau pernah juga saat saya berkunjung ke warungnya seorang kerabat. Saya melihat seorang bapak yang sedang kepanasan membuka kemejanya sebatas dada, bapak ini bertubuh subur juga. Beliau mengipas-ngipasi tubuhnya yang sedang kepanasan, seketika mengalirlah keringatnya. Haduhhhh… geli bercampur malu saya melihatnya. 


Di tempat langganan saya biasa membeli mie ayam misalnya. Saya sering bertemu dengan seorang anak perempuan yang sering bantu-bantu disana, sebut saja namanya Ani. Ani sering berpakaian ketat dan becelana pendek yang juga ketat hingga tubuh “subur” nya ini berbentuk. Sebagai seorang pelanggan yang sering berkunjung ke kedai tersebut otomatis saya jengah dan malu donk.. akhirnya saya mengajak Ani bicara. 


Ani menceritakan bahwa ternyata ia masih duduk di kelas 2 SMA dengan berat badan hampir 80kg. Wow!!! Saya cukup terkejut sekaligus berfikir, ternyata masih ada orang yang lebih “besar” dari saya, hehehe… Layaknya seorang adik yang curhat kepada kakaknya, Ani pun menceritakan perihal mengapa tubuhnya dan awal mula tubuhnya semakin membesar yaitu sejak kelas 1 SMP (Haid pertama). Kemudian saya menyarankan Ani agar berpakaian yang layak. “ah,, malas kak, kan aku Cuma bantu-bantu di kedai ini”, katanya. Dengan sabar saya pun mengatakan, “gak bisa gitu juga dek, pelanggan “geli” lihat kamu kalau pakaianmu begitu, kakak berani negur kamu karena kakak sering kesini”. Setelah menjelaskan panjang lebar, Ani pun berjanji akan merubah cara berpakaiannya.


Perempuan yang saya ceritakan di awal tadi, beliau menggunakan pakaian yang pendek dan super ketat serta kaos dalaman. Tentu pakaian tersebut mencetak seluruh tubuhnya hingga lemak-lemak diseluruh penjuru tubuhnya terlihat jelas. Ini amat memalukan bagi saya yang melihatnya. Kemudian sang bapak dan Ani. Kelakuan mereka akan menimbulkan dampak negatif bagi kedai (warung) yang mereka datangi dan tempati, karena pelanggan yang datang pastinya akan merasa risih jika melihat hal-hal yang terus terang dapat mengganggu pandangan. Bisa saja si pelanggan membatalkan niatnya memasuki warung tersebut, siapa yang kasihan?? Yang pasti si penjual akan mengalami kerugian, kan??


Terus terang sejak mengalami kecelakaan dua tahun lalu, tubuh saya pun membesar akibat obat-obatan, suntikan dan infus yang masuk ke dalam tubuh saya. Oleh karena itu, saya ingin memberikan sedikit tips  untuk orang –orang yang bertubuh senasib dengan saya. Dimulai dari cara berpakaian. Usahakanlah untuk memilih busana yang tentunya tidak ketat a.k.a ngepres badan. Bisa juga memakai kemeja yang longgar. Jikapun ingin memakai t-shirt yang lumayan ketat, kenakan juga pasmina atau jaket sebagai baju luarannya. 


Nah… Jika anda memakai jilbab, sebaiknya jilbabnya tidak perlu diangkat-angkat atau diikat kebelakang. Bukannya mencegah diri anda dari kesan modis, namun sungguh dengan jilbab yang tetap diturunkan ke bawah (menutup dada) dapat menimbulkan efek positif bagi diri kita bila dipandang orang. Kalaupun jilbabnya juga tetap ingin diikat kebelakang, bajunya agak besar ya. Mengingat indonesia ini beriklim tropis pasti anda akan mengatakan panas. Benar, namun akan lebih baik begitu supaya orang lain yang melihat anda tidak akan mencemooh anda. Begitu pula dengan kelakuan. Jangan terlalu over acting. Santai saja seperti tidak terjadi apa-apa. Malu kan kalau kita berlaku yang tidak disukai orang? ingat posisi kita yang sedang berada di tempat umum.


Seperti yang kita ketahui bersama bahwa tiap manusia yang diciptakan Tuhan sangatlah beragam. Sudah selayaknya kita mensyukuri apapun yang kita miliki. Dan sebagai makhluk sosial kita wajib berinteraksi dengan sesama manusia. Tak ada perbedaan yang membatasi tentunya. Namun, hendaklah kita berpakaian dan berlaku sewajarnya. Sadar maupun tidak, kelakuan kita di tempat umum itu akan diperhatikan oleh orang lain.

Minggu, 08 April 2012

Aku Masih Mencintaimu



Sejak kau tak di sisi
Aku menjadi begitu lemah
Teriris oleh sepi
Hingga rindu bernanah

Aku merintih sebab sedang menahan perih
Batinku tersiksa sejak kau tinggal pergi
Tak tahukah kau, aku lemah tanpamu?
Tak ada secuilpun niatku,
mengantikan posisimu dihatiku



Terlanjur kutumpukan harapan hidupku
Bersanding di masa depan bersamamu
Aku terlalu mencintaimu
Maka aku membenci hatiku
Yang tak bisa merelakanmu berlalu
Hatiku terisi penuh oleh cintaku padamu

Kau tahu aku dan sifatku
Namamu terpatri indah dihatiku
Tak seorangpun dapat mengganti sosokmu
Tak kudapati lagi motivator sepertimu
Semangatku pergi bersama wujudmu

Rabu, 04 April 2012

untittled

'cause i love u so much darling

 i'll do what u ask even it too hurt my heart

U know darl,i wanna be with u like usually


I can't do anything without u.. 

=================================================================

Just cry even i'm on my class now

 I'm sorry if i've made u angry coz my attitude..

I publicated our relationship because

 i don't wanna loose u 'cause u'r mine

Please darling, forgive me..

 Don't make my heart broken anymore

Please darling, love me like usually

 I need u so much. I miss your advice

=================================================================

I love u so much and u've known it

I hope you are satisfied that had succeed to hurt me

thank you for dumped me into the deepest abyss again


and I hope you find a better woman than me which is perfect like u want

goodbye my lover, I left you because you've asked

 i love you

Senin, 02 April 2012

Mati Bersama Ragamu

13330483247639721861333048324763972186


Ini hatiku,
mungkinkah kau dengar?
Ini cinta yang membelenggu panca inderaku,
Dapatkah kau resapi?

Cinta ini nyata
mampu gerakkan tubuhku dalam keramaian,
namun jiwaku terkurung tirani kehampaan
Bukan ku tak mampu selami palung kesedihan,
sebab sepekan hatiku yang kau telah kau tangkap 
kembali kau campakkan dalam jurang kesendirian

Jangan sakiti hatiku lagi
Jangan biarkan aku jatuh kali ini
Tak sanggup ku telan pil pahit ini,
Jika harus kehilangan hingga berkali-kali
Aku terus menerus memanggil namamu
Sudikah rindu ini kau sambut?

Jika saja Tuhan izinkan

biarkan tulang-tulangku hancur
cukup bagiku hidup dalam ragamu, jadi nadimu
hingga mati bersamamu

[Review] Natu Savon Kose Cosmeport, Refresh Your Day with Apple & Jasmine

Hai Beauties. Kembali lagi ke blog saya yang kali ini masih akan membahas skin care. Namun, sedikit berbeda dari biasanya. Kalau...