Kamis, 24 Mei 2012

Pro – Kontra Tentang Perempuan Pekerja


13377645391854842522
ilustrasi/admin(shutterstock.com)
Hampir setiap perempuan terutama yang berdomisili kota-kota besar adalah seorang pekerja. Pekerjaan yang dilakoninya sangat beragam. Mulai dari cleaning service  (CS) sampai Wanita Karier (Career Woman). Pekerjaan tersebut dilakukan atas dasar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dimana harga-harga merangkak naik setiap harinya.
Namun yang kerap menjadi hambatan bagi perempuan pekerja adalah bila perempuan tersebut telah menikah, maka suaminya melarangnya untuk tetap bekerja. Adanya anggapan yang beredar di masyarakat dimana perempuan itu cukup berada di dapur, sumur, kasur selama 24 jam di rumah bila telah menjadi istri adalah suatu polemik bagi si wanita untuk jaman sekarang. Bagaimana tidak, hak perempuan untuk bekerja dan bersosialisasi di luar rumah menjadi terhambat. Begitu juga dengan pundi-pundi rupiah yang berkurang.

Tiba – tiba kembali saya teringat akan satu kalimat yang pernah di ucapkan oleh teman dekat saya dimana ia mengatakan “perempuan dinikahi bukan untuk jadi pembantu, melainkan untuk menjadi partner berbagi dalam hidup”. Dan saya pribadi, sangat setuju dengan ucapannya.

Selain itu, perempuan yang bekerja akan mendapatkan tempat sendiri di dalam masyarakat dan keluarganya. Sementara perempuan yang tidak bekerja, akan dikucilkan dalam keluarga. Contohnya seperti ibu saya. Ibu saya tidak bekerja, beliau mengurusi kami (abang dan saya) sedari kecil sehingga kerap sekali beliau tidak mendapat tempat dalam keluarga besar ayah saya.  Terlebih disaat ayah saya sudah meninggal, ibu selalu dikucilkan.
13377579981050907333
image from http://www.mediaindonesia.com
Terkait dengan perempuan bekerja, saya terlibat percakapan yang cukup serius dengan seorang teman, sebutlah namanya Tami. Tami adalah mahasiswi kedokteran yang sedang menunggu izin praktek untuk menyalurkan ilmunya kepada masyarakat. Di dalam obrolan tersebut, Tami mengatakan bahwa bagaimanapun juga sekarang adalah waktu yang tepat dalam membalas budi kepada kedua orang tuanya.

Berikut kalimat dari Tami, “aku tahu pasti, orang tuaku ‘gak pernah minta uangku nanti, tapi paling tidak aku ‘gak mau ngerepotin mereka dan aku mau meringankan beban mereka untuk biaya hidupku selanjutnya”.
Kemudian saya bertanya, “selanjutnya kau kan menikah, pastinya biaya hidupmu ditanggung oleh suamimu”. “Selama aku bisa menghasilkan uang, kenapa aku harus bergantung?”. “aku disekolahin pake’ uang, masa’ aku ‘gak mau cari uang sendiri? Rasaku rugi kali lah uang yang udah dikeluarin orang tuaku kalau pada akhirnya aku ‘gak kerja”, kata tami.
“Kau tau da, sekarang kakakku kesusahan karena dia ‘gak kerja lagi sejak menikah”, tambahnya. Saya otomatis terkejut dan bertanya, “susah gimana”?. “Dia susah karena mau minta uang untuk beli keinginannya aja mesti rada ngebohong dikit sama suaminya biar dapat uang, kalo ‘gak suaminya ‘gak bakal kasih uang lebih selain untuk kebutuhan rumah tangga dan anak, belum lagi suaminya masih bantu saudara-saudara suaminya itu di kampung,  Mau minta untuk bekerja lagi, ‘gak dikasih sama suaminya, aku ‘gak mau jadi kayak gitu da”, lanjutnya.

Sebenarnya apa yang ditakutkan para suami jika istrinya bekerja? Jawabannya pasti seputaran :

1. Suami merasa tak dihargai lagi oleh sang istri, ditambah lagi bila penghasilan istri lebih besar dari suami.
2. Bila telah memiliki anak, siapa yang akan mengurus (merawat dan mendidik) anak?
3. Kesempatan istri untuk selingkuh dengan pria lain lebih terbuka lebar bila istri bekerja.

Obrolan tentang ini, sudah sering sekali saya dan teman-teman perbincangkan dalam beberapa pertemuan kami. Jika memang benar bahwa alasan-alasan tersebut di atas yang ditakutkan para suami, maka jawaban kami adalah sbb :

1. Saya yakin, istri pasti akan menghargai suaminya sebab budaya adat ketimuran yang kita pegang selalu menyarankan kita untuk menghargai dan menghormati suami. Agama islam yang saya anut pun berkata bahwa surga istri ada pada suami. Dan saya yakin, semua agama juga menyuruh para istri untuk menghormati suaminya. Istri mencari uang bukan saja untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, tetapi juga untuk rumah tangga. Disinilah istri sangat berperan dalam membantu meringankan beban suami dalam mencari uang. Misalnya : harga susu bayi saja untuk jam sekarang cukup tinggi, belum lagi popok, pakaiannya, dsb

2. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, Anak adalah titipan Tuhan YME dimana bila telah menjadi orang tua maka kita berkewajiban untuk merawatnya. Oleh sebab istri yang melahirkan anak maka anak sepenuhnya tanggung jawab istri? Tidak. Anak harus dirawat dan dididik oleh kedua orang tuanya. Bila anaknya masih bayi, istri yang bekerja memiliki hak cuti. Pastinya istri akan dibantu dan diajari oleh ibunya atau ibu mertuanya. Jikalau anak tersebut sudah balita, maka tak ada salahnya jika menggunakan jasa baby sitter. Buat para istri, guru yang utama bagi anak anda adalah ibunya, dan jika 60 % waktu istri ada dirumah, pasti para suami memberikan izin untuk tetap bekerja.

3. Kalau dikatakan istri bisa selingkuh diluar rumah, bukankah suami juga demikian? Ditambah lagi ada ungkapan “puber kedua” atau pun pernyataan bahawa “pria diatas usia 40 tahun gemar berselingkuh”. Untuk menghindari hal tersebut, maka  dibutuhkan komunikasi yang efektif dalam suatu rumah tangga demi menciptakan keluarga yang harmonis.

Sebenarnya bila kita mau membuka pikiran kita, perempuan (istri) yang bekerja ya akan lebih baik karena istripun tau bagaimana sulitnya mencari nafkah. Jadi para suami, bisa sekalian mendidik istri bukan? Supaya istri tidak sembarangan minta uang kepada suami untuk hal-hal yang tidak terlalu dibutuhkan.

Bagi para istri,  Jika  suami tetap melarang untuk bekerja diluar rumah walaupun setelah kita rayu dengan cara apapun juga, maka cobalah berfikir positif  tentang hal tersebut dan cari cara bagaimana bisa bekerja dirumah dan bisa menghasilkan uang.

Inti dari hidup berumah tangga adalah komitmen yang kuat dari masing-masing pihak demi mempertahankan rumah tangga, bukan malah meninggikan ego masing-masing. Tetap diingat juga buat para suami “perempuan dinikahi bukan untuk jadi pembantu” dan bagi para istri “suami bukan sapi perah yang seenaknya saja dimintai uang”. Tak ada salahnya jika perempuan mandiri, bukan? Malah hal itu lebih baik, supaya istri dapat membantu meringankan beban suami.

Minggu, 20 Mei 2012

Pro - Kontra Tentang Sang “Mother Monster”


Siapa yang tak kenal Stefani Joanne Angelina Germanotta a.k.a Lady Gaga sang kontroversial? Aksi-aksinya yang kata orang “nyeleneh” bisa pembaca lihat di berbagai situs di internet.
1337359869880919365
image from memobee.com
Semua pasti mengetahui Adanya wacana awal yang mengatakan bahwa Sang Mother Monster rencananya bakal pentas di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta tanggal 3 Juni 2012 nanti dalam rangka acara tur dunia yang telah dimulai sejak tanggal 27 April lalu. Para little monsterpun sudah membeli tiket. Tiket yang terjual sudah banyak yaitu sekitar 55 ribu. Harga tiketnya pun cukup mahal, berkisar antara Rp 400.000 – Rp 2.200.000,-
Memang benar, sepertinya yang dilansir www.tempo.co , konsernya yang akan dilaksanakan di Jakartamendapat penolakan dari berbagai pihak, misalnya dari organisasi massa seperti Forum Umat Islam, dan Front Pembela Islam . Bahkan FPI mengancam akan tetap menggeruduk Lady Gaga di Bandara Soekarno-Hatta jika tetap nekat menggelar konser, dengan dalih membela kepentingan umat Islam di mana pun. Markas Besar Kepolisian RI pun tidak memberikan izin acara ini dengan alasan preventif. Namun kepastian jadi atau tidaknya konser Gaga masih simpang siur.
Tapi yang penulis herankan adalah kok Lady Gaga yang mau konser, semuanya pada heboh? Kontroversinya itu dimulai dari kontroversi tentang pakaiannya dan kelakuannya dalam video klip maupun kehidupan pribadinya, tentang pandangannya terhadap kasus gay dan lesbian, bahkan sampai ke ranah agama.
Seperti yang juga dilansir oleh www.tempo.co , ketua Pengurus Pusat Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia NU, beliau mengatakan pelarangan tersebut sebagai sesuatu yang berlebihan. Pelarangan konser Lady Gaga ini adalah sebagai bentuk kekhawatiran dan ketidak mampuan dalam mendidik anak dan generasi mendatang. Karena ketidakmampuan itu akhirnya mereka menggunakan alat negara.
Bukan Cuma umat Islam di Indonesia saja yang menolak kedatangan Lady Gaga, Korea Selatan yang notabene nya adalah negara kristen terkuat kedua di Asia setelah Filipina juga menolak Gaga. Tapi pemerintahnya itu lebih bijak dengan tak lantas mengamini penolakan itu. Pemerintah memberi syarat bahwa yang boleh menontonnya adalah remaja diatas usia 18 tahun.
***
Dari semalam, penulis juga menyaksikan acara di salah satu Televisi swasta yang menghadirkan Little Monster (fans Gaga). Dalam acara itu juga terlihat bagaimana fans Gaga di Taiwan yang menyambut kedatangannya dengan sambutan hangat. Ada wartawan juga yang menanyakan, bagaimana komentar Gaga tentang pembatalan konsernya di Indonesia. Gaga tidak menjawab hal tersebut. Setelah searching di internet, penulis mendapati bahwa penolakan konser Gaga di Indonesia telah banyak disorot oleh media asing seperti yang terdapat pada www.musik.kapanlagi.com .
Mambaca sejumlah postingan di kompasiana dan berbagai media online lainnya tentang nona ini, Penulis jadi tergelitik untuk menyampaikan sedikit opini dari hasil penjaringan pendapat lewat status facebook pribadi saya semalam. Penulis menuliskan, kenapa harus mengapresiasikan diri dalam menolak Gaga? Kenapa tidak lebih berkonsentrasi dalam usaha pemberantasan korupsi yang memang sudah membudaya di negari tercinta ini? Menurut hemat penulis, yang dilakukan tersebut adalah suatu yang berlebihan. Tanggapan yang penulis dapatkan sangatlah bermacam-macam. Korupsi itu yang sepatutnya diusut secara tuntas oleh pihak berwenang walaupun Gaga tidak ada.
Penulis tidak ingin membawa-bawa tentang agama yang penulis anut dalam tulisan ini. Yang pasti, Indonesia bukan negara islam, maupun mayoritas penduduknya adalah Muslim. Yang Penulis ingin sampaikan adalah tentang Moral bangsa yang katanya akan rusak jika Gaga jadi konser disini.
Mari berbicara moral anak bangsa. Sebelum ada dan terkenalnya Gaga, moral individu di indonesia juga sudah mengalami kemunduran, bukan? Ini terbukti dari banyaknya VCD porno yang sudah lazim jadi konsumsi publik. Bahkan anggota DPR pun menjadi pelakunya. Beberapa hari yang lalu, penulis sempat menyaksikan program berita di televisi dimana terjadinya perlakuan mesum dipinggir sungai. Ada lagi, anak kelas 6 SD yang telah melahirkan akibat diperkosa pamannya sendiri. Apakah karena melihat sang mother monster?? Jelas tidak.
Jika melihat pakaian dan aksi panggung yang seronok (vulgar)  dan mengumbar auratnya, tak ada bedanya kostum Gaga dengan kostum penyanyi dangdut koplo kebanyakan, bukan? Di televisi, pemirsa indonesia pun sudah “kenyang” akan suguhan yang seperti itu. Jadi ya sama saja. Bagaimana lagi tentang adanya striptise a.k.a penari telanjang di dalam klub-klub malam? PSK-PSK yang sering penulis temui di pinggir jalan, bagaimana? Bukankah hal tersebut juga tidak mencerminkan moral yang baik?
Jikalau pun nantinya konser tersebut akan terlaksana, Sang promotor pastinya memiliki perhitungan dan beliau pun sangat menyadari akan situasi di Indonesia yang menjunjung tinggi adat ketimuran, pastinya akan ada permintaan dari promotor agar Gaga berpenampilan layaknya adat timur.
Segala permasalahan dapat diselesaikan dengan adanya musyawarah. Bukankah itu telah jelas adanya pada sila ke-empat Pancasila yang berbunyi “ KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN / PERWAKILAN “. Jadi, kenapa harus rela sikut-sikutan demi seorang Lady Gaga?  Konser atau tidaknya dia, tentu tidak ada ruginya bagi dia pribadi.
***
Akhir kata, lewat tulisan ini penulis hanya mengajak pembaca sekalian untuk berfikir serta mencari solusi atas kontroversi yang telah terjadi, bukan malah menambah deretan kekisruhan yang ada. Pilihan terakhir tentunya terletak pada masing-masing individu.

Ketika Melecehkan Ibu Orang Lain Menjadi Kebiasaan


Setiap anak yang lahir ke dunia ini pasti mempunyai ibu, bukan? Bagi seorang anak, sosok ibu sangat berarti dan tentunya berperan penting dalam kehidupannya. Baik maupun buruk perlakuannya, tetaplah beliau yang melahirkan dan membesarkan kita. Ditambah lagi ada kalimat “surga di telapak kaki ibu”, sudah pasti kita masing-masing menghormati ibu kita tentunya. Begitu pula dengan saya. Saya tidak terima jika seseorang melecehkan ibu saya.
13360149551113977724
image from www.anekaremaja.com
Sekilas Tentang Ibu Saya

Saya lahir ke dunia ini lewat seorang ibu yang sangat saya cintai. Tanpa cinta dan kasih sayang beliau, saya tak mungkin hidup sampai sekarang mengingat berbagai cobaan yang saya hadapi saat itu. Pada usia 6 tahun, saya ditinggalkan oleh ayah dan sejak itulah saya hidup berdua dengan ibu dan kakak angkat (perempuan). Kakak laki-laki saya saat itu sedang kuliah di Bandung (beasiswa dan ikatan dinas).

Dengan bermodalkan pensiun ayah, kehidupan kami bertiga tentunya sangat kekurangan. Maka dengan bekal ilmu menjahit dan membuat kue yang beliau miliki kami bisa bertahan hidup. Sampai kakak laki-laki saya selesai kuliah, beliaupun langsung di rekrut untuk bekerja dan ditempatkan di Kota Medan. Beberapa tahun berikutnya, kakak laki-laki saya menikah.

Betapa Saya Sangat Mencintai Ibu
Sejak itulah saya tinggal hanya berdua dengan ibu (kakak angkat saya menikah). Saya sangat mengagumi ibu saya. Bagaimana tidak? Setelah ayah pergi, beliaulah satu-satunya orang tua yang saya miliki. Beliau yang mengajarkan saya tentang kemandirian dan jangan takut menghadapi apapun. Kekaguman saya pada beliau bertambah setelah saya mendengar penuturan banyak orang tentang ibu saya dan bagaimana ketelatenan beliau merawat saya dari bayi kecil yang penyakitan dan Cuma berberat badan 1.9 kg (lahir). Demi merawat saya dan abang saya, beliau pun memilih untuk tidak bekerja padahal beliau adalah wanita yang pintar. Sangat di sayangkan titel yang beliau miliki tidak pernah beliau gunakan, beliau berkata tak usah membanggakan titel, yang penting mama bisa mendidik kalian berdua (kakak laki-laki dan saya).
Sehabis tsunami, saya dan ibu tak lagi tinggal bersama. Saya melanjutkan sekolah dan berobat di kota Medan dan tinggal bersama keluarga abang saya. Sementara ibu tinggal di Bireun bersama kakak beliau.

Ibu Saya Dilecehkan ( Di Dunia Nyata)
Wah,,, Kalau yang namanya ibu saya dilecehkan di Dunia Nyata sih udah pernah 2x namun ya saya anggap biasa saja toh mereka ada dihadapan saya, kalau sekiranya penghinaan mereka tidak bisa ditolerir, pasti saya membantahnya. Tak tertutup kemungkinan saya akan memarahi mereka yang melecehkan ibu saya.

Ibu Saya Dilecehkan ( Di Dunia Maya )
Di kompasiana ini berbeda pendapat itu pasti ada. Saat saya berdebat dengan salah seorang kompasioner tentang tulisannya yang tidak pantas, diapun memaki-maki saya. Saya terima karena makian tersebut memang untuk saya. Terserahlah dia mau memaki saya
Pada tulisan orang, dia pun dengan kasarnya memaki dan menyerang orang lain. Ya.. saya Cuma mengatakan “dimana-mana selalu kasar komennya untuk orang”. Yang saya bicarakan tentunya tentang komen kasarnya, Namun secara tiba – tiba ia menuliskan “Apa salah bunda mengandung ya, kok bisa melahirkan anak bolot kayak da ini”.

Saya tahu ini di dunia maya yang seharusnya saya tak memasukkan ke hati komentar beliau, namun Satu kalimat tersebut tidak bisa saya lupakan begitu saja. Mengapa? Karena sang kompasioner yang terhormat itu membawa-bawa ibu saya dalam makiannya tersebut. Saya rasa sangat tidak pantas ia tulisakan hal demikian karena masalahnya ataupun ketidaksukaanya kepada saya.
Seenaknya saja mereka-mereka itu melecehkan ibu saya, ibu saya tidak tahu apa-apa. Kalau memang merasa memiliki masalah dengan saya, silahkan saya saja yang dihujat tapi jangan bawa-bawa ibu saya. Jika situasi dan kondisinya dibalik, bagaimana perasaan anda bila ada yang melecehkan ibu anda? Sakit, bukan? Rasanya kontak fisikpun jadilah ya, asal jangan sampai ibu anda yang dilecehkan. Begitu pula yang saya rasakan.

Di kompasiana ini, tentunya memiliki aturan, bukan? Coba sering-sering anda buka deh Term & Condition nya. Disana jelas tertulis bahwa Kompasianer dilarang menyerang, menghina, dan atau menjatuhkan karakter atau pribadi Kompasainer lain dengan cara dan tujuan apapun. Nah,, bisa dilihat bukan? Jangankan menyerang pribadi penulis, menghina Ibu penulis pun tidak pantas, bukan?

Sesungguhnya saya bukan pendendam, namun bila ada yang menyinggung ibu saya, patut saya ingat selalu orang dan perkataannya tersebut. Ibu saya memang telah cukup berumur, bahkan tubuh tuanya semakin renta. Apakah pantas beliau menerima hinaan seperti itu? Sungguh tak terpuji akhlak orang yang menghina seorang ibu.
Ibu adalah wanita terhebat yang pernah dimiliki oleh seorang anak. Sejatinya sebagai seorang anak, anda juga pasti akan marah jika ibu anda dilecehkan orang. Padahal ibu anda tidak tahu apa-apa.

Pembaca sekalian pasti sangat menyayangi ibu. Apapun akan anda lakukan demi ibu anda. Jadi tolong, jika berkomentar jangan sampai menyinggung ibu. Kemudian segera Bayangkan jika ibu anda sedang sakit-sakitan tapi tetap dihina juga. Bayangkan juga ibu anda yang telah meninggal. Semoga tidak ada yang sembarangan lagi menghina pribadi penulis, maupun ibunya.

Hujan Badai Melanda Kota Medan


Sudah seminggu belakangan ini, cuaca kota Medan sering berubah drastis. Pada pagi hari sampai sekitar pukul 16.00 wib cuaca sangat panas. Beberapa menit kemudian langitpun mulai gelap dan disusul hujan deras.

Seperti hari Jum’at (04/05/2012) dan Minggu (06/05/2012) cuaca panasnya begitu menyengat sehingga sayapun berkesempatan pergi ke beberapa acara. Sebelum menjelang sore hari pasti akan turun hujan seperti biasanya hingga saya pun buru-buru pulang ke rumah. Sesampai di rumah, ternyata hujan lebatpun datang bersama angin. Kalau sudah begitu, listrikpun padam. Tiba-tiba menyala. Tak lama padam lagi. Nah,,, listrik yang begini ini yang dapat merusak perobatan rumah tangga, misalnya Lemari Es.

Dan Kemarin sore, Selasa (08/05/2012) sesaat setelah mata kuliah usai, sekitar pukul 18.00 Wib langit Kota Medan mulai gelap dan angin pun bertiup kencang. Tak lama disusul oleh gerimis. Saya pun menunggu gerimis tersebut reda supaya bisa pergi ke Cafe langganan untuk wifi (saya membawa notebook).

Ternyata gerimis tak reda juga, malah beberapa menit kemudian angin kencang tersebut juga diikuti dengan hujan yang sangat deras. Hujan tersebut juga turut diikuti oleh petir yang menyambar.

Khawatir dengan kilatan dan suara gemuruh petir tersebut, maka saya dan tema-teman kembali ke dalam kelas. Sedang berada di dalam kelas, tiba-tiba listrikpun padam. Sekitar 10-15 menit listrikpun kembali menyala namun hujan tetap saja deras.

Kemudian seorang teman mendapat kabar dari keluarganya bahwa ada beberapa lokasi yang pohonnya ikut tumbang dan mengenai mobil. Penasaran dengan hal tersebut, namun tak mungkin mencari lokasinya mengingat masih hujan, sesaat kemudian dalam cuaca yang masih gerimis dan lampu di sepanjang Jl. Setia Budi masih padam, saya langsung menuju cafe langganan di Jl. Sei Batang Hari untuk Wifi mencari informasi dimana saja lokasi  parah tersebut.
1336507049720818356
pohon tumbang www.tribunnews.com
Beruntung listrik di cafe tersebut menyala, maka saya pun mulai mencari informasi. Situs  www.detik.com memberitakan bahwa hujan deras kali ini menyebabkan pohon-pohon bertumbangan dan melintang di jalan sehingga menyebabkan kemacetan Seperti di  Jl. Balai Kota dan Jl. Sudirman. Anginpun terus bertiup kencang sehingga papan reklame pun ikut roboh seperti yang terjadi di Jl. Krakatau. Ternyata kejadian tersebut juga menyebabkan pemadaman listrik.
1336507278277680528
Kondisi bangunan Plaza Mebel, Selasa (8/5/2012) malam foto dari www.medan.tribunnews.com
Peristiwa itu nyaris menghancurkan Plaza Mebel yang terletak di Jl. Adam Malik. Rubuhnya bangunan tersebut yaitu ketika getaran saat hujan yang disertai badai dan petir itu menimpa dua mobil yang berjarak 30 meter didekatnya. Kejadian itu juga menyebabkan seorang anak mengalami patah kaki akibat tertimpa reruntuhan saat ia sedang berteduh bersama ayahnya di sekitar Plaza Mebel itu. Anak tersebut juga telah dibawa ke rumah sakit terdekat. Dalam peristiwa itu tidak terdapat korban jiwa, sepeti yang ditukaskan oleh Kepala Lingkungan I Kelurahan Sekip, Medan kepadawww.medan.tribunnews.com

Melihat berbagai kejadian yang terjadi, untuk kedepannya maka sebaiknya kita :
1. Menjauhi tiang listrik dan pohon serta papan reklame yang memang dapat rubuh saat cuaca sedang hujan deras dan angin tersebut. Bilapun tengah berteduh di sekitar toko, wajib waspada.
2. Bila sedang dalam perjalanan (diluar ruangan) jangan menyalakan ponsel. Lagipula Bila sedang di dalam ruangan pasti banyak diantara kita yang tidak menyalakan televisi, apalagi saat petir menyambar.

Selama saya di cafe tersebut, hujan masih tetap deras. 30 menit kemudian sayapun mulai bergerak pelan bersama sepeda motor. Memang saya meninggalkan cafe dalam keadaan gerimis, sampai di rumah pukul 22.00 wib dan hujan pun masih mengguyur. Dan Alhamdulillah sekarang sudah tidak hujan lagi (Pukul 03.00 wib)

Sabtu, 05 Mei 2012

Sebelum Sesal Hampirimu

Kau tak jua hampiriku
Hingga terbesit rasa kecewa dihatiku
Perih, lunglai rasa tubuhku
Ketika sakit ini perlahan sia-siakan darahku
 -
Beribu pertanyaan hadir di benakku
Semisal, Sadarkah kau akan hadirku?
Atau, Masihkah hanya aku wanitamu?
Dan pertanyaan lain seolah menari di otakku
Layaknya namamu masih terpatri di hatiku
 -
Dari pagi ke malam hanya memandang potretmu
Juga Masih termangu di depan layar laptopku
Setia menantimu, pria dewasaku
 -
Kau masih dengan kesibukanmu
Yang berminggu – minggu mencuri hatimu
Meninggalkanku dalam tumpukan rindu
Sebab, tak kunjung kau hampiri aku
-
Salam rindu untukmu selalu
Dari aku yang menantimu
Harapku agar kau hampiri aku
Secepatnya, sebelum maut memanggilku
Dan penyesalan menghantuimu

Peran Industri Kreatif Anak Muda Indonesia di Era Milenial

Sungguh beruntung, Kota Medan mendapat kesempatan dalam rangkaian sosialisasi 4 Tahun pemerintahan Kabinet Kerja yang diselenggarakan ol...