Jumat, 13 Juni 2014

Silahkan Caci Aceh Sesukamu!

1402600191338620363
Rencong Aceh dan Lambang Bintang Bulan (pribadi)
***
“Apakah belum cukup Tsunami yang menghancurkan daerah mereka? Apakah harus ada Tsunami kedua terjadi di sana supaya pemimpinnya itu sadar kalau daerahnya itu miskin?”
“Dhuaarr!!!” Amarahku seketika sampai diubun-ubun ketika membaca komentar demikian di salah satu Group Facebook. Aku sakit, tak sanggup menahannya sendiri. Lalu, kuminta bunda untuk membacanya. Bundaku terkejut, dan hanya bisa bersedih.
Aku bingung, mengapa bisa sampai ada kalimat bak samurai itu? Memangnya, musibah apapun adalah suatu hal yang wajar diminta oleh hamba kepada Tuhannya? Aku tahu, kampung halamanku termasuk provinsi miskin di Indonesia. Namun, kalau si tukang komentar itu bisa memaksimalkan penggunaan otaknya, pasti tak akan menuliskan hal sedemikian perih.
Komentar tak sedap itu, memaksaku untuk menangis saat itu juga. Padahal, aku tak ingin mengingatnya lagi. Saat beberapa saudaraku, juga karib sekolahku menghilang di sapu Tsunami. 26 Desember 2004, musibah besar meluluhlantakkan sebagian kampung halamanku. Juga mengingatkanku, bagaimana aku menahan sakitku sendiri saat itu, membawa serta bundaku.
Aku tahu, Tuhan sedang menguji kami dan bangsa ini untuk saling bahu-membahu, demi membantu sesama. Apakah kita sadar, bahwa Tsunami itu bukan milik kampungku pribadi? Apakah kita mengerti, itu adalah beban berat untuk bangsa ini? Itu, si pemilik komentar samurai, apa yang bisa dia lakukan selain mengutuki kampungku? Terluka sekali hatiku, perih.
Tentang pemerintahnya juga tak ketinggalan disebutkan. Duh… Mengapa orang lain ikut campur ya? Dilihat dari info di profile facebooknya, dia bukan siapa-siapa. Hanya awam sepertiku, kau, dan kalian semua.
Mungkin juga ada yang berkata demikian untukku. Aku bukan orang bodoh. Hanya karena aku perempuan, jangan langsung memberikan stempel lugu kepadaku. Semisal, “tahu apa kau tentang korupsi yang ada di daerahmu? Namanya Serambi Mekkah, tapi korupsi juga.” Cibiran demikian, cukup banyak juga sering mampir ke telingaku.
Kami tahu, pemerintah daerah setempat telah bersalah sebab telah menelantarkan masyarakatnya. Kami juga berontak, lho! Hanya saja, kami tak menggunakan cacian di facebook. Kami, langsung mengunjungi dinas terkait. Jadi, bila masih ada pahlawan kesiangan yang ingin menuntut, silahkan ke pemangku jabatan di daerah itu. Tak perlu berlagak bak Spiderman sang penyelamat. Si pengomentar, hanya berdalih dengan, “kasihan provinsinya miskin.” Namun sembari meminta kejadian sepuluh tahun lalu itu terulang lagi. Sudahkah kita berpikir?
Sebagai manusia biasa, seharusnya kita sadar dan saling mendo’akan. Bukan malah mengutuki kampung halamanku. Sekaligus, kita juga berkaca sembari mengingat, “ Bagaimana jika musibah itu berbalik di daerahku, atau bahkan di rumahku saja, atau saat ini juga Tuhan mencabut nyawaku?” Coba dibanting-banting logikanya, biar tahu mengukur batas diri kita sendiri.
*
Belum lagi yang memandang sebelah mata tentang berita-berita seputar Aceh, yang tersaji di media massa, yang terkadang sengaja judulnya dibuat Bombastis, padahal tak sesuai dengan isi beritanya hanya demi menaikkan oplah dan rating media tersebut.
Aku tahu, media tersebut telah berbuat kesalahan. Namun, sebagai pembaca yang tinggal terima bersih, jangan hanya mau disuap. Seperti bayi saja kelakuannya. Sungguh mengenaskan, sekaligus membuat saya berpikir keras penyebabnya.
“Eh… saya sudah besar. Sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk.” Pasti ada yang berucap demikian. “Hahahaha,” Izinkan saya tertawa melihat orang yang merasa pintar itu. Bagamana tidak, seorang politisi juga sutradara handal negeri ini, bisa dijebak oleh judul sebuah media. Konon lagi masyarakat awan yang memang buta akan situasi di sana. Kata-kata apa lagi yang pantas saya sematkan, ha?
Aku hanya dapat mengatakan, betapa kecewanya aku dengan penilaian kalian. Jangan malas! Katanya, manusia modern, manusia pintar, tapi nyatanya? Ah… sudahlah. Tak sanggup saya menuliskannya, mengingat, masyarakat biasa kekinian, berlagak seperti polisi. Polisi moral, tepatnya.
*
Yang tak pernah dilupakan rakyat republik ini tentang kampung halamanku, adalah ganja. Ganja digunakan dalam berbagai masakan, asalkan takarannya tepat, tak akan membuat ketergantungan, apalagi membahayakan nyawa. Lalu, dengan angkuh dan sok tahunya, mungkin ada yang pernah mengatakan bahwa keracunan akibat memakan makanan yang dicampur ganja. “Hello… bila makananannya dalam kemasan, sudah dicek tanggal kadaluarsanya?” Atau bila makanan basah, seperti biasanya, sudah tak enak lagi bahkan sudah basi bila dibiarkan, apalagi semalaman. Lalu, masih menyalahkan ganja? Matanya dibuka lebar-lebar, lihat tekstur makanannya, masih layak konsumsi tidak?
Bilapun suatu makanan dibubuhi ganja, si pembuat sudah mengerti takarannya. Jadi, bila ada yang mengatakan makanan berganja dan menyebabkan keracunan, apalagi pakai mengatakan, hampir mati, itu adalah mustahil dan pembohongan publik. Ganja yang digunakan sesuai prosedur dalam makanan, tidak akan menyebabkan kematian. Yang berakibat fatal adalah pengguna aktif dari lintingan ganja itu sendiri, yang mengkonsumsinya bak permen saja.
*
Negeri sejuta warung kopi, demikian biasa disebut. Ya, aku juga tak mampu menyangkal akan hal ini. Lagipula, bagaimana dapat kunafikan surga dunia ini, bila menyesap harumnya, serta meneguknya perlahan, adalah kenikmatan terindah dalam bagian hidupku.
Kopi adalah minuman mutlak bagi kami, masyarakat Aceh. Biasanya, kami meneguknya di warung kopi. Begitu juga yang saya lakukan, ketika saya tengah berada di kampung halaman saya. Tiada hari tanpa ke warung kopi. Di sana, saya bertemu dengan banyak teman. Dari teman ke teman, dan itu menambah relasi.
Ah iya… Seingat saya, beberapa waktu yang lalu, ada yang dengan mengandalkan logika jongkoknya berkata, “perempuan di warung kopi itu sedang menjajakan diri.”
“Astaghfirullahal ‘adhim. Demi Tuhan, aku sendiri tak pernah melihat perempuan seperti yang dimaksud, konon lagi diriku sendiri. Aku mengunjungi tempat tersebut, hanya untuk bertemu teman-teman, juga memakai fasilitas Hot Spot Internet. Ya… tahu sendirilah, modem ini walau tidak termasuk barang langka, tapi pulsanya ini mahal juga. Belum lagi, terkadang signalnya yang parah. Makanya, kami di sana suka menggunakan Wifi.
Hahahhaha… pasti semua tertipu dengan jargon free wifi, ya? Siapa bilang Free? Masuk ke warung kopi saja, kita mutlak harus minum. Minimal, kopi hitam, kebiasaanku.
Oiya, Aku sedikit bingung dengan sebutan warung kopi. Padahal, tempatnya itu layaknya cafe yang biasanya diisi oleh orang kaya.
*
Apalagi yang dapat orang banyak deskripsikan tentang kampung halamanku? Silahkan saja dikeluarkan semua yang mengganjal. Aku juga harus maklum dengan pendapat orang-orang yang tak pernah melakukan observasi, tapi sudah berani mencibir kampungku.
Ah, iya… Demikianlah memang adanya opini dari publik. Rasanya, aku ingin berteriak sekencang-kencangnya, menjelaskan secara detail juga terstruktur, bila ada orang yang tak tahu apa-apa, mengungkit, sembari mengolok-olok juga dengan berlagak pongah seperti ingin mencabut syariat islam di kampung halamanku.
Bila ada yang belum puas dengan ceritaku, kuundang ke Aceh. Akan kusuguhkan ke hadapan kalian, kopi aceh yang menjadi kebanggaan kami. Tak lupa dengan kue Timphan serta penganan dan masakan khas Aceh lainnya.
Setelah kalian berbincang-bincang dengan penduduk sekitar, maka, kalian akan mendapati keramah tamahan mereka. Sungguh berbeda dengan pikiran kotor kalian yang selalu mengidentikkan Aceh dengan kekerasan.
Kalian yang gemar mencaci daerah kami, dijamin akan menyesal atau bahkan segera melaksanakan shalat taubat di Mesjid Raya Baiturrahman yang terdapat di jantung kota Banda Aceh. Bagi kaum kristiani, Aceh juga memiliki Gereja, juga Wihara bagi Umat Buddha. Masyarakat keturunan hindia yang beragama hindu juga ada di sana.
Kalian juga akan disuguhkan pemandangan Lautan lepas Samudera Hindia di Sabang, pantai barat dan selatan Aceh. Lalu, silahkan berkunjung ke Aceh Tengah, nikmatilah Danau Laut Tawar serta kesejukan kotanya. Hanya di situ saja? Tentunya tidak. Masih banyak kekayaan alam kampung halaman kami yang dapat kita semua nikmati.
Akhir kata, Selamat Datang di Kampung Halamanku, Provinsi Aceh. Nikmati dan rasakanlah pesonanya.
***

Sabtu, 07 Juni 2014

Tak Perlu Menunggu Pasca-Pilpres, Partai Aceh Akan Terbelah?

9 juli 2014 mendatang, adalah kesempatan bagi rakyat republik ini –baik di dalam dan di luar negeri— menggunakan hak politiknya memilih pasangan capres-cawapres yang sesuai dengan pandangan politik kita masing-masing.
Demikian pula adanya dengan di Aceh. Sampai hari ini, kesamaan pandangan antara ketua Partai penguasa lokal Aceh (Partai Aceh) yang juga Wakil Gubernur Aceh, Muzakkir Manaf dengan Partai Gerindra, memantapkan Pilihan untuk mendukung Prabowo Subianto menduduki tampuk RI1 di pilpres mendatang. Namun, apa yang diyakini Muzakkir Manaf itu, pada kenyataannya dirasakan malah mengganggu stabilitas internal Partai Aceh itu sendiri. Pasalnya, Beliau mendapat kritikan dari rekannya sendiri dalam internal partai.
Ketua BPPA (Barisan Pendukung Partai Aceh), Azmi mengatakan bahwa keputusan Muzakkir Manaf itu adalah keputusan sepihak. “Keputusan mendukung Gerindra untuk memenangkan pasangan Prabowo-Hatta bukan melalui mekanisme, serta tidak melibatkan pengurus pimpinan partai”. Pihak Azmi juga mempertanyakan uang sebesar Rp 50 miliar yang diterima dari Partai Gerindra juga perihal pemecatan petinggi-petinggi Partai Aceh.
Memang sebelumnya, ada arahan dari Muzakkir Manaf yang mengatakan Partai Aceh dan masyarakat Aceh pada umumnya diharapkan mendukung Prabowo Subianto pada pilpres 9 Juli 2014 mendatang akibat janji-janji manis Prabowo. Malah, Muzakkir Manaf mengharamkan masyarakat Aceh memilih Joko widodo yang notabenanya dari PDIP.
*
Masih menyangkut uang Rp 50 Miliar yang dikatakan bersumber dari Gerindra, dikatakan oleh Adi Laweung, Wakil Jubir Partai Aceh, “Muzakir Manaf tidak pernah menerima dana yang dituduh itu, ini fitnah besar”. Tak hanya Adi, Mukhlis Abee yang merupakan Ketua Departemen Kaderisasi DPA Partai Aceh juga mengatakan bahwasanya ada oknum yang ingin mencemarkan nama baik Muzakkir Manaf. Menurutnya, Partai Aceh sudah mengetahui oknum-oknum tersebut dan akan diambil tindakan. Setelah dikonfirmasi ke Gerindra, bantahan serupa juga didapatkan. Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Edi Prabowo membantah dengan mengatakan, “Enggak benar itu,” sangkal Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Edi Prabowo melalui pesan singkat, kepada Kompas.com, Rabu (4/6/2014).
*
Sementara itu, berbeda dengan sikap politik Wakilnya, Gubernur Aceh yang juga berasal dari Partai Aceh, Zaini Abdullah mengatakan bahwa dirinya pribadakan mendukung Jokowi-JK di pilpres mendatang. Ada berbagai alasan yang mendasari Doto Zaini (panggilan akrabnya) untuk mendukung Jokowi-JK. Terkait JK misalnya. Seluruh rakyat republik ini juga tahu, siapa yang menjadi pemrakarsa yang paling berjasa atas MoU Helsinki Perdamaian antara Pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), 15 Agustus 2005. Dialah JK, sang wakil presiden saat itu.
Melihat perbedaan demikian, mungkin juga ada benarnya apa yang dikatakan oleh pengamat politik asal Aceh, Aryos Nivada yang menyebutkan bahwa Partai Aceh bermain di dua kaki. Hemat penulis, maksudnya yaitu mencari aman dengan cara membiarkan siapa saja yang terpilih nanti menjadi presiden. Dengan demikian, bilapun dukungan ini terbelah sekarang, akan tetap siapapun yang nantinya terpilih, diharapkan akan dapat memberikan yang terbaik bagi daerah Aceh sendiri.
*
Sikap Tuha Peut ( kelompok tua/Dewan Syura) Partai Aceh sudah jelas bahwa akan mendukung Jokowi-JK karena mengingat jasa Jusuf Kalla, dahulu. Dan untuk kelompok muda Partai Aceh sendiri (Muzakkir Manaf dan Ketua BPPA –Barisan Pendukung Partai Aceh– Azmi), semoga kisruh di internal partainya tak berlarut-larut dan dapat diselesaikan dengan musyawarah-mufakat.
Silahkan berpartai. Silahkan bekerja dan kalau memungkinkan, silahkan bersninergi dengan partai lokal lainnya, demi kemajuan dan kesejahteraan Aceh. Ingatlah bahwa Partai Lokal di Aceh itu harusnya saling mendukung (tanpa harus ada kekerasan).
Kekuatan yang sudah ada di satu pihak (Partai Aceh), hendaknya mesti solid. Kalau ini berlarut-larut, yang sebelumnya kawan, segera menjadi lawan. Dan kemungkinan terburuknya adalah, tak perlu menunggu Pasca Pilpres 2014 ini, mau tidak mau, bisa saja Partai Aceh sendiri akan terbelah dalam waktu dekat. []

Salahkah Hatiku Mencintanya?

Malam ini, tak dapat kulukiskan bagaimana merindunyaku akan sosoknya. Hanya Tuhan dan aku, bersama tetesan demi tetesan air mata yang tertumpah, seperti biasa, ketika tengah merindukannya. Namun, adalah sebuah kemustahilan jika cinta yang  kurasa ini juga dia rasakan. Dia tak pernah tahu, betapa yang telah kulakukan kemarin hanya untuk melindunginya. Karena apa? Karena aku tak ingin dia tersakiti oleh bisa jahat mereka para pencaci.

Dapat kubayangkan, bagaimana marahnya dia ketika orang-orang di sana mengatakan banyak hal buruk tentangnya. Acap kali, aku pasang badan untuknya. Sekadar melihat tindak tanduk para pencaci itu. 

Walaupun tak mengenalnya, namun dengan segala keyakinanku, aku bisa membaca kelembutan sekaligus ketegasannya juga kedewasaannya dalam menjawab tiap pesan yang kusampaikan. Sejujurnya, aku tak berniat mencampuri urusannya. Namun, oleh karena aku sangat mengkhawatirkan kecerdasannya yang terbuang sia-sia hanya untuk melawan para kecoa itu, aku tergerak untuk memberikan sedikit nasehat padanya. 

Tuhan... Semoga saya tidak melakukan kesalahan. Semoga ia mengerti, meski itu sepertinya tak mungkin.

Mungkin, orang akan bartanya, “bagaimana dapat dikatakan cinta, padahal seseorang itu tak pernah kau kenal?” Ilahi... aku sungguh tak mampu menjawab pertanyaan ini. Sejujurnya, aku juga tak ingin begini. Namun, gempuran maha dahsyat ini tak mampu kutolak.

Engkau tahu Ya Rabbi, bagaimana usaha  dan sejauh apa kelanaku agar mampu melupakannya? Apapun, Tuhan. Kulakukan agar bayangnya tak menguasi otak dan hatiku. Belum lagi, aku harus sadar bahwa perkenalan itu tak akan mungkin pernah terjadi, sebab dia tak berada di sini. Ah... entah di mana keberadaannya, pula kutak tahu. Tuhan... Segalanya telah kucoba. Namun, semakin jauh kumelangkah, akhirnya kembali kumengingatnya. Cinta ini kembali untuknya. Dan hasilnya, airmataku terjatuh lagi.

Mengapa ini dapat kukatakan cinta? Bukankah selalu kukatakan bahwa aku tak percaya cinta?

Ilahi, bagiku, mencintai itu dengan hati. Bukan semata karena ketertarikan fisik, bukan? Itu yang pastinya inginMu, Tuhan. Dan segalanya, telah menjadikanku begini. Menangis tengah malam, merasa bersalah dan selalu bertanya-tanya tentang segalanya padaMu.

Maafkan aku, Tuhan. Aku tak bermaksud menyalahkanMu. Segala yang telah Engkau gariskan,  kuterima. Bagiku, ini rezeki dariMu. Rezeki bagi sang pecinta yang mencintai dengan hati, bukan hanya karena bentuk fisiknya semata, walaupun kemarin ada yang mengejekku karena cinta menggunakan hati ini, menurutnya salah. Cinta itu pakai mata, katanya.

Tuhan, Mencintai dengan hati, berarti menerima segala kekurangannya untuk kujadikan kelebihanku, bukan? Tuhan... bilapun pada akhirnya cinta ini tak bisa kuwujudkan, juga akan kuterima. Mohon lapangkan dadaku. Namun kumohon Tuhan, Izinkan sekali saja kutemui raganya.

Medan, 7 Juni 2014 - 05.07 Wib


Selasa, 03 Juni 2014

Kekerasan Terhadap Wartawan: Intoleransi, Teror Pejabat Penting, dan Kematian

14014198531446016314
Ilustrasi/Kompasiana (Tribunnews)
Menjadi seorang wartawan—jurnalis–adalah sebuah pekerjaan yang mulia. Bagaimana tidak, peran wartawan sangat berpotensi menaikkan nama seseorang. Misalnya, para aktris dan  politisi yang terbilang sangat vokal di televisi. Belum lagi dari kalangan rohaniawan juga para pelakon hiburan. Tak kalah pentingnya, berita luar negeri pun kita ketahui melalui mereka.

Bisa dibayangkan, bagaimana jika pers kita dibungkam? Mau tidak mau, suka tidak suka, masyarakat awam seperti kita tak akan mengetahui apa-apa. Kalau meminjam pepatah, bagai katak di bawah tempurung. Sudah sepatutnya, fungsi kontrol sosial yang memang harus dipegang oleh para jurnalis ini, diberi penghargaan. Khususnya untuk Indonesia, setiap tanggal 9 Februari diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Dan Hari Kebebasan Pers Internasional, diperingati setiap tanggal 3 Mei.

Intoleransi dan Tindak Kekerasan terhadap Wartawan

Terhitung sejak 9 Februari 1946, HPN rutin dirayakan. Sejalan dengan itu, kekerasan terhadap wartawan pun semakin menjadi hingga kini. Yang terbaru yaitu pada Kamis (29/5/2014), tindak kekerasan ini  dialami kembali oleh Mika, salah seorang wartawan dari Kompas TV yang tengah meliput pengrusakan yang terjadi di rumah Direktur Galangpress oleh sekelompok orang tak dikenal.

Hemat penulis, ini adalah sesuatu yang miris. Lagi-lagi, ini terjadi di NKRI yang berbhinneka tunggal ika. Kebetulan, rumah yang berlokasi di Komplek STY YKPN Sleman, Yokyakarta  itu tengah menggelar doa rosario dalam peringatan Kenaikan Isa Al- Masih.  Kamera Mika dirampas, juga ia dipukuli tanpa ampun. Akibat pemukulan itu, Mika yang mengalami luka di sebelah mata kirinya akan mengusut tuntas kasus ini.

Di atas, kata kembali saya cetak tebal, bukan? Kejadian atas nama intoleransi ini bukan kali pertama. Masih di tahun ini, tepatnya 20 April 2014 yang lalu, M. Ngaenan, wartawan dari www.ahlulbaitindonesia.org  juga mengalami hal yang sama saat meliput acara Deklarasi Aliansi Anti Syiah di Bandung.

Teror terhadap Wartawan

Kekerasan terhadap wartawan, memang tak melulu mengenai fisiknya saja. Namun, hemat saya, teror ini juga dirasakan sama saja. Dampaknya ke psikis si wartawan tadi.
Chaidir Tanjung, wartawan dari detik.com Pekan Baru, misalnya. Ia mendapati teroryang berasal dari telepon. Menurutnya, ini berkaitan dengan tulisannya yang menyentil bahwa kota Pekanbaru pernah masuk dalam kategori kota terkorup versi TII (Transparancy International Indonesia).

Selain itu, Frietqi Suryawan, wartawan Radar Jogja mengalami teror berupa pelemparan tiga bom molotov di rumahnya. Kejadian ini diindikasikan karena ia adalah wartawan yang kerap menulis berita penyelewengan anggaran termasuk kasus Pasar Rejowinangun Magelang. Berkaitan dengan hal itu, Sowak (Solidaritas Wartawan Anti Kekerasan) Jogja, telah melakukan aksi keprihatinan atas peristiwa yang dialami rekannya, pada 25/02/2014 lalu di kantor DPRD DIY.

Kematian Wartawan

Kekerasan yang menimpa wartawan tak hanya pemukulan dan teror saja, namun juga tugas mulia mereka tak lepas dari resiko kematian. Jumat dini hari, 25 April 2014, Andrey Sofyan, Wartawan Semenanjung Televisi (STV) Batam, dibunuh di hadapan keluarganya.

Wartawan yang meninggal dunia, tentunya bukan Andrey saja. Masih ingat peristiwa yang sama di 18 tahun lalu? Wartawan Harian Bernas yang lebih dikenal dengan nama Udin juga mengalami kematian. Kejadian ini masih sebuah misteri hingga sekarang. Selain keduanya, AJI juga mencatat belasan kasus (baca: kematian) yang sama lainnya, belum lagi yang baru kekerasan fisik. Dan dari  kesemua kasus tersebut, masih samar-samar dan hukumpun belum diberlakukan.

*

Untuk menjadi seorang wartawan juga bukanlah hal yang mudah. Beberapa dari orang tua, menganggap bahwa profesi ini adalah pilihan yang kurang tepat bagi anaknya, disebabkan pekerjaan yang kadang hampir tak mengenal waktu. Tak bisa kita menutup mata juga, banyak hal yang mengisyaratkan sesuatu yang buruk yang dapat menimpa si calon wartawan tadi, sebut saja sangat berisiko.

Maka dari itu, perlu gerak cepat dari pihak terkait (kepolisian, jaksa, hakim, dsb) dalam menyelesaikan kasus ini. Jangan sampai ada pengaburan masalah demi melindungi sang pelaku, orang penting misalnya. Apalagi bila media terpaksa dibungkam.

Bila media ini kembali dibungkam, hemat penulis, smartphone serta perangkat canggih lainnya yang rata-rata dimiliki oleh masyarakat kita, tak berguna dan kita akan kembali menjadi katak di bawah tempurung. Hal ini tentunya berkaitan dengan kecerdasan bangsa, bukan?

Atas semakin banyaknya kasus kekerasan yang menimpa rekan media, Dewan Pers sendiri telah membentuk Satgas untuk menanganinya. Namun, tentunya hal ini tidak akan dapat terealisasi sebagaimana mestinya tanpa campur tangan polisi dan pihak terkait. Untuk itu diharapkan agar ini dapat diwujudkan demi memberi efek jera bagi mereka yang berniat/akan/telah melakukan kekerasan sebagaimana yang telah penulis paparkan di atas. []

Demi Kursi Tinggi, Terpaksa Kutelan Gengsi

Semuanya sebab ingin memangku jabatan tinggi, hingga harus kuturunkan gengsi. Ya… mau bagaimana lagiNamanya demi legalnya kursi.
*
“Rakyatku yang kucintai. Kalau kalian memilihku, anak cucu kalian bisa bebas biaya pendidikan sampai ke tingkat Doktor. S3, cuy. ‘Gak mau? Biaya kesehatan juga akan murah. Kalau sakit ringan, mungkin akan ada biaya khusus yang murah juga bisa gratis. Hahaha…. Bagaimana? Enak, bukan? Makanya… Kalau kalian mau fasilitas yang TOP untuk kampung kita, jangan lupa pilih aku, lho!” retorikaku saat tengah berkampanye beberapa bulan lalu. Dan hasilnya, kubuku menang. Dengan bangga, segera kudatangi mereka-meraka yang juga pesaingku, guna merapatkan barisan. Tujuannya, agar mereka memilihku untuk menjadi kepala daerah.
*
Jet pribadi mengantarku ke bukit di sebelah Barat. Lalu, kedatanganku langsung disambut ramah oleh sang pemilik pekarangan luas. “Hm…. Baiklah, beliau juga orang kaya, walaupun infotainment sering memberitakan hal-hal yang kurang enak untuknya. Eh, ehm… Namun, apa peduliku, ya? Hahahaha…” pikirku cepat.
Agendaku ke mari adalah sama, ingin semeja dengan beliau. Bahkan, aku sempat ingin menjadi wakil beliau dan sama-sama memajukan masyarkat kampung kami. Namun, tampaknya harus sedikit kutelan kekecewaan, sebab ada sedikit celah yang sulit kutembus saat banyak omongan kami. Jadi, sebagai orang kaya, akupun menolak kesepakatan itu. “Ah… Iya,aku orang kaya. Tambang emasku di mana-mana. Bagaimana mungkin aku harus mengalah?” senyumku.
Baiklah, akupun kembali dengan tangan hampa. Saat itu aku berpikir, negosiasi kami kurang mengena. Aku pun gengsi jika harus berada di bawahnya. Aku calon terhebat. Pantang menjilat. Memangnya dia siapa? Bagiku, dia adalah penjahat.

Lalu, kutemui perempuan itu. Memang beliau hanya seorang perempuan. Bagiku, perempuan itu adalah makhluk lemah. Aku selalu memandang sepele kepada kaum hawa. Mereka adalah makhluk yang mMereka selalu menggunakan perasaannya. Bila tampangku kelihatan layu, mereka terutama dia, akan mudah takluk dengan rayuanku yang tanpa lelah.
Kemudian, kumulai rayuanku. Taktikku sama seperti kepada orang yang punya lapangan jet itu. Segalanya kutawarkan, asal aku menjadi mitranya. Namun, betapa kecewaku, ketika sang janda menolak pinanganku. Bahkan sang janda berkata, “Biarpun aku janda, tapi aku selalu setia pada suamiku. Lagipula, harta suamiku banyak dan mencukupi perutku dan kedua putriku.” Beliau juga berkata, “Pergilah kau… pergi dari hidupku. Bawalah semua hartamu. Aku ora butuh uangmu. Dari pada bercinta denganmu, lebih baik kuurusi saja diriku serta putra kebangganku.” Tanggapannya itu melukaiku.
Aku marah. Aku merasa sunggu-sungguh terhina. “Sialan, dia. Sudah tua. Masih tak tahu diri. Huh… lihat saja kau ya. Nanti, kau yang akan menyembahku.” Sinis senyumku sebelum meninggalkan kediamannya.
*
Baiklah… sepertinya memang, aku harus kembali pada sang pemilik kebun raya. Walaupun gengsiku tinggi, daripada tak memperoleh jabatan agar dapat melaju mulus ke kancah nasional, akhirnya, kuterima saja tawaran sang kaya. Beliau juga menerima tawaranku. Juga ia berjanji akan menghadiahkan sebuah posisi untukku.”Posisi yang lumayan dari pada lumanyun,” katanya bangga.
“Ah, sial!!! Dia kembali menghinaku.” Sembari tetap dilanda amarah, aku tetap ramah. Ah…, biarlah. Yang penting bagiku adalah kekuasaan, hahahaha…
Di posisi injury time, akupun bergabung bersamanya. Lagi-lagi, demi kursi. Namun, sakit hatiku ini sudah memuncak. Bagaimana bisa tak ada yang memilihku. Padahal kemarin, aku memenangkan pertarungan, apalagi dengan orang yang kujilati, kini.
*
Ini adalah pertarungan. Bagi awam, mungkin yang kulakukan dianggap bahwa aku mengalah. Padahal, tak ada yang mengetahui bagaimana perasaanku dan muka tembokkuketika harus bergelayut manja di lengan sang calon penguasa kampungku.

Dinikahi Sebulan, Perempuan Ini Dibakar Suaminya

14005889641513805327
Ilustrasi/ Kompasiana (Kompas.com)
1. Innalillahi waninna ilaihi raji’un
Telah berpulang ke rahmatullah, kakak dari teman kita, XXX
2.      Kak, kakak nanti ikut melayat ke rumah Putri?
*

Begitulah chatting di grup whatsapp messanger yang saya terima kemarin pagi. Sontak saya terkejut menerima chattingan demikian, lantaran saya baru bangun tidur. Singkat cerita, setelah shalat dzuhur, dengan mengendarai sepeda motor, kami pegi melayat ke rumah duka. Seorang adik yang saya bonceng menanyakan, “kakak (saya) tau gak meninggalnya karena apa?”
“Sakit, kan? Mungkin karena udah tua.” Jawab saya.
“Enggak, Kak. Kakaknya itu masih muda. Sebaya kakak. Meninggalnya karena dibakar suaminya.” Jelasnya. Dhuaaaaaaaaaaaarr…..!!! bagai disambar geledek saya mendengarnya.

Setelah kami berkumpul, kamipun berangkat ke rumah duka. Sesampainya di sana, di sampaikan oleh orang rumahnya,  beberapa keluarga termasuk teman kami, masih berada di pemakaman. Kami menunggu sekitar satu jam, lalu keluarganya kembali dan terlihat raut (mencoba) tegar dari teman kami. Ia, yang berusia lebih muda 5 tahun dari kakaknya, masih sering menangis saat menceritakan kejadian itu. Suaranyapun parau. Ia memang sempat mengatakan bahwa sang ibu telah ikhlas. Namun dari pihak keluarga besarnya, bertekad akan mengusut tuntas kasus ini, sebagaimana pesan sang korban sebelum meninggal.

Sang korban telah dirawat seminggu di Rumah Sakit sejak 12 Mei 2014 lalu. Almarhumah adalah seorang istri yang baru sebulan dinikahi oleh suaminya, 19 April 2014 yang lalu. Dan meninggal dengan tragis di tangan suaminya sendiri di tanggal 19 Mei 2014, sehari sebelum ia berulang tahun ke 26 hari ini, 20 Mei 2014. Setelah membakar istrinya, sang suami ini pun tersadar bahwasannya telah mencelakakan istrinya, lalu ia pun berusaha bunuh diri dengan menggorok lehernya sendiri. Kedua korban yang saat kejadian masih bernapas, segera dilarikan ke rumah sakit sekitar pukul 03.00 pagi. Menurut penuturan sang adik yang tak henti menangis kecuali kami bilang hal-hal yang lucu, “Mereka kan tinggal di rumah mama suaminya yang sakit-sakitan juga, kak. Sebelum tidur malam, suaminya si kakak sudah menyiapkan tiner di kamar mereka. Ini pembunuhan berencana, kan Kak?” tanya sang adik.

“Iya, lah.” Jawab saya dan sayapun juga bertanya, “apa mereka ada masalah sebelumnya?”
“Gak ada, Kak. Suaminya mantan “pemakai” dan itu memang sudah kami tahu,” ujarnya.
“Sekedar mantan? Atau masih make’? tanya saya lagi. Kami gak tau kalau soal itu, Kak. Si kakak itu tertutup sama kami.” Ujar sang adik sedih.

Menurut yang saya baca di sini, keterangan warga yang juga ditegaskan oleh Kanit Reskrim Polsek Delitua, Iptu Martualesi Sitepu yang menyebut latar belakangan peristiwa karena masalah keuangan. “Masalahnya itu karena motif keuangan, suaminya nggak kerja, pemakai narkoba dan itulah pemicunya.”

*

Mendengar cerita dari teman-teman dan juga adiknya (teman saya), terus terang hati saya ikut berontak juga sedih. Kejadian KDRT yang selama ini saya saksikan di televisi, ternyata juga ada di dekat saya. Dan kembali, korbannya adalah perempuan, yang kali ini meninggal dunia di tangan suaminya sendiri. Tragis, bukan? Sampai kemarin, pelaku (suami korban) yang sempat menggorok lehernya sendiri ini telah dipindahkan dan dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara. Hemat saya, ini adalah langkah bagus yang diambil polisi guna dengan cepat menjerat pelaku, paling tidak setelah pelaku yang menggorok dirinya ini sembuh, dan masih hidup. Sebagaimana pesan korban sebelum meninggal kepada sepupunya, “Dia berkata samaku Lillahita’ala seumur hidup dia tidak akan ikhlas jika suaminya belum ditangkap. Dia harus merasakan apa yang seperti dirasakannya.”

Ini adalah pekerjaan yang harus diselesaikan secepatnya oleh pihak kepolisian agar menjadi pelajaran bagi para suami (juga istri) yang berkelakuan kasar di dalam rumah tangganya. Delik hukumnya ada, toh? Korbanpun masih ada. Jadi, tak ada alasan bagi polisi untuk berlama-lama dalam menyelesaikan persoalan ini.

Sedikit pesan dari mama saya, apapun masalah yang kita hadapi didalam rumah tangga, pakailah kepala dingin agar tak terjadi kembali hal-hal demikian. Bilapun hal itu telah terjadi, bersiaplah, cambuk hukum juga akan melecuti kita sebagai korelasi berimbang atas apa yang telah kita lakukan kepada pasangan kita. []

[Review] Natu Savon Kose Cosmeport, Refresh Your Day with Apple & Jasmine

Hai Beauties. Kembali lagi ke blog saya yang kali ini masih akan membahas skin care. Namun, sedikit berbeda dari biasanya. Kalau...