Kamis, 22 Agustus 2013

Celoteh Sang Perawan

13771074172127877683
http://uchanmath.blogspot.com/
-
Seperti tepi pantai
Menjilati liur air darat
Berselimut rimbun hutan sepi
Membusuk dipembaringan sekarat
-
Beginilah tawaku
Bias adanya tanpa daya
Meliuk-liuk menanti hari terangku
Menepis sedikit keraguan pada takdirNya
Akulah kembang perawan muda
Kadang iri melihat sang teman
Senyum mekar tanpa sedikit rasa gundah
Dibalik tatapan manisnya
-
Padamu perjaka
Seperti bulan setengah raga
Aku merindu dalam kalung celaka
Dalam Kesendirian yang tak pernah kusengaja
Aku yang terbingkai
Terkurung dalam nestapa keluh
Meninggalkan jejak luka sebelum bertikai
Oh, rasanya kali ini aku ingin sekali kembali berteduh
Kusadari segala impianku yang liar
Selama ini hanya berpijak pada cetakan mimpi
Kerinduanku membelah fajar
Saat kembali dalam pelukan malam yang ironi
Ku dapati bayang sesal
Setia mengejarku bersama bisik jangkrik
Seolah memecah laut kelam
Coba meretas kata hina
Dari mereka yang mencerca dalam ajar
Tinggalkanku dalam kesakitan jiwa yang dalam
Meneteslah air mata
Mengusik diamnya telaga duka
Adat, moral, agama, akh..aku benci demi cinta


Sungguh aku tak pernah mengharapkan laknat dalam luka

Sewindu MoU Helsinki, Pemerintah Pusat-Pemerintah Aceh Ditampar oleh Amnesty International!

Ilustrasi/Admin (KOMPAS.com)
Delapan tahun telah berlalu dan tanggal 15 Agustus 2013, tepat sewindu sudah perdamaian antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Republik Indonesia yang ditandai dengan penandatangan nota kesepakatan damai yang dikenal dengan MoU (Memorandum of Understanding) di Vantaa, Helsinki, Finlandia. Sejak saat itulah, GAM telah melebur dan tanpa perlawanan, menyatakan kembali bergabung dan setia memegang teguh kedaulatan bersama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
***

2 Hari Penting di Aceh (15 dan 17 Agustus)

Setelah kesepakatan damai itu, pemerintah Indonesia memberikan Otonomi Khusus bagi Provinsi Aceh untuk mengatur wilayahnya sendiri, sesuai syariat islam yang sebelumnya telah dilaksanakan untuk memaksimalkan Aceh agar tak hanya sebatas disebut Serambi Mekkah saja, juga sebagai pengamalan atas MoU Helsinki tadi. Mulailah dibuat berbagai macam Qanun untuk mengatur Aceh dan dari banyaknya Qanun, Qanun No. 13 tahun 2003 yang masih menjadi kontroversi hingga saat ini. Qanun yang membahas tentang Lambang dan Bendera Aceh itu telah berkali-kali dan pembahasan terakhir (31/7) hingga harus dilakukan langkah jeda karena Bendera Eks. GAM yang katanya diinginkan oleh seluruh rakyat Aceh, tak disetujui oleh Pemerintah RI. Terang saja tak disetujui karena Bendera itu mengingatkan kita pada masa konflik antara pemerintah RI-GAM, sebagaimana yang telah dikatakan pemerintah, boleh menggunakan bendera, tapi desainnya diganti.

Adanya keinginan sebelumnya dari pemerintah Aceh untuk menaikkan Bendera tersebut pada perayaan peringatan delapan tahun MoU Helsinki 15 Agustus 2013, tentunya ditentang oleh pihak RI. Apalagi tanggal itu mendekati perayaan Ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 68 pada 17 Agustus 2013, kemarin. Seperti yang dikatakan Mendagri, Gamawan Fauzi (12/8), “Menjelang 17 Agustus, bendera Merah Putih yang harus dikibarkan beramai-ramai. Oleh karena itu saya berharap tidak ada pengibaran (bendera GAM) lagi di sana.” Lebih lanjut, beliau juga mengatakan, “Pemerintah Provinsi, DPR Aceh, para elit dan tokoh-tokoh di sana seharusnya mengajak masyarakat Aceh untuk melihat ke depan tentang kesejahteraan bersama.”

Kedua hari penting tersebut telah dilaksanakan secara khidmat oleh seluruh masyarakat di berbagai daerah di Aceh. Untuk daerah Banda Aceh sendiri, Upacara memperingati Ulang Tahun Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2013 kemarin di pusatkan di LapanganBlang Padang dengan Doto Zaini (Panggilan akrab rakyat Aceh bagi Gubernur Zaini Abdullah) yang menjadi Inspektur Upacara.

Ketimbang Bendera, Utamakan Kesejahteraan Rakyat Aceh Terlebih Dahulu

Oleh karena belum didapati kesepakatan tentang Bendera ini dan demi untuk menghormati rakyat Aceh, keputusan ini tidak bisa diambil sendiri oleh Pemerintah pusat, namun lebih mengutamakan mufakat dengan Pemerintah Aceh. Pembahasan lanjutan tentang Bendera ini akan dilaksanakan selama 2 bulan kedepan, terhitung dari tanggal 15 Agustus-15 Oktober 2013.

Tentunya ini mengulur-ulur waktu. Coba bayangkan dan pahami secara pelan dan bijak. Untuk pembahasan ini saja:
1. Berapa banyak dana yang dikeluarkan Pemerintah Aceh maupun Pemerintah Pusat?
2. Mengapa dana ini tak dipakai untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat saja?

Dana ini lebih bermanfaat bila digunakan untuk membangun/mensejahterakan Aceh dan rakyatnya. Belum lagi Korupsi di sana yang terus merajalela. Tentunya ini menambah penderitaan rakyat Aceh sendiri.

Terkait kesejahteraan rakyat Aceh sendiri, Pengamat politik dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, M Jafar SH M. Hum berharap persoalan Qanun Nomor 3 Tahun 2013 tentang Lambang dan Bendera Aceh agar segera diputuskan sehingga Pemerintah Aceh bisa melaksanakan agenda lainnya yang lebih mengutamakan kesejahteraan rakyat.

Pembaca telah melihat beberapa tulisan saya sebelumnya, di mana saya tetap menyinggung tentang 21 Janji kampanye Gubernur dan Wakilnya agar memperhatikan kesejahteraan rakyat, bukan? Sesungguhnya ini murni bentuk keprihatinan saya terhadap banyaknya masyarakat di sana, terlebih yang berdomisli di pedesaan yang belum sejahtera secara finansial.

Pelanggaran HAM di Aceh. Amnesty International : No Peace Without Justice

1376781867881184840
http://www.qutguild.com/clubs/social-justice/amnesty-international
Masih segar dalam ingatan saya bagaimana pertama kali melihat senapan laras panjang melintas di hadapan saya yang dibawa oleh GAM ketika kami di-sweepingdalam perjalanan kembali ke Banda Aceh dan terpaksa bermalam di mesjid daerah Bagok, Aceh Timur. Selanjutnya, saya masih ingat bagaimana bunyi rentetan peluru atau pun bom yang meledak. Pernah juga di tempat tinggal saya sebelumnya yang kebetulan Asrama TNI, ingin diledakkan oleh GAM (kepala Asrama mengumumkan hal itu di tengah malam). Jelas semua masih terekam dalam ingatan saya beberapa hal itu, sebelum Tsunami. Konflik di daerah Aceh pada masa itu cukup banyak juga memprihatikan. Darah yang mengalir dari GAM, TNI maupun masyarakat sipil terus mengalir.

Menurut catatan Amnesty International yang berpusat di London, korban konflik Aceh yang selama lebih kurang 30 tahun itu (1976-2005) mencapai 30.000 kasus. Yang paling anyar dan masih membekas bagi hampir seluruh rakyat Aceh adalah Tragedi pembantaian di Simpang KKA, Cot Muroeng, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara. Pada 15 Agustus kemarin, Suara Aktifis HAM untuk Rakyat Aceh  (SAHuR Aceh)menggelar aksi di sana demi menutut kejadian pelanggaran HAM di sana.

Mengapa mereka mau melakukan itu? itulah bentuk solidaritas anak Aceh terhadap keadilan HAM yang belum di dapatkan, padahal mengenenai HAM itu, jelas tertuang dalam Nota Kesepahaman antara Pemerintah RI dan Gerakan Aceh Merdeka/GAM. Khususnya, tercantum dalam poin (2.2.) “Sebuah Pengadilan HAM akan dibentuk untuk Aceh”; (2.3.) “Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi akan dibentuk di Aceh oleh KKR Indonesia dengan tugas merumuskan dan menentukan upaya rekonsiliasi”.

Bukan hanya saya dan rakyat Aceh yang lain yang menutut Haknya, tetapi beban kami ini juga dirasakan oleh Amnesty International. Amnesty International dalam rilis terbarunya untuk memperingati 8 tahun MoU Helsinki 15 Agustus 2005, telah menyerukan bahwa, Tiada Perdamaian Tanpa Keadilan (No Peace without Justice).”

Dikatakan oleh Isabelle Arradon, Deputi Direktur Asia Pasifik Amnesty International “Delapan tahun setelah konflik Aceh berakhir, warisan kekerasan masih menjadi bagian dari realitas harian ribuan orang di wilayah tersebut. Sementara para korban dan keluarga mereka menyambut baik situasi keamanan yang lebih baik, mereka tidak bisa memahami mengapa tuntutan mereka akan kebenaran, keadilan, dan reparasi masih diabaikan.”

***

Bagi saya pribadi, seruan/perkataan dari Amnesty International tersebut adalah tamparan keras bagi pemerintah pusat juga pemerintah Aceh sendiri. Bagaimana tidak? 8 tahun MoU Helsinki ini terlaksana, namun belum juga mampu menyelesaikan permasalahan yang sangat pelik tersebut. Mengapa kasus ini seakan-akan tak memperoleh kejelasan dan penyelesaian dari kedua belah pihak? Walau hanya terjadi di dalam negeri tapi kasus ini masih terus diperbincangkan oleh Amnesty Interntional yang berpusat di London. Sesungguhnya, Ini memalukan bagi kedaulatan NKRI di mata dunia internasional.

Banyaknya korban semasa konflik dahulu juga tak kalah pentingnya dari kesejahteraan tadi. Hendaknya persoalan ini diusut sampai ke akar-akarnya oleh  pemerintah pusat dan pemerintah Aceh yang seharusnya tak hanya diam dan dapat  bergerak cepat untuk mengusut dan menyelesaikan hal memprihatikan tersebut.

Hingga saat ini, memang pembicaraan mengenai Lambang dan Bendera Aceh masih terus diusahakan agar mendapati satu kata sepakat. Adalah benar jika dikatakan, Bendera dan Lambang itu akan menunjukkan kekhasan Serambi Mekkah, tetapi ini bukan yang sebenarnya diinginkan oleh seluruh masyarakat Aceh. Alangkah lebih baik jika hak masyarakat Aceh dipenuhi terlebih dahulu, baik soal kesejahteraan maupun keadilan HAM. Hal-hal demikian yang seharusnya menjadi fokus/prioritas utama yang patut diperbincangkan oleh pemerintah Aceh dan pemerintah pusat.

*

Sewindu MoU telah sama-sama kita lewati dalam damai, tapi ternyata masih banyak rakyat Aceh yang menjerit di sana. Atas tuntutan masyarakat Aceh itu sendiri serta tamparan Amnesty International itu, masihkah Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh menutup mata akan Kesejahteraan dan Keadilan HAM di Aceh? [AZ]

Senin, 12 Agustus 2013

Pacar Mengaku Tak Perjaka. Bagaimana Reaksi Pasangan ?

Sejak di bangku Sekolah Dasar, interaksi yang dilakukan oleh masing-masing individu akan terus berkelanjutan hingga ke tingkatan sekolah yang lebih tinggi. Hubungan yang awalnya teman biasa, sewaktu-waktu dapat berubah menjadi teman spesial. Teman spesial yang selanjutnya akan menjadi pacar.

Sebelum menjalani hubungan dengan seseorang, pastinya pernah menjalani hubungan dengan yang lainnya. Ketika berhubungan itu, banyak hal yang bisa terjadi, termasuk melakukan hubungan badan yang bila tak menggunakan pengaman akan menyebabkan kehamilan. Jika pun tak sampai hamil, si perempuan akan kehilangan keperawanannya. Lalu bagaimana dengan si lelaki?

*

Beberapa waktu yang lalu, adik angkat saya mengajak saya curhat tentang permasalahan yang sedang dialami oleh teman perempuanya, sebut saja Rini. Rini memiliki seorang pacar  bernama Tomi yang mengakui bahwa dirinya sudah tidak perjaka. Tidak perjaka dalam artian sudah pernah melakukan hubungan badan dengan pacarnya sebelum Rini.
Menurut pengakuan Rini, ia amat kecewa dengan pengakuan Tomi yang sudah pernah melakukan hubungan seks beberapa kali dengan mantan pacarnya sebelum Rini. Rini pun menjadi dilema, antara ingin :

1. Memutuskan
2. Melanjutkan

=> Jika Rini memutuskan Tomi, Rini pun tak bisa karena sudah terlanjur cinta (namun, mereka belum pernah melakukan hubungan yang jauh), atau
=> Jika Rini memilih untuk melanjutkan hubungan mereka, maka Rini akan terus sakit hati dan merasa kecewa.

Benar, bahwa Kedua opsi telah diketahui Rini dengan jelas dan sekarang ia masih melanjutkan hubungannya dengan Tomi dengan tetap menanggung rasa kecewa dan sakit hati. Rini sendiri jadi sering bersedih. Mau mutusin, tapi tetap gak bisa, sangking cintanya tadi.

*

Mengingat komitmen awal ketika menjalin sebuah hubungan adalah menerima apa adanya, dan saling percaya, jika si perempuan masih sanggup menjalani hubungan itu dengan alasan masih cinta, segera kesampingkan rasa kecewa tadi. Saya tahu bahwa ini adalah suatu hal sulit untuk dijalani, apalagi dengan lapang dada, tentunya akan terjadi perang batin di sana. Namun tak ada salahnya jika dicoba perlahan. Mungkin seiring berjalannya waktu, hal itu pun dapat dilupakan, dan dapat menjalani hubungan dengan santai (tanpa penetrasi).

Selanjutnya, jika memang tak mau menjalani hubungan itu lagi dengan dalih kecewa dan dari pada merasa sakit hati terus menerus, segera akhiri saja hubungan itu. Untuk selanjutnya, lebih spesifik lagi dalam memilih-milih calon pacar.

*

Memilih calon pacar/pendamping itu layaknya membeli kucing dalam karung. Kita tak dapat melihat ciri-ciri fisik dari seorang yang tidak perjaka/tidak perawan, apalagi tak mungkin langsung kita sodorkan pertanyaan, “kamu masih perjaka/perawan?” ketika pertama kali berjumpa, bukan? Nah, jika sudah kenalan dan merasa saling cocok, biasanya kan dilanjutkan dengan yang namanya proses PDKT.

Saat PDKT ini, kita bisa mancing-mancing si dia untuk saling bercerita tentang pengalamannya pacarannya terdahulu. Usahakan saling terbuka, biar selanjutnya masing-masing merasa nyaman. Jikapun nanti si calon pacar tadi mengakui dia sudah tidak perjaka/perawan (intercourse), kamu bisa menilai sendiri, mau atau tidak melanjutkan hubungan dengan dia. Toh, yang namanya mengakui diri sudah tak perjaka/perawan (Intercourse) itu adalah hal yang tabu untuk di negara timur seperti Indonesia.

Bila dia sudah mengaku, itu malah lebih bagus. Jadi kamu, tak merasa dibohongi dan sakit hati nantinya. Karena kebanyakan mitos yang beredarpun mengenai ciri-ciri fisik perempuan tak perawan, tentunya tak bisa dipercaya. Konon lagi tentang keperjakaan seorang laki-laki.

Kalau memang sudah tahu, tapi masih mau melanjutkan hubungan itu atas dasar saling mencintai,. Untuk selanjutnya tolong jangan pernah membahas lagi tentang ini, karena selain memalukan dan tak menutup kemungkinan akan menyedihkan bagi yang pernah mengaku, juga tentunya akan menyakitkan untuk yang akan mendengar, kan? [AZ]

Minggu, 11 Agustus 2013

Terkait Komentar: Mencaci Penulis Karena Arogansi Pembaca ?

13760960151270421902
Ilustrasi/Admin (Shutterstock)
Di tahun 2013 ini, kemudahan untuk mengakses internet semakin terasa seiring banyaknya smartphone, dari yang sebesar telapak tangan sampai yang sebesar talanan, sehingga mau tak mau memberikan sebuah “tantangan” tersendiri bagi pemakainya. Tak menutup kemungkinan, adanya internet ini memberikan dampak yang cukup signifikan dalam menempa daya pikir seseorang, di mana semakin mudahnya seseorang mencari informasi untuk memuaskan rasa keingintahuannya.

Seperti Kompasiana sendiri. Bagi saya pribadi, blog keroyokan ini cukup menempa pola pikir saya. Pada blog yang mengusung tema Sharing & Connecting ini, seorang penulis dapat berinteraksi dengan orang lain, di mana masing-masing memberikan reportase dan opini yang tentunya luput dari perhatian mainstream media.Tulisan/artikel yang baikbiasanya memiliki News Value (Nilai Berita). Adanya jurnalisme warga sekelas Kompasiana, memungkinkan seseorang menyalurkan opininya yang tentunya luput dari perhatian mainstream media.

Untuk menayangkan tulisan di Kompasiana, Kompasianer dapat memilih reportase atau opini, sesuai dengan isi tulisannya. Mungkin dalam reportase, sangat jarang atau dapat dikatakan hampir tak ditemukan debat. Lalu, bagaimana dengan opini?

Sejauh pengamatan saya, opini adalah pendapat pribadi dari seorang penulis. Untuk mendukung opininya, tak jarang seorang penulis melakukan riset ke berbagai media dan HARUS mencantumkan link terkait dengan topik tulisannya demi menghindari plagiat.

Ketika sebuah artikel selesai di posting, mulailah berdatangan komentar dari pembaca. Dari sekian banyak komentar yang ada, tak semua yang setuju dengan opini si penulis, sehingga menuliskan hal yang bersebrangan. Tentunya ini masih bisa dimaklumi, bukan? Mungkin pembaca kurang mengerti akan substansi tulisan tadi, ya… bahasanya agak susah di pahami. Saya juga sering mendapati tulisan yang harus saya baca berulang kali sampai saya mengerti. Kadang bingung juga dan bertanya sendiri, ini tulisan bicarain apa sih?

Selanjutnya, saya juga harus mengingat, seorang penulis memiliki hak untuk menuliskan opininya dengan menggunakan bahasa tersirat. Dari bahasa tersiratnya itu, maka ada kewajiban si penulis atas pertanyaan si pembaca untuk lebih mendeskripsikan (menjelaskan) maksud tulisannya itu sebagai bentuk terima kasihnya kepada si pembaca, karena penulis tanpa pembaca, bukan apa-apa.

Dua Tahun Bercengkrama di Kompasiana
Setelah dijelaskan maksudnya, namun tak jarang bahwa komentar yang didapati  masih saja bersebrangan dengan isi opini. Dan ini memang harus benar-benar di maklumi oleh penulis. Kesal mungkin terjadi, tapi ya kembali lagi seperti yang salah seorang kompasianer katakan, bahwa setiap orang punya persepsi masing-masing ketika membaca sebuah tulisan.
Benar, seorang penulis tidak akan dapat mengarahkan orang lain sebagaimana maksud penulis. Ini adalah sebuah keniscayaan. Ibarat kepala sama hitam, tapi pemikiran pasti berbeda-beda. Contoh jelasnya, mungkin dapat dibaca di sini.

Pada tulisan saya tersebut, terlihat jelas bahwa seorang komentator hampir tak setuju dengan komentar lain, apalagi dengan isi tulisan saya itu. Terus terang, awalnya saya jadi bingung, setelah berkali-kali dijelaskan oleh banyak komentar di sana (terima kasih semua) dan terjadi debat kusir, tapi tetap saja tak ada yang masuk ke dalam logikanya. Sebenarnya ini lucu, kok ngotot sekali ya si beliau itu? Demi menghentikan komentar marah-marahnya, saya cukup berterima kasih. Karena mau dilawan pun tetap saja tak akan masuk ke logikanya, toh sudah banyak yang berbicara, tapi tetap aja dia malah balik marah-marah. Lucu!!!

Mencaci Penulis = Arogansi Pembaca
Selanjutnya, sedikit mengenai hal lucu lain terkait komentar. Cukup menggelitik sekaligus “menggemaskan” ketika membaca komentar yang terkadang keluar dari isi tulisan (bukan komentar OOT, semisal : menyimak, memberi emoticon atau komentar chatting, ini tak masalah bagi saya), tapi komentarnya itu menyudutkan dan mendiskreditkan orang lain yang memang tak sepaham dengannya hingga cenderung mengandung fitnah. Fitnah ini pun pernah saya alami, mau buktinya? Sudah saya screenshoot lho! Bahkan tak jarang, ada komentar orang yang bernada OOTpun tadi dijadikan bahan ejekan di artikel lain. Apa-apaan ini? Penting ya melakukan hal bodoh begitu?

Menurut hemat saya, hal-hal yang saya sebutkan tadi adalah suatu kesia-siaan karena tak dapat menanggapi opini si penulis. Mengapa hal tersebut terjadi? Bisa jadi disebabkan oleh :

1. Tidak mengerti
—> Pembaca tak mengerti akan topik yang sedang dibahas oleh penulis, cuma karena sudah terlanjur masuk ke tulisan itu, mau tak mau berkomentar juga. Tapi komentarnya, tak terkait isi tulisan. Misalnya menyerang ideologi dan keyakinan bahkan menuduh seseorang.

2. Malas Membaca
—> Hal itu dapat terjadi karena si pembaca malas membaca keseluruhan isi tulisan. nah, akibat malas membaca ini, jadi berkomentar asal-asalan.

3. Termakan Doktrin
—> Selain tak mengerti dan malas membaca sebuah tulisan, hal lain yang menyebabkan seorang pembaca menyerang penulis adalah karena ia telah termakan doktrin. Orang yang telah termakan doktrin ini, sungguh tak bisa menerima pandangan orang lain, bahkan cenderung berkomentar kasar. mungkin ia tak mau berkomentar demikian, namun akibat doktrin tadi, mau tak mau ia harus melakukannya.

*

Benar, bahwa tak semua orang harus mengerti maksud tersirat dalam sebuah tulisan. Bahkan tak jarang karena ketidakmengertiannya itu, ia menjadi berang sehingga memojokkan  si penulis. Meskipun beragam ilustrasi telah diberikan, namun tetap saja tak mau berpikir lagi. Baginya, si penulis itulah yang salah.

Mengapa terjadi demikian? Tak lain dan tak bukan, disebabkan oleh orang tersebut telah termakan doktrin yang mendarah daging dalam dirinya hingga dengan sedemikian naifnya ia menjalankan suatu hal yang sebenarnya memperlihatkan kebodohannya sendiri di hadapan orang lain. Oleh sebab itu, apapun yang disampaikan orang lain, akan langsung dikatakan sebagai sebuah kesalahan dan ia merasa harus segera mencari pembenaran. Dan dengan bangganya, ia menari-nari di atas kebodohannya sendiri. #miris

Berbeda itu adalah hal yang biasa. Kemudian bila menjadi bodoh untuk menjadikan diri ini pintar, tentunya tak masalah dan di sinilah point positifnya. Bahkan akan cenderung menjadi suatu hal yang aneh jika semua manusia memiliki pikiran yang sama. Namun adalah suatu kesia-siaan dan hanya membuang-buang waktu jika harus mempertahankan arogansi si logika tanpa menyeimbangkan dengan etika yang terus digunakannya demi menjatuhkan orang lain, bukan? [AZ]

Jumat, 09 Agustus 2013

Pertanyaan Kapan Kawin Ketika Kumpul Keluarga, Pantaskah?

Hampir seluruh umat muslim di seluruh dunia, secara serentak merayakan Hari Raya Idul Fitri pada hari ini (8/8), setelah sebelumnya menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan yang juga diikuti dengan tradisi khas di Indonesia yang lazim disebut dengan mudik ke kampung halamannya masing-masing. Biasanya, idul fitri dimulai dengan shalat Id, mendengarkan khutbah, kemudian bersalaman dengan para jemaah lainnya di Masjid.

Setelah kembali ke rumah, akan dilaksanakan acara kumpul-kumpul dengan keluarga besar, biasanya di rumah Kakek-Nanek, Ayah-Ibu atau pun kakak tertua. Dalam acara kumpul-kumpul ini, selain saling menyantap hidangan khas lebaran seperti ketupat, lontong dan teman-temannya, serta kue-kue lebaran, pasti banyak hal yang dibicarkan. Misalnya para tetua akan menanyakan seputar pekerjaan, pendidikan, bahkan percintaan.

Pertanyaan seputar  percintaan bagi yang belum menikah tapi sudah memiliki calon pendamping, saya rasa bukan masalah lagi. Atau bagi kamu yang masih sekolah/kuliah, tentunya orang tua juga tak akan menanyakan tentang cinta, paling akan ditanya, “gimana skripsi, kapan lulus,kapan tamat, bla bla..”, toh masih anak sekolah. Namun, akan menjadi masalah buat kamu yang Jomblo dan sudah cukup umur untuk menikah, juga mapan. Nah,,, biasanya orang tua akan bertanya, “mana calonmu, kapan dikenalin ke keluarga?” Atau yang paling ekstrim ”kapan kawin?” Pertanyaan ini adalah masalah bagi si Jomblo mapan, lalu berjuta alasan demi ngeles pun akan terlontar dari bibir manis si jomblo ini.

Meminjam tagline sebuah iklan deodorant yang mengatakan cool, calm, and confident, maka si jomblo pun akan menjawab dengan wajah yang dimanis-maniskan, seperti :

1. “Tak bisa sekarang, karena saya sedang tak ingin membagi waktu dengan pekerjaan saya yang sedang sibuk-sibuknya.”
–> Baiklah, ini jawaban terampuh untuk menjawab pertanyaan dari orang tua. Dan orang tua juga akan berpikir sendiri, “oh, ok… anak saya sedang berusaha mencari sesuap nasi dan segenggam berlian”. Namun bukan berarti orang tua akan berhenti menanyakan tentang ini. Yakinlah, di  kesempatan lain, pasti hal serupa akan ditanyakan.

2. “si Budi aja belum, nanti deh, saya nikahnya setelah dia”
—> Temanan, sepupuan atau bahkan saudara jauh sih memang Iya. Tapi kalau soal jodoh, masa’ main tunggu-tungguan sih? Jika jawaban ini yang akan kita pakai, Yakinlah akan diberondong pertanyaan baru.

3. Tak menjawab, beralasan mau ke Toilet atau apapun, yang jelas menjauh dari sang penanya
—> Ok, ini adalah jawaban yang juga ampuh guna menghindari pertanyaan itu sesaat di hadapan orang. Tapi, pasti lain kali akan ditanya lagi, toh belum ada jawaban jelas.

*

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya kasihan juga mereka para jomblo mapan ditanya begitu. Walaupun mungkin Ia bisa bermanis-manis di hadapan orang lain saat pertanyaan itu diLaunching, tapi hatinya meringis juga, lho!

Malu dong ya, masa’ ditanyain kapan kawin di hadapan saudara yang lain. Dan ini akan memecah konsentrasinya. Ia akan merasa dituntut untuk melakukan sesuatu yang belum mampu ia lakukan. Jangankan untuk menikah dalam waktu dekat (ingat, dia jomblo), pekerjaan saja sudah cukup menyita waktunya.Jelas, di sini keadaan psikologisnya terganggu. Rosdiana Setyaningrum, M.Psi, MHPEd, seorang psikolog dari Rumah Sakit Pluit Jakarta, mengatakan bahwa pertanyaan semacam itu sangat stressfull.

Nah, ada satu jawaban telak dari abang angkat saya bila pertanyaan kapan kawin itu muncul. Jawaban itu adalah Tanya Tuhan saja. Heheehe.. dijamin, sang penanya akan diam seribu bahasa.

*

Sejatinya, pertanyaan demikian terlontar dari para orang tua karena mereka teramat menyayangi sang anak, si jomblo mapan tadi. Namun, alangkah baiknya… jika menanyakan hal yang sifatnya privat seperti ini, jangan pada saat kumpul keluarga juga dong. Kasihan si jomblo mapan tadi. Dia akan malu, kan? [AZ]

Jumat, 02 Agustus 2013

Polemik Bendera : Pengalihan Isu Kesejahteraan Masyarakat dan Korupsi di Aceh?

13753102971366335085
http://www.tribunnews.com/regional/2013/07/26/pemerintah-cuma-ingin-bendera-aceh-diubah-sedikit

Sejak dikeluarkannya Qanun No. 3 Tahun 2013 tentang Bendera dan Lambang Aceh oleh Pemerintah Aceh pada Maret 2013 lalu, perundingan antara Pemerintah Republik Indonesia - Pemerintah Aceh terkait bendera bulan bintang untuk menjadi bendera Aceh masih saja harus diperpanjang.


Pertemuan tertutup Rabu (31/7) yang dikatakan sebagai pertemuan akhir sebelum bendera tersebut di-Lauching pada peringatan 8 tahun perjanjian MOU Helsinki 15 Agustus 2013 mendatang, belum juga mendapati satu kata sepakat.

Kedua belah pihak masih sama-sama memegang teguh prinsip masing-masing, padahal perundingan sejenis telah dilakukan beberapa kali di berbagai tempat berbeda. Seperti Banda Aceh dan Jakarta yang sudah pasti karena masing-masing pihak berdomisli di kedua kota tersebut. Selanjutnya, ada juga yang dilakukan di Makassar, Bogor, dan Batam. Oleh karena kemarin siang (31/7) belum ada kesepakatan apa-apa, maka kedua belah pihak sepakat untuk memberi jeda lagi untuk pembahasan ini seusai lebaran nanti.

Pihak Pemerintah Aceh, masih teguh pada pendiriannya yang mana menginginkan bahwa Benderanya tetap seperti Bendera mantan gerakan separatis, sedikit berbeda dengan keinginan Pemerintah Indonesia. Melalui Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri), Pemerintah Republik Indonesia tetap pada pendiriannya semula, guna mengusung semangat MOU Helsinki di mana Penetapan Lambang dan Bendera Aceh yang di kesepakatan (perjanjian) Helsinki poin 4.2, yang pada pokoknya simbol-simbol menyerupai GAM tidak boleh digunakan seperti yang dikatakan oleh Gamawan Fauzi pada (28/5) lalu.

Hal senada juga dikatakan Mantan Negosiator Perundingan antara Pemerintah RI – GAM yang juga merupakan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla. Beliau mengatakan, “Saya kira akan segera selesai. Kompromi itu, jalan tengah. Prinsipnya Bendera Aceh itu jangan sama persis dengan GAM, bahwa maknanya, filosofisnya sama, itu boleh saja. Itulah kompromi. Yang paling penting rakyat Aceh inginkan perdamaian dan kesejahteraan. Jadi janganlah habis waktu hanya untuk bicarakan soal simbol-simbol, sehingga lupa untuk menyelesaikan persoalan pokoknya yakni kesejahteraan,” tandasnya.

Setelah berbulan-bulan dan berpindah-pindah tempat dilakukan demi menyatukan visi dan misi atas Bendera tersebut yang juga belum memperoleh hasil yang memuaskan bagi kedua belah pihak, tampaknya seorang Martti Ahtisaari harus turut dihadirkan lagi.

Sebagaimana yang diketahui, beliau adalah pemimpin tim mediasi antara Pemerintah Indonesia-GAM pada perjanjian yang belangsung 15 Agustus 2005 di Vantaa, Helsinki, Finlandia. Sebagaimana yang dikatakan oleh Dirjen Otonomi khusus, Djohermansyah Djohan pada Jum’at (26/7)“Kalau Pemerintah Daerah Aceh dan DPR Aceh tetap `ngotot`, kami akan meminta bantuan Martti Ahtisaari untuk membicarakan butir-butir terkait dalam Perjanjian Helsinki.”

*

Senada dengan ucapan Bapak Jusuf Kalla di atas, pada tulisan saya tanggal 25 Juli 2013 yang lalu, saya juga sudah mengatakan bahwa hal pokok yang harus dipentingkan adalah memperhatikan kesejahteraan rakyat provinsi Aceh sendiri.

Sejujurnya, saya menuliskan hal tersebut bukan untuk membenturkan kasus Bendera dengan kesejahteraan masyarakat. Namun terlebih pada rasa keprihatinan saya yang cukup besar kepada saudara-saudara saya di sana yang masih berkehidupan tidak layak, terutama di desa-desa yang belum tersentuh pemerintah secara merata. Mengapa demikian?

Dari 21 janji pada masa kampanye Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih pada Pemilukada Aceh 9 April 2012 lalu, belum ada satu pun yang terealisasi dengan baik. Maka tak heran pada 20 Mei 2013 lalu, sejumlah masyarakat, mendatangi kantor Gubernur Aceh guna menuntut janji tersebut. Logikanya saja, jika mereka telah diberikan janji pemerintah itu, mereka tidak akan menuntut lagi, bukan?

Rakyat Aceh yang merupakan korban konflik hingga tsunami, masih banyak yang belum berkehidupan yang layak. Tingkat perekonomian mereka masih sangat minim, terlebih bagi mereka yang tinggal di pedesaan. Mungkin janji Gubernur Zaini Abdullah dan Wakilnya, Muzakkir Manaf yang pernah mengatakan akan memberikan Rp 1.000.000,00/KK/bulan secara Cuma-Cuma dari hasil Migas, tampaknya sulit dipenuhi, konon lagi kesejahteraan yang merata bagi seluruh masyarakat, bukan? Mungkin alangkah baiknya, berikanlah mereka pancing (kail) agar mereka berusaha sendiri demi kelangsungan hidup mereka.

Yang tak kalah penting dari realisasi janji tersebut adalah kasus korupsi yang bagai macan tidur diam-diam menerkam Provinsi Aceh di mana menurut data dari Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), Provinsi Aceh merupakan provinsi terkorup kedua untuk tahun 2013 ini, menemani Provinsi Sumatera Utara di puncak. Tentunya ini prestasi yang “gemilang”, bukan? Kasus korupsi ini cukup mencengangkan bagi saya pribadi, di mana banyaknya masyarakat yang belum sejahtera di Aceh sana, tetapi masih saja ada mereka yang melakukan korupsi.

Yang pasti, BPK RI telah menemukan adanya kecurangan pada pelaksanaan proyek APBD Aceh 2012 lalu yang mana banyaknya aset pemerintah Aceh yang hilang dan belum tahu di mana rimbanya. Pengelolaan keuangan Aceh sarat dengan dengan masalah, serta tidak ada itikat baik Pemerintah Aceh untuk melakukan pengelolaan anggaran dengan baik. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Koordinator Bidang Adovokasi Publik Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA), Hafidh. Berdasarkan data hasil audit BPK RI, pemerintah Aceh hanya mampu mendapatkan predikat WDP (Wajar Dengan Pengecualian).

Sebagaimana yang telah saya tuliskan di atas, persoalan Bendera itu  belum juga diperoleh kata sepakat dari hasil perundingan kemarin (31/7). Maka diberikan jangka waktu untuk evaluasi Qanun No. 3 Tahun 2013 itu hingga 15 oktober 2013 mendatang. Jadi, Permintaan Mendagri, Gamawan Fauzi untuk tak mengibarkan Bendera di Aceh tanggal 15 Agustus mendatang juga diamini oleh Gubernur Zaini Abdullah yang menghimbau kepada seluruh masyarakat Aceh untuk tidak mengibarkan Bendera tersebut dalam memperingati 8 Tahun MOU Helsinki pada 15 Agustus 2013 nanti.

Selanjutnya, adanya korupsi di Bumi Serambi Mekkah ini hendaknya menjadi perhatian khusus dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk membersihkan daerah ini dari praktek korupsi yang dilakukan secara perorangan maupun berkelompok oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, yang mana dana tersebut dapat digunakan demi kesejahteraan masyarakat Aceh sendiri. Kasihan masyarakat korban konflik kemanusiaan itu,  mereka tak dapat melakukan hal lain demi kelangsungan hidupnya dikala hak mereka terus digerus oleh pemilik proyek atau pejabat di sana.

Sudah cukup derita kami anak Aceh yang lebih kurang selama 30 tahun berada dalam ketakutan akibat konflik yang berkepanjangan. Wahai pemimpin sekalian, lakukanlah ini demi Aceh yang lebih baik dan demi janji setia dan perdamaian antara GAM dan pemerintah RI dalam MoU Helsinki 8 Tahun lalu yang mana Eks. GAM telah berjanji setia untuk tetap berada di pangkuan Ibu Pertiwi. Semoga selain evaluasi dalam hal Bendera, pemerintah Aceh juga dapat menindak tegas pelaku korupsi dan menyerahkan semuanya secara transparan ke KPK.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mendengar aspirasi rakyatnya. Dan keinginan utama seluruh rakyat Aceh (bukan cuma sekelompok) adalah kesejahteraan hidupnya, bukan hanya Bendera yang menjadi tuntutan utama mereka, meskipun saya tahu, bendera ini merupakan jati diri sekaligus harga diri bagi sebagian rakyat Aceh, namun alangkah lebih baik jika kita mengingat bahwa ada orang lain yang tidak menyetujui Bendera itu.

Semua pihak tentunya berharap, jangan sampai masalah Qanun Bendera dan Lambang Aceh ini hanya menjadi pengalihan isu atas ketidaksanggupan Gubernur dan Wakilnya untuk merealisasikan ke 21 janjinya tersebut demi kesejahteraan masyarakatnya, dan bukan pula untuk menutupi kasus korupsi yang sudah menjadi borok di Aceh.

Bukankah mementingkan kesejahteraan masyarakat lebih baik ketimbang mementingkan egoisitas diri pribadi? [AZ]

Ah... Tsunami Hatiku, Sebab Diamku!

13751213881085398936
www.busana.com


Sahabat. Mungkin benar ini adalah sebuah kebodohan. Suatu kesia-siaan akibat logikaku berkalang perasaan.Namun tolong, jangan salahkan aku yang merindukannya walau harus selalu tanpa balas darinya. Dia memang tak tahu, betapa tersiksanya aku olehnya. Rasanya, ingin segera ku palingkan wajahku ketika harus melihat ramahnya bercengkrama dengan yang lain.
Dia tak tahu atau mungkin tak harus tahu. Demi sekadar ingin menghapus bayangnya, kemarin sempat ku serahkan hatiku untuk dimiliki pejantan lain, walau ku tahu itu sebuah kesalahan terbodoh yang pernah ku lakukan. Dan benar, oleh sebab khilafku kemarin, teror untukku pun tiba-tiba ada. Aku lelah diteror dan ku putuskan untuk mengakhiri salahku itu, walau teror itu tak serta merta pergi.
Sahabat, sejujurnya, aku tersiksa di sini. Berdarahku juga oleh sebab rasaku yang terlalu besar untuknya. Jika mampu ku teriakkan di telinganya, akan ku katakan, “Hey pejantan… khilafku kemarin adalah oleh sebab aku ingin terlepas dari bayangmu.” Kau dengar?
Huff, tapi tetap saja, tak bisa ku lakukan.
Ah… Seandainya saja ia mengetahui, oleh sebab rasa yang tak berani ku sebut cinta ini terus menggerogoti aliran darahku, hingga terkadang, sedikit menitikkan air mata ketika harus ku sesali diriku yang dibutakan olehnya.
***
Aku memilih sendiri bukan sebab aku tak laku seperti yang dikatakan oleh mereka yang iri padaku. Kemarin, ada pejantan lain yang menawarkan cintanya kepada perempuan yang merindukanmu ini.
Bahkan tadi, ada yang menanyakan padaku, “sampai kapan kau bentengi diri dan tak mengubris lelaki lain?”
Tercekat ku mendengar pertanyaan itu. Sebab bingung dan tak tahu harus berkata apa, segera ku alihkan obrolanku dengannya. Aku tahu, aku telah melakukan kesalahan lagi. Namun tetap saja, oleh sebab hatiku telah terlanjur ku serahkan sepenuhnya padamu, aku tak menerimanya.
***
Jika mampu ku katakan, aku lelah. Hatiku teramat perih ketika melihat realitamu yang tak melihatku. Namun tetap saja, aku tak bisa berbuat apa-apa.
***
Hey Lelaki..!
Lelah ku berjuang sebab tsunami hati yang kau ciptakan. Sekelilingku mungkin telah bosan mendengarkan lafal namamu yang selalu ku sebut ketika aku merindukanmu. Ingin rasanya ku katakan padamu, bahwa nurani perempuanku membutuhkanmu.
Namun, mungkin ada benarnya perkataan sahabatku, bahwa kesalahanku adalah memiliki rasa padamu, menjadi double salah sebab rasa itu (mungkin) tak terbalas olehmu.Dan (mungkin) benar, aku tak boleh memiliki asa apapun terhadapmu.
Ah.. logikaku berkalang rasa. Oleh sebab terlanjur, maka saat aku merindukanmu, hanya do’a yang boleh ku kirimkan untukmu melalui perantaraNya, sebab hanya Dia yang mengetahui apa yang tak ku dan kau ketahui.
*
Medan, 30 Juli 2013

Aku Tak Butuh Cintamu Lagi

By : Auda Zaschkya & Adhye PanritaLopi
13750881371567894770
http://fitr4y.wordpress.com/

*
Akan ada malam saat kita berpisah
Mungkin ini bukan saja karena resah
Adanya jiwa itu terlalu lelah
Pun dengan luka yang begitu mengagah
*
Takkan lagi ku sandarkan rindu padamu
Egomu sungguh muakkan hatiku
Binasakan rasaku yang sebelumnya untukmu
Lupakan sajalah hari esok bersamaku
*
Dalam sejengkal kata
Pada kebencian bertahta
Aku sudah jengah menata
Lalu kau buat aku meminta?
——
Sesungguhnya ini bukan inginku
Apalah daya makhluk lemah sepertiku
Aku tak mampu lagi menatap egomu
Bergelang rindu dalam cinta semu
*
Pantasnya aku melepaskanmu
Lakumu buta menyimpan jemu
Aku benci imaginasi bodohmu
Seolah kau legalkan demi cinta butamu
*
Benar hatiku luka
Ini kejujuranku sebagai jejaka
Aku tak ingin janji jadi jenaka
Ah,,, persetan dengan kata
—–
Aku Tahu
Matahari menatapku pilu
Aku malu pada kesetian waktu dahulu
Padamu tak kutemukan cinta menggebu
Hanya ada asa yang terus meragu
*
Jalangnya lakumu
Buat hati selalu meragu
Kau patahkan tungkai hatiku
Lalu kau menuntut lakuku?
Aku katakan tidak padamu !
*
Tidak untuk semua kebodohanku
Tidak untuk setitik rongga hatiku
Tidak ! Aku telah menutup ruang di hatiku
Apatah lagi untuk perempuan liar sepertimu
—–
Biarkan malam bersaksi
Biar sumpah ikut menguji
Menghukummu lebih dini
Biar sedikit kau sadari ini
Seperti keluh embung pada mentari
*
Maaf, aku pergi
Tinggalkan kenangan berduri
Silahkan cari jalanmu sendiri
Teruskan saja jiwamu yang buta nan tuli
Aku tak butuh cintamu lagi

*
Terinspirasi dari lagu Tipe X - Sakit Hati

[FDR] Do'a Untuk Kampungku di Ramadhan Ini

Auda Zaschkya - 17
*
Semakin hari, aku semakin tak mengerti dengan pemimpin kampung halamanku. Bukannya memfokuskan diri untuk mensejahterakan masyarakat yang telah memilih mereka, yang ada mereka terus berupaya memperjuangkan simbol kedaerahan yang menurut dangkal pikirku, bukanlah prioritas utama.
***
(Pukul 08.00 pagi, aku menuju kampus. Di jalan, ku sempatkan diri membeli koran lokal yang juga membubuhkan reportase tentang kampungku.Sampai di kampus, membolak balik halaman koran, sembari mengingat suara tembakan dan riuhnya ledakan bom sebelum musibah 2004 lalu).
Aku menggerutu, kesal!
Ah… lagi-lagi soal ini. Permohonan untuk legalitas bendera yang akan di Launchingbeberapa minggu ke depan. Katanya, demi identitas kedaerahan, ya… untuk menunjukkan jati diri bangsa.
Hm… Yakin untuk itu? Bukannya kasus bendera itu hanya sebagai pengalihan isu kesejahteraan rakyat yang belum dirasakan, merata oleh keseluruhan?
Lalu, katanya demi bangsa.Bangsa yang mana? Bukankah republik ini telah memiliki bendera dan lambang negara? Seharusnya, itu yang dijaga. Bukannya malah meninggikan egoisitas diri sendiri dengan daerahnya dengan mengorbankan rakyatnya
(Sembari duduk di sudut ruang kelas yang ternyata dosenpun tak jadi masuk, kembali aku mengingat kenangan lalu, sembari sedikit menitikkan air mata).
Aku teringat, sekitar tahun 2002.
Dikala kami harus berhenti dalam perjalanan. Di bawah AK 47, kami harus mengikuti mau mereka dari pada kami harus meregang nyawa hanya demi sebuah perlawanan.
Bagaimana saat itu, kami harus menginap di masjid terdekat. Dengan mengandalkan bantuan warga sekitar, terpaksa memakan nasi. Ya… hanya nasi, yang belum tanak demi mengejar waktu dari pada harus melihat pembawa AK 47 itu melintas di hadapan kami. Sudah, ini tak boleh ku ingat lagi.
(Menghapus air mata, melanjutkan membaca koran).
Mengingat luasnya daerah itu, pikiranku semakin berkecamuk dan menimbulkan pertanyaan baru, Bukankah cuma sekelompok orang yang menginginkan bendera itu?
(termenung, lalu entah mengapa aku berbicara sendiri).
Sesungguhnya aku merasa kasihan dengan loyalitas mereka sebagai pemilih. Alih-alih dipilih untuk mensejahterakan rakyat, mereka malah meninggikan egoisitas diri. Apa tak lelah mereka ya?
*
(tersadar berbicara sendiri).
Ups, keceplosan! Baiklah, lebih baik aku berpikir saja dari pada kedengaran orang dan disangka aku tak waras.
(Melanjutkan berpikir).
Bahwa simbol kedaerahan ini bukan prioritas utama bagi masyarakat di sana. Mereka membutuhkan kesejahteraan. Kesejahteraan yang mahal, bahkan harganya lebih mahal dari selembar bendera semasa kerusuhan itu.
Bukan maksudku membenturkan antara simbol yang katanya jati diri bangsa dengan kesejahteraan. Tapi menurutku, skala prioritasnya adalah dari segi perekonomian rakyat dulu yang harus dibenahi, baru kemudian bisa memperjuangkan hak simbol itu.
Lalu, pemerintah negara ini pula telah mengalah, demi keutuhan negara ini. Pemerintah mengatakan, silahkan miliki bendera, asal coraknya diganti. Pilihlah corak yang diterima oleh seluruh masyarakat, bukan hanya sekelompok saja.
(Aku menggurutu lagi, bahkan kali ini semakin meluap-luap amarahku. Berdiri, mengambil ponsel di dalam tas dan menghubungi temanku yang berdomisili di sana).
Tanpa basa-basi, seusai mengucap salam, aku langsung bertanya
Aku         :  (kening berkerut) apa dan gimana situasi di sana hari ini?
Teman  :  (sedikit tertawa) hahaha… tenang donk Ta, kayak lagi dikejar setan aja kau. Masih saja kau seperti dulu kalau terkait dengan daerah ini. Eh, tapi wajar sih. Kan kau asli dari sini. hahaha…
Aku         : (sedikit kesal, lalu bertanya singkat) terus gimana pertanyaanku? Jawab dong.
Teman : (menarik nafas, lalu menjawab) Di sini situasinya ya sama seperti yang kau lihat di berbagai media. Masih runyam dan realisasi janji pemerintah daerah, belum dirasakan manfaatnya.  Beberapa bulan yang lalu kan demo tuh di kantor gubernur.
Aku     : (menjawabnya sembari berusaha tenang) Ok, berarti ada demo ya? Siapa aja yang ikutan?
Teman :   (balas menjawabku sembari tertawa) hahaha.. Ya semua orang yang ‘gak puas sama pemerintahan sekarang yang kebanyakan janji.
Aku      :  (mengakhiri pembicaraan) Ok, ya udah, terima kasih infonya. Kalau ada apa- apa, aku hubungi  lagi. Assalamu’alaikum.
*
Terduduk, sembari mengingatmu. Saat seperti ini, Cuma kamu yang mengerti aku. Seperti biasa, kamu yang tahu bagaimana harus meredam emosiku yang meledak-ledak ini.
(Mengambil fotomu dari dompetku).
Hey Kamu, pulang dong! Aku butuh teman “berantam”!
Butuh pendengar yang bisa mengendalikan emosiku yang suka menyalak oleh sebab pengalihan isu di sana. Ah… kau tahu aku. Jika menyangkut kampung halamanku, dangkal pikirku mau tak mau terus berkecamuk.
(Tiba-tiba diam, lalu beranjak ke mushalla. Melaksanakan shalat dhuha, lalu Berdo’a).
Tuhan… Aku bingung. Namun, Tuhan… Jika boleh ku selipkan do’a untuknya. Jagalah ia, sempatkan kami bertemu lagi. Biar kami bisa “berantam” lagi, menyatukan pemikirannya serta analogi “ringan”ku.
Tuhan… Aku lelah menggerutu. Jagalah aku supaya tak sampai ke kedai yang di luar kampus untuk membeli sebotol air mineral akibat panasnya cuaca dan hatiku.
Tuhan… Aku takut. Di ramadhan ini, isu itu semakin menjadi. Seharusnya mereka mengkhususkan diri untuk meraih ridhaMu, dari pada mementingkan urusan pribadinya yang sesungguhnya bukan keinginan seluruh masyarakat di sana.
Tuhan… Hanya Engkaulah yang maha mengetahui apa yang terbaik untuk bangsa ini. Aku lelah menanti. Aku tak tahu harus berbuat apa untuk meredam egoisitas mereka.
Tuhan… Aku tahu, bagi para tetua itu, aku hanya anak kecil yang katanya tak mengerti apa-apa. Tapi mereka tak mengenalku, bahwa aku mengenal mereka. Aku tahu ada apa dibalik kasus yang berlarut itu.
Tuhan… Lupakah mereka pada azab pedihmu?
Tuhan… tolonglah kami. Engkau pasti tahu apa yang terbaik dan tak hambaMu ketahui, bukan?
(melipat mukena, bersiap kembali ke rumah).
*

[Review] Natu Savon Kose Cosmeport, Refresh Your Day with Apple & Jasmine

Hai Beauties. Kembali lagi ke blog saya yang kali ini masih akan membahas skin care. Namun, sedikit berbeda dari biasanya. Kalau...