Selasa, 25 Juni 2013

Mengenai Kenaikan BBM, Belajarlah dari Tukang Parkir ini

Seperti yang diketahui, demo menolak kenaikan harga BBM ini akan serentak diadakan di seluruh Indonesia, tak terkecuali di Medan. Namun, pada hari Seni n, 17 Juni 2013 kemarin, rasanya spesial sekali, selain demonstrasi terlaksana dari pagi hingga malama hari, tanggal itu merupakan tanggal penting bagi pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumutera Utara terpilih untuk dilantik dan secara resmi oleh Mentri Dalam Negeri, Bapak Gamawan Fauzi guna menjalankan tugas untuk memimpin SUMUT selama 5 tahun ke depan. Penting sekali tanggal itu ya?
Penting dong, terkhusus untuk Medan yang mana Puluhan ribu massa yang turun ke jalan pun menambah banyaknya polisi yang diturunkan, dari 1503 personil untuk pengamanan pelantikan gubernur, kemudian ditambah  menjadi 2394 lagi guna mengamankan massa pendemo. Mereka disebar di Kantor Gubernur, DPRD Sumut, Kantor Pertamina, SPBU, Bandara Polonia Medan, Konjen AS, dan lainnya seperti yang dilansir www.hariansumutpos.com. Massa pendemo sendiri terdiri dari buruh dan mahasiswa yang selama ini dengan keras dan tak segan-segan melakukan tindakan anarkis dalam melakukan tuntutannya. Demo itu sendiri dilakukan hingga pukul 20.30 wib ketika saya masih berada di parkiran salah satu toko buku di kota Medan. Saya melihat, banyaknya kendaraan bermotor baik mobil/motor pribadi maupun angkutan kota yang melewati jalan di sebelah toko buku itu, padahal jalan itu bukan jalur angkutan kota (angkot).
Ketika saya membayar parkir, saya sempatkan bertanya kepada salah seorang tukang parkir di situ, sebutlah namanya Pak Amin (40tahun). “Ada apa ya pak, kok ramai angkot di sini?” tanya saya.
“Oh, biasalah itu, mahasiswa pada demo. Aku heran aja sama mereka. Mereka itu kan mahanya para siswa, berarti tingkat pendidikan mereka lebih tinggi dari pada kami yang tukang parkir, tapi kok ‘gak bisa mikir ya?” katanya.
“Maksudnya cemmana Pak?” lanjut saya.
“Iyalah, ‘gak bisa mikir mahasiswa itu kurasa. Jalan sana itu ditutup karena demo mereka. Heran aku, Suka kali ribut-ribut. Yang demolah sampe’ malam gini. Kau tengoklah jalanan ini, angkot-angkot itu pada mutar-mutar. Nanti kalau habis bensinnya, adanya mahasiswa itu keluar uang untuk ganti bensin angkot itu? ‘gak kan? Makanya, ‘gak suka kali aku sama kerjaan mereka. Belum lagi, ada yang bakar ban. Bensinnya apa ‘gak beli itu? berapa duit lagi keluar? Lanjutnya panjang lebar.
“Terus menurut bapak, baiknya cemmana?” pancing saya.
“Maunya mereka itu berdemo ya berdemo aja tapi gak usah ganggu apalagi merusak fasilitas umum. Nanti kalo’nya itu rusak, kan duit lagi dari pemerintah kota yang dipake’ buat perbaiki kerusakan itu. bukannya duit dari kantong bapak-mamaknya, kan? Cobalah kau pikir ya dek, mana ada bagusnya demo ini.” Tambahnya,
“Jadi pak, setujunya bapak sama BBM naik?” tanya saya lagi.
“Ah,,, biarlah BBM naik. Disubsidi pemerintah pun BBM itu, yang pake’ kan orang-orang kaya bermobil mewah itu. Biarlah naik BBM, biar rasa itu orang kaya yang sombong itu. gak tau diri mereka, padahal kan BBM bersubsidi itu untuk kaminya. Masa’ orang kaya nelap hak kami.” Lanjutnya. Ya sudah, pulanglah kau, nanti hati-hati kau ya, rame kurasa jalan itu. kemudian saya pulang.
Ketika saya pulang pun, saya tidak bisa melewati jalan yang biasa saya lewati. Lalu, kepada polisi yang mengatur lalu lintas saya bertanya, “Ada apa pak, kenapa macet, kok aku disuruh mutar lewat sana?”. Sang polisi pun menjawab, “ada demo, rame kali, gak tau sampe’ kapan.” Lalu dengan terpaksa saya berputar arah.
***
Saya jadi heran, kenapa harus berdemonstrasi sih Anda wahai mahasiswa? Kalau demonya positif dan tidak anarkis, saya pun mendukung kegiatan Anda. Tapi kalau demonya anarkis dan merusak fasilitas umum, bagaimana? Coba Anda pikirkan kerugian yang ditimbulkan.
Benar bahwa demo mahasiswa ini masih berlanjut hingga malam hari, seperti yang terjadi di depan kampus Universitas HKBP Nommensen. Para mahasiswa dari berbagai kampus yang tentunya berpendidikan lebih tinggi dari pada tukan parkir tadi malah memblokir jalan dan melengkapi diri dengan batu dan kayu. Apakah kegiatan demo mereka positif? Tidak !
Mereka merusak lampu pengatur lalu lintas dan tiang penunjuk arah jalan serta tak ketinggalan mereka pun menduduki pos polisi yang telah mereka rusak ketika demo beberapa bulan lalu. Keleluasaan tindakan ini pun semakin terlaksana karena tidak adanya polisi yang menjaga. Walhasil, kegiatan ini Cuma menjadi hiburan warga seperti dilansir www.detik.com.
***
Rencana penaikan harga BBM ini bukan hanya rencana, tapi memang telah diputuskan naik melalui voting para anggota fraksi di DPR. Terus, mengapa masih ribut? Kalau kita mau berpikir, apa yang dikatakan tukang parkir di atas ada benarnya juga. Selama ini, BBM bersubsidi yang seharusnya menjadi hak kaum ekonomi menengah ke bawah, telah digunakan tanpa rasa bersalah oleh mereka para orang kaya yang bermobil mewah.
Dengan kenaikan harga BBM ini, sepantasnya kita sebagai manusia bisa belajar hidup hemat dan makin sadar diri. Toh, tidak selamanya kita berada di atas, sekali-sekali kita dan terlebih orang kaya pemakai BBM bersubsidi itu bisa berada di bawah. Sadarkah kita? [Auda]

Akibat Salahku Maknai Emansipasi Perempuan


“Ini kesalahan, Afni. Kesalahan terbesar yang pernah kau lakukan di hidupmu.” Sekelebat bayanganku berbicara.
“Sepertinya benar. Ini adalah uatu kebodohan yang benar-benar tak pantas kulakukan sebagai seorang perempuan timur yang seharusnya menerima cinta, BUKAN malah menyatakan cinta kepada seorang laki-laki. Walaupun aku tak memintanya, tapi tetap saja, ini memalukan karena aku telah mengungkapkan rasaku. Memandang diriku saja, enggan kulakoni apalagi memandangnya. Aku malu.” Hardikku di depan cermin kamar.

***

Tekad seorang Afni untuk benar-benar melupakan Ari sudah bulat sebulat pikirannya untuk meraih gelas master manajemen akhir tahun ini. “Harusnya tak ada lagi yang mengganggu pikiranku.” kataku dalam hati. Si duda PHP juga cuma sepintas lewat dan juga sudah kubuang ke tong sampah busuk bayangnya. Apalagi beberapa bulan ke depan aku akan meninggalkan kota ini setelah menyelesaikan program pascasarjana manajemenku.
Namun karena ingin bersosialisasi dengan komunitas yang baru kumasuki di kota ini, aku sedikit rajin berkumpul bersama mereka. Semakin sering bersama mereka, aku berhasil melupakan Ari. Ya… bagiku Ari hanya bagian dari cerita cinta di bangku kuliah yang harus kulupakan. Ingatan tentangnya harus kumusnahkan, agar aku bisa membuka hati bagi lelaki baru yang memang kubutuhkan. Dari sekumpulan para lelaki itu, tak dinyana ada yang menarik perhatianku.

***

Namanya Riski. Sosok sempurna yang telah menempuh 30 tahun hidupnya. Dalam pandanganku, ia adalah sesosok pintar dan amat berwibawa, tentunya hidupnya lurus, tepat seperti yang sangat ingin kudapatkan.
Bagaimana tidak? Dari perspektif agama, ia mumpuni sekali, ia mengetahui dengan jelas mengenai hukum dalam keyakinan kami, hingga sedikit banyak, diriku yang kuyakini penuh dosa ini sangat tak cocok dengannya.  Benar, Agama memang terpenting dalam hidupku, terlebih bagi ibuku yang sangat menginginkan orang seperti itu.

***

Layaknya acara gosip di televisi, komunikasi diantara kami terjadi setiap hari. Hampa rasanya hariku tanpa mengetahui kabar atau sekedar ledekan garingnya. Ledekan yang sebenarnya tak penting, dan mungkin bila orang lain berujar tak penting begitu, aku akan marah-marah, namun entah mengapa tiap dia mencoba bergurau, aku pun tertawa. Sekali lagi, gurauannya sungguh tak mengocok perut. Lagi-lagi aku berfikir, mengapa aku merasa terhibur? Benarkah ini karena rasa sukaku padanya?

Lantaran komunikasi dan bertukar pikiran yang intens, akhirnya sampailah aku pada satu titik, ya… orang seperti inilah yang kucari. Lelaki yang sangat mengerti agama dan pintar secara psikologis serta tahu menempatkan diri seperti inilah yang kubutuhkan. Sempat terbesit bahwa, sudahlah.. ini hanya sementara. Sepertinya, ia jauh berbeda denganku. Dari segi agama saja, ia sepertinya lelaki sempurna. “Ah… aku tak pantas mendapatkannya.” Batinku. Namun entah mengapa, aku membutuhkan sosok pendengar dan pemberi solusi seperti dia.

Di sinilah kebimbanganku makin berat, haruskah kunyatakan cinta padanya? Padahal intensitas pertemuan kami baru beberapa kali. Atau aku harus diam saja, tetap memendam rasa? Ya… sepertinya memang ini yang layak kulakukan sebagai perempuan timur. Namun, temanku mengatakan, “ungkapkan saja. Toh ‘gak ada salahnya kalau Riski tahu akan perasaanmu. Tak perlu malu dalam hal mengungkapkan rasa.” Tambahnya lagi.
Aku sebagai penjunjung kebudayaan timur yang masih malu untuk mengungkapkan rasa, malah di hadapkan pada pilihan yang sulit. “Ungkapkan, dengan begitu kau akan lega. Urusan diterima atau tidaknya, itu belakangan. Yang penting kau sudah meluapkan pikiranmu. lagian, sekarang kan zamannya emansipasi” Kata temanku lagi. “Tidak!”  Kataku. Perang batin ini pun terjadi. Di satu sisi, aku menginginkannya, di sisi lain, aku tak mau menjual harga diriku di hadapan laki-laki.

***

Namun rasaku tak bisa berbohong. Semakin hari aku semakin membutuhkannya hingga kukatakan rasaku.
Suatu hari, aku bertemu dengannya. Singkat cerita, setelah kukatakan hal bodoh itu, aku menyambung ucapanku, “aku ‘gak nembak ya. Aku Cuma bilang apa yang kurasa. Terserahmu mau mikir apa. Yang jelas, aku tak memintamu untuk jadi pacarku. Kalau kau memang mau, aku tak keberatan.”
“Aku sudah tahu, banyak yang telah mengatakan padaku. Cuma yang aku heran, kenapa baru sekarang kamu bilangnya? Kenapa saat perasaanmu menggunung baru kamu utarakan?” introgasinya.
“Bagiku, tak baik kalau seorang perempuan nembak laki-laki. Kuakui, barusan aku telah melakukan kesalahan. Maka, lupakan saja yang pernah aku bilang.” Tambahku.
“Kamu mau dilupakan? Bagaimana bisa? Toh baru saja kamu ungkapkan rasamu ka?” senyumnya. “Sudah… lupakan. Anggap aku tak pernah mengatakan hal memalukan itu.” bentakku.
“Masih banyak yang sedang aku pikirkan dan memang aku belum memiliki rasa itu padamu atau siapapun yang mendekatiku. Sesungguhnya, ada beberapa hal yang belum diketahui olehmu dan orang-orang tentangku. Rahasia ini sangat rapat kusimpan.” Sebelum kamu bertanya, baiklah… akan kuceritakan.” Katanya. Dan ia pun menceritakan panjang lebar tentang hidupnya.

***

Ssedikit banyak, aku memang lega telah mengatakan rasaku. Namun di sisi lain, aku seperti kehilangan harga diriku sebagai perempuan timur oleh sebab rasaku. Rasa kagum yang tadinya kukira cinta. Rasa kagum akibat sosok religiusnya yang sanat aku dambakan.
Ya… rasa kagumku itu telah membuatku bodoh dan melupakan marwahku sebagai perempuan timur. Walaupun emansipasi telah dilantangkan, namun bagiku, kesalahanku tetap saja hal bodoh. Tak layak bila emansipasi wanita disejajarkan dalam urusan hati. Selayaknya aku berpikir sebebnar-benarnya pikir sekaligus menimbang tentang rasa ini, benarkah ini cinta atau hanya rasa kagum akan sosok religius seorang Riski? Sekarang baru aku tahu, ini hanya kagum dan bukan cinta. “Malu-maluin saja, kenapa juga aku mesti menyatakan dan bilang cinta, padahal kan aku Cuma kagum?” rutukku lagi.
Sekarang, bercermin saja aku enggan. Aku malu terhadap kebodohan yang talah kulakukan. Ah… semoga saja ini tak lama, atau paling tidak setelah wisuda pascasarjanaku selesai, aku pun bisa terbebas dari penyesalan ini dengan pergi ke kota lain.

Semoga kesalahan dan penyesalanku kali ini bisa menjadi cermin bagi perempuan lainnya agar tak salah kaprah dalam memaknai kedekatan, rasa cinta, dan emansipasi perempuan.

Sabtu, 01 Juni 2013

Impian Seorang Isteri dalam Rumah Tangga

Sebagaimana mestinya, manusia terdiri dari 2 jenis kelamin yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Dari kedua perbedaan jenis kelamin itu, masing-masing memiliki impian yang relatif  sama. Misalnya anak laki-laki kecil, “kalau besar mau jadi apa?” Jawabannya pasti seputar dokter, polisi, tentara dsb. Kalau anak perempuan juga mengatakan ingin menjadi dokter, guru dsb. Semakin dewasa seorang anak, jawaban atas pertanyaan tersebut pun akan berubah, baik laki-laki maupun perempuan. Dan pada tulisan yang bertemakan impian kali ini, saya tak menyinggung impian laki-laki, namun saya akan mencoba sedikit menuliskan tentang impian dari seorang perempuan.
1368558607462132099
kaka and family. image from http://agensbobetcasino.net/
Impian standar dari seorang perempuan adalah memiliki keluarga yang bahagia melalui jalan pernikahan. Di dalam pernikahan itu, diharapkan mereka memiliki anak, dimana hanya seorang perempuan yang memiliki fase menstruasi, mengandung hingga melahirkan.
Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju, banyak diantara perempuan yang ingin memiliki karir yang bagus (wanita karir), terutama perempuan yang menempuh pendidikan tinggi maupun yang berdomisili di perkotaan.
Seperti yang tengah dilakoni Putri yang sedang bekerja di sebuah Bank, ia menuturkan akan tetap bekerja jika pun sudah menikah nanti. Namun tak jarang juga, ada perempuan yang menginginkan untuk menjadi pengusaha, entah di bidang kuliner atau apapun yang tak meninggalkan rumah. Jika pun harus meninggalkan rumah, masih memiliki waktu mengurus anak dan suaminya, sebagaimana yang dituturkan teman saya, Nisa yang sempat saya wawancarai beberapa waktu lalu. Tentu saja kedua contoh di tersebut berdasarkan sudut pandang perempuan.
*
Pertanyaannya adalah mengapa perempuan ingin tetap bekerja atau pun berbaur dengan banyak orang ?
1. Finansial.
Ini adalah alasan yang paling mendasar bagi setiap orang. Jangankan yang matre, yang tidak matre saja pasti mebutuhkan uang. Di zaman yang serba canggih ini, semua barang itu mahal bukan?
Misalnya : Setiap saya mengunjungi supermarket, saya selalu melihat susu bayi yang saya bandingkan dengan susu bagi kita yang dewasa dimana harga susu bayi bisa berlipat-lipat mahalnya dari harga susu dewasa.
–> Perempuan yang memiliki penghasilan sudah pasti tak akan memberatkan suami. Katakanlah susu dan segala perlengkapan anak serta berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya ditanggung oleh suami. Sedangkan untuk membeli keperluan sendiri semisal alat make-up dan pembalut, si istri bisa menanggungnya sendiri tanpa perlu memberatkan suami.
Untuk alasan ekonomi ini, hendaklah Anda sebagai suami yang melarang istri Anda bekerja, mampu berpikir secara realita. Zaman semakin maju, harga barang apapun semakin mahal, bukan? Jika Anda tetap tak mengizinkan sang Istri untuk berpenghasilan, berkaca dan bertanyalah pada diri Anda, apakah Anda cukup mampu memenuhi kebutuhan keluarga Anda?
2. Aktualisasi Diri
Di dalam Hirarki kebutuhan Maslow, ada tingkatan yang mengatakan bahwa setiap manusia membutuhkan aktualisasi diri yang mana ini adalah suatu hal mendasar yang harus terpenuhi dalam diri seseorang. Begitu juga dengan seorang perempuan, aktualisasi yang saya maksudkan di sini adalah kebutuhan diri untuk berbaur dengan lingkungan, hobi, maupun ketertarikan si perempuan tersebut akan sesuatu. Bukan malah menjadi sosialita. Sosialita adalah tuntutuan dari gaya hidup berlebihan dari seorang perempuan.
Misalnya : seorang perempuan yang memiliki ketertarikan pada dunia politik.
–> Suami yang baik, tak akan menghalang-halangi minat isterinya tersebut. Kalau perlu si suami pun ikut terjun ke dunia politik mendampingi isterinya. Jikalau pun sang suami tak tertarik, maka sediakan waktu untuk berbicara dari hati ke hati bersama sang istri.  Bicarakan keresahan Anda. Jika Anda tak menyetujui keinginan istri Anda, utarakan saja dengan menjaga artikulasi/nada bicara Anda. Kalau Anda menyampaikan secara lemah lembut, saya yakin si istri akan lebih menjaga sikap atau kalau perlu istri Anda tak jadi ikut berpolitik.
*
Terkait masalah anak, bukan hanya kewajiban seorang isteri dalam mengurus anak. Ada baiknya, Anda sebagai suami juga berperan aktif dalam menjaga tumbuh kembang seorang anak kecil  mengingat sosialisasi seorang anak dimulai dari lingkup keluarganya sendiri.
Jika Anda memiliki baby sitter atau pramuwisma, jangan hanya membiarkan serta menyerahkan tanggung jawab anak Anda pada pramuwisma, Anda berdua adalah orang tuanya, sudah merupakan kewajiban Anda mendidik anak Anda sendiri. Jangan biarkan pula si anak bergantung pada baby sitternya, karena saat Anda tak menggunakan jasanya lagi, Anak anda yang akan menderita karena ada anak yang hanya mau apapun dengan baby sitternya.
Sama halnya dengan Anda kaum lelaki, seorang perempuan juga memiliki kebutuhan akan interaksi dan menyalurkankan hobinya. Jangan batasi isteri Anda untuk berpenghasilan. Selain karena untuk kebutuhan ekonomi, isteri Anda juga butuh untuk menerapkan ilmu yang telah di dapat di bangku sekolah ke dalam dunia kerja. Apalagi perempuan yang telah menempuh pendidikan tinggi, pasti ada rasa bersalah pada orang tuanya yang telah membiayai biaya pendidikannya. Bukankah pendidikan yang Anda tempuh merupakan investasi bagi diri Anda sendiri di masa depan? Dan bagi Anda para isteri, dengarlah selalu nasehat suami Anda. Jika ada ucapannya yang tak berkenan di hati Anda, juga silahkan utarakan. Jadi jangan langsung membantah perkataan suami Anda, ingatlah  juga bahwa surga seorang isteri ada pada suaminya.
Di dalam suatu rumah tangga, pasti tak selalu berjalan mulus, bukan? Banyak hal yang menjadi pemicu konflik. Sebagai pasangan yang mengawali rumah tangga tersebut dengan dasar cinta dan pengertian, sudah sepantasnya segala permasalahan dapat Anda bicarakan dengan pasangan untuk mencari penyelesaiannya. Bagi masing-masing, jangan mengedepankan egoisitas Anda. Silahkan berdiplomasi demi menjaga kenyamanan hubungan Anda bedua.  Saling menjaga komunikasi merupakan kunci keberhasilan dalam berumah tangga, bukan?

Kau Tahu, Janin Ini Darah Dagingmu !

What the hell’s going? How does it comes?”
Terdiamku di atas ranjang “kita” setelah menatap dua garis merah pada sebuahtestpack biru yang kubeli di apotik beberapa menit yang lalu, setelah beberapa hari ini morning sickness menyebabkan asupan sarapan tak mampu kutelan.
***
Fani namaku, seorang gadis yang matrealistic. Benarkah aku matre? Ah,, itu kata teman dan beberapa lelaki yang pernah dekat denganku. Menamatkan kuliah di Perguruan Tinggi jurusan Sastra Inggris adalah sebuah keharusan yang entah sadar atau tidaknya menuntutku untuk bekerja di salah satu Hotel di kota ini,  dan berpisah jauh dari keluargaku yang tinggal di kota kecil di ujung timur Pulau Borneo.
Awalnya, aku memang hanya menjadi Tourist Guide yang bertugas melayani tamu, dimana aku dituntut untuk mengenal pariwisata di kota ini. Tamu-tamu amat ramah, bahkan teramat ramah. Sangking ramahnya ada sebuah keluarga yang telah menganggapku sebagai anak mereka. Selain sering datang ke Indonesia, suami istri yang tak memiliki anak ini pun membuka usaha souvenir yang dipercayakan kepadaku untuk mengelolanya.
Mengapa mereka percaya padaku? sebab kecakapan dan keramahanku pada mereka. Ditambah dengan kemolekkan tubuh serta ayunya parasku menjadi komoditas utamaku selama ini dalam menggaet kaum ada, termasuk kamu.
***
Mengenalmu sungguh bukan suatu kesengajaan. Kau adalah pejantan tertampan yang hadir di pesta pernikahan rekan bisnis pimpinanku. Sedangkan aku menjadi wedding singeryang memukaumu, entah karena suaraku yang memang bagus atau karena gaun V-neckyang sedikit terbuka membuatmu terus menatap dan mengajakku berkenalan.
“Ah… laki-laki!” batinku cuek menyadari kedatanganmu. Namun, keramahanmu mampu buatku melemah. Sejujurnya, aku juga ingin mengenal sosok kekarmu yang tadinya kukira seorang atlit. Ternyata kau pemilik perusahaan yang sering memakai ballroom hotel ini untuk berbagai kegiatan.
“Selamat malam mbak Fani. Perkenalkan, nama saya Putra. Sejak awal Anda menyanyi, saya terus memperhatikan Anda dan saya menyukainya.” Ramahnya.
“Hallo, Malam. Terima kasih telah menyukai performance saya,Pak Putra.” Balasku.
“Jangan panggil pak, panggil nama saja. Saya kira rentang usia kita tak jauh berbeda.” Deretan gigi putihnya tersenyum padaku.
“Ah, lagi-lagi senyum. Senyum ini yang selalu membuatku luluh, ditambah pancaran dari matanya. Luluhku semakin menjadi-jadi, padahal sesaat yang lalu, aku amat cuek padanya.” Batinku.
***
Setelah malam itu, hubungan kami semakin dekat. Dia sering mengantar jemputku bekerja. Aku juga sering mengujungi ke kantornya sekedar untuk mengajaknya makan siang. Berbulan-bulan hubungan ini hanya dibatasi oleh status teman. Namun keseharian dan kedekatan ini tak pelak membuatku lambat laun mulai mencintainya. Cinta kali ini bukan cinta maya seperti yang dulu dirasakan Ari padaku beberapa tahun lalu.
Mungkin ungkapan witing tresno jalaran soko kulino telah menohokku, menyadarkanku akan rasa itu. Rasa yang dimiliki Ari namun kusia-siakan, padahal Ari sangat baik saat itu, ia selalu mau menyisihkan waktunya untuk selalu kerepotan dalam mengerjai tugas-tugas kuliahku, ia juga selalu mampu kumanfaatkan dalam hal finansial. That’s why my friends called me a matrealistic girl.
Intensitas pertemuan itu seakan tak memberi jarak lagi pada kami. Tak sekedar makan, nonton, atau  clubbing bersama, namun hal jauh pun tak luput dari kami. Ia sering menginap di apartementku, berhari-hari tak pulang ke rumahnya. Namun bila sedang ingin mencari suasana baru, aku pun sering bermalam di rumahnya, di salah satu perumahan elite selatan Jakarta.
***
Benar, hubungan ini memang sudah terlalu jauh. Tak pelak, hubungan terlarang itu pun terjadi di dalam status teman yang sedang kami jalani. Bagi adat ketimuranku, dia milikku sebab kami telah melakukan kesalahan bersama. Dia milikku, sebab ia yang merenggut keperawananku.
Seks telah menjadi makanan keseharian kami jika tak sedang sibuk dengan rutinitas kerja atau hangout dengan teman-teman. Tak terbesit sekalipun dalam pikirku tentang kehamilan. Mengapa? sebab selama melakukan itu, ia selalu menggunakan pengaman.
Berbulan-bulan dia partnerku hingga di awal 2013, menstruasi tak kunjung mendatangiku. Saat itu lah aku mulai uring-uringan. Tubuhku seakan lemah. Aku ketakutan. Bagaimana kalau aku hamil? Pikiran itu terus menghantuiku hingga ajakannya malam itu pun dengan mudah kutolak dengan alasan tak enak badan. Tak enak badan? Masa bisa berhari-hari?
***
Sang surya pun menyambut datangnya pagi. Setelah bersiap-siap dan sarapan, ia berangkat ke kantornya. Pagi ini kesehatanku belum pulih sehingga aku pun tak ke kantor. Seusai mandi, aku pergi ke mini market di depan apartementku guna membeli minyak angin dan beberapa cemilan. Tak lupa aku pun membeli alat itu, alat penentu itu. setelah membayar, aku pun kembali ke kamar apartement. Barang yang pertama kurogoh dari dalam kantung belanjaan adalah testpack itu.
“What the hell’s going? How does it comes?”
Terdiamku di atas ranjang setelah menatap dua garis merah pada sebuah testpack biruyang kubeli di apotik beberapa menit yang lalu, setelah beberapa hari ini morning sicknessmenyebabkan asupan sarapan tak mampu kutelan.
Saat itu pula, aku menghubungi ponselmu dan memintamu ke apartementku. Setelah kita bertemu, kujelaskan bahwa apa yang telah kita lakukan membuahkan hasil.
“Aku mengandung anakmu.” Lirihku. Namun dengan mudahnya kau tertawa sembari mengatakan, “gugurkan saja, habis perkara, bukan?”.  Kau pun menawarkan sejumlah uang untuk biaya aborsi itu.
”Kamu butuh uang berapa untuk mengugurkan anak itu? bilang aja, segera aku transfer.”
Tak kuat kutahan tangisku, mengiba agar kau menikahiku. “Aku tak butuh uangmu. Tolong, nikahi aku. Anak ini tak pantas dilenyapkan atas kesalahan yang telah kita lakukan.”
Namun tangisku tak kau gubris. Kau malah semakin menghancurkan hati dan harapanku saat kau katakan, “aku hanya ingin senang-senang sebelum aku menikahi calon istriku”.
Ingin rasanya kuhujamkan pisau pemotong buah yang ada di meja makan apartementku tepat di jantungmu.
***
Sejak saat itu, aku terus memohon padamu untuk menikahiku, namun bukan tanggapan baik yang kuterima, malah makian hingga tamparan cukup kudiamkan saja demi status nikah yang kuinginkan. Seringnya aku memohon padamu ternyata cukup buatmu besar kepala. Kau tak menganggap aku bahkan mengatakan bahwa janin ini bukan darah dagingmu.
Sesungguhnya aku marah dan tak terima hingga aku nekad mendatangi kantormu yang sedang mengadakan launching produk baru. Harapku, biar semua orang tahu bagaimana tindak tandukmu diluar kantor dan media.
“Kini aku tak berharap dinikahi olehmu. Aku hanya butuh pengakuanmu atas janin ini. Di hadapan rekan media ini, kukatakan bahwa kau telah menghamiliku, dan jika sekarang kau tetap tak mau mengakui anak ini sebagai anakmu, kita lihat saja setelah anak ini lahir, bersiaplah kau harus melakukan tes DNA.” Sengitku. Dan kau hanya terdiam, seketika pergi dengan tetap dikejar oleh kuli tinta yang haus akan informasi.
Puaskah aku? Kurasa Iya.
Caraku mempermalukanmu memang tak baik, namun apa yang bisa kulakukan lagi? Kau tak mau mengakui anak ini dan menyuruhku untuk menggugurkannya. Dosaku sejak mengenalmu telah cukup banyak, aku tak mau menambah dosa dengan menghilangkan nyawa bayi ini.
***
3 bulan setelah kejadian itu dan tak lagi bekerja di hotel, aku mengurus usaha souvenir ini. Entah mengapa bayanganmu terus menghantui hari-hariku. Hm… mungkin karena janin yang tak kau akui ini, ya?
Terhitung sejak aku menceritakan tentang kita di hadapan media, masyarakat telah memvonis bahwa aku yang bersalah. Benarkah? Ah.. kukira ini bukan pertanyaan yang harus dijawab semua orang. Setiap orang boleh mencibirku, mengatakanku pelacur atau apapun. Mungkin mereka jijik terhadapku sebab kehamilanku yang kubuka di media. Atau mereka iri melihatku mampu menggaet konglomerat itu. Terserah mereka.
Ketika pikiranku kalut aku menuliskan surat yang kusampaikan juga pada media yang berisikan :
“Hai kau ayah biologis dari janinku, kau tahu alasanku membuka aib kita di media, bukan? Tadinya memang aku berharap dinikahi olehmu, namun setelah melihat perangaimu, itu urung kuminta lagi. Kau tak usah menikahiku, nikahi saja calon isterimu, biar anak ini kubesarkan sendiri. Aku tak memerlukanmu wahai lelaki tak bertanggung jawab. Aku hanya ingin namamu dipakai di akte kelahiran anak kita. Ups.. bukan. ini anakku sebab tak kau akui. Satu yang pasti, ini anakmu dan tak akan pernah kugugurkan. Tunggulah tuntutanku padamu tentang tes DNA setelah anak ini lahir.”
***
Hari-hariku hanya menunggu kelahiran anak ini dan membuktikan pada semua orang bahwa aku tak pernah berkata bohong tentang asal usul anak ini. Anak ini darah dagingmu. Dan jika masih ada yang tak percaya, bukti kondom bekas dan celana dalammu masih kusimpan di apartementku.