Senin, 30 Juli 2012

Indah Senyummu


Hasil mempretelin puisinya Sonny,, hehehe..
==================================

Terlihat mengoda senyummu, wahai dara
Hanyutkan rasa berkumpul di dada
Ah,, ia berdegup kencang tak menentu

Kelu lidahku serasa membiru
Buatku hanya mampu diam merunduk
Sungguh menggoda rona merah bibirmu

Wahai dara diujung sana
Aku mengagumimu
Masih terpaku kulihatmu bercanda
jangan salahkan aku bila kusanjungimu

Dekat padaku wahai dara,
Inginku Berbagi cerita bersamamu
Membingkai indah senyummu dalam pigura
Lekatkan hatimu pada hatiku

Aku bersumpah wahai dara
Aku kagum pada senyum ramahmu
Seperti tiada angkuh dalam jiwa
Penuh wibawa menambah pesonamu

Senyummu dara, sungguh
Menggoda relung hati yang lemah
Memaksa mata untuk melirik indah
Senyummu mampu buatku bersumpah

Demi Anakku, Aku Rela Menjadi Pelacur


Marni. Ya.. Biasa pria-pria ku memanggilku dengan nama itu. Aku adalah primadona di Cafe ini. Awalnya aku yang kini berusia 30 tahun ini setiap malam melakukan pekerjaan hanya sebagai pelayan cafe. Namun keadaan memaksa, hingga aku pun sering menemani tamu di cafe itu sampai di hotel-hotel seputaran kota. Tak jarang, hotel tempat aku bermandikan hasrat bersama seorang pria, dirazia oleh satpol PP hingga aku digelandang ke kantor mereka. Memang aku tak dipenjara, hanya diberi peringatan agar tak melakukan pekerjaan itu lagi. Namun, bagiku tak ada pilihan lain, aku tetap kembali ke pekerjaan itu demi anakku.

***

Aku adalah seorang ibu dari Putri cantikku yang berumur 14 tahun, Dini namanya. Sekarang ia sedang duduk di kelas 3 sebuah SMP. Hari-harinya dilalui dengan aktifitas sekolah dan les tambahan. Bagiku, Dini adalah satu-satunya harta terindah yang dianugerahkan Tuhan untukku. Demi putriku, aku rela mencari uang demi kebahagiaannya, demi memenuhi kebutuhannya walaupun aku harus menjual tubuhku di malam hari. Sering aku menangis di malam hari, menyesali nasibku yang harus terjun ke lembah prostitusi ini. Semua ini karena Robi.

Robi yang menikahiku dan menjualku  dipinggir jalan 15 tahun silam. Kalau aku tak mau, Robi memukulku. Aku sempat berhenti melakukan pekerjaan itu ketika mengandung Dini. Kupikir penderitaanku selesai, ternyata tidak.
Meski telah melahirkan Dini, setahun kemudian aku kembali turun ke jalan. Aku kembali menjajakan diri, menjadi kupu-kupu malam demi tumpukan rupiah untuk Robi, suamiku. Apa Robi masih pantas kusebut sebagai suami? Aku tak tahu. Yang kutahu adalah Robi merupakan ayah biologis dari Dini. Kubiarkan saja tubuhku dijamah pria-pria berbeda setiap malam, kulakukan perintah Robi agar ia tak meninggalkanku bersama Dini. Sakit sekali rasanya diperlukan begini oleh suami sendiri.

Sungguh perih hatiku ketika aku kembali ke rumah di suatu pagi, mendapati Robi yang sedang tergolek tanpa busana bersama seorang wanita di ranjangku. Tak ketinggalan minuman keras disamping mereka. Aku benar-benar marah. Aku berteriak-teriak hingga mereka bangun dan memakai pakaian mereka. Robi tak tinggal diam, ia  memukulku. Setelah puas menghajarku, Kemudian ia pergi bersama wanita itu.

Sejak saat itu, aku hanya tinggal bersama Dini di rumah yang kusewa ini. Dini kecil sering ku titipkan di rumah tetanggaku. Para tetangga Cuma tahu kalau aku bekerja di sebuah rumah makan di kota. Ya.. sejak saat itu, aku tak mangkal di pinggir jalan lagi. Aku menjadi pelayan cafe dan berhasil menjadi primadona cafe tersebut. Banggakah aku? tentu saja tidak. ini adalah beban tersendiri buatku, apalagi mengingat Dini. Sampai Dini besarpun ia tak akan tahu pekerjaanku yang sebenarnya. Ia tak boleh tahu. Yang ia harus tahu adalah aku bekerja demi mendapatkan uang untuk biaya hidup kami dan pendidikannya.

“Ibu.. aku lagi butuh uang nih, udah 3 bulan ini aku menunggak uang sekolah”, cerita anakku di suatu malam ketika ia sedang memijatku. “maafkan ibu, ibu belum punya uang sekarang sayang, Dini sabar dulu ya nak. Besok ibu masuk kerja”, kataku. “jangan lama ya bu, Dini harus bayar uang sekolahnya minggu depan, kalau nggak bayar segera, Dini gak bisa ikut UN bu”, tambahnya. Sungguh perih hatiku saat itu, hingga aku bertekad untuk segera sembuh agar bisa “dinas” lagi besok malam.

Seminggu ini aku tak pernah absen mencari uang di cafe, hingga terkumpul uang untuk Dini. Tubuhku sakit semua rasanya, aku kelelahan. Malam ini kuputuskan untuk beristirahat saja di rumah bersama Dini. Memandang putriku dan mengingat pekerjaanku, tak sengaja aku menangis. Namun aku cepat-cepat menghapus airmataku agar tak dilihat oleh Dini.

Aku memanggil Dini yang sedang mengambil air untukku, “nak, ini uang  yang kamu minta kemarin. Kamu sekolah yang rajin ya nak”. “tapi kok cepat sekali ya bu, ibu pinjam uang ke siapa?”, tanyanya.
“sudahlah sayang, biar ibu yang pikirkan tentang uang. Tugasmu hanyalah belajar. UN sebentar lagi, jangan banyak pikiran ya nak. Kamu harus benar-benar belajar supaya lulus SMP dengan nilai yang bagus dan bisa masuk SMA”.

Sejenak aku berfikir, seandainya Dini tahu pekerjaanku, maukah ia tetap melakukan hal-hal manis untukku? Apakah ia masih menganggap aku ini sebagai ibunya? Masihkah terucap dari bibirnya panggilan ibu untukku?

Pekerjaan ini telah kugeluti selama 15 tahun, entah berapa banyak lelaki yang menjamahku. Aku tak ingin lagi begini. Aku ingin berhenti mengais rupiah di pelukan para lelaki. Semakin perih rasa hatiku ketika ingatanku kembali kepada Robi. Semua itu tak kutunjukkan di hadapan Dini. Dini tak boleh tahu.

Aku telah bertekad, suatu saat aku akan berhenti dari pekerjaan ini. Dengan sedikit uang tabunganku, aku berharap dapat membuka warung kecil di rumahku. Aku tak ingin lagi menjajakan diri. Aku ingin dirumah saja agar dapat lebih memperhatikan Dini yang akan masuk SMA nanti. Aku tak mau masa depannya hancur sepertiku. Semoga Tuhan mengabulkan do’a dan mengampuni diriku yang telah bergelimangan dosa ini. Amin.

Sabtu, 28 Juli 2012

Perempuan Kedua Itu, Cinta Sejatiku


Namaku Riko, pria berumur 25 tahun yang telah bekerja di salah satu bank pemerintah di kampung halamanku. Aku telah memiliki kekasih yang merupakan adik kelasku di kampus dulu. Namanya Ayu. Gadis cantik dan kaya ini sering ke luar negeri untuk berobat. Aku mengenal Ayu karena mantan kekasihku yang menjodohkan kami. Namun sebelum mengenal Ayu, aku terlebih dahulu mengenal Anda.

Tak sengaja mengenal Anda. Ya.. tak sengaja memang. Dia adalah seorang gadis hitam manis yang tinggal di kota lain. Memang aku mengenal Anda di facebook, namun seiring waktu berjalan ada rasa dihatiku yang ingin kuungkapkan pada Anda. Apalagi anda adalah sepupu dari sahabatku semasa SMA yang ternyata Anda pernah kulihat juga dirumah sahabatku ketika hari meninggalnya ayah sahabatku itu.

Aku ingin mengatakan padanya bahwa, “Sejak pertama melihatnya dadaku berdegup kencang, kau tahu Nda? aku ingin mendapatkan cintamu”.
Kubiarkan waktu berjalan hingga aku tak sanggup lagi menahan gejolak rasaku. Akhirnya kuberanikan diri untuk ungkapkan isi hatiku. Namun saat itu saat itu Anda telah memiliki kekasih dan kelihatannya hubungan mereka serius, maka aku pun tak berani mendekatinya lagi.

Ternyata keresahanku ditangkap oleh mantan kekasihku, Vera. Tak tega melihatku kehilangan sosok Anda, lalu ia mengenalkan Ayu padaku. Singkat cerita, aku pun menjalin cinta dengan Ayu. Inginku katakan pada Anda, aku telah memiliki kekasih namun aku masih mencintaimu, Nda. Kau tahu, bayangmu tak lantas hilang dari ingatanku.

Dua bulan kemudian, Anda menghubungi ponselku.
“hai Sayang, apa kabarmu?”, ujarnya seperti biasa dulu. “aku baik-baik saja, Nda. Kamu gimana?’, tanyaku.“yah,, beginilah Ko orang lagi patah hati”, tukasnya.
Lalu panjang lebar anda menceritakan bagaimana perangai buruk mantan kekasihnya, Abi yang sering memarahinya jika cemburu. Tak ketinggalan ia memintaku menceritakan tentangku sekarang dan tiba-tiba terdengar,

“oo,, udah punya cewe’ yah Ko. Selamat ya, semoga langgeng, jangan sampai sepertiku”,lemah suaranya menanggapi ceritaku tentang Ayu. Tak lama telepon pun terputus. Namun semakin hari aku seperti tak sanggup kehilangan Anda. Aku terus mengirimkan SMS berupa perhatian padanya, sering menghubunginya sampai seminggu kemudian aku mengatakan perasaanku padanya.

“kamu ‘gak tau gimana perasaanku saat aku tahu kamu sudah memiliki Abi dulu, Nda. Hingga aku putuskan untuk mundur tanpa mengatakan apapun padamu”.

“lho.. emang kamu mau bilang apa Ko, kenapa ‘gak bilang aja?”, lirih Anda.

“saat itu, aku berpikir untuk pergi saja karena aku ‘gak mau kedatanganku merusak hubunganmu dan Abi. Aku tak mau melihatmu bersedih karena Abi memarahimu bila ia cemburu, ya.. seperti tadi katamu”. Nda, kalau boleh jujur aku ingin memilikimu. Aku ingin melanjutkan kisah kita yang sempat tertunda dulu, Aku… aku mencintaimu Nda”, sambungku.

“gak mungkinlah Ko, kan udah ada Ayu yang sekota denganmu”, tanggapnya ringan. “aku tu Nda, tapi aku mencintaimu. Namun aku gak mungkin lepasin dia, dia sakit dan orang tuanya udah percayain dia sama aku”, kataku.

Anda lagi-lagi menjawab ringan, “Ya sudahlah Ko, udah jelas kalau kita ‘gak bisa saling memiliki. Kasihan Ayu kalau kamu sama aku juga dan dia tau. “ gak Nda, ini hanya kita yang tahu, bahkan sama sahabatku yang sepupumu itu gak bakal aku ceritain. Singkat cerita, aku memulai menjalin cinta dengan Anda.

Sebulan setelah kami menjalin cinta, aku pun ke kotanya. Sesampai di kotanya, Aku memintanya untuk datang ke kostnya temanku. Begitu melihatnya, aku amat bahagia. Setelah ia masuk ke kamar kost itu, aku langsung memeluknya. Aku menumpahkan segala kerinduanku di peluknya. Hangat dan nyaman kurasakan bila tengah berada dalam dekapan perempuan yang aku cintai, walaupun ia perempuan keduaku. Aku mengecup keningnya, matanya, pipinya hingga bibirnnya. Itulah pertama kalinya aku berani mencium bibir perempuan. Dengan Ayu aku tak pernah melakukan itu, paling Cuma mengecup keningnya. Kata Anda sambil mengejekku, “kecup kening aja? Kayak ciuman ayah ke anaknya lah ya”.

Seminggu dikotanya, aku harus kembali ke kotaku. Sesampainya dikotaku, suatu ketika Ayu membuka facebookku yang pastinya ada peribu pesan sayang dari Anda, ponselku tak lupa diraih dan ia mendapati fotoku bersama Anda yang lupa kusimpan ke flash disk serta sms-sms mesra Anda yang lupa kusembunyikan. Ia marah-marah hingga pingsan, aku amat ketakutan, aku lupa kalau ia memiliki penyakit dan aku meminta maaf padanya. Hingga ia memaafkanku. Aku mengirimkan sms kepada Anda yang aku yakin saat itu pasti menyakitinya,

“sayang, aku udah ada di kotaku lagi dan sedang bersama Ayu, barusan Ayu pingsan gara-gara liat inbox di facebook, sms mesra kita dan juga foto kita. Terpaksa semuanya harus kuhapus sayang. Maafkan aku. Aku berjanji akan selalu mencintaimu walau kita tak mungkin bersama”. Jangan balas smsku yang ini ya sayang. Nanti aku yang akan menghubungimu”.

Sesampai dirumah, aku menghubunginya dan terdengar olehku isak tangisnya. Aku pun sebenarnya ingin menangis, namun tak sanggup kulakukan. Ia berkata, “jadi kita gimana? Kita putus?. “gak Nda, aku gak mau gitu. Memang aku yang salah, aku yang memintamu untuk jadi kekasih keduaku. Tapi aku mohon sabar ya.. jika memungkinkan kita bisa sama-sama, kataku. “baik, bula depan aku kesana. Aku ‘gak tahan Ko, aku pengen ketemu kamu”, kata anda.

Sebulan kemudian, Anda datang ke kotaku. Tiba-tiba di hari minggu, ia menghampiriku di toko tempat aku bekerja. Aku ingin memeluknya lagi, namun tak enak karena Anda datang bersama temannya. Beberapa hari ia disana, Ayu pun tiba-tiba mengajakku membicarakan tentang Anda. Karena tak tahan dengan ocehan Ayu, maka aku menghubungi Anda dan mengatakan, “Nda, tolong bilang sama Ayu kalau kita ‘gak ada hubungan apa-apa”. “Oh, iya mana Ayu biar aku bicara” kata Anda. “gak usah, aku gak mau ngomong sama perempuan itu”, terdengar suara Ayu.

Praktis saat itu pun aku harus berpisah dengan Anda, ini bukan inginku. Keadaan yang memaksaku untuk memilih Ayu. Maafkan aku harus menyakitimu lagi, Nda. Aku terpaksa harus mengakhiri hubungan kita. Aku tahu, kau tak salah. Ini mutlak karena keegoisanku. Semoga kau mendapatkan penggantiku yang dapat membahagiakanmu, bukan seperti Abi atau pun aku.

***

Pernah mengenalmu adalah keindahan hidupku. Sempat mereguk nikmat cinta bersamamu adalah bahagiaku walaupun aku tahu, betapa tersiksanya hatimu karena kau menjadi perempuan kedua setelah dia. Meski cerita kita telah usai, tenyata kau memang tak dapat ku lepaskan. Itu terbukti saat kita merajut cinta lagi dan posisimu tetap menjadi yang kedua. Kusadari memang salahku biarkan kamu terlalu dalam mencintaiku. Maafkan aku harus mengakhiri hubungan kita, Namun bayangmu masih melekat dan selamanya ku dekap erat dalam dalam ingatanku.

Selasa, 24 Juli 2012

Menghargai “Perbedaan”, Sulitkah ?


Seperti yang kita ketahui bersama, negara Indonesia tercinta ini memiliki beragam perbedaan. Dari mulai perbedaan suku, agama sampai ke perbedaan status sosial. Tentunya tak ada seorangpun yang menginginkan perbedaan itu menjadi perusak kebersamaan kita sehari-hari. Namun acap kali saya mendengar dan melihat bahwa ada segelintir orang yang mengagungkan kebudayaannya sendiri dan menjelekkan kebudayaan orang lain.
Seperti biasa di sore hari saya menikmati secangkir kopi sambil berselancar di dunia maya dengan memanfaatkan fasilitas wifi di salah satu warung kopi Aceh langganan saya di Medan. Secara tak sengaja saya terlibat pembicaraan dengan seorang pelayanan di warung kopi tersebut yang baru sekitar sebulan tinggal di Medan.
***
Dia berujar, “cewek-cewek di Medan ini kalau pakai baju itu seksi kali ya kak, rok dan celananya pendek. Ngapain tanggung-tanggung gitu, sekalian aja pake’ bikini. Saya menjawab, “loh,, kok kamu yang ribut sih? Terkejut ya karena kamu baru tinggal di Medan? Mereka aja biasa aja tuh, mungkin pun orang lain pun berpandangan biasa aja.
“gak bisa gitu dong kak, maunya kan mereka menghormati orang lain”, tambahnya. “hei,, ini kota mereka, sebagai pendatang Kamu yang mesti menghormati mereka. Jangan egois dong”, lanjut saya. “di tempatku, mereka yang non muslim aja pake’ jilbab tuh, masa’ yang disini buka-bukaan gitu”, tambahnya lagi.
“di Aceh, kalau mereka pake’ jilbab itu karena mereka menghormati dan menghargai agama mayoritas masyarakat Aceh. Kalau disini, kita yang muslim harus menghormati mereka”, jawab saya lagi. “ah,, Kalau aku jadi Gubernur SUMUT atau Walikota Medan, ku buat peraturan dan denda untuk cewek-cewek yang pake’ rok mini gitu kak, aku ’gak suka, katanya lagi.
“berarti iman islammu ‘gak cukup kuat untuk kamu tinggal di Medan dan ‘gak akan ada masyarakat SUMUT atau Medan yang pilih kamu“, kata saya. “kenapa kak?” tanyanya. “udah sana, ganggu aku ngenet aja ah.. Lagi pula kalau kamu bisa ngomong seperti omonganmu tadi, pasti kamu mengerti. udah, pikirin aja jawabanku tadi”.
***
Saya pribadi merasa heran dengan opini orang tersebut yang katanya baru sebulan tinggal di kota ini tapi sudah bisa mengatakan yang tidak-tidak. Padahal seingat saya, sedari saya masih duduk di bangku SD kelas 1, guru saya selalu mengajarkan tentang toleransi lewat pelajaran PPKN dimana kita harus saling menghormati antar umat beragama dan tidak saling menghujat kepercayaan orang lain. Apalagi menghina penampilan orang lain.

Masih untung dia menyampaikan ketidaksukaannya itu kepada saya, bayangkan jika ia sampaikan kepada orang yang berbeda suku atau agama lainnya? Apa ‘gak langsung ditampar orang dia tuh??

Untuk kasus diatas, peribahasa dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, rasanya perlu ditambahkan. Mengapa? Sebab, orang tersebut sepatutnya menghargai perbedaan yang terdapat di kota ini dan tak perlu berlebihan dalam berbicara mengenai ketidaksukaannya terhadap orang lain padahal dia sendiri mencari “sesuap nasi” disini.
Pernah saya bertanya kepada teman-teman saya yang berdomisili di Aceh yang sering menyuruh saya untuk kembali kesana, mengapa mereka tak mau ke Medan? Jawaban dari beberapa mereka adalah iman kami belum cukup kuat untuk masuk dan “melihat” Medan. Bahkan pernah juga saya mengajak adik sepupu saya yang datang kesini untuk jalan-jalan, apa katanya? “kak, kita pulang aja yuk ke rumah, aku ngeri liat Medan ini”.

Kenapa harus takut “melihat” Medan? Toh ini baru kota besar ketiga. Bandingkan dengan Jakarta dan Surabaya.

Kalau boleh saya sarankan buat teman-teman yang berdomisili di Aceh dan belum pernah keluar dari Aceh, jika belum sanggup untuk “melihat” Medan, jangan datang ke Medan. Mengapa? Sebab saya jengah juga kalau mendengar orang yang berujar seperti diatas tadi. Tantangan untuk berada di kota ini begitu besar namun saya yang hampir 8 tahun di Medan sudah bisa beradaptasi disini dari sejak lebih kurang 3 bulan pasca Tsunami 2004.
Sejauh ini, teman-teman saya disini menghargai perbedaan agama dan budaya yang kami miliki. Mereka menghargai waktu shalat saya, waktu puasa di bulan Ramadhan ini. Mereka juga tidak pernah terganggu dengan busana saya, begitu pula saya terhadap mereka. Suatu hari, saya di undang pada pesta perkawinan seorang teman yang beragama kristen di salah satu gedung. mengapa tidak di rumah? Karena dia menghormati para tamu undangan yang datang, karena dia tahu juga semua agama akan datang. kemudian tempat jamuan makannya pun di pisah.

Yang namanya toleransi itu menghargai antar sesama manusia tanpa harus memandang suku, agama dan status sosial. Nah, dari pengertian itu saja rasanya sudah jelas bahwasanya kita yang tinggal di tempat orang harus pandai-pandai membawa diri dan menjaga omongan agar yang mendengarkan tidak merasa tersinggung.

Cara yang efektif lain yaitu meningkatkan rasa nasionalisme agar kita merasa “memiliki” bangsa ini tanpa harus merasa terkotak-kotakkan dengan perbedaan itu.
Mari kedepankan sikap toleransi antar sesama manusia demi terciptanya keharmonisan hidup ditengah perbedaan yang sudah ada. Bukankah perbedaan menjadikan segalanya lebih indah?

Minggu, 22 Juli 2012

[FISUM] Batal Kawin


si kurang gizi Agoes Permana dan si manis sekali Auda Zaschkya (155)
***
Adalah seorang duda beranak 1 bernama Agus. Ia adalah seorang penulis handal di belantara hutan kompasiana yang juga seorang pegawai di sebuah kantor. Setiap harinya dihabiskan agus untuk mengurus anaknya yang cukup bandel, Nito namanya.
Sampai suatu hari di pertengahan bulan juli, agus ingin memasukkan Nito ke sebuah SD dan agus berkenalan dengan bu guru Rahma. Agus menitipkan Nito kepada bu Rahma dan pak Hesya yang juga seorang penarik becak.
Agus : bu,pak.. saya titipkan anak saya ini ya di sekolah
Hesya : baik pak, akan kami jaga Nito di sekolah, bukan begitu bu Rahma?
Rahma : benar. Kelas 1 SD pulang sekolahnya pukul 10.00 jadi bapak bisa menjemput Nito pukul 10.. pak. Bagaimana?
Agus : wahh… bagaimana ya bu, sepertinya saya tidak bisa. Bibi di rumah pun sedang pulang kampung
Dengan baik hati pak Hesya menawarkan jasa antar saja ke rumah untuk Nito.
Hesya : begini saja pak, saya akan antarkan anak bapak ke rumah kebetulan sepulang saya mengajar, saya juga menarik becak
Agus : baiklah, besok saja di mulai ya pak
Keesokan harinya mulailah Hesya mengantar Nito ke rumah hingga Nito pun lengket dengan Hesya. Sangking lengketnya Hesya sering sekali menemani Nito di rumah sampai pak agus pulang kerja. Agus berfikir untuk mencarikan ibu baru bagi Nito. dan menurut pak agus, bu Rahmalah yang cocok.
Dan sebulan kemudian seperti biasa pak agus mengantar Nito ke sekolah. Pagi ini memang sengaja pak agus berpenampilan seperti anak muda untuk menarik perhatian bu Rahma. Pak Agus ingin “nembak” bu Rahma. Agus to the point tapi sebelumnya kentut dulu biar perutnya lega.. Brooooooooooottt,, broottt…
Nito : ih,, bapakkkkkkk.. bikin malu aja..
Agus : diam dulu nak,, bapak mau ngomong sama bu Rahma
Bu Rahma datang menghampiri agus, lalu agus berkata,
Agus : Rahma, sepertinya saya sudah tidak sanggup mengurusi Nito sendirian, apalagi si Bibi sering pulang kampung. Mau gak kamu menikah sama saya?? Bu Rahma pun tersenyum dan ingin menjawab. Namun, Nito kaget,,,  dan berteriak
Nito : haaaa,,,? Apaaa??
Agus : iya nak, bapak ingin melamar bu Rahma supaya menikah dengan bapak dan menjadi ibu kamu
Nito : gak mau !! pokoknya Nto gak mau!!
Rahma : kenapa Nito sayang? Memangnya ibu gak cocok ya jadi ibu kamu?
Nito : nggakkkk,, pokoknya Nito gak mau.. Nito sudah punya pilihan untuk bapak
Agus : siapa nak??
Nito pun berlari ke ruang guru dan menarik seseorang dari sana…
Nito : ini pak,,, ini aja yang jadi ibunya Nito
Agus : lho,,, kok Hesya sih nak? Hesya ini laki-laki lho
Nito : biar aja, kalau bapak mau menikah dan cari ibu buat Nito, ya om Hesya aja. Om Hesya selalu antar jemput Nito dan main sama Nito. om Hesya juga pernah bilang kalau om Hesya suka sama bapak
Rahma yang mendengar tiba-tiba sesak napas dan sepertinya ingin pingsan. Sementara Hesya hanya senyum-senyum saja.
Hesya : iya pak,, saya sebenarnya sejak bertemu dengan pak Agus sudah jatuh cinta dan ingin menikah sama bapak
Agus : #@%@%&
Saat itu juga, Agus yang terkejut langsung meninggalkan sekolah dengan menggandeng Nito yang berujar dalan hati ” asiiiiikkk,, bapakku batal kawin”.

Wanita “Menarik” karena Make-Up dan High Heels ?


Setiap wanita pasti ingin tampil menarik di mata siapapun yang memandangnya. Maka dari itu, para wanita tidak segan-segan mengeluarkan uang banyak untuk mempercantik penampilan diri dengan make-up dan high heels (sepatu/sendal berhak tinggi). Kedua benda tersebut tentu sering dikonsumsi para wanita, apalagi yang namanya wanita biasanya “tak rela” bila melihat ada wanita lain yang lebih cantik dari dirinya. Lho kok gitu?? Ya.. paling tidak ini menurut pengamatan saya sewaktu kuliah di jurusan sekretaris dulu.

13429411131380044982
loboutin-sky-high-heels, imge from http://mazrieva.blogdetik.com

Saya sendiri mulai “berkenalan” dengan sepatu/sendal tinggi dan alat make-up ketika saya mulai kuliah di kelas sekretaris pada tahun 2006.

Awal masuk kelas tersebut, saya paling sering mendapat protes dari dosen akibat penampilan saya yang tomboy. Sang dosenpun berkata “kamu yakin masuk kelas sekretaris, kamu ‘gak salah jurusan? mana make-up dan sepatu high heelsmu, kok ‘gak nampak?”.

Sang dosen menyarankan saya untuk belajar memakai make-up dan high heels. Sampai pada akhirnya saya bisa bermake-up dan  mendekorasikan wajah saya hingga hasilnya seperti sekarang. Berkat “perjuangan keras” saya belajar, hingga berjalan dengan memakai High heels pun bisa saya lakukan walaupun harus jatuh bangun. Sedangkan teman-teman saya dengan begitu santainya berjalan menuruni anak tangga dengan high heelsnya. Mereka kelihatan sangat percaya diri bila “tampak” tinggi.

Saya memiliki teman yang tak berani keluar rumah tanpa make-up dan sepatu bertumit tinggi, sebutlah namanya Rini. Jika saya menjemputnya, Rini pasti selalu menghabiskan waktu lama untuk berdandan. Dan jika akan berpergian, tak ketinggalan ia selalu memakai sepatu berhak tinggi miliknya walaupun kami akan menumpang angkot.

13429412421941627554
applying-make-up, image from http://duniakerjawanita.wordpress.com

Menggunakan make-up memang benar dapat mengeksplorasi kecantikan para wanita, tapi jangan sampai lupa membersihkannya setiba dirumah. Biasanya anda yang kelelahan pastinya ingin tidur, nah,, si make-up jangan dibiarkan tetap menempel karena bila anda membiarkannya bersama minyak dan kotoran di wajah anda akan dapat menimbulkan jerawat, penyumbatan pori, atau pun “mempersilahkan” datangnya bercak merah dan hitam pada kulit. Demikian juga dengan bulu mata palsu dan mascara, jangan lupa untuk dilepas dan dibersihkan karena dapat menyebabkan iritasi atau bahkan infeksi pada mata.

Kemudian jangan terlalu sering menggunakan High heels karena efeknya kurang baik untuk kesehatan. Kaki yang biasanya lebih rileks akan mendapat tekanan pada tiap sendi yang dapat memicu penyakit nyeri pada punggung, arthritis (radang sendi) atau bahkan cedera tendon (urat otot). Penelitian terbaru yang dilakukan oleh peneliti dari Griffith University di Queensland, Australia mengatakan bahwa memakai sepatu berhak tinggi ini beresiko terhadap pembentukan cara berjalan walaupun tidak memakainya seperti yang dilansir oleh www.orchidmodis.com.

Tak ada salahnya jika seorang perempuan ingin bermake-up dan mengenakan sepatu bertumit tinggi demi satu alasan yaitu agar terlihat menarik dimata siapapun. Namun hendaklah lebih bijak dalam mengaplikasikannya ke diri anda. Maksudnya anda harus memiliki tujuan yang jelas bila ingin menggunakan kedua benda tersebut, misalnya ke acara pesta perkawinan dan ke kantor, bukannya malah untuk ke sekolah, kampus, pasar atau pun rumah sakit. Akan lebih bijak lagi jika anda memperhatikan kesehatan anda sendiri sebelum sering-sering menggunakannya mengingat dampak buruknya yang telah saya sebutkan diatas. Salam cantik untuk semua hawa.

[FISUM] Akibat Terlalu Polos


si kurang gizi Agoes Permana dan si manis sekali Auda Zaschkya (155)

***

Seorang perempuan lugu bin polos berusia 22 tahun bernama Ratih sedang berbicara dengan teman kantornya, Hesya. Ia bertanya tentang keadaan temannya Rahma yang baru menikah.
Ratih : Sya, si Rahma kan baru merid tuh, kok gak masuk kantor sih? Kan udah seminggu meridnya
Hesya : oo.. Rahma lagi sakit
Ratih : ha, sakit apa? Kan baru merid kok bisa sakit sih? kasihan Rahma
Hesya tersenyum dan berkata lagi,
Hesya : sakit gara-gara suaminya
Ratih : Ya ampunnn… kasian sekali si Rahma ya Sya, kok suaminya tega sih buat sakit dia ?
Sambil tetap tersenyum dan menahan tawa, Hesya tetap bersikap santai dan berkata,
Hesya : ah,, gak pa-pa kok itu. Udah biasa
Ratih yang benar-benar masih polos kebingungan dan berkata,
Ratih : Biasa apanya kayak gitu sih Sya? Kasian dia, baru menikah udah dapat KDRT dari suaminya. Wah,, kalau begitu ‘gak usah merid aja sama suaminya itu.
Serentak Hesya pun melepas tawanya yang menambah kebingungan Ratih. Tiba-tiba Ratih mengambil sebuah mikrofon yang ada di dalam ruangan kantor tersebut dan dengan Pd-nya ia mengumumkan
Ratih : teman-teman sekalian, harap dengarkan saya sebentar. Saya mau menyampaikan suatu kabar buruk tentang Rahma.
Teman 1 : ha, apa sih? kenapa? Kan dia baru merid,, pasti lagi seger-segernya tuh..
Ratih : kasihan sekali Rahma, ia sedang sakit.
Teman 2 : sakit apa?
Ratih : KDRT, pokoknya mah meuni kasihan pisan si Rahma teh, baru menikah sudah mendapatkan KDRT dari suaminya. Yuk,,  kita jenguk, bawa buah-buahan ya. Nanti saya bawa jeruk 2 kg. Kamu bawa apa?
Akhirnya orang-orang di kantor itu pun tertawa. Ratih si polos pun jadi ngambek, lalu mengatakan
Ratih : ya sudah, kalau kalian tak mau menjenguk, biar saya saja. huh,, tega kalian!!! memang gak setia kawan.
karena kasiha kepada Ratih, Hesya pun menjelaskan
Hesya : Tih,, masa’ kamu gak ngerti sih orang baru merid tuh gimana? Masa’ harus kami jelaskan Rahma sakit apa?
Teman 2 : ooo,, Ratih,,, memang polosnya dirimu. Masa’ gak tau sih?
Ratih : lho,,, kan sakit tadi katamu kan Sya?
Hesya : iya.. sakit itu kan alasan aja. tapi bukan KDRT lho !!!  Sebaiknya kamu menikah deh, biar tau apa yang dirasakan Rahma setelah Malam pertama.
Ratih yang memang tak pernah punya pacar dari dulu Cuma terduduk dan merelakan diri ditertawakan oleh teman-temannya
Teman 2 : Ratih sih terlalu polos sih,, salah sendiri gak punya pacar
Teman 1 : sono gih tih, pacaran sana terus nikah deh biar tau sakitnya Rahma
Dan Ratih pun keluar ruangan kantor itu, entah kemana ia… mungkin sedang berusaha mencari pacar :D

Sabtu, 14 Juli 2012

Kecewa Terhadap Uang Dari ATM Bank


Sebagai seorang pribadi yang selalu membutuhkan uang, kita tak pernah lepas dari benda tersebut, bukan? Jika memiliki sejumlah uang, maka kita pasti menyimpannya di Bank. Sejauh ini, bank masih sangat dipercayai sebagai tempat yang aman bagi masyarakat untuk menyimpan uang. Bahkan setiap bank sudah memfasilitasi nasabahnya dengan kartu ATM dimana para nasabah dapat mengambil uang sendiri tanpa dilayani oleh seorang teller layaknya di dalam kantor Bank.

Kemudahan bertransaksi di ATM inilah yang membuat saya malas untuk mengantri di dalam Bank. Saya dapat mengambil uang di ATM mana saja dan kapan saja.
Namun saya harus kecewa lagi dengan ATM Bank yang setia dengan slogannya Terpercaya, Tumbuh Bersama Anda. Mengapa saya sebut kecewa lagi? Sebab sebelumnya pada tulisan saya yang ini, saya pernah mengungkapkan kekecewaan saya terhadap Bank tersebut.

Kekecewaan saya lagi berlangsung tadi malam. Sehabis magrib, ibu menyuruh saya untuk mengambil uang guna membeli obatnya. Kemudian saya mendatangi ATM Bank tersebut yang berlokasi di salah satu kampus. Begitu memasukkan nomor pin dan jumlah nominal uang yang ingin saya ambil, keluarlah empat lembar uang kertas nominal Rp 50.000.00 yang menurut saya tidak layak ada di ATM. Mengapa? Coba pembaca perhatikan gambar di bawah ini :


1. Tepat bersebelahan dengan nominal angka Rp 50.000,00 tersebut terdapat coretan.
2. Uang yang saya terima tersebut lecek.

Uang tersebut jelas bersumber dari mesin ATM, namun mengapa harus ada coretan dan uangnya lecek? Sebagai nasabah bank tersebut terus terang saya kecewa.

Bagaimana tidak? Uang yang seperti itu, sering sekali tidak mau diterima oleh beberapa supermarket. belum lagi kedai-kedai biasa. Mungkin pun kalau ada yang mau menerimanya di pasar-pasar tradisional.

Namun, apakah harus saya belanjakan uang tersebut ke pasar saat itu juga? Untunglah ada uang lain yang tidak begitu lecek yang saya gunakan untuk membeli obat ibu saya.
Selayaknya uang yang bersumber dari mesin ATM haruslah bersih dan tidak kumal apalagi terdapat coretan demikian (walaupun tidak harus yang berbau khas uang baru).

Sudah sepantasnya pihak bank tersebut lebih teliti dalam melakukan penyortiran terhadap uang yang dikelolanya. Bila menemukan uang yang tak layak edar seperti komplain saya ini, maka hendaklah segera ditukarkan ke Bank Indonesia sebagai pusat sumber uang di Indonesia.

Keluhan saya ini bukan untuk menjelekkan nama baik Bank tersebut namun Ini merupakan bentuk kesetiaan dan perhatian saya terhadap Bank itu supaya dapat melayani nasabahnya dengan baik.  Hal demikian tentunya juga harus diperhatikan oleh setiap Bank demi kenyamanan nasabahnya.

Kamis, 12 Juli 2012

Tentang Tanya Yang Tak Sempat Terjawab


Auda Zaschkya & Nanda Riva Junita



ada tanya darimu yang tak sempat terjawab

disanalah bibirku kelu tak dapat berkata



tahukah kau bahwa rasa itu masih mekar?

bahkan ia tak pernah layu
layaknya harum ganja 

dan kepulan asap rokok yang membahana
di warung kopi langgananku


kau dan lintingan ganja itu teramat sama
mampu larutkan aku dalam khayal

sadarkah kau rasaku masih ada?
rasa itu kubiarkan mekar
layaknya harum bunga setiap pagi
yang melenakan, namun hambar
ya.. hambar tanpa hadirmu seperti biasa

kau masih ada disini kasih
namamu terukir jelas di hatiku
sebab kau adalah candu
rangsangmu bangkitkan imaginasiku

bahkan dalam gelap pun kau mampu hadir
seakan temani dan
tenangkan aku 
sembari berkata semua baik-baik saja

sikapmu menggiringku 'tuk berfikir
akan rumitnya kisah yang terukir
disana ada jawab tak bertanya
bahkan ada tanya tak berjawab

sekelumit rasa akan segera hilang
setia bersama rindu yang tak bertuan
ah,, itu sudah biasa
dan selalu seperti itu kata mereka

ya, sejauh ini memang begitu
namun aku tak inginkan ini berlalu tanpa makna

tolong jelaskan rasamu padaku
mampukah cinta itu buatmu merana
seperti goresan pisau itu
selalu menusuk aku punya vena



Selasa, 10 Juli 2012

Cewek Matre Masih Wajar. Cowok Matre?

1341855129128568558
image from http://qipangi.com

 Siapa yang tak memerlukan uang di zaman yang serba canggih ini? Semua orang membutuhkan uang pastinya. Namun kebanyakan dari kita lebih sering mengidentikkan uang dengan para perempuan, terlebih lagi adanya ungkapan cewek matre. Cewek matre ini digadang-gadang sebagai “tukang porot”nya seorang laki-laki. Namun tahukah anda bahwa cowok matre pun ada, lho ! Kenyataan beredarnya para laki-laki yang matre tak bisa dipungkiri.

***

Di tahun 2007 lalu, saya pernah berpacaran dengan seorang laki-laki yang tampangnya lumayan. Sebutlah namanya Toni. Cara berpakaiannya pun modis apalagi dia seorang anak band. Tapi transportasinya Cuma sama angkutan kota, itu tak saya permasalahkan.
Sekali jalan, kami nonton ke bioskop yang ada di salah satu mall. Tiketnya itu memang dia yang bayar. Cemilannya? Saya yang beli. Setelah nonton, kami ke cafe yang ada di luar mall untuk makan siang. Naik angkot, ongkosnya dari mana? Dari saya. Setelah makan, billnya saya juga yang bayar lengkap dengan harga rokoknya. Wow… kali ini tak apalah pikir saya.
Ternyata berikutnya juga saya yang bayar kalau makan berdua, ongkos angkot, rokok bahkan sampai pulsa poselnya pun saya yang isikan. Terakhir dia katanya sedang perlu uang sekitar Rp 150.000,00 dan ia meminta kepada saya. Katanya sih dipinjam selama seminggu. Karena kasihan, saya berikan juga. Namun lewat seminggu dia mulai susah dihubungi.

Bagi saya, berapa pun jumlah uangnya sangat berharga. Karena sudah lewat seminggu, saya cari rumahnya sekaligus saya bawa salah seorang teman saya untuk mengaku-ngaku bahwa itu adalah uangnya kepada keluarganya. 

Salah seorang kakaknya berkata, “kasihan kamu dik, jangan percaya sama adikku itu ya, besok ku kembalikan uangnya, terus kau putuskan aja dia”. Tak mau kalah saya juga bilang, “saya memang mau putusin dia kak, masa’ selama jalan sama dia dari uang makan, pulsa dan rokoknya saya yang belikan?”. Kakaknya itu pun malu dan berjanji untuk mengembalikan uang itu. Dan memang benar uang itu dikembalikan. Setelah itu hubungan kami pun selesai.

***

Buat para perempuan, ada baiknya benar-benar memperhatikan laki-laki a.k.a cowok matre itu supaya tak terburu-buru menerima pernyataan cintanya. Biasanya cowok matre itu :
1. Yang punya kendaraan, dia bakal mau antar jemput
Iya, memang benar kalau punya kendaraan bakal mau antar jemput, tapi bensinnya? Dia bakal nyuruh si cewek yang bayar. Kebetulan teman saya pernah mengalaminya bahkan terlalu sering dibegitukan sama pacarnya.
2. Yang tak punya kendaraan a.k.a Angkoters
Jangankan menjemput, ongkos aja mesti si cewek yang bayarin. Contoh nyatanya yang seperti yang saya alami.
3. Manis di Awal, Pahit di Akhir
Lha,, kok gitu? Emang.. waktu awalnya “nembak”, si cowok ini berkorban sekali, baik dan terkesan tanpa cela. Trik-triknya seperti cowok kebanyakan, super.. perhatian. Udah berhasil dapatin si cewek, mulailah dia morotin. Contohnya ya saya. Pahit kan?
4. Gombal
Ini adalah alasan klise dari semua laki-laki yang mau “nembak” perempuan incarannya. Gombal ini gombal itu. Tak ketinggalan buat si cowok matre ini. Bahkan waktu awal-awal PDKT, biasanya dia rela teleponin si perempuan berjam-jam. Perempuan mana yang “gak klepek-klepek, coba?
5. Penampilan
Tampilannya bagus, gayanya WOW tapi itu baru penampilan luarnya. Ada baiknya buat perempuan yang lagi PDKTan sama laki-laki yang seperti itu, kenali dulu lingkungan dan teman-temannya. Bisa jadi penampilannya itu adalah “dukungan” dari pacarnya sebelum kamu. Makanya, harus cek benar-benar deh.
6. Berani Pinjam Uang
Kalau udah jadian, dia bakal gini : Awalnya bilang, “yank, pinjam uang dong. Aku lagi benar-benar butuh nih. Gak enak kalau pinjam sama teman, sama ortuku juga udah gak berani lagi minta. Pinjam duit kamu ya.. ntar pasti aku balikin”. Karena alasan rasa kasihan dan Cinta dengan royalnya sang perempuan langsung memberikan uang kepada si laki-laki. 

Nah.. kalau si laki-laki sudah begini, si cewek jangan “bodoh” dong.. kejam ya kata-kata saya? Sorry, Cuma saya kesal dengan kaum saya yang bisa diporotin sama si cowok matre ini. Masih pacaran saja sudah bisa morotin. Kalau sudah dengar kata-kata pinjam, berarti kan harus dikembalikan. Segera berikan jeda waktu. Kalau lewat dari waktu yang dijanjikan sekaligus dia tak bisa dihubungi, silahkan cari rumahnya dan bicarakan sama keluarganya. Setelah itu, harus siap-siap putusin cowok yang beginian. ‘gak bisa dipake’ cowok yang begituan.

Saya pribadi memang tak menampik tentang adanya cewek matre ketika banyak diantara teman-teman perempuan saya yang matre. Menyaksikan tingkah cewek matre memang sudah “makanan” sehari-hari bagi saya. Bahkan ada lirik lagu yang bilang cewek matre. ke laut aje.

Walaupun saya tidak setuju dengan adanya cewek matre tapi menjadi perempuan matre rasanya sudah wajar untuk zaman sekarang ini. Bukan berarti perempuan tidak bisa berusaha sendiri dalam kehidupannya. nah.. kalau laki-laki yang matre, apa jadinya? dimana letak tanggung jawabnya sebagai laki-laki yang seharusnya menjadi pelindung kaum perempuan?

Lalu, bagaimana pendapat anda mengenai cowok matre? cowok matre harus kemana? Apa yang ada di pikiran pembaca sekalian tentang cowok matre ini? Pernah bertemu dengan mereka atau malah salah satu dari pembaca laki-laki bertitel cowok matre?

Minggu, 08 Juli 2012

Feminisme

Penulis : Bagus Pramono, Herlianto
http://www.sunangunungdjati.com

Sampai hari ini sebagian kaum perempuan masih aktif dalam perjuangan persamaan hak dengan kaum laki-laki atau yang lazim disebut kesetaraan gender. Sebenarnya sebagian besar perempuan yang sedang berjuang itu adalah para perempuan yang sudah "merdeka". Biasanya mereka itu dari kalangan Wanita Karir yang sukses, punya prestasi, punya background pendidikan yang tinggi. Dan mereka tetap giat berjuang atas nama semua perempuan yang masih "terpasung/ tidak memiliki hak setara dengan laki-laki/ perempuan yang tertindas".

Masalah yang terus-menerus tentang emansipasi sebenarnya bukan karena laki-laki menjadikan wanita sebagai objek, melainkan karena perempuan sendiri yang berlaku demikian. Selalu berteriak akan persamaan hak. Dalam parlemen di Indonesia ada sekelompok pejuang perempuan yang meminta "quota" 30% dalam keanggotaan legislatif, minta daftar nama perempuan di taruh di barisan atas dalam pemilihan. Bahkan iklan tentang ini banyak diekspos di televisi. Ini justru sangat bertentangan dengan perjuangan feminisme. Sebab kalau meminta "quota" artinya kaum perempuan ini yakin tidak mampu bersaing secara normal/ fair dengan laki-laki dalam dunia politik, sehingga perlu "quota". Apabila para aktivis perempuan ini yakin betul bahwa kaum kemampuan perempuan sejajar dengan laki-laki mengapa tidak bersaing secara fair saja. Iklan tersebut menggambarkan unsur pemaksaan dan mengarah kepada sifat KKN. Sehingga kemudian kita mendapati bahwa iklan tersebut merupakan sebuah ironisme dari perjuangan perempuan yang selama ini digembar-gemborkan.
Sebenarnya di Indonesia, kesetaraan gender sudah sangat baik, lihat saja Megawati, beliau seorang perempuan yang menjadi Presiden, sebuah sukses dalam peraihan karir yang paling tinggi di negeri ini. Ada Rini Suwandi seorang professional handal yang menjabat sebagai menteri Perdagangan. Sangat mengherankan bahwa kaum feminis Indonesia tidak merasa terwakili oleh prestasi yang diraih mereka ini. Dilain sisi ada banyak sekali wanita karir di Indonesia yang merangkap menjadi ibu tetapi sukses dalam pekerjaannya. Profil-profil tersebut sudah menggambarkan bahwa perempuan mempunyai andil hebat dalam politik dan perekonomian Negara Indonesia.
Di negara Islam pun kita menjumpai banyak perempuan yang memegang kendali politik tertinggi contohnya Benazir Butto pernah menjabat sebagai Perdana Meteri di Pakistan, Shirin Ebadi perempuan Iran dengan kepribadian luar biasa memenangkan hadiah Nobel 2003. Chandrika Bandaranaike Kumaratunga presiden Srilanka. Dua perempuan pintar di Philipina Cory Aquino & Gloria Arroyo. Di belahan dunia lain juga kita kenal Margareth Tacher, Madeleine Albright, dan Madonna perempuan genius dengan kepribadian yang kontraversial dan sangat sukses. Di masa lalu kita mengenal Evita Peron dan masih banyak lagi. Selamat, kaum perempuan! Bahwa kaum perempuan mampu membuktikan bahwa potensi karir dan intelektual antara perempuan dan laki-laki adalah setara.
Lalu apa lagi yang harus diperjuangkan? Sampai kapan kaum perempuan berjuang untuk kesetaraan gender? Saya rasa jawabannya gampang saja "sampai pada saat mereka tidak teriak-teriak lagi soal kesetaraan gender".
Kaum Perempuan di-lain sisi sudah menggeser peran-peran laki-laki, begitupun tidak ada golongan yang mengatasnamakan diri mereka "Man´s Lib" protes tentang hal-hal contohnya sebagai berikut : Ada Ladies Bank (Bank Niaga sudah mempeloporinya) dimana semua staff dalam beberapa cabang adalah perempuan. Ada Gereja yang semua/ sebagian besar pekerjanya adalah perempuan, dari gembala sidang, majelis, pemusik dsb. Banyak pabrik-pabrik yang hanya menerima pekerja perempuan daripada laki-laki, di pabrik rokok, sepatu, mainan anak-anak lebih suka menerima pekerja perempuan. Kita lihat disini kaum lagi-laki sudah tergeser di ladang pekerjaan dan karir. Batapa banyak manager/ direktur/ pebisnis/ guru perempuan. Kadang juga saya sering mendapat keluhan dari laki-laki bahwa mereka lebih sulit mendapat ladang pekerjaan dibanding perempuan.
Masalah kesetaraan gender yang gencar didengungkan kaum perempuan itu akan selalu ada jika kaum perempuan tidak pernah merasa bahwa laki-laki adalah "mitra" melainkan sebagai pesaing dan musuh.
MACAM-MACAM ALIRAN FEMINISME
4.1. FEMINIS LIBERAL
Apa yang disebut sebagai Feminis Liberal ialah pandangan untuk menempatkan perempuan yang memiliki kebebasan secara penuh dan individual. Aliran ini menyatakan bahwa kebebasan dan kesamaan berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia privat dan publik. Setiap manusia -demikian menurut mereka- punya kapasitas untuk berpikir dan bertindak secara rasional, begitu pula pada perempuan. Akar ketertindasan dan keterbelakngan pada perempuan ialah karena disebabkan oleh kesalahan perempuan itu sendiri. Perempuan harus mempersiapkan diri agar mereka bisa bersaing di dunia dalam kerangka "persaingan bebas" dan punya kedudukan setara dengan lelaki.
Tokoh aliran ini adalah Naomi Wolf, sebagai "Feminisme Kekuatan" yang merupakan solusi. Kini perempuan telah mempunyai kekuatan dari segi pendidikan dan pendapatan, dan perempuan harus terus menuntut persamaan haknya serta saatnya kini perempuan bebas berkehendak tanpa tergantung pada lelaki.
Feminisme liberal mengusahakan untuk menyadarkan wanita bahwa mereka adalah golongan tertindas. Pekerjaan yang dilakukan wanita di sektor domestik dikampanyekan sebagai hal yang tidak produktif dan menempatkab wanita pada posisi sub-ordinat. Budaya masyarakat Amerika yang materialistis, mengukur segala sesuatu dari materi, dan individualis sangat mendukung keberhasilan feminisme. Wanita-wanita tergiring keluar rumah, berkarier dengan bebas dan tidak tergantung lagi pada pria.
4.2. FEMINISME RADIKAL
Trend ini muncul sejak pertengahan tahun 70-an di mana aliran ini menawarkan ideologi "perjuangan separatisme perempuan". Pada sejarahnya, aliran ini muncul sebagai reaksi atas kultur seksisme atau dominasi sosial berdasar jenis kelamin di Barat pada tahun 1960an, utamanya melawan kekerasan seksual dan industri pornografi. Pemahaman penindasan laki-laki terhadap perempuan adalah satu fakta dalam sistem masyarakat yang sekarang ada. Dan gerakan ini adalah sesuai namanya yang "radikal".
4.3. FEMINISME POST MODERN
Ide Posmo - menurut anggapan mereka - ialah ide yang anti absolut dan anti otoritas, gagalnya modernitas dan pemilahan secara berbeda-beda tiap fenomena sosial karena penentangannya pada penguniversalan pengetahuan ilmiah dan sejarah. Mereka berpendapat bahwa gender tidak bermakna identitas atau struktur sosial.
4.4. FEMINISME ANARKIS
Feminisme Anarkisme lebih bersifat sebagai suatu paham politik yang mencita-citakan masyarakat sosialis dan menganggap negara dan laki-laki adalah sumber permasalahan yang sesegera mungkin harus dihancurkan.
4.5. FEMINISME SOSIALIS
Sebuah faham yang berpendapat "Tak Ada Sosialisme tanpa Pembebasan Perempuan. Tak Ada Pembebasan Perempuan tanpa Sosialisme". Feminisme sosialis berjuang untuk menghapuskan sistem pemilikan. Lembaga perkawinan yang melegalisir pemilikan pria atas harta dan pemilikan suami atas istri dihapuskan seperti ide Marx yang mendinginkan suatu masyarakat tanpa kelas, tanpa pembedaan gender.
Dan lain sebagainya.
V. MENGAPA ADA FEMINISME?
* Herlianto
Gerakan Feminisme lahir dari sebuah ide yang diantaranya berupaya melakukan pembongkaran terhadap ideologi penindasan atas nama gender, pencarian akar ketertindasan perempuan, sampai upaya penciptaan pembebasan perempuan secara sejati. Feminisme adalah basis teori dari gerakan pembebasan perempuan.
Pada awalnya gerakan ini memang diperlukan pada masa itu, dimana ada masa-masa pemasungan terhadap kebebasan perempuan. Sejarah dunia menunjukkan bahwa secara umum kaum perempuan (feminin) merasa dirugikan dalam semua bidang dan dinomor duakan oleh kaum laki-laki (maskulin) khususnya dalam masyarakat yang patriachal sifatnya. Dalam bidang-bidang sosial, pekerjaan, pendidikan, dan lebih-lebih politik hak-hak kaum ini biasanya memang lebih inferior ketimbang apa yang dapat dinikmati oleh laki-laki, apalagi masyarakat tradisional yang berorientasi Agraris cenderung menempatkan kaum laki-laki didepan, di luar rumah dan kaum perempuan di rumah. Situasi ini mulai mengalami perubahan ketika datangnya era Liberalisme di Eropah dan terjadinya Revolusi Perancis di abad ke-XVIII yang gemanya kemudian melanda Amerika Serikat dan ke seluruh dunia.
Suasana demikian diperparah dengan adanya fundamentalisme agama yang cenderung melakukan opresi terhadap kaum perempuan. Di lingkungan agama Kristen pun ada praktek-praktek dan kotbah-kotbah yang menunjang situasi demikian, ini terlihat dalam fakta bahwa banyak gereja menolak adanya pendeta perempuan bahkan tua-tua jemaat pun hanya dapat dijabat oleh pria. Banyak kotbah-kotbah mimbar menempatkan perempuan sebagai mahluk yang harus ´tunduk kepada suami!´ dalam Efesus 5:22 dengan menafsirkannya secara harfiah dan tekstual seakan-akan mempertebal perendahan terhadap kaum perempuan itu.
Efesus 5:22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan
Dari latar belakang demikianlah di Eropa berkembang gerakan untuk ";menaikkan derajat kaum perempuan"; tetapi gaungnya kurang keras, baru setelah di Amerika Serikat terjadi revolusi sosial dan politik, perhatian terhadap hak-hak kaum perempuan mulai mencuat. Di tahun 1792 Mary Wollstonecraft membuat karya tulis berjudul ´Vindication of the Right of Woman´ yang isinya dapat dikata meletakkan dasar prinsip-prinsip feminisme dikemudian hari. Pada tahun-tahun 1830-40 sejalan terhadap pemberantasan praktek perbudakan, hak-hak kaum prempuan mulai diperhatikan, jam kerja dan gaji kaum ini mulai diperbaiki dan mereka diberi kesempatan ikut dalam pendidikan dan diberi hak pilih, sesuatu yang selama ini hanya dinikmati oleh kaum laki-laki.
Gelombang feminisme di Amerika Serikat mulai lebih keras bergaung pada era reformasi dengan terbitnya buku "The Feminine Mystique"; yang ditulis oleh Betty Friedan di tahun 1963. Buku ini ternyata berdampak luas, lebih-lebih setelah Betty Friedan membentuk organisasi wanita bernama ´National Organization for Woman´ (NOW) di tahun 1966 gemanya kemudian merambat ke segala bidang kehidupan. Dalam bidang perundangan, tulisan Betty Fredman berhasil mendorong dikeluarkannya ´Equal Pay Right´ (1963) sehingga kaum perempuan bisa menikmati kondisi kerja yang lebih baik dan memperoleh gaji sama dengan laki-laki untuk pekerjaan yang sama, dan ´Equal Right Act´ (1964) dimana kaum perempuan mempuntyai hak pilih secara penuh dalam segala bidang.
Gerakan perempuan atau feminisme berjalan terus, soalnya sekalipun sudah ada perbaikan-perbaikan, kemajuan yang dicapai gerakan ini terlihat banyak mengalami halangan. Di tahun 1967 dibentuklah ´Student for a Democratic Society´ (SDS) yang mengadakan konvensi nasional di Ann Arbor kemudian dilanjutkan di Chicago pada tahun yang sama, dari sinilah mulai muncul kelompok ´feminisme radikal´ dengan membentuk ´Women´s Liberation Workshop´ yang lebih dikenal dengan singkatan ´Women´s Lib.´ Women´s Lib mengamati bahwa peran kaum perempuan dalam hubungannya dengan kaum laki-laki dalam masyarakat kapitalis terutama Amerika Serikat tidak lebih seperti hubungan yang dijajah dan penjajah. Di tahun 1968 kelompok ini secara terbuka memprotes diadakannya ´Miss America Pegeant´ di Atlantic City yang mereka anggap sebagai ´pelecehan terhadap kaum wanita´ dan ´komersialisasi tubuh perempuan.´ Gema ´pembebasan kaum perempuan´ ini kemudian mendapat sambutan di mana-mana di seluruh dunia.
Gerakan ini adalah itikad baik kaum perempuan, dan semestianya mendapat dukungan bukan saja dari kaum perempuan tetapi juga seharusnya dari kaum laki-laki, tetapi mengapa kemudian banyak kritik diajukan kepada mereka?
5.A. SASARAN KRITIK TERHADAP FEMINISME
Sebenarnya awal bangkitnya gerakan kaum perempuan itu banyak mendapat simpati bukan saja dari kaum perempuan sendiri tetapi juga dari banyak kaum laki-laki, tetapi perilaku kelompok feminisme radikal yang bersembunyi di balik "women´s liberation" telah melakukan usaha-usaha yang lebih radikal yang berbalik mendapat kritikan dan tantangan dari kaum perempuan sendiri dan lebih-lebih dari kaum laki-laki. Organisasi-organisasi agama kemudian juga menyatakan sikapnya yang kurang menerima tuntutan "Women´s Lib" itu karena mereka kemudian banyak mengusulkan pembebasan termasuk pembebasan kaum perempuan dari agama dan moralitasnya yang mereka anggap sebagai kaku dan buah dari ´agama patriachy´ atau ´agama kaum laki-laki.´
Memang memperjuangkan kesamaan hak dalam memperoleh pekerjaan, gaji yang layak, perumahan maupun pendidikan harus diperjuangkan, dan bahkan pemberian hak-suara kepada kaum perempuan juga harus diperjuangkan, tetapi kaum perempuan juga harus sadar bahwa secara kodrati mereka lebih unggul dalam kehidupan sebagai pemelihara keluarga, itulah sebabnya adalah salah kaprah kalau kemudian hanya karena kaum perempuan mau bekerja lalu kaum laki-laki harus tinggal di rumah memelihara anak-anak dan memasak.
Bagaimanapun kehidupan modern, kaum perempuan harus tetap menjadi ibu rumah tangga. Ini tidak berarti bahwa kaum perempuan harus selalu berada di rumah, ia dapat mengangkat pembantu atau suster bila penghasilan keluarga cukup dan kepada mereka dapat didelegasikan beberapa pekerjaan rumah tangga, tetapi sekalipun begitu seorang isteri harus tetap menjadi ibu rumah tangga yang bertanggung jawab dan rumah tangga tidak dilepaskan begitu saja.
Bila semula gerakan kaum perempuan "feminisme" itu lebih mengarah pada perbaikan nasib hidup dam kesamaan hak, kelompok radikal "Women´s Lib" telah mendorongnya untuk mengarah lebih jauh dalam bentuk kebebasan yang tanpa batas dan telah menjadikan feminisme menjadi suatu "agama baru."
Sebenarnya halangan yang dihadapi ´feminisme´ bukan saja dari luar tetapi dari dalam juga. Banyak kaum perempuan memang karena tradisi yang terlalu melekat masih lebih senang ´diperlakukan demikian,´ atau bahkan ikut mengembangkan perilaku ´maskulinisme´ dimana laki-laki dominan Sebagai contoh dalam soal pembebasan kaum perempuan dari ´pelecehan seksual´ banyak kaum perempuan yang karena dorongan ekonomi atau karena kesenangannya pamer justru mendorong meluasnya prostitusi dan pornografi. Banyak kaum perempuan memang ingin cantik dan dipuji kecantikannya melalui gebyar-gebyar pemilihan ´Miss´ ini dan ´Miss" itu, akibatnya usaha menghentikan yang dianggap ´pelecehan´itu terhalang oleh sikap sebagian kaum perempuan sendiri yang justru ´senang berbuat begitu.´
Halangan juga datang dari kaum laki-laki. Kita tahu bahwa secara tradisional masyarakat pada umumnya menempatkan kaum laki-laki sebagai ´penguasa masyarakat,´ (male dominated society) bahkan masyarakat agama dengan ajaran-ajarannya yang orthodox cenderung mempertebal perilaku demikian.
Dalam agama-agama sering terjadi ´pelacuran kuil´ dimana banyak gadis-gadis harus mau menjadi ´pengantin´ para pemimpin agama seperti yang dipraktekkan dalam era modern oleh ´Children of God´ dan ´Kelompok David Koresy´, dan di kalangan Islam fundamentalis banyak dipraktekkan disamping poligami juga bahwa kaum perempuan dihilangkan identitas rupanya dengan memakai kerudung sekujur badannya atau bahwa kaum perempuan tidak boleh menjadi pemimpin yang membawahi laki-laki, dan bukan hanya itu ada kelompok agama di Afrika yang yang mengharuskan kaum perempuan di sunat hal mana tentu mendatangkan penderitaan yang tak habis-habisnya bagi kaum perempuan. Di segala bidang jelas kesamaan hak kaum perempuan sering diartikan oleh kaum laki-laki sebagai pengurangan hak kaum laki-laki, dan kaum perempuan kemudian menjadi saingan bahkan kemudian ingin menghilangkan dominasi kaum laki-laki di masyarakat!
Kritikan prinsip yang dilontarkan pada feminisme khususnya yang radikal (Women´s Lib) adalah bahwa mereka dalam obsesinya kemudian ´mau menghilangkan semua perbedaan yang ada antara perempuan dan laki-laki.´ Jelas sikap radikal yang mengabaikan perbedaan kodrat antara kaum perempuan dan laki-laki itu tidak realistis karena faktanya toh berbeda dan menghasilkan dilema, sebab kalau kaum perempuan dilarang meminta cuti haid karena kaum laki-laki tidak haid pasti timbul protes, sebaliknya tentu pengusaha akan protes kalau kaum laki-laki diperbolehkan ikut menikmati ´cuti haid dan hamil´ padahal mereka tidak pernah haid dan tidak mungkin hamil.
Dalam etika kehidupan-pun, sebagian besar masyarakat kita masih menganggap kaum perempuan adalah kaum yang lebih lemah. Kita jumpai dalam setiap kejadian emergency, kebakaran, kecelakaan dan bencana lainnya. Para "team penolong" selalu akan menolong "women and children" lebih dahulu. Ini sebenarnya didasari atas rasa kemanusiaan saja bukan atas diskriminasi gender.
Kesalahan fatal feminisme radikal ini kemudian menjadikan laki-laki bukan lagi sebagai mitra atau partner tetapi sebagai ´saingan´ (rival) bahkan ´musuh ´ (enemy)!´ Sikap feminisme yang dirusak citranya oleh kelompok radikal sehingga menjadikannya ´sangat eksklusif´ itulah yang kemudian mendapat kritikan luas.
Kritikan lain juga diajukan adalah karena dalam membela kaum perempuan dari sikap ´pelecehan seksual;´ mereka kemudian ingin melakukan kebebasan seksual tanpa batas, seperti ´Women´s Lib´ mendorong kebebasan seksual sebebas-bebasnya termasuk melakukan masturbasi, poliandri, hubungan seksual antara orang dewasa dan anak-anak, lesbianisme, bahkan liberalisasi aborsi dalam setiap tahap kehamilan. Kebebasan ini tidak berhenti disini karena ada kelompok radikal yang ´menolak peran kaum perempuan sebagai ibu rumah tangga´ dan menganggap ´perkawinan´ sebagai belenggu. Andrea Dworkin bahkan menganggap &380361hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan tidak beda dengan perkosaan!´. Dalam hal yang demikian sikap ´Women´s Lib´ sudah melenceng jauh terhadap hubungan normal cinta-kasih antara laki-laki dan perempuan.
Di kalangan agama Kristen, feminisme itu lebih lanjut mempengaruhi beberapa teolog-perempuan yang menghasilkan usulan agar sejarah Yesus yang sering disebut sebagai ´History´ diganti dengan ´Herstory´ dan lebih radikal lagi agar semua kata ´Bapa´ untuk menyebut Allah dalam Alkitab harus diganti dengan kata ´Ibu.´ Ibadah dan pengakuan iman (Credo) tidak lagi menyebut ´Allah Bapa tetapi Allah Ibu´ atau the ´Mother Goddess,´ bahkan lambang salib perlu diganti dengan meletakkan tanda O (bulatan) tepat diatas lambang salib Kristus sehingga menjadi lambang kaum perempuan.
Kita sekarang menghadapi era informasi dimana kedudukan kaum perempuan dibanyak segi bisa lebih unggul dari kedudukan kaum laki-laki. Dalam hal dimana kedudukan isteri lebih baik daripada suami memang keadaanya bisa sukar dipecahkan, tetapi keluarga Kristen tentunya harus memikirkan dengan serius pentingnya peran ibu rumah tangga demi menjaga kelangsungan keturunan yang ´takut akan Tuhan´ (Maz.78:1-8), dan disinilah pengorbanan seorang ibu perlu dipuji. Dalam hal seorang ibu berkorban untuk mendahulukan keluarga sehingga bagi mereka karier dinomor duakan atau dijabat dengan ´paruh waktu´ lebih-lebih selama anak-anak masih kecil, seharusnya para suami bisa lebih toleran menjadi ´penolong´ bagi isteri dalam tugas ini.
Sungguh sangat disayangkan bahwa banyak tokoh-tokoh perempuan sendiri tidak mengakui "pekerjaan ibu rumah tangga sebagai profesi" dan menganggapnya lebih inferior daripada misalnya pekerjaan sebagai dokter, pengacara atau pengusaha, dalam sikap ini kita dapat melihat sampai dimana kuku feminisme radikal sudah pelan-pelan menusuk daging.
Pernah ketika ada kunjungan Gorbachev, presiden Rusia waktu itu, yang berkunjung ke Amerika Serikat, isterinya "Raisa" bersama "Barbara", isteri presiden Amerika Serikat George Bush Sr. , diundang untuk berbicara disuatu "Universitas perempuan yang terkenal." Ketika keduanya berbicara, sekelompok perempuan yang bergabung dengan "women"s lib" meneriakkan yel-yel bahkan membawa poster yang mencemooh mereka karena mereka hanya menjadi ibu rumah tangga yang tidak bisa mempunyai karier sendiri. Bahkan, beberapa profesor perempuan menolak hadir karena merasa direndahkan bila mendengar pembicara perempuan yang hanya seorang ibu rumah tangga. Pembawa Acara, menanggapi kritikan-kritikan itu kemudian berkomentar bahwa "memang keduanya adalah ibu rumah tangga, tetapi karena dampingan keduanya, dua orang paling berkuasa di dunia dapat menciptakan kedamaian di dunia, suatu profesi luhur yang tiada taranya!"
5.B.SEBUAH INTROSPEKSI
Dibalik kritikan yang ditujukan terhadap "Women"s Lib" khususnya dan "Feminisme" umumnya, kita perlu melakukan introspeksi karena sebenarnya "feminisme" itu timbul sebagai reaksi atas sikap kaum laki-laki yang cenderung dominan dan merendahkan kaum perempuan. Ini terjadi bukan saja di kalangan umum tetapi lebih-lebih di kalangan yang meng "atas namakan" agama memang sering berperilaku menekan kepada kaum perempuan.
Dalam menyikapi "feminisme" sebagai suatu gerakan, kita harus berhati-hati untuk tidak menolaknya secara total, sebab sebagai "gerakan persamaan hak" harus disadari bahwa usaha gerakan itu baik dan harus didukung bahkan diusahakan oleh kaum-laki-laki yang dianggap bertanggung jawab atas kepincangan sosial-ekonomi-hukum-politis di masyarakat itu khususnya yang menyangkut gender. Yang perlu diwaspadai adalah bila feminisme itu mengambil bentuk radikal melewati batas kodrati sebagai "gerakan pembebasan kaum perempuan" seperti yang secara fanatik diperjuangkan oleh "Women"s Lib."
Bagi umat Kristen, baik umat yang tergolong kaum perempuan maupun kaum-laki-laki, keberadaan "sejarah Alkitab" harus diterima sebagai "History" dan data-data para patriach (bapa-bapa Gereja) tidak perlu diubah karena masa primitif dan agraris memang mendorong terjadinya dominasi kaum laki-laki, tetapi sejak masa industri lebih-lebih masa informasi, kehadiran peran kaum perempuan memang diperlukan dalam masyarakat selain peran mereka yang terpuji dalam rumah tangga dan Alkitab tidak menghalanginya. Tetapi sekalipun begitu, Alkitab dengan jelas menyebutkan adanya perbedaan kodrati dalam penciptaan kaum laki-laki dan kaum perempuan. Kaum laki-laki memang diberi perlengkapan otot yang lebih kuat dan daya juang yang lebih besar, tetapi kaum perempuan diberi tugas sebagai "penolong" yang sejodoh yang sekaligus menjadi ibu anak-anak yang dilahirkan dari rahimnya.
Kita harus sadar bahwa arti "penolong" bukanlah berarti "budak" tetapi sebagai "mitra" atau "tulang rusuk yang melengkapi tubuh." Kesamaan hak harus dilihat dalam rangka tidak melanggar kodrat manusia. Kita harus sadar bahwa kotbah-kotbah yang sering menyalahgunakan ayat-ayat Efesus fasal 5 tentang "hubungan suami dan isteri" (yang juga dilakukan oleh banyak penginjil perempuan) harus diletakkan dalam konteks bahwa "suami harus mengasihi isterinya" (Efs.5:25). Tunduk dalam ayat-22 bukan sembarang tunduk (seperti kepada penjajah atau majikan) tetapi seperti kepada Tuhan (Kristus), dan "kasih" bukanlah sekedar cinta tetapi dalam pengertian "kasih Kristus" yang "rela berkorban demi jemaat" (Efs.5:25) dan seperti "laki-laki mengasihi" dirinya sendiri" (Efs.5:33). Tentu kita sadar bahwa "berkorban" itu jauh lebih besar dan sulit dilakukan daripada "tuntuk" bukan?
Gerakan feminisme sudah berada di tengah-tengah kita, peran kaum perempuan yang cenderung dimarginalkan dalam masyarakat "patriachy" sekarang sudah mulai menunjukkan ototnya. Semua perlu terbuka akan kritik kaum perempuan yang dikenal sebagai penganut "feminisme" tetapi feminisme harus pula mendengarkan kritikan dari kaum perempuan sendiri maupun kaum laki-laki agar "persamaan" (equality) tidak kemudian menjurus pada "kebebasan" (liberation) yang tidak bertanggung jawab.

Peran Industri Kreatif Anak Muda Indonesia di Era Milenial

Sungguh beruntung, Kota Medan mendapat kesempatan dalam rangkaian sosialisasi 4 Tahun pemerintahan Kabinet Kerja yang diselenggarakan ol...