Senin, 30 September 2013

Opini Hilda @hammer City Adalah “Cambuk” Bagi Fiksianer!

Sebelumnya, saya ingin mengatakan bahwa, pada tulisan ini, saya tak akan membahas tentang sastra, kritik sastra,dsb karena ini bukan bidang saya. Yang saya tekankan di sini adalah interaksi kita sesama kompasianer. Bila ada yang merasa tak nyambung dan merasa tulisan saya ini berbeda dengan yang diinginkan, mohon dimaafkan. Saya memang buta sastra, namun bukan berarti tak mau belajar.
***
Kemarin lusa (25/9), saya dikejutkan oleh tulisan seorang senior, yang isinya bila dibaca seolah membunuh karakter teman-teman sekalian yang bercokol dibawah bendera fiksi. Banyak diantara komentar yang masuk pada tulisan itu yang mengatakan bahwa tulisan itu bukanlah sebuah kritikan, melainkan kegalauan penulis artikel berbahasa sombong itu. Katakanlah artikel itu adalah sampah, lalu bagaimana? Memangnya kita harus marah-marah, menuliskan caci maki, sampai kepikiran sendiri, ah.. galau sendiri dan menilai orang lain sampai sejelek itu di dalam kolom komentar, Sampai begitu, kah?
*
Sebetulnya, saya sudah melihat tulisan itu jauh dari sebelum teman-teman merasa terbunuh, lho! Lha wong saya bacanya 5 menit setelah dia posting tengah malam (kebiasaaan saya kalau ‘gak tidur, ya gini selain ngerjain skripsi). Tante Hilda yang tinggal di Palu ini, menayangkan tulisan tersebut pada pukul 02.11 wib. Saat itu, saya sudah membaca tulisan itu, cuma saya tak meninggalkan jejak apa-apa.
Kenapa tulisan itu bisa ada? Ya… mungkin karena tante ini agak risih bin galau waktu banyak menemukan link fiksi yang bertebar di home facebooknya. Saya pikir, tulisan itu tak ada apa-apanya dibandingkan dengan kita yang belajar di sini.
Komentar pertama pun masuk pukul 03.52 dan tetap, saya juga belum tidur. Saya rasa, berkomentar juga tak ada gunanya, karena saya tahu bagaimana maksud tulisan tante ini. Karena dari pukul 14.00-21.30 malam setelah nonton Insidious 2 baru ada di rumah, baru saya tinggalkan komentar setelah melihat hujatan orang di sana.
Tanggapan saya, “hehehe,,, makasih sepakannya tante.” Simple. Namun ada yang masih marah-marah juga atas tanggapan saya.
Kenapa saya komen begitu? Karena saya tahu kebiasaan tante itu. Beliau memang begitu sejak awal saya ber”karir” di sini (18/8/11). Saat itu ada tulisan tante itu yang mengatasnamakan Sastra Instan. Ingat?
*
Pada tulisan kemarin, tante ini meletakkan opininya di kanal fiksi. Nah, ini letak kekeliruannya. Lalu ada banyak pertanyaan komentator pada tulisannya tentang penyair Ketengan itu. Yang membuat orang tambah marah adalah karena setelah melemparkan opini nyinyir (ada yang bilang opini sampah), beliau tak menanggapi komentar teman-teman saat itu juga.
Ini saja jadi bahan keributan, ckckck.. dimaklumi saja, bro/sist. Mungkin karena keterbatasan signal internet di Palu sendiri. Atau mungkin, beliau malah tertawa melihat opini “sombong”nya diapresiasi secara “tinggi”. Saya rasa, tante Hilda juga akan menanggapi komentar dari kompasianer, setelah koneksi internetnya stabil, ya… seperti jawaban beliau di artike-artikel sebelumnya.
Mungkin tulisan ini akan dirasakan bahwa, Saya membela si tante. Come on, guys!. Jangan berpikiran picik seperti itu tentang saya. Saya bukan pembela siapapun seperti para  pemuja Arab Saudi yang bergentayangan di sini.
Lagipula, kenapa juga harus saya bela si tante itu? Toh, fiksi ketengan saya juga tak ada apa-apanya. Berarti, opini si tante itu juga kena saya dong! Terus kenapa saya gak marah? Saya sudah bilang, saya sudah kenal tabia’at tante tersebut.
Pengalaman saya di “sepak” selama di sini!
Sebelum kita merasa terhakimi dengan tulisan tante Hilda, saya juga pernah dilecehkan orang sampai dikatain bodoh, opini gila, pekok, dongo, dll. Bahkan sampai profil picture saya juga dikomentari.
Apa bisa Anda bayangkan bagaimana perasaan saya yang alhamdulillah sampai saat ini masih menjadi seorang perempuan. Tahu sendiri kan kalau perempuan itu sedikit-sedikit, mainnya diranah perasaan?
Bila boleh saya bandingkan, saat itu yang saya rasakan jauh dari yang teman-teman rasakan. Mengapa? Opini pengkerdilan itu ditujukan untuk saya sendiri, sampai-sampai,  dimanapun saya berkomentar, hantu itu selalu bergentayangan, mengebiri komentar saya dan memaki juga melecehkan saya. Lalu, bisa ditebak toh apa yg saya rasakan?
Saat itu, saya tak mau menulis lagi, sedih akibat mental saya down karena disepak terus sama orang itu (J). Saya ketakutan. Ini saya sendiri yg diserang walaupun dia menyerang orang lain juga. Tapi tidak berjamaah seperti yang dilakukan tante Hilda kemarin. Akhirnya dengan mendapat banyak sokongan semangat dari beberapa kompasianer termasuk keluarga saya di cengengesan family (CF), sayapun bangkit lagi.
Masalahnya sekarang :
1. Mengapa harus merasa salah dan kalah kalau kita tak seperti yang diungkapkan tante Hilda?
2. Sekarang, rasa kesetiakawanan kita muncul tiba-tiba begitu saat dihina pakai tulisan tante Hilda?
3. Dulu waktu saya dihina J,  yang ribut karena merasa dilecehkan tante Hilda, pada ke mana?
4. Di mana teman-teman ketika martabat pribadi perempuan saya dilecehkan oleh Kompasianer seperti M, J, dan N?
5.Sekarang N. Pasti berkomentar dilapaknya dengan menyebut2 si belok untuk saya, atau si kanin kumal untuk Anindya. Lalu, marahkah saya?
6. Di mana teman-teman yang seolah bahu membahu sekarang dalam menghadapi opini tante Hilda?
Simple jawabannya, karena kita yang meributkan tulisan tante itu, tak pernah mau peduli sama penulis lain. Sombong mana, coba? Atau karena teman-teman ada yang tidak tahu apa-apa?
*
Buka mata kita lebar-lebar, kita semua ditampar berjamaah sama opini tante Hilda. Kenapa kita harus marah? Ya, karena kita dilecehkan dong. Toh bila dibandingkan dengan J,M dan N yang mengejar-ngejar opini saya, lebih parah lagi. Mereka mengejar perorangan. Terlebih J yang selalu mengejar saya dan bu Ira.
Dulu memang saya marah, sakit hati, kecewa, juga tak mau menulis lagi. Sekarang saya malah harus berterima kasih sama si J, M, dan N ini. Jika tak ada mereka yang menampar saya, saya tak akan tertempa dan menyadari Passion saya.
Kalau boleh jujur, saya belajar sama tetangga bagaimana caranya dia bertahan setelah dihujat sana-sini. Setelah melihat apresiasi teman-teman dan kegigihan si tetangga itu, akhirnya saya mulai lagi dr nol, padahal untuk bangkit itu susah. Tapi saya sadar, ini dunia saya dan tak ada seorangpun yang dapat menghentikan langkah saya!
*
Saya tak ambil pusing dengan tulisan sepert punya tante Hilda. Sudah biasa bagi saya. Justru yang mengecewakan adalah tanggapan teman-teman terhadap saya yang seolah mengatakan, “saya tak punya hati.”
Baik, katakanlah saya memang tak punya hati. Karena si hati ini paling mudah  sakit bahkan anti kritik. Kalau selalu dipakai si hati ini, kapan kita mau maju, bro/sist? cara amannya adalah menyeimbangkan antara penggunaan logika dan etika, agar tercipta suatu estetika. Begitu kata dosen saya.
Maaf, untuk tulisan tante Hilda, saya memilih menggunakan logika saya. Mohon maaf sekali lagi, bukan ingin menggurui teman-teman sekalian pegiat sastra. Bagi saya,opini tante Hilda (walaupun bahasanya salah) adalah cambukan bagi kita semua agar kita yang tengah berproses bersama-sama di sini agar tak merasa pongah akibat keseringan dipuji. Bagi yang belum menemukan cambukan itu, coba lagi. Silahkan Logikanya diputar-putar, dibolak-balik, dibanting-banting sampai cambukan itu kita dapatkan.
*
Hujatan dan justifikasi yang saya terima dari orang-orang yang mengatakan saya syiahwati, liberalwati dsb, juga tak saya pedulikan, toh saya ‘tak mengenal mereka.Yang perlu kita tahu, sebelum anda di”makan” oleh hilda, saya yang perempuan ini telah di”makan” terlebih dahulu oleh J, M, dan N.
Satu lagi, ini yang disampaikan salah seorang pegiat sastra ketika chat dengan saya kemarin “dia emang sengaja mancing emosi orang.. tujuannya buat lihat seberapa jauh seseorang itu mampu berpikir tanpa hasutan emosi negatifnya.. cantik cara mainnya.. kita lihat aja nanti cara dia membalas komen.”
Sadar ‘gak sih, tante Hilda ini memang pandai mem”bodoh”i kita dengan lemparan bomnya sehingga kita kelimpungan, buang-buang energi dan menghujat orang. Duh, rugi bro/sist. Udah nulis di sini dak dapat apa-apa kalau gak masuk freez, masa’ mau sih buang-buang pikiran untuk sesuatu yang “gak banget”?
Setiap orang/kompasianer memiliki style dalam menulis, silahkan. Jadikanlah cambukan tante Hilda agar kita mampu bercermin diri. Hidupmu di tanganmu, bukan di tangan siapapun, apalagi tangan tante Hilda! []

Terkait Pemadaman Bergilir, Masyarakat Sumut Menunggu Realisasi Janji Dirut PLN

1379902966175712322
Ilustrasi/ Admin (Kompas.com)
Terlebih dahulu, silahkan disimak yang berikut ini :
1. “Tempat kalian mati lampu, gak?”
2. “Kakak dan abang semua, udah adzan belum ya? Tolong infonya dong. Di rumahku mati lampu dari sebelum magrib.”
3. “Kayaknya PLN deh yang punya negara sekarang, ngatur-ngatur aja. Gak cukup sekali/hari.
Pertanyaan dan pernyataan di atas adalah ungkapan kekecewaan atas pemadaman begilir (baca: tidak wajar) yang kerap terjadi di Sumatera Utara, khususnya kota Medan.
Terhitung sejak beberapa bulan lalu (baca: sebelum ramadhan) hingga kini, tak cukup sekali/hari, tapi 2-3 kali, bahkan sampai 4 kali sehari, hal ini harus kami nikmati yang mana ini adalah suatu ketidakwajaran yang kerap kami alami di sini.
*
Di dalam setiap rumah, kami memiliki berbagai alat elektronik yang akan rusak, bila pemadaman tak wajar ini sering terjadi. Jangankan pemadaman, tegangan listrik yang kurang (baca: lampunya redup) juga kerap saya alami, seperti beberapa malam ini. Mau nge-charge Ponsel  dan notebook, jadi takut karena sudah pengalaman dimanaAdaptor notebook saya tak dapat digunakan lagi (baca: rusak). Waktu itu, saya tak tahu kalau tegangan listrik di rumah sedang turun. Jelas ini adalah suatu kerugian, bukan?
Adanya pemadaman bergilir (baca:tak wajar) ini juga berdampak pada traffic light, dimana semua pengguna jalan tak tahu kapan harus memberhentikan kendaraannya. Selain membuat macet parah, tentunya situasi yang tak bisa ditolerir ini juga rawan kecelakaan.  Jelas bahwa ini merupakan momok tersendiri bagi warga. Apalagi, pasca kejadian yang menyebabkan banyaknya tahanan Lapas Tanjung Gusta yang kabur, pemadaman ini juga masih terus saja terjadi.
Terkait pamadaman tak wajar ini, warga Tanjung Morawa dan Binjai telah melakukan demonstrasi ke kantor PLN di tiap ranting daerahnya beberapa hari yang lalu. Untuk diTanjung Morawa sendiri yang daerahnya memang banyak dihuni oleh pabrik, tentunya ini merupakan suatu kerugian. Koordinator aksi damai tersebut mengatakan,“kami minta PLN menghentikan pemadaman listrik bergilir ini, sebab pemadaman ini sudah tidak bisa ditolerir lagi. Gara-gara listrik padam, alat ektronik dirumah kami rusak, kami juga terancam di PHK karena mesin operasional pabrik rusak akibat listrik sering padam.”
Sejak keadaan ini semakin “menggila”, kebanyakan masyarakat yang tak mau menikmati pemadaman listrik ini, memilih menggunakan genset. Tentunya genset ini agar dapat bergerak, diperlukan bahan bakar, bukan? Berapa lagi biaya pembelian kedua barang “mewah” tersebut, sementara upah/gaji karyawan/rumah tangga tetap segitu-gitu saja?  Seperti yang dialami oleh banyak pedagang yang mengeluhkan berkurangnya omset penjualan mereka akibat harus menggunakan genset.
Itu baru dari segi biaya, bagaimana dari segi nyawa? Nyawa lho ini! Siapa yang berani main-main sama nyawa seseorang? Tapi, penggunaan genset ini juga telah menelan korban jiwa. Pada sabtu (14/9/13), ada masyarakat yang meninggal dunia akibat menghirup asap genset.
Pemadaman tak wajar ini tentunya semakin menambah kemarahan warga bila membaca berita dari kompas.com ini. Akibat ditemukannya pejabat PLN yang korupsi dan telah ditahan sejak 29 Mei 2013 lalu di Lapas Tanjung Gusta, berkas kesalahan mereka yang telah merugikan negara sebesar Rp 23,94 Miliar tersebut, telah dilimpahkan oleh tim penyidik Tipikor Kejaksaan Agung ke penuntut umum Tipikor pada Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Medan. Kajari Medan, Muhammad Yusuf juga mengatakan, akan ada tersangka baru karena Direktur CV Sri Makmur, Yuni berstatus Daftar Pencarian Orang (DPO).
Pemadaman ini bukan hanya dikeluhkan oleh kami sebagai masyarakat, namun juga oleh orang nomor satu di provinsi ini. Gubernur Sumatera Utara yang terpilih pada pemilukada 7 Maret 2013 lalu, juga turut kesal dengan keadaan ini. Bapak Gatot Pudjonugroho mengatakan agar PLN wilayah Sumatera Utara tak semena-mena dalam melakukan pemadaman ini, toh warga yang marah juga menghubungi beliau lewat telepon dan SMS karena sudah jengah dengan situasi ini.
Dalam wawancaranya itu, beliau juga mengatakan, “Kemarahan warga di Binjai dan Lubukpakam dua hari lalu, menurut saya harus menjadi kemarahan terakhir warga pada kinerja PLN. Tolong segera dibuat jadwal pasti terkait pemadaman, sebelum akhirnya November nanti ada solusi. Saya juga himbau masyarakat tetap bisa berlapang dada dan bersabar, hindari aksi-aksi anarkis. Karena justru akan merugikan kita semua,”
Dikatakan oleh Dirut PLN, Nur Pamudji, beliau juga meminta maaf kepada seluruh masyarakat Sumatera Utara akibat pemadaman ini. Cara ini juga sebenarnya ditempuh untuk mengamankan pembangkit-pembangkit itu dari kerusakan yang parah. Beliau juga berjanji, bahwasanya keadaan ini akan berakhir hingga akhir oktober mendatang, sekaligus memastikan bahwa pada awal November, keadaan sudah normal kembali. Dalam mengakhiri wawancaranya, beliau mengatakan, “Kami mohon dengan rendah hati kepada masyarakat Sumatera Utara untuk dapat menerima kondisi sementara ini. Inilah jalan terbaik karena kita berpikir jangka panjang.”
Sesungguhnya situasi ini dapat saya dan warga lainnya maklumi bila pemadaman begilir ini dilakukan dengan adanya pemberitahuan sebelumnya lewat media cetak, elektronik, maupun internet. Itupun sewajarnya saja, maksimal 1X/hari. PLN mungkin rugi, tapi kami, warga yang menggantungkan sebagian kecil “hidup”nya kepada PLN, mengalami kerugian hingga meninggal dunia gara-gara genset.
Tentunya keresahan sekaligus kemarahan warga ini, sebaiknya juga menjadi bahan introspeksi bagi PLN wilayah Sumatera Utara dalam meningkatkan kinerjanya dalam upaya penyaluran listrik yang lebih maksimal.
Sekarang, mungkin kami hanya bisa bersabar dengan kebijakan PLN sekaligus juga harus memaklumi keadaan ini. Akan tetapi kalau pemadaman tak wajar ini terus berlanjut (lewat dari bulan November) seperti yang dijanjikan Dirut PLN tadi, maka saya pribadi juga tak tahu apa yang akan dilakukan masyarakat Sumatera Utara yang sudah keseringan makan janji palsu, baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. []

Sabtu, 21 September 2013

Je t'aime, Still Thinking of You, Dear!


1379697961952532734
http://penanies.blogspot.com/

*
Rahasia ini selalu kusimpan rapat. Tentunya tak elok bila harus kuceritakan pada orang lain selain sahabat, sekaligus adikku, Maria. Namun, kepergiannya ke luar kota tentunya membiarkanku dalam dilema yang cukup mendalam. Di satu sisi, aku merelakannya pergi demi tugas dan perkembangan kariernya. Di sisi lain, aku butuh tong sampah lain selama kepergiannya yang  juga mampu menjadi luapan rasaku terhadap Hendra, sang lelaki yang sampai saat ini selalu ada di sampingku walau aku tak ada di hatinya. Seandainya mampu kuungkapkan, Je t’aime, Hendra. Namun, tetap saja, aku hanya bisa diam. Ah, apa kabar kau, Hatiku?
Sebelum Maria pergi, ia selalu berpesan agar mencari tambatan hati yang lain. Maria menyarankan agar aku menyukai orang lain atau membuka hati bagi siapa saja yang ingin memasuki hatiku. Ini yang sebenarnya menjadi kebimbinganku. Mampukah aku menerima yang lain sementara hati dan pikiranku masih tak berpindah dari Hendra?

*

Senin, 16 Sepetember 2013

“Hai, kamu Sarah yang kerja di LSM di sebrang cafe ini, ya? Tanya seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul di hadapanku.
“Ya, ada apa? Tanggapku cuek sambil meneguk Iced Coffee Latte pesananku.
“Kenalkan, saya Marko.” Ucapnya sembari tersenyum. Ya, Senyum yang manis mungkin. Namun bagiku, tak ada senyuman yang lebih manis dari kepunyaan Hendra. “Ok. Terima Kasih.” Balasku singkat.
“Sepertinya kamu sedang sendiri ya?” Pertanyaan basa-basi yang memang basi menurutku. “Memangnya seperti apa yang kamu lihat?” Jawabku lagi.
“Ya sendiri sih kelihatannya. Kalau gitu, aku duduk di sini. Bang, Cappucino dinginnya satu.” Permintaannya kepada sang waiter yang segera melengggang ke dapur. Sembari memberi senyuman, ia pun menghempaskan pantatnya ke kursi di hadapanku yang sebelumnya tempat kuletakkan kaki.
Basa-basi lainnya pun segera dilancarkannya padaku, dan aku? Tetap cuek dan enggan menggubrisnya. Sosok Hendra yang masih kujaga pada hati terdalamku, padahal di hadapanku ada lelaki lain yang cukup tampan, rapi dan kelihatan seperti eksekutif muda. Dan dari obrolan ini, mengisyarakatkan rasa sukanya kepadaku dengan terus menyunggingkan senyumnya.
“Duh, ini orang kenapa sih? Aku tak mau GR”. Begitu kata hatiku sembari sibuk dengan laptopku. Sementara dia terus menebar rayuannya padaku hingga aku lelah mendengar celotehannya yang menurutku tak penting dan membosankan. Lagi-lagi batinku menyalak, “ngomong apa sih?”
Segera kuhabiskan Iced Coffee Latte di depanku, dan berpamitan padanya. “Maaf, saya  harus kembali ke kantor. Masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan.”
“Baiklah, Cantik. Tapi sebelum kamu pergi, saya minta nomor ponselmu ya?” ucapnya.
“08XX69488699.” Tulisku di selembar kertas pemberiannya dan aku pun segera kembali ke kantor.

*

Sesampaiku di kantor, aku tak langsung melanjutkan pekerjaanku. Apalagi Hendra tak ada di ruangannya, mungkin sedang ada keperluan di luar. Ah… Sepi. Terlebih Maria sedang pergi. Segera kutuliskan curahan hati seperti biasanya di blog pribadiku. Mungkin kali ini aku akan menuliskan tentang Marko.
Marko itu tetap sama seperti lelaki lainnya di mataku. Perkenalan yang seperti biasanya ia tebarkan. Penuh intrik dan Licik seperti perpolitikan negeri ini. Tak ada yang menarik bila dilihat dari tutur katanya.
Dia sungguh membosankan. Rayuan seperti itu sangat memuakkan bagi perempuan yang sering berinteraksi dengan berbagai macam lelaki di kantor ini. Marko tak ubahnya seperti lelaki yang sebelumnya juga. Lelaki durjana itu. Lelaki yang telah kukenal sejak lima tahun yang lalu.
Tiba-tiba, bayangan Rian pun menelusup dalam ingataknku. Rian yang awalnya memberi kesan sopan dan menerima walaupun amarahku sedang meluap-luap. Kesabarannya juga ternyata tak mampu meluluhkan hatiku. Entah berapa kali, ucapan kata cinta menari-nari ditelingaku, juga melintas di mataku lewat chattingan kami. Hati kerasku tetap saja tak melemah. Kurasa iapun menyerah.
Lama tak saling berkomunikasi, secara mengejutkan ia mencoba memperbaiki hubungannya denganku. Ya… Mungkin kali ini memang harus kusambut dengan tangan terbuka mengingat, hubunganku dengan Hendra mungkin tak memiliki harapan untuk berubah dari sebatas teman yang saling mengisi. Juga mengingat nasehat Maria yang menyuruhku untuk membuka hati untuk lelaki lain.
Setelah kucoba dan memang hubungan ini kembali baik. Ketika kutanyakan bagaimana perasaannya padaku, ia Cuma menjawab, “aku gak bisa ngomong. Soalnya aku gak terlalu suka basa-basi. “Nice, mungkin lebih baik begitu.” Pikirku.
Saat itu, aku tengah mencoba merelakan hatiku jika harus dimiliki oleh Rian. Untuk itu, aku mencoba menfikanmu, Ndra. Ditengah-tengah kegembiraanku menjalani pendekataan degan Rian, secara mengejutkan suatu malam ia mengajakku chatting. Awalnya hanya menanyakan kabar, lama kelamaan pembicaraanpun menuju soal seks. “Apa-apaan ini?” Pikirku. Lalu
“Hei, ini benar kamu Yan? Kok chattingannya gitu ya?” tanyaku
“Iyalah, ini aku. Kenapa? Ah, aku Cuma berani di chatting aja. Kalau ketemu, mana berani aku. Aku Cuma mau buktikan kalau aku sayang sama kamu, Sarah. Makanya aku berusaha jujur dan menceritakan semua tentangku padamu” balasnya.
Kukatakan saja bahwa aku tak suka pembicaraan menjurus seks seperti ini. Tak munafik, jangankan dia sebagai lelaki, aku juga membutuhkan itu. Namun, sangat tak pantas jika untuk membuktikan cinta, harus melayaninya membicarakan soal seks.
Mungkin tanggapanku terlalu keras padanya. Ah, biar saja. Mau keras atau tegas, yang penting aku agak risih jika harus membicarakan hal itu, apalagi baru di tahap pendekatan. Ok, cukup untuk masa pendekatan yang harus kuakhiri dengan ketegasanku, daripada aku dilecehkan dan berakhir dipenjara karena membunuh orang.

*

Entah dari sudut mana saja, cukup banyak dari mereka yang hanya ramah di awal namun setelah lama berkenalan, mereka mulai tak sopan. Ini juga yang kutakutkan dari Marko. Aduh Ndra,,, coba deh buka sedikit hatimu buatku. Aku tetap tak bisa menggantikan pesonamu dengan sosok lainnya. Tetap saja dia atau mereka yang pernah bermain bersamaku, tak ada yg sesantun kamu, Ndra. Kamu itu berbeda. Dari awal hingga kini selalu sama, jangankan melecehkanku, mengajakku perang opini pun tak pernah kaulakukan.

Mungkin orang akan berkata bahwa aku buta. Namun bagiku, tutur bahasamu mencerminkan kepribadian lembutmu, walaupun banyak yang tega mengulitimu di kantor ini.Aku yang mengenalmu tetap menghormati kecakapanmu, kok. walaupun kau bukan milikku, ah… ini tetap saja.

*

Dan entah mengapa, semakin berusaha untuk menafikan rasaku padanya, semakin menyiksaku. Perlahan, rasa ini semakin menenggelamkan angan dan ingatanku pada sosok lelaki itu, Hendra. Dia yang tak pernah tahu akan luapan rasa yang hanya kupunya untuknya dan jelas, tak mampu kunafikan.
Salahkah aku berharap padanya? Bodohkah aku sebab masih menyimpan segudang rasa bahkan jutaan rindu bila sehari saja tak melihatnya? Ataukah harus kuganti sosoknya dengan yang lain?

Sabtu, 07 September 2013

Aku dan Kau, Sama !

Siapa kau permasalahkan tubuhku? Sementara, entah berapa lengan pernah memelukmu Siapa kau menuntut keperawananku? Sementara penismu? Entah berapa kali menikmati vagina mereka yang tak kutahu Tak usah berlagak menjadi lelaki suci, kini Sementara nikmatmu penuhi lubangku, kini Kau dan aku adalah sama Menikmati madu mereka Tanpa pernah tahu akan saling jatuh cinta
Cinta yang tak terduga Jangan munafik, sayang Kita adalah sama Bukankah sesama penikmat 
dilarang saling menghujat? Sudah, lupakan kisah kelam dahulu Kubur itu dalam-dalam Jangan jadikan itu alasan 'tuk akhiri kisah kita Bukankah kau dan aku telah bersama kini? Dan nikmat itu akan kita jamahi setiap hari

[FS] Monolog Sunyi : Betapa "Sensual"nya Negeri Ini

Semakin hari, semakin heran ketika kutatap langit di kotaku. Entah oleh sebab Global warming yang efeknya sepintas masih terasa, cuacapun menjadi tak menentu. Seperti pagi tadi, akibat hujan semalam, mampu melumpuhkan hampir semua aktifitas, dari pagi sampai sore tadi. Seketika, cuacapun cerah sampai malam ini. Seperti itulah perubahan yang siap mematuk kita, kapan saja, bahkan oleh negeri melati ini. Negeri yang  terkenal dengan keramahan individunya ketika berinteraksi. Namun, terdapat ribuan, bahkan jutaan klausul yang siang telanjangi negeri yang tengah berkembang ini.

***

Dimulai dari para mahasiswa. Kaum terpelajar yang melakukan demonstrasi menolak ini dan itu yang ingin diberlakukan oleh pemerintah. Kalau demonstrasinya dengan aksi damai, akupun setuju. Tapi kalau sudah merusak infrastruktur suatu tempat, bagaimana? Mesti didiamkan? Terkadang kebingungan menghampiri pikiranku akan mereka yang diam saja dengan perlakuan para mahasiswa, kaum intelek yang kelakuannya sangat jauh dan tak mengagungkan intelektualitasnya. Mengapa tak sedikit orang yang menyetujui hal bodoh yang mereka lakukan? Mereka yang setuju, selalu mengajariku untuk berkaca pada kasus 1998. Mereka selalu berbangga, oleh karena demonstrasi mahasiswa yang mengorbankan temannya, mampu menumbangkan rezim 32 tahun itu. Dapat dikatakan hal itu wajar, mengingat rakyatpun bosan dengan rezim KKN itu. Hm...

***

Selanjutnya, institusi yang kerap kali melakukan kecurangan. Membela yang salah, juga menyalahkan yang benar, hanya demi mendapat rupiah. Seperti yang kualami beberapa waktu lalu. Aku yang hampir meregang nyawa di usia ke 22, masih juga dituduh bersalah. Tanpa mengintrogasiku, mereka langsung meminta rupiah dari kakakku demi menutup kasus yang hampir menewaskanku. Padahal, tanah merah itu belum menguburku.  Aku masih mampu memberi keterangan, bahwa bukan aku yang bersalah. Namun tetap saja, aku yang harus menderita. Sudah jasadku hampir mati, namun ternyata, naluri mereka sudah terlebih dahulu mati. Juga kasus tilang, yang kali pertama dibebani 21 ribu, tiba-tiba kemarin, pecahan biru, ungu dan oranye terang meluncur dengan gemulai ke tangan petugas pengadilan. 

Oleh sebab kecewa dan sakit hatiku akibat perlakuan mereka, ketika ditanya, maka aku pun balik bertanya, warga mana yang pernah benar bila membela diri di hadapan mereka? Ah... aparat negeriku! Kasusku saja tak bisa diselesaikan dengan adil, masihkah kau meminta anak negeri ini untuk mempercayaimu? Lalu kasus sang model cantik, bagaimana? Aku tak percaya, sang model yang juga manajer itu meregang nyawa akibat terseret oleh sepeda motor. Sedangkan para saksi melihat, tangan sang model dipegang oleh pelaku.

***

Lalu mereka. Mereka yang tengah berkedudukan tinggi. Adakah mereka melihat kami, rakyat kecil yang dengan terpaksa merelakan rupiah kami demi biaya liburan mereka ke luar negeri. Katanya sih, demi mempelajari tata letak dan klausul negara lain yang bagus-bagus tentunya, agar digunakan di negeri ini. Untuk apa itu, tuan? Benarkah kunjungan Anda sekalian, memang murni demi memperjuangkan hak kami, rakyat kecil yang terlanjur berharap pada kursi empuk kepemimpinan kalian?

Jika memang benar, mengapa masih banyak anak sekolahan yang mesti berenang di sungai demi sampai ke sekolahnya? Lalu, mengapa sekolah mereka mudah rontok? Mengapa Tuan? 

Anda pasti menjawab, dananya sudah diberikan pada dinas setempat. Lalu saya bertanya, ke mana rupiah itu mengalir? Adakah sepenuhnya demi anak bangsa, generasi muda, penerus kalian semua yang sebentar lagi akan meringkuk di liang lahat? Apa malah telah disunat ke sana ke mari dan tinggal persenan kecil untuk mereka, bocah tak berdosa yang harus merelakan dana yang demi mereka, kalian gunakan untuk korupsi. Korupsi berjamaah!

Setiap menjelang pemilu, wajah-wajah tak berdosa kalian menghiasi kota, bahkan sampai ke pelosok desa. Kalian minta dipilih dan mengiming-imingi kami yang tak mengerti kejamnya perpolitikan negeri akan stabilitas regional yang terjamin. Sekarang mana??? Kedelai saja mesti diimpor!

Ah... Lelah kulihat kalian. Lagak kalian bagai peri, malaikat pelindung kami. padahal, kalian menggerogoti tubuh kami. Kalau sudah begini, adakah gunanya kalian duduk di dewan terhormat itu? Sudahkah kalian menjadi sosok Superman bagi kami? Di mana nurani kalian saat memandang kami yang tak bermewah-mewahan seperti kalian? Adakah kalian peduli? 
Namun, bagaimanapun juga, gunanya institusi yang dipimpin oleh Sang Ayam Jantan dari Timur itu, makin menunjukkan kredibilitasnya. Terbukti dengan semakin banyaknya koruptor, dari segala institusi, duduk di kursi pesakitan.

***

Belum lagi ormas itu. Ormas yang entah bagaimana, miliki banyak pendukung. Kalau aku protes, pasti dengan sigap, pendukung kalian mengata-ngatai aku, "ah... kau tak tahu diri. Negeri ini telah banyak dibantu oleh mereka. Dana yang tak sedikit mereka berikan demi memperbaiki kampungmu yang telah digagahi oleh Tsunami."

Oh, Ok... Aku sadar, aku tak buta. Mata telanjangku melihat bahwa mereka telah banyak membantu. Lalu, dengan memandang hal itu, aku tak boleh protes akan segala tindak tanduk mereka yang katanya menegakkan 'amar ma'ruf nahi mungkar' tapi dilakukan dengan kemungkaran. di mana nurani mereka yang menghalalkan segala cara, merusak sana-merusak sini hanya demi kebaikan dan syurganya. Memangnya Tuhan tak melihat tindakan mereka? Memangnya Tuhan merestui kerusakan yang mereka sebabkan? Dan kalian, betapa sempitnya pikiran kalian, jika kalian merestui perbuatan sia-sia mereka!

***

Aku bukanlah orang  pintar dan suci, tentunya aku tak pantas berbicara tentang kalian semua. Aku hanya si bodoh dan lugu, yang selalu setia menjadi penonton sekaligus korban kalian, baik korban materi, fisik juga psikis. Aku hanya satu, dari penduduk negeri berdaulat ini, yang mungkin mudah terenyuh melihat ketidakadilan bahkan kebengisan membunuh mental anak negeri, penerus kalian yang sebentar lagi mati.

Ah... Betapa sensualnya negeri ini. Seluruh dunia akan memandang negeri ini, negeri para dermawan yang rela dibodoh-bodohi oleh kalian, pelaku kebobrokan negeri ini.

Aku kejam? Ya... Katakanlah tulisanku ini kejam. Lalu, apa bedanya dengan kalian? Kurasa, kekejamanku tak ada apa-apanya dibandingkan perlakuan kalian pada republik ini. 




Hati-hati Membawa SARA dan Memaknai Sebuah Tulisan!

Dalam interaksi yang telah kita bangun sedari masa kanak-kanak, adalah tak dapat dinafikan jika kita sering melihat beragam individu dan pandangan yang berbeda-beda di sekeliling kita. Hal tersebut tentu saja adalah pemberian Tuhan yang tak mungkin dapat kita elakkan. Namun, sering kali perbedaan ini terlalu dibesar-besarkan oleh individu yang merasa bahwa segala kelakuan dirinya itu sudah yang paling benar. Dalam tulisan ini, penulis akan membahas dua perilaku sia-sia yang sering penulis amati.

1. SARA
Adanya perbedaan agama, suku, ras dan antar golongan (SARA) ini adalah anugerahNya yang sepatutnya kita syukuri, dan BUKAN merupakaan bahan olokan, celaan (ada yang terjadi di Kompasiana) dan demonstrasi seperti yang tengah dihadapi oleh Lurah Susan Jasmine Zulkifli yang memerintah di kawasan Lenteng Agung.Demonstrasi yang mengatasnamakan Agama ini, menurut hemat penulis adalah suatu kesia-siaan yang memalukan agama islam sendiri, padahal agama islam ini Rahmatan Lil ‘Alamin, kan? Dan Ibu Lurah sangat mengetahui posisinya yang terpojok itu sehingga enggan berkomentar banyak mengenai penolakan ini. Sebagaimana yang beliau katakan di kantornya (29/8), “Biarkan mengalir. Kalau kataGus Dur gitu aja kok repot. Pokoknya saya kerja saja. Apapun itu, saya diam saja. Saya kan cuma bawahan, apa kata atasan kita turutin.”
Tanggapan beliau itu sangat rasional. Mengapa penulis katakan demikian? Lurah Susan tersebut berada di tempat itu sesuai dengan SK Gubernur yang memiliki tugas pokok adalah untuk bekerja dan melayani warga, tentunya bukan mau mengajari penduduk sekitar dengan agama yang dianutnya.

Alasan lucu lain yang ada dalam demo ini adalah ketakutan si orator demo tentang kegiatan keagamaan yang rutin diadakan di kelurahan itu, tak dapat dihadiri oleh sang lurah. Kenapa penulis katakan lucu? Yang bekerja di kantor lurah, tak semua beragama Kristen. Nah, mereka ini dapat mewakili sang lurah, kan? Apalagi demo yang berlangsung itu disuruh oleh seseorang, seperti yang diungkapkan oleh Santi yang tertawa bingung tak mengerti akan keikutsertaanya dalam demo itu. Padahal, menurutnya tak ada yang salah dengan kepemimpinan Lurah Susan.

—> Sejatinya, kita sebagai manusia biasa, bukanlah sosok yang berhak mengatur-atur kehidupan orang lain. Apalagi kita berdomisili di suatu negara yang memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tetap satu jua. Adanya semboyan itu merupakan jalan untuk saling bertoleransi demi mewujudkan pribadi yang tepat guna. Bukannya malah menjunjung tinggi Intoleransi yang dapat menimbulkan perpecahan di antara kita. Ingat bung! Ini Indonesia, bukan Arab Saudi atau negara lainnya yang masih memberlakukan Pancasila dan UUD 1945 sebagai landasan negaranya. Seharusnya, kita yang mengaku sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) lebih menjunjung tinggi arti dari Pancasila dan UUD 1945 ini di mana pun kita berdomisili.

2. Makna Tulisan
Selanjutnya, saya ingin membahas tentang pemaknaan seseorang terhadap sebuah tulisan. Baik di berbagai portal media dan di Kompasiana sendiri, sering penulis dapati komentar-komentar miring terhadap apapun yang dibacanya.  Tak jarang, tulisan itu menjadi bahan olokan dari beberapa individu/Kompasianer yang gagal memahami tulisan tersebut. Ada pula yang membantah komentar dari orang yang telah lebih dahulu mengomentari tulisa/artikel itu.

Dan tadi pagi, ada satu tulisan yang sebenarnya membuat saya tak habis pikir membacanya. OK, silahkan katakan bahwa saya juga gagal paham akan tulisan itu. Yang jelas, saya mengetahui maksud yang tertuang dalam tulisan itu, toh himbauannya untuk kebaikan. Namun, sungguh lucu kalau menganggap tulisan yang judulnya berkonotasi negatif selalu identik dengan isinya yang juga negatif, padahal tak sepenuhnya demikian.

—> Mungkin penulis tersebut saja yang langsung terangsang sehingga onani berkali-kali ketika membaca judul tulisan, misalnya yang ini, tanpa mampu menjalankan pikirannya sendiri untuk memahami tulisan itu. Padahal kalau mau dipahami, tulisan tersebut sangat bermanfaat, apalagi tulisan itu berada di kanal filsafat. Tentunya kita mengerti apa maksud dari filsafat itu sendiri, bukan? Benar, adalah hak penulis sendiri mengeksplorasi pikirannya sendiri dan juga benar tulisannya yang sangat bermanfaat itu sangat berguna untuk setiap kompasianer. Namun, alangkah lebih baiknya jikalau penulis yang saya maksudkan berkaca. Berkaca bagaimana? Penulis mestinya menyadari bahwa ia juga pernah mengomentari sebuah tulisan dengan kata-kata yang tidak pantas! Tidak pantas bagaiman? silahkan pembaca baca sendiri komentar yang fenomenal tersebut. Sungguh ini memalukan bagi saya pribadi yang seorang perempuan.

*

Sebagai makhluk sosial, tentunya kita tak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain,  walaupun berbeda dari segi kearifan lokal budaya maupun agama masing-masing individu. Lalu, hidup kita ini juga diharapkan dapat berguna bagi orang lain, minimal bagi keluarga kita sendiri. Tentunya kedua hal singkat yang penulis bahas di atas adalah asa yang menunggu perwujudan yang konsekuen. Namun, terkadang kebanyakan dari kita merasa bahwa diri kita  telah sempurna dibandingkan orang lain, padahal ungkapan nobody’s perfecttelah kita gaungkan sedari kita mengetahui artinya. Lalu apakah cukup jika hanya mengetahui arti kata perkata?

Bagi pribadi yang malas berpikir, mungkin itu cukup. Namun sebaliknya bagi pribadi yang kritis serta tepat guna dan mampu menempatkan dirinya dalam berbagai lingkup, adalah hal yang bodoh jika tak mau memikirkan orang lain alias egois dan terlalu percaya diri sehingga menjelek-jelekkan orang lain dianggap sebagai hal yang ringan, bahkan ke tingkat keyakinan.
Hal yang demikian ini, sering sekali penulis dan kita temui, Padahal sejatinya, keyakinan adalah urusan yang paling prinsipil yang merupakan ranah kekuasaan seorang pemeluk suatu agama dengan Tuhannya, tentunya tak seorangpun boleh menjadikan bahan pergunjingan bahkan sampai olokan.

Menurut hemat penulis, adalah suatu kerugian yang teramat besar (kalau tidak ingin dikatakan kebodohan) ketika merasa diri ini sempurna, jika masih memiliki kekuatan untuk menghina orang lain, apapun bentuknya.

Perlu masing-masing kita ketahui, bahwa kita belum pantas disebut ustad, pastor, pendeta dsb jika masih melakukan hal itu. Dan jika ada yang terlalu menghormati kita  hingga terlanjur menyebut predikat tersebut pada diri kita, seharusnya kita berkaca dan bertanya pada diri kita sendiri, masihkah kita pantas dipanggil seperti pemuka agama manapun jika kita masih suka menggunjing, bahkan mengolok-olok orang lain?

Penulis bukan orang baik, bahkan sangat  jauh dari kata sempurna. Penulis tidak bermaksud menjelek-jelekkan orang melalui tulisan singkat ini, tapi sedang mengingatkan dirinya sendiri maupun pembaca sekalian agar hati-hati dalam menghakimi seseorang dan sebuah tulisan. Alangkah baiknya jika kita gunakan cermin itu untuk melihat dan mengukur kualitas diri kita masing-masing, bukan hanya untuk sisiran layaknya keseharian kita di rumah. []

[fS] Baluri Ragamu dengan Canduku


Aku iri pada aktifitasmu. Mereka memaksaku membebaskan alamku demi melihatnya menggerayangi tubuhmu. Birahiku meledak-ledak pada batangan rokok yang menghiasi bibirmu, seolah ia sedang mengejekku. Gila...! Aku benci semua ini, Sayang.
Bagaimana bisa mereka kau biarkan bebas untuk menggauli ragamu? Sementara aku? Jangankan ragamu, peluhmu saja tak sempat kuseka, sayang. Kau terlalu disibukkan oleh kecintaanmu pada pena dan kertas itu, seolah waktumu hanya untuk mereka.

Ketika menatapmu, muncul rasa iba di diriku. Aku merintih, jiwaku sakit, Sayang!!! Rasanya dadaku robek kala aku merelakanmu bersama mereka. Mereka seperti Marijuana, mereka menggerogoti tubuhmu. Sadarkah kau, bahwa mereka itu adalah sang penjamah hidupmu, hingga dirimu sendiri dapat kau lupakan?

Ya ya ya... Aku tahu, seorang pakar pernah berkata bahwa tiap manusia membutuhkan aktualisasi diri dalam hidupnya. Namun melihat aktifitas berlebihanmu, begitu menyayat hatiku, Sayang. Ah... Seandainya kau tahu, yang kau lakukan itu adalah kesia-siaan.
Kemarilah, Lelakiku. Rebahkan tubuhmu di sisiku, saat ini. Aku tahu, legalitas itu begitu menuntut waktumu untuk melupakanku. Aku bosan... Jujur kukatakan, lelahku menyaksikan aktifitasmu. Bukankah telah berkali-kali kukatakan, aku sangat mengerti akanmu?

Kemarilah, Sayang. Katakanlah padaku tentang mimpi-mimpimu. Si pekat juga telah menunggu kita, bahkan ia begitu setia di dapurku, menunggu untuk kau cicipi bersama perempuan ini. Perempuan yang setia menyuguhkan kopi, bersama dirinya yang sah untuk kau nikmati.Bahkan, perempuan inilah yang sangat mengerti akan keluh kesahmu tentang aktifitasmu yang orang lain tak tahu.

Rabu, 04 September 2013

Let Me Love You By Myself, Dear!

By : Auda and Anindya

1378242051745284190
http://penanies.blogspot.com/

Menjawab sekenanya pertanyaan dari setiap orang yang menanyakan tentang kedekatan kita adalah mudah untuk kulakukan. Toh, aku hanya bersandiwara demi menjaga martabat perempuanku agar tak jatuh di hadapan mereka, sekaligus tetap menjaga nama baikmu di kantor ini. Namun, menafikan rasaku yang terlanjur membesar padamu, mampukah aku?
*
Seringnya kucurahkan isi hati pada Maria sahabatku, kurasa iapun teramat bosan mendengarintensitasnamanya yang selalu kusebut. Dia dan hanya dia, Hendra. Maria, tak pernah lelah menasehatiku, meski tak jarang nasehatnya terkontaminasi dengan racun amarah. Namun tetap saja, Maria yang paling mengertiakan kekhawatiranku bila tak mendengar kabar dari sang lelaki, dan Maria juga yang tak henti-hentinya mengomel ketika aku memandangnya dengan tatapan kosong setelah mendengar nasehatnya.
Aku tahu bahwa itulah bentuk ketegasannya yang jengah dan tak sanggup melihat linangan air mataku, hingga suatu hari ia berkata, "kau gila, Sarah. Otakmu korslet. Coba kau benturkan dulu kepalamu ke dinding. Kalau berdarah, semoga kau bisa lupa sama si Hendra bodoh itu!"
"Mungkin benar, aku sudah gila, oleh sebabnya yang tak pernah, ah... bahkan ia tak boleh tahu akan kesungguhanku padanya. Aku tak ingin dia mengetahui rasa ini, Maria. Let me love him by myself and i won't tell him, Sist.Jawabku sembari menyeruput Espresso pahit pesananku di cafe itu, kemarin.
Jawabanku itu semakin mengesalkan Maria, “Ok, sampai kapan kau mau segila ini? Sampai kapan kau mau mengorbankan perasaanmu? Sampai kapan? Sampai kau mati?” tanyanya sambil memukul-mukul meja.
“Biarkan saja aku begini, toh yang dia tahu, aku selalu baik-baik saja,kan?” senyumku lirih.
Mendengar jawaban ringanku, Maria sedikit melemah. Ia pun diam sejenak sembari menyeruput Espresso "Ada yang salah dengan pikiranmu, Sarah. Sepertinya sebelum mengenal Hendra, kau tak pernah sebodoh ini. Bukankah kau perempuan pintar yang tak mudah menyerah, bahkan melawan penyakitmu sendiri?”.
Dan aku hanya terdiam, mendengarkan amarah Maria yang saat itu seperti ingin menelanku hidup-hidup.
*
Layaknya mentari dan rembulan yang sudah diatur oleh sang pencipta untuk menyinari manusia setiap harinya, begitu pula adamu bagi hatiku. Hati seorang perempuan yang menunggumu, selalu, bahkan rela membuang waktunya demi menantimu. Benar, wujudmu memang tak pernah pergi. Kau ada di dekatku, bersamaku lewati hari sembari menikmati kopi kegemaranku di cafe yang letaknya tak jauh dari rumahku. Aku selalu ingat pesananmu, selalu teh, kan?
Ya... aku tahu, kau memang kurang menyukai kopi. Aku mengetahui apapun yang kau sukai maupun yang kau benci. Hubungan kita teramat dekat, nyaris tak terpisahkan. Di setiap waktumu, pasti ada diriku, begitupun aku ada untukmu. Namun tetap saja, adaku di sisimu bukan sebagai cintamu. Dengan penuh kerelaan hati, aku pun mampu menjadi sandaran bagimu. Tentu saja, ini akan menambah kemarahan Maria sahabatku, jika ia tahu, aku selalu ada buatmu sedang kau tak tahu rasaku padamu.
*
Layaknya seekor Hiu yang bersiap menelan mangsanya hidup-hidup, kali ini Maria pun semakin marah mendengar curahan hatiku.
“Perempuan bodoh!!! Lelah kudengar namanya kau sebut. Amarahku meledak-ledak ketika nama itu terlontar dari bibir manismu, Sar. Sadarlah Sarah, Hendra tak baik untukmu. Kau itu terlalu lembut untuknya. Temukan lelaki lain. Jangan dibodohi perasaanmu yang membabi buta seperti itu.”
Tersentakku ketika melihat wajahnya memerah. Demi meredam amarahnya, maka kujawab sekenanya "Baiklah, akan kucoba." Senyumku pada Maria dan dibalas pelukan olehnya, lalu ia pun berkata, "Aku tidak mau melihat kakakku terus menangis demi lelaki yang tak pernah melihatnya."
*
Malam Minggu, sahabat sekaligus adikku ini berencana pergi bersama teman dekatnya. Melihat aku yang mengurung diri sedari pagi di kamar, ia pun berinisiatif mengajakku. “Sarah, jalan yuk. Jam 7, temanku datang. Kita mau nonton The Conjuring.”
“What the hell is that, Sist? Kau gila mau malam mingguan, ngajakin aku, terus nonton film hantu itu. Kamu saja yang pergi. Aku di rumah saja.” Jawabku.
“Mau apa kau di rumah? Mau menggalau lagi tentang Hendra dan berharap Hendra tiba-tiba muncul di hadapanmu? Impossible, Sist! Forget him or u’ll lose your chance to get your future with somebody like, Gaston Castano or Abraham Samad, maybe.” Lelucon Maria membuatku sedikit tersenyum.
“Ok, Sarah. Jangan aneh-aneh deh. Kalau kamu ‘gak mau ikut, aku pergi sekarang. Assalamu’alaikum kakakku yang suka menggalau.” Godanya dan kujawab, Wa’alaikumsalam adikku yang suka marah-marah.”
*
Sepeninggalan Maria, sadarku kembali berseru bahwa memendam perasaan cinta kepada seseorang ituseperti menghempaskan harga diri ke dalam sebuah peti mati, lantaran aku tak pernah mengatakan apapun padanya. Bukan karena aku tak berani mengungkapkan rasaku, toh bila memandang kedekatan kami selama ini, hubungan kami amat baik, bahkan cenderung intim, walaupun tanpa penetrasi seksual.
Ya... sampai kini memang tak pernah kusampaikan padamu. Aku memilih untuk mengunci mulutku rapat-rapat ketika harus menatapmu. Maria selalu mengancamku bahwa dia akan mengatakan ini semua padamu, namun selama ini dia masih menjaga perasaanku.
*
"Ah... Seandainya kau tahu, Ndra." batinku sembari mendengarkan lagu Adele - One and only yang mewakili perasaanku saat ini. Rasanya, aku tak ingin mendengar amarah Maria lagi, tentang Hendra. "Aku tak mau kalau angin nerakanya Maria tiba-tiba menyalak dan mengatakan keadaan hatiku yang sebenarnya padamu.
Aku tak mau Maria tiba-tiba menamparmu di muka umum atau berteriak-teriak yang pada akhirnya mempermalukanmu. Aku mencintaimu, Ndra. Untuk itulah, aku memilih mendiamkan ini semua dari Maria, untuk melindungimu. Baiklah, aku tetap diam dan menjalani kehidupan seperti biasanya." Kembali kumembatin. sesaat kemudian, mulai kutuliskan semuanya :
Sesungguhnya aku tak sanggup menahan buncahan rasa yang bergejolak ini. Namun adat ketimuran negeri yang kuagungkan ini memberiku dua pilihan. ‘Katakan dan kau akan merasakan malu yang luar biasa oleh kejujuranmu padanya atau memendam rasamu sampai waktu yang, ah... bahkan kau sendiri tak mampu menakarnya.’ Teramat berat bagiku memikul rasaku. Sungguh inilah timbangan yang mesti kupikirkan masak-masak. Tentunya, aku tak mau salah langkah. Ya... Karena aku perempuan.
Mungkin perkataanku tadi akan dianggap terlalu berlebihan bagi para penjunjung emansipasi negeri ini, namun tidak bagiku. Bagiku kata cinta tak lebih dari sekedar mengebiri hati nuraniku, ya... lagi-lagi karena aku perempuan.
Dan selalu, ketika cinta mulai mendekat aku selalu merasa ingin berlalu pergi. Namun entah mengapa, dadaku begitu sesak kala aku harus menepis rasa yang mulai bermunculan kini. Aku tak mungkin mengatakan padanya bahwa aku mencintainya, karena aku perempuan. Sampai saat ini, alasan ini yang menghalauku agar tak berbuat bodoh.
Sahabat, tahukah kau apa yang mungkin sedang aku alami? Terbesit dalam bayangku bahwa cinta hanya sekedar hasrat egoisme pribadi. Ingin rasanya, aku tak pernah mau jatuh cinta baik pertama maupun terakhir kali. Mungkin, dengan sikap ramah dan tegasku, aku cukup dengan melumpuhkan hati milik setiap laki-laki, lalu senyumku akan terkembang tanda jiwaku tengah berbangga, menikmati kekalahan mereka. Namun, dalam hatiku? Siapa yang tahu bahwa hatiku tengah berdarah?
Semua rasaku padamu seperti saat kucecap si hitam ini. Canduku pada kopi adalah seperti inginku padamu. Telah kunikmati beragam jenis si hitam ini, seperti pernah kutelusuri beberapa adam sebelummu, bahkan setelah mengenalmu. Namun tetap saja, pikiranku tertuju padamu. Jiwakupun sakit rasanya jika ada yang dengan tanpa rasa bersalahnya mengulitimu.
Aku memang bukan perempuan yang mampu mencandumu, membuatmu melupakan kesibukanmu dan meluangkan harimu untuk sedikit mengenalku lebih dalam. Mungkin Aku tak termasuk dalam kriteriamu. Namun berbeda dengan apa yang kurasa.
***
"Rasanya cukup itu yang kutuliskan malam ini, sebaiknya aku bersiap untuk tidur saja." Pikirku. Namun tetap saja, ketika telah berbaring, masih saja kupandangi langit-langit kamar sembari berucap, "Meramurasaku padamu adalah bagaikan meramu secangkir kopi. Semakin pekat rasanya, semakin berselera kucicipi harumnya."
"Jika pada kopi saja diperlukan keahlian sebagai Cupping Test agar dapat kutentukan cita rasa kopi yang nikmat, bagaimana pula dapat kunafikan rasaku padamu?"

[Review] Natu Savon Kose Cosmeport, Refresh Your Day with Apple & Jasmine

Hai Beauties. Kembali lagi ke blog saya yang kali ini masih akan membahas skin care. Namun, sedikit berbeda dari biasanya. Kalau...