Selasa, 28 Januari 2014

Caleg Artis Perempuan, Jangan Cuma Mengandalkan Popularitas!

Pada tulisan lalu, penulis telah sedikit mengulas  rekam jejak Angel Lelga, ketidakcakapannya dalam menjawab “gempuran”  Najwa Shihab di acara Mata Najwa 15 Januari 2014 lalu, dan motivasinya sebelum mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dari PPP  yang akan menuju DPR-RI dari dapil V Jawa Tengah. Kemudian, penulis juga muliskan sedikit tentang keterkejutan penulis pribadi akan majunya caleg dari PKPI yang diketuai oleh mantan gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso. Caleg yang dimaksud adalah Destiara Talita (25) yang sudah dua tahun belakangan ini menjadi model majalah pria dewasa. Tata sendiri telah dipersiapkan untuk bertarung di dapil VIII Jawa Barat.

Menjelang pileg 2014 ini, tentunya caleg dari kalangan selebritas juga bukan mereka  (AL dan Tata) saja. Sebut saja Jane Shalimar dari NasDem, Desi Ratnasary dari PAN dll. Namun, mereka tidak berpenampilan layaknya Tata sang Model Majalah Pria Dewasa. Masih dari PKPI, telah dipersiapkan seorang pedangdut yang kerap berpakaian seksi yang memiliki nama panggung, Camel Petir. Keduanya (Tata dan Camel) hadir sebagai Narasumber di acara Metro Malam, Minggu 26 Januari 2014 pada episode Kontroversi Caleg Seksi.

Model Majalah Pria Dewasa, Caleg dari PKPI

Ketika diwawancarai oleh Widya Saputra (presenter acara), menurut pengamatan penulis, Tata terlihat gugup dan kurang tanggap dalam menghadapi pertanyaan. Tata yang mungkin belum terbiasa “digempur” presenter, menjawab pertanyaan juga tidak nyambung,  padahal pertanyaannya itu sendiri sesuai untuk kegiatannya sendiri di dapilnya, lho! . Hemat penulis, ia yang merupakan mahasiswi  Fakulltas Hukum sebuah Universitas Swasta ini, seharusnya dapat tanggap. Melihat Tata, penulis teringat pada Angel Lelga yang juga tak jauh berbeda.
Satu kalimat yang sangat penulis ingat sekaligus mencengangkan dari penuturan Tata ketika ditanyai seputar mengapa bisa ia terjun ke dunia politik adalah, “Saya menjadi caleg HANYA untuk menutupi kuota 30% caleg perempuan”.Kata menutupi itu mungkin memang diawalnya, lalu ketika ia telah berkoordinasi dengan Sutiyoso, ia pun mantap untuk mengajukan diri menjadi caleg untuk di dapil VIII Jawa Barat.

Pedangdut Seksi, Caleg dari PKPI

Sejalan dengan Tata, Pedangdut bernama Camel Petir ini juga mantap menjadi caleg untuk dapil II DKI Jakarta, sebab ia juga merasa nyambung dengan Bang Yos (panggilan akrab Sutiyoso). Namun, sedikit berbeda dengan Tata, pedangdut yang memiliki nama asli camelia Panduwinata Lubis ini, cukup lumayan tanggap dalam menghadapi pertanyaan.
Dikatakan oleh lulusan Fakultas Ekonomi di salah satu Universitas Swasta di Medan ini, bahwa bila ia terpilih sebagai anggota DPR-RI, ia berkeinginan masuk di komisi X yang mewadahi seni dan olahraga. Ditambahkan olehnya, ”Dengan bekal pendidikan cukup dan aktif berorganisasi, mudah-mudahan saya bisa diberi kesempatan. Dari hati nurani yang paling dalam, saya tergerak ingin memberikan kontribusi untuk kemajuan daerah dengan jadi wakil rakyat.”
Selain itu, alasannya masuk ke DPR-RI  tentunya “pasaran”,  layaknya caleg kebanyakan yang selalu mengumbar janji dengan mengatakan ingin menjadi penyambung lidah rakyat dalam upaya mensejahterakan kehidupan rakyat. Lebih lanjut menurut Camel, ia tak memiliki bekal apa-apa untuk maju di dapil yang akan mempertemukannya dengan orang-orang hebat dan berpengalaman di dunia politik.Dikatakan olehnya,  “Aku nggak punya budget, nggak punya uang banyak, aku cuma punya cinta dan niat yang tulus."

Belum terpenuhinya 30% Kuota Perempuan
Para perempuan, baik masyarakat biasa maupun artis yang memilih untuk berkecimpung di dunia politik, sebenarnya memiliki keistimewaan tersendiri, lho! Kita perempuan, telah dianugerahkan oleh Tuhan kelebihan yaitu kepekaan yang luar biasa. Untuk itu, kita harus menggunakan kepekaan (baca: rasa kasihan) itu untuk menolong sesama. Tentunya, para anggota dewan yang laki-laki juga wajib memiliki ini. Namun pasti, untuk masalah perempuan yang cukup banyak dan kompleks, ini merupakan tanggung jawab anggota DPR yang perempuan juga.

Mungkin kita perempuan, boleh sedikit berbangga. Walaupun belum mencapai 30%, tahun 2009 yang lalu, kuota perempuan di DPR mencapai 18%. Angka ini menunjukkan bahwa banyak orang yang masih percaya kepada caleg/anggota DPR yang perempuan.
Edriana Noerdin, MA, Panel Ahli Woman Resarch Institute (WRI) mengatakan bahwa masyarakat yang terlibat FDG dengannya, lebih mempercayai anggota DPR yang perempuan karena jarang yang terlibat korupsi, walaupun tak sedikit masyarakat yang pesimis akan kualitas caleg, apalagi banyak yang dari kaum selebritas.

Hal tersebut rasanya wajar ditakutkan oleh masyarakat karena banyak caleg yang masih didapati foto seksinya di internet. Untuk partainya sendiri, dikatakan oleh Wasekjen PKB, Abdul Malik Haramain, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan KPU untuk harus turun tangan mengatasi persoalan tersebut.

Caleg Artis Perempuan, Jangan Cuma Mengandalkan Popularitas!
Tentunya, ranah politik ini bukan “lahan garapan” para caleg artis  ini sebelumnya. Namun, ia berharap pada kemampuan yang memang ada di dirinya agar dapat menghadapi kemustahilan politik itu sendiri. Alasannya, lebih karena ia adalah public figure. Jadi, dapat dikatakan, mereka terpilih dulu karena popularitasnya, lalu masuk ke DPR, baru setelah masuk, mereka belajar berpolitik. Bukan karena memang kecakapan mereka di dunia politik.

Memang, idealnya adalah caleg ini seharusnya memiliki basic skill politik yang menunjang. Namun, karena tak sedikit yang nekat atau bahkan ikut-ikutan, bagi caleg non-political skill, apa salahnya dicoba. Mungkin, dengan berpolitik ini dapat mengantarkannya ke tujuan pribadi. Jika mereka, para pekerja seni tulen yang tak memiliki skill politik, sebenarnya mereka dapat menyuarakan aspirasi masyarakat melalui sikap oposisi yang tegas. Teguh berpihak kepada rakyat, bukan ke arah drama politik.

Melihat fenomena banyaknya selebritas yang akan mengadu peruntungan di dunia politik, tentunya memberikan satu warna tersendiri bagi pemilih. Mereka, para caleg yang maju di pileg kali ini, memang tak melewati uji kompetensi caleg yang signifikan. Namun, kepada mereka diharapkan benar-benar mengerti akan carut marutnya dunia politik republik ini. Tak sampai di situ, mereka harus benar-benar mengetahui berbagai masalah yang mengelilingi tanah air dan memiliki kecerdasan serta intelektualitas tersendiri dalam memahami situasi. Tentunya tak hanya bermodalkan popularitas belaka. Namun mereka harus berkontribusi bagi negara. []

Kamis, 23 Januari 2014

Habis Angel Lelga, Terbitlah Sang Model Majalah Pria Dewasa

Lebih kurang 3 bulan lagi, rakyat Republik ini akan memilih mereka para calon wakil rakyat yang akan ikut memegang kendali dalam dunia politik. Tak sampai di situ, kepada mereka diharapkan adanya perbaikan dalam segala aspek yang tentunya dapat lebih mensejahterakan rakyat. Namun sebelum itu berlangsung, agar kita dapat menjadi pemilih cerdas, maka kitapun harus mengikuti kerja wartawan yang selalu mengedepankan prinsip 5W+1H (what, who, why, when, where, how).
Kita, sebagai calon pemilih cerdas, wajib mencari tahu siapa dan apa yang memotivasi si caleg sehingga mau mencalonkan diri. Tak cukup sampai di situ, kita juga harus tahu latar belakang entah itu kegiatan sosial maupun pendidikan si caleg yang akan melenggang ke Senayan ini.

*

Masyarakat kita, mau disadari (baca: diakui) atau tidak, yang sudah dan bisa membaca, cukup malas membaca, apalagi mencari tahu suatu isu. Padahal, beragam media cetak dan online, terus saja bertambah. Kita lebih mau “disuap” oleh televisi. Untuk itu, di tahun politik ini, tak dapat dipungkiri, acara televisi seperti Mata Najwa pun hadir ditengah kita yang buta akan perpolitikan tanah air, terlebih menjelang pileg-pilpres ini.

Ratu Hermes, caleg PPP di Mata Najwa

Sebagaimana yang kita ketahui, Najwa Shihab sebagai tuan rumah Mata Najwa memang terbilang cukup kritis dalam melempar pertanyaan kepada Narasumber. Hemat penulis, ini tidak menjadi masalah selama dapat membuka mata pemirsa  yang akan ikut dalam Pileg dan Pilpres pada tahun ini. Selain memang menjadi presenter, Najwa Shihab tentunya menempatkan dirinya sebagai masyarakat yang nantinya akan memilih si caleg ini. Tujuannya yaitu agar pemirsa televisi mengetahui kredibilitas dari beragam politikus, baik caleg maupun capres yang akan melaju nanti. Maka dari itu, lewat tayangan Mata Najwa yang tayang setiap Rabu malam, selalu dihadirkan orang-orang dari dunia politik. 
Mengingat tahun ini adalah tahun politik yang diawali Pileg di 9 April 2014 mendatang, maka Rabu 15 Januari 2014, telah kita saksikan bagaimana dan apa yang akan dilakukan oleh seorang Angel Lelga yang bila terpilih nanti, akan menjadi caleg DPR-RI untuk Dapil V, Jawa Tengah.
Namun, melihat tayangan minggu lalu itu, ekspresi wajar pertama yang penulis lakukan adalah tertawa yang kemudian diikuti dengan diam. Mengapa? Dapat kita saksikan, ekspresi mata dari Angel Lelga yang kebingungan dalam menghadapi “gempuran”  dari sang presenter, Najwa Shihab. Setelah dari mata, kita lihat cara bicaranya. Banyak jawaban yang ‘gak nyambung.
Mengapa ‘gak nyambung? Jelas ‘gak nyambunglah. Najwa menanyakan A, si Angelnya malah jawab B. Tak puas dengan jawaban Angel, Najwa pun bertanya lagi pertanyaan yang sama namun dengan bahasa yang mudah dipahami Angel. Nah ini dia yang menyebabkan si Angel Lelga menjadi bulan-bulanan di jagad maya seminggu terakhir ini. Kalau ditanyakan kepada Ketua Umum partai yang mewadahi Angel Lelga, Surya Darma Ali, jawabannya hanya karena Angel Lelga ini masih baru jadi belum mengerti benar bagaimana harus berpolitik.

*

Bagi pemirsa televisi, rekam jejak Angel Lelga selama ini tak lepas dari gosip miring. Seperti: setelah Muallaf pernah menikah siri dengan capres PKB sekaligus Raja Dangdut, Rhoma Irama yang diceraikan. Pernah juga digosipkan menikah siri dengan pengusaha batu bara asal kalimantan, Aman Jagau. Dan yang tak ketinggalan, julukan Ratu Hermes pun diberikan padanya setelah melihatnya mengoleksi juga ingin melelang tas bermerk yang harganya sekitar puluhan atau bahkan ratusan juta rupiah itu. Belum lagi, beberapa film horror Indonesia yang belakangan ini menampilkan tubuh molek pemainnya, yang juga Angel Lelga mainkan.

*

Tindak tanduk Angel Lelga sudah jelas, cercaan manis seminggu terakhir ini penulis pikir, rasanya sudah cukuplah demi menguji mentalnya, kasihan juga lho! Penulis juga mau lihat, apakah benar bila terpilih nanti, sang Ratu Hermes ini benar-benar mau menyerahkan Gajinya di DPR jika terpilih jadi caleg nanti? Ya... seperti pengakuannya di acara Mata Najwa minggu lalu. 
Tadinya Penulis pikir, Cuma Angel Lelga yang akan menjadi “bunga” nantinya di dewan terhormat itu Ternyata, Angel Lelga ini ada “penerus”nya juga, Tata namanya.

Destiara Talita, caleg dari PKPI

Namanya memang belum begitu atau bahkan tak dikenal oleh pemirsa televisi kita.  Namun, ternyata seorang Destiara Talita adalah caleg PKPI yang berangkat dari Model Majalah Pria Dewasa. 
Menurut Tata, demikian nama panggilannya, ia akan serius menjadi caleg bersama PKPI dan benar-benar akan meninggalkan dunia yang telah memberikannya pundi-pundi rupiah itu. Untuk menunjukkan keseriusannya, Tata (25) pun sudah mempersiapkan berbagai keperluan kampanye, termasuk fotonya bersama Sutiyoso, mantan gubernur DKI Jakarta yang merupakan ketua umum PKPI.
Tata sendiri akan berlaga di Dapil VIII, Jawa Barat. Menurutnya, keseriusannya menjadi caleg ini untuk menjadi penampung aspirasi rakyat dan ia juga berjanji untuk tak berpose seksi lagi jika menjadi caleg nanti, seperti yang ia katakan, “saya kan memang awalnya dari majalah dewasa, dan kemarin itu sudah rencana berhenti waktu daftar jadi caleg.”
Mengenai foto-fotanya yang terdapat di kalender juga majalah dewasa itu, begini menurut Tata :
139038034245179290

sumber gambar: Tata caleg PKPI. dok. timeline Facebook merdeka.com

Terlepas dari ada atau tidaknya gaji (janji) dari Angel Lelga (bila terpilih nanti) dari Dapil V Jawa Tengah atau keseriusan dari Tata sang Model Majalah Pria Dewasa yang akan melaju dari Dapil VIII Jawa Barat ini untuk memajukan kesejahteraan masyarakat Dapilnya, sesungguhnya mereka juga dituntut kredibilitasnya sebagai perempuan.
Bagi penulis pribadi, adalah kesalahan yang cukup fatal apabila keterwakilan perempuan di DPR RI harus diisi oleh orang yang terbata-bata ketika ditanyai oleh Presenter, Najwa Shihab atau Berangkat dari Model Majalah Pria Dewasa. 
Berpenampilan menarik (baca: seksi) mungkin boleh saja, asalkan pemikirannya terisi oleh pikiran bagaimana mensejahterakan masyarakatnya, terlebih kaum perempuan yang semakin banyak mengalami pelecehan, belakangan ini.

*

Keterwakilan kaum perempuan di dunia politik memang sangat bagus. Jujur saja, penulis sangat mengapresiasikan langkah ini sekaligus berharap kepada mereka guna merekonstruksi dan merenovasi aspek kehidupan perempuan itu sendiri.
Namun, alangkah lebih bijak lagi untuk tak usah maju atau mencalonkan diri jika hanya bermodal tampang, tubuh seksi, uang, dan popularitas. Masyarakat, dewasa ini sudah sangat melek media maupun hanya televisi, lho Bu caleg. Kami tak mau membuang-buang suara kami bila hanya akan menyengsarakan nasib seluruh rakyat republik ini lima tahun kedepan hanya karena memilih caleg yang tak memiliki kredibilitas.

*

Kita, perempuan ini yang memilih bermain di ranah politik itu, konsekuensinya jelas, lho!

Selain masih banyaknya doktrinisasi bahwa perempuan hanya pantas di kasur, sumur, dapur, adanya ultimatum yang mengatakan bahwa perempuan itu tak boleh sama tingkatannya dengan laki-laki, tentunya menambah beban tersendiri bagi kita sebagai perempuan. Maka dari itu, supaya tak terkesan asal-asalan, kita perempuan ini juga harus memperhatikan benar-benar, apa yang harus kita berikan bagi masyarakat, tentunya lewat kecerdasan yg kita miliki.

*

Untuk itu, kepada partai politik, jangan hanya karena demi memenuhi kuota 30% sehingga caleg yang tak memiliki kredibilitas pun diusung dong. Ini namanya pemaksaan, bukan? Tolong diadakan uji kompetensi caleg. Semisal, calegnya ini benar-benar dari kalangan terpelajar atau calegnya ini juga harus memiliki dedikasi, tentunya bukan saja memiliki uang serta modal tampang dan janji manis.
Makanya, diperlukan uji kompetensi caleg guna memilah dan memilih, siapa saja yang pantas untuk menjadi kader. Kalau “asal comot” begini, selain calegnya yang malu, tentunya kredibilitas partaipun akan turut diragukan. []


Pacar Sehariku Ternyata Psikopat


*
“Sebabmu, aku membenci perempuan. Jua olehmu, beberapa perempuan telah kusakiti. “ Ucapnya malam itu. Aku terkejut, lalu bertanya, “Maksudmu apa?”
“Ya... Kamu meninggalkanku dan menolak tawaran bertahan bersamaku dan juga menikah di tahun kelima jalinan cinta kita.” Jawabnya.“Wah... tawaranmu saat itu memang kutolak, bang. Aku punya alasan.” Sergahku.
Tanpa menunggu jawabanku, Ia pun berkata, “Aku ‘gak peduli. Yang penting dendam dan sakit hatiku kepada perempuan setelahmu, terbalaskan.”
Sebab ketakutan, aku pun mengatakan bahwa aku harus tidur, karena ini sudah larut. Dan tak lama, teleponpun ditutup. Aku tidur? Tidak. Malah aku semakin ketakutan, dan berujar sendiri, ‘Dasar psikopat. Mengapa sempat kukenal kau,ya?” Bisikku dalam hati.
Namanya Rian. Seorang WNI keturunan Arab yang memang sangat aku inginkan, kini. Namun, seandainya saja saat itu dia tak berulah dan berujar macam-macam, aku juga tak mau meninggalkannya.
*
Saat itu, aku masih duduk di bangku sebuah SMA negeri di kotaku. Kebetulan, sekolah ini adalah sekolah favorit yang banyak dihuni oleh anak orang kaya yang bisa dengan mudahnya mengaktualisasikan dirinya. Selain kaya, mereka juga pintar. Seperti mantan pacar yang tak pernah aku sukai. Ia mengikutiku ke SMA ini, namanya Abi. Selama di SMA, aku berusaha menghindari Abi. Ah... kasihan dia. Padahal dia cukup pintar dan juga anak orang kaya. Namun, inilah aku. Bila aku tak suka, aku akan terang-terangan mengatakan kepada si lelaki, termasuk Andrian.
*
Namanya Rian. Lelaki yang lebih tua tujuh tahun di atas usiaku yang saat itu masih belasan tahun. Lelaki yang entah dari siapa mengetahuiku. Lelaki gila yang menyukaiku. Kenapa kukatakan demikian? Tentunya, aku memiliki alasan kuat. Aku tak mengenal latar belakangnya. Bisa saja dia psikopat murni atau apapun itu namanya. Bagaimana tidak? Tiba-tiba sesosok cungkring itu menikmati tubuhku dari kejauhan. Dan tiba-tiba, menghubungi nomor telepon rumahku. Dendangan kalimatnya, seperti polisi.
Setiap aku pulang sekolah, setiap sore juga tak ketinggalan malam hari, dia selalu menghubungiku. Berhari-hari hingga aku muak. Kerap kumarahi dia, namun tetap saja tak berguna bagi sang pecinta perempuan ini. Perempuan enam belas tahun yang masih teramat lugu dan tak mengerti fungsi pacar. Kalau mengerti, tak mungkin kutolak si kaya dan pintar, Abi.
*
Tiada hari tanpa telepon darinya. Hingga suatu hari, ibuku mengintrogasiku. “Nak. Siapa itu yang sering telepon? Katanya namanya Rian.”
Bagai petir di siang bolong, pertanyaan ibu mengejutkanku yang baru pulang sekolah. Berusah sesantai mungkin, lalu kujawab, “Ooo.. teman.”
“Teman gimana? Dari mana dapat teman begitu? Kok suaranya lebih tua? Itu dia yang sering telepon kamu tiap hari, kan?” Rentetan pertanyaan Mama ini memang menuntut jawabanku. Ya... namanya orang tua, pasti khawatir sama bocah ingusan sepertiku.
“Entah siapa itu, Ma. Namanya memang Rian. Katanya dia kenal Sya dari teman sekolah Sya. Dia sudah sering lihat Sya. Ketika berbicara ditelepon, dia juga bilang kalau dia suka sama Sya.” Ceritaku.
“Terus, kamu jawab apa?” lanjut perempuan yang pernah mengandungku dua puluh lima tahun yang lalu itu.
“Sya belum jawab apa-apa. Rencana tadi mau ketemuan di sekolah. Tapi Sya kabur, Ma. Mungkin dia mau nanyain kenapa Sya gak nemuin dia.” Jelasku pada Mama.
*
Selepas shalat magrib dan mengaji, tiba-tiba telepon pun berdering. Lalu, kuangkat saja. Karena kau tahu ini dari dia.
“Ya... ada apa?” tanyaku tanpa basa-basi.
“Tadi kamu ke mana aja sih, Dik? Abang udah nungguin lho. Pas di depan gerbang sekolahmu.” Ucapnya.
Dengan santainya aku menjawab, “Lupa. Sorry, ya.”
“O... Begitu ya, Dik. Ya sudah, Please... besok kita ketemuan, ya... Abang mau kenal kamu langsung. Memangnya kamu mau kita teleponan terus?”
“Doh... rempong ya? Situ yang telepon, kan sini gak telepon situ.” Jawabku ringan.
“Please, Dik.” Mohonnya berkali-kali.
“Ok, see you and bye.” Ucapku sembari mencabut sambungan telepon rumah malam itu.
Heran deh... nomor ponsel sudah kuberikan padanya, tapi masih saja menghubungiku ke rumah. ‘Dasar bodoh.’ Umpatku saat itu.
*
Sepulang sekolah, kami memang bertemu. Tuhan... Ternyata inikah makhluk yang Engkau anugerahkan untukku setelah Abi? Baik... tampangnya memang manis. Namun, pelajar sepertiku tentunya tak mau dengan lelaki yang lebih tua tujuh tahun diatasku.
“Dik. Abang gak mau banyak basa-basi lagi. Semua yang abang mau bilang, sudah abang bilang ditelepon selama ini. Abang jatuh cinta sama kamu.” Ujarnya.
Seketika, meledaklah tertawaku. Lalu ia bertanya, “salah ,ya? Kamu ini ada-ada aja deh. Masa’ abang nyatain cinta, diketawain. Memangnya lucu gitu?”
“Eh, gak lucu sih. Cuma, aku kaget aja. Gak pernah ketemu tapi sekali ketemu udah langsung bilang suka. Sakit jiwa ini pasti, kan? Lagian, gak ada yang menarik dariku, lho!” ucapku.
“Kamu itu gak sadar ya kalau kamu itu manis. Mata sayumu itu bagus. Kamu pernah dengar Love at the first sight? Inilah yang abang rasakan.” Jawabnya.
Setelah suasana mulai mencair, iapun menceritakan bahwa dia sudah dua kali menjalin hubungan dengan perempuan. Kedua-duanya berakhir. Yang satu minta putus karena jarak jauh, yang satu lagi... diambil temannya. Lalu ia menanyakan kesediaanku, tanpa pikir panjang dan terlanjur kasihan, kuterima saja.
“Ya udah deh, aku mau jadi pacarmu, bang. Sekarang, abang pulang aja.”
Terlihat dia tersenyum, “Makasi ya, Dik. Yuk... abang antar kamu pulang.”
“Jangan. Gak usah. Aku bisa pulang sendiri.” Dan tak lama, iapun pergi
*
Ternyata, hari itu adalah hari pertama sekaligus terakhir kubertemu dengannya. Tak pernah kulihat dia hingga usiaku sudah menginjak seperempat abad, kini. Bukan kutak mau, juga bukan kumenghindar. Namun, mungkin ini memang sudah jalan Tuhan untuk menghindarkan sekaligus melindungiku dari psikopat seperti dia.
Tsunami yang meluluhlantakkan kota kelahiranku, mengantarkanku untuk meneruskan sekolah di kota lain. Saat kuliah, aku juga di kota ini. Namun, perasaan bersalahku kepada lelaki cungkring tadi, menghantuiku selama bertahun-tahun.
Tahun ketiga tinggal di kota ini, aku baru masuk kuliah. Keinginanku untuk menemuinya untuk memohon maaf semakin besar seiring kepulanganku ke sana.
Singkat cerita, setiba di sana, kuhubungi ponselnya. Kukatakan bahwa aku ingin bertemu dengannya. Dalam pikiranku hanya memohon maaf, tak ada yang lain. namun, mendengar pengakuannya yang telah meninggalkan perempuan yang telah dihamilinya, juga meninggalkan perempuan lain yang akan bertunangan dengannya, membuatku mengurungkan niatku untuk bertemu lelaki ini.
Setelah bertemu para sahabatku di kampung, kuceritakan kronologis kejadian yang sesungguhnya. Sahabat sekaligus teman ngopiku berkata untuk tak menemuinya lagi. Jikalau aku ingin meminta maaf, cukup utarakan lewat pesan singkat.
Baiklah... tiga puluh enam jam dan setelah bermain-main dengan para sahabatku, dan sudah mengirim pesan singkat padanya, aku pun kembali ke kotaku yang sembilan tahun terakhir kutempati ini.
Bukan. Bukannya aku melupakan orang yang begitu baik menungguiku. Namun, meninggalkan perempuan hamil dan perempuan lainnya yang akan bertunangan dengannya, adalah sebuah kegilaan yang luar biasa menurutku.
Saat itu, aku sangat ketakutan. Tak pernah kuceritakan pada siapapun tentang ini, termasuk pada ibuku saat itu.
Dan setelah kutanyakan pada ibu, ibu hanya mengatakan, “Sudah. Jangan pernah kamu temui lagi dia. Benar, dia psikopat.”
*
Duh... aku memang menginginkan pria keturunan dari Timur Tengah. Semakin hari, kegilaanku untuk bertemu seorang dari jazirah Arab, semakin menjadi. Namun, sepertinya memang benar, impian itu bukan saat ini terwujud.
Sejak kuputuskan untuk meninggalkan Rian, memang telah banyak lelaki yang masuk di hidupku. Aku tak pernah bermain-main dengan mereka, walaupun semuanya berakhir. Baiklah, memang semuanya berakhir. Namun, aku terus mencari hingga ke belahan bumi manapun. Walau bukan lelaki asing, siapapun kuterima, asal baik dan setia.
Dan yang pasti, aku ingin lelaki normal, bukan psikkopat. Lelaki baik, mampu menerimaku apa adanya, dan mampu membimbingku menuju Jannah-Mu, juga masih selalu kuinginkan. Aku percaya, Engkau mengabulkan do’aku. Untuk itu, aku harus selalu optimis untuk menghadapi hariku. Dan mimpiku bukan puing, aku berdiri membangun mimpi di atas mimpi. Aku yakin, Tuhan melindungiku dan memberikan yang terbaik untukku, suatu saat nanti. Aamiin.



Minggu, 19 Januari 2014

Jadi Penulis, Jangan Manja dong!

Sebagaimana yang kita ketahui, manusia adalah makhluk sosial di mana ia selalu membutuhkan orang lain, hingga pada akhirnya terjalinlah sebuah hubungan pertemanan. Melewati proses tadi itu, tentunya bukanlah hal yang mudah, bukan? Masih banyak yang harus kita lewati untuk mendapat predikat teman atau bahkan sahabat. Adakalanya, si teman ini cocok dalam segala hal dengan kepribadian kita. Namun adakalanya juga tidak. Contoh kasus, sahabat saya sendiri, Rini yang manjanya ampun-ampunan. #gemas
Suatu hari Rini ke rumah, mengatakan kalau ia baru kehilangan uang. Saya yang mengerti akan sifatnya Cuma mendiaminya sembari berkata supaya lain kali mesti berhati-hati. Tak puas dengan jawaban saya, ia pun menghampiri mama saya. “Bu, uangku hilang di kantor, entah ke mana.”
Alhamdulillah mama saya juga bukan orang yang mudah panik. Beliau hanya berujar, “coba lihat di tasmu. Kalau ‘gak ada juga, ya udahlah, di mana lagi mau dicari? Eh,,, tiba-tiba dia malah nangis. Mama saya yang tak tahu apa-apa malah jadi bingung.
Setiap orang memang adakalanya bersikap seperti Rini. Baiklah, Rini sedang mau bermanja-manjaan dengan saya dan mama. Tapi saya bilang juga saat itu, “kau ini, dikit-dikit nangis. Uang hilang nangis, berantem sama pacar nangis juga, eh pas putus nangis makin ditambah durasinya. Kapanlah kau mau tegar jadi perempuan? Masalah kecil gitu aja nangis, huh!” kesal saya.
*
13898237951546896835
ferdifauzan.blogspot.com
Untunglah si Rini ‘gak hobi menulis seperti saya. Kalau dia menulis terus dikomentari kasar, bisa nangis lagi dia. Kan saya yang repot. #lega
Awal-awal saya bergabung di sini, saya banyak mendapat komentar “manis” dari manusia tak bertanggung jawab. Jujur saja, saya sempat down saat itu. Wajar dong… namanya newbie #senyum
Seperti Rini, saya juga sedih. Buat saya, lebih sakit ditampar ditulisan daripada langsung. #Yaiyalah… ditulisan kan mainnya langsung ke perasaan. Sempat pengen berhenti menulis sih, tapi berkat dukungan dari teman-teman, gak jadi deh. Itu sekali lho saya bilang sama teman-teman yang dekat. #jujur. Setelah itu, gak ada lagi cerita sedih-sedih dalam kamus berkompasiana saya. mau dibully seperti apapun, saya cuma berterima kasih. Paling jauh saya cuma berterima kasih buat penghinaannya.
Tapi, ‘gak pula saya mesti latah dan sedih berkepanjangan sampai buat tulisan caper (cari perhatian) dan  bilang, “ini tahun terakhir saya menulis di sini. Semoga dilain kesempatan, kita bertemu lagi.” #seperti_pesan_orang_mau_meninggal
Atau, buat tulisan yang isinya mengadu sama seluruh kompasianer kalau saya baru disinggung hingga saya tak mau menulis lagi sambil menasehati juga mendeskripsikan ciri-ciri penguntit. Jiah…. perasaan dikuntit, deh kamu :P #senyum
Oiya, kita yang nulis di sini kan pakai keikhlasan hati ya… Secara, gak dibayar juga, toh? Terus, ngapain juga mesti nafsu sekali dengan HL/TA dan ter ter lainnya. Kalau tulisan kita itu bagus, pasti admin mengetahuinya kok, dan bakal menjadikan tulisan kita itu di posisi HL/ TA dsb.
Terus, ‘gak pake ngambek juga donk!!! Mau hapus pertemanan pula itu sama orang yang ‘gak pernah berkomentar ditulisanya. Lagian, mungkin bukan ‘gak mau komentar, kok… Mungkin, akibat kesongongongan kita sendiri, jadi orang malas deh mau komentar. Jangankan komentar, vote aja malas deh! Terus kita buat tulisan ngadu-ngadu gitu? #childish
*
Gini deh, kalau boleh saya memberikan opini kepada yang merasa “dikuntit”, biarlah mereka yang “menguntit” kita berkreasi dengan manisnya. Kalau mereka mengkritik, ya diucapkan saja terima kasih. Kalau diajak bertukar pikiran sekali dua kali, saya rasa tak masalah, monggo dilayani saja. Tapi kalau udah menjurus ke debat kusir, lebih baik menyingkir. Bukan karena takut, lho! Cuma ngapain sih berseteru di dunia maya? Paling, yang berkomentar kasar itu jadi berani Cuma karena dibatasi layar PC/HP. Coba diajak kopdar? #nantangi. Mana berani dia kopdar… hihihi.. alasannya ‘gak sempatlah, banyak urusanlah, and bla.. bla…
Menjadi seorang penulis itu jangan songong, sombong, dan merasa tulisan kita itu udah akurat 100%. Mana ada sih manusia yang sempurna? Cuma Tuhan yang sempurna.
Kalau diberikan masukan atau dinasehati, seperti apapun bentuk penyampaiannya ya diterima saja. Kalau kita belum mengerti maksudnya, ya ditanya lagi maksudnya. Soal dijawab atau tidak, itu kan hak si komentator. Kalau tidak dijawab, coba dibanting-banting logikanya biar bisa belajar berpikir, biar lama-lama jadi kritis.
Kita yang memutuskan untuk berani terjun menulis di dunia maya ini, berarti sudah mengetahui perilaku para penulis dan komentator. Kalau disinggung ya JANGAN MANJA dong! Apalagi sampe buat tulisan “ini tahun terakhir saya menulis” atau teriak-teriak bilang, “woy… saya dibully. Saya minta dukungan semua kompasianer.” #lebay.

Toh yang menulis di sini bukan balita lagi, kan?

Last but not least, Konsisten. Kalau kita memang sudah hobi menulis, sudah pasti tangan itu kan gatal kalau tidak menekan keyboard PC/HP. Ya sudah, tak perlulah membuang waktu untuk berteriak-teriak ke sana ke mari cari dukungan. Nulis ya nulis aja, tetap konsisten sama hobi yang kita miliki itu, tentunya pakai logika yang dibenturkan sama perasaan. Simple!
Begitu juga tugas komentator, hati-hati kalau berkomentar. Soalnya kan tak semua orang berpikiran sama. Bisa saja, waktu dikomentari, si empunya tulisan “tersentuh” dan malah berember-ember airmatanya dan nulis curhatannya panjang lebar. Who knows? []

Komentar Tentang Seks dan Perempuan: Jangan Pernah Sebut Suka Sama Suka!

13891501171867580999
Ilustrasi/Admin (Shutterstock)
Adalah suatu fakta yang tak terbantahkan, berbicara tentang seks masih dianggap tabu, apalagi untuk dituliskan di ranah publik (baca: media sosial). Banyak pembaca yang merasa malu hingga tak segan untuk tiba-tiba marah atau menghakimi si penulis. Tapi, pembaca ini hanya membaca judul, tanpa mau meluangkan waktu dan pikirannya untuk membaca sekaligus memahami maksud tulisan. Kalaupun sudah membaca semua, tapi tetap saja, si pembaca ini bersikeras untuk menasehati si penulis. Sudah dijelaskan oleh si penulis, namun tetap saja, akibat doktrinisasi seks itu memalukan, jorok, dan merupakan suatu yang salah hingga tak boleh diperbincangkan di ranah publik, yang ada di pikiran si pembaca, si pembaca ini terus “menyerang” si penulis. Melihat fakta lapangan yang demikian, saya pun akhirnya menuliskan ini.

Seks Itu Memalukan!
wow… benarkah? Apalagi yang membahasnya adalah seorang perempuan berkerudung. Ini memalukan!
Wah… saya jadi ingat sama perseteruan antara saya dan salah seorang mantan teman dekat, dulu. Saat itu, saya bacakan sebuah puisi yang menggunakan kata-kata yang berkaitan dengan alat kelamin. Tiba-tiba, si teman itu marah-marah dan mengatakan bahwa itu adalah hal yang memalukan. Sudah saya jelaskan, maksud dari puisi itu adalah sebuah realita yang pernah dilakukan seseorang, tapi sengajak ditutup-tutupi. Namun, bahasa puisi terkadang memang kontroversial buat ‘katak di bawah tempurung’. Eh,,, dianya makin marah. Sontoloyo ini orang, sudah saya jelaskan dan jujur saja menghabiskan waktu saya, malah yang saya dapatkan hanya balasan amarah. Akhirnya saya bilang saja, “gak suka seks, gak punya anak!” Dan teleponpun saya matikan.
*
Seks itu memalukan memang fakta yang tak terbantahkan. Namun, harus kita telusuri dulu, mengapa ini bisa memalukan? Toh, Memalukan itu tergantung pelakunya. Pelakunya ini siapa?
Pelakunya adalah pemerkosa, pelaku seks beresiko (PSK dan gigolo) dan pelaku pelecehan seksual lainnya, misalnya lewat internet. Makanya, stereotype yang berkembang sekarang juga banyak yang mengatakan bahwa seks itu adalah sebuah kesalahan.
Padahal tidak, kok! Terlebih bagi mereka para PSK dan Gigolo. Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan “kedinasan” mereka. Itu mereka lakukan karena tuntutan ekonomi. Mau tidak mau, mereka melakukannya demi mengais rupiah, apalagi si ibu ini melakukannya karena sebab yang yang merupakan fakta. Seperti tulisan saya yangini.
Setelah itu, korban pemerkosaan juga tak jarang dianggap aib. Maka dari itu, hal ini dianggap adalah hal yang memalukan. Belum lagi yang katanya melakukan hubungan seks atas dasar suka sama suka. Wah… saya bisa bilang, tak ada seorang perempuanpun yang mengatakan atas dasar suka sama suka, seperti yang diungkapkan seorang teman yang sangat merasa bersalah karena pernah melakukan hubungan seks itu dengan mantan pacarnya, sebutlah namanya Ani.
Jangan Pernah Mengatakan, Suka sama suka!
Suatu hari, saat saya sedang sendirian di rumah, Ani pun ke rumah. Setelah makan siang, kami ngobrol panjang lebar dan tentunya saya mendengarkan curhatannya.
Lalu, saya menanyakan kepadanya, “waktu kau ngelakuin itu sama si B dulu, kau suka gak?”
Anipun menjawab, “Mana ada perempuan yang mau apalagi suka ngelakuin itu diluar nikah.”
Malamnya, ada seorang teman juga yang ke rumah, Sari. Saya kan memancing dia untuk menceritakan aktifitas seksualnya. Setahu saya, dia tak pernah melakukan apa-apa. Namun ternyata, mendengar pengakuannya bukannya malah membuat saya terkejut, justru membuat saya semakin penasaran.
Saya bertanya, “menurutmu, perempuan yang begituan sebelum menikah, bisa dibilang suka sama suka?”
Iapun menjawab, “sakit jiwa itu yang bilang suka sama suka. Gak ada itu, Da!”
Terus saya nanya lagi, “kau sendiri, selama pacaran, gimana?”
“Aku pernah kok, tapi yang standar ajalah, gak sampai ML. Zaman sekarang gitu. Tapi, aku ‘gak suka dipaksa. Dan syukurnya, pacar aku yang sekarang, gak maksa. Beda sama yang dulu. Kalau yang dulu, si C itu maksa. Saat aku gak mau, malah dia maksa. Kalau aku gak mau, dia marah dan ujung-ujungnya berantem.” Jelasnya.
*
Ada pertanyaan, “tapi mereka kelihatannya suka-suka saja. Malah menikmati. Gimana gak disebut suka sama suka?” Jawaban saya, memang mereka melakukan itu. Namun mesti ditanya lagi, apakah mereka perempuan murni merelakan keperawanan mereka bukan untuk lelaki sahnya?
Adalah salah bila kita dengan gampangnya mengatakan beikut menyalahkan mereka dengan sebutan suka sama suka. Dikatakan oleh Ayu Utami di sini, “Kita belum tahu apakah pemaksaan dalam makna tradisional memang terjadi. Tapi, dugaan bahwa ada hubungan seks yang tidak adil, tidak ditunaikan dengan cara-cara apik dan manusiawi―dan karenanya menjadi tidak menyenangkan bahkan terasa cabul―sah sebagai kasus hukum. Kita tidak bisa lagi berlindung di balik “suka sama suka”. Itu pandangan yang terlalu sempit.”
Adalah suatu ketidakadilan bagi seorang perempuan jika disebut suka sama suka. Tentu saja, tak ada rela begituan. Tak ada seorang perempuan yang mau dijadikan objek seks yang tak halal dan legal. Kalaupun dia yang mau melakukannya, ini juga mesti diliat faktor pendukungnya. Semisal :
- Sebelum melakukan itu sama si pacar yang sekarang, si perempuan ini pasti pernah melakukan ini sama yang terdahulu. Makanya, begitu diajak sama yang sekarang, dia mau saja melakukannya, namanya juga sudah Addict, yaaa… seperti pecandu Narkoba.
- Atau, dia memang tak pernah melakukan sama siapapun, namun karena seringnya ia melihat video yang membuatnya penasaran, makanya begitu dipancing, dia langsung mau. Lagi-lagi, karena Addict tadi.
- Kejadian ini tak luput dari peran orang tua dan guru yang mungkin kurang dalam memberikan pengetahuan soal seks dari ranah norma Agama, kesusulaan, kepatutan, dan juga kesopanan. Kan, seorang anak ini terlahir bagai selembar kertas putih, bila dicekoki dengan pemahaman yang baik dari orang tua dan guru, dia juga akan menjadi manusia yang baik. Begitu juga sebaliknya.
Perempuan sehat, tak ada yang mau disebut hubungan seks yang sudah terlanjur dilakukan itu atas dasar suka sama suka. Dari kedua aktifitas yang disebutkan teman saya di atas, terbukti kalau mereka tidak mau disebut demikian. Penyebabnya yaitu mereka akan dikejar rasa bersalah yang tentunya menyerang sisi psikologis mereka, hingga tak jarang, para PSK yang kehilangan keperawanannya, merasa hidupnya tak berarti, jadi terlanjur basah, ya berenang saja sekalian. Toh selain mendapat kepuasan akibat Addict tadi, mereka juga mendapatkaan materi.
*
Memang hal demikian adalah yang dipikirkan oleh mereka yang pikirannya pendek. Tentu saja, bila mereka yang sudah tahu kerugiannya, pasti tak mau melakukan hal itu. Jadi, kalau boleh saya sarankan kepada teman-teman yang sudah punya pacar tapi sudah kebelet, diajak nikah saja. Biar si Seks tadi Halal di mata Agama juga legal di mata hukum.
Buat yang salah menafsirkan dan suka menyebut hubungan seks diluar pernikahan itu, “suka sama suka”, memang harus dibentur-benturkan lagi pikiran dan perasaannya sebelum asal sebut. Tak ada seorang perempuanpun yang rela disebut demikian. Jadi, dari pada ngomong untuk orang, lebih baik lagi jika itu bisa menjadi cermin dalam hidup kita. Satu lagi, untuk pembaca. Alangkah baiknya, jika kita memahami betul isi tulisan sebelum kita menghakimi si penulis. []

Dilema Jomblowati: Menikah Karena Dikejar Target Usia-Harus Mau Dipoligami

Entah mengapa, semua masalah yg berkaitan dengan perempuan, tak jarang bahkan hampir menjadi trending tropic di mana-mana. Dimulai dari soal perselingkuhan, janda, poligami, hingga perempuan jomblo pun tak luput dari cibiran orang banyak. Padahal, itu semua adalah urusan masing-masing individu dengan lawan jenis dan Tuhannya. Pada ada tulisan singkat ini, saya tak akan membahas tentang yang lainnya, fokus saya hanya perempuan jomblo a.k.a Jomblowati.
*
Kemarin pagi, ketika sedang iseng membuka beranda facebook, tak sengaja, saya membaca status facebook dari seorang teman sebaya yg sudah menikah. Ketika membacanya, saya malah jadi ketawa sendiri. Pasalnya dia mengaitkan antara waktu yang terus bergulir, umur yg tak lagi muda, dengan pilihan seorang perempuan yg masih hidup sendiri. Pertanyaannya, Kok ketawa, tidakkah saya merasa sedih akibat tamparannya yang mengena langsung ke saya?
Saya sudah cukup maklum akan hal ini. Toh, mau marah-marah juga Cuma membuang energi. Lagi pula, saya juga bukan anak kecil lagi yang belum bisa mengatur emosinya, kan? Bahkan, saya juga sering ditanyai langsung oleh beberapa teman sebaya atau adik kelas yang lainnya ketika chatting di facebook atau datang ke pesta pernikahan.
Pertanyaannya itu selalu sama, seperti: “kapan nyusul?” atau “kapan nih anakku punya teman main?” dsb.  Lalu, mengapa banyak orang yang seakan tak punnya perasaan, menanyakan hal-hal demikian pada si jomblowati tadi.
Inilah konsep sesat pikir kebanyakan orang yg mengatakan bahwa menikah karena hanya dikejar target usia lebih tepatnya.
*
Sering kita dengar bahwa, kebanyakan orang, baik laki-laki maupun perempuan yang pikirannya masih awam, selalu menanyakan hal-hal sbb;
- Siapa saja deh, yang penting laki-laki dan kau punya suami. Nyaman hidupmu, kan?
- Memangnya kamu tidak mau memiliki pendamping?
- Apalagi sih yang dikejar dalam hidup seorang perempuan kalau bukan menikah?
- Umur sudah mencukupi, malah sudah lewat dan rawan memiliki keturunan (<30), kenapa belum menikah?
- Sudah, sekolah tak perlu tinggi-tinggi. Toh, akhirnya kasur, sumur, dan dapur juga, kan?
- Bila telat menikah, rela dipoligami? Atau, mau menikah sama duda, ya?
*
Rentetan pertanyaan demikian, sudah menjadi makanan wajib bagi para Jomblowati dari beberapa teman yang belum bisa menyatukan logika dan etikanya, selain dua pertanyaan wajib di atas. Di sini, saya akan mencoba menjawab “tamparan” yang cukup menyesakkan dada ini.

- Pernyataan, “Siapa saja deh, yang penting laki-laki dan kau punya suami.” Eit… tunggu dulu. Walaupun belum menikah dan sering menjadi bahan ejekan dari para teman usil, tapi perempuan yang berpikir ini mau “asal comot”. Sama seperti yang lain, mereka juga mencari kenyamanan dari pasangannya.

- Hemat saya, tak ada seorangpun dari perempuan normal (bukan lesbian dan biseks) yang tak ingin memiliki pendamping. Tentu fungsinya bukan hanya untuk teman tidur. Namun juga untuk teman di segala suasana. Yang namanya menikah itu, bukan untuk satu atau dua hari saja lho! Perlu persiapan matang untuk menyatukan visi dan misi antara dua orang yang berbeda kelamin dan kepribadian. Untuk itu, diperlukan komunikasi semaksimal mungkin diantara keduanya, apalagi bila dibandingkan dengan kaum adam, tingkat sensitifitas dari kaum hawa ini sangat tinggi.

Makanya, kebanyakan perempuan, masih ingin mencari sesosok manusia yang walau tak sempurna, tapi memiliki kecakapan yang baik. Nah,,, makanya, dalam mencari ini, dibutuhkan jalinan pertemanan (bukan pacaran, kan ceritanya jomblo). Jika memang keduanya saling cocok, bila ingin dilanjutkan ke ranah pernikahan, perempuan mana yang sanggup menolak?

- Bagi seorang perempuan yang sudah mampu berpikir akan realita hidup ke depan yang sulit, walaupun dia tetap ingin menikah, itu belum menjadi prioritas utama. Tak hanya perempuan yg tinggal di kota, mereka yang hijrah ke kota juga ingin sekolah dan mendapatkan pekerjaan yang layak, sesuai dengan minat dan bakatnya. Bukan berarti mereka tak mencari,lho! Tentunya kita mengetahui maksud dari peribahasa sambil menyelam minum air, kan?

Makanya, mereka belum memikirkan itu. Ada kepentingan/tanggung jawab lain yang harus dipikirkannya, semisal membahagiakan diri dan kedua orang tuanya dulu, sebelum ia melanjutkan hidupnya.

- Masalah umur memang kerap memberikan stimulasi negatif bagi kaum hawa. Dari rasa malu kepada teman sebaya dan adik kelas yang sudah lebih dahulu menikah, sampai batas normal reproduksi perempuan yang banyak didoktrin bahwa umur <30 sudah susah memperoleh keturunan. Padahal, masih ada yang bisa punya anak, kok. Saudara saya juga demikian dan alhamdulillah mereka adem ayem saja.

Adanya doktrinisas ultimatum demikian, rasanya sudah memudarkan semangat para perempuan untuk mencari. Sejujurnya, kasihan mereka. Sudah belum menemukan jodohnya, tapi masih saja dicekoki hal demikian. Yang gini ini, jangan diganggu deh. Bagi yang sedikit tak bisa menerima kenyataan, bisa saja membuatnya depresi hingga cenderung gila. Bahkan kemungkinan terburuknya, dia bisa saja bunuh diri. Mau begitu? Tentunya kemungkinan ini tak diharapkan, bukan? Makanya, dari sekarang, stop bertanya, kapan kawin!

- Tak ketinggalan, ultimatum kasur+sumur+dapur ini jadi pernyataan sekaligus pernyataan pamungkas yang seakan-akan menghalangi pendidikan (berpikir kritis) dan kreatifitas seorang perempuan. Padahal, bilapun tidak bekerja, dalam mendidik anak juga, diperlukan pendidikan dari seorang ibu.

Ambil contoh, mama saya. Mama adalah seorang ibu rumah tangga biasa yang kesehariannya memasak. Mama yang juga mengerti bagaimana mengarahkan saya. Bukan bermaksud mau membangga-banggakan Mama, tapi sampai diusia senjanya, Mamalah yang menemani saya menonton berita yang berkaitan dengan ketertarikan saya dengan Sos-pol sampai saat ini. Tak jarang, kami saling adu argumen juga menyamakan opini. Selain untuk curhat, tentunya berkat pendidikan dan hobi membacanya, Mama yang mengetahui bagaimana cara merawat bayi kolostomi ini hingga sebesar sekarang. Tak lupa, pemahaman agama juga diajarkan mama.

Makanya saya bilang, dalam mendidik anak, juga dibutuhkan intelektualitas dari seorang perempuan. Jadi, jangan ada lagi yang menyebut stereotype kasur+sumur+dapur.

- Last but not least, poligami menjadi bahan ejekan juga bagi jomblowati tadi. Saya pribadi, tak menolak poligami, karena dalam agama yang saya yakini, poligami tidak dilarang, namun dibatasi sampai 4 orang istri. Poligami ini sendiri tidak gampang,lho! Selain ada istri pertama yang tersakiti, juga cibiran orang terhadap istri kedua ini.

Agama saya, memang tak mengharamkan poligami. Tapi, bukan berarti para laki-laki bisa sembarangan menikah lagi. Jikalau memang merasa tak mampu menghidupi istri, bahkan anak yang lain, seorang istri dan anak-anak saja sudah cukup. Jangan memaksakan kehendak. Toh, kalau disinggung dengan adil, tak ada seorangpun yang mampu bersikap adil. Bilapun dapat izin dari istri pertama terkait keinginan berpoligami, jika hanya berniat menolong, silahkan nikahi janda-janda yang lebih butuh dilindungi daripada kami yang masih gadis.

- Selanjutnya, menikah dengan duda juga tak menutup kemungkinan akan hidupnya bahagia. Teman sebaya dan tetangga saya juga menikah dengan duda. Tak ada masalah, tuh! Namanya juga sudah saling cocok, lalu kita yang hanya menyaksikan, kenapa mau tahu sekali tentang hubungan mereka?

*

Buat para jomblowati, Percaya padaNya saja bahwa Hidup, mati, rezeki (jodoh dan finansial) ada ditanganNya. Dia sudah mempersiapkan yang terbak untuk kita. Jadi jangan berhenti meminta kepadaNya. Dan buat para teman atau siapapun yang menjadikan status jomblo ini menjadi bahan ejekan, semoga klarifikasi saya ini dapat membutakan mata kita semua agar tak sembarangan berkata-kata. 

Tak pun dituntun Estetika, tapi tolong, satukan logika dan etika kita dalam mengomentari status jomblo ini. Jangan Cuma bisa menambah beban mereka dengan ejekan tak berguna itu, bantu teman itu untuk mengenalkannya dengan teman kita yang lain. Atau minimal, kita do’akan saja si jomblo menyusul yang telah menikah segera. Jadi, berhentilah memberikan stereotype negatif bagi para jomblowan/jomblowati.

Rabu, 01 Januari 2014

Jahanam!

missingyou
kingmannu.deviantart.com
Kau memang Jahanam
Sebabmu, butakan logikaku
Jua Olehmu, rasaku terpendam
Bahkan telah mati semangatku
Dan aku?
Tidaklah sesuci Hawa, Maria bahkan
Aku hanya perempuan lugu
Pencari nikmat di kala malam
Bersama mereka dalam desahan
*
Luguku hingga sebutlah aku bajingan
Lalu, Katakan aku Jalang
Tapi aku bukan perempuan sembaran
Tak mampu kuumbar rindu
Pada mereka penghias malamku
Dan Kau?
Kau lelaki biadab
rela biarkan perempuan ini tak beradap
menghiasi malam dengan mereka hingga mereka terlelap
*
Memang, bahagia kutemukan bersama mereka
Tapi jiwaku kosong tanpamu, wahai Jahanam
Kau tahu?
Teramat kubutuhkanmu
*
Di mana etikamu wahai lelaki ragu?
Bukankah kau selalu tahu akanku?
Mengapa tak kau tampakkan wujudmu?
Rindukanmu dalam logikaku
Lelah kulihat tingkahmu
Ingin kurobek tiap ukiran namamu di hatiku
Namun tetap saja, tak bisa kulakukan itu
Sebab, bayanganmu adalah teman tidurku

[Review] Vaseline Super Food Skin Serum, bukan Hand & Body Lotion Biasa

Memiliki kulit wajah dan tubuh yang terawat dan sehat, tentu impian kita. Selain itu, anugerah Tuhan yang ada di diri kita, sepatunya mema...