Selasa, 25 September 2012

Kekasihku Kembali Ke Pelukan Kekasihnya


oleh : Lilih Wilda & Auda Zaschkya
13480768231621875796

image from http://cangkirkayu.blogspot.com
Senja ini aku masih termangu di depan meja rias sambil menatap wajahku di cermin. “Ah,,  aku terlihat cukup cantik”, kagumku. Kekagumanku bertambah ketika menyaksikan polosnya wajahku tanpa riasan. Tampak bersih, hingga Rani sahabat setiaku menyayangkan bila tekstur kulit wajahku harus tercemar oleh riasan. Akan tetapi demi pekerjaanku, aku harus merelakan pipi merona dan seluruh wajahku dibubuhi bermacam riasan. Tak lama, malam pun datang. Rabaannya kurasakan ketika hawa sejuk itu mulai menerpa wajahku yang telah dipenuhi oleh berbagai warna pemoles wajah ini. Sejuknya hawa ini makin membuai tubuh mungiku hingga aku merebahkan diri pada ranjang sembari menikmati hawanya yang berhembus melalui celah jendela kamar berwarna merah jambu ini.
***
Namaku Dinda. Aku adalah seorang penari latar bagi setiap artis yang ingin memakai jasaku. Salah seorang dari menejer artis itu rupanya sangat menyukaiku sebab sebagai anak baru, aku adalah penari yang disiplin dan tak pernah membuat ulah. Aku sadar, hanya itulah kelebihanku yang bisa kuandalkan dalam persaingan penari latar ini, hingga suatu hari Firman sang menejer berkata, “Dinda, saya sangat menyukai loyallitasmu dalam pekerjaan ini, oleh karena itu saya ingin sedikit mengapresiasikan loyalitasmu itu lewat dinner. Saya harap kamu tak menolak”.
Aku tersenyum mendengar ajakannya yang cukup sopan, namun dengan jawaban yang sopan pula aku menolak permintaanya, “maaf mas Firman, saya tidak bisa. Setelah ini saya harus pulang sebab ibu saya berpesan untuk langsung pulang bila jam kerja telah usai. Beliau berkata, tak baik anak gadis pergi di malam hari bila tak karena bekerja”. Mas Firman pun dapat memaklumi alasanku dan ia pun kembali menghampiri kekasihnya, sang artis terkenal bernama Lisa. Hari demi hari, pertemuanku dengan mas Firman cukup sering sebab ia selalu hadir untuk menemani kekasihnya Lisa. Apalagi karier Lisa sebagai artis yang sedang naik daun mulai diperhitungkan, hingga sebagai menejer mas Firman selalu berada disampingnya.
Ketika sedang membersihkan riasan pada wajahku, ternyata Firman mencuri pandang. Tak disangka dia mendekati tempat dudukku dan mulai merayu. “Kamu cantik Dinda”, ujarnya.  Sebagai seorang perempuan pemalu, aku Cuma mengucapkan terima kasih. Kemudian ia melanjutkan, “Sungguh kamu ini cantik bila tanpa riasan, sepertinya aku jatuh cinta sama kamu”. Wah,, mas Firman bisa aja nih, mbak Lisa pacar mas yang cantik itu mau dikemanakan mas?”, tanyaku pada Firman sambil tersenyum menyembunyikan perasaanku yang sesungguhnya.
Lisa adalah artis baru yang gampang melejit sebab didukung oleh vokalnya yang mumpuni juga parasnya yang cantik dan aksinya yang enerjik diatas panggung. Siapa yang tidak bangga mempunyai pacar seperti dia. Mana mungkin Firman suka padaku, aku hanya seorang penari latar dan tidak ada yang mengenalku di luar sana. Jadi tak mungkin Firman benar-benar suka padaku.  Ah,, dasar laki-laki perayu, pikirku saat itu.
Namun Firman masih sering menghubungiku, entah itu lewat SMS ataupun telepon. Ia sering mencurahkan isi hatinya padaku, bahkan darinya aku tahu bahwa Lisa adalah seorang yang keras kepala, suka marah dan gampang merajuk bila keinginannya tak segera atau bahka tak dituruti. Sebagai kekasih, Lisa juga jarang memberikan perhatian kepada Firman. Lisa begitu berbeda dengan aku yang lembut dan tak berhenti memberikan perhatian pada Firman. Komunikasi yang kami lakukan memang teramat sering. Aku menikmati kelembutannya. Saat itu, aku melupakan status in relationship yang sedang ia sandang hingga aku menerimanya menjadi kekasihku, dengan status sebagai pacar keduanya.
Berbulan-bulan kami menjalani hubungan ini tanpa sepengetahuan Lisa. Sebagai selingkuhan, aku cukup pintar menyembunyikan hubungan ini. Kami tak perduli akan yang lain, yang penting kami menikmati perselingkuhan ini, dan Firman mempunyai ponsel khusus untuk bercinta denganku. Bila dia sedang berdekatan dengan Lisa, dia akan mematikan ponsel tersebut. Begitu juga dengan pertemuan kami yang masih berlanjut tanpa sepengetahuan Lisa.
***
Entah apa yang terjadi sebelumnya, hingga suatu pagi ketika aku bangun dari tidur, aku mendapati sebuah SMS dari nomor khusus Firman. Sebuah SMS berbunyi, “hey perempuan jalang, cari lelaki lain diluar sana, jangan memacari kekasih orang. Dasar perempuan kampung, seenaknya aja mau mengambil pacarku. Apa kamu gak laku ya sampai berani2nya merebut pacarku?”
Aku tercekat mendapati SMS yang aku yakin itu dari Lisa. Ternyata Lisa sang artis terkenal mengetahui tentang hubungan kami. SMS itu tak kubalas namun semakin aku biarkan Lisa bukannya berhenti. SMS-SMS kasarnya masih terus menghujani ponselku. Sementara Firman tak pernah sekalipun menghubungiku untuk menjelaskan semua ini. Dari sahabatku Rani, aku mengetahui bahwa semua ponsel Firman dipegang oleh Lisa sang artis. Aku tak kuasa melawan pamornya di dunia hiburan tanah air. Aku hanya bisa menangis, meratapi nasib buruk yang baru saja menimpaku.
Aku tahu, hubungan ini adalah hubungan penuh resiko. Penghinaan dari Lisa harus kutelan sendiri, sakit sekali rasanya ketika aku menyadari bahwa Firman sendiri tak pernah membelaku. Padahal ingin sekali kukatakan kepada Lisa semua perkataan buruk Firman tentangnya. Namun, apa kuasaku? Aku hanya gadis penari latar yang menjadi selingkuhan sang menejer yang kesepian. Firman memilih Lisa yang memiliki kemampuan finansial berlebih serta berkarier cemerlang.
Kini, aku hanyalah penari cafe biasa. Berangkat malam dan pulang pagi hari. Kadang di cafe itu banyak lelaki yang menggodaku, namun bagiku mereka adalah lelaki pengecut yang bersiap akan rayuannya kepadaku. Aku tak mau mengulang kesalahan yang sama seperti pengalamanku dengan Firman dulu.
***
Aku tak percaya lagi akan manisnya mulut lelaki. Sebelum mendapatkan keinginannya, mereka menyanjung kaumku dengan rayuan mautnya hingga meninggikan perempuan setara dengan tingginya bulan. Namun setelah ia mendapatkan inginnya, dia akan mencampakkan perempuan yang telah ia dapati seenaknya. Bila terjadi sesuatu, mereka tak mau mengambil resiko untuk memperdulikannya.
Mungkin orang akan mengatakan aku egois, namun begitulah yang kuhadapi. Aku pernah kehilangan Doni dulu, dan sekarang aku harus tersakiti lagi oleh Firman.
***
Semua telah berlalu. Biarlah sementara ini aku tetap hidup diatas kakiku sendiri walau hanya sepi yang menemani. Sebab bagiku lembayung dan tipuan semilir angin di senja sudah cukup menemani kehidupanku.

Menyaksikan “Live Show” Ibu Merokok di Hadapan Anaknya



Dewasa ini, pangsa pasar untuk rokok di Indonesia sangat menjanjikan, mengingat Indonesia berada di urutan 4 populasi manusianya. Hal itu didukung pula dengan kurangnya sosialisasi tentang bahaya rokok di kalangan para remaja yang sering kali mengkonsumsi rokok. Konon lagi, rokok itu bisa diperoleh dengan membeli eceran dengan harga sekitar Rp 500,00.

Rokok bukanlah benda asing bagi kita dan merokok adalah kegiatan yang sudah biasa dilakukan oleh para kaum adam. Biasanya, bila tak merokok setelah bersantap sesuatu, maka kurang lengkap menu makannya. Kebiasaan tersebut juga diikuti dengan ungkapan, kalau ‘gak merokok, ‘gak jantan.

Bahkan yang sebelumnya tidak merokok, mendengar ucapan demikian malah jadi mencoba-coba rokok dan menjadi perokok. Nah, itu kegiatan yang terbilang rutin bagi kaum adam. Bagaimana untuk kaum hawa? Kegiatan merokok bagi kaum perempuan adalah bukan hal yang baru lagi. Pasti diantara pembaca sekalian sering melihatnya, bukan? begitu juga saya, bahkan saya sering berinteraksi dengan mereka.

***


Saya memiliki seorang teman perempuan yang juga merokok, namun tidak sering. Bila ia ingin merokok dihadapan saya, ia selalu meminta izin, “da, aku merokok ya”. Ya saya mau bilang apa? Dia sudah besar dan mengerti segala konsekuensi tentang merokok, lagipula saya tidak punya hak untuk melarang-larangnya. Biasanya ia merokok ketika ia di dalam mobilnya. Kegiatan merokok itu ia lakukan ketika sedang stres atau punya masalah. Tentunya alasan dia ini juga tidak dapat dibenarkan. saya berpikir, nanti kalau dia punya anak, gimana ya???

Ada juga teman saya yang lain (perempuan). ia merokok dihadapan kami yang perempuan maupun teman-teman yang laki-laki. Ia kelihatan lebih santai ketika mengepulkan asap rokoknya. Bahkan ia pernah berujuar, ibunya juga merokok bahkan terkadang mereka merokok bersama.

Awalnya saya tak percaya kalau ada ibu yang merokok di depan anaknya. Namun, ketika saya melihatnya langsung, terus terang saya merasa jengkel sekaligus kasihan.

Suatu sore, di restoran cepat saji yang menyediakan fasilitas wifi yang sering saya kunjungi sedang diadakan pesta ulang tahun anak-anak. Tentunya banyak orang tua yang mengantar anaknya, bukan? kira-kira satu meter didekat meja yang saya tempati, ada dua orang perempuan yang sedang makan. Setelah makan, mereka pun merokok. Pesta pun usai, kemudian mereka di datangi oleh seorang anak kecil yang memanggil mereka dengan sebutan mama dan tante. Sementara anak itu sedang makan, kedua perempuan itu terus mengepulkan asap rokok di depan sang anak.

Ketika saya menyaksikan hal-hal tersebut di atas, ada rasa keprihatinan tersendiri bagi saya. apalagi ibu merokok di depan anaknya. Wah, saya jadi tambah sedih apalagi beberapa minggu yang lalu saya sempat melihat seorang anak kecil yang sudah kecanduan rokok di televisi.

***

Seperti peringatan pada bungkus rokok, “merokok menyebabkan kanker, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin”, sudah pasti dalam sebatang rokok ini menyimpan berbagai macam zat yang dapat menyebabkan penyakit. Seperti yang dituliskan di www.smallcrab.com terdapat 24 jenis penyakit akibat rokok selain kanker dan jantung.

Penyakit-penyakit tersebut tentunya sudah diketahui oleh para perokok, namun mengapa kegiatan “mengasyikkan” tersebut masih dilakukan?

Untuk di zaman sekarang, menyaksikan kaum hawa merokok adalah bukan suatu hal yang luar biasa lagi. Contohnya bisa dilihat pada tulisan saya diatas. Kaum hawa sendiri pastinya memiliki keinginan untuk menjadi seorang ibu. Kenapa masih merokok? Padahal di setiap bungkus rokok pasti ada tulisan merokok dapat menyebabkan gangguan kehamilan dan janin

Bila telah memiliki anak, terkadang ibu-ibu perokok ini pun dengan serta merta merokok di hadapan putra-putri mereka. Dengan sendirinya, mereka membiarkan anak-anak mereka menjadi perokok pasif. Terlebih, seorang anak kecil pasti akan mengikuti perlakuan ibunya sebagai orang terdekat si anak, bukan? Apakah tidak takut wahai ibu dan calon ibu jikalau anak-anak anda nanti akan mengikuti perlakuan anda sebagai perokok? Anak kecil itu bagaikan kertas putih, jika diarahkan ke hal yang baik, pasti ia akan menjadi anak yang baik di kemudian hari. Begitu pula sebaliknya.

Jika ada yang mengatakan, “nanti bisa diajarin yang baik-baik aja ke si anak?”. Apakah ibu-ibu yakin? Coba masing-masing kita mengingat peribahasa “alah bisa karena biasa”. Nah, karena sudah menyaksikan “live show” ibunya sendiri yang merokok, sedikit banyak dalam pikiran si anak akan terbentuk pemikiran “ibuku aja merokok, kenapa aku enggak?”

Jujur saja, menyaksikan hal-hal sepeti itu saya merasa prihatin sendiri. Kebanyakan hal tersebut dilakukan hanya memikirkan kenikmatan sesaat. Padahal seperti yang kita ketahui bersama, kegiatan tersebut tidak ada manfaatnya. Padahal rokok jelas-jelas tidak memiliki manfaat kesehatan.

Begitu banyak penyakit yang disebabkan oleh rokok. Apakah anda mau menjadi salah satu diantara “penikmat” penyakit ini?

Buat para calon ibu atau pun ibu yang sudah menjadikan merokok sebagai kebiasaan, dari hati terdalam sebagai sesama wanita saya memohon, tolong jangan merokok di depan putra/i anda ya.

Mereka Adalah Lelaki (2)


Oleh : Su He dan Auda Zaschkya

Pembicaraan yang seharusnya menjadi media sharing and connecting diantara kami, seketika mulai berubah seraya wajah Riski yang tampak tegang dan penuh keseriusan. Aku melihat sorot matanya yang tajam seperti tengah memikul beban, beban suatu rahasia besar. Suaranya pun mendadak menjadi lebih berat.
Saat itu, aku tak berani menatapnya ditengah keresahan hatiku yang sedang menahan setumpuk rindu. Rindu yang kupendam selama delapan tahun, seketika berubah menjadi kecemasan besar, dimana ketika Riski yang sebelumnya banyak berbicara, tiba-tiba diam seribu bahasa dan menjawab beberapa pertanyaanku sekenanya.
Hatiku terus bertanya, ada apa dengan Riski? Apakah ada kesalahanku yang tak kusengaja ketika obrolan ringan tadi berlangsung?
Jika aku boleh jujur kepada Riski, aku akan mengatakan bahwa selama delapan tahun ini, aku masih sering merindukannya. Namun ketika aku harus menyaksikan gelagat Riski yang mencurigakan dan tiba-tiba menjadi pendiam, ingin pula kukatakan bahwa aku mulai bosan dengan obrolan ini.
Setelah hampir tiga jam Riski berada di rumahku. Kemudian ia berkata dengan suaranya yang masih berat, “Nda, ada yang ingin kukatakan padamu yang selama ini kupendam”. “ya katakanlah. Dari tadi juga aku lagi nunggu kamu ngomong lho !! Tapi jangan bilang cinta ke aku ya, aku udah jadi istri orang”, sambil berusaha tersenyum guna mencairkan suasana tegang ini, dan ah.. dia memang masih lelaki yang dulu, yang selalu tertawa mendengar obrolan ringanku. Tolong, jangan hentikan tawa itu, aku sangat merindukan riuh tawamu, bisikku dalam hati.
Namun, dibalik tawa khasnya yang selalu kuingat, Ia makin terlihat gugup. Keringat membanjiri kemeja casualnya, tak lupa buliran peluh itu pun membasahi wajahnya. Minuman yang kusediakan di meja tamu juga telah habis diteguknya, namun Riski masih belum mau mengatakan hal yang dipendamnya.
Jam menunjukkan pukul 12.30 wib dimana beberapa menit lagi suamiku pulang ke rumah untuk makan siang.
“Ki, sebentar lagi suamiku pulang untuk makan siang di rumah. Kamu mau ikutan makan bareng kami?”, tanyaku padanya. “oh gitu, ‘nggak usah deh. Sebaiknya aku pulang saja. Nanti kehadiranku malah akan mengganggu kalian”, kata Riski masih dengan tampang gugup.
Kemudian ia berdiri dan hendak berjalan keluar. Sesampainya di depan pintu, suamiku pun sampai di rumah. Aku memandangi mereka, keduanya kelihatan gugup. Sejujurnya, aku kebingungan melihat tingkah mereka, seperti orang yang sedang berhutang saja. Namun segera kuhalau pikiran itu dengan mengajak mereka berdua menuju meja makan untuk makan siang bersama. Selama di meja makan, mereka tak banyak bicara. Mereka berbicara seperlunya jika aku yang memulainya.
Pukul 15.00 wib setelah aku mandi, suamiku pun kembali ke kantor. Tak lama Riski pun berpamitan untuk kembali ke rumahnya. Ia berkata bahwa sore nanti ia akan kembali ke kotanya dan mungkin bulan depan baru kembali kesini. Menurut ceritanya ia akan sering-sering kesini karena ia adalah pimpinan proyek pembangunan sebuah Mall baru di kotaku.
Berat bagiku untuk menyaksikan kepergian Riski dari rumahku. Apalagi tadi Riski mengatakan bahwa bulan depan dia kembali kesini. Itu berarti, rindu ini harus kutahan sampai bulan depan lagi. Oh,, aku ingin memeluknya saat itu.
Bersambung ….

Kamis, 13 September 2012

Mereka Adalah Lelaki [ Bag. 1 ]


Oleh : Lilih Wilda dan Auda Zaschkya



Tak pernah terlintas dalam pikirku untuk menjadi isteri dari seorang pengusaha muda yang tampan dan sukses. Sungguh, hidup serba berkecukupan bersama seorang yang sangat romantis dan mengerti segala kebutuhan isterinya juga tak pernah kubayangkan. Pukul 04.30 pagi, ia membangunkanku untuk menunaikan shalat subuh setelah itu, aku selalu melanjutkan tidurku dan suamiku? Kemana ia? Sebelum ia berangkat mencari berlian untukku, ia menyiapkan sarapan pagi. Setelah selesai memasak, ia membangunkanku seraya mengecup keningku walaupun saat itu aku belum mandi. Ia juga selalu menuliskan kata-kata mutiara yang indah dalam selembar kertas dan diletakan di samping ranjang kami. Ah,, Aku diperlakukan bagai ratu di kerajaannya.

Pagi ini aku bangun, seperti biasa aku menemukan hal indah di kamarku. Aku tersenyum lalu meraih sarapan yang telah disediakan suamiku, tanganku juga meraih selembar kertas yang bertuliskan “sayangku, lihatlah ke luar, mentari sedang menyambutmu dengan suka cita”.
Aku tersenyum sambil mengunyah roti selai yang telah dia siapkan. Setelah sarapan, apa yang harus aku lakukan? Sejujurnya, situasi seperti ini sering membingungkanku. Mengapa? Ya.. sebab, aku terlahir sebagai perempuan rumahan. Aku tak suka menghabiskan waktuku untuk bersantai dan menghabiskan waktu serta uang suamiku di mall. Aku juga tak suka berlaku layaknya sosialita kebanyakan, padahal dengan uang dari suamiku, jalan menjadi sosialita sudah terpampang di depan mata. Bila alasannya ingin bersosialisasi, banyak jalan yang bisa kutempuh, mungkin aku bisa menjadi donatur di sebuah panti asuhan. Kebahagiaanku makin sempurna bersamanya. Dan jika aku ingin pergi kemana saja, aku tinggal menelepon suamiku. Suamiku langsung mengantarkan aku kemanapun kemauanku sebab lelakiku tak pernah sanggup membiarkanku sendiri.

Teman-temanku selalu berkata, “kau adalah perempuan yang sangat beruntung, Winda”. Sahabatku Fani juga berkata, “ah, Winda. Siapa yang tak mau mendapatkan semua ini. Sejujurnya terkadang kau membuatku dan teman-teman lain merasa iri”. Tanpa bisa berucap apapun, aku hanya bisa tersenyum.

Keberuntunganku pun lengkap saat suami dan teman-temanku berada dalam deretan kursi di dalam bioskop. Bukan bermaksud untuk membuntutiku, Cuma ia ingin selalu berada disamping isteri cantiknya yaitu aku. Teman-temanku sangat mengerti, mereka hanya bisa tesenyum melihat polah suamiku bahkan tak jarang juga mereka mengajak suami-suami mereka.

***

Pukul 07.00 pagi, seperti biasanya suamiku Willy telah berangkat ke kantor. Seusai mengantarnya ke depan pintu dan melihatnya pergi, aku kembali ke kamarku. Sambil berbaring di ranjang, pikiranku menerawang jauh ke masa lalu, dimana saat itu aku masih menjadi seorang pegawai di perusahaan percetakan kertas di kota ini.

Saat itu, aku memiliki seorang penguasa hati bernama Riski. Menjalin cinta dengan Riski adalah kebahagiaanku sebab Riski adalah pacar pertamaku sekaligus cinta pertamanku. Kami berpacaran sedari SMA. Mungkin laki-laki seperti Riski ini adalah yang paling digilai banyak perempuan. Dia itu termasuk type bad boy dimana ia cukup cuek, bahkan ia tak pernah memberiku setangkai mawar atau sebatang coklat tapi prestasinya di sekolah patut diacungi jempol. Entahlah, aku juga tak tahu mengapa aku sangat mencintai Riski. Segalanya tentang Riski telah kuketahui dan aku dapat memakluminya, namun 5 tahun usia kebersamaan kami, ia tak kunjung melamarku. Riski selalu berkata bahwa tabungannya belum cukup. Ataupun karena ia berasal dari keluarga yang sangat sederhana makanya ia belum berani melamarku sampai akhirnya aku menikah dengan suamiku, Willy.

***

Berkenalan dengan Willy adalah suatu ketidaksengajaan yang awalnya tak kusukai. Namun seiring berjalannya waktu akhirnya aku tertarik untuk menikah dengan anak pengusaha terkenal di kota kami. Orang tuanya yang kebetulan adalah teman lama papaku menjodohkan kami. Willy adalah sesosok lelaki pintar dan juga lembut. Wajah tampannya adalah perpaduan Sunda dan Arab. Setelah ia melamarku dan diterima oleh papaku, akhirnya aku memutuskan menikah dengan Willy dan meninggalkan Riski si bad boy yang tak pernah memberikan kejelasan untuk masa depan hubungan kami.

Setelah ijab qabul, pesta pernikahan kami diselenggarakan dengan mewah. Layaknya seorang putri, aku sangat berbahagia bersanding dengan Willy yang berwajah tampan ini. Selesai pesta pernikahan, keesokan harinya kami langsung pergi berbulan madu ke Bali. Disana sudah dipersiapkan sebuah kamar yang pemandangannya langsung berhadapan dengan pantai. Sangat indah, bukan? Ah.. lelaki disampingku sangat tahu memperlakukan wanita. Dan malam ini adalah malam yang indah dimana aku diharuskan mempersembahkan kesucianku pada laki-laki perkasa ini.

Setelah aku melaksanakan kewajibanku, aku terbangun di pagi hari. Pagi yang sangat cerah bersama suami yang baru aku kenal sebulan yang lalu. Sambil memelukku, ia mengatakan sesuatu, “sayang maafkan aku. Mungkin aku tak bisa memenuhi kewajibanku sebagai suami. Aku tahu bahwa aku telah mengecewakanmu. Tapi aku akan berusaha, kita berdua akan berusaha untuk kebahagiaan kita”. Mendengar lirihnya, aku hanya mampu terdiam. Aku tak tahu harus berkata apa.

***

Ucapan itu telah terngiang ditelingaku sejak 8 tahun yang lalu, namun sebagai perempuan normal yang ingin memiliki anak, aku masih saja memikirkannya.
Tak terasa, dua jam juga aku telah kembali ke masa lalu. Sekarang Sudah jam 9 pagi. Terdengar olehku suara bel rumah yang tak kunjung dibuka oleh pembantuku. Sebenarnya cukup malas jika harus kuangkat tubuhku menuju pintu depan, namun suara bel yang tak kunjung berhenti itu benar-benar mengganggu, akhirnya aku bangun dari tempat tidur. Dengan masih berpiyama, aku membuka pintu dan melihat sesosok tubuh sedang membelekangiku. “Siapa ini?”, pikirku sejenak sebelum ia berbalik ke arahku.

Sungguh tak kusangka dan tak kuduga, ternyata imajinasiku di ranjang tadi menjadi kenyataan, dimana lelaki masa laluku tengah menyunggingkan senyum termanisnya di hadapku. Dia Riski, mantan kekasihku, si badboy itu. Menyambut kedatangannya yang tak terduga itu adalah kebahagiaan tersendiri untukku. Bagaimana tidak? Aku sedang bertatapan dengan seseorang yang selama ini aku cintai selain suamiku.

Lalu aku mempersilahkan Riski untuk memasuki rumahku. Setelah menyuguhkannya air dan beberapa cemilan, kami pun saling berbicara tentang kehidupan kami sekarang. Akhirnya kami Sampai pada satu titik pembicaraan.

Bersambung ….

Senin, 10 September 2012

Semoga Kau adalah Surgaku


1347280913845905487
image from http://kholilahpunya.files.wordpress.com

***

Sejak perpisahanku dengan kekasihku sebelum bayangmu hampiriku, aku berusaha untuk tegar bahkan aku termotivasi untuk angkuh menghadapi perkara hati yang aku tahu begitu menyakitkan. Sempat terpikirku untuk membenci kaummu sebab perihku terlalu lelah untuk kutangisi hingga aku tak ingin mengenal sosok adam lagi.
Bertemu denganmu adalah suatu ketidaksengajaan yang tanpa kita tahu untungnya. Banyak waktu yang telah kita habiskan berdua dan ternyata setelah mengenalmu, banyak pertanyaan akan sosokmu yang ingin kukupas lebih dalam. Saat itu, posisiku adalah sebagai pendengar yang selalu memiliki waktu berlebih hanya untuk mendengar kisahmu.
Bagaikan pasar malam, kita saling bermarketing tentang hati di malam hari. Berbicara tanpa jeda, kata cinta pun teramat sering kau dendangkan dengan indahnya di telingaku yang awalnya benci kata itu sebab kaummu, dulu. Ya, itu dulu.
Seiring waktu berjalan, kita saling bercerita tentang situasi dan kondisi yang telah kita lewati. Sejujurnya, ada rasa iba dihatiku mendengar rumitnya hidupmu. Seketika timbullah rasa dihatiku bahwa aku ingin menyayangimu layaknya kata sayang yang sering kau ucapkan padaku.
Betapa berat hidup yang telah kau lewati, juga masih banyak realita hidup yang harus kau jalani, mungkin lebih berat daripada beban yang telah kulalui.
Di saat terberat di hidupmu, kini Tuhan mempertemukan kita. Dia menganugerahkan aku untuk menjadi hawamu. Aku percaya itu sebab kau ada di dunia ini, kau tercipta untukku. Kau sebagai adamku juga sebab-Nya. Kau adalah anugerah tuhan yang sepatutnya kusyukuri sebab kau adalah sempurnaku.
Namun sayang, Terbentang luas hambatan untuk dapat saling menyatukan visi dan misi hidup ini sebab kesempurnaan cinta itu agaknya masih jauh dari jangkauan fisik kita.
Beribu tanya bersarang di dalam otakku. Semisal : Seandainya hanya tinggal kau dan aku di dunia ini bersama sekelumit kisah perbedaan yang setia mengikuti jalan kita, Masihkah perbedaan memisahkan kita?
Jika hanya ada aku dan kau sebagai lelaki yang tak perlu kuragukan kejantananmu. Akankah kau tetap diam tanpa menyentuh aku? Sanggupkah kau biarkan dinginnya malam membekukan rasaku hingga ku benar-benar mati rasa? Atau malah kau mampu biarkan aku dibakar matahari hingga maut menjemputku dan meninggalkanmu?
Atau pertanyaan yang paling menohokmu, Haruskah kita menjadi perjaka dan perawan hingga rambut memutih dan kulit berkerut tanpa kita sempat berkembang biak? Haruskah dunia ini berakhir tanpa penerus kita?
Ah,, itu hanya mimpi dan Semua itu akan kau jawab TIDAK !

Namun, kita hidup di dunia nyata dimana kau dan aku selalu harus mengikuti perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Aku yakin, kau tak akan melupakan kalimat itu yang selalu didengungkan oleh guru-guru kita sedari kita masih berseragam merah putih, sebab inilah realita yang harus kita hadapi.
Aku menginginkanmu layaknya kau inginkankan aku. Maka, berusahalah untuk wujudkan harapan indah yang sempat kita lontarkan bersama.
Dalam Do’aku, kau selalu ada.
Lupakanlah masalahmu, buang bebanmu dan semoga jalan kita dimudahkan oleh-Nya. Semoga Kau adalah Surgaku. Amin.


Auda Zaschkya
Di Pojok Warung Kopi - 10/09/12

Jumat, 07 September 2012

Dia Perempuanku, Namun Bukan Milikku

1346947848819550848
image from http://www.langitberita.com

Rasa sakit itu mungkin masih berbekas di hatiku. Namun, ini bukan salahnya. Ini salahku, belum bisa mewujudkan harapan kami untuk hidup bersama. Dia akan selalu mendapat tempat istimewa di hatiku walaupun nanti aku telah menemukan perempuan lain yang menjadi ibu bagi anak-anakku. Namun, aku harus menyelesaikan kuliahku yang tak kunjung selesai ini.

***

Orang tuaku memberiku nama Reza. Aku adalah seorang mahasiswa tingkat akhir yang juga bekerja sebagai penyiar di salah satu radio swasta di kotaku. Sebelum menjadi penyiar radio, aku adalah seorang presenter sebuah acara musik maupun talkshow pada televisi lokal, di kotaku juga tentunya. Saat masih di dunia pertelevisian, hari-hariku dipadati dengan pekerjaan di dunia broadcasting itu yang sedikit banyak menyita waktuku. Karena kesibukanku, kuliahku terlambat selesainya, padahal aku bukanlah mahasiswa bodoh. Nilai-nilaiku di kampus, rata-rata bagus. Seharusnya dibelakang namaku sudah ada gelar sarjana hukum. Ya.. seharusnya namaku Reza Fahlevi, S.H sekarang. Atau aku dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang s2. Namun, keinginan itu belum terwujud sampai kini, sampai saat dia menikah dengan pria lain dua bulan yang lalu.

***

Namanya Rina Wahyuni. Ia adalah seorang perempuan pendiam dan penurut. Itu terbukti ketika aku melihatnya di sekolah semasa kami SMA dulu. Aku mengagumi semangatnya dalam mengikuti MOS di awal masuk sekolah dulu. Semakin sering aku memperhatikannya hingga timbullah rasa suka di hatiku. Aku tak yakin akan perasaan ini. Ah,, mungkin ini yang dikatakan cinta monyet. Kubiarkan rasa itu berjalan seiring kedekatanku dengannya, hingga suatu hari aku memantapkan hatiku untuk menyatakan perasaanku padanya.
Sekitar pukul 4 sore setelah menunaikan shalat ashar, aku datang ke rumahnya untuk meminjam buku. Aku tahu, alasanku meminjam buku itu adalah alasan klise yang terlalu dibuat-buat. Aku bingung, bagaimana harus kuutarakan perasaanku padanya. Ya.. dengan alasan meminjam buku itu, semoga saja keberanianku muncul. 

Setelah ia memberikan buku yang ingin kupinjam, aku bangun dari dudukku dan tanpa banyak berkata lagi langsung kuraih jemarinya, “Na, aku mau ngomong nih, penting”. Ia tampak terkejut mendengar suaraku yang tiba-tiba menjadi berat, bahkan intonasinya cenderung serius. Sambil berusaha tersenyum dan melepaskan jemarinya dariku, ia berkata “silahkan Za, tapi ‘gak pake pegang-pegang tanganku juga dong, kayak di sinetron aja. Hahahaha.. eh, emang kamu mau bicara apa Za?”

“Wajahku seperti kepiting rebus nih”, yakinku dalam hati akibat malu. Terlebih aku masih dilanda kegugupan, namun aku memberanikan diri dan akhirnya berkata, “aku cinta kamu”. Seperti kebanyakan perempuan lainnya, Rina pun terkejut dan terdiam. Segera saja ia meletakkan bokongnya di kursi taman itu. Aku menyadari, mungkin Rina berharap sesuatu yang romantis diaksi nembak ini, namun dasar aku yang tak tahu bagaimana cara beromantis ria, jadi Cuma tiga kata itu yang mampu kuutarakan. 

Aku melihatnya yang tetap diam, mungkin ia marah pikirku namun aku harus mendapatkan jawaban saat ini maka aku memberanikan diri bertanya, “Na, gimana? Jawab dong.. kamu cinta ‘gak sama aku? Aku tau, aku ‘gak romantis ya? Maaf ya Na.. aku Cuma pengen kamu jawab, Ya atau nggak. Kalau iya, berarti kamu mau jadi pacar aku. Kalau ‘gak, berarti kita tetap berteman saja dan lupain aja kebodohanku ini ya Na”.

Seketika Rina pun akhirnya tersenyum dan ia berkata, “Maaf, aku ‘gak cinta sama kamu Za”. Seketika itu juga aku merasa tubuhku lunglai. Aku tak tahu, masih dapatkah aku beranjak pulang. Yang ada dalam kepalaku adalah aku telah kecewa. 

“Tapi aku mencintaimu”, lanjutnya kemudian sambil tertawa. Aku terkejut, sambil berusaha tertawa dan berkata, “ah,, kamu yang benar Na? Kalau benar, mulai malam minggu ini kita malam mingguan ya”. “Baiklah kalau begitu, kita malam mingguannya dirumah aja ya, sambil ngobrol-ngobrol kalau perlu sambil buat PR”, senyumnya kemudian. 

Mulai malam minggu itu, cerita cinta kami dimulai. Walaupun kami memulainya saat kami masih sama-sama duduk dikelas 1 SMA, tapi hubungan kami terus berjalan tanpa pernah ada masalah sampai kami lulus SMA.

Dimana ada Reza, disitu ada Rina dan begitu pula sebaliknya. Saat memilih jurusan untuk SPMB pun kami saling bertukar pikiran. Bagiku, Rina yang pendiam dan penurut itu adalah seseorang yang mampu memberikan pandangan yang masuk akal kepadaku. Ya.. Rina memang perempuan cerdas yang tak hanya pintar di sekolah namun wawasannya luas.

Kamipun dapat melewati SPMB dengan lancar dan kami diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di kotaku. aku di Fakultas Hukum dan Rina di Fakultas Sastra, tepatnya Sastra Inggris. Kami memulai perkuliahan seperti biasa. Beberapa bulan kemudian, aku mencoba untuk bergelut di dunia televisi dan berhasil menjadi presenter disana. Sementara Rina, tetap berkonsentrasi dengan kuliahnya.

Hubungan ini berjalan lancar dari tahun ke tahun hingga tak terasa sudah tujuh tahun cinta ini telah kami rajut, dan Rina pun telah diterima bekerja sebagai costumer service di sebuah Bank Swasta di kota kami. Sementara aku? Masih setia bersama dunia broadcaster dan kuliah hukumku. 

***

Di Sabtu siang itu, Rina mengajakku bertemu. Ditelepon ia mengatakan ada hal yang harus ia bicarakan. Kelihatannya ini serius. Setelah jadwal pekerjaanku, bergegas aku pergi untuk menemuinya di cafe biasa. Setelah memesan makanan, Rina pun mengatakan, “Za, aku dijodohkan oleh orang tuaku dengan anak temannya namun aku tak mencintainya. Aku telah berkata, aku telah memiliki kekasih, namun orang tuaku malah menyuruh kita untuk putus saja. Bagaimana ini? Aku tak mencintainya. Hatiku telah seutuhnya ke kamu Za”.

“cubit aku Na, supaya aku tahu bahwa aku sedang bermimpi”, ujarku. “kamu ‘gak mimpi kok Za, itulah kenyataannya dan bulan depan kami akan bertunangan”, kata Rina.

Terlihat air mata di sudut matanya, aku tahu ia ingin menangis dan aku pun merasakan hal yang sama, namun sebagai laki-laki, aku tak boleh cengeng. Sambil menyantap makanan di meja kami, aku baru berpikir dan mungkin sedikit menyesal. “Seandainya saja kuliahku telah selesai dan dengan modal pekerjaan yang aku miliki, aku dapat melamarnya”.

Sejak saat itu, kami harus berpisah sebab orang tuanya telah menyuruhnya untuk memutuskan aku. Dan praktis, saat itu pula aku tak pernah mengetahui kabarnya, sampai ia berpisah dengan tunangannya itu.
Rina memang tak mengatakan bahwa ia telah berpisah dari tunangannya itu. Aku mengetahui kabar itu dari Opi. Opi adalah sahabat Rina sejak SD yang masih berhubungan dengan Rina. Opi menyuruhku untuk menghubungi Rina, namun aku tak melakukannya. Aku berusaha ikhlas. Ah,, rasanya lagi-lagi itu adalah alasan klise. Bagaimana mungkin rasa ikhlas itu menghampiriku mengingat tujuh tahun kebersamaan kami dulu.

Seiring waktu berjalan, pendidikanku di strata 1 pun tak kunjung selesai. Gelar S.H ternyata belum mau disematkan di belakang namaku. Namun, aku masih tetap bekerja di dunia yang telah mengenalkanku kepada masyarakat kotaku.

***

Oleh karena prestasiku di dunia pertelevisian ini, oleh pimpinanku aku dipercaya juga untuk menjadi penyiar radio yang ternyata satu perusahaan dengan TV lokal ini. Mengapa penyiar radio? Karena aku suka berinteraksi langsung dengan orang lain. Karier di dunia broadcaster telah ada dalam genggamanku karena ini hobiku. Namun kuliahku? Ya.. kuliahku pun belum selesai. Sementara Rina, telah menemukan tambatan hatinya yang baru, yang dari Opi juga kuketahui bahwa mereka telah melakukan pertunangan dan akan menikah di tahun ini juga.

Pria itu memang lebih mapan daripada aku. Ia telah menyelesaikan pendidikan s2nya diluar negeri dan sudah dua tahun ini ia bekerja di Bank milik Pemerintah sebagai Back Office. Masih kata Opi, bila mereka telah menikah, pria yang bernama Fathir itu pun akan melanjutkan pendidikan s3nya, mungkin Rina akan mengikutinya ke luar negeri.

Bagaimana dengan aku yang belum menamatkan kuliahku yang sekarang sedang berada di semester 10 ini? Aku tak mau di D.O dan Aku harus menyeleaikan kuliahku. Satu-satunya jalan adalah aku harus memilih untuk melepaskan salah satu pekerjaanku. Dan aku lebih memilih menjadi penyiar radio saja yang tak begitu banyak menyita waktuku sehingga kuliahku dapat segera selesai.

Enam bulan setelah Opi mengabari aku tentang pertunangan Rina, hari ini Rina menikah dengan Fathir. Dan melalui Opi juga, Rina berkata bahwa, “tolong undang Reza di resepsiku ya Pi, mungkin hari ini adalah sebagai hari pertama sekaligus hari terakhir aku melihatnya sejak satu setengah tahun yang lalu”. Mendapat amanah dari Rina, Opi menemuiku dan menyampaikan amanah itu. “kamu jangan sedih ya Za, bawa aja pacarmu ke resepsi Rina siang nanti”. “Aku belum memiliki penggantinya Pi. Aku mau menyelesaikan kuliahku dulu”, lagi-lagi jawaban penuh keklisean kutunjukkan pada Opi. 

Sebenarnya apa tujuanku mengatakan hal itu kepada Opi? Berharap Opi mengatakan hal itu kepada Rina, kemudian Rina membatalkan pernikahannya dengan Fathir? Kalau itu harapanku, itu adalah harapan bodoh yang sempat kupikirkan. Aku mengenal Rina yang penurut, terlebih kepada kedua orang tuanya. Tak mungkin Rina melalukan itu. Ah,, aku melakukan hal bodoh lagi !

Rina telah menikah dan harus melaksanakan kewajibannya sebagai istri Fathir mulai hari ini. Aku telah melihat kebahagiaan mereka, namun disaat aku mengatakan selamat kepada Rina dan Fathir pada resepsi pernikahan mereka siang tadi yang kudatangi seorang diri, aku melihat sedikit genangan air mata di mata Rina. Aku yang memegang tissue saat itu, langsung memberikan tissue kepada Rina seraya berkata, “Na, jangan menangis, hapus air matamu, karena ini hari bahagiamu. Jangan biarkan para tamu di resepsi ini melihat tangismu”.

“Aku berusaha Za. Aku mohon maaf padamu atas kesalahanku. Aku menangis karena aku masih sangat mencintaimu”. Sungguh, terharu ketika kudengar kata cinta itu dari bibir Rina yang sempat ia bisikkan di telingaku sebelum aku meninggalkan pesta itu.

Setelah menyalami keduanya, aku pun pulang ke rumah. Tak terasa aku menitikkan air mataku di dalam kamar. Aku tahu, lelaki tak boleh menangis, namun saat-saat sendiri seperti ini adalah saat yang tepat untukku tumpahkan sesak di dadaku apalagi tadi aku melihat Rina dan mendengar kata cinta darinya.

***

Setahun setelah hari pernikahan itu, aku menerima SMS berupa kata-kata perpisahan dari Rina yang tak dapat ku balas lagi.

“Za, hari ini aku berangkat ke Australia, menemani suamiku yang akan melanjutkan pendidikannya. Mungkin di ulang tahun kelima putraku nanti, aku baru kembali ke kota ini.Do’aku untukmu Za. Segeralah cari penggantiku ya Za, menikahlah. Salam sayang, Rina”

Seusai membaca SMS dari Rina, aku mencoba menghubunginya namun nomornya sudah tidak aktif lagi.

***

Aku berpikir, mungkin Tuhan telah mempersiapkan jodoh yang lebih baik dari Rina untukku. Namun aku tak mau terburu-buru, aku harus sesegera mungkin menyelesaikan pendidikan strata s1 ini sambil tetap menjadi penyiar radio saja. Setelah itu, aku baru akan menikah jika Tuhan memberikan jodoh untukku sebelum aku pergi juga ke Australia, bukan untuk mengganggu Rina tetapi untuk melanjutkan cita-citaku yang juga diketahui oleh Rina. Atau mungkin, di Australia nanti aku akan menemukan calon istriku. Tak ada yang tahu rahasia Tuhan. Semoga Dia memberikan yang terbaik untukku. Amin.

- TAMAT

Kamis, 06 September 2012

Mengapa Harus Takut Menjalani LDR?



Memiliki pasangan hidup yang terbaik diantara yang baik adalah dambaan setiap manusia. Maka dari itu, langkah pacaran pun pasti diambil. Pacaran ini sebenarnya bila disikapi dengan serius, tentunya sangat berguna untuk saling mengenal kepribadian dari masing-masing pasangan, supaya tidak salah memilih pasangan yang layak untuk dibawa ke jenjang pernikahan. Alasan yang cukup wajar, bukan?

Untuk yang tinggal berdekatan domisilinya, hubungan pacaran yang akan dijalani tentunya terbilang mudah, dimana tingkat intensitas pertemuannya yang mudah. Apalagi kalau mudahnya itu karena tetanggaan. Seperti lirik lagu Uut - Pacar Lima Langkah.

Namun, bagaimana untuk yang harus menjalani LDR? Pasti pembaca sekalian pernah mengetahui tentang LDR, bukan? Ya,, Long Distance Relationship atau memiliki hubungan cinta dengan seseorang yang tinggalnya berjauhan, misalnya beda kota, beda negara atau beda benua.

1346787130822994447
image from http://www.vemale.com

Seperti yang kita ketahui bersama, sebenarnya LDR ini bukanlah suatu hal yang mudah untuk dijalani. Cukup banyak kendala yang menghambat jalannya kisah cinta sepasang insan ini, misalnya intensitas bertemu yang diakibatkan oleh jarak yang berjauhan. Seperti yang juga dikemukakan oleh Psikolog Anna Surti Ariani S.Psi.M.Si kepada www.wolipop.detik.com “kendala saat menjalani LDR bisa bermacam-macam. Semakin jauh jarak, tantangannya akan semakin beragam”.

Sebagai seorang yang terbiasa dengan LDR ini, sedikit banyak saya memahami apa saja kendala yang dialami oleh pasangan LDR diluar sana.

1.       Kesibukan
Kita dan pasangan memiliki kesibukan yang berbeda di tempat domisili kita masing-masing untuk itu dituntut saling pengertian. Namun masalahnya, sudah dimengerti tapi tetap saja masih adanya ganjalan yang menyebabkan ribut-ribut kecil dalam hubungan itu sendiri.
Misalnya : ketika seorang wanita menghubungi anda (pria) disaat jam sibuk anda. Lalu anda mengatakan tidak bisa melayaninya berbicara tapi dengan suara yang cukup keras (tidak enak didengar), maka sang perempuan pun akan marah. Kemudian terjadilah ribut-ribut itu.
Alangkah baiknya, sebisa mungkin layani dulu sang wanita untuk mengobrol sebentar. Kemudian katakan kepadanya bahwa anda sedang sibuk sekarang. Katakan dengan intonasi suara yang cukup lembut dengan menyertakan alasan yang masuk akal dan jangan lupa, berjanjilah untuk menghubunginya kembali. Pasti sang wanita pun akan mengerti anda. Pembicaraan pun selesai dengan tidak meninggalkan beban atau amarah apapun, bukan? Hal ini berlaku juga untuk sebaliknya.

2.       Kesulitan Berkomunikasi
Di zaman yang serba canggih ini, siapa yang tidak memiliki ponsel? Pasti semuanya punya, bukan. Seperti pembahasan saya yang lalu, bahwa ponsel sekarang banyak yang murah berkisar antara harga Rp 200.000-Rp 300.000 (bukan ponsel second). Sangat tidak mungkin rasanya bila ada yang mengatakan tidak memiliki handphone. Kartu ponsel dari berbagai provider pun banyak yang murah. Apalagi bagi pekerja yang dituntut untuk selalu berhubungan dengan orang lain. Bagaimana bisa tetap berhubungan dengan relasi bila tidak memiliki ponsel? Begitu juga untuk berhubungan jarak jauh dengan pasangan. Masa’ cintamu lebih murah dari harga ponsel sih?

Media sosial juga turut andil dalam hubungan cinta ini. Apalagi di facebook ada fitur chat. Belum lagi chattingan di Yahoo Massanger (YM). Atau saling berkirim pesan lewat Direct Message (DM) di twitter. Kalau yang punya BlackBerry bisa BBMan. Bukankah media sosial ini cukup membantu jalinan cinta bagi yang sedang berstatus LDR ini?
Tak ada yang sulit jika anda mau tetap saling berkomunikasi, bukan? Toh banyak juga alat penghubungnya. Jadi jangan katakan banyak alasan untuk tidak berhubungan dengan pasangan anda.

3.       Curiga Yang Berlebihan
Nah,, untuk yang satu ini paling sering jadi pembicaraan di sekeliling kita, bukan? Adanya kedekatan pasangan kita dengan orang lain kerap sekali menjadi permasalahan besar yang dapat memisahkan hubungan anda. Belum lagi, kalau anda mempersiapkan mata-mata untuk melihat gerak gerik pasangan anda. Sang mata-mata akan menyampaikan apa yang dilihatnya tentang anda kepada pasangan anda. Dan yang tidak mengenakkannya, pasangan anda lebih percaya kepada mata-matanya dari pada kepada anda yang pacarnya. Kemudian pasti ribut dan ujung-ujungnya? Putus.

Seperti misalnya yang terjadi pada saya sekitar tahun 2009 yang lalu. Saat itu saya menjalani LDR dengan seseorang yang ternyata mempersiapkan mata-matanya yang kebetulan kuliah dan tinggal di kota domisili saya sekarang. Saat itu teman saya (laki-laki) yang  liburan ke Medan minta ditemani jalan-jalan. Maka saat itu saya pun pergi bersama sang teman. Sepulang saya ke rumah, sang pacar menghubungi saya dan menuding saya berselingkuh dengan laki-laki lain.

Dia mengatakan bahwa mata-matanya melihat saya jalan dengan seorang laki-laki. Saya sudah menjelaskan itu adalah teman yang minta ditemani jalan-jalan karena sedang liburan. Namun ia tetap tidak percaya. Yang parahnya dengan kasarnya ia membentak-bentak saya terus dari malam sampai menjelang subuh di telepon. Kontan hal ini membuat mama saya marah dan menyuruh saya memutuskan hubungan dengan dia. Mama saya berkata, “orang pacaran itu mencari kenyamanan dan kepercayaan harus tinggi walaupun jarak jauh. Bukannya malah dimarah-marahi gini. Aku yang kasih makan kamu, bukan orang lain, ‘gak berhak dia marah-marahi kamu. Jadi putusin aja dia. Belum jadi benaran, kok udah kurang ajar sama kamu”, kata mama. Memang saat itu saya masih memaafkannya namun tabiatnya yang tidak berubah, mendorong saya untuk benar-benar memutuskan hubungan kami.

Dari pengalaman saya diatas,sikap saling percaya harus ditanamkan kepada masing-masing pasangan dan tidak perlu menyiapkan mata-mata untuk mengawasi pasangan. Masa’ cintamu bisa  rusak hanya karena kamu tak mepercayai pasanganmu??? Cinta apa gitu? Lemah lah.. sama mata-mata aja cintamu bisa kalah.

4.       Masuk ke Lingkungannya
Mungkin untuk memasuki dunianya yang asing bagi kita adalah awal yang susah di awal-awal kita berhubungan. Pelan-pelan masuki dunianya, kalau perlu SKSD dengan teman atau keluarganya  . dengan begitu mereka akan mengenal kita sebagai pacar dia. Nah.. dari situ kita bisa mengorek informasi tentang dia, so ‘gak perlu pakai jasa mata-mata yang tak dibayar itu. Pun mata-mata itu tak mengenal kita.

Seperti yang sudah saya singgung diatas, LDR ini rentan sekali sama yang namanya putus. Mengapa memilih putus? karena :

1.       Perselingkuhan
LDR ini memiliki berbagai macam cobaan dan yang terberat adalah karena selingkuh. Ketidakmemiliki pasangan disampingnya adalah faktor utama ia mencari pacar lagi.Awalnya sih memang setia memegang komitmen, tapi siapa yang tahu dibelakang anda?
Begitu pula yang sering dikatakan oleh teman-teman saya beberapa tahun yang lalu. Salah satunya “cowokmu disana pasti punya pacar lagi karena kau ‘gak ada disana”.Dan hal itu pula dibenarkan oleh teman si laki-laki itu dengan berkata, “aku memang harus jujur, aku dekat sama dia dan dia disini memang punya pacar”. Bodohnya saya tidak percaya begitu saja dan menanyakan hal itu kepada pacar saya dan ia pun tak mau mengaku. Ya iyalah gak mau ngaku. Maling aja kalo’ ngaku penjara bakal penuh !

Saya yang bodoh ini percaya saja kepadanya. Alasan saya karena saya tidak melihat langsung. Ujung-ujungnya putus juga karena mama saya tak suka saya dimarah-marahi terus sama dia.

2.       Komunikasi yang Tak Maksimal
Lagi-lagi hal ini menyebabkan LDR ini tidak lancar. Kebanyak dari para pria keberatan jika dicari-cari oleh kekasihnya yang setiap saat membutuhkannya. Bagi para wanita, komunikasi itu sangat penting dalam menjalani LDR ini. Kalau tidak LDR, saya rasa lirik lagu dangdut diatas akan lebih dipakai oleh para wanita.

Buat para pria, kami para wanita menghubungi anda karena anda tinggal berjauhan dengan kami. Kalau anda tinggal satu kota dengan kami, telepon atau chat pun tidak akan sering kami minta. Kalau ingin, ketemu bisa saja kami para wanita melakukan berbagai macam cara untuk menemui anda (sama tempat domisili).

3.       Tidak Adanya Sikap Saling Percaya
Karena tidak bisa langsung bertatap muka, seseorang akan lebih gampang curiga kepada pasangannya. Nah, rasa curiga yang menggerogoti ini lambat laun akan mengakhiri kisah asmara anda. Dari pada ribut-ribut, banyak pasangan yang memilih untuk berpisah. Maka dari itu diperlukan sikap saling percaya. Dari awalnya kita berkomitmen untuk pacaran dengan seseorang, berarti kita harus percaya kepadanya.

4.       Tidak Dapat Menguasai Dirinya
Pernah dengar Insecure? Insecure ini adalah perasaan seseorang yang merasa tidak aman dengan dirinya sendiri ketika menjalani hubungan jaraka jauh. Misalnya dengan cemburu, posesif dan selalu curiga yang ujung-ujungnya bakal diikuti dengan pertengkaran dan akhirnya bakal putus. sebenarnya sih persaan insecure ini tak Cuma dialami oleh pasangan LDR saja, tak menutup kemungkinan bahwa pasangan yang berdekatan juga mengalaminya.

5.       Rasa Rindu
Rindu atau kangen adalah hal yang membuat pasangan ini semakin dekat namun rindu berat ini juga menjadi masalah jika tak kunjung bertemu dimana masing-masing pasangan bertengkar karena tak ada yang menyempatkan waktunya untuk mengunjungi sang pacar.
Karena itu, banyak juga pasangan yang tak sanggup menahan rindu lebih memilih untuk mengakhiri hubungannya.

Sebenarnya, Long Distance Relationship (LDR) yang susah ini akan menjadi gampang dipertahankan jika para pasangan LDR ini mengetahui bagaimana cara mensiasatinya. Caranya :

1.       Berbicara Setiap Hari
Walaupun kebanyakan pria menganggap hal ini adalah hal yang sepele, namun Ini adalah sesuatu yang mutlak yang biasanya diinginkan para wanita. Walaupun Cuma nanya, “kamu lagi ngapain?”. Ini bukan hal yang berlebihan bagi wanita. Karena sejatinya seorang wanita ingin mengetahui kabar dari kekasihnya setiap hari.

2.       SMSan, BBMan atau Chatting
Memang yang akan dibicarkan sangat singkat, namun inilah salah satu cara untuk menunjukkan cinta anda kepada pasangan anda.

3.       Menggunakan Teknologi Secara Maksimal
Kalau telepon, SMS, BBm dan jejaring sosial lainnya dirasakan tidak begitu maksimal mengentaskan rasa rindu pasangan LDR, saatnya menggunakan chat Video di Yahoo Massanger atau Skype. Jadi anda dan pasangan bisa melihat ekspresi wajah masing-masing.

4.       Kalau Kita Ketemu, Kita Ngapain Ya?
Nah,, ini adalah bentuk ucapan dari perencanaan hal-hal yang ingin dilakukan bila suatu saat anda akan menemui pasangan anda. Kedengarannya ini terlalu berlebihan ya? Memang sih, karena kan Belum ketemu ya santai aja dulu, nanti kalau sudah bertemu apa yang akan dilakukan akan terjadi dengan sendirinya. Namun, membicarakan angan-angan yang romantis bisa saja membuat pasangan anda memajukan waktu untuk bertemu anda.

5.       LDR terus. Normalnya, kapan?
Sebagai pribadi yang tidak ingin berpisah lagi dari pasangan anda, ada baiknya pertanyaan tersebut anda lontarkan kepada pasangan anda. Mengapa? Sebab, jika anda telah berani berkomitmen untuk serius, maka anda harus berani me”normal”kan hubungan anda ini. Maka segera, pastikan LDR yang anda jalani supaya segera bersama. Suatu keputusan yang tidak ringan memang, namun ini adalah pembicaraan yang penting demi mencapai tujuan akhir yang sama-sama diharapkan.

Setiap hubungan kasih yang akan dijalani, pastinya beresiko. Konon lagi dengan Long Distance Relationship (LDR) ini yang memang sangat beresiko. Namun resiko-resiko tersebut akan dapat diminimalisir dengan sikap saling pengertian, saling percaya dan komunikasi yang intens yang selayaknya dapat membuat pasangan anda dan anda sendiri merasa nyaman.

LDR itu sendiri ada karena kita yang telah berkomitmen untuk berhubungan dengan seseorang. Bila kita telah berani berkomitmen serta tahu akan adanya suatu keharusan ber-LDRan,  so mengapa harus takut untuk menjalani LDR?

[Review] Vaseline Super Food Skin Serum, bukan Hand & Body Lotion Biasa

Memiliki kulit wajah dan tubuh yang terawat dan sehat, tentu impian kita. Selain itu, anugerah Tuhan yang ada di diri kita, sepatunya mema...