Kamis, 29 Desember 2011

Tanggapan Baby Muhammad Ichsan di Postinganku Yang "Terpaksa" Harus Ku Hapus

Menarik diskusinya... Jadi ingin ikutan nih..

Saya mencoba mencermati berbagai pendapat di sini sehubungan "Fiksi, Karya Sastra, Pengalaman, Peran Didaktis dari Karya Sastra, Cara Memandangnya."

Izinkan saya juga berpendapat.

Terlepas dari berbagai penjelasan definitif tentang fiksi yang banyak sekali dikemukakan para ahli, saya berpendapat fiksi sebagai dunia serba-mungkin. Mengapa saya katakan demikian? Memang betul bahwa pengalaman individual penulis berperan besar dalam upaya rekonstruksi kenyataan-kenyataan baru dalam fiksi. Tetapi, berbagai pengalaman penulis tersebut sudah mengalami pergeseran ketika sudah diubah ke dalam karya fiksi. Sebab, sudah tak mungkin sama persis dengan realitas awal yang sebelumnya dialami penulis. Kenyataan dalam karya fiksi yang ada di dalam karya sastra berbagai jenre tersebut, sungguh merupakan kenyataan baru hasil aktivitas imajiner penulis yang mengolah pengalaman-pengalaman pribadi. Fiksi sebagai dunia serba-mungkin mengarah pada "mungkin saja realitas fiksional yang tersaji sama persis atau pun bisa jadi realitas fiksional tersebut sama sekali bertolak belakang dengan kenyataan yang kita kenali sehari-hari". Bahkan, fiksi tetap berada pada posisinya yang independen sekalipun karya fiksi tersebut serupa benar dengan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana yang bisa kita temukan dalam karya sastra beraliran realisme.

Lalu, ketika kita bicara "fiksi yang memancing syahwat" tentu kita mesti bicara persepsi dan sudut pandang antara pembaca "karya fiksi genit" sebagai penikmatnya dan penulis yang berfantasi. 

Pembaca mungkin saja menginterpretasi: "Wah, gile bener ceritanya... Sampai gelisah ane bacanya, nih..." Artinya, pembaca dengan sudut pandang pribadinya yang didorong niat tertentu "mengindentifikasikan diri sendiri" sebagai bagian kenyataan hidup dalam realitas fiksional karya. Lantas, niat yang bagaimana sampai bisa mendorong pembaca terserap lesap ke dalam "karya fiksi genit", saya kira hanya pembaca sendiri yang tahu. Namun, fiksi tetaplah dunia khayal dengan kenyataan serba-mungkinnya. Fiksi bertujuan sebagai fasilitator yang memudahkan pembaca untuk relaksasi sejenak. Kalau tak percaya, coba siram dengan seember air orang yang sedang menikmati karya fiksi yang berkisah tentang "usaha mati-matian untuk melestarikan diri melalui persetubuhan" yang dilakukan sepasang kekasih saat hujan badai di atas perahu. Dijamin si pembaca karya fiksi genit tadi akan bilang : "Wah, dinginnya kok beda, yah, dengan dingin hujan badai yang kubaca dalam cerita ini..."

Selanjutnya, saya juga ingin berpendapat bahwa karya sastra pun jelas sangat fiksional. Lalu, ketika kita bicara sebuah karya sastra "mesti mendidik" khalayak pembaca, mungkin saya agak berpandangan berbeda sehubungan dengan hal ini. Verba "mendidik" tentunya berhubungan dengan pembicaraan peran fungsional karya. Pandangan saya untuk hal ini, karya sastra mengarahkan benak pembaca untuk mengambil apa saja yang berfaedah sebagai rujuk acuan. Nah, di sinilah kita melihat bahwa pembaca berpengharapan untuk menemukan sesuatu yang berguna dari apa yang dibacanya (entah itu pengalaman seks, petualangan ganjil mencekam seperti dalam kisah horor dan misteri, cara beretorika, dan banyak lainnya lagi.). Tapi, tentunya berhubungan dengan perspektif pribadi si pembaca yang melakukan proses penafsiran terhadap bacaannya. Hanya jangan lupa bahwa karya sastra tadi tetap saja hasil kreativitas imajiner si penulis, dan tentunya tetap fiksi dengan dunia serba-mungkin berkenyataan fiksional yang independen.

Saya mencermati dalam artikel ini bagaimana Auda berdebat dengan komunikannya setelah dia membacakan sebuah karya fiksi berjudul: “Kutancap Cinta di Selangkanganmu” . Saya melihat bahwa lawan bicaranya memang memiliki pandangan yang tak terlalu luwes, dan lebih-lebih lagi serta-merta lawan bicara tadi tanpa ia sadari telah melakukan identifikasi / penghayatan diri secara total seolah-olah dirinya sendirilah yang sedang "menancapkan cinta di selangkangan."

Pertanyaannya sekarang adalah: "Benarkah ia sudah terserap akibat kurangnya pengetahuan tentang fiksi dan karya fiksi bersama kenyataan serba-mungkinnya?"

Saya berpretensi untuk menjawab dengan tegas "ya". Mengapa? Sebab, terbukti ia marah-marah setelah mendengar karya fiksi genit yang dibacakan Auda padanya. Bahkan saya sempat curiga bahwa lawan bicaranya sebelum marah-marah bisa jadi telah berhasil menikmati sejenak "fantasi secelup dua celup" dari identifikasi dirinya sendiri yang terserap sebagai bagian realitas fiksional dari karya fiksi "“Kutancap Cinta di Selangkanganmu” yang mensugestikan melalui imaji-imaji hasil konotasi makna tiap kata dan kalimat, membangun suasana kegiatan "penancapan batangan cinta berotot pada selangkangan." Sayang sekali bukan? Lawan bicara Auda tak mampu menjaga jarak antara dunia fiksi dan interpretasinya sendiri terhadap kenyataan fiksional di dalamnya. Lalu, serta-merta muntab dan menghakimi bahwa karya fiksi ini sama sekali tak berfaedah. Sebaliknya, bila kita tinjau bahwa sastra yang "Dulce et Utile" itu sendiri juga senantiasa memberikan manfaat sekalipun menyajikan petualangan "secelup dua celup". Karya sastra yang genit juga mendidik. Setidaknya, karya sastra yang genit memberikan pengetahuan cara yang baik dan benar tentang "bergenit-ria".

Lalu, bagaimana bila karya sastra genit tadi ditinjau secara moral? Wah, bagi saya pribadi karya sastra semestinya dihubungkan dengan dunia seni yang mengabdi seni itu sendiri. dan, seni selalu saja untuk eksistensi keindahan. Tentunya, akan senantiasa bertolak belakang dengan kaidah moral. Bisa jadi moral mengatakan ilustrasi petualangan seksual yang ada di dalam karya sastra penuh lubang-lubang yang mengantarkan pada pintu neraka. Tapi, seni akan mengatakan bahwa karya sastra genit dapat mengantarkan pada pengetahuan tubuh sebagai "keberadaan estetis", mengantarkan pada surga keindahan petualangan secelup dua celup yang saya saja tak munafik untuk mengatakan petualangan sedemikian adalah relaksasi kepenatan (ingat kembali fungsi menghibur karya sastra).

Demikian pendapat saya.     

Pria Dewasaku, I Love You


***
Masalah lalu membuatku muak akan ucapmu
Selalu Katamu :
“aku terlalu vulgar menyikapi sesuatu”
Hingga terluaplah amarahmu

(*)

Cobaku pergi darimu
perih rasa kehilanganmu
Namun, batinku berseteru :
“Aku tak akan lemah tanpamu”
Perlahan namun pasti ku hapus bayangmu
yang dulu erat mendekapku
Seketika kutemukan
Sosok Lelaki dambaanku
Ya… Pria Dewasa sebutku :
Baik dari segi usia maupun pikiran

(*)

Lelakiku kini sanggup membakarku
Dalam panas bara cita dan cintanya padaku
Lelakiku suka mendengar ocehanku
Selalu menanggapi aku
Dan tak kaku seperti es batu
Layaknya kau sang pendahulu

(*)

Suguhan manis untukku kembali darimu
Namun tak tanggapku atas niat “baik”, katamu
Sebab tertarikku tak lagi padamu

(*)

Aku menemukan penggantimu
Dia pria dewasaku
Yang Selalu mendukungku
Bahkan ia menyukai “kevulgaranku”
Layaknya katamu dulu
***

Senin, 26 Desember 2011

Aku Adalah Hantu Untukmu

Kau seperti hantu
Wujudmu tak dapat ku sentuh
Merdu suaramu pun tak terdengar olehku
***
Jangan mengeluh, katamu
Tidak!!
Ini bukan keluhku
Tumpukan kerinduanku padamu
menjadikan khayal ini membatu
***
Tertatih mengendarai malam
Aku mencarimu
Mengoyak keramaian malam yang kelam
Untuk menemukanmu
***
Coba kau pandang aku
Lihat aku yang masih termangu
Menantikanmu hadir dimalamku
***
***
Membaca permainan jarimu
Tentang kisah hantu
Membatinku :
Sepenting itukah sang hantu lukismu?
Mungkinkah ia telah sampai padamu?
Membawamu ke alamnya yang beku
Sehingga kau melupakan aku
Yang sedari tadi merindumu
***
Kalau begitu, biarkan aku menjadi hantu
membawamu ke alamku
sebab aku tak mau membagimu
dengan siapapun
bahkan dengan hantu sekalipun
***
Kau tercipta utuh untukku, maka
datanglah padaku selama aku masih manusia
sebelum aku menjadi hantu
atau
kau suka bila aku menjadi hantu?

Refleksi 7 Tahun Tsunami : Banda Aceh – Medan untuk Berobat Kista dan Melanjutkan Pendidikan

Medan, 24 Desember 2011 - 2 Hari sebelum 7 Tahun Tsunami

Kini, Ingatanku sedang tepat berada pada peristiwa memilukan di minggu pagi 26 Desember 2004. 7 tahun yang lalu gelombang Tsunami meluluh lantakkan kota kelahiranku. Sebuah kota di ujung pulau Sumatera. Kota yang menyimpan berjuta kenanganku bersama mereka para sahabat dan keluargaku, Banda Aceh tercinta.
13247157541908727983
Pusat Kota Banda Aceh - google
Bersama ibu kami tinggal disebuah rumah yang berjarak sekitar 4 km dari pantai yang berdekatan dengan makam Syiah Kuala. Pada pukul 07.58 wib terjadi gempa yang guncangannya cukup keras terasa sekitar 10 menit sehingga semua warga di tempat tinggalku beramai-ramai duduk di atas jalan, tak ketinggalan aku dan ibuku. Gempa pun berakhir dan semua warga kembali ke dalam rumah. Aku melihat bak kamar mandi yang cukup lebar sudah kosong, padahal sebelumnya sudah terisi penuh. Dari situ saja jelas telihat bahwa gempa yang tejadi memang cukup besar, setelah itu terdengar suara riuh dari luar, orang-orang berteriak “air laut naik, cepat tinggalkan rumah, sudah… tak perlu menyelamatkan apapun, Lari !!!!, selamatkan diri”. Serta merta kepanikan menjalari tubuhku serta menambah kesakitanku (aku baru divonis kista dan rencananya akan menjalani operasi 27 Desember 2004). Segera ku tarik ibuku dan lari untuk menyelamatkan diri, 5 menit kemudian bersama warga lainnya kami tiba di sebuah gedung sekolah dan segera naik ke lantai 2. Tak lama kemudian air laut pun menggenangi jalan, dan ya… itulah tsunami terjadi. Kami kelaparan, untungnya ada tetangga kami yang sempat mengambil makanan dari warungnya. Malampun tiba, kami tertidur di kelas sekolah itu dengan ketakutan akibat gempa yang masih terus terjadi walaupun dengan skala ringan. Dan aku harus menahan kistaku sendiri,

Setelah 1 hari mengungsi di sekolah dan air tsunamipun telah surut, aku dan ibu serta warga lainnya berbondong-bondong kembali ke rumah, niat awalnya mau membersihkan rumah dan tentunya kembali tinggal. Sepanjang jalan tergenang oleh lumpur lengket yang menghitam dan itu pula yang aku dapatkan ketika sampai dirumah. Dengan kecewa kami pun kembali kesekolah. Pukul 12.00 siang, salah seorang sepupuku yang kebetulan rumahnya tak terkena tsunami menemukan aku dan ibu yang sedang mengungsi, langsung aku dibawa ke rumahnya dan aku bisa sedikit lega walaupun saat itu pendarahan akibat kista masih menemaniku.

Tsunami yang disebabkan oleh Gempa Bumi Samudera Hindia ini maha dahsyat. Seluruh Banda Aceh dan pantai barat Aceh terkena tsunami bahkan sampai ke beberapa negara tetangga seperti Malaysia, thailand, Bangladesh bahkan juga ke beberapa negara di benua Afrika.
13247174521106062844
tsunami aceh - google
Mengapa kini aku berdomisili di Medan?

Rabu pagi 29 desember 2004, kakak laki-lakiku yang berdomisili di Medan tiba di Banda Aceh, tak lain dan tak bukan bertujuan untuk menjemput aku dan ibu untuk menginap dirumahnya. Saat itu penerbangan Banda Aceh – Medan masih sangat padat, sehingga kami harus menginap lagi semalam di bandara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh. Pukul 04.30 wib kami berangkat ke Medan, setelah itu pukul 05.30 kami tiba di rumah. Perutku masih teramat sakit oleh kista. Bulan pun berganti memasuki tahun baru 2005. Aku ingin kembali ke Banda Aceh namun sakitku tak mengizinkan. Mulai saat itu, Aku menjalani pengobatan secara intensif dan juga melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 4 Medan.

Memasuki sekolah baru sungguh membuatku malu karena aku salah satu korban dari banyaknya yang selamat dari Tsunami. Teman-teman disekolah baru memanggilku dengan sebutan “Si Aceh” dan mereka juga menanyakan, mengapa namaku tidak memakai “Cut” layaknya Cut Keke atau Cut Tari. Aku menjawab, tak semua orang aceh memiliki nama awal “Teuku atau Cut” seperti Nova Eliza dan Hemalia Putri. 

Memang benar diawal namaku tidak memakai kata “Cut”, tetapi darah Aceh mengalir deras dalam tubuhku. Ditambah lagi dengan keturunan Arab yang menjadi ciri khas masyarakat di kampung halamanku (Arab, China, Eropah, dan Hindia) menjadikan rupaku terlihat berbeda dari masyarakat kota Medan yang aku tinggali kini. Inilah jawabanku atas Pertanyaan yang sering ditanyakan oleh orang disekitarku. Terlahir sebagai seorang puteri Aceh merupakan anugerah terindah dalam hidupku.

13247162161586604466

Banyak sekali korban pada musibah tersebut, kemudian di Bangunlah Museum Tsunami yang diresmikan oleh Bapak Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (2008) di pusat kota Banda Aceh. Kini keadaan kota Banda Aceh telah kembali kondusif bahkan lebih ramai dari sebelum Tsunami walaupun masih sering terjadi gempa disana, semoga ini tak separah dulu dan Semoga musibah Tsunami ini tidak terulang lagi di Indonesia bahkan di seluruh dunia.

Jumat, 23 Desember 2011

[Hari Ibu] Wanita Sempurnaku, Maafkan Aku

Cacat lahir hampir merenggut nyawa seorang bayi yang terlahir dengan berat badan 1.9 kg. Itu aku, Aku tak sempurna saat itu, namun bagiku ibuku bagaikan malaikat yang dikirim Allah SWT untuk melindungiku, si bayi lemah tak berdaya. Beliau adalah makhluk yang diberi kesempurnaan oleh-Nya untuk menopang hidupku.

Ibu merawatku dengan penuh kasih. Tak pernah ada niatnya untuk meninggalkanku atau membuangku, padahal bisa saja ibu menitipkan ku dipanti asuhan atau sekalian saja meletakkan ku di tong sampah, namun ibu urung melakukannya, karena cinta dan penantiannya selama 15 tahun untukku.

13245421451280691936
Saat aku beranjak dewasa dan hanya hidup berdua bersamanya, aku menjadi mengerti akan kesusahan ibu, dari cerita orang tentang bagaimana kesusahan yang beliau alami dalam merawat bayi cacat yang kini telah bernyawa selama 23 tahun. Nak, jangan lawan ibumu ya.. waktu melahirkanmu, ibumu Hipertensi dan hampir tak bernyawa.

Namun, kini Aku masih menyusahkannya, masih mengecewakannya.. juga masih sering bertengkar dengannya. oh,, ibu maafkan aku.

Ibuku,, kini 60 tahun usianya. 2 hari yang lalu, beliau sakit lagi. Aku sedih.. dan kemarin aku mengantarnya ke Rumah Sakit. Sepulang dari Rumah Sakit, sedetikpun aku tak ingin meninggalkannya. Aku tak pergi kuliah, keluar rumah pun karena dipaksa ibu untuk kuliah. Namun aku tak bisa bersantai dengan kuliah. Setelah merenung dalam satu jam perjalanan, aku pun kembali ke rumah. Aku ingin segera melihat keadaan ibu. Maaf ibu, aku tak kuliah demi segera pulang untukmu.



Ibu
Terlalu besar pengorbananmu
Dimasa kecilku
Hingga kini saat dewasaku
***
Ibu
Terlalu banyak kecewamu
Terlau banyak sakitmu
Hanya karena lakuku
Yang tak berkenan dihadapmu
***
Ibu
Tulus maaf ku ucapkan padamu
Aku tak ingin menjadi anak durhaka untukmu
***
Ibu
Maafkan aku
Dan perbuatan durhakaku padamu, bu
***
Ibu
Pasti beribu maaf telah engkau kantongi
Karena ibu memiliki hati malaikat
Yang mungkin tak kupunyai
***
Ibu
biarkan aku memelukmu
kini, esok bahkan hingga akhir hidupmu
***
Selamat hari ibu untuk Ibunda Mariana
Wanita  sempurnaku
Maafkan kesalahan dan kekhilafan lakuku
yang pernah kulakukan padamu
***




Medan, 22 December 2011
Auda Zaschkya

Senin, 19 Desember 2011

Bahasa Rindu

13242821631785476934
google - image






Aku tak mengerti , apa yang kutulis ini
Hanya mengikuti kata hati, Kemana ia ingin pergi
***
Aku ingin membuat puisi cinta
Tapi aku tak tahu ingin bercerita apa
Hanya sejenis rindu membara
Aliran nya begitu deras kurasa
***
Berawal dari coretan pena atas kertas lusuh
Aku menulis bait demi bait puisi
Ungkapan  rindu yang tertumpah
Padamu kekasih hati yang senantiasa kunanti
***
Aku pun semakin tak mengerti akan puisi ini
Mungkin dis orientasi tingkat tinggi sedang mengitari
Ingin rasanya ku bidik hatimu
Dan melesatkan anak panahnya tepat di relung hatimu
Agar semua terurai jelas, adakah aku
Dan kita didalam hatimu sedang menikmati cinta itu
***
Terkadang saat ku bercermin
Jelma wajahmu tepat disisi
Namun aku tak tahu di belahan dunia mana
Potret dirimu berdiam
***
Terpurukku menanti disini
Hanya seladang bahasa rindu
Yang setia menemani
Menanti kabar baik darimu

Minggu, 18 Desember 2011

Rindu Pada Adamku

1324193261855967791
***

Kecemasan memucat di helai sunyi
Di aliri sepi dari seantero galaksi
Dan pikiranku masih tertuju padamu
Sosok tubuh yang amat kurindu

***

Sayang, kau kah itu
Yang bersembunyi dibait tulisanmu ?
Kau tahu, Teka-tekimu menuntunku menunggu
Akan ucap manis yang selalu terngiang merdu

***

Bagiku kau adalah pelega dahaga saat hausku
Namun kau tak tergenggam jemari rinduku
Kasihmu pula yang ku cari
Ketika bara hati padam tak berarti

***

Tubuhmu bagaikan angin, melesat cepat
Hingga tak kuasa untuk ku dekap erat
Meski dengan seribu ucap
Dan berjuta harap

***

Kau, kau, dah hanya kau seorang
Yang mampu membuat sesak di dadaku
Oleh ribuan tanya tentang
Dimanakah Adamku yang selalu kurindu ?

For My Baby



Kau adalah bagian terindah

dalam hidupku kini

yang tak bisa digantikan 

oleh siapapun lagi

***

aku sangat mencitaimu kekasihku

rindukupun selalu tertuju padamu

namamu telah terpatri didalam hatiku

Berkat Ibu, Saya Menjadi Pribadi Yang Mandiri

Alhamdulillah saya dihadirkan oleh-Nya ditengah-tengah keluarga kecil ini pada tahun 1988. Keluarga yang begitu mengharapkan tangisan bayi perempuan sejak 15 tahun setelah kelahiran putra pertama mereka yaitu Kakak laki-laki saya (1973).

Saya terlahir dengan cacat lahir bawaan (bukan fisik) yang mungkin tak semua ibu dapat menerima kekurangan tersebut. Namun ibu saya, beliau dengan begitu sabar dan terampilnya mengurus seorang Auda Zaschkya, bayi yang diberi kesempatan hidup oleh-Nya dengan bermodalkan berat badan 1.9 kg ditambah lagi dengan memiliki disfungsi saluran pencernaan yang juga saat itu menyebabkan BAB saya harus saya lewati melalui perut.

Ibu melewati harinya dengan sibuk mengurusi saya kecil dan berbagai masalah kecacatan saya. Berkali-kali saya harus dioperasi, beliau tetap bersabar dan selalu berusaha kuat. Tak pernah sedikitpun terfikir oleh beliau untuk meninggalkan saya karena penyakit saya. Dan berkat ketelatenan beliau dalam merawat saya, Alhamdulillah saya masih diberikan umur oleh-Nya hingga menginjak usia 6 tahun.
Pada usia saya tersebut, ternyata ujian dari-Nya juga masih ada dan Mei 1994 kami mendapat musibah kebakaran yang menghabiskan sebagian harta benda yang keluarga kami miliki. Ternyata itu adalah pukulan terberat bagi ayah saya. Sebelumnya beliau memang sakit, namun musibah itu membuat pikirannya bertambah. Belum lagi kami bertiga (abang sudah kuliah di Bandung) harus menumpang di rumah kerabat ayah. Kemudian pada 11 Agustus 1994 kami memiliki rumah kembali. Ayahpun bertambah sakit akibat stres, dan pada akhirnya beliau meninggalkan saya dan keluarga pada 7 September 1994. Selamat jalan Ayah, ami selalu do’ain Ayah. Semoga Ayah tenang disana. Ami sayang Ayah ^_^.

Mulailah saat itu saya hidup bersama ibu dan kakak angkat saya (menikah sekitar 2002).

Berkat ibu, saya menjadi pribadi yang mandiri

Dari saya kecil, ibu tak pernah memanjakan saya dengan menuruti kemauan saya yang mungkin tak mampu diberikan mengingat uang yang dimiliki Cuma berharap dari pensiun. Tapi ibu selalu memenuhi keperluan sekolah saya serta mengajari saya belajar dan mengaji. Untuk pakaian, pakaian saya selalu dijahitkan oleh ibu sampai sekarang, bahkan pakaian dalampun ibu yang membelikan (saya merasa malu bila harus beli sendiri) :P

Ibu selalu menolak mengantarkan dan menjemput saya ke sekolah, pernah kakak angkat saya yang mengantar, itu pun saya tak ingin berjalan dekat dengannya. Bila menyebrang jalan sayapun tak mau disebrangkan olehnya hingga suatu ketika saya disenggol oleh pengendara sepeda motor yang menyebabkan lebam di pinggang saya. Sakitpun saya tak menceritakan pada ibu, Saya tak ingin membebani ibu saat itu dan ketika ibu melihat pinggang saya, barulah saya dimarahi oleh ibu. “mak,, ami ‘gak mau nyusahin mak, ami mau mandiri kayak yang selama ini mak ajarin”.

13241429121133763834

Pada tahun 2000 disaat saya akan melanjutkan ke SMP, saya mengurusi segalanya sendiri, saya tak mau membebani ibu. Ini urusan kecil kok, saya bisa mengurus ini sendiri. Di tahun 2003 saat mau masuk SMA, saya juga mengurus semua sendiri, ibu hanya memberikan uang yang cukup dan urusan itu pun selesai beberapa hari berikutnya.

Ibuku adalah wonder woman

Dimata saya, ibu saya adalah wanita yang rendah hati. Beliau mengenyam pendidikan hingga tamat S1 dan namanya menjadi Dra. Mariana, tetapi beliau tak mau menggunakan titelnya tersebut pada Kartu Keluarga (KK) bahkan KTP.  ami bangga punya mak.. selalu bangga dari dulu, sekarang dan selamanya.

Kemandirian yang beliau ajarkan pada saya menjadikan saya berani mencoba  segala hal, apalagi sesuatu yang menantang adrenalin saya walaupun hasil nya tak baik buat saya. Intinya, saya sudah mencoba.

Saya tahu, begitu seringnya saya menyakiti hati ibu oleh kelakuan saya yang tak baik dimatanya. Berulang kali saya mohon maaf kepada beliau dan beliau pasti memaafkan saya. “Mak,, ami memang bandel mak, tapi ami sayang kali sama mamak, maafin ami ya mak”.

1324142367515566776
ibu saya adalah wanita terindah yang pernah saya temui

Pada saat saya mengalami kecelakaan dan harus dioperasi untuk pemasangan pen, ibu mendampingi saya di rumah sakit. Beliau harus tidur di lantai rumah sakit Cuma beralaskan karpet karet. Saya tahu dinginnya lantai rumah sakit. Sepulang dari rumah sakit, ibu pasti sakit. Saya tak mau ibu sakit karena saya lagi. Ini juga yang membuat saya menolak untuk dioperasi kembali padahal sudah setahun pen ini harus dicabut.

Saya tak ingin membebani ibu untuk mengurusi saya, tapi ibu tak pernah merasa saya kerepotan dalam mengurus saya. Saya amat sadar, sedari saya Cuma bayi yang tak ada daya upaya sampai diumur saya yang 23 tahun ini ibu tak pernah sungkan membantu saya menyelesaikan berbagai permasalahan saya, entah itu tentang kuliah ataupun tentang percintaan saya karena saya selalu mengenalkan teman dekat saya kepada ibu.

Tak ada orang lain diluar sana yang mengerti saya dan mengetahui bagaimana perangai saya. Terserah mereka mau menilai saya bagaimana dan mengatakan apapun tentang saya. Silahkan saja menilai dan menerka-nerka tentang saya, karena Cuma ibu Mariana yang mengetahui keadaan diri saya sebenarnya, luar dan dalam.

Selamat Pagi

Auda Zaschkya

Jumat, 16 Desember 2011

Informasi dan Edukasi Tentang HIV/AIDS Lewat Kegiatan Positif Universitas Medan Area (UMA)

Rabu, 14 Desember 2011

Pukul 09.00 wib saya tiba di Kampus 1 UMA ( Universitas Medan Area ) Jl. Kolam Medan Estate untuk mengikuti perkuliahan Opini Publik pukul 11.00 siang. Oleh karena dosen yang bersangkutan berhalangan hadir, maka saya segera menuju Gelanggang Mahasiswa UMA dimana sedang diadakan acara peringatan Hari AIDS se Dunia yang terlaksana berkat kerjasama yang baik oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) dan LSM Medan Plus dengan tema “AKU BANGGA AKU TAHU HIV/AIDS”.
13239384231734955288
image - pribadi
Acara ini diselenggarakan di kampus UMA sebab menurut Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan UMA Bapak Zulheri Noer MP, kampus UMA ini sangat Konsern dan peduli terhadap persoalan HIV/AIDS sebab kasus ini bukan menjadi tanggung jawab pemerintah saja tetapi masyarakat termasuk kampus harus memberikan pesan moral tersendiri bagi sesama. Maka dari itu acara ini dikemas secara menarik dengan mengolaborasikan antara unsur edukasi dan hiburan (perform band kampus) sehingga dapat menarik perhatian mahasiswa agar tetap mengikuti acara positif ini.

Saya tertarik dengan acara ini, makanya saya mau mengikutinya. Saya pun mengajak beberapa orang teman untuk ikut serta pada acara ini.

Selanjutnya Pada acara tersebut hadir pula Bapak Eben T. Kaban sebagai Tim Asistensi Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Sumatera Utara yang juga didampingi oleh Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMA Bapak Drs. Bahrum Jamil MAP yang sebelumnya di buka oleh Bapak Toras Syafwan Nasution sebagai Plt Gubsu Binsos Setda Provsu yang mengatakan bahwa ini adalah masalah yang serius dan memerlukan perhatian banyak pihak, maka dari itu Pemprovsu dan masyarakat telah berupaya menekan laju penderita HIV/AIDS lewat sosialisasi bahaya HIV/AIDS. Harapan dari sosialisasi ini tentunya agar dapat meminimalkan penularan virus ini, terutama di kalangan remaja.
1323938860607234198
image - pribadi
Bapak Eben T. Kaban juga mengatakan bahwa masih banyak masyarakat yang tertular HIV/AIDS. Biasanya pada usia 24 – 34 tahun inilah masa – masa rentan nya. Mengapa?  Karena masih kurangnya pengetahuan tentang Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA). Maka lewat acara ini beliau memberikan informasi berupa pengetahuan soal HIV/AIDS pada mahasiswa yang rata-rata berumur dibawah 24 tahun agar lebih dapat memahaminya.
13239386941642477572
image - pribadi
Beliau menjelaskan lebih lanjut bahwa yang mana penderita HIV/AIDS semakin bertambah setiap tahunnya karena kurangnya informasi tadi. LSM Medan Plus sendiri yang berdiri sejak tahun 2003 sampai 2011 ini telah mendampingi sekitar 2000 penderita HIV/AIDS. Faktor utama yang menyebabkan mereka yang terinfeksi HIV/AIDS adalah dikarenakan hubungan heteroseksual, homoseksual, dan penggunaan jarum suntik yang tidak steril. Beliau juga menambahkan lagi bahwa penularan itu melalui cairan darah, Air Susu Ibu dan cairan kelamin. Penggunaan pisau cukur dan sikat gigi juga harus diwaspadai karena kedua benda ini juga dapat menjadi media penularan HIV/AIDS.

Seperti yang telah saya paparkan diatas, acara ini diisi dengan penampilan berbagai band kampus. Tentunya acara inipun menjadi tambah menarik terlihat dari animo mahasiswa yang hadir. Terdapat juga stand dan informasi yang sangat ramah dalam melayani pertanyaan kita seputar HIV/AIDS, malah saya dipersilahkan untuk meng-add facebooknya di Rumah Singgah Caritas. Tak ketinggalan acara penandatanganan kain putih sepanjang 10 meter sebagai pernyataan khusus mahasiswa UMA (Universitas Medan Area) untuk mendukung penanggulangan HIV-AIDS di Sumatera Utara.

Pukul 13.00 wib acara ini pun usai, segeralah saya pergi ke toko buku untuk mencari buku - buku pegangan untuk kuliah dan menikmati Wifi di Warkop biasanya, Pukul 16.30 wib saya menuju ke kampus 2 UMA untuk mengikuti perkuliahan dari pukul 17.00 - 20.30 wib.

Selamat Sore


Auda Zaschkya

Selasa, 13 Desember 2011

Galau, Hobi atau Aktualisasi Diri ?

Sering mendengar kata GALAU?

Ya…  sering kita mendengar kata galau ini dari para remaja, dan tidak menutup kemungkinan juga diucapkan oleh orang dewasa. ”Galau tingkat tinggi atau sekalian tingkat dewa”, kata mereka yang sering menggunakan istilah ini.

Analisa saya mengatakan galau adalah proses aktualisasi diri dimana kesenangan seseorang yang ingin dipandang oleh orang lain. ” Woy,,, kau tengok gak sih ada aku disini,, Aku lagi sedih nih,, aku pengen diperhatikan”

1323729448425437224
Ini yang saya katakan proses aktualisasi diri dimana sang penggalau ingin mendapatkan apresiasi dari orang lain.. Ya,, mungkin lebih ke mencari perhatian :)

Hellow,, Kalau lagi sedih, emang mesti galau ya? mesti diperhatiin orang ya? gak bisa gitu nangis sendiri aja atau cerita tentang apa yang dirasa ke orang lain? Dari pada sedih, toh sedih juga gak menyelesaikan masalah.
Menurut percakapan yang saya lakukan bersama teman-teman, galau ini merupakan sebuah trend.. dimana galau ini karena ikut-ikutan, dimana orang galau kitapun ikut galau. Disamping itu, ada seorang teman lagi yang berkata : galau itu adalah bersenang-senang dengan diri, sedih maupun senang.

Nah,,, ini pernyataan paling menggelitik yang pernah saya dengar, ”BERSENANG -SENANG DENGAN DIRI”
Dimana-mana atau kemana-mana yang namanya galau ini merupakan ekspresi kesedihan.. Jadi, bersenang-senang dengan diri menikmati kesedihan ??Yakin ??
Ada juga yang mengatakan : galau yang positif donk. What ??? emang ada ya galau yang positif.

13237461911063394364
google image
Ya sudah, itu hak masing-masing individu dalam memaknai GALAU tersebut. Yg pasti galau ini terjadi akibat memikirkan suatu masalah secara berlebihan. Lama-lama galau dan jika tidak bisa mengendalikan diri, si pegalau pun bisa berbuat nekat. Misalnya, ketika Ia menjadi seorang manusia bodoh yang ingin bunuh diri. Apakah ini juga yang dinamakan bersenang-senang dengan diri dan galau yang positif? Jawaban kembali kepada pribadi masing - masing.

Pendapat saya untuk Galau yaitu Oh no!!!  Mending say No to galau !!!
Be a creative to get a new life. Always Positive thinking.


* hanya catatan dari seorang gadis yang tak ingin galau
Medan, 13 Desember 2011
05.39
Auda Zaschkya