Kamis, 22 Juni 2017

Jangan Malas Membaca!



Semalam, saya menonton salah satu sinetron spesial Ramadan di salah satu stasiun televisi. Saya hanya bisa mengernyitkan dahi ketika salah satu pemain menyebut saudaranya yang baru datang ke Jakarta ini, sempat tinggal di New Zealand karena ayahnya merupakan Duta Besar Indonesia untuk New Zealand. Lalu si saudara ini juga menyebutkan dia pernah bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) New Zealand. Ok, sampai di sini bisa saya terima kalau sinetron itu memang fiksi. Lalu kenapa saya katakan saya sempat mengernyitkan dahi? Karena kata New Zealand tadi. Kata New Zealand menurut hemat saya, merujuk pada keseluruhan negara tersebut. Yang mengganggu saya, memangnya dia tinggal di seluruh New Zealand

New Zealand itu kan termasuk negara persemakmuran Inggris, yang letaknya di sebelah selatan Australia, persisnya di Samudera Pasifik. Negara ini adalah sebuah negara monarki konstitusional berazas demokrasi parlementer, di mana Ratu Inggris, Elizabeth II adalah kepala negaranya sejak tahun 1952 dan Bill English, Perdana Mentri sejak 2016. (wikipedia). 

Kembali ke sinetron tersebut, jadi jelas, New Zealand bukan kota. Ibu kota negara ini yaitu Wellington. Sedangkan kota terbesar di negara itu ialah Auckland. Lalu di mana KBRI New Zealand? Adanya di Wellington menurut http://www.kemlu.go.id/wellington/id/default.aspx. Kalau si tokoh bekerja di KBRI New Zealand, otomatis dia tinggal di Wellington, toh?
Saya tahu, film dan sinetron memang sebagian merupakan fiksi. Bumbu cinta dan mungkin ada misterinya, merupakan daya tarik. Tapi jangan lupa, logikanya juga penting. Jangan terus menerus mengatakan nama negaranya, Tapi sebutkan saja nama tempat, misalnya Wellington, New Zealand. Atau Auckland, New Zealand.

*

Hey, yang namanya negara-negara di dunia ini, punya daerah atau kotanya. Jadi jangan cuma tahu sebut Amerika-nya. Amerika itu nama benua. Amerika Serikat baru nama negaranya, itupun memiliki 51 negara bagian semisal New York, Iowa dan Texas. Jadi kalau mau ditulis atau disebutkan, bilangnya Texas, Amerika Serikat (United States of America-USA). Tak berbeda dengan Arab Saudi. Asal dibilang Arab Saudi, sebagian bayangan kita jangan cuma Mekkah-Madinah. Di sana ada Dammam, Jeddah juga Riyadh, toh.
Buat penonton film Korea, tolong lebih spesifik, Korea Selatan yang ibukotanya Seoul yang banyak memproduksi film ataupun serial televisi yang masuk ke Indonesia. Ini mesti dibedakan, karena Korea Utara juga Korea, juga ada dan ibukotanya yaitu Pyongyang, dan filmnya sejauh ini belum saya temukan.
India juga, industri filmnya juga gak cuma Bollywood yang terkenal dengan Trio Khan (Shah Rukh Khan, Salman Khan, dan Aamir Khan) nya itu. Bahubali-nya Prabhas dan Rana Daggubati yang tersohor dan menggelontorkan dana terbesar di perfilman India tahun ini, bukan film Bollywood, tapi film Telugu-Tamil. Ternyata bisa dikatakan, selain Dangal-nya Aamir Khan, Film Bahubali juga memperoleh peringkat IMDb yang tinggi. Meski kedua episode Bahubali dari Tamil-Telugu, dalam dialognya, beberapa kali juga ada berbahasa Hindi. Ngomong-ngomong, apakah sebagian kita mengetahui apa dan di mana Tamil? Tamil Nadu adalah negara bagian di India. Kalau dulu terkenal dengan Madras. Sekarang Chennai. Apakah kita tahu Chennai? Silakan nonton Chennai Express, Film Bollywood, Shah Rukh Khan juga yang main. Oia, bahasa dan tulisannya juga beda antara Hindi dan Tamil. Indrusti perfilman India ada Tollywood untuk film berbahasa Telugu dan Kollywood untuk yang berbahasa Tamil.

*

Yang mengganggu pikiran saya lagi yaitu, ada iklan yang bilang, mau liburan ke Jepang. Lha, memangnya seluruh Jepang dikunjungi? Kan enggak sampai ke kampung-kampungnya toh. Emangnya kita Ninja Hatori, lewati gunung dan lembah? Lebih elok lagi jika langsung disebut Tokyo, Jepang, atau Hokkaido, Jepang. Untuk iklan juga, saya paham masalah durasi. Tapi paling tidak, walaupun iklan itu menawarkan hiburan pagi penonton, lebih bijak lagi kalau memberikan informasi.

*

Dari pembahasan saya yang lumayan panjang di atas, intinya, saya cuma mau bilang, biasakan memperhatikan hal-hal lebih rinci. Misalnya, hal-hal yang dianggap kecil dan sepele, dengan banyak membaca. Entah itu membaca di internet atau buku. Jangan malas membaca. Sudah tahun 2017 toh. Era telepon selular yang pintar atau akrab disebut gawai (gadget) itu sudah semakin canggih. Dibuka mesin pencarinya. Diketik maunya cari tentang apa. Dimaksimalkan juga penggunaan aplikasinya. Apalagi yang paling malas ke toko buku. Ya ampun... ini gawat. Sudahlah malas membaca di internet, ke toko buku juga malas, kono lagi membeli buku. Jangan tauhunya gawai itu buat chatting dan game aja.

*

Bila berbicara tentang negara-negara di dunia, sebagian anak negeri masih kurang mengenalnya. Mulai dari memang tidak tahu, atau bahkan malas mencari tahu. Tulisan ini saya buat, bukan untuk mengajari kita agar gemar membaca. Saya hanya ingin kita lebih membuka pikiran kita dengan banyak membaca. Apalagi bagi orang-orang seperti saya yang belum berkemampuan keuangan berlebih, kiranya kita bisa menjelajahi dunia dengan membaca. Jadi kita tak malu bila tiba-tiba ditanyai orang yang agak cerewet (mau tahu) seperti saya. Minimal kamu tahu bilang liburanmu mau ke Ankara atau Istanbul, bukan cuma Turki. Atau bilang Ibiza, bukan cuma Spanyol :))

Minggu, 18 Juni 2017

Aku Rindu (5)

Ketika cinta memanggil, maka mendekatlah, perlahan. Sebab tak seorangpun yang mampu hidup tanpa cinta, konon lagi menolak hadirnya cinta Demikian pula aku. Walaupun aku tetap hidup, aku bernapas, dan bahkan aku tetap tertawa seperti biasa, namun aku tetap tak mampu bila tanpanya. Rasanya aku kehilangan arah jika tanpanya. Walaupun dia bukan malaikat ataupun makhlukNya yang sempurna, dia cukup bagiku. Cintanya menguatkanku.

*

Kemarin, dia menepati janjinya untuk makan malam di rumahku bersama mama. Mama tak banyak bertanya tentang hubungan kami. Bagi mama, kecakapan dia dan senyum kami sudah cukup menenangkannya sebagai orangtua. Dia mengenalku, jadi dia menyerahkan keputusan hatiku kepadaku, termasuk kemauanku mencintai Ryan.

Pukul dua siang hari ini, aku sampai di kantor dengan senyum mengembang. Semua orang yang kutemui, hari ini semakin merasakan keramahanku. Kantor juga sudah lumayan ramai di lantai dua. Menuju ke meja, aku akan membereskan sedikit sisa tulisanku. Ryan juga di ruangannya, tak tampak Nona, sebab Nona masih sibuk di meja Resepsionis. 

Aku tersenyum ke arahnya yang tengah memandangku. Tiba-tiba masuk pesan darinya, "Seandainya aku mampu, aku akan membawamu ke ruangan ini, Kekasih. Aku ingin menunjukkanmu di hadapan yang lain."

"Kau merindukanku?" sambil senyum pesanku sampai padanya.

"Apalagi yang mesti kuungkapkan, Zoya. Serupa cinta, rinduku semakin menguat padamu. Aku berharap, suatu hari, kita bebas saling menatap," balasannya sedikit menyunggingkan senyumku.

"Kita akan bertemu, Sayang. Rindu kita semerbak ketika kebisingan kota mulai meredup, ketika matahari berganti bulan. Meski aku tak mampu memastikan itu kapan bisa terjadi," kutatap ruangannya sembari memberi tanda.

"Malam ini kita akan merayakan tiga tahun cinta kita terjalin. Kita bertemu di Kafe biasa. Frapuccino menunggumu," balasnya dengan emotikon senyum.

*

Setelah menyelesaikan pekerjaanku, menghadiri rapat proyeksi harian, dan membereskan barang-barang, ternyata waktu menunjukkan saatku untuk bertemu dengan kekasihku. Dia juga tampak bersiap-siap.

Sejurus kemudian, Nona masuk ke ruangannya, meletakkan tas dan menuju kamar mandi. Seketika masuk chat darinya ke ponselku, "Maafkan aku, Kekasih. Aku tak dapat menghirup aroma parfum dan memandang Lipsik warna Plum milikmu malam ini. Semoga rindumu masih menggema untukku jika pertemuan kita malam ini harus tertunda."

Membaca pesannya, walaupun terasa perih dan sedikit mengeluarkan airmata, aku masih menyunggingkan senyum ke ruangannya pertanda kerelaanku. Aku memahami posisiku yang sungguh tak dapat kuingkari lagi. Demikian pula, dia di hatiku tak mampu terganti. Meski janji kami malam ini, tak terealisasi. Aku ingat apa yang pernah dia katakan, jika dia tengah bersama perempuan itu, jangan mengirimi dia pesan.

Untuk membunuh sakit hati, aku menghubungi beberapa narasumber yang mungkin bisa kuangkat profilnya. Aku tak peduli walau hari sudah gelap. Selain demi menghemat waktu esok, ini kulakukan demi menentramkan hatiku. Aku harus bertemu orang lain agar sedikit melupakan kesedihanku. 

Tak lama, aku meninggalkan kantor tanpa melihat ke ruangannya. Aku tahu dia menatapku. Namun sedikitpun aku tak menoleh padanya lagi. Ini demi mendongkrak hatiku yang sempat ditubruk rindu sedari siang. Demi menguatkan hatiku sebab janji kami yang batal. Juga demi menjaga penampilanku di hadapan khalayak, terlebih narasumber yang akan kutemui.

*

Malampun semakin larut. Pertemuanku dengan si narasumber juga sudah selesai. Namun aku masih enggan beranjak dari Kafe ini. Sebab aku kembali sendiri, aku kembali mengingatnya. Aku juga tak tahu mengapa, sulit menolaknya, padahal aku paham posisiku. Entah mengapa, sulit untukku melupakannya. Padahal dia bukan lelaki pertamaku. Namun bagiku, dia adalah cintaku.

Aku menjadi lebih emosional, sebab mencintainya tiga tahun terakhir. Segala perasaan emosional seperti sedih, marah, bahagia, kulewati untuknya. Berkali-kali dia memporak-porandakan hatiku, berbanding lurus dengan maafku. 

Mungkin kata orang, aku adalah perempuan bodoh sebab membiarkan diri semakin larut dalam cinta, dengan posisi perempuan kedua. Namun siapa yang mampu menolak pemberianNya? 

Kadang, aku ingin menyelesaikan kisah kami. Namun sungguh, aku tak mampu. Bukan sekali dua kali dia menyuruhku mencari penggantinya. Namun aku bisa apa saat hadirnya tak bisa terganti, meski oleh lelaki yang lebih kaya. 

Ketika lamunanku semakin menjadi-jadi sebab alunan lagu Sephia milik Sheila On 7 semakin riuh, tiba-tiba datang pesan darinya. "Engkau sedang di mana, Kasih? Aku merindukanmu. Dapatkah aku menghubungimu sekarang?"

"Aku masih di luar. Jangan hubungi aku sekarang," balasku

"Sudah hampir tengah malam. Tak baik perempuan sepertimu masih berada di luar jam segini. Pulanglah. Kamu di Kafe biasa, kan? Aku datang sekarang," balasnya.

"Perempuan sepertiku apa? Perempuan kedua untukmu, kan? Sudah, aku ingin sendiri. Kamu tak usah ke sini, Aku ingin sendiri," jawabku. Tak lama dia menghubungiku lewat telepon, berkali-kali. Namun tak kuangkat. "Pick up the phone. I'm worry about U," pesannya.

Aku bergeming. Sedikit menyesal, namun aku juga tak tahu mengapa aku membalas pesannya demikian. Yang pasti, aku benar-benar tak ingin berbicara dengannya sekarang. Bukannya tak sadar posisi, namun walaupun aku perempuan kedua, aku juga bisa sakit hati, bisa juga menangis, juga memiliki cinta yang tak terkira untuknya.



Rabu, 14 Juni 2017

Aku Rindu (4)

Jangan kira aku menyerah. Aku telah mendapatkan hatimu tiga tahun terakhir, walau memang tak dapat merengkuh bebas ragamu. Itu semua tak menyurutkan langkahku untuk mencintaimu. Malah semakin hari, rasa ini semakin kuat. Seumpama nisan, namamu terpatri semakin nyata di hatiku.

*
 
Aku tiba di rumah, lebih cepat dari biasanya. Beberapa janji dengan narasumber, mungkin akan kulanjutkan esok hari. Aku tengah bersiap-siap menerima teleponmu saat tiba-tiba, terdengar suara ibu memanggilku. Ya, beliau ada di sini. Baru tiba. Mama sengaja melangkahkan kakinya di kontrakanku bukan hanya sebatas rindu, namun ingin menanyakan calon suamiku. 

"Ada kabar dari Ryan? Kau masih dekat dengannya?" Mama hanya tahu kita dekat, namun mama tak tahu rindu kita semakin berat, serupa cinta yang semakin melekat.

"Hm... Ya begitulah, Ma. Kita dekat, tetap berhubungan baik dan profesional di kantor," jawabku

Mama memperhatikan raut wajahku. Mama tahu aku menyembunyikan sesuatu. Namun itulah mamaku. Mama tak suka mendesak orang. "Mama tahu yang kauhadapi. Jalani saja selama nyaman bagimu."

*

Sejurus mama meninggalkan kamarku, ponselku berbunyi. "Hai, kamu sedang menunggu telepon dariku, kan? Maaf aku sedikit terlambat karena harus mengantar si nona pulang dan sempat makan malam di rumahnya. Kau tahu rumah keluarganya di luar kota."

Mendengar penjelasanmu, aku berusaha tenang. Padahal, mataku bagaikan lubang di tengah jalan yang digenangi air hujan. Perih menahan rindu karena kita tak bisa secara nyata mengaktualisasikan kebutuhan kita. "Ya, aku paham. Aku selalu memahamimu bahkan ketika kau menginap di rumahnya. Malam ini tidak?"

"Tidak. Aku menolak tawaran mereka dengan alasan banyak kerjaan. Namun sejujurnya, aku menolaknya sebab janjiku tadi siang lebih penting, Sayang," katanya berusaha menenangkanku. Dia mengerti apa yang tengah kurakan.

"Aku baik-baik saja. Kau sudah makan? Mamaku datang ke sini dan membuat beberapa makanan. kau mau ikut?" Lagi, aku berusaha setegar mungkin.

"Kau tak perlu menutupi kegundahan hatimu dengan berkata seolah-olah kau baik-baik saja. Aku mengenalmu, Sayang. Aku tahu, kaulah satu-satu perempuan yang mencintaiku, Bahkan cintamu lebih dari dia."

"Ah sudahlah. Tak usah menghiburku. Ngomong-ngomong, tadi sore kaubilang ingin berbicara denganku malam ini, kan? Bicaralah, aku pendengar yang baik," kataku.

"Aku tak bisa melihat mejamu kosong seperti tadi siang. Hatiku dilanda rindu yang dalam. Cukup melihatmu, itu sudah membuatku sedikit lebih tenang. Walaupun si Nona tengah bersamaku,  pandanganku ke arahmu. Aku mengamatimu. Seketika kaupergi, Kekasih, hatiku hampa. Kumohon, lain kali jangan menghilang tiba-tiba," ucapnya.

Sekelebat, rindu ingin bertemu menderu kencang. "Aku sangat merindukanmu. Besok ke rumah. Sarapan bersama Mama. Beliau tadi menanyakanmu."

"Aku sudah tahu. Mama pasti menanyakanku. Baikalh, buku apa yang kau temukan tadi?

"Hanya beberapa buku tentang Filsafat dan Jurnalistik. Sepertinya, aku harus semakin sering membaca pemikiran-pemikiran Plato, Socrates, Ibnu Sina dan lain-lain demi semakin mengasah pikiran dan kepekaan sosialku. Bukankah sebaik-baiknya manusia diciptakanNya untuk bermanfaat bagi orang lain," perlahan, kami hanya membahas masalah pekerjaan, narsumberku dan dia yang lucu-lucu. Sedapat mungkin kami menghilangkan Nona dalam obrolan kami.

Hanya obrolan tentang cinta dan ketertarikan kami satu sama lain dengan Filsafat dan Jurnalistik, lebih menarik ketimbang tentang Nona, bahkan dia tak lagi mau menyelipkan nama Nona ketika kami sedang berbicara. Baginya, kualitas pembicaraan dan pembahasan kami, lebih penting dari apapun. 

"Kau jangan khawatir Zoya. Cuma kau yang mampu membuat hariku penuh warna. Kau jangan sering menangis lagi. Kantung matamu sudah cukup parah. Selain memangis, kau juga kurang tidur. Ketika kau tidak tidur, kau terus menyesali keadaan kita."

"Aku cuma memupuk rindu ini, Ryan. Setiap hari kusirami, dan jangan salahkan aku jika tak mampu kutatap bola mata lelaki lain. Karena aku dan hatiku, sepenuhnya milikmu."

Di ujung telepon, kutahu senyummu tersungging. "Ya, aku tahu kau tak menggubris lelaki lain, bahkan beberapa lelaki muda yang boleh jadi masih segar," tawamu.

"Hahaha.. Dasar kampret. Tak ada yang sanggup menggantikanmu, Sayang. Bahkan beberapa berondong, baik yang berwajah Arab maupun lokal, sepertimu. Selamat malam, Kekasihku. Aku ingin memimpikanmu, lewat rindu yang masih kaunyatakan untukku."

Malam ini, aku sedikit lega setelah mendengar kecupannya. Aku juga senang ketika dia berjanji akan ke rumahku esok hari, entah untuk sarapan, makan siang, ataupun makan malam.


Jumat, 09 Juni 2017

Aku Rindu (3)

Malam kembali berulang. Demikian pula rindu padanya, lelaki yang sama. Rindu ini menerobos hati, buyarkan logika dan pertahanan diri. Buncahannya menggelegar, serupa madu, dia manis, tanpa terkira. Namun tetap saja, sesakkan dada tanpa jeda sebab hingga detik ini, sang Maha belum menganugerahkan dia untuk menemaniku.

*

Setelah bermalam sekira tiga hari di rumahku, dia kembali ke rutinitas hariannya, bersama perempuan itu. Seperti pagi ini, dia begitu memanjakannya. Aku melihat kemesraan mereka di ruangannya, dia yang kusebut kekasihku terlihat tersenyum. Aku mengawasinya laiknya mata-mata, walau dari balik meja berisi komputer, segala macam catatan, koran, majalah fesyen terkemuka, serta foto kami di dalam dompetku.

Perasaanku teriris setiap melihat mereka. Namun apa daya bila situasi kini, lebih memihak pada perempuan itu? Aku benci situasi ini. Aku marah, sebab tak dapat kurengkuh dia, kini, di hadapan khalayak.

Aku masih menatap mereka. Mata perempuan itu seakan melihatku seolah berkata, "Ryan adalah milikku sekarang dan selamanya. Sedangkan kau adalah perempaun selingan."

Ah... Kata-kata perempuan selingan itu benar-benar menyesakkan. Sakit sekali rasanya. Kadang, aku merasa bagai pungguk merindukan bulan. namun saat tubuhnya tepat di hadapanku, sekelebat rasa seedih dan marah, hilang. "Ah Ryan... Seandainya kau mengerti arti hadirku bertahan di kantor ini hanya karenamu," gumamku. 

Baiklah, sepertinya aku harus ke luar kantor. Aku benar-benar merasa gerah di ruangan berpendingin ini. Aku butuh waktu sendiri, entah berbelanja atau sekedar minum kopi di Kafe favorit kami.

*
Tanpa berpamitan apalagi mengajak siapapun, tepat pukul 12.00 siang, aku sudah sampai di salah satu toko buku. Kupikir dengan alunan Saxophone dari lagu-lagu Kenny G, bisa sedikit mengurangi kepenatanku.

Aku menuju rak buku-buku Filsafat. Membaca lembar demi lembar  tentang tokoh-tokoh filsafat, membuatku teringat lagi padamu. Kau yang mengenalkan nama-nama mereka padaku, juga menjelaskan ide-ide cemerlang mereka. Entah sebab terhipnotismu, filsafat ini menjadi menarik bagiku, sepertimu yang sehari-hari kudalami, sejak hampir empat tahun terakhir.

Pembicaraan kita masih teringat jelas di ingatanku. Terlebih soal sabar dan mencari lelaki baru penggantimu. Namun entah apa salah mereka padaku, hatiku masih menolaknya. Namun kuyakin, aku tak pernah keliru dalam memilihmu. 

Seperti kemarin malam, rindu kita masih terasa hingga siang ini, kau mengirim pesan ke ponselku, "Kau di mana? Mengapa tak terlihat di kantor? Di manapun kau berada, semoga kau masih mencintaiku seperti malam-malam kemarin. Terima kasih telah membuat tiga hari di akhir pekan kemarin tak membosankan. Aku merasa bebas dan benar-benar hidup bila sedang bersamamu. Rindu ini masih banyak untukmu, tanpa pernah kubiarkan berjeda."

"Aku di toko buku. Membaca karya-karya Plato hingga Ibnu Sina. Kurasa ini bisa menjadi pembicaraan kita bila kita bertemu selanjutnya. Pesanmu semakin membuatku jatuh cinta. Hubungi aku nanti malam," balasku.

*

Dua jam berada di luar kantor, aku kembali merapikan beberapa tulisanku untuk naik cetak malam ini dan akan terbit esok hari. Setelah menyerahkan tulisanku ke editor, aku akan melanjutkan bertemu beberapa narasumber. 

Aku sedang merapikan Pashmina dan memakai jaketku saat kau tiba-tiba datang menghampiriku, "Tunggu teleponku nanti malam. Banyak yang ingin kuutarakan. Aku merindukanmu, masih sama seperti hari-hari kemarin."

Seketika kau pergi, aku tersenyum. Setidaknya kau masih menunjukkan cintamu walau sesaat. Ya aku paham, kau tak ingin hubungan kita diketahui orang lain. Tak lama, akupun melanjutkan rutinitasku.


Kamis, 08 Juni 2017

Merawat Indonesia dengan Toleransi

Menuliskan tentang Toleransi dan Kerukunan, cukup banyak yang ingin saya bagikan. Kenyataannya, memang semua sudah saya lewat, dari dulu hingga kini.  Ada baiknya, sedikit saya tuliskan, pengalaman saya bertoleransi dengan teman saya yang pertama, Frengky Harmito namanya, seorang laki-laki warga keturunan Tionghoa dan beragama Buddha, yang menghabiskan waktunya sebelum Tsunami tahun 2004 di Banda Aceh.Ya, saya mengalami musibah Tsunami.

Sebagai negara yang didominasi muslim, Indonesia tentu saja wajib memberikan pemahaman nilai-nilai agama islam, apalagi Aceh yang terkenal dengan julukan Serambi Mekkah.Saat itu saya bersekolah di sebuah SMA Negeri di Banda Aceh.




www.kompasiana.com

Saat pelajaran agama Islam, Frengky memang keluar dari kelas. Namun guru saya tak pernah menjelekkan agama Buddha yang dianutnya, sehingga hubungan kami di sekolah tetap baik. Di sekolah  saat itu, Frengky tak sendiri. Di kelas lain, ada William dan Nesia yang juga warga keturunan TIonghoa. Apa kami bermain dengan mereka? Apa kami ngobrol laiknya teman dengan mereka? Ya semua kami lakukan. Kami hanya anak-anak yang mencintai persahabatan. 

Kalau di Banda Aceh sedikit yang berbeda dengan saya, di Medan cukup banyak. Saat kelas dua SMA, ketika pelajaran agama, kelasnya dipisah, Islam dan Kristen. Guru agama islam saya juga tidak pernah menjelek-jelekkan agama lain. Beliau mengajak muridnya untuk bertenggang rasa, begitupun sebaliknya. Malah teman-teman saya semasa SMA yang kristen, sangat menghormati saya. 

Kebetulan saat itu saya adalah anak baru, saya belum tahu jalan di Kota Medan. Jadinya saya mengikuti mereka ke manapun mereka pergi. Saat ingin makan siang sepulang sekolah, karena saya sendiri yang muslim, teman-teman yang kristen tadi, ikut makan di warung nasi padang bersama saya, padahal tak jauh ada yang jual Mie Pangsit Babi.

Hal demikian juga terjadi saat saya kuliah. Saat mereka ingin makan Mie Pangsit Babi saat sedang bersama saya, saya yang mengerti. Saya berjalan-jalan sendiri sembari menunggu. Atau saya makan di warung lain. Begitu saja. Damai dan tak ada perbedaan yang menjadikan kami bermusuhan. 

Saat itu, kami tak menyangka, perbedaan agama sangat mudah digoreng sehingga kini semakin berkembang jadi isu nasional. Kami tahunya bermain, jalan, makan bersama, tapi saling menghormati. 

Menjawab tantangan diri saya sendiri, suatu hari bersama seorang adik yang juga memakai jilbab, kami masuk ke pekarangan sebuah kui hindul. Penjaganya bingung pada awalnya. Setelah saya jelaskan maksud kedatangan saya hanya untuk melihat-lihat, saya malah dipersilakan masuk ke dalam. Begitu juga saat saya masuk ke Vihara. Sama, tak ada masalah. Dipersilakan mengambil beberapa foto juga. 

Berhubung saya ini orangnya penasaran, ketika saya bekerja, demi menjawab penasaran diri saya, beberapa kali saya masuk ke gereja Katolik dan Kristen Protestan baik saat Paskah, Natal, dan Tahun Baru. Saya sendiri di lokasi tersebut yang memakai jilbab. Saya dengarkan khotbah para Pastor-Pendeta. Namun tetap, tak saya temukan penghinaan terhadap agama yang saya anut. 

Pernah suatu kali, berhubung saya ingin mewawancarai Bapa Uskup, dari awal hingga akhir misa pertama saya ikuti. Dari sekira pukul 18.00 Wib saya di Gereja. Saya bertemu beberapa jemaat dan juga tersenyum kepada mereka. Begitupun sebaliknya. Mungkin bagi orang lain adalah hal biasa. Namun bagi saya, ini akan menjadi cambuk bagi saya agar mendidik anak cucu saya untuk menghargai sesama. 

Mereka yang Natal, dengan penuh suka cita, mereka menyalami saya. Mungkin kalau tidak ramai orang, saya akan menangis terharu. Setelah Bapa Uskup selesai membawakan misa pertama, saya mewawancarainya tentang pesan damai Natal.  Banyak yang beliau sampaikan. Namun yang paling membekas dalam ingatan saya yaitu, “Sampaikan kepada khalayak ya Putriku, kita semua bersaudara. Jangan mau diadudomba. Kita semua harus kuat agar kita tak gampang dipecah belah. Kita boleh berbeda dalam beribadah, tapi sesama manusia, kita wajib bertoleransi. Sampai detik ini, saya sangat menghormati Almarhum Gusdur. Tak lupa para alim ulama yang masih hidup seperti Gusmus, Bapak Quraisy Shihab, para Nahdliyin dan kaum Muhammadiyah. Saya juga tak percaya ISIS itu membela islam. Saya percaya bahwa islam maupun agama lainnya, mengajarkan kasih. Kalau tidak, kamu tak mungkin di hadapan saya, mewawancarai saya. Saya percaya, kamu ke sini bukan hanya tugasmu sebagai wartawati, tapi memang tulus ingin bersahabat dengan saya dan jemaat dari agama lain.” 

Karena Bapa Uskup sendiri, kali ini saya nangis saja. Saya benar-benar terharu. “Terima Kasih Bapa sudah percaya.” “Pasti putriku. Saya percaya islam agama yang damai. Apa istilahnya itu?” tanyanya. “Rahmatan lil ‘alamin,” senyum saya.  Sama halnya juga yang disampaikan oleh Bang Pendeta (saya memanggil beliau begitu) dari GKI. Cengeng sih saya kalau hal-hal beginian. 

Lain lagi ketika menjelang waisak. Oleh seorang penjaga salah satu vihara, saya disarankan mengunjungi Vihara Buddha Tamil yang didominasi warga buddha keturunan India. Sesampai di sana, kebetulan pemuka agamanya sedang tidak ada. Saya ngobrol saja dengan pengurus. Ketika saya minta diajak berkeliling, sampai pintu vihara, saya minta masuk. 

“Wah, Mbak yakin mau masuk Vihara?” tanyanya.

“Yakin dong. Ayo pak, saya mau masuk. Mau lihat-lihat. Kalau boleh ambil foto,” kata saya

 Entah dia bingung atau mau ngetest saya, dia bilang, “Mbak pakai jilbab lho. Gak takut?” 

Mantap saya jawab, “Pak, masuk ke rumah ibadah agama lain selain islam, bukan masalah bagi diri saya pribadi. Kuil, gereja, vihara lain sudah saya masuki. Toh saya Cuma ingin tahu apa yang ada di dalamnya. Iman saya ya tetap islam.”

Dia senyum, dan mempersilakan saya masuk. “Wah, baru kali ini saya ketemu orang yang berani seperti Mbak. Saya doakan, semoga mbak tetap jadi muslim yang menghargai sesama.” Kalau itu sih do’anya, sudah pasti. Maunya kan dido’ain semoga nemu jodoh pas jalan pulang. Pasti langsung saya aminkan. 

***

Dominasi tema toleransi, tengah hangat diperbincangkan belakangan ini. Namun bukanlah suatu hal yang baru. Sejak sekolah dasar, kita sudah dicekoki pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Artinya saya dan kita semua, sudah paham apa itu toleransi dan kerukunan. Tinggal mengaplikasikannya saja dalam merawat Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila. Negara menjamin hak-hak berkehidupan anak bangsa dalam hal beragama. Jadi, mengapa harus ragu bertoleransi demi kerukunan antar anak bangsa? Biarkan mereka dengan agamanya, demikian pula kita menjalani saja agama kita. Saya sangat bersyukur dan bangga dikelilingi oleh orang-orang baik walaupun berbeda agama dengan saya. (auda)

Aku Rindu (2)


Bulan Juli ini adalah ulang tahunku. Orang bilang, aku sudah cukup matang menjadi perempuan dan sudah harus menikah. Namun aku bisa apa saat hatiku telah seutuhnya dimilikinya. Aku tak ingin mengorbankan orang lain untuk membina cinta denganku sementara yang kulakukan akan membebani diriku dan orang tersebut. Aku tak ingin menikah dengan orang yang tak kukenal secara baik. Aku takut. Lagi pula, aku sudah sangat nyaman dengan kehidupanku. Errr... Lebih tepatnya, posisiku di hati lelaki yang sudah tiga tahun ini menjadikanku perempuan keduanya.
*
Malam ini, kami akan bertemu. Segera kusiapkan diri dan, ya... sedikit upacara penyambutanmu di rumahku. Dari pintu depan, kamarku, dapur, hingga kamar mandi, kutata seindah mungkin untukmu. Aku tahu dia menyukai harum mawar dan melati hingga tak sekali kau memakai parfumku. "Kekasih, aku ingin kau bermalam di sini lagi, mungkin seminggu ke depan atau selamanya. Namun, apa daya bila  kehadiranmu juga dibutuhkannya?" gumamku sendiri.

Tepat pukul 7 malam, suara sepeda motormu memasuki gerbang. Lamunanku buyar, kau kini tepat berada di hadapanku. Aku tak kuasa menolak menerima rengkuhanmu, "Aku sangat merindukanmu, Kasih. Kuharapkan rasa itu juga berada di hatimu."

"Setiap saat, buih rindu menerpaku tanpa permisi. Tanpa henti gelombangnya tak jarang merusak pertahananku. Namun apa daya kala tak terungkap di hadapmu? Kau tahu pasti, aku tak bisa lama menatapmu di depan orang lain. Saat melihatmu, rasanya aku ingin memelukmu," jawabku menyembunyikan wajahku di dadanya.

Dia diam namun semakin memperat pelukannya, tak jarang mengecup kening dan pipiku berkali-kali. "Tenang saja, aku masih mampu mengunci rapat-rapat tentangmu", kataku lagi.

"Di balik kebisuanku, aku juga masih menyimpan namamu, tak hanya di pikiran, namun juga erat di hatiku. Rindu yang kau rasakan, sama denganku. Percayalah, Kekasih. Rindu yang dipendam pertanda cinta yang dalam," katamu menatapku dalam.

Sungguh pernyataannya membuatku perih, "Hei, kau tahu aku membutuhkanmu.  Kuyakin tak cuma aku yang memiliki bahan obrolan denganmu."

"Aku mengenalmu. Aku tahu kau membutuhkan hadirku, sebab hanya aku yang mengerti jalan pikiranmu. Aku memantaumu dari kejauhan. Tak jarang aku menyebut namamu dalam hati walau saat sedang bersamanya.  Namun aku bisa apa?" tanyanya dengan sedikit parau.

"Sudahlah, aku selalu mencoba diam. Tak menegur bahkan tak mengusik hubunganmu dengan dia. Aku sadar posisiku," aku melepaskan pelukannya dan menariknya ke ruang keluarga. 

Saat aku menuangkan teh kesukaannya, dia membuang pandangannya. "Sudah kukatakan berkali-kali, lepaskan aku. kau berhak bahagia. Kau berhak menemukan laki-laki lain yang tak hanya memberimu beban seperti ini."

 "Aku sudah mencobanya, Sayang, Namun hatiku tak berada di situ. Saat obrolan terasa mulai tak nyambung, aku mulai gusar dan mencari alasan untuk pergi. Tak hanya satu atau dua, selalu kucoba. Namun apa dayaku jika hati dan cintaku memilihmu? Tak sekali kumohon pada Tuhan untuk menghilangkanmu dari hati dan pikiranku. Tapi apa? Sebulan kita tak saling bicara, itu sangat menyiksaku. Aku seperti kehilangan arah. Apa yang kulakukan, selesai namun tak berarti," jelasku sembari memberikan cangkir teh kepadanya.

Dia menerima teh itu, menghirup aromanya, "Seperti biasa, cuma kau yang mampu menyuguhkan teh seperti ini untukku. Kau tahu kesukaanku, teh dengan beberapa bunga melati di dalamnya, di cangkir merah-hitam ini."

"Aku berusaha memahami meski dari jauh. Saat sedang tak bersamamu, cangkir teh itu tetap berisi. Kubuatkan dan kuhidangkan teh di dalam dua cangkir. Aku membayangkan sedang berbicara denganmu, tentang apa yang kurasakan, apa yang kupikirkan. Tak hanya tentang cintaku padamu, namun juga soal memahami berita di media massa," aku tersenyum padanya.

"Tak usah kausembunyikan terus perihmu, Kekasih. Bila kau ingin marah dan menangis, lakukan. Aku di hadapanmu. Aku menerima jika kau ingin mencaci maki kelemahanku atau kejahatanku. Lakukan saja agar kau lega. Kau tak harus menutupinya saat kita bersama. Toh tak ada yang mendengar kita di sini," sambutnya.

Aku menatapnya. dua langkah ke hadapannya, tanpa bicara lagi aku langsung menciumnya. Kuluapkan marah dan sakit hatiku dengan ciuman ini sembari aku menangis. Rasanya, aku tak ingin melepas pelukannya. Aku menikmati malam ini. Aku merasa damai di dekatnya, seperti ini saja tanpa banyak bicara. Aku masih merasakan cintanya.

"Kau benar, Sayang. Rindu yang ditahan, pertanda cinta yang dalam. Aku bisa merasakanmu meski ragamu tak di sampingku. Aku bebicara denganmu, meski tubuhmu tak ada. Mencintaimu memberikanku kesempatan untuk belajar mencintai hidup. Atau ini adalah jalan Tuhan untuk membuatku sadar arti hidup. Mungkin Tuhan menyuruhku untuk membantu banyak orang tanpa jeda, tanpa memikirkan orang lain," tanpa sadar aku meracau.

"Jangan berbicara demikian. Kau berhak bahagia," katanya.

"Apalah arti kebahagiaanku jika tak bersamamu? Apalah arti menikah dengan orang lain tanpa cinta? Apalah artinya melakukan segalanya denngan orang lain sementara aku tersiksa?" aku mulai terisak.



[Review] Vaseline Super Food Skin Serum, bukan Hand & Body Lotion Biasa

Memiliki kulit wajah dan tubuh yang terawat dan sehat, tentu impian kita. Selain itu, anugerah Tuhan yang ada di diri kita, sepatunya mema...